BAB I PENDAHULUAN
F. Spesifikasi Produk
Spesifikasi produk dihasilkan adalah sebagai berikut:
1. Cover Depan dan Cover Belakang
Cover depan yang menggambarkan adanya isi buku yang memuat judul pengembangan perangkat pembelajaran terpadu tipe connected untuk siswa kelas IV SD mengacu Kurikulum 2013, gambar
mencerminkan tipe connceted dalam pembelajaran terpadu yang ditemukan oleh Fogarty, logo Universitas Sanata Dharma, nama penulis dan keterangan yang berisikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. Sedangkan cover belakang yang berisi sinopsis buku, logo Universitas Sanata Dharma, nama penulis. Sampul dibuat dengan menggunakan ivory 230 ukuran A4 dan menggunakan jenis huruf times new roman.
2. Kata pengantar
Kata pengantar berupa ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta pihak-pihak yang berkait dalam pembuatan produk tersebut, permohonan kritik dan saran dalam menyempurnakan produk yang di buat oleh penulis dan tanggal beserta tanda tangan penulis.
3. Daftar Isi
Daftar isi berisikan garis besar isi yang terdapat dalam perangkat pembelajaran terpadu khususnya tipe connected tersebut, serta terdapat halaman.
4. Uraian Singkat Tentang Pembelajaran Terpadu Tipe Connected.
Dalam penjelasan pembelajaran berisikan tentang pengertian-pengertian terkait pembelajaran terpadu tipe connected serta karakteristik, langkah-langkah pembelajaran terpadu tipe connected, contoh bagan peta konsep tipe connected, serta kekuatan dan kelemahan dari pembelajaran terpadu tipe connected.
5. Pemetaan Kompetensi Dasar dan Indikator berdasarkan Tipe Connected
Produk terdapat tiga jenis contoh pemetaan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran terpadu. Pemetaan kompetensi dasar dan indikator dilakukan dengan memadukan antara mata pelajaran satu dengan mata pelajaran yang lain, konsep satu dengan konsep yang lain, materi satu dengan materi lain, keterampilan satu dengan keterampilan lain namun masih dalam satu bidang studi.
6. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu Tipe Connected
Dalam RPPT terdapat beberapa kompenen di antaranya; (1) satuan pendidikan, kelas/ semester, tema, bidang studi, muatan pembelajaran yang terkait, pembelajaran terpadu tipe, pembelajaran, alokasi waktu, hari/tanggal, (2) pemetaan dan indikator berdasarkan tipe connected, (3) kompetensi inti, (4) kompetensi dasar, indikator, dan tujuan, (5) materi ajar, (6) pendekatan, model, metode, dan teknik pembelajaran (7) media, alat/bahan, dan sumber belajar, (8) kegiatan pembelajaran, (9) penilaian dalam muatan pelajaran, (10) instrumen penilaian setiap pembelajaran, (11) materi pembelajaran, (12) media pembelajaran, (13) Lembar Kerja Siswa (LKS), (14) lembar refleksi.
7. Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran terdiri dari cover/ sampul yang menggambarkan secara singkat bentuk dari isi buku yaitu pembelajaran terpadu tipe connected, terdapat kata pengantar, deskripsi dan karakteristik tipe connected, bagan pemetaan indikator tipe connected. Selanjutnya, rencana pembelajaran terpadu tipe connected yang terdapat 12 komponen yang meliputi identitas satuan pendidikan, identitas mata pelajaran/ tema atau subtema, kelas, semester, materi pokok, alokasi waktu, KI, KD, indikator, tujuan pembelajaran, LKS, sumber dan bahan media, penilaian dan lembar refleksi.
8. Mengandung Karakteristik Kurikulum SD 2013
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu (RPPT) ini merupakan perpaduan antara konsep/ muatan pelajaran dalam satu bidang studi.
RPPT ini menggunakan saintifik dengan melakukan pendekatan saintifik yang terdiri dari 5M di antaranya mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu (RPPT) menggunakan penilaian otentik.
Dalam penilaian otentik ini berupa penilaian kinerja, proyek dan tertulis. Dalam penilaian kinerja ini bertujuan untuk menilai kemampuan siswa melalui tugas-tugas yang diberikan. Pada penilaian proyek ini bertujuan untuk menilai tugas yang harus diselesaikan oleh siswa dalam proses pembelajaran. Dalam tes tertulis bentuk pilihan
ganda berfungsi agar siswa mampu memahami, mengingat, mengevaluasi pada materi yang telah dipelajari. RPPT ini berpusat pada siswa atau siswa dijadikan sebagai subjek pembelajaran bukan objeknya dan guru hanya sebagai fasilitator.
9. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Siswa Tingkat Tinggi
Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dilakukan dengan menggunakan indikator-indikator mata pelajaran yang di susun dengan menggunakan kata kerja operasional yaitu dengan melihat Taksono Bloom serta disesuaikan dengan tingkatan perkembangan siswa. Tingkatan Taksonomi Bloom memiliki 6 (enam) tingkatan (C1-6) yaitu mengetahui, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan membuat. Indikator dikembangkan kali ini dengan tingkan (C4-6).
10. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP dikembangkan dengan memperhatikan keutuhan perkembangan individu siswa yaitu dengan memperhatikan kemampuan kognitif, sikap sosial dan keterampilan.
11. Sesuai dengan Karakteristik Pembelajaran Terpadu Tipe Connected Terdapat beberapa karakteristik pembelajaran terpadu tipe connected di antaranya; 1) karakteristik pembelajaran terpadu tipe connected sebagai berikut jaringan indikator sesuai dengan pembelajaran terpadu tipe connected, 2) adanya keterpaduan antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain atau terpadunya antara materi yang
satu dengan materi yang lain dalam suatu bidang studi, 3) pembelajaran direncanakan secara sistematis/ terperinci, 4) adanya keterkaitan indikator dalam beberapa mata pelajaran, 5) batas mata pelajaran disatukan dan difungsikan, yaitu dengan menghilangkan batasan masing-masing mata pelajaran tersebut, dikenal dengan broad field (bidang studi).
12. Daftar Referensi
Daftar referensi memuat referensi-referensi buku atau sumber yang digunakan oleh penulis dalam membuat produk tersebut.
13. Perangkat pembelajaran praktis (mudah dilaksanakan) dan fungsional (banyak manfaat sebagai pedoman pembelajaran).
Perangkat pembelajaran yang dibuat oleh peneliti sangat mudah dipahami dan dapat digunakan sebagai pedoman pembelajaran dalam pembelajaran.
14. Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar
Dalam penyusunan perangkat pembelajaran ini dengan memperhatikan tentuan ejaan yang telah telah disempurnakan di mana harus memperhatikan tanda baca, huruf kapital, nama tempat, kata penghubung. Kemudian menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
15. Isi buku produk yang dikembangkan peneliti berukuran ukuran kertas A4, spasi 1,5 cm menggunakan jenis huruf Times New Roman dengan ukuran font 12.
13 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
1. Pengertian Kurikulum 2013
Kurniasih dan Sani (2014:13) menjelaskan bahwa pengertian kurikulum secara etimologis adalah tempat berlari yang berasal dari bahasa latin curir yaitu pelari dan curere yang artinya tempat berlari.
Majid (2014:2) menjelaskan kurikulum adalah suatu rencana yang memberi pedoman atau proses kegiatan dalam belajar-mengajar.
Pemerintah melakukan penyempurnaan kurikulum dengan kebijakan kurikulum baru untuk pendidikan dasar dan menengah melalui Kurikulum 2013 sebagai pengganti dan penyempurnaan Kurikulum 2006 (KTSP) (Prastowo, 2014:2). Dengan adanya Kurikulum 2013 ini bertujuan agar dapat mewujudkan masyarakat Indonesia mampu bersaing dan menyesuaikan perubahan diri dengan mengikuti perubahan zaman.
Mulyasa (2013:66) menjelaskan bahwa Kurikulum 2013 merupakan tindakan lanjut dari kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang pernah diujicobakan pada Kurikulum 2004. KBK digunakan sebagai acuan dan pedoman dalam mengembangkan berbagai ranah pendidikan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) dalam jenjang pendidikan terutama untuk SD. Peningkatan keseimbangan aspek
kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan dalam proses pembelajaran tidak berlangsung di ruang kelas saja melainkan juga di lingkungan sekolah dan masyarakat adalah Kurikulum 2013 (Nuh, 2013:190-191). Selain itu, Majid (2014:80) mengemukakan pula bahwa Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang bersifat tematik integratif pada level pendidikan dasar (SD). Kurikulum ini dimulai tahun ajaran 2013-2014, dalam menerapkan kurikulum baru khususnya sekolah dasar akan mendapatkan porsi perubahan yang cukup banyak.
Berdasarkan ketiga pendapat para ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa pengetian Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang melakukan pendekatan tematik integratif dan memiliki karakter pendidikan seperti pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
2. Karakteristik Kurikulum Sekolah Dasar 2013
Ada beberapa karakteristik kurikulum Sekolah Dasar 2013 sebagai berikut:
a. Pembelajaran Terpadu
Karakteristik Kurikulum 2013 untuk SD ini menggunakan pembelajaran terpadu. Pembelajaran terpadu siswa tidak lagi mempelajari dengan menggunakan mata pelajaran secara terpisah.
Pembelajaran terpadu yang diterapkan pada pendidikan dasar menyuguhkan proses belajar berdasarkan tema untuk kemudian
dikombinasikan dengan mata pelajaran lain. Pembelajaran terpadu memiliki satu tema aktual, dekat dengan dunia perserta didik dalam kehidupan sehari-hari (Ujang dalam Trianto, 2010:57).
Majid (2014:80) menjelaskan pula bahwa pembelajaran terpadu yang merupakan sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individu maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistis, bermakna, dan autentik. Pembelajaran terpadu di Indonesia pada saat ini menggunakan model pembelajaran dipelajari dan dikembangkan adalah model pembelajaran terpadu yang dikemukan oleh Fogarty.
Pembelajaran terpadu terdapat pada bagian kurikulum terpadu. Prastowo (2015:17-18) menjelaskan bahwa kurikulum terpadu adalah kurikulum yang mampu membangkitkan minat perserta didik, mampu mendorong kerjasama, mampu memberikan ruang yang lebar bagi pengaplikasian teori pembelajaran populer, mampu menghargai kreativitas guru sebagai agen pendidik, menciptakan akuntabilitas dan relevansi dengan dunia nyata, mampu memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik dan memungkinkan untuk mempelajari konsep secara mendalam. Berdasarkan penjelasan dari ketiga para ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa karakteristik Kurikulum 2013 terdapat pembelajaran terpadu, yaitu suatu pembelajaran yang
menekankan siswa secara individu maupun kelompk, aktif menggali dan menemukan konsep serta di mana dalam pembelajaran secara holistik, bermakna dan otentik. Pembelajaran terpadu ini guru diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang di dalam diri siswa aktif dalam mengikut proses pembelajaran.
b. Pendekatan Saintifik
Karakteristik Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik yang menjadi ciri khasnya. Permendikbud No. 65 tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah tentang proses pembelajaran yang dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan saintifik. (Abidin, 2014:125) menyatakan bahwa pendekatan saintifik adalah suatu cara atau mekanisme pembelajaran yang digunakan untuk memfasilitasi peserta didik agar mendapatkan pengetahuan atau keterampilan dengan prosedur yang didasari pada suatu metode ilmiah. Pembelajaran dengan pedekatan saintifik ini menekankan pada keterampilan proses secara sistem dalam penyajian materi. Keterampilan proses direncanakan dengan cara mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan (Sani, 2014:54).
Berdasarkan pendapat ketiga para ahli peneliti menyimpulkan bahwa Kurikulum 2013 terdapat pendekatan saintifik yang merupakan kegiatan dalam proses pembelajaran meliputi 5M
yaitu mengamati, menanya, mencoba/ mengumpulkan data, mengasosiasi/ menalar, dan mengomunikasikan.
c. Mengembangkan Pendidikan Karakter
Fadlillah (2014:175) menjelaskan bahwa Kurikulum 2013 lebih menekan pada pendidikan karakter dengan menggunakan kompetensi lulus berhubungan dengan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Selain itu, mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerjasama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik (Prastowo, 2014:67). Mulyasa (2014:102) menjelaskan bahwa Kurikulum 2013 yaitu pembentukan sikap, kompetensi dan karakter siswa dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: (1) mendorong siswa untuk menerapkan konsep, pengertian, kompetensi, dan karakter yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. (2) Mempraktekkan pembelajaran secara langsung, agar siswa dapat menbangun sikap, kompetensi dan karakter baru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengertian yang dipelajari. (3) Menggunakan metode yang paling tepat agar terjadi perubahan sikap, kompetensi dan karakter peserta didik secara nyata.
Selain itu, (Prastowo, 2014:67) menjelaskan bahwa indikator dikembangkan dari kompetensi dasar pada kompetensi inti 3 (Kompetensi inti pengetahuan) dan kelompok inti 4 (Kompetensi keterampilan yang termaksud dalam jaringan tema). Sementara itu, KD dari kelompok kompetensi inti 1 (sikap spritual) dan Kelompok inti 2 (sikap sosial) tidak menjadi keharusan dikembangkan indikator. Pada sikap (KI-1 dan KI-2) bukanlah untuk siswa karena kompetensi ini tidak diajarkan, tidak dihafalkan dan tidak diujikan, akan tetapi gunakan dalam pembelajaran ada pesan sosial dan spritual yang terkandung dalam materi. Dengan kata lain, kompetensi dasar yang berkenaan dengan sikap spiritual (mendukung KI-1) dan individual-sosial (mendukung KI-2) dikembangkan secara tidak langsung yaitu waktu perserta didik belajar tentang pengetahuan (mendukung KI-3) dan keterampilan (mendukung KI-4). Dengan demikian, dalam penyusunan dimulai dari kompetensi dasar kelompok 3 digunakan untuk kompetensi dasar kelompok 4. Hasil rumusan kelompok dasar kelompok 3 dan 4 digunakan untuk merumuskan kompetensi dasar kelompok 1 dan 2. Proses berkesinambungan ini untuk memastikan bahwa pengetahuan berlanjut dengan keterampilan dan bermuara ke sikap, sehingga terkait antara sikap, kompetensi dasar pengetahuan, dan kompetensi dasar keterampilan.
Dengan demikian Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang mengembangkan pendidikan karakternya. Berdasarkan ketiga pendapat para ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah mengembangkan sikap-sikap di dalam proses belajar mengajar serta secara tidak langsung terdapat sikap spiritual dan sikap sosial.
d. Berpusat Pada Siswa
Kurniawan Deni (2014:97) menjelaskan bahwa pembelajaran terpadu yang memposisikan siswa sebagai pusat dalam kegiatan belajar mengajar. Pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah pembelajaran terpadu (Majid dan Rochman, 2014:111). Di dalam pembelajaran ini siswa diminta untuk aktif dalam mengikuti pembelajaran yang mereka pelajari. Sama seperti pendapat diatas, Daryanto (2014:5) mengungkapkan bahwa salah satu karakteristik pembelajaran terpadu ini berpusat pada siswa. Siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan keleluasaan kepada siswa untuk melakukan aktifitas belajar. Berdasarkan ketiga pendapat para ahli peneliti menyimpulkan bahwa berpusat pada siswa adalah kegiatan belajar mengajar dipusatkan kepada siswa agar siswa lebih aktif mengikut pembelajaran yang mereka pelajari.
e. Berpikir Tingkat Tinggi
Salah satu karakteristik Kurikulum 2013 adalah berpikir tingkat tinggi. Kurikulum 2013 ini dasarnya merujuk pada pendapat Bloom dalam Taxonomy Of Educational Objectives yang diterbitkan pada 1965, yang menyatakan bahwa bentuk perilaku sebagai tujuan yang dirumuskan menjadi tiga bidang yaitu kognitif, afektif, dan psikomotori (Prastowo, 2014:133). Pada domain kognitif menurut Bloom terdiri dari enam tingkatan, yaitu mengingat (C1), memahami (C2), aplikasi (C3), analisis (C4), evaluasi (C5), dan menciptakan (C6) yang mana berpikir tingkat tinggi ini dengan menggunakan tingkatan berpikir Taksonomi Bloom yang dimulai dari tingkatan 4 sampai 6 di antaranya menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Dengan demikian, siswa diharapkan dapat berpikir tingkat tinggi dalam mengikuti suatu pembelajaran.
f. Penilaian Autentik
Prastowo (2014:67) menyatakan bahwa penilaian autentik adalah suatu jenis penilaian yang mengakomodasi pengukuran pada seluruh aspek yang semestinya diukur dalam proses pembelajaran, baik aspek kompetensi sikap, keterampilan maupun pengetahuan dan penilaian ini berbagai teknik dan bentuk penilaiannya. Penilaian autentik ini dilakukan dengan berbagai
cara seperti pengumpulan hasil kerja siswa (portfolio), hasil karya (product), penungasan (poject), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper anda pencil). Penilaian kinerja, termasuk di dalamnya penilaian portofolio dan penilaian proyek adalah penilaian autentik (Majid dan Rochman, 2014:6). Selain itu, Penilaian autentik disebut juga penilaian responsif, suatu metode untuk menilai proses pembelajaran siswa yang memiliki ciri-ciri khusus, mulai dari mereka yang mengalami kelainan tertentu, memiliki bakat dan minat khusus, hingga yang jenius. Penilaian yang secara utuh meliputi kesiapan siswa, proses dan hasil belajar disebut penilaian autentik (Fadlillah, 2014:175).
Berdasarkan paparan ketiga para ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa karakteristik Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan autentik yaitu suatu penilaian dengan melihat proses dan hasil belajar yang dilakukan oleh siswa.
Penilaian autentik yang guru lakukan dapat dengan menilai hasil belajar siswa berdasarkan tingkatan presentasi yang dicapai.
3. Perangkat Pembelajaran
Sudjana (dalam Trianto, 2010:81) mengemukakan bahwa perangkat pembelajaran digunakan untuk melaksanakan pengembangan perangkat pengajar sesuai dengan kebutuhan dengan menggunakan model-model pengembangan yang sesuai dengan
sistem pendidikannya. Perangkat yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar disebut perangkat pembelajaran (Trianto 2010:96).
Ibranihim (dalam Trianto, 2010:96) mengemukakan bahwa perangkat pembelajaran yang diperlukan untuk mengelola proses belajar mengajar di antaranya: buku siswa, silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RRP), Lembar Kerja Siswa (LKS), instrumen evaluasi atau Hasil Tes Belajar (THB), serta media pembelajaran. Perangkat pembelajaran sangat penting bagi guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang akan disampaikan oleh peserta didik.
Berdasarkan pendapat dari ketiga para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa perangkat pembelajaran adalah perangkat yang digunakan untuk proses belajar mengajar guna mencapai tujuan yang akan dicapai oleh siswa di mana perangkat itu sendiri meliputi; buku siswa, silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RRP), Lembar Kerja Siswa (LKS), instrumen evaluasi atau Hasil Tes Belajar (THB), serta media pembelajaran. Peneliti ini hanya dibatasi pada RPP dikarenakan kompetensi dasar yang digunakan dalam perangkat pembelajaran dibuat lintas tema sehingga sulit untuk dibuat silabus.
4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Trianto (2010:70) mengemukakan bahwa RPP adalah rencana pengajaran pendidikan yang lebih mengarah kepada guru. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang
menggambarkan prosedur dan pengorganisasi pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan di dalam standar isi dan telah dijabarkan dalam silabus (Abdu dan Rochman, 2014:261).
Senada dengan pendapat di atas, Daryanto (2014:122) menjelaskan bahwa rencana pelaksanan pembelajaran adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar yang diterapkan. Rencana pelaksanan pembelajaran memiliki unsur-unsur pokok dalam rencana pelaksanan pembelajaran meliputi: identitas mata pelajaran, Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), indikator, materi pelajaran, kegiatan pembelajaran, alat/ media/ sumber pembelajaran, evaluasi.
Berdasarkan ketiga pendapat para ahli, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah suatu perencanaan yang menggambarkan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh guru dalam mencapai kompetensi dasar yang akan dicapai.
Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang standar proses, kompetensi RPP terdiri sebagai berikut: 1) indentitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan, 2) indentitas mata pelajaran atau tema/ sub tema, 3) kelas/semester, 4) materi pokok, 5) alokasi waktu , 6) tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD dengan menggunakan kata operasional yang dapat diamati diukur dengan mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan, 5) kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi, 8) materi pembelajaran,
memuat fakta, konsep, prinsip dan produser yang relavan dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator tercapai kompetensi, 9) metode pembelajaran, 10) media pembelajaran, 11) sumber belajar, 12) langkah-langkah pembelajaran, dan 13) penilaian hasil pembelajaran.
Salah satu dari kompetensi RPP di atas yang paling penting adalah pembuatan indikator dan tujuan pembelajaran. Trianto (2010:169) menjelaskan bahwa merumuskan indikator berdasarkan kompetensi dasar dan sub-keterampilan yang telah dipilih dirumuskan indikator.
Setiap indikator harus meliputi audience, behaviour, condition dan degree. Tujuan pembelajaran ini dapat melihat ABCD yang berarti yaitu (a) tujuan pembelajaran yang baik dimulai dengan menyebutkan kata audience perserta didik berkaitan dengan untuk siapa tujuan pembelajaran disampaikan, (b) tujuan pembelajaran behaviour atau kemampuan yang didemonstrasikan, serta condition tentang prilaku atau kemampuan yang diamati, (c) tujuan mencantumkan degree atau keterampilan atau kemampuan peserta didik yang dicapai dan diukur.
Kadir dan Asrohah (2014:135) menjelaskan bahwa guru harus menjabarkan indiktor berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang sudah ditentukan dalam standar isi. Dalam mengembangkan indikator beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai berikut:
a. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
b. Indikator dikembangkan dengan karakteristik mata pelajaran.
c. Dirumuskan dalam kerja operasional yang dukur dan /atau dapat diamati.
Selanjutnya, Tim MEDP (dalam Kadir dan Asrohah 2014:135) menjelaskan bahwa ada kriteria indikator sebagai berikut:
a. Sesuai tingkat perkembangan berpikir peserta didik.
b. Berkaitan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
c. Memerhatikan aspek manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
d. Menunjukan pencapaian hasil belajar peserta didik secara utuh.
e. Memerhatikan sumber-sumber belajar yang relevan.
f. Dapat diukur/ dapat dikuantifikasi.
g. Memperhatikan ketercapaian standar lulusan secara nasional.
h. Berisi kata kerja operasional.
i. Tidak mengandung pengertian ganda (ambigu).
5. Pembelajaran Terpadu
a. Hakikat Pembelajaran Terpadu
Daryanto (2014:96) mengemukakan bahwa pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengkaitkan beberapa mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Pembelajaran dalam pembahasan yang materinya saling mengkaitkan berbagai bidang studi atau mata pelajaran secara terpisah dalam fokus tertentu adalah pembelajaran terpadu
(Kurniawan, 2014:59). Suatu pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik adalah pembelajaran terpadu (Tim Pengembangan PGSD, 2001:57)
Senada dengan pendapat Hadisubroto (dalam Trianto, 2007:6) bahwa pembelajaran terpadu adalah pembelajaran dengan mengkaitkan suatu pokok bahasa atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu terkait dengan konsep lain, yang dilakukan secara direncanakan atau tanpa direncanakan, baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan beragam pengalaman belajar anak, maka pembelajaran menjadi lebih bermakna. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli dapat simpulkan bahwa pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang mengkaitkan mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya yang memperoleh pembelajaran bermakna bagi siswa sehingga siswa dapat partisipasi aktif mengikut pembelajaran.
b. Landasan Pembelajaran Terpadu
Daryanto (2014:85-87) menjelaskan bahwa landasan pembelajaran terpadu sebagai berikut:
1) Progresivisme
Pembelajaran dilakukan secara berlangsung yang dialami oleh peserta didik.
2) Konstrukivisme
Pengetahuan didapatkan dari pengalaman tiap individu yang dapat menjadikan kunci belajar bermakna.
3) Developmentallny Appropriate practice (DAP)
Pembelajaran terpadu disesuaikan mengikuti perkembangan individu perkembangan kognitif, emosi, minat dan bakat siswa.
4) Landasan Normatif
Pembelajaran terpadu berdasarkan dengan gambar ideal guna untuk mencapai tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
5) Landasan Praktis
Pembelajaran terpadu dilaksanakan dengan melihat keadaan yang dapat berpengaruh dalam pelaksanaan yang akan dicapai.
Selain dari teori landasan pembelajaran terpadu terdapat beberapa teori belajar sebagai berikut:
a. Teori Perkembangan Jean Piaget
Jean Piaget (dalam Trianto, 2010:106-110) mengelompokkan tahap-tahap perkembangan kognitif seseorang menjadi empat tahap pada tabel sebagai berikut:
Tabel 2.1 Tahap - Tahap Perkembangan Kognitif
Tahap Umur Ciri Pokok Perkembangan
Sensorimotor 0-2 tahun
Terbentuknya konsep
“kepermanenan obyek” dan kemajuan gradual dari perilaku refleksi yang mengarah ke tujuan.
Konkret 8-11 tahun Kemampuan untuk berpikir secara logis masalah-masalah dapat dipecahkan
dengan melalui
eksperimentasi sistematis.
b. Teori Vygotsky
Teori ini menekankan pada konteks sosial pembelajaran.
Menurut Vygotsky pembelajaran terjadi apabila anak dapat bekerja atau belajar menangani tugas yang belum pernah dikerjakan oleh anak sebelumnya namun masih dapat dijangkau oleh pemikiran anak tersebut.
c. Teori Konstruktivisme
Teori ini, siswa adalah subjek utama dalam penemuan pengetahuan. Teori ini menekanan siswa untuk menyusun dan membangun pengetahuan dengan berbagai pengalaman yang memungkinkan terbentuk pengetahuan (Hambali dan Jaenudin, 2013:43). Peserta didik harus menjalanin sendiri dari
pengalaman yang pada akhirnya memberikan pemikiran tentang pengetahuan-pengetahuan tertentu. Dengan demikian siswa dapat pembelajaran mandiri dan menemukan sendiri pengetahuan yang siswa butuhkan. Peneliti menyimpulkan bahwa teori konstruktivisme adalah teori pembentukan pengetahuan dalam diri sendiri ketika ada keinginan untuk belajar.
c. Karakteristik Pembelajaran Terpadu
c. Karakteristik Pembelajaran Terpadu