• Tidak ada hasil yang ditemukan

6.2. Struktur Perekonomian Dalam Analisis Input-Output

6.2.4. Struktur Ketenagakerjaan

Analisis struktur ketenagakerjaan dimaksudkan untuk mengukur tingkat produktivitas tenaga kerja sektoral. Tingkat produktivitas dalam analisis ini dilihat berdasarkan rasio perbandingan antara nilai tambah sektoral dengan jumlah tenaga kerja masing-masing sektor. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana efektifitas penggunaan input tenaga kerja dalam menciptakan nilai tambah untuk sektor ekonomi3.

3

Dalam pengukuran produktivitas terdapat istilah produktivitas total dan produktivitas parsial. Produktivitas total adalah rasio output atau nilai tambah terhadap jumlah semua faktor input yang

Tabel 24. Nilai Tambah, Nilai Upah, Jumlah Tenaga Kerja, dan Produktivitas Sektoral Provinsi Maluku Utara Tahun 2005

Nilai Tambah (Juta Rp.) Total Upah/Gaji (Juta Rp.) Jlh Tenaga Kerja (Orang) Produk- tivitas (Juta/TK) Upah/TK (Juta/TK) Kode Sektor (1) (2) (3) (4)=(1)/(3) (5)=(2)/(3) 1 Tanaman Bahan Makanan 232 648 135 762 68 511 3.40 1.98

2 Perkebunan 347 987 171 581 109 111 3.19 1.57 3 Peternakan 55 578 14 526 12 688 4.38 1.14 4 Kehutanan 77 764 44 722 22 837 3.41 1.96 5 Perikanan 119 080 21 557 40 599 2.93 0.53 6 Pertambangan & Penggalian 92 483 70 942 812 113.90 87.37 7 Industri Pengolahan 269 173 69 771 7 516 35.81 9.28

8 Listrik 8 510 1 910 184 46.25 10.38

9 Air Bersih 4 156 1 814 169 24.59 10.73

10 Bangunan 32 873 16 836 12 244 2.68 1.38 11 Perdagangan Besar dan Eceran 577 506 99 843 31 489 18.34 3.17

12 Hotel 12 448 3 438 370 33.64 9.29

13 Restoran 16 321 4 654 287 56.87 16.22

14 Angkutan Jalan Raya 52 408 14 460 3 090 16.96 4.68 15 Angkutan Laut 41 644 9 554 4 181 9.96 2.29 16 Angkutan Sungai, Danau &

Penyebrangan

11 591 2 402 320 36.22 7.51 17 Angkutan Udara 10 812 3 370 1 760 6.14 1.91 18 Jasa Penunjang Angkutan 23 251 6 118 997 23.32 6.14 19 Komunikasi 67 510 18 167 5 954 11.34 3.05 20 Keuangan, Persewaan & Jasa

Perusahaan

59 760 9 386 1 094 54.63 8.58 21 Jasa Pemerintahan Umum 387 604 377 967 21 058 18.41 17.95 22 Jasa Sosial & Kemasyarakatan 58 959 46 199 4 610 12.79 10.02 23 Jasa Rekreasi, Kebudayaan &

Olahraga

6 354 2 859 845 7.52 3.38 24 Jasa Perorangan & Rumah

Tangga

14 540 10 485 2 140 6.79 4.90 Jumlah 2 580 960 1 158 323 352 866 7.31 3.28 Sumber: Tabel Input-Output Provinsi Maluku Utara Updating, 2005, Data Diolah

Jumlah tenaga kerja yang terserap oleh sektor ekonomi Provinsi Maluku Utara tahun 2005 sebanyak 352 866 orang, sebagaimana terlihat pada Tabel 24. Sektor yang menyerap tenaga kerja terbanyak yaitu sektor perkebunan sekitar 30.92 %, kemudian sektor tanaman bahan makanan 19.42 % dan sektor perikanan 11.51 % dari total tenaga kerja yang ada di Provinsi Maluku Utara. Jumlah tenaga

digunakan, sedangkan produktivitas parsial merupakan rasio output atau nilai tambah terhadap salah satu jenis input (dapat berupa modal, material, mesin, lahan, tenaga kerja, dan sebagainya).

kerja yang terserap pada ketiga sektor tersebut sebagai disaggregasi dari sektor pertanian menunjukkan kemampuan sektor tersebut dalam menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat di Provinsi Maluku Utara.

Dalam hal produktivitas, terdapat tiga sektor yang memiliki tingkat produktivitas yang tinggi yaitu sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp. 113.90 juta/tk, sektor restoran sebesar Rp. 56.87 juta/tk dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar Rp. 54.63 juta/tk. Dari kondisi ini terlihat bahwa sektor yang memiliki nilai tambah yang tinggi belum mengindikasikan bahwa sektor tersebut memiliki produktivitas yang tinggi. Hal ini nampaknya karena dipengaruhi oleh faktor tinggi atau rendahnya daya serap tenaga kerja sektor tersebut serta tinggkat upah yang diperoleh dari setiap sektor ekonomi.

Pada Tabel 24 juga terlihat bahwa rata-rata upah tenaga kerja di Provinsi Maluku Utara tahun 2000 sebesar Rp 3. 28 juta/tk/tahun, atau sama dengan Rp 0.27 juta/tk/bulan (Rp. 270 000 /tk/bulan). Jika dibandingkan dengan upah minimum provinsi (UMP) di Provinsi Maluku Utara pada tahun 2005 sebesar Rp. 660 ribu/bulan, maka rata-rata upah yang diterima pekerja di Provinsi Maluku Utara masih sangat rendah.

Dalam mengetahui sektor yang memberikan kesempatan lebih baik kepada tenaga kerja dalam menciptakan pendapatannya, dapat dilakukan analisis rasio antara nilai upah dan gaji dengan nilai surplus usaha masing-masing sektor. Upah dan gaji merupakan satu-satunya komponen nilai tambah yang langsung diterima oleh pekerja dan masyarakat pada umumnya. Sementara surplus usaha adalah balas jasa terhadap sektor produksi lainnya yaitu sewa tanah sebagai balas jasa tanah, bunga sebagai balas jasa modal, dan keuntungan sebagai jasa wiraswasta.

Tabel 25. Rasio Upah dan Gaji Terhadap Surplus Usaha Menurut Sektor di Provinsi Maluku Utara Tahun 2005

Kode Sektor Upah dan Gaji (Juta Rp.) Surplus Usaha (Juta Rp.) Rasio Upah/Surplus (%) 1 Tanaman Bahan Makanan 135 762 89 377 151.90

2 Perkebunan 171 581 165 401 103.74

3 Peternakan 14 526 39 155 37.10

4 Kehutanan 44 722 18 522 241.45

5 Perikanan 21 557 93 109 23.15

6 Pertambangan & Penggalian 70 942 12 432 570.64 7 Industri Pengolahan 69 771 179 895 38.78

8 Listrik 1 910 5 492 34.78

9 Air Bersih 1 814 2 129 85.20

10 Bangunan 16 836 13 640 123.43

11 Perdagangan Besar dan Eceran 99 843 451 847 22.10

12 Hotel 3 438 7 557 45.49

13 Restoran 4 654 9 700 47.98

14 Angkutan Jalan Raya 14 460 32 600 44.36

15 Angkutan Laut 9 554 26 871 35.56

16 Angkutan Sungai, Danau & Penyebrangan

2 402 8 058 29.81

17 Angkutan Udara 3 370 3 555 94.80

18 Jasa Penunjang Angkutan 6 118 15 735 38.88

19 Komunikasi 18 167 38 125 47.65

20 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

9 386 47 144 19.91

21 Jasa Pemerintahan Umum 377 967 0 -

22 Jasa Sosial & Kemasyarakatan 46 199 9 685 477.02 23 Jasa Rekreasi, Kebudayaan &

Olahraga

2 859 2 697 106.01 24 Jasa Perorangan & Rumah Tangga 10 485 1 501 698.53

Jumlah 1 158 323 1 274 227 90.90

Sumber: Tabel Input-Output Provinsi Maluku Utara Updating, 2005, Data Diolah

Berdasarkan Tabel 25, sektor yang memiliki rasio upah dan gaji terhadap surplus usaha besar adalah sektor jasa perorangan dan rumah tangga sebesar 698.53 %, disusul oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar 570.64 % dan sektor jasa sosial dan kemasyarakatan sebesar 477.02 %. Sektor-sektor lainnya yang memiliki rasio antara upah dan gaji terhadap surplus usaha dengan persentase > 50 % yaitu sektor kehutanan, tanaman bahan makanan, bangunan, jasa rekreasi, kebudayaan dan olahraga, angkutan udara dan air bersih.

6.2.5. Tingkat Ketergantungan Faktor Input

Tingkat ketergantungan faktor input (TKFI) dimaksudkan sebagai kapasitas penggunaan faktor input suatu sektor untuk menghasilkan output. Semakin tinggi nilai TKFI suatu sektor, maka hal demikian menunjukkan semakin tinggi ketergantungan pada faktor input oleh sektor tersebut untuk menghasilkan output.

Faktor input yang dimaksudkan dalam studi ini adalah input antara dan input primer. Nilai koefisien input antara dan input primer dapat digunakan untuk menganalisis tingkat efisiensi teknis produksi daerah. Bila nilai koefisien input antara lebih besar maka menunjukkan bahwa sektor yang bersangkutan masih mengutamakan ketergantungan pada penggunaan faktor input produksi daripada mengutamakan penciptaan nilai tambah yang bisa dinikmati oleh masyarakat serta menunjukkan kemampuan teknis sektor yang bersangkutan belum efisien. Sebaliknya bila nilai koefisien input primer lebih besar maka menunjukkan bahwa sektor yang bersangkutan sudah meningkatkan efisiensi teknis untuk menciptakan nilai tambah atau pendapatan yang bisa dimanfaatkan masyarakat luas. Jika kondisi ini sudah bisa terjadi berarti sektor yang bersangkutan sudah mampu melakukan efisiensi teknis demi menghemat penggunaan input (Rauf, 2002).

Input antara yang digunakan oleh segenap sektor produksi dapat dipilah ke dalam dua tipe transaksi yaitu transaksi internal dan eksternal. Semakin besar transaksi internal semakin besar pula sektor tersebut menggunakan sebagian dari hasil produksinya sebagai input untuk produksi lanjutannya. Dilain sisi, semakin besar transaksi eksternal semakin besar pula sektor tersebut menggunakan hasil produksi dari sektor lainnya dalam proses produksi (Suryawardana, 2006).

Tabel 26. Tingkat Ketergantungan Faktor Input Sektoral Provinsi Maluku Utara Tahun 2005

(%) Input Antara Input Primer

Kode Sektor Transaksi

Internal

Transaksi

Eksternal NTB Impor

Total

1 Tanaman Bahan Makanan 10.64 14.50 74.72 0.14 100

2 Perkebunan 14.60 16.37 69.01 0.02 100

3 Peternakan 13.68 28.16 50.47 7.68 100

4 Kehutanan 14.85 11.56 73.30 0.30 100

5 Perikanan 39.48 14.93 45.50 0.09 100

6 Pertambangan & Penggalian 15.15 24.67 60.03 0.15 100

7 Industri Pengolahan 9.00 69.83 18.20 2.96 100

8 Listrik 1.83 63.22 31.66 3.30 100

9 Air Bersih 18.76 58.37 22.15 0.71 100

10 Bangunan 1.20 75.37 21.27 2.15 100

11 Perdagangan Besar dan Eceran 1.57 28.23 65.73 4.48 100

12 Hotel 1.05 33.81 19.44 45.70 100

13 Restoran 1.17 23.78 8.46 66.59 100

14 Angkutan Jalan Raya 3.01 55.53 24.81 16.65 100

15 Angkutan Laut 9.46 51.74 37.08 1.72 100

16 Angkutan Sungai, Danau & Penyebrangan

7.38 37.14 48.93 6.55 100

17 Angkutan Udara 15.94 58.32 23.33 2.41 100

18 Jasa Penunjang Angkutan 3.40 53.20 42.37 1.03 100

19 Komunikasi 18.08 32.59 42.28 7.05 100

20 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

5.82 47.80 44.96 1.43 100

21 Jasa Pemerintahan Umum 0.00 0.00 68.14 31.86 100

22 Jasa Sosial & Kemasyarakatan 0.79 37.34 23.80 38.07 100

23 Jasa Rekreasi, Kebudayaan & Olahraga

31.68 26.40 19.50 22.42 100

24 Jasa Perorangan & Rumah Tangga 0.09 50.49 36.42 13.00 100

Rata-rata 9.94 38.06 40.48 11.52 100

Sumber: Tabel Input-Output Provinsi Maluku Utara Updating, 2005, Data Diolah

Dalam Tabel 26 dapat dilihat bahwa rata-rata untuk memproduksi barang dan jasa di Provinsi Maluku Utara diperlukan input antara 48 % yang bersumber dari hasil produksinya sendiri sebesar 9.94 % dan barang dan jasa dari sektor lainnya sebesar 38.06 %. Sedangkan penggunaan input terbesar berasal dari input primer sebesar 52 % (NTB ditambah impor).

Sektor-sektor yang paling banyak menggunakan input antara dalam proses produksi adalah sektor industri pengolahan (7); air bersih (9); bangunan (10); angkutan udara (17); listrik (8); angkutan laut (15); angkutan jalan raya (14); jasa

rekreasi, kebudayaan dan olehraga (23); jasa penunjang angkutan (18); perikanan (5); keuangan, perusahaan dan jasa perusahaan (20); komunikasi (19); serta jasa perorangan dan rumah tangga (24). Sehingga dapat dikatakan bahwa sektor-sektor tersebut belum memiliki kemampuan teknis yang efisien.

Sektor-sektor yang paling banyak menggunakan input primer dalam proses produksi adalah sektor jasa pemerintahan umum (21); restoran (13); tanaman bahan makanan (1); kehutanan (4); perdagangan besar dan eceran (11); perkebunan (2); hotel (12); jasa sosial dan kemasyarakatan (22); pertambangan dan penggalian (6); peternakan (3); serta angkutan sungai, danau dan penyebrangan (16). Sektor-sektor dengan penggunaan input primer yang besar mengindikasikan bahwa sektor yang bersangkutan telah mampu meningkatkan kemampuan teknisnya secara efisien dalam penciptaan pendapatan masyarakat.

Sektor-sektor dengan transaksi internal yang besar adalah sektor perikanan (5); kehutanan (4); dan sektor jasa rekreasi, kebudayaan dan olahraga (23). Sedangkan kedua puluh satu sektor lainnya memiliki pangsa transaksi eksternal yang besar yakni masih tergantung dengan penggunaan input dari sektor lainnya dalam menghasilkan output barang dan jasa.

Dilihat dari sisi ketergantungan penggunaan input yang berasal dari impor, sektor yang memiliki ketegantungan input dari impor yang besar adalah sektor restoran (13) dan sektor hotel (12). Nilai impor yang besar menyebabkan nilai tambah yang tercipta di Maluku Utara menjadi kecil. Hal ini disebabkan, nilai dari elemen invers matriks leontief sektor tersebut akan mendekati satu. Sehingga tambahan satu unit permintaan akhir terhadap sektor tersebut tidak akan menggerakkan sektor tersebut maupun sektor lainnya (Suryawardana, 2006).