• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.5.1. Tentang Ihya Turats dan Al Sofwa

Berikut kalimat pembukaan sebelum menanyakan ttg Ihya ut Turots dari penanya :

"Para da`i ini adalah dari Ihyaa`ut Turats dan As Shofwa. Dan Yayasan Al Sofwa ini, adalah lajnah Shofwah yang berada di ibukota Jakarta. Yayasan ini didirikan oleh seorang murid Salman Al Audah dari Qasim.

Demikian juga, di Jakarta seperti Ihya`ut Turots dan Al Haramain,… dan Darul Birr serta Lajnah Ta`lim dan Da`wah. Seluruh Yayasan ini adalah merupakan Yayasan hizbiyyah dan ini dikenal oleh `Ulama-`Ulama Salafiyyin.

Dan da`i-da`i dari Yayasan ini yaitu, Al `Ubudiyah. Da`i-da`i sebagian besarnya, mereka tinggal di Jakarta, di ibukota. Dan kebanyakan mereka yaitu, menerima bantuan dari Ihyaa`ut Turots, As Shofwah, Haramain, Darul Birr dan yang lainnya. Mereka semua menerima bantuan materi untuk membangun pondok dan masjid mereka.

Dan tentu saja sebagaimana yang telah kami dengar, yaitu dari kaset As Syaikh Salim Al Hilaliy tatkala beliau ditanyai tentangnya,…tentang yayasan Al Haramain dan Ihya`ut Turots, dan Syaikh menjawab : "Adapun yayasan Al Haramain dan Ihya`ut Turots ini adalah yayasan hizbiyyah maka kami mentahdzirnya". Dan kasetnya ada pada saya. Dan kemudian kami mengetahui bahwa yayasan-yayasan ini,…dikenal di `Alam Islamiy. Saat ini, yaitu, mereka merusak da`wah Salafiyyah dari dalam!.

Fatwa Syaikh Khalid ar Raddadi, dosen Jami’ah Islamiyyah Madinah ttg Ihya ut Turots : "Dan terjadilah pembicaraan seputar organisasi At Turots, dan saya sebutkan pada mereka

sebahagian perkara-perkara yang mereka keliru di dalamnya, dan supaya mereka tidak bekerja sama dengan organisasi ini karena ia adalah tempat perusak dan pemecah belah barisan Salafiyyin, sedangkan bantuan-bantuan ini berbentuk makanan, yaitu: makanan yang akan digunakan untuk menarik sebahagian dari mereka yang berjiwa lemah, dan yang sejenisnya. Maka merekapun menerimanya dengan senang hati, setelah itu, baru mereka giring kepada apa-apa yang mereka inginkan dari Manhaj yang rusak dan pemikiran pemikiran yang jelek. Terjadilah dialog seputar ini, setelah itu saya sodorkan pada mereka beberapa dokumen yang berhubungan dengan At Turoots, sebagai bukti."

Syaikh ditanyakan ttg bolehnya menghadiri daurah/ceramah yang diadakan oleh orang-orang hizbiyyin At Turots, maka dijawab : "Ya, karena itu akan menambah jumlah mereka dan memperkuat barisan mereka dan membantu kebatilan yang ada pada mereka yang seperti ini tidak boleh, tidak diragukan lagi,..."

Syaikh ditanya : Bolehkah kami membaca buku-buku terjemahan (Buku-buku Manhaj, buku- buku Aqidah) yang diterjemahkan oleh orang hizbiyyun?

"Dan dia, tergantung pada terjemahannya, yaitu di sana, apabila buku-buku terjemah itu, terjemahan padanya tidak apa adanya, tempat duduk diubah, dalam penukilan, atau yang semisalnya, apabila tidak ada orang yang menterjemah dan menjelaskan perkara ini, maka digunakan seperlunya dan orang-orang seperti mereka tidak bisa dipercaya sekalipun terjemahan dan tulisan-tulisan mereka khususnya buku-buku perkara Manhaj, ditahdzir dari mereka, karena, terkadang mereka telah merubah ungkapan-ungkapan yang ada padanya dan terkadang mereka mengubah isinya, kemudian mereka tidak akan menterjemahkan, melainkan kitab-kitab yang menyokong Manhaj mereka, dan mereka menterjemahkan sebahagian kitab- kitab salaf, maka waspadalah!, kalau kalian mampu menela’ahnya kembali sebelum kalian membagikannya, tentu lebih afdhal dengan diteliti oleh lajnah dari kalian yang akan menela’ahnya dan dibersihkan darinya tentu akan menjadi lebih utama dan dibangun atas pembersihan dan penelitian.

Bukan setiap kitab dibagikan begitu saja! … bukan, akan tetapi di serahkan kepada lajnah yang ada di sisi kalian, yang meneliti kitab-kitab kalian. Kemudian ia menelitinya, jika di dalamnya

terdapat perkara bathil, maka dihapus dan dibersihkan, kemudian diperingatkan di selebaran atau dengan pernyataan: ”Di sana terdapat beberapa kesalahan maka waspadalah!!!”,..." Syaikh menasehati ttg syubhat mengenai "Tahdzir" (peringatan keras, red), beliau

menasehatkan panjang lebar : (“Ia selalu mentahdzir orang yang tidak cocok dengannya!”, ...). Ini adalah ucapan yang selalu mereka ucapkan dan didengungkan di sekitar. Demi Allah, saya katakan kepadamu wahai saudaraku yang mulia, engkau dan teman-teman semua, kita memohon kepada Allah, bagi engkau dan kami supaya tetap terus di atas taufiq dan kebenaran!, saya katakan bahwa saya, yakni, seharusnya seorang muslim tidak menoleh/ berpaling terhadap ucapan-ucapan orang yang memiliki keinginan-keinginan tertentu dan orang pencela/pendendam jadi seorang muslim adalah bersemangat, kemudian kembali kepada `Ulama, dan menjadikan mereka sebagai penerang, dan juga saran-saran mereka, dan hendaklah diketahui akan semangatnya terhadap Sunnah, maka sepantasnya dia mantahdzir para syabab dengan sebenar-benarnya tahdziir dari mereka orang-orang yang Mumayyi’in, maka sesungguhnya kerusakan mereka sangat meluas maka sebagaimana yang telah berlalu/lewat untuk semestinya diingatkan darinya dan tahdzir.

Demi Allah!, apabila seorang memiliki ini ada padanya beberapa perkara yang perlu diperhatikan dan pertanyakan ada nasehat kemudian dia datang dan dari kami semua berlapang dada namun apabila dia datang dengan cara menggangu seperti ini dan bergerak secara sembunyi-sembunyi dan condong kepada mereka pergi kepada mereka dan singgah kepada mereka. Dan dia tidak bergaul saudara-saudara mereka hanya saja engkau tidak melihat melainkan penebaran isu-isu, maka ini tidak diragukan lagi bahwa orang-orang ini adalah perusak dan memutuskanya adalah wajib dan tahdzir darinya adalah wajib, setelah kita tegakkan hujjah dan nasehat kepadanya.

Seharusnya kita mentahdzir para syabab darinya, relalah orang yang rela dan marahlah orang yang marah!, maka ini adalah Agama Allah, dan ini adalah manhaj jika di sana tidak ada pembatas yang menjaganya maka ditahdzir dari orang-orang yang seperti ini karena mereka akan marah dan akan merusak dengan kerusakan yang luas dan menebarkan pemikiran- pemikiran ini diantara para syabab, berupa filsafat-filsafat seperti ini yang baru saja dia tebarkan, sesungguhnya tidaklah seluruhnya dari apa yang dia bawa. Dan kemudian menyamarkan terhadap para syabab dengan perincian-perincian yang sedemikian rupa, kenapa? Dia bersandar, bersandar kepada takwil ini dan kepada penafsiran-penafsiran yang samar yang tidak ada pendahulu mereka padanya (di dalammnya), kenapa? Seluruhnya, dikarenakan ingin mewujudkan gambaran-gambaran mereka orang-orang yang condong kepada Ahli Bid`ah dan orang-orang yang tidak memiliki keinginan tidak menolong Sunnah dan tidak pula sesuatu, hanya saja, yakni mendendam dengan dendam yang terselubung dan memerangi, menyerang dengan peperangan yang membinasakan terhadap Ahlus Sunnah dan atas orang yang menolongnya.

Dan inilah tujuan mereka dan inilah tabi’at mereka, kenapa orang ini datang dan bersenang- senang dengan mereka dan membela mereka dan memperkuat mereka, kemudian dilain sisi kita melihatnya seorang pendusta dan perusak dari teman-teman mereka. Dan kepada teman- teman mereka Salafiyin, menuduh mereka dengan tuduhan-tuduhan yang tidak terdapat pada mereka dan mentahdziir mereka, dan bermain-main dengan nash dan mendatangkan takwil- takwil yang batil seperti ini sehingga ia merampas para syabab dari da’wah salafiyah dan dari para da’inya.

Maka yang wajib baginya adalah mentahdzir mereka para syabab dari orang orang tersebut!, dengan sebenar-benar tahdzir demi Allah mereka telah membentuk suatu bahaya yang sangat besar, dan kerusakan mereka adalah sangat besar dan saya menganjurkan padamu untuk meneruskan tahdzir dari orang-orang seperti mereka dan saya memohon kepada Allah, agar Allah memberikan taufik kepadamu dan kepada kita semua untuk tetap berada di atas Sunnah dan terus berpegang teguh dengannya!. Dan menolongnya dan membantah orang-orang seperti mereka. Maka sesungguhnya mereka, engkau telah melihatanya dengan kedua matamu, ketika sebahagian saudaramu bergampang-gampang dalam permasalahan manhaj yang kemudian mereka masuk bergabung dengan orang-orang hizbiyyin dengan alasan jihad atau yang semisalnya apa yang terjadi, dan apa yang terjadi dari kerusakan–kerusakan dan dari bahaya yang besar, apa yang terjadi?!!!...

Dari perpecahan dan memecah barisan dan kalimah. Berapa banyak yang telah kalian perhatikan?, Sangat banyak sekali. Kemudian datang pada kita yang seperti ini, datang yang perusak seperti ini juga. Lalu kemudian dia mengganggu mengacau para syabab dengan takwil- takwil yang batil ini dan dengan perkara-perkara yang aneh. Yang demikian ini tidak dikenal dari seorang Salafi, bahwa ia datang dengan ucapan yang seperti ini. Salafi itu terang, ia tidak memiliki takwil seperti ini dan tidak pula pengkaburan-pengkaburan seperti ini seperti sikap tamyi’ seorang Ahli Bid`ah dan sikap tahsin terhadap mereka (orang-orang sesat) dan pembelaan terhadap mereka, menolong mereka dengan berbagai jalan.

Kalau begitu seorang Salafi tabiatnya adalah Al Haq dan Sunnah dan pembelaaannya dan penjelasanya tentang manhaj dengan benar dan membimbing para syabab di atasnya membina para syabab di atas Sunnah dan tetap bersamanya, menolongnya dan membelanya!, bukan seperti yang dilakukan orang-orang ini dan yang sejenisnya, dan ini wajib bagi kita semua!, yaitu kita berda’wah kepadanya. Dan seharusnya seorang Salafi itu bersemangat dengan sebenarnya semangat, terhadap manhaj ini, ia akan memulai dengan alat apapun untuk mendapatkan manhaj ini, dan mentahdzir baginya (orang tersebut), pendalilan yang demikian inilah yang selalu dipakai orang-orang salaf yang terdahulu dalam mentahdzir dan menjaga manhaj dan menjaga orang-orang yang mengikuti mereka dari pengikut-pengikutnya dari jalan Ahli Bid`ah, sebagaimana yang aku katakan kepadamu.

Mereka (orang-orang salaf) pernah didatangi sekelompok anak-anak yang masih muda belia lalu mereka mentahdzir mereka dari jalan-jalan Ahli Bid`ah dan dari segala sesuatu yang mereka berada di atasnya , dalam rangka menjaga manhaj ini dan menjaga da’wah ini. Yaitu hajr, dari orang-orang seperti mereka. Maka janganlah engkau menoleh pada ucapan-ucapan mereka yang seperti ini. Selama engkau, Insyaa Allah, tetap berpegang pada Sunnah dan bersemangat atasnya. Kembalilah pada `Ulama dan jadikanlah pendapat mereka sebagai penerang bagimu. Dan di sana ada teman-teman yang bersamamu dengan izin Allah,

berta’awunlah dengan mereka di atas Al Haq dan dalam menyebarkan Sunnah dan berda’wah pada Allah.

Maka jangan engkau menoleh pada mereka, dan terangkan Sunnah disini!, dan jangan engkau pedulikan ucapan-ucapan mereka. Barang siapa yang menginginkan kebenaran ini dan penjelasannya, maka datanglah. Dan jika ia memiliki masalah, jelaskan padanya, namun adapun menebarkan sebahagian ucapan seperti ini adalah tabiatnya (orang tersebut)

mengganggu dan mengacau Ahlus Sunnah, Wallahu musta’an". (Selesai nasihat syaikh Kholid ar Raddadi)

Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=256

2.5.2. Lagi Tentang Al Sofwa Penulis: Website thullabul-ilmiy.or.id Pengantar Redaksi

Berikut adalah peringatan keras yang dibawakan oleh Syaikh Abu Yaasir Khalid Ar Raddadi hafidhahullah (Dosen Tetap Madinah Islamic University, Saudi Arabia. Beliau adalah pentahqiq kitab Syarhus Sunnah yang ditulis Al Imam Al Barbahari Rahimahullah Ta`ala) atas bahayanya al-Jam'iyah al-Hizbiyyah seperti Ihya ut Turats dan Al Sofwah dan yayasan yang berta’awun dengannya (Yayasan al Kahfi Batam, Nidaul Fithrah Surabaya, LBI Al Atsary Jogjakarta dll) dan para da’i yang berta’awun dengannya seperti Abdul Hakim Abdat cs dengan berbagai kesalahan manhajnya.

Percakapan dengan Syaikh Kholid ini diselenggarakan pada tanggal 17 Dzulhijjah 1423/ 19 Februari 2003 bertempat di sekretariat Yayasan Anshorus Sunnah, Batam dan dihadiri juga oleh Salafiyyun di Batam.

[Sebelum memulai pertanyaan kepada Syaikh Kholid, terlebih dahulu mendahuluinya dengan mengabarkan beberapa penjelasan kepada beliau ]

“Sebelum diajukannya beberapa pertanyaan kepada anda, wahai Syaikh kami, kami beritahukan kepada anda secara singkat tentang keadaan yayasan yang kami harapkan penjelasan dari anda tentang yayasan tersebut.

Maka kami katakan wabillahi taufiq, telah didirikan di kepulauan kami yaitu pulau Batam beberapa tahun yang lalu sebuah yayasan islamiyyah yang dinamakan dengan yayasan Al- Kahfi yang dipimpin oleh seorang laki-laki yang bernama Tarno. Dulunya Tarno ini adalah termasuk orang yang sering menghadiri kajian-kajian kami dan halaqah-halaqah kami. Kemudian kami melarangnya untuk menghadiri kajian-kajian tersebut dikarenakan beberapa penyimpangan yang muncul dari dirinya. Dan kami telah menasihatinya, namun ia tidak menerima nasihat tersebut dan tetap pada apa yang dilakukannya. Bahkan ia menggembosi orang lain dari kalangan asy-syabaab (pemuda) as-salafiyyin untuk meninggalkan / tidak menghadiri kajian -kajian kami lagi sebagaimana ia telah mempengaruhi orang lain untuk bergabung dengannya. Dan memang ternyata sebagian pemuda salafiyyun terpengaruh dengan apa yang dilakukannya.

Dan yayasan yang didirikannya ini melakukan beberapa aktifitas dakwah diantaranya : 1. Mengadakan dauroh-daoroh `ilmiyah dengan mengundang beberapa da'i yang mempunyai hubungan dengan al-Jam'iyah al-Hizbiyyah seperti Ihya' ut-Turots dan ash-Shofwah (nama resminya Yayasan Al-Sofwa, red)

2. Disebarkan di yayasan ini majalah "Assunnah" yang diterbitkan oleh salah seorang da'i yang berta'awun / melakukan kerja sama dengan Jam'iyah Ihya' ut-Turots dan menerima bantuan darinya.

3. Pada masa tahun ini telah diadakan kajian-kajian dan dauroh-dauroh secara rutin di yayasan ini dengan melakukan ta'awun dengan salah seorang alumnus kuliah Syari`ah di al-Jami'ah al- Islamiyah sebagai pengajar di yayasan tersebut.

Demikian sekilas tentang keadaan yayasan tersebut. Adapun beberapa pertanyaan yang akan kami sampaikan kepada anda tentang mu`asaah (yayasan) ini dan tentang masalah yang lainnya adalah sebagai berikut : "

Ustadz Wildan :

“Bagaimana atau apa pendapat Anda tentang yayasan Al-Kahfi yang kondisinya telah dijelaskan diatas ?”

Syaikh Kholid :

[ Ba'da tahmid dan sholawat ]

"Tidak diragukan lagi bahwa yayasan tersebut merupakan mua`sasah al-hizbiyyah. Dan dalil tentang hal tersebut ada 4 (empat) yakni :

1. Bahwa orang yang bertanggung-jawab terhadap yayasan itu adalah seorang laki-laki yang telah sampai nasihat kalian padanya, kalian telah menasihatinya yaitu ketika muncul darinya beberapa kesalahan manhajiyah dan beberapa kesalahan yang menyelisihi manhaj As-Salaf Ash-Sholih, namun ternyata ia tidak menerimanya dan tidak memperdulikan nasihat atau perkatan kalian serta tahdzir dari kalian. Malah ia mendirikan yayasan yang lainnya.

2. Yayasan ini (Al-Kahfi) ditopang / dibantu oleh orang-orang yang dikenal memiliki permusuhan yang keras terhadap ad-da'wah as-salafiyyah.

3. Bahwa mereka tidak mengundang ke yayasan ini orang-orang yang dikenal / diketahui mempunyai manhaj yang bersih / murni. Dan juga keyakinan yang murni dari kalangan orang- orang yang dikenal memerangi al-hizbiyyah dan orang-orang yang tidak jelas posisinya, melainkan mereka mengundang orang-orang yang sependirian dengan mereka dan orang- orang yang satu jalan / metode dengan mereka.

4. Sesungguhnya mereka tidak cukup hanya melakukan hal-hal di atas melainkan mereka menerbitkan (maksudnya menyebarkan) majalah yang mereka namakan majalah 'Assunnah' dengan mengikuti nama majalah 'Assunnah' yang diterbitkan oleh Muhammad Surur Zainul Abidin; tokoh / pendiri sururiyyah.

Majalah 'Assunnah' yang dinamakan dengan 'Assunnah' secara dusta dan tidak benar. Dan juga majalah ini merupakan / dianggap sebagai corong dari corong-corong mereka. Di dalamnya disebarkan makalah-makalah yang memperkuat posisi mereka, membantu / membela apa yang ada pada diri mereka serta melarang orang yang hendak menulis dengan tulisan yang berisi perang terhadap al-hizbiyyah dan perang terhadap apa yang menyelisihi manhaj As-Salaf.

Oleh sebab itu, berangkat dari hal-hal ini semua maka kami katakan sesungguhnya yayasan ini (al-kahfi) tidak diragukan lagi merupakan yayasan yang berdiri di atas at-tahazzub dan berdiri di atas penyelisihan terhadap manhaj yang benar. Oleh karenanya, yayasan ini wajib dijauhi, diperangi dan ditahdzir, diperingatkan para pemuda salafiyyun dari yayasan ini dan tidak boleh berhubungan dengannya sampai mereka kembali kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dan meninggalkan tahazzub yang ada pada diri mereka dan juga meninggalkan kebencian terhadap manhaj As-Salaf." (Dikutip dari http://thullabul-ilmiy.or.id/modules/news/article.php?storyid=32, judul asli BAHAYA AL JAM’IYAH AL HIZBIYYAH [Bag. 1], dengan edit dari redaksi Salafy.or.id) Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=972