BAB IV HASIL PENELITIAN
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.8 Standar Fasilitas Klinik
Klinik memiliki standar fasilitas sebagai persyaratan bangunan dan ruangan dalam sebuah Klinik untuk memaksimlalkan proses dari pemeriksaan kesehatan yang tentunya diharapkan mampu memberikan kepuasan dan kenyamanan terhadap kebutuhan dan kenyamanan pasien yang memiliki keluhan kesehatan.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2014 persyaratan yang harus dipenuhi oleh klinik meliputi:
(1) Bangunan yang permanen dan tidak bergabung dengan tempat tinggal atau unit kerja lainnya.
(2) Bangunan klinik harus memperhatikan fungsi, keamanan, kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian pelayanan serta perlindungan keselamatan dan kesehatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak dan orang usia lanjut. Dalam penyelenggaraan sebuah bangunan klinik minimal harus menyediakan ruang :
a. Ruang pendaftaran/ ruang tunggu b. Ruang konsultasi
c. Ruang administrasi
d. Ruang obat dan bahan habis pakai untuk klinik yang melaksanakan pelayanan farmasi
e. Ruang tindakan f. Ruang/pojok ASI g. Kamar mandi/wc dan
Selain syarat kebutuhan ruang yang harus dimiliki, sebuah Klinik juga harus memiliki prasarana yang baik dalam standar keselamatan, keamanan dan kesehatan sebuah bangunan kesehatan. Prasarana yang perlu dimiliki oleh Klinik dan harus dalam keadaan terpelihara dan berfungsi dengan baik, yaitu:
a. Instalasi sanitasi b. Instalasi listrik
c. Pencegahan dan penanggulangan kebakaran
d. Ambulans, khusus untuk Klinik yang menyelenggarakan rawat inap
e. Sistem gas medis f. Sistem tata udara g. Sistem pencahayaan
h. Sarana lainnya sesuai kebutuhan
Selain penyelenggaraan sarana standar yang harus dimiliki, klinik juga harus dilengkapi dengan peralatan medis dan nonmedis yang memadai sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan. Peralatan medis dan nonmedis yang ada harus memenuhi standar mutu, keamanan, dan keselamatan yang diantaranya adalah:
(I) Ruang Pendaftaran
Ruang pendaftaran minimal memiliki luasan 6 m2
agar pasien harus dapat menemukan dan petugas kesehatan (perawat) dapat mengontrol ruang tunggu, jalan masuk dan jalan keluar, hubungan yang pendek menuju ruang administrasi, arsip dan bidang medis sangat penting, karena disini alat kesehatan yang dibutuhan untuk digunakan pasien dan alat tranportasi medis dapat dipadukan.
(II) Ruang Konsultasi
Ruang Konsultasi minimal memiliki luasan 6m2 , ruang ini secara akustika dan visual tertutup/terlindungi dari ruang-ruang lainnya, sehingga privasi dan kerahasian pasien terkait pemeriksaan dan konsultasi kesehatan pasien dapat terjamin. (III) Ruang Administrasi
Ruang administrasi pada bangunan kesehatan pendaftaran berupa data pasien dengan system pembiayaan penanganan kesehatan harus memenuhi kriteria, antara lain:
- Mudah dicapai dari ruang publik
- Terpisah dari kegiatan medis dan bersih
- Sebisa mungkin menggunakan penghawaan dan pencahayaan.
(IV) Ruang Tindakan
a. Ruang Pemeriksaan
Ruang Pemeriksaan pasien, apakah pasien yang diperiksa dalam kondisi duduk, berdiri, ataukah berbaring. Peralatan yang umumnya ada di ruangan ini adalah kursi pasien, bangku putar dan kursi instrument. Diperhatikan Ruang pemeriksaan terkadang membutuhkan kamar ganti pakaian luas minimal 1,5m.
b. Ruang Persalinan
Ruang yang tindakannya ditangani oleh tenaga kesehatan baik Dokter, Perawat maupun Bidan harus memenuhi standar bangunan kesehatan yaitu :
- Bebas kuman
- Mudah dicapai dari pintu masuk utama (Enterence) - Mudah dicapai dari UGD dan ruang perawatan
- Mudah dicapai dengan ruang operasi (jika Klinik menyediakan pelayanan operasi).
(V) Ruang Farmasi
Ruang farmasi atau juga ruang obat adalah ruang yang digunakan apotek untuk melayani kebutuhan umum yang berhubungan dengan unit rawat jalan dan unit perawatan
intensif, unit bedah dan unit bersalin. Ruang farmasi harus memiliki finishing dinding dan lantai terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan.
(VI) Ruang UGD
Ruang Unit Gawat Darurat ini menjadi sangat penting yang harus dimiliki Klinik. Ruang UGD harus memiliki pintu masuk utama sendiri (enterence) yang mudah mengakses pasien dari luar menuju ruangan, ruang UGD pula harus memiliki ketersediaan peralatan yang lengkap untuk memberikan pertolongan kepada pasien sakit ataupun terluka dan ruang UGD harus memiliki kendaraan atau ambulance yang bisa membawa pasien yang sakit atau terluka untuk segera dilakukan pemeriksaan dan tindakan di ruang UGD.
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu akan menjadi sebuah bahan pertimbangan dalam penelitian ini dimana dicantumkan beberapa hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya yang memiliki fokus dan atau lokus yang sama dan dilihat persamaan dan perbedaannya secara keseluruhan dengan penelitian ini. Penelitian yang dilakukan saat ini berjudul “Manajemen Pelayanan Kesehatan Di Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa”.
Pertama, penelitian terdahulu yang menjadi referensi dalam penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Henny Hendarti tahun 2010 dari Universitas Bina Nusantara yang berjudul “Pemanfaatan Sistem Informasi Untuk Pengelolaan Medik Dan Jasa Kesehatan Di Klinik”. Penelitian ini dilakukan untuk merancang suatu sistem informasi pelayanan kesehatan pada klinik umum yang dapat membantu pegawai klinik dalam proses pengembangan pelayanan kesehatan klinik dengan sistem informasi yang diharapkan dapat menunjang aktivitas operasional yang lebih efektif dan efisien. Dengan menerapkan aplikasi sistem informasi jasa klinik dapat membantu semua proses bisnis dan layanan kesehatan sehingga mengurangi terjadinya kesalahan dan kecacatan dalam pengelolaan kesehatan klinik. Selain itu, dengan dibuatnya laporan-laporan yang dibutuhkan baik laporan financial maupun manajerial maka dapat membantu pihak manajemen klinik dalam pengambilan keputusan dan perencanaan mengenai manajemen pelayanan kesehatan di klinik melalui sistem informasi pelayanan kesehatan yang sedang berjalan dan identifikasi masalah kebutuhan informasi pada klinik.
Persamaan penelitian Henny Hendarti dengan penelitian yang sedang dilakukan oleh peneliti yaitu sama-sama menggunakan metode pendekatan kualitatif dimana data yang diambil yaitu data deskriptif dan metode pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Selain itu, persamaan lainnya juga terdapat pada lokus penelitian yang mana penelitian dilakukan di dalam sebuah sarana kesehatan yaitu Klinik. Perbedaan dalam penelitian ini terdapat pada fokus penelitian dimana fokus penelitian yang dilakukan oleh Henny Hedarti yaitu pada perencanaan penerapan sistem informasi untuk Klinik sedangkan fokus penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah manajemen pelayanan kesehatan Klinik.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Kartika Aji tahun 2011 dari
Universitas Diponegoro Semarang dengan judul “Pengaruh Kualitas Pelayanan, Harga Dan Fasilitas Terhadap Kepuasan Pasien (studi Pada Pasien Klinik As-Syifa Di Kab. Bekasi). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh jumlah kunjungan pasien klinik As Syifa yang masih berfluktuatif serta belum memenuhi target yang ditetapkan oleh pihak manajemen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas pelayanan, harga dan fasilitas terhadap kepuasan pasien Klinik As Syifa. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode deskrpitif kuantitatif dengan purposive sampling untuk mengetahui tanggapan responden terhadap variable kualitas pelyanan, harga, fasilitas dan kepuasan pasien. Hasil analisis diperoleh bahwa variabel kualitas layanan, harga, dan fasilitas mempunyai pengaruh yang positif signifikan terhadap kepuasan pasien. Nilai Adjusted R square sebesar 0,508 yang menunjukkan bahwa 50,8 persen variasi kepuasan pasien dapat dijelaskan oleh ketiga variabel independen dalam
penelitian ini. Sedangkan sisanya sebesar 49,2 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Persamaan dalam penelitian yang dilakukan oleh Wahyu dengan penelitian yang sedang dilakukan oleh peneliti adalah sama-sama meneliti tentang layanan sebuah klinik kesehatan. Perbedaan dalam penelitian ini yaitu terdapat pada metode penelitian yang digunakan dimana Wahyu menggunakan metode deskriptif kuantitatif sedangkan peneliti menggunakan metodologi deskriptif kualitatif dalam meneliti layanan kesehatan klinik.
Ketiga, penelitain yang dilakukan oleh Anindita Wahyu Kusuma tahun 2014
dari Universitas Muhammadiyah Surakarta yang berjudul “Pengembangan Sistem Informasi Pasien Di Klinik Bhayangkara Polresta Surakarta”. Penyelenggaraan sistem informasi di Klinik Bhayangkara Polresta Surakarta menggunakan sistem pencatatan manual, dimana petugas masih kesulitan dalam melakukan pencarian nomor rekam medis karena banyak pasien yang tidak membawa kartu berobat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem informasi pasien di Klinik Bhayangkara Polresta Surakarta. Jenis penelitian ini adalah penelitian developmental dengan metode prototyping. Hasil penelitian ini peneliti mengharapkan dengan adanya pengembangan sistem informasi pasien, nantinya akan dapat membantu meningkatkan pelayanan di Klinik Bhayangkara Polresta Surakarta. Perbedaan dengan pengembangan sebelumnya dalam prototyping ini
menghasilkan hasil keluaranberupa laporan rekapitulasi pelayanan kesehatan dan laporan kunjungan pasien. Pengembangan sistem yang ada masih banyak kekurangan, seperti belum terintegrasinya antara bagian registrasi dengan subsistem lainnya.
Perbedaan penelitian yang di lakukan oleh Anindita dengan penelitian ini terdapat pada metode penelitian yang digunakan dimana penelitian Anindita menggunakan developmental research dengan metode prototyping sedangkan peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dekriptif. Sedangkan persamaan dalam penelitian Anindita dengan peelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah sama-sama meneliti sebuah layanan kesehatan klinik dengan harapan yang sama bahwa layanan kesehatan yang diberikan mampu memberikan perubahan yang lebih baik dari sebelumnya.
Keempat, peneliti menggunakan jurnal manajemen pelayanan kesehatan
yang dibuat oleh seorang mahasiswa bernama Bhisma Murti dari Universitas Sebelas Maret Surakarta Jawa Tengah pada tahun 2006 dengan judul jurnal
“Contracting Out Pelayanan Kesehatann: Sebuah Alterfnatif Solusi Keterbatasan
Kapasitas Sekor Publik”. Contracting out merupakan praktik yang dilakukan pemerintah atau perusahaan swasta untuk mempekerjakan dan membiayai agen dari luar untuk menyediakan pelayanan tertentu daripada mengelolanya sendiri. Dengan keterbatasan kapasitas absorbsi di sektor pemerintah, contracting out
merupakan sebuah alternatif strategi yang pantas dipertimbangkan untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Pada penelitian ini metodologi yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Kesimpulan dari jurnal penelitian ini adalah dengan adanya contracting out diharapkan pemerintah mampu meningkatkan tanggung jawab manajerial desentralisasi, suatu pergeseran yang akan menghasilkan efisiensi dibandingkan dengan struktur birokratik lama yang sangat sentralistis, yang tidak peka terhadap implikasi biaya dari setiap keputusan alokasi pelayanan kesehatan. Sebagaimana model penyediaan pelayanan kesehatan apapun, pendekatan kontrak bukan merupakan panasea (obat mujarab bagi segala penyakit) untuk semua masalah kesehatan. Tetapi sehubungan dengan keterbatasan kapasitas absorbsi di sektor pemerintah, contracting out diharapkan menjadi sebuah alternatif strategi yang pantas dipertimbangkan untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Monitoring dan evaluasi merupakan instrumen penting untuk menunjukkan keunggulan relatif contracting out.
Persamaan penelitian Bhisma dengan penelitian ini terdapat pada fokus penelitian yang sama yaitu terkait dengan pelayanan kesehatan dan persamaan lainnya terdapat pada metodologi penelitian yang sama-sama menggunakan deskritptif kualitatif untuk mengolah data penelitian yang berupa dokumentasi, kata-kata tertulis atau lisan yang didapatkan dari hasil observasi dan wawancara
dengan informan maupun dengan yang menerima pelayanan kesehatan. Sedangan perbedaan yang terdapat dalam penelitian ini adalah lokus penelitian, latar belakang permasalahan dan teori yang digunakan.