• Tidak ada hasil yang ditemukan

Geografis

Desa Kudi merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Batuwarno, Kabupaten Wonogiri. Secara astronomis desa tersebut terletak pada garis lintang 7°32’ - 8°15’ LS dan garis bujur 110°41’ - 111°18’ BT. Terletak pada ketinggian 200 meter di atas permukaan air laut. Luas keseluruhan wilayah adalah 844 hektar yang terbagi dalam delapan dusun, yaitu: Setren, Kudi, Sukosari, Cabeyan, Nalangan, Pundung, Ngrau dan Toyo.

Batas-batas fisik secara geografis Desa Kudi adalah sebagai berikut: Sebelah Utara : Sungai Cangkring;

Sebelah Selatan : Jalan Tapen;

Sebelah Timur : Sungai Cangkring dan Hutan Tutupan; Sebelah Barat : Gunung Butak.

Sedangkan secara administratif Desa Kudi berbatasan dengan: Sebelah Utara : Kelurahan Arjosari Kecamatan Tirtomoyo;

Sebelah Selatan : Desa Batuwarno dan Desa Tegiri Kecamatan Karangtengah;

Sebelah Timur : Desa Banyakprodo Kecamatan Tirtomoyo; Sebelah Barat : Desa Sumberagung.

Jarak dari pusat pemerintahan desa ke pusat pemerintahan kecamatan adalah 4,5 Kilometer atau dengan waktu tempuh 20 menit. Jarak dengan pusat ibu kota kabupaten adalah 47 Kilometer dengan waktu tempuh dua jam. Sedangkan jarak dengan pusat ibu kota provinsi adalah 240 Kilometer dengan jarak tempuh delapan jam.

Demografis

Pada Akhir Bulan Juli 2006 jumlah penduduk Desa Kudi tercatat 819 keluarga atau 3.180 jiwa, yang terdiri dari 1.476 jiwa laki- laki dan 1.704 jiwa

perempuan. Terwadahi dalam 30 Rukun Tetangga (RT) dan delapan Rukun Warga (RW). Apabila dibandingkan dengan luas wilayah desa, maka kepadatan penduduk di Desa Kudi adalah 3,76 jiwa per hektar. Dengan demikian Desa Kudi tergolong relatif jarang penduduk. Struktur penduduk Desa Kudi Tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 3.

Tabel 3. Struktur penduduk Desa Kudi Tahun 2006

No Golongan Umur ( Tahun )

Laki – Laki Perempuan Jumlah

01. 00 - 04 135 144 279 02. 05 - 09 134 153 287 03. 10 - 14 142 150 292 04. 15 - 19 152 164 316 05. 20 - 24 131 143 274 06. 25 - 29 138 146 284 07. 30 - 34 99 105 204 08. 35 - 39 95 127 222 09. 40 - 44 83 127 210 10. 45 - 49 86 106 192 11. 50 - 54 78 81 159 12. 55 - 59 76 94 170 13. 60 - 64 68 86 154 14. 65 + 59 78 137 J u m l a h 1.476 1.704 3180

Sumber : Data Monografi Desa Kudi, 2006.

Dari data Tabel 3., maka rasio beban tanggungan penduduk produktif terhadap penduduk yang tidak produktif di Desa Kudi adalah sebesar 45,54 persen. Sedangkan umur median penduduk Desa Kudi berada pada usia 25 tahun.

Umur (tahun) 65 + 60-64 55-59 50-54 45-49 40-44 35-39 30-34 25-29 20-24 15-19 10-14 05-09 00-04 250 200 150 100 50 0 50 100 150 200 250

Gambar 3. Piramida penduduk Desa Kudi Tahun 2006

Berdasarkan piramida penduduk sebagaimana terlihat pada Gambar 3., Desa Kudi memiliki struktur penduduk intermediet. Golongan umur 15–19 tahun menempati urutan pertama dalam komposisi penduduk berdasarkan golongan umur, yaitu sebesar 316 orang. Sedangkan urutan kedua dan ketiga berturut-turut adala h untuk golongan umur 10–14 dan 5-9 tahun, yang masing- masing berjumlah 292 orang dan 287 orang.

Jumlah penduduk usia kerja (15-64 tahun) adalah 2.185 jiwa atau 68,71 persen dari jumlah penduduk Desa Kudi. Dengan demikian maka Desa Kudi memiliki potensi angkatan kerja yang cukup tinggi. Akan tetapi daya dukung wilayah yang sangat rendah menyebabkan wilayah ini tidak dapat lagi memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka. Hal inilah yang menjadikan alasan utama mengapa mereka, penduduk pada golongan umur 10-19 tahun, banyak meninggalkan Desa Kudi, dan pergi merantau ke daerah lain “boro” dengan

Perempuan

Jiwa Laki-laki

maksud mencari pekerjaan. Akan tetapi secara administrasi mereka tetap masih tercatat sebagai penduduk desa tersebut. Mayoritas dari mereka hanya memiliki bekal pendidikan formal yang relatif rendah; SD dan SMP, tanpa ditunjang kemampuan lain. Sehingga aktivitas yang dapat mereka lakukan hanya sebatas jasa tenaga kasar; menjadi buruh pabrik dan bangunan, pembantu rumah tangga atau berjualan bakso bagi yang memiliki modal.

Kondisi yang demikian sangat berpeluang terbentuknya kemiskinan secara struktural pada penduduk tersebut. Dikarenakan setiap pergantian generasi pada keluarga miskin, akan selalu diikuti dengan pembentukan struktur masyarakat miskin baru. Komposisi pend uduk Desa Kudi berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat dalam Tabel 4.

Tabel 4. Jumlah dan persentasi penduduk Desa Kudi berdasarkan tingkat pendidikan Tahun 2005

NO Tingkat Pendidikan Jumlah Persen

( % ) 1. 2. 3. 4. 5. Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA

Tamat D-3 / Sarjana Muda Tamat Sarjana 765 347 202 0 33 56,79 25,76 14,99 0,00 2,46 Jumlah 1.347 100,00

Sumber: Data Base Desa Kudi, 2005

Berdasarkan Tabel 4., masyarakat Desa Kudi masih tergolong pada tingkat pendidikan yang rendah. Jumlah penduduk yang berhasil menamatkan SLTA dan Sarjana hanya sebanyak 235 orang atau 7,38 persen dari jumlah penduduk yang ada di Desa Kudi. Sedangkan sisanya sebesar 92,62 persen hanya dapat menamatkan Sekolah Dasar dan SLTP. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada visualisasi Gambar 4.

SD 57% SMP 26% SLTA 15% D-3 0% SARJANA 2% SD SMP SLTA D-3 SARJANA

Gambar 4. Persentasi penduduk Desa Kudi berdasarkan tingkat pendidikan Tahun 2005

Faktor utama penyebab rendahnya tingkat pendidikan penduduk adalah berkaitan dengan motivasi yang kurang kuat pada masyarakat tersebut terhadap minat pendidikan formal, dan kendala biaya yang kurang dapat mencukupinya. Kondisi yang demikian ini terutama terdapat bagi sebagian besar keluarga petani miskin yang ada di Desa Kudi. Untuk dapat melihat komposisi penduduk di Desa Kudi berdasarkan mata pencaharian utama, dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 5.

Tabel 5. Jumlah dan persentasi penduduk Desa Kudi berdasarkan matapencaharian utama Tahun 2005

NO Mata Pencaharian Utama Jumlah Persen

( % ) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Petani Buruh Tani Usaha Industri Usaha Dagang Usaha Jasa Pegawai Swasta Pegawai Negeri/TNI/Polri Pensiunan Lain- lain 1.908 106 1 25 24 16 37 17 12 88,91 4,94 0,05 1,16 1,12 0,75 1,72 0,79 0,56 Jumlah 2.146 100,00

Gambar 5. Persentasi pend uduk Desa Kudi berdasarkan matapencaharian utama Tahun 2005

Tabel 5. dan Gambar 5., menunjukkan matapencaharian utama yang terbesar yaitu 93,85 persen penduduk Desa Kudi adalah bekerja di sektor pertanian. Mereka terdiri dari petani pemilik lahan sendiri, petani penggarap dan buruh tani. Sedangkan untuk jenis pekerjaan lainnya tercatat relatif kecil. Meskipun jumlah petani di desa tersebut menempati urutan terbesar dalam komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian utama, akan tetapi nasib mereka selalu dalam posisi yang kurang menguntungkan.

Makanan pokok sebagian besar dari petani miskin adalah gaplek dicampur dengan sedikit beras. Gaplek yang diolah dari ubi kayu tersebut, diperoleh dari hasil mereka berladang dan berkebun. Dalam satu hari rata-rata mereka makan dua kali, yaitu di waktu pagi dan sore hari. Malam hari mereka tidak banyak melakukan aktivitas kecuali pada musim mengaliri air “ngeleb” lahan pertaniannya (dilakukan mulai pagi sampai dengan malam hari).

Wabah penyakit yang pernah menimpa penduduk Desa Kudi, adalah; busung lapar, penyakit pes, diare dan alergi gatal- gatal. Sarana kesehatan yang ada di desa tersebut meliputi; Posyandu delapan buah, dan Poliklinik Desa satu buah. Sedangkan tenaga kesehatan yang ada adalah; Bidan satu orang, dan Dukun Bayi tiga orang. Apabila penduduk menderita sakit, alternatif pertama usaha penyembuhan yang dilakukan oleh mereka adalah mengunjungi bidan atau dokter puskesmas. Selanjutnya apabila sakit yang dideritanya cukup parah, mereka mengupayakan penyembuhannya ke dokter Rumah Sakit Umum yang berjarak

Petani/buruh tani 93,85 % Petani dan buruh tani Industri Dagang Jasa Swasta PNS Pensiunan

kurang lebih 50 Km dari tempat tinggalnya. Tidak jarang pula sebagian dari penduduk melakukakan upaya pengobatan alternatif. Mereka masih percaya bahwa penyembuhan terhadap penyakit dapat disembuhkan dengan penggunaan obat tradisional dan mantra- mantra yang dibacakan oleh seseorang yang mereka sebut sebagai “dukun”.

Sosial Budaya dan Ekonomi

Beberapa tradisi dan adat istiadat tradisional masih tetap dipelihara secara baik oleh masyarakat Desa Kudi. Penduduk di desa tersebut masih memiliki nilai- nilai ikatan yang kuat dengan lingkungan dan tanah kelahirannya. Nilai- nilai inilah yang menjadi penyebab utama, mengapa penduduk di Desa Kudi sulit meninggalkan aktivitas bercocok tanam sebagai kegiatan mereka sehari- hari. Meskipun kondisi alamnya kurang subur untuk usaha pertanian, akan tetapi kegiatan bercocok tanam tidak pernah ditinggalkannya. Dalam benak pikiran mereka, tanah tidak hanya dipandang sebagai modal dasar produksi, akan tetapi lebih jauh dipandang sebagai cara hidup, sehingga tanah juga memiliki fungsi sosial bagi penduduk setempat.

Tradisi yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Desa Kudi, antara lain dapat diuraikan sebagai berikut;

1. Bersih Dusun; keyakinan penduduk setempat akan segala kesialan dan penyakit serta musibah yang menimpa warga masyarakat tersebut, dipahami bersumber dari tanah leluhur mereka yang kotor (banyak dosa---pelanggaran terhadap norma dan tata susila) . Untuk membersihkan diri, maka penduduk diwajibkan melakukan upacara adat tersebut agar mereka terhindar dari bencana dan gangguan hidup. Mereka mengistilahkan hal itu dengan suatu ungkapan “nir ing sambekolo lan rubidho“ (terhindardari mara bahaya dan rintangan hidup). Acara ini dilakukan setiap bulan jawa “Maulud” dan diikuti oleh seluruh warga dengan menampilkan hiburan berupa kesenian wayang kulit atau tari tradisional “kèthek ogleng”. Pada bulan inilah (selaian Hari Raya Idul Fitri) biasanya penduduk yang pergi merantau pula ng kampung

untuk ikut merayakan tradisi tersebut dan memberikan bantuan materi untuk disumbangkan bagi pembangunan daerahnya ;

2. Kirim Punden dan Sedekah Bumi; Maksud dan tujuan dilaksanakannya tradisi adat Kirim Punden adalah sebagai permohonan doa restu kepada sang pencipta sebelum mereka melakukan aktivitas yang masih dipengaruhi paham animisme dan dinamisme. Kegiatan tersebut biasanya dilaksanakan sewaktu penduduk akan melaksanakan kegiatan tanam padi atau melangsungkan hajatan penting lainnya, yaitu dengan cara mengirimkan sesajian di tempat- tempat yang mereka anggap suci. Demikian pula dengan sedekah Bumi yang dimaksudkan sebagai ucapan terima kasih dan rasa syukur kepada sang pencipta yang telah memberikan rejeki berupa hasil bumi yang mereka dapatkan dari tanah atau bumi. Penduduk setempat mengistilahkan tanah

“tanah; (dialem lan dimamah)” (tanah; dipuja dan dikunyah). Tanah harus dipuja, karena tanah yang telah mendatangkan sumber makanan bagi mereka.

Meskipun para petani memiliki lahan produktif yang sempit, rata-rata hanya 0,475 hektar, namun mereka tetap secara tekun melakukan kegiatan pertanian, yaitu; sedikit mengolah lahan pertanian sawah, kebanyakan adalah ladang dan tegalan. Gambaran mengenai penggunaan lahan dan masing- masing luas penggunaannya ditunjukkan pada Tabel 6 dan Gambar 6.

Tabel 6. Luas lahan Desa Kudi menurut jenis penggunaannya Tahun 2005

NO Jenis Penggunaan Lahan Luas (ha) Prosentase(%)

Irigasi Teknis 29,00 3,44

Irigasi ½ Teknis 92,00 10,90

Irigasi Sederhana 22,00 2,61

1. Luas Lahan Sawah

Tadah Hujan 30,00 3,55 Bangunan dan Pekarangan 28,00 3,32 Tegalan / Ladang 516,00 61,13 Hutan Negara 42,00 4,98 Hutan Rakyat 72,00 8,53 2. Luas Lahan Bukan Sawah Lainnya 13,00 1,54 JUMLAH 844,00 100,00

Gambar 6. Persentasi luas lahan Desa Kudi menurut jenis penggunaannya Tahun 2005

Dari Tabel 6 dan Gambar 6., dapat dilihat bahwa penggunaan lahan untuk ladang atau tegalan memiliki jumlah yang paling luas, yaitu sebesar 516 hektar. Apabila hal ini dikaitkan dengan data luas lahan kritis dan potensi lahan kritis di Desa Kudi yang mencapai jumlah 441 hektar yang terdapat pada lahan ladang atau tegalan tersebut (Bappeda Kabupaten Wonogiri, 2005), maka dapat dikatakan sisa lahan ladang atau tegalan yang dapat diolah secara produktif hanya sekitar 74 hektar atau 7,45 persen dari seluruh luas lahan ladang atau tegalan yang ada di Desa Kudi.

Kepemilikan lahan pertanian seperti tersebut dan sulitnya memperoleh pengairan, menjadikan tidak mudah bagi petani Desa Kudi untuk menghidupi keluarganya. Meskipun pertanian sawah ditanami padi, akan tetapi sebagian besar lahan pertanian hanya dapat panen padi dan palawija masing- masing satu kali dalam satu tahun. Kondisi alam sangat berpengaruh terhadap tingkat produktivitas hasil pertanian mereka. Untuk dapat memperoleh tingkat produksi yang tinggi, petani harus berjuang dan berusaha keras melawan tantangan alam.

Ironisnya apabila musim panen telah tiba hasil kerja mereka selama itu tidak memiliki arti yang cukup. Petani tidak berdaya untuk menentukan harga jual hasil panenannya. Satu-satunya pilihan dalam kegiatan ekonomi adalah menjual kepada pedagang tetangga desa yang sudah sering membeli hasil panenan mereka. Seakan-akan mereka sudah ada kontrak perjanjian sebelumnya. Sehingga tidak

516; 61%

42; 5% 72; 9% 13; 2% 173; 20%

28; 3%

Sawah Bangunan/pekarangan Tegalan/ladang

pernah ada dibenak pikiran mereka untuk berupaya memperjuangkan harga yang lebih baik dengan cara menjual ke pedagang lain. Akibat adanya monopoli pasar itulah maka petani sering dirugikan dan usaha mereka menjadi tidak layak secara ekonomis. Sehingga tidak mengherankan apabila petani di sini tetap miskin dan tidak berdaya dalam mengatasi persoalan hidupnya.

Beberapa pertimbangan sosial, yaitu nilai terhadap baik dan buruk melatarbelakangi keputusan yang diambil oleh petani, seperti ; mereka takut dikatakan tidak setia lagi dengan pedagang tersebut. Pertimbangan lain adalah kalaupun dia harus rugi saat ini, akan tetapi menurut pemikiran petani uang itu akan diperolehnya kembali melalui kegiatan sosial kalau mereka melakukan acara hajatan dan pedagang itu menyumbangnya. Semua itu adalah pertimbangan di luar konteks ekonomi dan rasional. Hal ini menunjukkan bahwa pertimbangan untuk kepentingan sosial agar tetap terjaga terjalinnya hubungan baik di antara anggota masyarakat tersebut lebih diutamakan dari pada kepentingan lainnya masih tampak melekat dalam kehidupan masyarakat di Desa Kudi.

Melihat kasus di atas, maka kemiskinan yang dihadapi oleh petani di Desa Kudi dapat dikatakan sebagai kemiskinan kultural. Ketidakberdayaan mereka dalam melakukan aktivitas ekonomi sangat dibatasi oleh norma sosial dan budaya yang berlaku di lingkungan setempat. Keadaan ini tentunya sangat tidak mendukung proses pemberdayaan komunitas petani miskin. Perubahan terhadap nilai- nilai seperti tersebut di atas sangat diperlukan untuk dapat memaknai arti dari pemberdayaan itu sendiri.

Kelembagaan

Dinamika kelembagaan di Desa Kudi dapat bercermin pada analisis diagram venn Gambar 7., yang menunjukkan kedekatan peran masing- masing lembaga dalam melaksanakan aktivitasnya terhadap kehidupan petani miskin. Alat kaji ini mencatat terdapat berbagai lembaga yang ada di desa tersebut, dan dapat dikelompokkan dari sejarah terbentuknya ke dalam dua bagian, yaitu ; le mbaga- lembaga intervensi dan lembaga-lembaga swakarsa atau asli terbentuk dari komunitas.

Gambar 7. Diagram Venn hubungan kelembagaan dengan komunitas petani miskin di Desa Kudi Tahun 2006

Lembaga-lembaga intervensi tersebut antara lain adalah; Pemerintah Desa Kudi, RW, RT, LPM, BPD, LPKK, Posyandu, Sekolah Dasar, PKK, Kelompok Tani, KUD, P3A dan Koperasi RT. Sedangkan lembaga-lembaga swakarsa atau asli antara lain adalah; Kelompok Arisan, Kelompok simpan pinjam beras, Perusahaan swasta, dan Kelompok Yassinan.

Dari Gambar 7., dapat dilihat bahwa Koperasi RT memiliki peran yang cukup besar dan paling dekat hubungannya dengan komunitas petani miskin. Masih langkanya kelembagaan keuangan mikro di tataran komunitas, menjadikan Koperasi RT banyak diakui oleh masyarakat; sangat berperan membantu petani miskin, terutama dalam hal penyediaan dana pinjaman untuk kebutuhan yang sifatnya mendadak. Kebutuhan yang sifatnya mendadak tersebut antara lain, adalah; biaya pengobatan orang sakit, pembayaran anak sekolah, pembelian pupuk dan pestisida, pengeluaran untuk keperluan sosial, dan sebagainya.

Pemerintah Desa RW SD Koperasi RT RT Keterangan :

1. Bentuk persegi delapan: komunitas petani miskin

2. Bentuk lingkaran: lembaga swakarsa komunitas

3. Bentuk persegi empat: lembaga intervensi pemerintah

4. Letak dan ukuran gambar menunjukan besar kecilnya peran

kelembagaan terhadap petani miskin Arisan Kelompok beras Kelompok Tani LPM& BPD PKK Swasta Petani Miskin Posyandu P3A Agama KUD LPKK

Adanya pertemuan rutin yang dilakukan oleh pengurus Koperasi RT dengan anggotanya setiap satu bulan atau “selapan hari” sekali, yang dilakukan bersamaan dengan pertemuan RT telah memiliki dampak positif dapat meningkatkan intensitas interaksi mereka. Sehingga Koperasi RT dirasakan semakin besar peranannya dan sangat dekat keberadaannya oleh anggota yang sebagian besar adalah petani miskin.

Sumberdaya Lokal

Desa Kudi memiliki lahan cukup luas, yaitu 844 hektar. Dari keseluruhan luas wilayah tersebut, 816 hektar atau 97 persen diperuntukan usaha pertanian dan kehutanan. Lahan basah seluas 173 hektar dengan sistem irigasi yang sederhana dan tadah hujan umumnya digunakan untuk pertanian padi sawah dan jagung. Sedangkan untuk lahan kering 643 hektar, dimanfaatkan untuk pekarangan, usaha kebun atau ladang, padang pengembalaan dan hutan rakyat.

Kebun dan ladang merupakan usahatani yang cukup meluas. Tanaman pangan umumnya ditanam secara bercampur dengan penyusun utama; ubi kayu, kacang-kacangan, dan beberapa tanaman buah-buahan; kelapa, jambu mete dan mangga. Sedangkan lahan hutan lebih banyak ditumbuhi tanaman keras, berupa; jati, maho ni, trembesi, sono keling dan pinus. Hasil dari tanaman keras selain kayunya digunakan untuk bahan bangunan dan industri mebel, dahan dan rantingnya sangat berguna bagi penduduk untuk dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Dari hasil perkebunan, ladang dan hutan, beberapa produk unggulan yang dapat menembus pasaran sampai pada skala nasional adalah; ubi kayu atau gaplek, kacang tanah dan kacang mete.

Sapi dan kambing merupakan ternak yang paling besar jumlahnya dalam menyokong sumber pendapatan di sub sektor peternakan. Sebagian besar peternakan masih dilakukan secara sederhana dan ekstensif, tetapi usaha semi intensif sudah mulai dilaksanakan. Usaha setengah intensif melalui sistem penggemukan sudah mulai berkembang. Akan tetapi keterbatasan modal kerja, ketersediaan pakan ternak, dan air membuat usaha ini belum dapat berjalan secara lancar, sehingga masih dilakukan dalam skala kecil sebagai usaha rumahtangga.

Dalam melangsungkan hidupnya, penduduk Desa Kudi pada umumnya tidak cukup mengandalkan hasil pertanian dan peternakan saja. Beberapa rumahtangga sudah ada yang merintis mengerjakan industri rumahtangga pengupasan kacang mete, kerajinan batik tulis, anyaman bambu, industeri batu- bata dan tempe sayur. Dapat dilihat pada contoh Gambar 8.

Gambar 8. Indus tri rumahtangga pengupasan kacang mete di Desa Kudi Tahun 2006

Kerajinan rumahtangga tersebut mereka kerjakan dengan memanfaatkan bahan baku dan ketrampilan lokal. Kendala utama dari usaha di sektor ini adalah masalah jaringan pemasaran yang masih terbatas. Sehingga usaha tersebut belum dapat dikembangkan dalam sekala usaha yang memadai dan dijadikan sebagai sumber utama pendapatan rumahtangga mereka.

TINJAUAN PROGRAM PEMBERDAYAAN