• Tidak ada hasil yang ditemukan

Surabaya1

Yuli Nugraheni Maria Yuliastuti

S

urabaya sebagai kota wisata telah dikenal sejak

zaman dahulu kala hingga saat ini. Sampai saat ini, sektor pariwisata Surabaya mengalami perkembangan yang bisa dibanggakan. Beberapa catatan menunjukkan, jumlah kunjungan wisatawan lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Pada tahun 2006, jumlah wisatawan mancanegara naik dari 19.599 orang menjadi

279.230 orang pada tahun 2012. Sementara wisatawan nusantara

naik dari 1.988.423 orang pada tahun 2006 menjadi 9.194.116

1 Pernah diterbitkan dalam bentuk proceeding dalam Seminar Nasional Komunikasi Indonesia Membangun Peradaban Bangsa yang diselnggarakan oleh Aspikom dan Universitas Bina Darma Palembang, Sumatera Selatan, tanggal 26 Februari 2013.

orang pada tahun 2011. Di sisi lain, kedatangan cruise ship sudah mulai rutin sejak tahun 2010 meskipun masih dengan program

half day dengan kapasitas penumpang di bawah 3000. (Sumber :

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, Desember 2012)

Catatan-catatan ini menunjukkan, industri pariwisata kota Surabaya menjanjikan peluang untuk lebih dioptimalkan. Saat ini, tanpa mengabaikan dominasi wisata belanja, kuliner, religi, atau golf, kekuatan pariwisata Surabaya mulai juga merambah wisata heritage, ekowisata, dan tentunya juga MICE. (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) Karena itu konsentrasi untuk mengoptimalkan destinasi yang sudah ada dan melakukan pengembangan destinasi baru diharapkan dapat menjadi alternatif lain bagi wisatawan.

Munculnya isu saat hearing di Komisi C DPRD Kota

Surabaya akhir 2012 lalu tentunya semakin memunculkan semangat baru untuk sektor pariwisata Surabaya. Saat itu, banyak pihak mengatakan industri pariwisata kota Surabaya mengalami mati suri. Seperti dikutip dari Surabaya Post (2013, 1):

Kota sekelas kota Surabaya ternyata tidak memiliki tempat wisata yang dibanggakan. Sementara lokasi wisata yang dihandalkan kota ini masih seperti 20 tahun silam, yakni Kebun Binatang Surabaya (KBS), Pantai Ria Kenjeran dan Taman Hiburan Rakyat (THR) saja. Sementara tiga objek wisata itu sekarang kondisinya sudah tidak karuan.

Fakta tersebut dibantah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya Wiwiek Widayati. Menurut dia, dunia wisata Surabaya tidak redup. Sebab, kota ini masih dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri. Jumlah wisatawannya juga tidak sedikit, karena mencapai 2 juta orang lebih per tahun (Surabaya Post, 2013, 1).

Sedangkan untuk pengembangan lokasi wisata, Wiwiek Widayati mengatakan, Surabaya tetap berupaya mengembangkannya. Di antaranya pengembangan wisata

water park, wisata kuliner, wisata kota tua, wisata belanja dan

sebagainya. “Jadi wisata Surabaya tidak mati suri seperti yang disebutkan banyak pihak,” tegas dari Wiwiek Widayati (Surabaya Post, 2013, 1).

Terlepas dari tanggapan miring tersebut, pada intinya pariwisata kota Surabaya harus tetap terus dikembangkan. Sebagai Kota Pahlawan yang memiliki sejarah panjang, dikenal dan didiami masyarakat multietnis, dengan beragam kesenian, budaya, bahkan dikenal sebagai kota jasa dan perdangangan yang menawarkan berbagai peluang bisnis.

Surabaya memiliki banyak potensi yang harus terus menerus digali. Surabaya tidak boleh redup, Surabaya harus terus menerus maju khususnya dari segi pariwisata. Salah satu tahapan yang harus terus dikawal adalah tahapan membentuk sarana promosi. Promosi memiliki kendali yang penting untuk pengembangan kompetensi kota Surabaya.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sebagai perpanjangan tangan pemerintah memiliki peran penting untuk pengembangan sektor pariwisata kota Surabaya. Sesuai Peraturan Walikota Surabaya No. 91 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas Kota Surabaya (Bab I Pasal 2), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan azas otonomi dan tugas pembantuan di bidang kebudayaan dan pariwisata (surabaya. go.id, 2013, 1). Khususnya Bidang Obyek dan Promosi Wisata yang mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di bidang obyek dan promosi

wisata (pasal 222). Berikut tugas dan fungsi Bidang Obyek dan Promosi Wisata sesuai dengan pasal 223 yang dikutip dari surabaya.go.id (2013, 1):

a. pemrosesan teknis perizinan/rekomendasi sesuai Bidangnya;

b. pelaksanaan kebijakan nasional, provinsi dan penetapan kebijakan skala kota;

c. penyusunan perumusan bahan penetapan kebijakan RIPP kota;

d. pelaksanaan kebijakan nasional, provinsi dan penetapan kebijakan kota dalam pengembangan sistem informasi pariwisata;

e. pelaksanaan kebijakan nasional dan provinsi serta penetapan pedoman pengembangan destinasi pariwisata skala kota;

f. penyusunan dan pelaksanaan pedoman kerjasama pemasaran skala kota;

g. pelaksanaan kerjasama internasional pengembangan destinasi pariwisata skala kota;

h. pelaksanaan kerjasama pengembangan destinasi pariwisata skala kota;

i. penyelenggaraan promosi skala kota;

j. peserta/penyelenggara pameran/event, roadshow bekerja sama dengan pemerintah/provinsi;

k. pengadaan sarana pemasaran skala kota;

l. pembentukan perwakilan kantor promosi pariwisata di dalam negeri skala kota;

m. penyediaan informasi pariwisata ke pusat pelayanan informasi pariwisata provinsi dan pembentukan pusat pelayanan informasi pariwisata skala kota;

koordinasi pemerintah dan provinsi;

o. pengembangan sistem informasi pemasaran pariwisata skala kota;

p. penerapan branding pariwisata nasional dan penetapan tagline pariwisata skala kota.

Melalui tugas dan tanggung jawab tersebut, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memiliki peranan sangat penting. Terlebih lagi merujuk Visi kota Surabaya “Menuju Surabaya Lebih Baik,” peranan masing-masing bagian yang ada di dalamnyapun menjadi penting.

Sesuai struktur organisasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya yang dikeluarkan pada Maret 2012 tersebut, Bidang Obyek dan Promosi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisita berperan penting atas promosi wisata kota Surabaya. Dalam hal ini melalui penyelenggaraan pemasaran sekaligus promosi, pengembangan sistem informasi, pedoman pengembangan destinasi pariwisata,

kerjasama sekaligus penyelenggaraan pameran/event baik

nasional maupun internasional, roadshow, dan penerapan

branding pariwisata nasional dan penetapan tagline pariwisata

skala kota.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Dinas kebudayaan dan Pariwisata, khususnya Bidang Obyek dan Promosi Wisata yang secara teknis mengawal dalam pelaksanaannya. Semua program kerja juga kerjasama, dan pengawasan secara teknis dalam pelaksanaanya perlu terus-menerus dijalankan.