BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Penyajian Data
4.3.1 Hasil Penelitian
4.3.1.2 Strategi yang Digunakan Rumah Makan Tradisional
Rumah Makan Modern
Setelah dilakukannya penelitian dan analisis terhadap strategi yang digunakan Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan dalam menghadapi masuknya rumah makan modern maka, dihasilkan data bahwa pada Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan untuk menghasilkan produk-produk makanan dengan cita rasa masakan tradisional khas sibolga yang terbaik maka strategi yang digunakan oleh usaha ini dan tidak dimiliki oleh rumah-rumah makan lainnya yaitu penggunaan bahan bahan baku terbaik seperti ikan yang masih dalam keadaan fresh serta bumbu-bumbu yang dibuat oleh tangan sendiri
tanpa tambahan zat kimia. Strategi ini lah yang mampu membuat rumah makan ini dapat menetapkan harga yang lebih tinggi dari rumah-rumah makan lainnya dan mendapatkan loyalitas pelanggan karena konsumen sudah percaya akan kualitas sajian makanan yang diberikan.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“Iya ikan nya itu musti bagus, baru. Iya, bumbunya itu, aku bumbunya gak ku beli jadi, buat sendiri, karena kadang yang beli jadi bauk kadang, tak pernah mau ku beli, iya bikin sendiri, kalau yang dibeli yang ntah kapan digilingnya itu”.
Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha juga menambahkan pada wawancara Senin, 11 Februari 2019, yaitu:
“Agak mahal kita. iya mahal, jadi kita gak bisa jualan murah, nanti gak balek modal kita tapi Alhamdulillah buktinya pembelinya balik-balik”.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Ibu Nina Suryana selaku Pembeli 1 pada Jumat, 15 Februari 2019 yaitu:
“Ikan panggangnya enak, kepala ikannya pun enak disini. Enak lah. Bumbunya lebih terasa. Enak-enak-enak. Selain rasa, eeemmm mungkin, apa ya? Yaaa, ikan disini sepertinya fresh gitu, baru”.
Ibu Nina Suryana selaku Pembeli juga menambahkan pada wawancara Senin, 15 Februari 2019, yaitu:
“Kalau rasanya enak, sesuai dengan lidah saya, kalau harganya ya lumayan mahal lah. Ya sedang lah, sesuai dengan, dengan yang dimakannya, sesuailah”.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Bapak Rahman selaku Pembeli 2 pada Jumat, 15 Februari 2019 yaitu:
“Kalau harganya biasa, ya dibilang mahal gak mahal kali”.
Strategi ini memiliki resiko dimana produk yang unik mungkin dipandang tidak cukup boleh pelanggan untuk membenarkan harga yang lebih tinggi. Resiko ini mulai terjadi pada Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan di saat daya beli konsumen mulai berkurang selama 4 tahun terakhir dimana konsumen kini tidak lagi mementingkan rasa yang ada pada masakan, namun rasa kenyang dan harga yang murah lah yang menjadi tolak ukur daya beli dari konsumen.
Dalam menghadapi resiko ini maka Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan melakukan pengurangan jumlah produksi hidangan untuk mengurangi biaya pengeluaran yang usaha ini miliki.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Abang Ahmad Afif Tanjung selaku Pegawai pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“Orang sekarang makin sepi, gara gara gimana ya? Karena sekarang daya beli orang berkurang, daya beli semenjak 4 tahun terakhir ini kan semakin berkurang”.
Adapun resiko lain yang kini mulai terjadi yaitu masuknya rumah-rumah makan sejenis yang meniru sajian yang dihidangkan pada rumah makan ini dengan penetapan harga yang jauh di bawah harga yang telah ditetapkan oleh
usaha ini, namun itu dapat diatasi dengan komitmen dari usaha ini untuk terus menyajikan sajian terbaik dengan bahan-bahan terbaik, karena bagi para pesaing seperti rumah-rumah makan sejenis tidak mampu memberikan sajian terbaik karena bahan baku yang mereka gunakan sudah dipastikan tidak sebaik bahan baku yang usaha ini berikan. Maka dari itu hingga saat ini strategi yang ada masih terus digunakan oleh Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“Enggak, orang-orang baru ini nya, itulah yang buat kita gak berduit, karna juga mereka jual murah, kemarin ku tengoklah ada yang jual 10 ribu memang. Tapi pada pakai ikan itu yang ikan kotak, ikan kotak itu yang kurang memang, biarlah gak usah ku jualankan dari pada pakai ikan itu”.
Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha juga menambahkan pada wawancara Senin, 11 Februari 2019, yaitu:
“Terkadang aku kan tau, pakai apa itu, pakai apa itu, dimasukkan aja sikit cepet kali kuningnya, ntah apa namanya, citrun, citrun apa namanya, dia perbungkusnya 3 ribu kalau gak salah. Aku gini kok cantik kali lah kunyitnya ini, kalau ku giling sendiri kadang gak kayak gitu cantiknya, jadi tepikir tepikir sama ku kan, kayak kelapa kan kami giling, jadi ku tanya kok cantik kali, oh pakai ini buk. Ku belik lah, ku giling lah di pajak kunyit ini, karena kalau awak sendiri menggiling gak cantik juga, ku masukkan lah citrun ini, cantik kali persis kayak yang dijual orang, oh ini lah dalam hatiku. Ku pikir gincu, kok jelek kali kalau gincu ini, rupanya itu yang dimasukkan, sikit aja dimasukkan udah cantik kali, berarti zat kimia lah itu ya?”.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Abang Ahmad Afif Tanjung selaku Pegawai pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“kalau yang model model fast food itu ya kayak mana ya, kayaknya gak menjadi ancaman kayaknya kalau rumah makan baru sih, kayaknya mungkin ada kan, mungkin orang itu main di harga, kita kan harganya sekian, kalau di sebelahkan harga makanananya Rp.10.000, sebenernya sih saingan diharga aja sih”.
Dan setelah dilakukannya penelitian dan analisis pada Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan terdapat faktor-faktor yang mampu mempengaruhi jalannya usaha ini, yaitu:
1. Keadaan Pesaing.
Dimana Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan mencari tau pesaing-pesaing yang baru muncul, lalu mempersiapkan strategi baru. Namun sampai saat ini pesaing-pesaing yang ada tidak membuat usaha ini gentar lalu memikirkan strategi baru, karena strategi yang digunakan masih sesuai dengan keadaan yang ada.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“Orang tau mana yang asli mana yang enggak. Pokoknya rasa nya itulah yang dipertahankan, jadi orang kan, kalau udah tau orang enak , dimana pun pasti di cari”
2. Perkembangan Teknologi.
Dimana Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan ikut masuk ke dalam perkembangan teknologi yang ada saat ini, yaitu dengan mendaftarkan usaha ini pada aplikasi-aplikasi pendukung usaha yang kini marak dipergunakan oleh masyarakat khususnya masyarakat Kota Medan. Namun setelah pendaftaran dilakukan tidak adanya followup yang dilakukan oleh
usaha ini kepada aplikasi-aplikasi pendukung usaha sehingga tujuan dari ikut masuknya rumah makan ini kedalam perkembangan teknologi tidak begitu berpengaruh terhadap usaha ini.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“Iya kami, memang iya kami masukin, udah datang kemari, datang-datang itu yang distikerkan itu lah di steling, Udah, udah beberapa bulan, kalau pakai itu banyak, banyak yang mau, kadang-kadang sering itu ditelfon orang kan kan, bu ini-ini-ini, kadang kadang iya nanti orang itu bilang gojek nanti yang jemput ya bu, itu lah yang sering tapi gitu-gitu aja gak ada perkembangan sekali-sekali ajanya”.
3. Perubahan Demografi.
Dimana Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan memerhatikan daya beli dari konsumen saat ini. Dan strategi yang digunakan adalah melakukan pengurangan jumlah hidangan agar kerugian tidak terjadi.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“Iya, ikan kami itu, sepuluh kilo itu, dulu ya dulu, sekarang kan udah banyak saingan awak, jadikan orang mau yang murah, yaitu aja lah gak perlu banyak banyak kali”.
4. Kebijakan Politik dan Ekonomi.
Perubahan peraturan pemerintah dalam ekonomi, politik dan keamanan sangat mempengaruhi jalannya usaha Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan salah satunya yaitu adanya kebijakan kenaikan harga bahan
baku yang membuat usaha ini membuat strategi pengurangan jumlah hidangan dan porsi konsumsi bagi konsumen karena untuk melakukan strategi lain seperti menaikan harga jual akan berdampak hilangnya pelanggan.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Abang Ahmad Afif Tanjung selaku Pegawai pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“Iya, bukan, sekarang tergantung pemerintah buat naik harga, harga-harga naik, sementara kita dagang ini kan mana bisa naik, kalau kita naikkan kan jelas pelanggankan lari, itu aja sih yang bikin mengancam kalau jualan kebanyakan jadi harus dikurangi”.
5. Sumber Daya Alam.
Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan salah satu rumah makan yang sangat bergantung dengan sumber daya alam terkhusus dari sumber daya ikan yang menjadi bahan baku utama rumah makan ini. Dan strategi yang dilakukan untuk menghadapinya adalah mengurangi jumlah pembelian sumber daya alam seperti ikan jika harga sumber daya alam yang melonjak naik.
“Aku kuring itu kadang 50 ribu sekilo, bawal ibu beli 70 ribu sekilo karena mahal kali gak kubuat lah banyak-banyak kali, sepuluh-sepuluh kilo aja”.
6. Segmen Pasar
Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan memilih melakukan segmentasi pasar berdasarkan demografis, psikologi dan perilaku dari para konsumen. Berdasarkan Demografis, konsumen dari Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan cenderung merupakan orang-orang dengan pendapatan tinggi serta memiliki daya beli yang tinggi tanpa mementingkan
harga yang telah ditetapkan oleh rumah makan ini yang cenderung memiliki harga jual yang tinggi. Berdasarkan Psikologis, konsumen Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan cenderung memiliki kepribadian dengan mengutamakan kepuasan dalam diri, dimana konsumen lebih mengutamakan cita rasa yang sesuai dengan lidah dan mampu memberikan kepuasan dalam diri tanpa mementingkan harga yang telah ditetapkan. Berdasarkan Perilaku, konsumen Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan cenderung memiliki kesetiaan dan loyalitas pada rumah makan ini terlihat dari tidak adanya keinginan bagi para konsumen untuk mencoba atau bahkan sekedar mencari rumah-rumah makan lain untuk mencoba cita rasa yang lainnya sehingga rumah makan ini mampu mempertahankan eksistensinya dalam menghadapi masuknya rumah-rumah makan lainnya di Kota Medan.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“Buktinya kemarin pembelinya berduet-duet ku tengok iya ku lihat. Ndak bohong aku, sanggupnya ku liat orang itu beli 1 sampai 200 ribu, awak ajanya yang kadang –kadang beli nasi sebungkus mengeluh awak yakan, ada yang 100 ada yang 200 ribu hampir ada yang 300 ribu, yang berduit lah yang tau dan buktinya pembelinya balek-balek ku tengok”.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Abang Ahmad Afif Tanjung selaku Pegawai pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“kalau tanggal muda, orang baru gajian rame lah jualan kami dibandingkan tanggal tua”
7. Anggaran Pemasaran
Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan tidak memiliki penetapan dana dalam pemasaran. Rumah makan ini hanya melakukan pemasaran word of mouth yang cenderung tidak dikenakan biaya dan bekerja sama dengan aplikasi-aplikasi penunjang untuk melakukan pemasaran.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Ibu Nina Suryana selaku Pembeli 1 pada Jumat, 15 Februari 2019 yaitu:
“Promosi? Sepertinya biasa aja ya? Gak ada promosi sepertinya mereka ini. Murni, gak ada promosi sepertinya dia”.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“Udah, udah beberapa bulan kami masukin”.
Adapun strategi yang digunakan rumah makan ini dalam penetapan dana terkhusus pada kegiatan operasional seperti tidak adanya penambahan jumlah karyawan serta mengurangi jumlah biaya produksi dalam menghadapi berkurangnya jumlah konsumen. Namun kenyataannya strategi untuk tidak adanya penambahan jumlah karyawan menjadikan hal ini sebagai kekurangan dari usaha ini terkhusus pada bidang pelayanan.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“Pelayanannya yang kurang kalok kami ya iya, kalok banyak pelayannya tak bergaji, apa lagi kalok jaman sekarang, aduhh sulit nya jualan sama ku kurang-kurangi lah jumlahnya”.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Abang Ahmad Afif Tanjung selaku Pegawai pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“Pelayanan sih, karena karyawan disini itu sikit karena kan kadang orang males nunggu”.
8. Waktu
Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan memiliki strategi waktu yang hampir sama dengan usaha-usaha lainnya di Kota Medan, yaitu beroperasi pada jam 10.00 WIB dan tutup pada jam 22.00 WIB. Waktu ini merupakan waktu dimana pada umumnya usaha-usaha khususnya yang ada di Kota Medan beroperasinya dan menjadi waktu yang efektif bagi rumah makan ini untuk beroperasi.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“Oh bukanya, jam-jam sepulu udah ada yang masak tuh sampe jam sepuluh malam juga tutup nya”.
9. Bauran Pemasaran
Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan menghasilkan produk makanan tradisional terbaik dengan cita rasa masakan khas Kota Sibolga dan tidak mengubah cita rasa yang ada pada masakan dari sejak usaha ini didirikan hingga sampai saat ini.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“Iya ikan nya itu musti bagus, baru. Iya, bumbunya itu, aku bumbunya gak ku beli jadi, buat sendiri, karena kadang yang beli jadi bauk kadang, tak pernah mau ku beli, iya bikin sendiri, kalau yang dibeli yang ntah kapan digilingnya itu”.
Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha juga menambahkan pada wawancara Senin, 11 Februari 2019, yaitu:
“Pokoknya rasanya itulah yang dipertahankan, jadi orang kan, kalau udah tau orang enak , dimana pun pasti dicari”.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Ibu Nina Suryana selaku Pembeli 1 pada Jumat, 15 Februari 2019 yaitu:
“Ikan panggangnya enak, kepala ikannya pun enak disini. Enak lah. Bumbunya lebih terasa. Enak-enak-enak. Selain rasa, eeemmm mungkin, apa ya? Yaaa, ikan disini sepertinya fresh gitu, baru”.
Harga yang ditetapkan relatif mahal sesuai dengan produk terbaik yang dihasilkan dan cita rasa tradisional khas daerah Sibolga yang mampu diberikan oleh rumah makan ini.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“Agak mahal kita. iya mahal, jadi kita gak bisa jualan murah, nanti gak balek modal kita tapi Alhamdulillah buktinya pembelinya balik-balik”.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Ibu Nina Suryana selaku Pembeli 1 pada Jumat, 15 Februari 2019 yaitu:
“Kalau rasanya enak, sesuai dengan lidah saya, kalau harganya ya lumayan mahal lah. Ya sedang lah, sesuai dengan, dengan yang dimakannya, sesuailah”.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Bapak Rahman selaku Pembeli 2 pada Jumat, 15 Februari 2019 yaitu:
“Kalau harganya biasa, ya dibilang mahal gak mahal kali”.
Berada di daerah yang sangat strategis namun tidak didukung dengan design yang menarik bagi pengunjung yang kini menjadi salah satu kekurangan yang ada pada usaha ini.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Ibu Nina Suryana selaku Pembeli 1 pada Jumat, 15 Februari 2019 yaitu:
“Dari segi tempat orang ini juga kurang, jadi kalau misalnya mau pengembangan lebih jauh sepertinya mereka harus besarin tempat ya buat kayak restoran-restoran kekinian gitu lah karena rasanya disini emang oke cuma itu lah tempatnya itu rasanya kurang”
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Rahman selaku Pembeli 2 pada Jumat, 15 Februari 2019 yaitu:
“Ya tempatnya aja, tempatnya kan rumah makannya kan yang gak seperti rumah makan modern gitu. Ada tamannya, ada hiburannya”.
Memiliki strategi promosi sesuai dengan perkembangan zaman namun kurang adanya followup di dalam pengembangannya sehingga tidak mendukung jalannya usaha.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Nenek Nurjaila Lubis selaku Pemilik Usaha pada Senin, 11 Februari 2019 yaitu:
“Iya kami, memang iya kami masukin, udah datang kemari, datang-datang itu yang distikerkan itu lah di steling, Udah, udah beberapa bulan, kalau pakai itu banyak, banyak yang mau, kadang-kadang sering itu ditelfon orang kan kan, bu ini-ini-ini, kadang kadang iya nanti orang itu bilang gojek nanti yang jemput ya bu, itu lah yang sering tapi gitu-gitu aja gak ada perkembangan sekali-sekali ajanya”.
Penelitian juga dilakukan oleh peneliti kepada masyarakat sekitar Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan yang bukan merupakan pelanggan dari rumah makan ini dengan tujuan membandingkan rumah makan Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan dengan rumah makan tradisional lainnya yang ada di Kota Medan.
Berdasarkan hasil wawancara dan analisis yang dilakukan peneliti terhadap masyarakat sekitar Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan, maka dapat disimpulkan bahwa Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan memiliki cita rasa yang tinggi pada setiap hidangannya karena menggunakan bumbu-bumbu asli yang dibuat sendiri oleh pemilik rumah makan. Harga yang sesuai dengan cita rasa yang disajikan. Adanya segmentasi pasar yang dimiliki rumah makan ini, dimana tidak semua masyarakat menyukai sajian masakan khas yang ada di rumah makan. Adanya berbagai kekurangan-kekuangan lain yang dimiliki oleh Rumah Makan Khas Sibolga Uda Tanjung Medan ini yaitu:
kurangnya pelayanan yang diberikan seperti kecepatan pelayanan dan tidak adanya penggunaan bahasa daerah di antara pelayan yang mampu menjadi daya tarik bagi rumah makan ini, ruang makan yang kurang luas dan kurangnya promosi yang dilakukan seperti ulasan-ulasan terkait rumah makan ini di media sosial seperti Google.
Data tersebut diambil berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Ibu Dewi Heryani selaku Masyarakat pada Minggu, 31 Maret 2019 yaitu:
“Rumah makan ini memiliki cita rasa yang tinggi dan gak berubah setau aku dari dulu sampai sekarang, harganya juga sesuai sama rasanya, sangat khas tapi emang akunya aja yang kurang suka makanan khas Sibolga, aku lebih suka makanan khas Sidempuan karena aku orang Sidempuan dan udah lama dari kecil dulu aku makan di Rumah Makan Padang Sidempuan yang di Amplas di bawah flyover dan sama disitu juga rasanya gak berubah dari dulu sampai sekarang kayak disini”.
Ibu Dewi Heryani selaku Masyarakat juga menambahkan pada wawancara 31 Maret 2019, yaitu:
“Nah kalau di rumah makan Sidempuan yang biasa saya makan, pelayanannya cepat dia, gak nunggu-nunggu kita lama, trus suasananya juga khas kali, apalagi cara berbicaranya, kadang sesama mereka pakai bahasa Sidempuan mereka, makanya jadi kayak kental kali suasananya. Tempatnya disana bersih, disini pun juga bersihnya, cuma di Sidempuan itu lebih lebar dia, kalau disini kan lebih kecil sikit. Untuk harga sama-sama mahal karena emang mahalnya bumbu-bumbu yang dipakai orang ini karena asli buat sendiri orang ini, itu sama kurang rasaku promosi disini kalau di Sidempuan kan kita cari aja di Google ada dia, nah kalau disini gak ada, kuang rasaku informasi yang ada di Google tentang rumah makan ini, perlu juga itu dimasukkan di Google”.