• Tidak ada hasil yang ditemukan

VII. KESIMPULAN DAN SARAN

4. Status Perkawinan: a Menikah b Belum Menikah

5. Pekerjaan : a. Wirausaha d. Pedagang

b. PNS/Swasta e. Buruh

c. Petani f.

Lainnya………...

6. Tinggal di lokasi sejak : ………...………..Tahun B.Faktor-Faktor Pengaruh Konversi Lahan

Tingkat Pendapatan

7. Jumlah anggota keluarga : ………..Orang 8. Jumlah tanggungan :..………..Orang

9. Apakah ada anggota keluarga yang sudah bekerja? Ya ( ) Tidak ( ) jika tidak ke pertanyaan no (12)

10. Apakah menyumbang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga? Ya ( ) Tidak ( )

11. Jika ya, berapa sumbangan terhadap kebutuhan keluarga?

12. Berapa penghasilan rumahtangga dalam sebulan?

13. Apakah ada hubungan dalam pendapatan dan alasan anda menjual lahan? ya ( ) tidak ( )

14. Jika ya kenapa, jika tidak kenapa?

Lahan

15. Berapa Luas Lahan yang anda miliki saat itu?…… ( ha )

16. Berapa luas lahan yang anda jual saat itu? ….. ( ha )

17. Berapa harga lahan per m2 saat anda menjual lahan anda?

18. Apakah harga jual lebih rendah/lebih tinggi dari harga yang anda harapkan?

19. Apa alasan anda menjual lahan yang anda miliki?

20. Bagaimana status lahan yang anda miliki? Surat tanah/girik?

Kependudukan

21. Apakah anda merupakan penduduk asli desa ini? ya ( ) tidak ( ). Jika ya langsung ke pertanyaan nomor (23)

22. Jika tidak anda berasal dari mana?

23. Apa alasan anda pindah ke desa ini?

24. Apakah status lahan ini untuk anda? Warisan ( ), Membeli ( ), Pemberian Kerabat ( )

25. Apa alasan anda bertahan menetap di sini?

26. Apakah alasan anda menjual lahan berkaitan dengan lama anda menetap disini?

ya ( ) tidak ( ) Alasannnya:

27. Apakah ada warga lain disekitar rumah anda yang menjual lahan? Ada ( ) Tidak ( )

28. Jika ada berpa orang?

29. Jika ada Apakah tindakan warga lain mempengaruhi anda untuk menjual lahan anda? ya ( ) tidak( )

Lampiran 2. Data Jumlah Penduduk Kecamatan Cisarua Tahun 2011-2010 Tahun Jumlah Penduduk (Jiwa)

2001 86 758 2002 87 211 2003 93 661 2004 93 803 2005 83 966 2006 105 020 2007 109 800 2008 114 385 2009 111 187 2010 113 833 Sumber: BPS, 2010

Lampiran 3. Data Luasan Lahan Hijau Kecamatan Cisarua Tahun 2001-2010 Tahun Sawah (Ha) Perkebunan (Ha) Hutan

(Ha) Total (Ha)

2001 394.339 3 384.977 279.507 4 058.823 2002 709.810 3.384.977 279.507 4 374.294 2003 988.476 3 384.977 279.507 4 652.960 2004 678.263 3 384.977 279.507 4 342.747 2005 659.860 3 384.977 279.507 4 324.344 2006 616.506 2 962.943 248.284 3 827.733 2007 616.506 2 962.943 269.068 3 848.517 2008 616.506 2 919.064 289.875 3 825.444 2009 616.506 3 016.420 582.038 4 214.964 2010 592.768 1 938.073 728.016 3 258.857

Lampiran 4. Data Luasan Pemukiman Kecamatan Cisarua Tahun 2001-2010 Tahun Pemukiman (Ha)

2001 1 717.488 2002 1 816.896 2003 1 951.271 2004 1 954.229 2005 1 968.287 2006 2 126.917 2007 2 287.500 2008 2 383.021 2009 2 366.970 2010 2 425.752

Sumber: Dinas Tata Bangunan dan Pemukiman Kabupaten Bogor, 2010

Lampiran 5. Data Harga Lahan Rata-Rata Kecamatan Cisarua dan Jakarta

Tahun 2001-2010

Tahu

n Harga Lahan Cisarua (Rp) Harga Lahan Jakarta (Rp)

2001 108 600 800 000 2002 102 300 950 000 2003 104 000 1 150 000 2004 113 000 1 500 000 2005 116 000 2 200 000 2006 118 000 3 500 000 2007 119 200 4 100 000 2008 200 600 5 500 000 2009 255 150 6 500 000 2010 270 000 7 455 000

 

Lampiran 6. Hasil Analisis Regresi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penduduk dalam Mengkonversi Lahan 1. Uji F (menguji model secara simultan)

2. Uji-t Model Summaryb .840a .706 .672 214.92247 .706 21.123 5 44 .000 1.029 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate R Square

Change F Change df1 df2 Sig. F Change Change Statistics Durbin- Watson Predictors: (Constant), X5, X2, X4, X3, X1 a. Dependent Variable: Y b. ANOVAb 4878500 5 975699.982 21.123 .000a 2032433 44 46191.666 6910933 49 Regression Residual Total Model 1 Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Predictors: (Constant), X5, X2, X4, X3, X1 a.

Dependent Variable: Y b.

  3. Signifikan 4. Uji K-S Coefficientsa -415.932 120.788 -3.443 .001 -659.363 -172.500 .003 .001 .418 2.966 .005 .001 .004 .794 .408 .243 .336 2.975 .314 1.636 .016 .192 .849 -2.984 3.611 .164 .029 .016 .920 1.088 69.851 39.904 .189 1.750 .087 -10.571 150.274 .640 .255 .143 .571 1.752 2.28E-005 .000 .133 1.527 .134 .000 .000 .329 .224 .125 .879 1.138 .129 .056 .287 2.316 .025 .017 .241 .718 .330 .189 .435 2.296 (Constant) X1 X2 X3 X4 X5 Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients

t Sig. Lower Bound Upper Bound

95% Confidence Interval for B

Zero-order Partial Part

Correlations

Tolerance VIF

Collinearity Statistics

Dependent Variable: y a.

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

50 .0000000 203.66205043 .150 .150 -.149 1.063 .209 N Mean Std. Deviation Normal Parametersa,b

Absolute Positive Negative Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed)

Unstandardiz ed Residual

Test distribution is Normal. a.

Calculated from data. b.

 

5.

Observed Cum Prob

1.0 0.8 0.6 0.4 0.2 0.0 Expe

cted Cum Prob

1.0 0.8 0.6 0.4 0.2 0.0

Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual

 

Regression Studentized Residual

6 4 2 0 -2 -4 Reg ression St andardi zed Predi cted Valu e 3 2 1 0 -1 -2 Scatterplot Dependent Variable: Y

 

Lampiran 7. Laju Luasan Lahan Hijau dan Pemukiman Kecamatan Cisarua Tahun 2001-2010

Tahun Laju Luasan Lahan Hijau (%) Laju Luasan Pemukiman (%)

2001 0 0 2002 7.772 5.788 2003 -0.488 7.396 2004 -0.235 0.152 2005 -0.424 0.719 2006 -11.484 8.059 2007 0.543 7.550 2008 -0.600 4.176 2009 4.078 -0.674 2010 -18.149 2.483

Sumber: Data Primer (diolah)

Lampiran 8. Laju Konversi Lahan Kontinu Kecamatan Cisarua Tahun 2001-2010

Luasan Lahan Hijau

The regression equation is lnY1 = 54.1 - 0.0228 t

Predictor Coef SE Coef T P Constant 54.05 14.11 3.83 0.005 t -0.022816 0.007036 -3.24 0.012 S = 0.0639063 R-Sq = 56.8% R-Sq(adj) = 51.4% Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression 1 0.042949 0.042949 10.52 0.012 Residual Error 8 0.032672 0.004084 Total 9 0.075621 Luasan Pemukiman

The regression equation is lnY2 = - 71.5 + 0.0394 t

 

Predictor Coef SE Coef T P Constant -71.461 6.014 -11.88 0.000 t 0.039444 0.002999 13.15 0.000 S = 0.0272384 R-Sq = 95.6% R-Sq(adj) = 95.0% Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression 1 0.12835 0.12835 173.00 0.000 Residual Error 8 0.00594 0.00074 Total 9 0.13429

 

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 27 Desember 1988 sebagai putri ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Muchlis Abbas dan Ibu Mami Kustini. Pada tahun 1994 penulis memulai studinya di TK Dharma Wanita Bandar Lampung dan lulus pada tahun 1995. Penulis melanjutkan pendidikan di SD Negeri 7 Raja Basa Bandar Lampung, dan lulus tahun 2001. Setelah itu, penulis melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 8 Bandar Lampung dan lulus pada tahun 2004. Kemudian penulis bersekolah di SMA Negeri 9 Bandar Lampung dan lulus pada tahun 2007. Tahun itu juga, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Setelah setahun belajar di Tingkat Persiapan Bersama (TPB-IPB). Pada tahun 2008 penulis memasuki Mayor Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan yang diampu Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen-IPB. Untuk melengkapi kompetensi Mayor, penulis memilih Supporting Course dari berbagai fakultas yang berkaitan dengan bidang studi penulis.

Selama kuliah penulis aktif pada berbagai lembaga kemahasiswaan intra kampus. Tercatat penulis pernah menjadi anggota divisi Science and Technology Development, pada International Association of Students in Agricultural and Related Sciences (IAAS), dan anggota divisi Public Relation pada Resource and Environmental Economics Student Association (REESA) Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, FEM-IPB tahun 2008-2009. Selain itu, penulis juga aktif di berbagai kegiatan baik sebagai peserta maupun sebagai panitia.

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dikonversi menjadi lahan non RTH akan menimbulkan dampak negatif dalam berbagai aspek. Namun, potensi dampak konversi lahan tersebut seringkali kurang disadari, sehingga masalah konversi lahan tidak menjadi perhatian masyarakat dan upaya pengendalian konversi lahan terkesan terabaikan. Sala et al. (2000) menyatakan bahwa konversi lahan terjadi di berbagai jenis lahan. Konversi lahan bisa terjadi di lahan sawah dan hutan, dataran rendah maupun dataran tinggi dengan risiko yang berbeda- beda. Dataran tinggi atau pun area puncak memiliki risiko yang cukup besar, khususnya di hulu sungai dimana konversi lahan berdampak pada peningkatan aliran dari dataran tinggi dan volume run off.

Kegiatan konversi lahan yang sangat tinggi di hulu sungai meningkatkan peluang terjadinya banjir di daerah hilir. Salah satu bentuk konversi lahan adalah pembangunan di daerah resapan air. Semakin banyak ruang RTH yang dikonversi menjadi non RTH mengakibatkan semakin rendahnya daya resap air di daerah tersebut. Bertambahnya wilayah terbangun (built up area) menyebabkan muka tanah yang merupakan peresapan akan jauh berkurang luasannya (Achard et al. 1987) dalam (Barbier 1999). Rendahnya daya resapan air menyebabkan peningkatan aliran permukaan. Tingginya tingkat aliran permukaan tersebut memicu peningkatan volume air yang menyebabkan terjadinya banjir.

Penyebab tingginya aliran permukaan di antaranya adalah hilangnya fungsi hutan sebagai penahan aliran permukaan akibat adanya curah hujan di daerah hulu. Salah satu kejadian banjir akibat curah hujan di daerah hulu Sungai

Ciliwung yang mengakibatkan banjir di daerah Jakarta. Curah hujan di hulu Sungai Ciliwung terjadi pada bulan April tahun 2006, yaitu 268 mm dalam satu bulan. Hal ini terbukti pada bulan April 2006 penduduk Jakarta yang terkena dampak banjir sebanyak 7 340 Kepala Keluarga atau setara dengan 27 281 jiwa. Jumlah pengungsi terbanyak dan berasal dari Jakarta Timur yaitu sebanyak 1 558 jiwa dengan ketinggian banjir paling parah mencapai 250 cm. Ketinggian banjir di Kotamadya Jakarta Timur merupakan yang tertinggi1. Hal ini membuktikan bahwa konversi lahan di daerah hulu akan mengakibatkan dampak hingga ke hilir.

Salah satu faktor yang menyebabkan konversi lahan yaitu adanya laju pertumbuhan penduduk. Perubahan penggunaan lahan ditandai dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan konversi lahan yang signifikan, kedua proses tersebut saling terkait (Barbier 1999). Adanya jumlah penduduk yang meningkat menyebabkan konversi lahan di Kabupaten Bogor mayoritas untuk perumahan, usaha, vila, dan lain-lain. Jumlah penduduk Kabupaten Bogor cenderung mengalami peningkatan. Hasil sensus penduduk tahun 2000 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Bogor adalah 3 508 826 jiwa sedangkan angka sementara pada sensus penduduk tahun 2010 jumlahnya mencapai 4 763 209 jiwa. Namun, pada tahun 1990 ke tahun 2000 terjadi penurunan jumlah penduduk dikarenakan adanya pemekaran wilayah Kabupaten Bogor menjadi Kota Bogor pada tahun 1995 berdasarkan PP No. 02/1995 dan Kota Depok di tahun 1999 berdasarkan UU RI No. 15/1999.

Rata-rata laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Bogor dalam kurun waktu sepuluh tahun adalah 3.13. Artinya, pertambahan penduduk di Kabupaten       

1

Bogor setiap tahun rata-rata meningkat sebesar 3.13 persen. Pertambahan tersebut akan menimbulkan pengaruh terhadap konversi lahan. Adapun gambaran tren peningkatan jumlah penduduk Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini.

Sumber: BPS, 2010

Gambar 1. Jumlah Penduduk Kabupaten Bogor Tahun 1961-2010

Pertambahan penduduk di Kabupaten Bogor mempengaruhi penggunaan tata guna lahan yang ada, khususnya di daerah hulu Sungai Ciliwung. Perubahan tata guna lahan dapat menaikkan ataupun mengurangi volume run off dan waktu konsentrasi suatu area (Viessman 1977). Faktor yang paling besar mempengaruhi volume aliran adalah laju infiltrasi dan tampungan permukaan. Berdasarkan data BPS (2006), jenis penggunaan lahan di Kabupaten Bogor pada tahun 2001 berupa pemukiman, jasa, dan industri sebesar 314 658 ha dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 319 862 ha. Seiring adanya pertumbuhan penduduk maka penggunaan lahan untuk pemukiman dan sektor industri di daerah hulu Sungai Ciliwung juga meningkat.

Sektor industri yang sangat diminati di daerah hulu Sungai Ciliwung adalah industri pariwisata. Daerah dataran tinggi di hulu sungai ini memiliki pesona alam yang indah. Kondisi udara yang sejuk dan jauh dari keramaian kota

0 1000000 2000000 3000000 4000000 5000000 6000000 1961 1971 1980 1990 2000 2010 Ji w a Tahun jumlah penduduk

domestik yang datang untuk berlibur bersama keluarga, teman, maupun kerabat. Terdapat berbagai macam obyek wisata yang tersedia, di antaranya kebun binatang, wahana outbond, rumah makan, dan tempat wisata lainnya. Selain itu masih banyak terdapat objek wisata alam lainnya. Banyaknya wisatawan yang datang menarik minat investor untuk mendirikan penginapan seperti vila, hotel, dan wisma di daerah tersebut sebagai sumber investasi. Hal tersebut diduga termasuk menjadi salah satu penyebab konversi lahan.

1.2. Perumusan Masalah

Konversi lahan terjadi seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang semakin meningkat setiap tahun. Salah satu wilayah yang mengalami pertambahan jumlah penduduk yang tinggi adalah Kabupaten Bogor. Jumlah penduduk yang tinggi terlihat lebih signifikan jika dibandingkan dengan dua kabupaten lain yaitu Sukabumi dan Cianjur. Jumlah penduduk Kabupaten Bogor pada tahun 2005 mencapai 4 256 980 jiwa, sedangkan jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi 2 300 640 jiwa, dan jumlah penduduk Kabupaten Cianjur sebesar 2 118 120 jiwa. Adapun perbandingan jumlah penduduk Kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Cianjur dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini.

Sumber: BPS, 2010

Gambar 2. Jumlah Penduduk Kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Cianjur Tahun 2005-2010 0 2000000 4000000 6000000 8000000 10000000 12000000 2005 2006 2007 2008 2009 Ji w a Tahun Cianjur Sukabumi Bogor

Laju pertambahan penduduk Kabupaten Bogor rata-rata sebesar 165 535 jiwa setiap tahun. Kabupaten Sukabumi rata-rata sebesar 44 668 jiwa per tahun dan Kabupaten Cianjur sebesar 29 878 jiwa per tahun. Pertumbuhan penduduk Kabupaten Bogor yang tinggi menyebabkan penyebaran pemukiman di berbagai wilayah DAS. Kabupaten bogor dilalui dua wilayah DAS, yaitu Ciliwung dan Cisadane. Wilayah DAS yang menjadi perhatian khusus dalam hal menyumbangkan debit air pada peristiwa banjir di Jakarta adalah DAS Ciliwung. Daerah yang mempunyai peran penting dalam peristiwa ini adalah daerah hulu.

Hulu Ciliwung terletak di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, tepatnya di Desa Tugu Utara sedangkan Kelurahan Cisarua merupakan daerah yang memiliki pemukiman yang padat. Daerah tersebut memiliki tingkat kegiatan konversi RTH menjadi non RTH yang tinggi. Konversi lahan ini didukung dengan pertambahan penduduk setiap tahun yang mengakibatkan kebutuhan pemukiman yang tinggi. Penduduk di daerah hulu menjual lahan yang ada kepada pembeli, kemudian pembeli menggunakan wilayah tersebut untuk membangun usaha tempat tinggal sebagai tempat bermukim, hotel, vila, rumah makan, dan tempat usaha lainnya. Hal lain yang diindikasikan sebagai penyebab konversi adalah daya tarik lokasi penelitian sebagai daerah tujuan wisata. Berdasarkan uraian tersebut beberapa masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana laju konversi lahan di Kecamatan Cisarua?

2. Bagaimana keterkaitan harga lahan terhadap laju konversi lahan pertanian? 3. Faktor–faktor apakah yang mempengaruhi penduduk Desa Tugu Utara dan

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi laju konversi lahan di Kecamatan Cisarua.

2. Menganalisis keterkaitan harga lahan terhadap laju konversi lahan pertanian di Kecamatan Cisarua.

3. Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi penduduk dalam mengkonversi lahan di hulu sungai.

1.4. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:

1. Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor dan para pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan penggunaan lahan yang dikonversi dan melakukan perbaikan tata guna lahan di Kabupaten Bogor pada umumnya dan Kecamatan Cisarua pada khususnya.

2. Para pengguna lahan dan pemilik lahan untuk memperoleh gambaran mengenai prospek dan peluang pemanfaatan lahan di Kabupaten Bogor pada umumnya dan Kecamatan Cisarua pada khususnya.

3. Para akademisi sebagai bahan tambahan dan bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini akan menghadapi keterbatasan sebagai berikut:

1. Faktor pendorong terjadinya konversi lahan hanya pada level mikro pada tingkat rumah tangga yang sudah pernah menjual lahan yang dimiliki.

2. Konversi lahan yang dibahas dalam penelitian ini hanya dilihat dari luasan sawah, perkebunan dan hutan.

3. Variabel-variabel yang diteliti pada penelitian ini berupa data harga lahan setiap meter, luasan lahan hijau (sawah, hutan, dan perkebunan), pemukiman, penduduk masing-masing desa, DAS hulu Ciliwung, serta data konversi lahan berupa lahan hijau dan pemukiman di hulu Ciliwung.

4. Dampak konversi lahan terhadap lingkungan hanya dilihat dari hilangnya lahan hijau menjadi pemukiman dan hilangnya daya resapan air yang dapat mengakibatkan banjir.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konversi Lahan

Konversi lahan merupakan perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula (seperti yang direncanakan) menjadi fungsi lain yang membawa dampak negatif (masalah) terhadap lingkungan dan potensi lahan tersebut. Alih fungsi lahan dalam artian perubahan atau penyesuaian penggunaan disebabkan oleh faktor-faktor yang secara garis besar meliputi keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin bertambah jumlahnya dan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik (Utomo et al. 1992). Menurut Houghton (1991) terdapat tujuh tipe perubahan tata guna lahan dalam perubahan stok karbon, yaitu konversi ekosistem alami menjadi ladang, konversi ekosistem alami menjadi lahan pertanian budidaya, ladang terbengkalai, peternakan terbengkalai, hutan produksi kayu, dan daerah penghijauan.

Sihaloho (2004) menjelaskan bahwa konversi lahan adalah alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan non pertanian atau dari lahan non pertanian ke lahan pertanian. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dijelaskan bahwa konversi lahan dipengaruhi dua faktor utama, yaitu:

1. Faktor pada aras makro yang meliputi perubahan industri, pertumbuhan pemukiman, pertumbuhan penduduk, intervensi pemerintah, dan kemiskinan ekonomi.

2. Faktor pada aras mikro yang meliputi pola nafkah rumah tangga (struktur ekonomi rumah tangga), kesejahteraan rumah tangga (orientasi nilai ekonomi rumah tangga), dan strategi bertahan hidup rumah tangga.

Perubahan penggunaan RTH menjadi non RTH berlangsung dengan cepat tanpa dilakukan upaya pengendalian. Artinya, peraturan atau kebijakan yang ditetapkan tidak mampu menekan laju perubahan penggunaannya, tujuan pemanfaatan lahan untuk mencapai optimalisasi produksi, keseimbangan penggunaan, dan kelestarian pemanfaatan lahan akan terancam.

2.2. Fungsi Utama Lahan

Jayadinata (1999) memaparkan bahwa tanah berarti bumi, sedangkan lahan merupakan tanah yang sudah ada peruntukan dan umumnya ada pemiliknya. Luas lahan dipengaruhi oleh pendapatan individu. Utomo et al. (1992) menyatakan bahwa lahan sebagai modal alami utama yang melandasi kegiatan kehidupan, memiliki dua fungsi dasar, yaitu:

1. Fungsi kegiatan budidaya, memiliki makna suatu kawasan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai penggunaan, seperti pemukiman, perkebunan, perkotaan maupun pedesaan, hutan produksi, dan lain-lain.

2. Fungsi lindung, memiliki makna suatu kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utamanya untuk melindungi kelestarian lingkungan hidup yang ada, yang mencakup sumberdaya alam, sumberdaya buatan, nilai sejarah, dan budaya bangsa yang bisa menunjang pemanfaatan budidaya.

Aturan-aturan dalam penggunaan lahan dijalankan berdasarkan pada beberapa kategori antara lain kepuasan, kecendrungan dalam tata guna lahan, kesadaran akan tata guna lahan, kebutuhan orientasi dan pemanfaatan atau pengaturan estetika (Munir 2008). Sehubungan dengan hal yang telah dijelaskan sebelumnya, maka Jayadinata (1999) menggolongkan lahan dalam tiga kategori yaitu:

1. Nilai keuntungan, dihubungkan dengan tujuan ekonomi dan yang dapat dicapai dengan jual beli lahan di pasaran bebas.

2. Nilai kepentingan umum, yang dihubungkan dengan pengaturan untuk masyarakat umum dalam perbaikan kehidupan masyarakat

3. Nilai sosial, yang merupakan hal mendasar bagi kehidupan yang dinyatakan oleh penduduk dengan perilaku yang berhubungan dengan pelestarian, tradisi, kepercayaan, dan sebagainya.

Fungsi lahan yaitu digunakan untuk pemukiman, perkebunan, industri, perkotaan maupun pedesaan, serta sebagai nilai budaya dan kelestarian lingkungan. Kategori lahan berupa nilai keuntungan, nilai kepentingan umum, dan nilai sosial. Ketiga kategori tersebut menunjukan bahwa alasan setiap individu menggunakan lahan dipengaruhi oleh tujuan yang berbeda-beda.

2.3. Harga Lahan

Nilai lahan secara definisi diartikan sebagai kekuatan nilai dari lahan untuk dipertukarkan dengan barang lain yang dapat didefinisikan sebagai harga (diukur dalam satuan uang) yang dikehendaki oleh penjual dan pembeli. Nilai lahan merupakan harga lahan yang diukur dalam satuan uang per meternya (Michalski et al. 2010)

Pesatnya perkembangan suatu kota dan tingginya laju pertumbuhan jumlah penduduk, secara langsung membuat kebutuhan lahan akan menjadi tinggi. Ketersediaan lahan yang semakin terbatas dan jumlahnya relatif tetap membuat nilai lahan juga akan meningkat pula. Nilai lahan juga menentukan penggunaan lahan, karena penggunaan lahan ditentukan oleh kemampuan untuk membayar lahan yang bersangkutan. Peningkatan nilai lahan terjadi di pusat kota dan

mengalami penurunan secara teratur menjauhi pusat kota (Berry 2008) dalam (Yunus 2006).

Penelitian Jamal (2001), di Kabupaten Karawang Jawa Barat, harga jual lahan yang diterima petani dalam proses alih fungsi lahan secara signifikan dipengaruhi oleh status lahan, jumlah tenaga kerja yang terserap di lahan tersebut, jarak dari saluran tersier, jarak dari jalan, dan jarak dari kawasan industri atau pemukiman. Sementara itu produktivitas lahan, jenis irigasi, dan peubah lain tidak berpengaruh signifikan.

Faktor-faktor penentu harga lahan antara lain adalah kondisi dan lokasi lahan. Kondisi lahan dapat menentukan tingkat harga lahan, semakin baik kondisi lahan yang ada, semakin mahal harga lahan tersebut. Lokasi juga menentukan harga lahan yang ditentukan oleh jarak lokasi lahan terhadap akses umum seperti pusat perbelanjaan, rumah sakit, tempat wisata, dan lain-lain.

2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konversi Lahan

Proses alih fungsi lahan secara langsung dan tidak langsung ditentukan oleh dua faktor, yaitu: sistem kelembagaan yang dikembangkan oleh masyarakat dan pemerintah, dan sistem non kelembagaan yang berkembang secara alamiah dalam masyarakat. Sistem kelembagaan yang dikembangkan oleh masyarakat dan pemerintah antara lain direpresentasikan dalam bentuk terbitnya beberapa peraturan mengenai konversi lahan.

Konversi lahan erat kaitannya dengan kepadatan penduduk yang semakin meningkat. Rusli (2005) mengungkapkan bahwa dengan meningkatnya jumlah penduduk, rasio antara manusia dan lahan menjadi semakin besar, sekali pun pemanfaatan setiap jengkal lahan sangat dipengaruhi taraf perkembangan

kebudayaan suatu masyarakat. Pertumbuhan penduduk menyebabkan persediaan lahan semakin kecil.

Persediaan lahan akan semakin kecil seiring dengan adanya alih fungsi lahan yang terus terjadi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Ismail (2010) mengenai konversi lahan di Kota Medan, diketahui bahwa konversi lahan mengakibatkan: (1) penurunan luas lahan pertanian di Kota Medan dari tahun 2001 sampai 2008 sebesar 4 088 ha atau berkurang sebesar 36.5 % dari luas lahan pertanian tahun 2001, (2) hasil analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi keputusan petani dalam menjual lahan mereka adalah produktivitas dan proporsi pendapatan dengan derajat kepercayaan 5 %, sedangkan untuk variabel yang tidak signifikan adalah harga jual lahan dan luas lahan, sedangkan untuk faktor kebijakan dan pajak tidak langsung mempengaruhi keputusan petani dalam mengkonversi lahannya.

Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan lahan yang semakin meningkat. Hal ini mendorong penjualan lahan yang dilakukan oleh penduduk dan petani. Faktor utama yang mendorong penduduk dan petani menjual lahan yang dimiliki karena produktivitas hasil pertanian yang dihasilkan terlalu kecil sehingga pendapatan yang diperoleh petani menjadi rendah dan tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari sehingga petani tertarik untuk mengubah fungsi dan menjual lahan yang dimiliki.

2.5. Dampak Konversi Lahan

Konversi lahan yang terjadi mengubah status kepemilikan lahan dan penguasaan lahan. Perubahan penguasaan lahan di pedesaan membawa implikasi bagi perubahan pendapatan dan kesempatan kerja masyarakat yang menjadi

indikator kesejahteraan masyarakat desa. Antara (2002) menyatakan bahwa

konversi lahan sawah untuk kepentingan non pertanian (pariwisata, pemukiman, industri kecil, dan prasarana bisnis) saat ini sudah berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Tahun 1977 luas lahan sawah di Bali ± 98 000 ha dan tahun 1998 tinggal 87 850 ha. Ini berarti dalam kurun waktu ± 20 tahun terjadi penyusutan lahan seluas 10 150 ha, atau 11.5 %. Bahkan selama lima tahun terakhir, penyusutan seluas 727 ha/tahun.

Terbatasnya akses untuk menguasai lahan menyebabkan terbatas pula akses masyarakat atas manfaat lahan yang menjadi modal utama mata pencaharian

Dokumen terkait