• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Pemberdayaan Masyarakat

2.5.5. Strategi Coping dan Jenisnya

Strategi coping menunjuk pada berbagai upaya, baik mental maupun perilaku, untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, atau meminimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan. Dengan perkataan lain strategi

coping merupakan suatu proses di mana individu berusaha untuk menangani dan menguasai situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya.

Para ahli menggolongkan dua strategi coping yang lazim digunakan oleh individu, yaitu: (1) problem-solving focused coping, di mana individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stres; dan (2) emotion-focused coping, di mana individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan. Hasil penelitian membuktikan bahwa individu menggunakan kedua cara tersebut untuk mengatasi berbagai masalah yang menekan dalam berbagai ruang lingkup kehidupan sehari-hari (Lazarus dan Susan 1985).

Faktor yang menentukan strategi mana yang paling banyak atau sering digunakan sangat tergantung pada kepribadian seseorang dan sejauhmana tingkat stres dari suatu kondisi atau masalah yang dialaminya. Contoh, seseorang cenderung menggunakan problem-solving focused coping dalam menghadapai masalah-masalah yang menurutnya bisa dikontrol seperti masalah yang berhubungan dengan sekolah atau pekerjaan; sebaliknya ia akan cenderung menggunakan strategi emotion-focused coping ketika dihadapkan pada masalah- masalah yang menurutnya sulit dikontrol seperti masalah-masalah yang berhubungan dengan penyakit yang tergolong berat seperti kanker atau acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).

Hampir senada dengan penggolongan jenis coping seperti dikemukakan di atas, dalam literatur tentang coping juga dikenal dua strategi coping ,yaitu active

& avoidant coping strategy sementara Lazarus (1987) mengkategorikan menjadi

Direct Action & Palliative. Active coping merupakan strategi yang dirancang untuk mengubah cara pandang individu terhadap sumber stres, sementara

avoidant coping merupakan strategi yang dilakukan individu untuk menjauhkan diri dari sumber stres dengan cara melakukan suatu aktivitas atau menarik diri dari suatu kegiatan atau situasi yang berpotensi menimbulkan stres. Apa yang dilakukan individu pada avoidant coping strategy sebenarnya merupakan suatu bentuk mekanisme pertahanan diri yang sebenarnya dapat menimbulkan dampak negatif bagi individu karena cepat atau lambat permasalahan yang ada haruslah diselesaikan oleh yang bersangkutan. Permasalahan akan semakin menjadi lebih rumit jika mekanisme pertahanan diri tersebut justru menuntut kebutuhan energi dan menambah kepekaan terhadap ancaman.

Pengertian coping, menurut Friendman (1992), adalah perilaku yang terlihat dan tersembunyi yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan ketegangan psikologi dalam kondisi yang penuh stres (Friendman 1992). Lazarus dan Susan (1984) mengemukakan secara lebih spesifik yaitu bahwa coping

adalah usaha kognitif dan tingkah laku untuk mengatur kebutuhan eksternal atau internal dan dinilai dapat mengurangi atau melampaui sumberdaya yang dimiliki seseorang. Coping sebagai respon terhadap ketegangan eksternal berfungsi untuk mencegah, menghindari, atau mengendalikan tekanan emosional. Dalam pengertian lebih luas Monat dan Richard (1977) mengemukakan bahwa proses koping adalah usaha mengatasi kondisi bahaya, ancaman atau tantangan dan tuntutan lingkungan harus memberikan solusi untuk berperilaku yang harus disesuaikan untuk dapat menghadapi stres. Menurut Stuart dan Sundeen (1991), mekanisme coping adalah berbagai usaha yang dilakukan individu untuk menanggulangi stres yang dihadapi. Menurut Lazarus dan Susan (1984) keadan stres yang dialami seseorang akan menimbulkan efek yang kurang menguntungkan baik secara fisiologis maupun psikologis. Individu tidak akan membiarkan efek negatif ini terus terjadi, ia akan melakukan suatu tindakan untuk mengatasi atau menangani hal ini. Tindakan yang diambil individu ini di namakan koping. Mekanisme coping pada hakekatnya dipengaruhi oleh latar belakang budaya pengalaman dalam menghadapi masalah, faktor lingkungan kepribadian, konsep diri individu, faktor sosial dan lain-lain. Semua aspek tersebut akan sangat berpengaruh pada kemampuan individu, faktor sosial dan lain-lain dalam menyelesaikan masalah.

Menurut John et al. (1998), ada dua jenis mekanisme koping yang terjadi pada individu yaitu koping yang berpusat pada masalah (problem foused form of coping mechanism) dan koping yang berpusat pada emosi (emotion focused of coping). Coping yang berpusat pada masalah diarahkan untuk mengurangi tuntutan situasi yang menimbulkan stres atau mengembangkan sumberdaya atau mengatasinya. Mekanisme coping ini bertujuan untuk menghadapi tuntutan secara sadar, realistis, objektif, dan rasional. Menurut Stuart dan Sundeen (1991), hal-hal yang berhubungan dengan mekanisme coping yang berpusat pada masalah adalah: (1) koping konfrontasi adalah mengambarkan usaha-usaha untuk mengubah keadaan atau masalah secara agresif, juga menggambarkan tingkat kemarahan serta pengambilan resiko; (2) isolasi, individu berusaha menarik diri dari lingkungan atau tidak mau tahu dengan masalah-masalah yang dihadapi; (3) kompromi, menggambarkan usaha untuk mengubah keadaan secara berhati- hati, meminta bantuan dari orang lain dan kerja sama dengan orang lain.

Menurut Stuart dan Sundeen (1995), jenis mekanisme coping yang berpusat pada emosi adalah: (1) denial, menolak masalah dengan mengatakan hal tersebut tidak terjadi pada dirinya; (2) rasionalisasi, menggunakan alasan yang dapat diterima oleh akal dan diterima oleh orang lain untuk menutupi ketidakmampuan dirinya; dengan rasionalisasi kita tidak hanya dapat membenarkan apa yang kita lakukan, tetapi kita juga merasa sudah selayaknya berbuat demikian menurut keadilan. (3) kompensasi, menunjukan tingkah laku untuk menutupi ketidakmampuan dengan menonjolkan sifat yang baik, atau karena frustasi dalam suatu bidang maka dicari kepuasan secara berlebihan dalam bidang lain; kompensasi timbul karena adanya perasaan kurang mampu; (4) represi, yaitu dengan melupakan masa-masa yang tidak menyenangkan dari ingatan dengan hanya mengingat waktu-waktu yang menyenangkan; (5) regresi, yaitu sikap seseorang yang kembali ke masa lalu atau bersikap seperti anak kecil yang dalam regresi secara tidak sadar manusia mencoba berperilaku pada masa lalu; (6) sublimasi, yaitu seseorang mengekspresikan atau menyalurkan perasaan, bakat atau kemampuan dengan bersikap positif; (7) identifikasi, yaitu meniru cara berfikir, ide dan tingkah laku orang lain; pada umumnya seseorang manusia ini mengidentifikasikan dirinya dnegan seseorang yang mirip sekali dengan dirinya;

(8) proyeksi, yaitu menyalahkan orang lain tentang kesulitannya sendiri atau melampiaskan kepada orang lain; (9) konversi, yaitu mentransfer atau memindahkan reaksi psikologi ke gejala fisik; (10) displacement, yaitu reaksi emosi terhadap seseorang atau suatu benda yang diarahkan kepada seseorang atau suatu benda lain; (11) reaksi formasi, yaitu membentuk reaksi baru yang bertolak belakang atau tidak sesuai dengan perasaan sendiri.

Menurut Lazarus dan Susan (1984), secara umum strategi coping dapat dibagi menjadi dua yaitu coping berfokus pada masalah dan coping berfokus pada emosi. Coping berfokus pada masalah, individu melakukan suatu tindakan yang diarahkan kepada pemecahan masalah. Individu akan cenderung menggunakan perilaku ini bila dirinya menilai masalah yang dihadapi dapat dikontrol dan diselesaikan. Adapun yang termasuk dalam jenis coping ini adalah: (1) planful problem solving yaitu bereaksi dengan melakukan usaha-usaha tertentu yang bertujuan untuk mengubah keadaan, diikuti dengan pendekatan analitis dalam menyelesaikan masalah; (2) confrontative coping yaitu bereaksi untuk mengubah keadaan yang dapat menggambarkan tingkat resiko yang harus diambil; (3) seeking social support yaitu bereaksi dengan mencari dukungan dari pihak luar, baik berupa informasi, bantuan nyata, maupun dukungan emosional.

Coping terfokus emosi individu melakukan usaha mengubah stresor secara langsung. Ada lima cara yang termasuk coping ini, yaitu: (1) self controling

yaitu bereaksi dengan melakukan regulasi baik dalam perasaan maupun tindakan; (2) distancing adalah tidak melibatkan diri dalam permasalahan; (3) escape avoidance yaitu menghindarkan diri dari masalah yang dihadapi; (4) accenting responsibility yaitu bereaksi dengan menumbuhkan kesadaran akan peran diri dalam permasalahan yang dihadapi, dan berusaha mendudukkan segala sesuatu sebagaimana mestinya; (5) positive reappraisal adalah berekasi dengan menciptakan makna positif dalam diri yang bertujuan untuk mengembangkan diri termasuk melibatkan dalam hal-hal yang religius.

Perilaku koping yang berpusat pada masalah cenderung dilakukan jika individu merasa bahwa sesuatu yang konstruktif dapat dilakukan terhadap situasi tersebut atau ia yakin bahwa sumberdaya yang dimiliki dapat mengubah situasi. Sebagai contoh strategi coping yang digunakan masyarakat rumah tangga

dalam mengatasi masalah kekurangan pangan akbat banjir besar di Bangladesh adalah strategi koping berpusat pada masalah yaitu: (1) melakukan pinjaman ke bank, (2) membeli makanan dengan kredit, (3) mengubah perilaku makan, dan (4) menjual aset yang dimiliki.