(Penulis: Al-Ustadz Muhammad Umar As Sewed) (Dimulai dengan Khutbatul Haajjah)
Alhamdulillah, ama ba’du Ikhwani fiddin a’azakumullah,
Disini ada pertanyaan yang berkaitan dengan fitnah Sururiyyah. Dan berkaitan pula dengan tokoh-tokohnya dan orang-orangnya. Ditanyakan disini dari mulai ABU QATADAH (Da'i Al Sofwah Jakarta, red), ABU HAIDAR (As Sunnah, Bandung, red),YAZID JAWWAS (rekan Abdul Hakim Abdat, da'i Al Sofwah/Al Haramain, red), ABU NIDA' (At Turots, Jogjakarta red), AUNUROFIQ GUFRON (Ma'had Al Furqan, Gresik, red), YUSUF BAI’SA (Ma'had Al Irsyad, Tengaran, Salatiga, red), ABDURRAHMAN ABDUL KHOLIQ, AINUL HARITS, ARIFIN, ABDUL HAKIM ABDAT (da'i Al Haramain/Al Sofwah), dan lain-lainnya. dan kemudian ditanyakan pula AL-SOFWA, AT TUROTS, AL IRSYAD, dan lain-lain.
Tentunya lebih tepat kalau saya jawab dari belakang dulu, dari organisasinya dulu, dan lebih bagus lagi kalau saya menerangkan pada antum tentang fikrohnya dulu, ya’ni fikroh Sururiyyah dulu . Ya’ni Sururiyyah berasal dari kata Surur atau dari nama MUHAMMAD SURUR NAYIF ZAINAL ABIDIN. Muhammad Surur adalah seorang yang tadinya Ikhwanul Muslimin (IM), kemudian dia keluar dari IM, dan kemudian mengaku Salafy. Orang yang sejenis Muhammad Surur ini banyak, seperti ABDURRAHMAN ABDUL KHALIQ itupun dari IM kemudian keluar dan kemudian mensyiarkan dirinya sebagai Salafy. Atau mengaku Salafy.
Orang-orang jenis ini mereka keluar Ikhwanul Muslimin dari Harokah IM, atau partai politik IM atau keluar dari kelompok firqoh IM, dan menyatakan taubat dari IM, dan menyatakan taubat "saya keluar dan saya taubat" seperti juga Muhammad Quthub itu juga mengaku keluar dan kembali kepada Salaf , tetapi dalam perjalanan mereka yang katanya mau kembali kepada Salaf, ternyata masih memiliki fikroh Ikhwaniyyah. Fikrohnya Ikhwanul Muslimin atau prinsip cara berfikir Ikhwanul Muslimin. Yang tentunya kita harus tahu bahwasannya prinsip IM ini berarti atau prinsip Sururiyyah ini berari sama dengan prinsip IM sesungguhnya, hanya beda istilah saja.
Apa yang dikatakan oleh para IM juga diucapkan pula oleh Sururiyyin, hakikatnya. Dengan cara dan bentuk istilah yang berbeda tapi intinya sama maka. Kalau begitu sururiyyah sama dengan ikhwaniyah dan kita perlu menerangkan tentang Ikhwanul Muslimin itu sendiri. Ikhwanul Muslimin, prinsip bid’ah mereka yang menjadikan mereka menjadi kelompok sempalan yang keluar dari Ahlus Sunnah adalah karena mereka memiliki prinsip “NATA’AWAN FIMA TAFAKNA WA NA’DZIRU BA’DINA BA’DON FI MAKHTALAFNA” kata mereka "kita saling kerjasama apa yang kita sepakati dan kita hormat-menghormati saling memaklumi apa yang kita berbeda".
Ini prinsipnya IM, saya ulangi Nata’awan fima tafakna, "Kita saling kerja sama saling bantu membantu dalam apa yang kita sama, kita sepakati dan kita memaklumi hormat menghormati, dengan apa yang kita berbeda". Dengan prinsip ini IM tidak menganggap ada ahlil bid’ah sama sekali, semuanya kawan tidak ada lawan. "Ahlil bid’ah mereka sama-sama sholat dengan kita, maka kita tolong menolong dalam apa yang kita sepakati, mereka sama-sama…" pokoknya apa yang kita sama kita kerja sama, ini IM. Sehingga HASAN AL-BANNA, AT-TUROBI, dan sekian banyak tokoh-tokoh mereka selalu berusaha menggabungkan antara Sunnah dengan Syi’ah, dan mereka mengatakan yel-yel Laa Syarqiyyah, Laa Gharbiyyah, Laa Sunniy, wa Laa Syi’ah, Islamiyyah, Islamiyyah, itu yel-yel yang selalu mereka dengungkan anasid dengan sair, dengan nyanyi dengan ikrar, "Tidak timur tidak barat tidak Sunni tidak Syi’ah yang penting Islam" kata
mereka ini prinsip mereka kemudian ditebarkan pada masyarakat. "Kalian jangan ribut terus, sudahlah jangan saling menyalah-nyalahkan, semuanya apakah dia Salaf apakah dia Sufi, apakah dia Mu’tazili, Syiah, semua itu saudara, semua Muslimin. Apa yang kita sama kita tolong menolong dan apa yang kita beda, kita hormat-menghormati", katanya begitu .Ini sepintas kilas perkaranya agak masuk akal, "Iya ya, kalau nggak gini gak akan bersatu", sepintas kilas kalau kalau dipikir akal saja.
Padahal kata para ulama prinsip ini akan meruntuhkan agama secara keseluruhan dan prinsip ini menggugurkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. [ketika kamu] mau mengingkari kebid’ahan, [mereka katakan: ] “ ...jangan ya akhi kita harus saling menghormati, kita jangan menyalahkan mereka", begitu, sehingga tidak ada amar ma’ruf nahi munkar. Dan berarti membolehkan manusia berjalan di jalan bid’ah manapun, ini sudah jelas sesatnya. Sehingga di dalam Ikhwanul Muslimin Jangan kamu kira mereka sama statusnya, fikirannya, aqidahnya. Di kalangan IM ada Sufi, Syi’ah,ada semua ahli bid’ah kecuali Salafy. Kenapa? Yang (katanya) Salafy dalam masalah Aqidahnyapun prinsipnya tetap prinsip ikhwan. PRINSIP AQIDAHNYA YANG KATANYA SALAFY, TETAPI TETAP MENGHORMATI AHLUL BID’AH. DAN TERNYATA INI ADALAH YANG NAMANYA SURURIYYIN. Dalam AQIDAH KATANYA MEMPELAJARI AQIDAH SALAF, KATANYA, TETAPI PRINSIPNYA SAMA, SESAMA AHLUL BID’AHPUN HARUS SALING MENGHORMATI DAN SEBAGAINYA. INI PRINSIP UTAMANYA. Namun sekarang ketika orang-orang yang dulunya keluar dari IM tadi apakah Muhammad Surur apakah Abdurrahman Abdul Kholiq apa MUHAMMAD QUTHB dan menyatakan "IM itu salah, IM itu sesat kami kembali kepada salaf", ternyata mereka mengajarkan aqidah Salaf, mengajarkan aqidah salaf sehingga sama dengan Salafiyin, tetapi mereka tetap mengatakan bahwa Ahlul bid’ah juga punya kebaikan, jadi jangan dimusuhi 100 persen, mereka juga punya kebaikan, kita bisa ambil kebaikan dari mana saja. Nah ini lihat, kalimat "mereka juga punya kebaikan, kita bisa ambil kebaikan dari mana saja" itu sesungguhnya terjemahan dari apa yang dikatakan Ikhwanul Muslimin, yaitu saling hormat-menghormati, inilah yang akhirnya menjadi masalah. Akhirnya segala macam orang-orang yang keluar dari IM yang dielu-elukan taubat masya Allah, sebagai seorang Salafy sekarang. Ternyata warnanya kok lama kelamaan agak berbeda kok aneh, kok agak beda, ketika tambah jauh, tambah kelihatan berpisahnya antara para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah Salafiyun dengan tokoh-tokoh mereka. Agak berbeda, terus begitu, kemudian dalam masalah sikap pemerintah juga berbeda, dalam masalah politik juga berbeda, mereka sama seperti IM.
Sekali lagi sama, Cuma istilah-istilahnya yang berbeda. Mereka mengatakan pentingnya Tsaqofah Islamiyyah, ini Ikhwanul Muslimin. Tsaqofah Islamiyah adalah wawasan.kata Ikhwanul Muslimin "Kita jangan terpaku dengan Quran Sunnah saja, tetapi tidak mengerti situasi dan kondisi politik yang ada, kita harus ikut menyaksikan kondisi politik sepaya kita bisa bersikap supaya kita bisa berjuang dengan jihad politik", katanya. Itu IM, terang-terangan mengatakan jihad politik. Makanya banyak istilah-istilah yang dipakai oleh para politikus sekarang ini, ada jihad politik, ada apa segala macem itu, itu karena diantaranya mereka banyak terbawa dengan tokoh-tokoh IM di dalam partai Keadilan dan sejenisnya. Kemudian mereka yang telah keluar dari IM, ternyata fikroh-fikroh itu masih ada, tetapi istilahnya agak ganti dengan bahasa Fiqhul Waqi’. SALMAN AUDAH, A’iDH AL QORNI, kemudian siapa lagi … Muhammad Surur dan sebagainya semuanya mengelu-elukan “Jangan kita selalu kitab-sunnah,kitab sunnah tetapi tidak memperhatikan lingkungan kita, lingkungan situasi-kondisi kita tidak tahu, kita harus tahu, kita harus belajar satu ilmu namanya Fiqhul Waqi’, memahami kenyataan yang terjadi". Sama toh dengan yang tadi? Kalau tadi dengan istilah Tsaqofah, sekarang dengan istilah fiqhul waqi. Abdurrahman Abdul Khaliq ketika Fiqhul Waqi’nya dibahas oleh para Ulama, lain lagi dia istilahnya bukan Fiqhul Waqi’, tetapi setali tiga uang, persis.
Kata Abdurrahman Abdul Kholiq, "Kita dalam memahami, dalam berda’wah ini selain ini, kita harus punya Shifatul ‘Asr". Ini istilahnya Abdurrahman Abdul Kholiq. Apa Shifatul ‘Ashr?, Al Ashriyah dengan gaya bahasa dia bilang "Ashriye, kita harus tahu Al Ashriye", yakni "keadaan kondisi situasi politik yang ada", begitu, sama ternyata. Dan ingat bukan berarti Ahlussunnah wal jamaah dan para Ulamanya menentang perlunya Fiqhul Waqi’ atau Tsaqofah atau shifatul
Ashr bukan menolak perlunya. Perlu tetapi itu berada di bawah, di bawah dan di bawahnya dan hukumnya fardlu kifayah. Bukan harus apalagi wajib apalagi diutamakan diatas ilmu-ilmu lain. Ini mereka menggembar-gemborkan dengan keras dan mereka mengangkat setinggi tingginya, ilmu yang besar, ilmu yang tinggi yaitu Fiqhul Waqi’ shifatul ashriye dan seterusnya. Kenapa sih? Ada apa sih? Kok mereka menggembar-gemborkan itu. Sama dengan Salaf mereka, Salaf mereka lho ya, yang tidak sholeh yaitu Ikhwanul Muslimin. Sama yaitu ingin mengangkat tokohnya tapi tidak punya ilmu yang menonjol, mau mengangkat tokohnya ini, ingin mengangkat Sayyid Qutub, dari sisi apa? Dia ahli dalam bidang apa? Ibn Katsir ahli dalam bidang tafsir sehingga disebut sebagai ahli tafsir dan seterusnya. Kemudian para Ulama, Syaikh Utsaimin, Syaikh Bin Baz fuqoha ahli faqih masya Allah. Dan para ulama terkenal dengan ilmu mereka sehingga ada yang disebut sebagai Faqih, Ahli Tafsir, Muhadits seperti Syaikh Al- Albany, ada yang disebut sebagai Mufassir ahli tafsir, dan sebagainya. Lantas, mereka mau mengangkat tokoh-tokonya ini, mau mengangkat Sayyid Quthub.Ini mau di masukkan ke golongan mana? kepada Mufassirin, bukan ahli tafsir, mau digolongkan Muhaditsin, bukan ahli hadits, mau digolongkan Fuqoha bukan ahli fiqih, ini ahlinya apa? Akhirnya mereka muncul ide, ini orang walaupun dalam masalah itu tidak menonjol tetapi ia memiliki ilmu yang peting yaitu memahami situasi dan kondisi politik, situasi dan kondisi masyarakat dan sebagainya, ini ahli ini orang, jadi kita harus angkat Fiqhul Waqi. Jadi kata Syaikh Robi dan kata ulama lain yang mengatakan bahwa istilah Fiqhul Waqi, adalah untuk mengangkat tokoh-tokohnya, jadi diapun ‘alim minal ulama. Ahli dibidang apa? Ahli di bidang Fiqhul Waqi’. Jadi kamu ngertinya fiqhul syari’ah, fiqhul ahkam, ini Fiqhul Waqi’, dan Subhanallah ini diikuti oleh para sururiyyin.
Diantaranya Haddatsana Umar Jawwas, qola sami’tu ABDUL MALIK (seorang Surury yang belajar di Riyadh sama tokoh sururi disana namanya ABDUL KARIM, yang ini turunannya bikin pondok 'Alamus Sunnah di Bogor dan As-Sunnah di Cirebon), bilangnya : "Bahwasanya Ulama itu ada dua, ada Ulama Syumul ada Ulama Takhossus". Dan ada sanad lain, sanadnya saya dengar dari Yahya Ba’adil (kakak Yazid Ba’adil, Jember), ini sanadnya lebih 'ali, dia pulang dari Riyadh, duduk sepesawat dengan Abdul Karim (tokoh yang tadi itu), setelah tanya jawab, dia masih belum kenal betul siapa dia. Terus cerita kepada saya : "Kemarin ketemu orang namanya Abdul Karim, begini-begini… "; [ana bilang: ] "Hah, ente ketemu, ngomong apa dia [Yahya Ba'adil ] ?", dia bilang katanya : "Ulama itu ada dua ada ulama takhosus dan ada ulama syumul".
Ulama takhosus itu ulama dalam bidang fiqih ya fikih saja, ahlu tafsir, tafsir saja, ahli hadits, hadits saja, tapi gak ngerti yang lain, adapun ulama syaamil, ulama lengkap, yaitu ulama yang mengerti semuanya itu dan mengerti Fiqhul Waqi’, jadi .. Ustadz Muhammad : "Siapa yang dimaksud itu, ente nggak tanya?", jawab Yahya : "Iya saya nggak tanya". Ustadz Muhammad, "Coba tanya…". Ustadz Muhammad :"Ana bilang, sesungguhnya kalau dia ditanya yang dimaksud takhosus tuh, Syaikh Albani hadits saja, Syaikh bin Baz,… karena sudah dikatakan dalam majlis-majlis lain mereka bilang begitu, "Syaikh bin Baz itu ngerti apa tentang politik", begitu katanya, "Mereka tuh ngerti apa, sehingga percuma fatwanya gak diterima", jadi mereka menganggap ulama yang syumul itu Qaradhawi, Muhammad Al-Ghazali, Sayyid Quthb dan sebagainya itu tadi.
Dikatakan lengkap karena dia mengikuti apa yang terjadi sedangkan ulama-ulama tadi itu ulama takhosus khusus itu saja di bidangnya, sehingga, kata orang tadi, "Kalau kita meminta fatwa tentang politik jangan sama mereka, jangan tanya sama mereka karena fatwanya nggak bisa diterima, mereka nggak ngerti Fiqhul Waqi’, karena mereka nggak ngerti Shifatul ‘Ashr, karena mereka nggak, ngerti apa itu tadi, Tsaqofah". Jadi tanyanya sama… Akhirnya ditulislah buku DALILUTH-THOLIBAH oleh MUHAMMAD KHOLAF, judul bukunya Dalilut Tholibah, Bimbingan untuk pelajar Putri, isinya ?, ketika masalah ahkam dan sebagainya dari Syaikh Muhammad Al Utsaimin yang dinukil, dan habis itu ada tanya jawab dalam masalah Da’wah dijawab oleh Salman bin Fahd Al Audah. Ini menunjukkan prinsipnya dia Muhammad Khalaf adalah pendiri Al-Sofwa, nah terjawablah Al Sofwa.
Jadi dia menulis buku itu dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, nggak tau apa judulnya dalam bahasa Indonesia, jadi begitu ketika masalah fiqih Syaikh Utsaimin, ketika masalah da'wah, nggak terima Syaikh Utsaimin, "Salman Audah yang lebih mengerti Fiqhul Waqi’", inilah model-model Sururiyin. Apakah Ikhwanul Muslimin, ataupun Sururiyyin, atau nanti ada nama
lainnya, jenis lainnya, maka mereka semua prinsipnya sama bahwa mereka akan menjauhkan para Salafiyyin dari Ulamanya dan mereka berusaha mentaqrib (mendekatkan) Ahlus Sunnah dengan Ahlul bid’ah. Maka kamu lihat tokoh-tokohnya, satu-satu tadi itu, bagaimana keadaannya, bagaimana Yazid Jawwas dengan tokoh-tokoh DEWAN DA’WAH (DDII, red) dan tokoh-tokoh IM, bagaimana Yusuf Ba’isa dengan SALIM BAJRI, yang Mu’tazilah yang menolah Hadits Shahih Bukhary, yang katanya “Jangan taklid dengan Imam Bukhary”, ini masih tetep bareng dengan Yusuf Ba'isa sekarang ini. Lalu, apa lagi yang lebih besar dari itu.
Kita yang kemarin terpaksa ketemu dengan ahlul bid’ah itu gemetarnya sampai hari ini belum hilang."Wa atuubu ilallah" karena masalah kemarin sampai Laskar Jihad yang sudah besar kita beberkan, karena masalah itu tadi yang kita takuti, bagaimana kita bergaul dengan Ahlul bid’ah, Tidak, Coret, Silang, Habis, Masa-masa itu kita tutup!. Kalau sampai jihad membawa kita kepada pergaulan dengan ahlul bid’ah seperti itu, tidak ada jihad-jihadan, Batil !, Bubar!.Khan begitu !!. Ini…, tidak dalam keadaan jihad atau bukan jihad bukan dalam perjuangan, bukan perang, bukan dalam keadaan apapun, sama mereka ahlan-ahlanan.buat acara bersama, bikin pertemuan bersama dan seterusnya.
Dan kemudian, baru setelah kita jawab beberapa tokoh, Muhammad Sururnya, Abdurrahman Abdul Kholiqnya, dan kemudian Salman Audah, kemudian Abdul Karim Al Katsiri dari Riyadh, nah ini mereka. Kemudian dari sisi politiknya, mereka membolehkan masuk ke dalam parleman atau masuk dalam partai-partai. Tidak mesti diantara mereka sampai masuk ke dalam marhalah ini. Diantara mereka masih marhalah satu, ada yang marhalah dua ada yang ketiga ada yang sudah keempat, Tetapi ciri yang umum adalah itu tadi, yaitu mereka bergampang-gampang dengan dengan Ahlul Bid’ah, meremehkan ahlul bid'ah, maksudnya meremehkan itu, meremehkan bahayanya.
Bukan artinya kita mengecilkan, jelas kita juga mengecilkan mereka, tetapi yang dimaksud adalah mereka meremehkan bahayanya ahlul bid'ah. "Mereka juga punya kebaikan, mereka juga punya suatu kelebihan, kita diperintahkan oleh Allah untuk mengambil ilmu dari mana saja, jangan lihat siapa yang berbicara, lihat ucapannya bagaimana, jadi ucapannya yang kita lihat orangnya siapa saja Ahlul Bid'ah atau Ahlus Sunnah" begitu, ini sudah terucap dari Yusuf Ba'isa banyak, entah dari yang lain saya belum tahu.
“...Maka mereka ini ada, ternyata turunannya Abdul Karim Al-Katsiri, turunannya mendirikan pondok, membiayai di ‘Alamus Sunnah Bogor dan di Cirebon ini, As Sunnah. Kemudian Abdurrahman Abdul Khaliq, (Al-Irsyad-peny) Tengaran, membiayai, membantu, mengirimkan orangnya dan datang ke Tengaran. Jadi sudah tidak bisa diingkari lagi, tidak bisa diingkari lagi kalau mereka ini grupnya Abdurrahman Abdul Khaliq yang sudah dibantah oleh para ulama. Bukan satu-dua ulama, tetapi para ulama, termasuk Syaikh Muqbil yang di Yaman atau Syaikh Rabi’ yang di Saudi, yang berjauh-jauhan keduanya membantah Abdurrahman Abdul Khaliq. Demikian pula ulama yang lain, banyak.
Pesantren Al-Irsyad Tengaran menjadi saksi...
Ini...( Abdurrahman Abdul Khaliq-peny), datang ke Indonesia, ke Tengaran itu disambut, diberi tempat dan dibikin daurah oleh Yusuf Utsman Ba’isa, yang sesungguhnya masih misan saya, anak paman saya. Seperti itu, datang dikasih tempat, diberi kesempatan untuk bicara. Diundang semua para da’i. Waktu itu kita sudah tahu Abdurrahman Abdul Khaliq, tetapi ada berita dia taubat, menulis surat kepada Syaikh Bin Bazz dan menyatakan pernyataan taubatnya....maka saya hadir dalam keadaan bertanya-tanya, benar sudah taubat atau tidak. Saya duduk, dia berbicara. Ini da’i semua nih, da’i kumpul semua, Abu Nida’ ada, Sholeh
Su’aidi ada, siapa lagi.... semua...., Yusuf yang mengundangnya, Ahmas Faiz7 ada,
lengkap, Abu Haidar ada.
Kemudian bertanya:”Syaikh, bagaimana mengatakan Yusuf Qaradhawi dengan Yusuf Al-Quradly, apa boleh itu?”
....Abdurrahman Abdul Khaliq ngamuk, ngamuk besar, saya sampai bengong, dibela mati- matian Yusuf Qaradhawi, “Afna hayatahu fi da’wah”
Saya mendengar sendiri, yakni tidak pakai sanad, sami’tu, tinggal kalian percaya sama saya atau tidak, Asma biudinayya, saya mendengar dengan telinga saya sendiri dia mengatakan :”Afna hayatahu fi da’wah, Yusuf Qaradhawi ini menghabiskan umurnya dalam dakwah8, kemudian kamu cela seperti itu? WALLAHI HADZA ADALAH
PERBUATAN KHAWARIJ” kata dia, KHAWARIJ ITU KAFIR, kemudian disebutkan tentang kafirnya Khawarij.
Saya bingung, satu pembelaannya terhadap Qaradhawi mati-matian padahal Qaradhawi aqlani. Sampai Syaikh Muqbil menulis kitab “Iskatu Kalbun awi fi Raddi ‘ala Yusuf Qaradhawi”, 7 Dedengkot Ihya'ut Turots Indonesia, pimpinan majalah Sururi As-Sunnah At-Turotsy sekaligus murid besar Syarif
Hazza', Dajjal Ihya’ dari Mesir.
Syaikh Muqbil berkata memperingatkan umat dari tipe orang-orang semacam ini:
“Orang yang menjual dakwah demi dinar adalah orang yang bangkrut dan merugi: "Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang-orang yang menyeru kepada Allah, dan mengerjakan amal sholeh dan berkata: 'sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri'?" (QS. Fushshilat/41: 33)
Sungguh bangkrut dan merugi orang yang menjual dakwah demi membangun masjid, [dia berkata]: 'Bangunkan untuk kami sebuah masjid dan kami, insya Allah, Salafy.' Ya, tetapi 'Salafy'-nya Abdurrahman Abdul Khaliq yang
membolehkan demokrasi, membolehkan pemilu, dan membolehkan demonstrasi.
Tetapi kami Salafy, kami tidak menginginkan masjidmu. Dan kami tidak menginginkan dinarmu, Allah telah mencukupi kami dari merasa butuh dari hal itu. Dan kami tidak menginginkan bantuanmu.
Kami harus menjelaskan kesesatan-kesesatanmu dan menunjukkan betapa kamu berseberangan dengan al- Kitab dan as-Sunnah, Wallahul-musta'an, dan hal itu tidak bisa disangkal lagi. Dan alhamdulillah, Syaikh Rabi' telah membuat [bantahan atas kesesatan-kesesatan Abdurrahman Abdul Khaliq], semoga Allah membalasnya. (Abdurrahman Abdul Khaliq) Ya, dia seorang mubtadi', dan hendaklah yang hadir memberitahu yang tidak hadir. Karena dia menyeru kepada hizbiyyah, Allah berfirman dalam kitab suci-Nya: "dan perpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai." (Ali ‘imran (3): 103) [http://www.salafy.or.id/salafy.php? menu=detil&id_artikel=263] –peny.
8 Inilah- salah satu jenis dakwah-yang dengannya umur Qaradhawi dihabiskan (sebagaimana yang dimaksud oleh
Abdurrahman Abdul Khaliq petinggi besar Ihya’ut Turots):
Kesesatan Qaradhawi - Menuduh Ulama Jumud serta Mengagungkan Para Penulis, Rasionalis, dan Mubtadi’ Sebagai Intelektual Independen.
Kita ketahui bersama bahwa ulama As Sunnah telah direndahkan hak-hak mereka oleh ahli bid’ah dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit. Dan ini tidaklah membahayakan mereka karena Allah telah mengangkat nilai mereka dan menjadikan mereka diterima oleh manusia. Sudah sejak lama para ahli bid’ah menyifati ulama umat Islam sejak dahulu kala dengan sifat-sifat yang membikin orang lari seperti Al Hasyawiyah (orang-orang yang sempit pandangan), Al Mujassimah (orang yang beranggapan bahwa Allah memiliki jism/tubuh), Al Musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk), dan menuduh mereka sebagai orang yang berlebihan dan keras, dan lain-lain. Akhirnya Qaradhawi telah memberikan kepada kita sifat yang lain bagi ulama tersebut, yaitu sifat jumud (kaku/beku). Sungguh ia telah berbicara dalam bukunya Al Ijtihaad fii Syarii’atil Islamiyah halaman 47 tentang sebagian ijtihad- ijtihad dan ia mengambil contoh dengan zakat fitrah dan hukum mengeluarkannya, apakah dikeluarkan dalam bentuk harta ataukah boleh diganti dengan harganya (uang)? Dia berkata :
Ibnu Hazm menolak dikeluarkannya zakat mal dan zakat fitrah dengan harganya (diganti uang). Walaupun ada kebutuhan dan maslahah yang menuntutnya dan inilah yang kita lihat dari para ulama yang jumud terhadap nash- nash di hari ini. Mereka berfatwa kepada orang-orang banyak tentang zakat fitrah dan melarang sama sekali menggantinya dengan harga (uang). Mereka hanya memperbolehkan makanan pokok penduduk negeri, baik gandum ataupun yang sejenisnya dan hampir-hampir tidak bisa didapati dengan mudah oleh orang-orang kaya ataupun tidak