GAMBARAN UMUM UGAMO MALIM
2.6 Struktur Organisasi dan Keanggotaan Parmalim
Struktur organisasi Ugamo Malim boleh dikatakan sederhana, struktur kepemimpinan hanya terdiri dari pimpinan dan pimpinan cabang. Pimpinan pusat adalah pimpinan tertinggi yang diketuai oleh seorang Ihutan yang dalam bahasa Batak bermakna “yang diikuti” atau “ikutan”. Selain dari ihutan ada juga pengurus lain yang terilibat didalamnya seperti
sekretaris dan bendahara yang keduanya bertugas sebagi pembantu dalam menjalankan administrasi oraganisasi Ugamo Malim. Disamping itu ada juga beberapa nama lainya yang ikut dalam kepengurusan yang bertugas dalam bidang tertentu. Ihutan sebagai pemimpin pusat mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam pembinaan anggota secara keseluruhan. Ia juga sebagai “ulama” atau yang banyak mengetahui ajaran-ajaran, disamping mengetahui seluk-beluk Ugamo Malim sejak dahulu hingga sekarang. Dalam upacara agama yang sifatnya tahunan seperti mangan na paet, sipaha sada, sipaha lima dan mardebata, ia juga bertindak sebagai pemimpin upacara.
Pusat administrasi Ugamo Malim berkedudukan di Hutatinggi, Laguboti Kabupaten Toba Samosir (dahulu Tapanuli Utara). Di sanalah semua surat menyurat dijalankan baik yang bersifat internal maupun eksternal. Selain itu, segala dokumen yang berkaitan dengan
Ugamo Malim sejak dahulu masih tersimpan rapi disana. Bukan hanya itu, di sana pulalah pusat peribadatan Ugamo Malim yang disebut Bale Pasogit Partonggoan (BPP) – suatu tempat peribadatan yang bersifat tahunan disamping tempat upacara (ibadat) lainnya.
Selain dari pimpinan pusat, ada juga dikenal dengan pimpinan cabang yang berkedudukan di tiap-tiap cabang yang keberadaannya tersebar di seluruh Indonesia (terutama Sumatera dan Jawa). Pimpinan cabang diketuai oleh seorang ketua yang disebut dengan Ulu Punguan. Sama halnya dengan pimpinan pusat, Ulu Punguan juga dibantu oleh seorang sekretaris dan seorang bendahara serat dibantu dengan beberapa orang pengurus lainnya. Tugas masing-masing Ulu Punguan adalah memberikan pembinaan terhadap anggota di tingkat cabang sekaliguas sebagai pemimpin upacara dalam setiap upacara agama di parsattian (tempat peribadatan di tingkat cabang). Misalnya memimpin upacara
mararisabtu, mangan na paet dan manganggir. Bahkan dalam memimpin upacara yang lain adakalanya diwakilkan kepada Ulu Punguan jika Ihutan berhalangan.
Dari segi administrasi Ulu Punguan mempunyai tugas, pertama; melaporkan secara resmi seluruh anggota dicabangnya secara berkala kepada pimpinan pusat orang yang baru masuk baik karena pindah agama maupun karena baru lahir. Kedua; melapurkan iuran jumlah keuangan yang bersumber dari anggota, misalnya ugasan torop, adat marama, somba
hamuliateon dan lain-lain. Ketiga; melaporkan keadaan perkembangan cabang terutama dalam hal pengalaman agama dan hambatan-hambatan lainnya.
Dalam hal pengangkatan seorang pemimpin pusat maupun pemimpin cabang dalam
Ugamo Malim tidaklah seperti yang didapati pada organisasi keagamaan lainnya. Organisasi
Ugamo Malim lebih menerapkan kepemimpinan konvensional. Ihutan selaku pemimpin pusat adalah seorang pemimpin umat sekaligus ulama (religion specialist). Pada awal adanya istilah jabatan Ihutan ini dalam struktur kepemimpinan Ugamo Malim bukanlah melalui pemilihan sebagaimana berlaku pada organisasi keagamaan lainnya tetapi diangkat melalui pengakuan moral dari seluruh anggota Parmalim. Tradisi seperti ini telah dimulai sejak Raja Mulia Naipospos digelar dengan sebutan ihutan. Dari sinilah awalnya sejarah dikenalnya istilah Ihutan dalam kepemimpinan Ugamo Malim. Kemudian kepemimpinan itu diwariskan secara turun-temurun kepada anaknya yang bernama Raja Ungkap Naipospos sampai tahun 1981 kemudian sekarang dipegang oleh Raja Marnangkok Naipospos.
Tiga sosok pemimpin tersebut lebih dikenal dengan pemimpin informal khususnya dikalangan warga Parmalim. Pengakuan warga Parmalim terhadap mereka sangat tinggi, pangakuan ini terpancar dari wajah dan penampilan mereka yang sangat mengagumkan. Dari wajah dan penampilannya itu mereka mempercayai bahwa pada diri mereka terdapat
kharisma keagamaan (religion charisma) yang dalam istilah malim disebut “sahala”. Kehadiran sahala itu pada diri mereka bukan karena dipelajari demikian juga dengan kemampuan “memimpin” dan “mangajari” warganya, tetapi dipercayai merupakan berkat pemberian Debata Mulajadi Nabolon.
Berbeda dengan pengangkatan pemimpin cabang (ulu punguan), pemimpin cabang ini langsung ditunjuk oleh Ihutan selaku pemimpin tertinggi dalam Ugamo Malim dengan mempertimbangkan masukan dari warga Parmalim setempat. Tidak ada syarat pendidikan formal maupun non-formal yang harus dilalui khususnya di bidang pengkaderan pemimpin agama sebelum diangkat menjadi Ulu Punguan. Ulu Punguan kemudian memilih sekrataris, bendahara dan penasehat, keseluruhan perangkat ini tersusun dalam system Suhi Ni Appang Na Opat (SUSANO). Ulu punguan sebagai (panggonggom) yaitu orang yang memberikan bimbingan keagamaan dan memimpin punguan, Pangumei (penasehat) adalah orang yang mengayomi dan menasehati seluruh anggota yang berbuat kesalahan dalam punguan, partahi
(perencana) jabatan ini sama fungsinya dengan skretaris yang berfungsi mengatur dan merencakan segala aktifitas Punguan dan terkahir Namora (bendahara) adalah orang yang mengatur keuangan Punguan dan distribusi dana ugasan torop.
Bagan Struktur Organisasi Ugamo Malim
Terakhir adalah anggota penganut Ugamo Malim, Parmalim pada umumnya berasal dari suku Batak, meskipun pada akhir-akhir ini ada beberapa orang diantara suku bangsa lain yang masuk menjadi panganut Ugamo Malim. Hampir sama dengan agam-agama lainnya dimana setiap ada orang yang hendak masuk menjadi penganut Ugamo Malim dapat melalui dua cara yaitu karena kelahiran dan karena berpindah agama. Namun dalam Ugamo Malim
perpindahan agama melalui gerakan syiar tidak dikenal. Ugamo Malim tidak mengenal istilah
misi atau syiar dalam agama Islam, Ugamo Malim meyakini bahwa semua orang di dunia telah beragama sehingga, praktis hanya kelahiran dan perpindahan agama (konversi agama) melalui perkawinan atau karena “gerak hati” yang menjadi sumber pertambahan anggota
Parmalim. Jika seseorang mengkonversi agamanya dari agama lain ke dalam Ugamo Malim
maka penganut tersebut harus melewati upacara khusus baginya yang disebut upacara
manganggir (pensucian). Apabila seorang bayi terlahir dari kelurga Parmalim, bukanlah Pimpinan pusat Ihutan Sekretaris Bendahara Pimpinan Cabang Ulu Punguan Penasehat Sekretaris Bendahara Pimpinan Cabang Ulu Punguan Penasehat Sekretaris Bendahara Pimpinan Cabang Ulu Punguan Penasehat Sekretaris Bendahara
berarti si anak otomatis sebagai warga Parmalim. Pihak orang tuanya harus terlebih dahulu mengadakan upacara martutuaek. Tanpa mengadakan upacara martutuaek, si anak dianggap belum resmi masuk sebagai anggota pemeluk Ugamo Malim. Dengan pola pertambahan anggota yang bersifat alamiah maka sangat sulit bagi Parmalim untuk berkembang menurut jumlah dengan cepat seperti agama modern di sekelilingnya.