• Tidak ada hasil yang ditemukan

Solusi untuk mengatasi permasalahan yang terjadi dalam Implementasi Kebijakan Pendidikan Gratis di SMA Negeri se Kabupaten Sukoharjo

commit to user

Seperti yang dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya tentang kendala-kendala yang dihadapi dalam Implementasi Kebijakan Pendidikan Gratis di SMA Negeri se Kabupaten Sukoharjo Tahun Ajaran 2013/2014 bahwa kendala utama dari pendidikan gratis ini adalah pagu dana BOS yang terbatas dimana salah satu penyebabnya adalah karena ditariknya bantuan dana operasional oleh Pemerintah Kabupaten.

Dengan adanya kendala ini pihak sekolah berusaha untuk menggunakan dana yang diperoleh dengan semaksimal mungkin. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari informan 1 (Kepala Sekolah) pada tanggal 13 November 2014 yang menyatakan bahwa:

“Jadi adanya dana berapa ya kita gunakan gunakan semaksimal mungkin. Untuk ekstra seperti yang saya bilang tadi hanya kita ambil sampelnya beberapa ekstra gitu.”

Hal yang sama juga disampaikan oleh informan 4 (Kepala Sekolah) pada tanggal 8 Desember 2014 yang menyatakan bahwa:

“Intinya kita cukup-cukupkan saja, mungkin ada beberapa kegiatan yang harus dihemat pokoknya kita sesuaikan dengan dana yang ada. Kita buat prioritas mana yang penting dan mana yang kurang penting biar bisa maksimal penggunaan dananya.”

Senada dengan hal tersebut, informan 5 (Kepala Sekolah) pada tanggal 11 Desember 2014 juga menyatakan bahwa:

“Cukup tidak cukup harus dicukupkan. Kalau semua bisa terakomodasikan tentunya kalau bisa lebih ya lebih bagus sehingga kalau dana dari BOS segitu ya mau tidak mau program-program harus disesuaikan dengan itu termasuk untuk kegiatan-kegiatan.” Hal serupa juga disampaikan 6 (Kepala Sekolah) pada tanggal 10 Desember 2014 yang menyatakan bahwa:

“Jadi kita istilahnya budget oriented. Istilahnya kita menggunakan anggara sesuai dengan apa yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Kita mengikuti itu saja, cukup ga cukup ya harus sesuai dengan aturan.”

Pernyataan tersebut diperkuat oleh informan 10 (Kepala Sekolah) pada tanggal 22 Desember 2014 yang menyatakan bahwa:

commit to user

“Ya intinya adanya dana berapa kita gunakan semaksimal mungkin. Jumlah dana yang diterima mau tidak mau harus cukup.” Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa sekolah memaksimalkan penggunaan dana yang diterima sebisa mungkin. Meskipun dana yang diperoleh termasuk terbatas, sekolah tetap bisa menjalankan operasionalnya.

Disamping itu untuk mengatasi kendala lainnya yang muncul dalam implementasi kebijakan gratis ini diperoleh beberapa solusi. Adapun solusi yang bisa diambil untuk mengatasi kendala yang muncul diantaranya: a. Mengajukan proposal ke pemerintah untuk memperbaiki kualitas

dan kuantitas sarana dan prasarana

Sarana dan prasana sangat penting untuk menunjang proses pembelajaran di sekolah. Dengan adanya sarana dan prasana yang lengkap dan bermutu maka akan meningkatkan mutu dari proses pembelajaran itu pula. Keterbatasn sarana dan prasana dapat di atasi dengan pengajuan proposal ke pemerintah seperti yang diungkapkan oleh informan 2 (Kepala Sekolah) pada tangal 18 November 2014 yang menyatakan bahwa:

“Kita ajukan proposal ke pemerintah, missal kurangnya apa kita ajukan diproposal. Masalah disetujui atau tidaknya itu tergantung dari pemerintah.”

Peryataan tersebut serupa dengan pernyataan informan 18 (Wakasek Sarana dan Prasarana) pada tanggal 10 Desember 2014 yang menyatakan bahwa:

“Dalam hal ini kita mengajukan proposal ke pemerintah daerah apakah bisa turun atau bisa cair atau tidak, jadi proses pengadaannya melalui proposal. Keadaan sarana dan prasarana disini kalau dikatakan cukup seratus persen ya belum, tetapi yang sudah ada kami manfaatkan sebaik-baiknya sambil berjalan kami mengajukan proposal kurangnya apa.”

Pernyataan tersebut diperkuat oleh informan 8 pada tanggal 16 Desember 2014 yang menyatakan bahwa:

“Untuk memenuhi kebutuhan sekolah terutama untuk sarana dan prasarana biasanya kita ajukan proposal pada pemerintah.

commit to user

Nah bisa dilihat sendiri mas, kan sekolah ini lagi ada pembangunan dan itu hasil dari pengajuan proposal. Jadi kita butuhnya apa nanti kita ajukan ke pemerintah.”

Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa untuk mengatasi masalah sarana dan prasarana sekolah dapat mengajukan proposal kepada pemerintah sesuai dengan kebutuhan sekolah masing-masing.

b. Mencari bantuan dari sponsor

Banyak kegiatan keorgansasian di sekolah yang terhambat karena terbatasnya dana. Terbatasnya dana ini dapat di atasi dengan mencari sponsor maupun meminta sumbangan sukarela dari siswa. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan dari informan Hal ini dibuktikan dengan pernyataan oleh informan 24 (Siswa) pada tanggal 18 November 2014 yang menyatakan bahwa:

“Nah biasanya kalau untuk kegiatan-kegiatan yang besar itu

kayak pensi misalnya itu kita nyari sponsor mas. Nanti dana

dari sponsor bisa kita manfaatkan untuk pendanaan.”

Senada dengan hal itu, informan 27 (Siswa) pada tanggal 11 Desember 2014 yang menyatakan bahwa:

“Jadi kita cari sponsor mas biasanya. Kalau gak nyari sponsor ya kita tarik iuran ke siswa. Atau bisa dari dua-duanya, dari sponsor iya dari siswa iya. Masalahnya dana yang kita butuhkan itu gak sedikit juga”

Hal serupa juga dinyatakan oleh informan 31 (Siswa) pada tanggal 13 Desember 2014 yang menyatakan bahwa:

“Kadang masalanya di dana mas. Jadi kalau kita mau ngadain kegiatan misalnya pensi itu terhambat didananya. Tapi kita tetep cari solusi dengan mencari sponsor.”

Dengan pernyataan-pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mengatasi kegiatan keorganisasian yang terhambat dapat dilakukan dengan cara mencari sponsor maupun meminta sumbangan suka rela dari siswa.

commit to user

c. Memungut biaya suka rela dari siswa oleh siswa

Pemungutan biaya suka rela disini dilakukan oleh siswa dan dikelola oleh siswa. Dalam hal ini pemungutan biaya yang dilakukan oleh siswa bukan atas perintah dari pihak sekolah. Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler yang terganggu karena terbatasnya fasilitas dapat diatasi dengan cara memungut biaya suka rela dari siswa guna memperbaiki maupun memperbaharui fasilitas yang ada. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari informan 22 (Siswa) pada tanggal 13 November 2014 yang menyatakan bahwa:

“Jadi kalau misalnya alatnya sudah bener-bener gak bisa dipakai dan dari sekolah juga tidak menyetujui proposal yang diajukan ya terpaksa kita urunan mas. Masak sudah gak bisa dipakai tetep kita paksa pakai ya gimana lagi mas.”

Hal senada juga disampaikan oleh informan 38 (Pembina Ekskul) pada tanggal 17 November 2014 yang menyatakan bahwa:

“Kalau untuk pengadaan alat nanti bisa sedikit-sedikit. Kita juga sudah pernah mengajukan proposal tapi ditolak, mungkin dananya memang terbatas. Kita maklumi itu, yang penting masih bisa berjalan itu sudah bagus. Untuk pembaharuan alat kita bisa iuran berapa gitu.”

Senada dengan hal itu 34 (Siswa) pada tanggal 19 Desember 2014 juga menyatakan bahwa:

“Kita dulu juga pernah iuran mas buat beli alat soalnya memang benar-benar harus ada dan gak bisa pinjem. Kalau gak salah dulu iuran dua puluh ribu peranak. Itu juga buat kita sendiri mas, kalau gak kan nanti juga bisa buat adek-adek kelas.”

Pernyataan tersebut diperkuat oleh informan 39 (Pembina Ekstrakulikuler) pada tanggal 19 Desember 2014 yang menyatakan bahwa: “Bisa kita iuran, bisa juga mengajukan proposal. Kalau proposal tidak disetujui ya kita terpaksa iuran, hla mau gimana lagi. Tapi tidak ada paksaan ke anak-anak, yang mau iuran saja.”

commit to user

Dari beberapa pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa memungut biaya suka rela dari siswa merupakan solusi yang diambil untuk memperbaiki maupun memperbaharui fasilitas yang ada.

d. Melaksanakan kegiatan praktik dengan memaksimalkan penggunaan fasilitas yang ada

Melaksanakan kegiatan praktik dengan memaksimalkan penggunaan fasilitas yang ada merupakan solusi dari keterbatasan alat praktik. Hal ini ditegaskan oleh informan 21 (Guru) pada tanggal 14 November 2014 yang menyatakan bahwa:

“Ya kalau cukup sih cukup mas, adanya ini ya kita gunakan semaksimal mungkin. Di cukup-cukupkan mas, untuk praktek sebenarnya juga sudah cukup, tapi tidak bisa maksimal. Untuk membeli alat-alat praktek yang cukup mahal kita belum bisa, dananya gak ada. Kalau misalnya bisa kan tentunya lebih maksimal lagi prakteknya.”

Hal senada juga disampaikan oleh informan 19 (Guru) pada tanggal 13 Desember 2014 yang menyatakan bahwa:

“Untuk alat-alat praktik kita gunakan sesuai dengan ketersediaan yang ada. Jadi apa yang tersedia kita manfaatkan sebaik mungkin bagi siswa. Kalau ditanya cukup apa tidak sih sebenarnya cukup, tapi ya gak bisa maksimal.”

Hal tersebut diperkuat juga dengan pernyataan yang disampaikan oleh informan 20 (Guru) pada tanggal 18 Desember 2014 yang menyatakan bahwa:

“Memang kalau pendidikan gratis ini fasilitas penunjang praktik siswa itu tidak bisa maksimal, tapi pokoknya kita sebagai guru harus memanfaatkan fasilitas yang ada untuk kepentingan siswa sendiri. Kita harus professional dan gak boleh ngeluh sama keadaan, kita cari solusi yang baik itu seperti apa.”

Jadi dapat disimpulkan dengan adanya fasilitas yang ada harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sekolah paling tidak memenuhi kebetuhan terbatasal untuk praktik siswa.

commit to user

e. Selektif dalam memilih lomba yang akan diikuti serta melibatkan orangtua/wali peserta secara suka rela dalam membantu pendanaan lomba

Dengan adanya pendidikan gratis ini sekolah maupun siswa harus lebih selektif dalam memilih lomba yang akan diikuti. Hal ini dikarenakan semua lomba yang ada tidak semuanya gratis. Oleh karena itu solusi yang diambil adalah dengan menggunakan dana pribadi dari orangtua/wali siswa atau tidak mengikuti lomba yang memakan banyak biaya. Solusi yang diambil ini sesuai dengan pernyataan dari informan 23 (Siswa) pada tanggal 13 November 2014 yang menyatakan bahwa:

“Jadi kita biasanya milih-milih mana yang mau diikuti, biasanya yang jelas diikuti itu popda mas karena gak butuh biaya dan yang ngadain pemerintah. Kalau untuk lomba-lomba lain yang butuh biaya kita pilih-pilh, soalnya dari sekolah juga terbatas dananya.”

Serupa dengan pernyataan tersebut Informan 4 (Kepala Sekolah) pada tanggal 8 Desember 2014 menyatakan bahwa:

“Kalau ada undangan-undangan lomba dari lembaga-lembaga itu kan banyak sekali sebenarnya. Nah itu kita yang agak kesusahan. Caranya ya kita selektif pilih kegiatan lomba yang ditunjang oleh dana pemerintah, misalnya OSN terus debat bahasa inggris yang diadakan oleh dinas yang sifatnya berjenjang seperti kalau lolos kabupaten nanti lanjut ke karesidenan kemudian provinsi lalu nasional. Kalau ada lomba yang sifatnya tidak berjenjang yang butuh banyak dana ya kita selektif. Kadang-kadang untuk mengeksplor tadi, kemampuan misalnya ada lomba kemana gitu anak-anak juga butuh dana. Kadang orangtua juga kami libatkan disini.”

Senada dengan hal itu informan 39 (Pembina Ekstrakurikuler) pada tanggal 11 Desember 2014 juga menyatakan bahwa:

“Biasanya yang banyak diikuti anak-anak itu ya kejuaraan yang diadakan oleh dinas atau pemerintah karena tidak perlu membayar. Untuk kejuaraan yang sifatnya Open itu tergantung dari anak-anak sendiri, apakah mau ikut atau tidak. Hal ini dikarenakan mereka harus mengeluarkan dana sendiri karena

commit to user

dari pihak sekolah juga belum bisa menutupi semua biaya yang dibutuhkan.”

Pernyataan tersebut diperkuat oleh informan 10 (Kepala Sekolah) pada tanggal 22 Desember 2014 yang menyatakan bahwa:

“Untuk lomba-lomba diseleksi, tidak bisa diikuti semua. Kalau seperti di sekolah ini kan hampir tiap hari ada surat untuk mengirim lomba. Kalau itu diikuti satu tahun satu milyarpun habis. Jadi yang even-even tertentu misalnya kita sudah rutin dapat juara missal dari UMY, Sanartadharma, IKIP Malang, dari apa itu UNS untuk OSN hukumnya wajib kami ikuti. Ini tidak murni gratis, kadang orang tua kami undang, sekolah hanya membiayai transport guru, transport siswa dan makan dan sebagainya dari orangtua siswa. Untuk kegiatan lomba yang memerlukan banyak biaya, transportasi, dihentikan.” Dari pernyatan tersebut dapat dikatakan bahwa sekolah maupun siswa lebih selektif dalam memilih lomba yang akan diikuti. Untuk lomba yang memerlukan biaya dapat dimintakan kepada orangtua siswa atau tidak mengikuti lomba tersebut.

f. Sosialisasi intern tentang peruntukan dana

Dalam petunjuk teknis BOS dengan jelas melarang penggunaan dana untuk honor pihak intern sekolah. Padahal honor ini dubutuhkan apabila guru atau warga sekolah melakukan kegiatan di luar sekolah seperti menjadi Pembina ekstrakulikuler, mengawasi ujian semester, menjadi pendamping maupun pembimbing lomba siswa, dan lain-lain karena telah mengeluarkan tenaga dan waktu yang lebih dibanding guru ataupun warga sekolah lain yang tidak terlibat. Honor juga akan sangat membantu bagi guru honorer maupun guru tidak tetap yang bergaji rendah. Oleh karena itu kepala sekolah senantiasa Menjelaskan kepada guru dan warga sekolah bahwa dalam juknis tidak diijinkan untuk honor pihak intern sekolah serta memberikan pemahaman bahwa meningkatkan kualitas pendidikan merupakan tanggung jawab bersama dan tidak perlu berharap kepada honor karena itu sudah seharusnya dilakukan oleh

commit to user

mereka. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari informan 3 (Kepala Sekolah) pada tanggal 19 November 2014 yang menyampaikan bahwa:

“Jadi kalau masalah ini kita tanamkan ke para guru maupun karyawan kalau memang dananya itu tidak bisa untuk membayar honor mereka. Kita tanamkan kalau dari pemerintah itu sudah menunjang kesejahteraan mereka dan kalau jika tidak ada honor untuk jam ekstra ya di ikhlaskan saja, anggap saja ibadah dan bayarannya berupa pahala.”

Hal yang sama juga disampaikan oleh informan 6 (Kepala Sekolah) pada tanggal 10 Desember 2014 yang menyatakan bahwa:

“Kalau saya bicara ke mutu otomatis karena apa kita tidak bisa meningkatkan, mempressing, temen-temen guru berkaitan penambahan jam diluar jam kedinasan itu kan kita sulit. Karena diluar kedinasan tanpa kita memberikan salary itu kan sulit. Jadi untuk menambah kegiatan belajar siswa seperti jam tambahan itu sulit. Tapi tetep kita jelaskan ke temen-temen guru kalau ini semua demi siswa dan akhirnya juga demi sekolah juga, jadi harap maklum dengan hal ini.”

Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan dari informan 7 (Kepala Sekolah) pada tanggal 18 Desember 2014 yang menyatakan bahwa:

“Sebenarnya sih juga gimana gitu, tapi mau gimana lagi. Pokoknya saya selalu menjelaskan ke mereka kalau kita ini sudah cukup digaji dari pemerintah, guru semakin makmur, pns makin sejahtera. Jadi ya kami harap dan kami himbau biarpun tidak diberi honor ya tidak boleh menuntut, kan gajinya juga sudah cukup, anggap aja amal gitulah.”

Dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan cara menjelaskan kepada guru dan warga sekolah bahwa dalam juknis tidak diijinkan untuk honor pihak intern sekolah, serta memberikan pemahaman bahwa meningkatkan kualitas pendidikan merupakan tanggung jawab bersama dan tidak perlu berharap kepada honor karena itu sudah seharusnya dilakukan mereka, merupakan solusi yang bisa dilakukan oleh Kepala Sekolah.

g. Sosialisasi mengenai kebijakan pendidikan gratis kepada orangtua/wali siswa

commit to user

Sekolah tidak henti-hentinya melakukan sosialisasi kepada orangtua siswa mengenai kebijakan pendidikan gratis. Hal ini dilakukan agar pemahaman orangtua terhadap pendidikan gratis tidak salah. Dalam pendidikan gratis ini orangtua masih harus membayar biaya pribadi siswa seperti seragam maupun buku. Pihak sekolah terus mengadakan sosialisasi ini seusai dengan pernyataan dari informan 2 (Kepala Sekolah) pada tanggal 18 November 2014 yang menyatakan bahwa:

“Setiap semester itu kami selalu mengadakan sosialisai terkait pendidikan gratis ini pada orangtua. Bisa tiap pengambilan rapor maupun pada saat penerimaan siswa baru. Jadi kami jelaskan kalau pendidikan gratis itu tidak murni gratis, orangtua masih harus mengeluarkan biaya untuk kebutuhan pribadi siswa seperti seragam dan buku.”

Hal serupa juga disampaikan oleh informan 3 (Kepala Sekolah) pada tanggal 19 November 2014 yang menyampaikan bahwa:

“Dari pak bupati ada, dari sekolah tentu baik kepada orangtua, kepada siswa pada saat upacara. Kepada orangtua melalui komite, waktu pembagian rapor kita sampaikan.”

Hal serupa juga dinyatakan oleh informan 24 (Siswa) pada tanggal 18 November 2014 yang menyatakan bahwa:

“Tiap awal tahun tiap pergantian semester , tiap penerimaan peserta didik baru itu ada koordinasi atau sosialisasi sama orang tua kalau kita tuh ya emang pendidikan gratis tapi tidak sepenuhnya gratis. Kita seragam juga beli, buku juga beli.” Senada dengan hal tersebut, informan 17 (Guru) pada tanggal 8 Desember 2014 menyatakan bahwa:

“Jadi setiap mau ngambil rapor atau tahun ajaran baru terutama kalau kelas sepuluh, orangtua siswa dikumpulkan untuk koordinasi dan sosialisasi mengenai pendidikan gratis ini.” Dengan beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pihak sekolah terus mengadakan sosialisasi terkait pendidikan gratis untuk menghindari kesalahpahaman orangtua. Sosialisasi ini dilakukan setiap tahun ajaran baru, pada saat penerimaan rapor, dan penerimaan peserta didik baru.

commit to user

h. Mengadakan koordinasi dengan pihak intern sekolah maupun pemerintah

Rumitnya penyusunan laporan pertanggungjawaban dapat di atasi dengan melakukan koordinasi antara pihak intern sekolah maupun dengan pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan dari informan 5 (Kepala Sekolah) pada tanggal 11 Desember 2014 yang menyatakan bahwa:

“Kalau ada kesulitan biasanya kita koordinasi dengan tim yang mengurus pendidikan gratis di sekolah ini. Masalahnya apa kita diskusikan bersama-sama kemudian kita cari solusinya.”

Senada dengan hal tersebut, informan 7 (Kepala Sekolah) pada tanggal 18 Desember 2014 menyatakan bahwa:

“Jadi kita saling membantu istilahnya, ada kesulitan apa kita bahas bersama-sama. Kalau misalnya ada kesulitan lagi biasanya kita konsultasi ke dinas atau pemerintah saat dilakukan pengawasan. Kalau ada yang salah dalam laporannya nanti kita revisi lagi.”

Pernyataan tersebut diperkuat oleh informan 10 (Kepala Sekolah) pada tanggal 22 Desember 2014 yang menyatakan bahwa:

“Tim yang mengurusi dana BOS di Sekolah itu selalu berkoordinasi, terutama dalam masalah laporan. Jadi kalau ada apa-apa bisa saling berkonsultasi. Atau nanti kalau dari pihak pengawas itu bisa memberikan arahan misalnya ada kesalahan dalam penyusunan laporan bisa kami jadikan masukan juga.” Dari informasi di atas dapat disimpulkan bahwa apabila ditemukan kesulitan dalam penyusunan laporan maka tim manajemen BOS di Sekolah saling berkoordinasi satu sama lain. Kemudian apabila masih kurang maka dapat dilakukan koordinasi dengan pemerintah pada saat dilakukan pemantuan pelaksanaan program.

commit to user C. Pembahasan

Data penelitian yang telah dijelaskan sesuai dengan rumusan masalah mengenai Implementasi Kebijakan Pendidikan Gratis di SMA Negeri se Kabupaten Sukoharjo Tahun Ajaran 2013/2014, dapat dikemukakan melalui temuan studi yang berhubungan dengan kajian teori. Pembahasan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Implementasi Kebijakan Pendidikan Gratis di SMA Negeri se Kabupaten