• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

TENAGA GIZI a. Nutrision

4.4 Temuan Lapangan

Data lapangan dalam penelitian ini merupakan data dan fakta yang peneliti dapatkan langsung dari lapangan serta disesuaikan dengan teori yang peneliti

gunakan yaitu manajemen pelayanan menurut Ratminto dan Atik (2005:54).

Untuk memperdalam kajian untuk mengetahui gambaran dari manajemen pelayanan kesehatan di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, terdapat tiga point penting dari model manajemen pelayanan Ratminto dan Atik (2005:54) ini diantaranya adalah :

1. Sumber Daya Manusia Pelayanan

Manajemen pelayanan yang baik akan dihasilkan dari para petugas pelaksana yang memiliki kompetensi dan kredibilitas yang tinggi dalam menjalankan tugas, dibutuhkan pemberdayaan dalam manajemen sumber daya manusia karena manusia selalu berperan aktif dalam setiap kegiatan organisasi mengingat bahwa manusia menjadi perencana, pelaku dan penentu terwujudnya organisasi terutama dalam pemberi layanan. Sumber daya manusia pelayanan memiliki beberapa dimensi yang akan peneliti jelaskan berikut dengan keterkaitan dengan penelitian ini, diantaranya adalah:

Pertama. kualifikasi pendidikan yang dimiliki oleh pegawai dalam

melakukan tugas dan pekerjaan yang di tanggungjawabkannya harus sesuai agar pelayanan kesehatan dilakukan dengan baik dan benar, benar sesuai dengan ilmu

kesehatan dan ketentuan hukum seperti dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia Nomor 13 Tahun 2017 tentang Penyelenggara Sistem Informasi Pelayanan Publik Nasional bahwasannya salah satu standar pelayanan publik yang harus dipenuhi oleh penyedia layanan publik adalah kompetensi petugas pemberi pelayanan harus ditetapkan dengan tepat berdasarkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap dan perilaku yang dibutuhkan. Maka sudah sangat jelas bahwa kualifikasi pendidikan merupakan poin penting yang harus sangat diperhatikan dalam mengelola dan menempatkan sumber daya manusia dalam pemberian pelayanan.

Dalam pemberian pelayanan kesehatan yang berkualitas dan bermutu tinggi, Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa tentunya membutuhkan pegawai yang mengerti dan memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang digelutinya, agar kemudian diharapkan dengan kesesuaian pendidikan serta kemampuan pegawai dalam pemahaman untuk memberikan pelayanan kesehatan, maka pelayanan menjadi lebih baik dan berkualitas. Kualifikasi pendidikan yang dimiliki oleh Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa adalah sebagai berikut:

Tabel 4.4

Data Kepegawaian Klinik UNTIRTA Menurut Pendidikan

Pendidikan Jumlah SLTA 2 D-3 4 S-1 8 S-2 1 Total 15

Sumber: Klinik UNTIRTA Kampus A, 2018

Berdasarkan tabel tersebut latar pendidikan pegawai Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dapat dikatakan memiliki kualifikasi pendidikan yang sesuai dengan pekerjaan yang ditanggungjawabkan. Jumlah pegawai Klinik UNTIRTA secara keseluruhan berjumlah 15 orang pegawai kesehatan dengan rincian status SLTA sebanyak 2 orang yaitu 1 orang staf dan 1 orang karyawan kebersihan (cleaning service), D-3 sebanyak 4 orang yang terdiri dari 4 orang perawat, S-1 berjumlah 8 orang terdiri dari 4 dokter umum 1 dokter gigi, 1 bidan dan 2 perawat serta S-2 yang berjumlah 1 orang terdiri dari 1 orang dokter umum.

Latar belakang pendidikan pegawai Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan pekerjaan yang digeluti diketahui sudah memiliki kesesuaian dengan tugas pokok yang ditugaskan. Namun, pada faktanya Klinik UNTIRTA masih memiliki beberapa pegawai yang melakukan pekerjaan secara bertumpang tindih dan tidak sesuai dengan bidang serta latar belakang pendidikannya. Seperti, 2 orang perawat di Klinik UNTIRTA Kampus A bertugas menjadi analis farmasi

dan apoteker, 2 orang perawat di Klinik UNTIRTA Kampus B bertugas menjadi administrator keuangan dan apoteker, dan 2 orang perawat Klinik UNTIRTA Kampus C menjadi seorang apoteker dan administrator keuangan. Sedangkan definisi perawat dalam Undang-Undang No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan bahwasannya perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimiliki diperoleh melalui pendidikan keperawatan. Berbeda dengan definisi serta tugas pokok dan fungsi seorang apoteker menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 9 Tahun 207 tentang Apotek bahwasannya apoteker wajib melayani Resep sesuai dengan tanggung jawab dan keahlian profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat. Sehingga apabila para pegawai Klinik UNTIRTA mengerjakan pekerjaan yang bukan pada bidang keahlian serta latar belakang pendidikannya, tentunya pekerjaan yang dilakukan dapat membuat pelaksanaan pelayanan kesehatan Klinik UNTIRTA tidak optimal dan dikhawatirkan terjadi kesalahan dalam penanganan kepada pasien karena beberapa penanganan pelayanan kesehatan yang justru sangat penting tidak dilakukan oleh seseorang yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Hal ini peneliti kaitkan antara temuan lapangan dengan pernyataan yang diungkapkan oleh informan (I2), sebagai berikut:

“Sumber daya manusia yang kami miliki sangat minim sehingga kesesuaian tupoksi dengan bidang keahlian atau lulusan pendidikan tidak semuanya sesuai. Seperti, lima diantara enam dokter yang tersedia merupakan dosen UNTIRTA dengan tugas tambahan menjadi dokter karena pada awalnya dijanjikan Fakultas Kedokteran di UNTIRTA. Kemudian, perawat-perawat disini semuanya adalah lulusan akademik keperawatan, namun ada perawat kami yang selain bekerja menjadi seorang suster juga menjadi

petugas administrasi atau bendahara yang memang bukan bidang keahliannya sehingga bagian administrasi kami tidak mampu melakukan pelaporan dengan maksimal sebagaimana seharusnya pekerjaan seorang administrator. Di sisi lain pula untuk apoteker dan farmasi yang kami butuhkan belum tersedia sehingga perawat kami yang sedikit banyak mengerti mengenai farmasi kami tugaskan pula di bagian farmasi. Tentunya semua itu membuat hasil yang diberikan tidak maksimal karena bukan ahlinya yang mengerjakan”. (Hasil wawancara peneliti dengan Kepala Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, pada tanggal 21 Maret 2018, pukul 15:00 WIB, yang berlokasi di Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Kampus A).

Pernyataan yang hampir sama juga dituturkan oleh dokter Klinik UNTIRTA Kampus C (I4) yang menjelaskan mengenai sumber daya manusia di Klinik UNTIRTA Kampus C, yaitu:

“Semua pegawai disini memang lulusan keperawatan dan kebidanan. Namun, semua pegawai yang dijadwalkan disini harus bisa menjadi seorang perawat yang mendiagnosa penyakit awal pasien ketika dalam keadaan darurat dan tidak ada dokter. Selain itu, seorang perawat disini juga harus bisa menjadi seorang apoteker yang menyediakan dan memberikan obat-obatan untuk pasien serta terakhir tugas perawat disini adalah menjadi seorang administrator yang mencatat biodata dan rekam medis pasien. Mengapa demikian?, karena disini pegawainya sangat teramat terbatas dan dapat dikatakan SDM yang dimiliki kurang, maka pegawai dituntut melakukan banyak tugas meskipun bukan keahliannya, analis juga kami tidak memilikinya dan mangkanya kalau sedang terdapat penerimaan mahasiswa baru kami selalu bekerjasama dengan lab-lab diluar. Kemudian, terdapat seorang staf di Klinik UNTIRTA Kampus C yang bertugas dibagian obat-obatan meskipun dia bukan lulusan keperawatan”. (Hasil wawancara peneliti dengan Dokter Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Kampus C, pada tanggal 17 April 2018, pukul 13:45 WIB).

Sedangkan pernyataan dari pegawai Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (I2-1) mengenai kualifikasi pendidikan atau latar belakang pendidikan pegawai Klinik UNTIRTA Kampus A adalah sebagai berikut:

“Sesuai, kami rata-rata lulusan akademik keperawatan. Sudah sesuai dengan bidang pekerjaan kami”. (Hasil wawancara peneliti dengan salah satu seorang perawat Klinik UNTIRTA Kampus A, 28 Mei 2018 pukul

13:30 WIB).

Berbeda halnya dengan pernyataan yang peneliti dapatkan dari salah seorang staf Klinik UNTIRTA Kampus A (I2-2) yang juga merupakan seorang staf yang bertugas di Klinik UNTIRTA Kampus C ketika dipertanyakan mengenai latar belakang pendidikan pegawai Klinik UNTIRTA Kampus A dan Klinik UNTIRTA Kampus C, berikut pernyataannya:

“Tidak, dokter di Klinik UNTIRTA merupakan dosen UNTIRTA dan bukan dokter khusus praktek di Klinik dan juga pegawai Klinik UNTIRTA Kampus A dengan Klinik UNTIRTA Kampus C sama saja pegawainya, meskipun saya ada jadwal di Klinik UNTIRTA Kampus C tetap saja saya bertugas di Klinik UNTIRTA Kampus A dan administrasi di Klinik UNTIRTA Kampus C dilakukan oleh perawat yang berjadwal disana, karena SDM yang kami miliki terbatas”. (Hasil wawancara peneliti dengan seorang staf Klinik UNTIRTA Kampus A dan Kampus C, 28 Mei 2018 pukul 13:30 WIB). Pernyataan yang diungkapkan oleh seorang staf Klinik UNTIRTA Kampus A mengenai tugas administrator yang dilakukan oleh seorang perawat Klinik UNTIRTA Kampus C itu-pun telah dibenarkan oleh pegawai yang bersangkutan yaitu salah seroang pegawai Klinik UNTIRTA Kampus C yang juga merupakan staf administrasi Klinik UNTIRTA Kampus C (I4-1), bahwa:

“Saya rasa iya, semua pegawai disini memiliki latar belakang pendidikan dengan lulusan dari keperawatan, kebidanan dan ada juga dokter spesialis. Kalau saya memang selain perawat disini juga sebagai petugas yang mengurus administrasi, sebetulnya sedikit terbebani tetapi ya tidak apa-apalah selama saya mampu mengerjakannya kenapa tidak”. (Hasil wawancara peneliti dengan salah seorang perawat Klinik UNTIRTA Kampus C, 31 Mei 2018 pukul 09:00 WIB).

Kualifikasi pendidikan sumber daya manusia dengan pekerjaan yang digeluti oleh para pegawai Klinik UNTIRTA Kampus B juga tidak jauh berbeda kondisinya dengan para pegawai Klinik UNTIRTA Kampus A dengan Kampus C.

Hal ini dijelaskan oleh salah seorang perawat Klinik UNTIRTA Kampus B (I3-1), bahwasannya:

“Tidak, pegawai yang bernama Olla statusnya adalah seorang bidan namun disini menjadi seorang apoteker dan mengurus keuangan di loket administrasi”. (Hasil wawancara peneliti dengan salah satu perawat Klinik UNTIRTA Kampus B, 23 April 2018 pukul 10:00 WIB).

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh pegawai yang bersangkutan, yaitu

seorang bidan Klinik UNTIRTA Kampus B (I3-2) yang menyampaikan

pendapatnya sebagai berikut:

“Tidak, saya bidan tapi saya disini menjadi perawat, apoteker dan staf administrasi”. (Hasil wawancara peneliti dengan seorang bidan Klinik UNTIRTA Kampus B, 23 April 2018 pukul 14:00 WIB).

Dari beberapa pernyataan Key Informan diatas mengenai kualifikasi pendidikan sumber daya manusia yang dimiliki Klinik UNTIRTA Kampus A, Klinik UNTIRTA Kampus B, dan Klinik UNTIRTA Kampus C. Dapat diketahui bahwa permasalahan sumber daya manusia yang minim dan pekerjaan yang tumpang tindih serta tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan pegawai Klinik UNTIRTA dirasa telah disadari oleh para pegawai Klinik UNTIRTA itu sendiri. Mulai dari kepala klinik, dokter dan juga perawat Klinik UNTIRTA Kampus A, Klinik UNTIRTA Kampus B dan Klinik UNTIRTA Kampus C. Akibat dari SDM yang dimiliki sangat minim, sehingga tumpang tindih pekerjaan yang membebani para pegawai Klinik UNTIRTA terjadi, dan kemudian berdampak kepada hasil pekerjaan yang kurang optimal dan akan juga berdampak memperlambat tujuan organisasi.

Disisi lain, peneliti juga menganalisis persoalan sumber daya manusia melalui beberapa argumentasi dari Secondary Informan yang terdiri dari Dosen, Karyawan, dan Mahasiswa UNTIRTA yang pernah menjadi pasien di Klinik UNTIRTA Kampus A, Klinik UNTIRTA Kampus B, dan Klinik UNTIRTA Kampus C. Pernyataan pertama dari salah seorang mahasiswi yang berada di Kampus UNTIRTA A (I5-2), mahasiswi ini pernah menjadi pasien Klinik UNTIRTA sebanyak 2 kali dan mengunjungi Klinik 1 kali ketika ia hendak menemani temannya untuk berobat di Klinik UNTIRTA Kampus A. Peneliti menanyakan persoalan mengenai kualifikasi pendidikan sumber daya manusia yang terdapat di Klinik UNTIRTA Kampus A, dan kemudian argumentasi mahasiswi tersebut adalah sebagai berikut:

Seharusnya sesuai, saya lihat pegawainya tidak kaku dalam melakukan pemeriksaan kepada pasien dan sewaktu membaca tensi darah, mendiagnosa penyakit juga baik dan dirasa cukup dengan yang saya rasakan. Namun, saya hanya melihat satu pegawai saja selain dokter yang berjaga dan memang pegawai tersebut memiliki tugas yang cukup banyak yaitu melayani pasien dengan melakukan pemeriksaan cek darah, kemudian mempersiapkan obat dan mengurus administrasi keuangan pula”. (Hasil wawancara peneliti dengan salah satu Mahasiswi UNTIRTA Kampus A, 2 April 2018 pukul 16:00 WIB).

Pernyataan yang hampir sama pula diucapkan oleh salah seorang karyawan UNTIRTA Kampus A (I5) yang pernah mengunjungi Klinik UNTIRTA Kampus A untuk melakukan pengobatan, pernyataannya yaitu:

“Sempat dilakukan pengecekkan tensi darah waktu itu dan kelihatannya perawatnya mengerti cara menggunakan alat tensi darah tersebut dan cara membaca hasil tensi darah tersebut, darah saya normal dan pegawai tersebut bisa membedaikan mana yang normal mana yang tidak normal karena kalau saya tidak mengetahui ilmu cara membaca hasil dari tensi darah yang normal dan tidak normal. Karena saya baru satu kali itu saja diperiksa dan saya anggap pegawainya mengerti dengan ilmu-ilmu

kesehatan dan pada prakteknya”. (Hasil wawancara peneliti dengan salah satu Karyawan UNTIRTA Kampus A, 28 Mei 2018 pukul 12:00 WIB). Pernyataan yang juga hampir sama datang dari salah seorang staf Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNTIRTA Kampus C (I5-6) yang pernah berobat sebanyak 2 kali. Berobat ke Klinik UNTIRTA Kampus A 1 kali dan ke Klinik UNTIRTA Kampus C 1 kali, berikut pendapatnya mengenai Klinik UNTIRTA Kampus A:

Sesuai, kelihatannya cukup ahli dalam melakukan pemeriksaan kepada pasien karena diagnosa dokter juga selalu pas dengan yang saya keluhkan, baik di Klinik Pakupatan (Klinik UNTIRTA Kampus A) dan Klinik disini (Klinik UNTIRTA Kampus C). Kalau Klinik Kampus A pegawainya cukup banyak tidak seperti disini (Klinik UNTIRTA Kampus C) yang hanya 1 orang saja dan biasanya kalau sedang ada pasien dokternya baru di hubungi sementara menunggu dokter pasien diarahkan untuk mengisi biodata dan untuk obat ditebus di Klinik UNTIRTA Kampus A”. (Hasil wawancara peneliti dengan salah satu staf FKIP UNTIRTA Kampus C, 31 Mei 2018 pukul 11:00 WIB).

Sedangkan, untuk kualifikasi pendidikan sumber daya manusia yang terdapat di Klinik UNTIRTA Kampus B atau Technic Medical Center (TMC), salah seorang karyawan UNTIRTA Kampus B (I5-3) menuturkan pendapatnya mengenai latar belakang pendidikan pegawai Klinik UNTIRTA Kampus B adalah sebagai berikut:

“Seharusnya sesuai, saya lihat pegawainya tidak kaku dalam melakukan pemeriksaan kepada pasien dan sewaktu membaca tensi darah, mendiagnosa penyakit juga baik dan dirasa cukup dengan yang saya rasakan. Namun, saya hanya melihat satu pegawai saja selain dokter yang berjaga dan memang pegawai tersebut memiliki tugas yang cukup banyak yaitu melayani pasien dengan melakukan pemeriksaan cek darah, kemudian mempersiapkan obat dan mengurus administrasi keuangan pula”. (Hasil wawancara peneliti dengan salah satu karyawan UNTIRTA Kampus B, 14 Mei 2018 pukul 11:56 WIB).

Begitu pula dengan pernyataan dari salah seorang mahasiswa UNTIRTA Kampus B (I5-5) yang diwawancarai peneliti mengenai kesesuaian antara pendidikan dengan praktek yang dilakukan oleh pegawai Klinik UNTIRTA Kampus B. Mahasiswa ini mengaku telah melakukan pengobatan di Klinik UNTIRTA Kampus B selama 2 kali, berikut pernyataannya:

“Sepertinya sesuai, karena tidak terlihat kaku dalam melakukan penanganan kepada pasien”. (Hasil wawancara peneliti dengan salah satu mahasiswa Fakultas Teknik UNTIRTA Kampus B, 25 Mei 2018 pukul 13:00 WIB).

Namun, dilihat dari kedua pernyataan diatas telah ditemukannya perbedaan pendapat ketika peneliti mendengar jawaban dari salah seorang dosen Fakultas Teknik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Kampus B (I5-4) yang pernah melakukan pengobatan selama 1 kali di Klinik UNTIRTA Kampus B atau

Technic Medical Center (TMC), berikut pernyataannya:

Harusnya sesuai dong, kalau tidak bagaimana mereka akan mengerti apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan pasien. Sewaktu saya berobat disana, saya merasa diagnosa dokter kurang pas dan kurang teliti dengan apa yang saya rasakan mungkin karena memang beliau dokter umum sedangkan penyakit saya adalah mengenai kulit. Jadi sedikit ilmu yang mungkin beliau miliki tidak bisa mampu memberikan pengobatan maksimal kepada saya dan setau saya disana ada 3 pegawai satu dokter satu perawat yang juga nyediain obat dan satu lagi yang di loket”. (Hasil wawancara peneliti dengan salah satu dosen UNTIRTA Kampus B, 25 Mei 2018 pukul 13:00 WIB).

Adapun pernyataan mengenai kualifikasi pendidikan pegawai Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Kampus C, peneliti juga telah mewawancarai beberapa pasien Klinik UNTIRTA Kampus C sebagai bahan pertimbangan untuk peneliti nantinya menjelaskan mengenai gambaran Klinik Universitas Sultan

Ageng Tirtayasa dalam menempatkan kualifikasi pendidikan di dalam sumber daya manusianya. Berikut pernyataan dari salah seorang staf Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNTIRTA Kampus C (I5-6):

“Sesuai, kelihatannya cukup ahli dalam melakukan pemeriksaan kepada pasien karena diagnosa dokter juga selalu pas dengan yang saya keluhkan, baik di Klinik Pakupatan (Klinik UNTIRTA Kampus A) dan Klinik disini (Klinik UNTIRTA Kampus C). Kalau Klinik Kampus A pegawainya cukup banyak tidak seperti disini (Klinik UNTIRTA Kampus C) yang hanya 1 orang saja dan biasanya kalau sedang ada pasien dokternya baru di hubungi sementara menunggu dokter pasien diarahkan untuk mengisi biodata dan untuk obat ditebus di Klinik UNTIRTA Kampus A”. (Hasil wawancara peneliti dengan salah seorang staf akademik FKIP UNTIRTA Kampus C, 31 Mei 2018 pukul 11:00 WIB).

 

Dari beberapa pendapat yang peneliti temukan dari Secondary Informan

yang telah melakukan pengobatan di Klinik UNTIRTA Kampus A, Klinik UNTIRTA Kampus B, dan Klinik UNTIRTA Kampus C maka dapat diketahui bahwasannya para pasien Klinik UNTIRTA Kampus A dan pasien Klinik UNTIRTA Kampus B menyadari keterbatasan SDM yang dimiliki oleh Klinik UNTIRTA. Para pasien pada dasarnya tidak menyadari betul akan jumlah dan atau kualifikasi pendidikan pegawai Klinik UNTIRTA. Hal ini diakibatkan dari kurangnya informasi yang dilakukan oleh Klinik UNTIRTA kepada pasien mengenai struktur organisasi Klinik UNTIRTA yang tidak tersedia di sekitar Klinik.

Kepala Klinik UNTIRTA sendiri mengakui atas minimnya sumber daya manusia yang dimiliki dan mengaku bahwa telah mengupayakan untuk menambah jumlah sumber daya manusia di Klinik UNTIRTA melalui pengajuan

permohonan pegawai baru kepada pihak yang berwenang, yaitu Biro Umum Kepegawaian dan Keuangan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Namun, seringkali Kepala Klinik UNTIRTA menyatakan belum saja mendapatkan respon sepanjang pengajuan penambahan pegawai tersebut diajukan. Berikut pernyataan Kepala Klinik UNTIRTA (I2):

“Kami selalu mengajukan permohonan mengenai kepegawaian untuk melengkapi pegawai-pegawai kami yang sesuai dengan pendidikannya, tapi sejauh ini belum ada respon dari pihak yang menyalurkan dana dan juga SDM yaitu Biro Umum Kepegawaian dan Keuangan (BUKK) UNTIRTA”.

(Hasil wawancara peneliti dengan Kepala Klinik UNTIRTA, 21 Maret 2018 pukul 15:15)

Kemudian peneliti melakukan wawancara dengan pihak Biro Umum Kepegawaian dan Keuangan UNTIRTA untuk meminta klarifikasi atau jawaban mengenai permohonan penambahan sumber daya manusia di Klinik UNTIRTA. Menurut pihak Biro Umum Kepegawaian dan Keuangan UNTIRTA (I1) sendiri yaitu:

Pengelolaan sumber daya manusia dilakukan oleh Klinik, kami hanya menyediakan yang Klinik butuhkan. Ketika Klinik meminta pegawai kami berikan, Klinik meminta peralatan kesehatan kami juga menyediakan”.

(Hasil wawancara peneliti dengan Kepala BUKK UNTIRTA, pada tanggal 31 Mei 2018, pukul 13:00 WIB).

Telah terlihat perbedaan pendapat yang dikatakan oleh pihak Klinik UNTIRTA sebagai pengelola dan pihak BUKK sebagai penyedia. Pihak Klinik UNTIRTA menyadari akan minimnya sumber daya manusia dalam pelayanan yang sesuai kualifikasi pendidikannya dengan pekerjaannya di Klinik UNTIRTA maka dari itu Kepala Klinik UNTIRTA sering melakukan pengajuan penambahan pegawai Klinik UNTIRTA yang terdiri dari 4 orang Dokter, 3 orang apoteker, 3

orang analis lab, dan 2 orang administrator. Namun, pihak penyedia yaitu Biro Umum Kepegawaian dan Keuangan Klinik UNTIRTA sendiri telah menyatakan bahwasannya penyediaan sarana dan sumber daya manusia di Klinik UNTIRTA selalu diberikan. Adapun jumlah pegawai Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang saat ini dimiliki oleh Klinik UNTIRTA adalah sebagai berikut:

Tabel 4.4

Jumlah Pegawai Klinik UNTIRTA

No Nama Dokter Perawat Bida

n Apoteker Staf Total tenaga 1 Klinik UNTIRT A Kampus A 4 4 - - 1 9 2 Klinik UNTIRT A Kampus B 1 2 1 - - 4 3 Klinik UNTIRT A Kampus C 1 3 - - 1 5

Sumber: Klinik UNTIRTA Kampus A

Apabila dilihat dari jumlah pegawai yang dimiliki Klinik UNTIRTA pada tabel diatas maka dapat dikatakan jumlah pegawai yang dimiliki oleh Klinik UNTIRTA tidaklah sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh Klinik UNTIRTA Kampus A, Klinik UNTIRTA Kampus B, dan Klinik UNTIRTA Kampus C. Mengingat bahwa potensi pasien yang dimiliki Klinik UNTIRTA Kampus A, Klinik UNTIRTA Kampus B, dan Klinik UNTIRTA Kampus C sangat tinggi

jumlah pegawai Klinik UNTIRTA tersebut tidak seimang dengan tingginya potensi pengunjung Klinik UNTIRTA. Berikut uraian potensi pegunjung Klinik UNTIRTA secara keseluruhan:

Tabel 4.5

Potensi Pengunjung Klinik UNTIRTA

No Nama Jumlah Potensi

Pengunjung

1 Klinik UNTIRTA Kampus A 7.505

2 Klinik UNTIRTA Kampus B 2.682

3 Klinik UNTIRTA Kampus C 5.292

TOTAL 15.479

Sumber: Peneliti, 2018

Dengan jumlah potensi pengunjung yang tinggi seharusnya sumber daya manusia pelayanan Klinik UNTIRTA menjadi bagian terpenting yang harus

diperhatikan. Sebab, apabila Klinik tidak memperhatikan pentingnya

keseimbangan jumlah sumber daya manusia dalam pelayanan dan potensi pengunjung maka Klinik UNTIRTA sendiri akan memiliki potensi permasalahan-permasalahan organisasi yang menghambat organisasi dalam mencapai tujuannya.

Pegawai yang dibutuhkan oleh Klinik UNTIRTA adalah pegawai yang dapat memberikan kontribusi yang maksimal terhadap pelayanan kesehatan yang tentunya masuk kepada kualifikasi pendidikan yang sesuai dengan tugas yang dikerjakan, maka hal ini yang paling utama yang penting harus diperhatikan.

Namun, pada nyatanya mendapatkan pegawai kesehatan untuk Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa tidak mudah dikarenakan kurangnya informasi yang didapat oleh masyarakat dan kurangnya minat masyarakat dalam mengikuti rekrutmen untuk menjadi pegawai kesehatan Klinik Universitas Sultan ageng Tirtayasa, seperti yang dikatakan oleh (I1) sebagai berikut :

“Rekrutmen pegawai selalu diusahakan, tentunya bersama-sama dengan penerimaan kepegawaian secara keseluruhan di UNTIRTA. Namun permasalahannya bahwa yang berminat untuk menjadi pegawai kesehatan di Klinik UNTIRTA sangat jarang dan latar belakang pendidikan juga memang penting untuk diperhatikan”. (Hasil wawancara peneliti dengan Kepala BUKK UNTIRTA, 4 Juni 2018 pukul 13:45 WIB).

Pernyataan yang hampir sama juga disampaikan oleh Kepala Klinik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (I2), bahwasannya:

“Permasalahan sumber daya manusia yang terjadi di Klinik UNTIRTA bukan saja hanya dari rendahnya jumlah SDM yang dimiliki sehingga terjadi tumpang tindih pekerjaan atau menurunnya motivasi kerja para

Dokumen terkait