• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

Bagan 2. Struktur Tata Kelola Perusahaan PT.Pegadaian (Persero)

(Sumber : Warta Pegadaian 2012)

Untuk mendukung jalannya GCG, Pegadaian juga meningkatkan prosedur bisnis dengan penerapan struktur tata kelola yang mendukung pelaksanaan GCG di lingkungan Perusahaan. Menurut Warta Pegadaian Tahun 2012, organ tata kelola yang ada di Pegadaian senantiasa memastikan tercapainya pengelolaan Perusahaan yang selaras dengan prinsip implementasi GCG, yaitu :

 Transparansi : keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan

keputusan dan keterbukaan dalam mengungkapkan informasi material.

 Akuntabilitas : kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban organ sehingga pengelolaan Perusahaan terlaksana dengan efektif.

Dewan Komisaris Komite Pengembangan Usaha Komite Nominasi Dan Remunerasi Komite Audit Presiden Utama Sekretaris Perusahaan Internal Audit

 Pertanggungjawaban : kesesuaian dalam pengelolaan Perusahaan terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku serta prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

 Kemandirian : keadaan dimana Perusahaan dikelola tanpa benturan dan

kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan serta prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

 Kewajaran : keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak pemangku

kepentingan (stakeholders) yang timbul berdasarkan perjanjian dan

perundang-undangan.

Pada struktur tata kelola Perusahaan Pegadaian seperti yang digambarkan pada bagan 2, menjelaskan dalam suatu tatanan seluruh organ GCG yang memiliki tanggungjawab tersendiri namun tetap melaksanakan implementasi GCG Persusahaan secara terintegrasi. Dewan Komisaris memiliki fungsi kepengawasan dengan dibantu oleh Komite Audit dan Komite Remunerasi dan Nominasi, sedangkan Direksi bertanggungjawab atas pengelolaan Perusahaan, selain itu Sekretaris Perusahaan bertugas untuk membantu Direksi dalam pengelolaan Perusahaan. Adanya peran- peran dalam organ tata kelola Perusahaan tersebut memainkan peran kunci dalam keberhasilan pelaksanaan GCG. Organ perseroan menjalankan fungsi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan atas dasar prinsip bahwa masing-masing organ

mempunyai independensi dalam pelaksanaan tugas, fungsi dan tanggungjawabnya untuk kepentingan perseroan.

Dalam pelaksanaannya, tata kelola Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance – GCG) dalam operasional wilayah, baik Pusat Kantor Wilayah (Kanwil), Cabang, maupun Unit Cabang, berada dalam pengawasan Satuan Pengawasan Intern (SPI) dengan melakukan pemantauan atas tindak lanjut penerapan GCG di Perseroan dan memberikan usulan perubahan/revisi atas panduan GCG yang diterapkan di Pegadaian kepada Direksi Perusahaan dan tembusan kepada Dewan Komisaris. Untuk mendukung kembali berjalannya GCG dalam penerapannya di Perusahaan, organ Perseroan atau yang berperan dalam menjalankan GCG memberikan hak kepada seluruh Insan Perusahaan untuk dapat menyampaikan laporan mengenai dugaan pelanggaran terhadap GCG kepada satuan kerja atau tim yang ditunjuk oleh organ Perseroan melalui surat, kotak pengaduan atau media lainnya yang disediakan oleh organ Perseroan untuk kepentingan pelaporan pelanggaran. Penyediaan media tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan dugaan pelanggaran terhadap panduan GCG dan bukan untuk menyampaikan keluhan pribadi pelapor.

Pedoman GCG merupakan acuan atau landasan dalam menerapkan GCG di PT.Pegadaian (Persero), dimana acuan dan landasan dalam menerapkan GCG tersebut yaitu:

1) Undang-Undang Republik Indonesia.

a) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang Badan Usaha Milik

Negara (BUMN).

b) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

(PT).

c) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Tentang

perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia.

a) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2005 Tentang

pendirian, pengurusan,pengawasan dan pembubaran Badan Usaha Milik Negara.

b) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2011 Tentang

perubahan bentuk badan hukum Perusahaan Umum (Perum) menjadi Perusahaan Perseroan (Persero).

a) Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER 01/MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance – GCG) pada Badan Usaha Milik Negara.

b) Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-09/MBU/2012 Tentang

perubahan atas perubahan peraturan Menteri BUMN Nomor PER- 01/MBU/2011 Tentang GCG pada BUMN.

c) Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-19/MBU/10/2014 Tentang

persyaratan tata cara pengangkatan dan pemberhentian anggota Dewan Komisaris dan Dewan Pengawas BUMN.

d) Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-21/MBU/11/2014 Tentang

perubahan atas perubahan atas Menteri BUMN Nomor PER- 19/MBU/10/2014 Tentang tata cara pengangkatan dan pemberhentian Anggota Dewan Komisaris dan Dewan Pengawas BUMN.

e) Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-03/MBU/2012 Tentang

pedoman pengangkatan anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris anak Perusahaan BUMN.

f) Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-05/MBU/2008 Tentang

pedoman umum pelaksanaan pengadaan barang dan jasa BUMN.

g) Anggaran Dasar PT.Pegadaian (Persero) sebagaimana termuat dalam akta

disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI berdasarkan surat keputusan Nomor AHU-17525.AH.01.01 Tahun 2012 tanggal 4 April 2012.

4) Keputusan Dan Peraturan Dewan Komisaris PT.Pegadaian (Persero) :

a) Keputusan Dewan Komisaris No. KEP-03/KP/DK/GD 2013 tanggal 24

April 2013 Tentang pedoman GCG.

b) Keputusan Dewan Komisaris No.KEP-02/KP/DK/GD 2013 tanggal 24

April 2013 Tentang Board Manual.

c) Keputusan Dewan Komisaris No.KEP-04/KP/DK/GD 2013 tanggal 24

April 2013 Tentang Piagam Komite Manajemen Risiko.

d) Keputusan Dewan Komisaris No.KEP-04/KP/DK/GD 2014 tanggal 24

April 2014 Tentang pembagian tugas anggota-anggota Dewan Komisari PT.Pegadaian (Persero).

e) Keputusan Dewan Komisaris No. KEP-03/ DK/GD 2012 tanggal 21

Desember 2012 Tentang Piagam Komite Audit.

5) .Keputusan Dan Peraturan Direksi PT.Pegadaian (Persero)

a) Keputusan Direksi Nomor 143/KEP/2014 tanggal 22 April 2014 Tentang

pembagian tugas dan wewenang Direksi.

b) Keputusan Direksi Nomor 33 Tahun 2013 tanggal 15 April 2013 Tentang pedoman GCG.

c) Peraturan Direksi PT.Pegadaian (Persero) Nomor 256/MR/2.00/2012 Tanggal 1 Agustus 2012 Tentang Standar Etika Perusahaan (Code Of Conduct).

d) Peraturan Direksi Nomor 14 Tahun 2014 Tanggal 28 Februari 2014 Tentang Pedoman Pengendalian Gratifikasi.

e) Peraturan Direksi Nomor 60 Tahun 2014 Tanggal 29 September 2014 Tentang Pencegahan Praktek Nepotisme.

f) Peraturan Direksi Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian Nomor 20/SPI/I/2012 Tanggal 11 Januari 2012 Tentang Sistem Pelaporan Pelanggaran (Whistleblowing System).

g) Peraturan Direksi PT.Pegadaian (Persero) Nomor 487/MR.200/2012 Tanggal 21 Desember 2012 Tentang Piagam, Kebijakan Umum Dan Pedoman Kebijakan Manajemen Risiko.

h) Peraturan Direksi Nomor 27 Tahun 2014 Tanggal 25 April 2014 Tentang Perubahan Atas Peraturan Direksi Nomor 9 Tahun 2014 Tentang Struktur Kerja Dan Tata Kerja PT.Pegadaian (Persero).

3.1.2 Interpretasi Dan Metode Yang Digunakan Perusahaan Dalam Menerapkan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance– GCG)

Untuk melihat hasil jalannya tata kelola Perusahaan yang baik, Pegadaian selama ini menggunakan metode-metode pengumpulan data yaitu dengan menggunakan metode kuantitatif dan metode kualitatif. Proses metodologi pelaksanaan GCG Perusahaan tersebut dilaksanakan berdasarkan metode dan prosedur sesuai keputusan Sekretaris Menteri BUMN Nomor: SK-16/S.MBU 2012 tanggal 6 Juni 2012 tentang indikator penilaian dan evaluasi atas penerapan tata kelola Perusahaan yang baik pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sebelum menjelaskan lebih lanjut tentang metode yang digunakan Perusahaan dalam menerapkan tata kelola Perusahaan yang baik, tujuan dilakukannya proses dan pelaksanaan penarikan kesimpulan dalam melihat hasil jalannya penerapan GCG adalah :

1) Mengukur kualitas penerapan GCG Perusahaan melalui penilaian tingkat

pemenuhan kriterian GCG dengan kondisi nyata yang diterapkan pada Pegadaian, dengan pemberian skor/nilai atas penerapan GCG dan kategori kualitas penerapannya.

2) Mengedentifikasi kekuatan dan kelemahan penerapan GCG Perusahaan, serta

mengusulkan rekomendasi perbaikan untuk mengurangi celah antara kriteria GCG dan penerapannya pada Perusahaan.

3) Memonitor konsistensi penerapan GCG pada Perusahaan dan memperoleh masukan untuk penyempurnaan dan pengembangan kebijakan GCG di Perusahaan.

Dalam melakukan suatu tafsiran atau interpretasi dan metode tentang bagaimana Perusahaan melihat hasil dari terlaksananya penerapan GCG, Pegadaian menggunakan proses dalam pelaksanaannya yaitu :

a) Pengumpulan Data

Pengumpulan data ini dilaksanakan dengan melakukan reviuw (coba cek

kebenaran) dokumen terkait struktur dan proses tata kelola Perusahaan, antara lain anggaran dasar, etika tata kelola Perusahaan (code of corporate governance), kebijakan manajemen, laporan manajemen, laporan Satuan Pengawas Intern (SPI), dan laporan tahunan (annual report).

Selain itu, pengumpulan data juga dilakukan dengan kuesioner, wawancara dan observasi. Kuesioner dilakukan untuk memperoleh persepsi responden atas pelaksanaan peraturan Perusahaan sebagai bentuk penerapan GCG. Wawancara dilakukan sebagai pendalaman lebih lanjut terhadap informasi yang tidak dapat diperoleh melalui kuesioner. Selanjutnya, observasi dilakukan untuk mengamati pelaksanaan dari peraturan, sistem, kebijakan, maupun standar operasional Perusahaan.

Dari hasil perolehan dokumen, kuesiner, wawancara dan observasi dirangkum dan disimpulkan untuk mendapatkan tingkat pemenuhan setiap indikator dan faktor- faktor yang diuji kesesuainnya dalam penilaian praktik penerapan GCG. Hasil penilaian akan dipaparkan kehadapan Direksi, Dewan Komisaris, dan Manajer Kunci PT. Pegadaian (Persero) yang berada pada Kantor Pusat Pegadaian.

Dari hasil pengamatan peneliti ketika pemeriksaan dokumen-dokumen yang terkait dalam GCG, peneliti melihat metode yang lebih dominan digunakan oleh Pegadaian dalam menilai hasil penerapan GCG adalah dengan menggunakan metode kuantitatif dibandingkan dengan menggunakan metode kualitatif. Hal ini dijelaskan karena penggunaan metode tersebut lebih mudah dan menghemat waktu. Hal ini juga ditambahkan oleh Informan yaitu Bapak Andi selaku Penaksir Madiah yang mengatakan :

“Biasanya kalau ada survei-survei tentang apapun, biasanya memakai kuesioner. Adapun wawancara, paling kalau salah satu Karyawan yang bermasalah”.

Sebagai tambahannya, dalam peninjauan dan pemeriksaan dokumen dan arsip Perusahaan, memang lebih banyak ditemukan hasil-hasil data dengan menggunakan kuesioner. Berikut adalah salah satu data jumlah responden dalam pelaksanaan assesment (taksiran) GCG dengan menggunakan data kuantitatif yaitu kuesioner :

Tabel 3 : Jumlah Responden Yang Diambil Dalam Pelaksanaan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik Tahun 2013

Responden Jumlah Kuesioner Disebar Jumlah Kuesioner Kembali Respon (%) Dewan Komisaris 5 2 20 Komite Audit 2 2 100

Komite Manajemen Resiko 2 1 50

Direksi 6 6 100

Manajemen Kunci 168 112 66

(Sumber : Arsip Laporan Pemeriksa Tahun 2013)

3.2 Penerapan Etika Perusahaan PT. Pegadaian (Persero)

Sesuai yang sudah dijelaskan pada penerapan Tata Kelola Perusahaan yang

baik (Good Corporate Governance – GCG) Salah satu landasan penting GCG adalah

adanya infrastruktur berupa kebijakan dan pedoman yang menjadi dasar, arah, dan tuntutan dalam penerapan tata kelola Perusahaan yang baik. Infrastruktur tersebut adalah dokumen pedoman Standar Etika Perusahaan yang merupakan sekumpulan komitmen yang terdiri dari Budaya Perusahaan INTAN serta standar etika Perusahaan yang memuat panduan perilaku Insan Pegadaian yang disusun untuk mempengaruhi, membentuk, dan mengarahkan kesesuaian tingkah laku sehingga sesuai dengan budaya, nilai-nilai Perusahaan, Tata kelola Perusahaan yang baik serta sesuai dengan Visi dan Misi PT. Pegadaian (Persero). Komitmen Pegawai terhadap Persahaan atau sebaliknya merupakan ikatan kejiwaaan individu terhadap organisasi maupun sebaliknya yang mencakup keterlibatan kerja, kesetiaan, dan perasaan

percaya terhadap nilai-nilai organisasi (Wursanto, 2005). Pengertian dari Etika Perusahaan sendiri adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis Perusahaan yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, Perusahaan, dan juga masyarakat 9.Seperti yang sudah tertera pada Bab I dan Bab II, Budaya Perusahaan PT. Pegadaian (Persero) disebut juga dengan Budaya INTAN sebagai singkatan dari rumusan Budaya Perusahaan tersebut. Untuk menjalankan etika Perusahaan, setiap Insan Pegadaian harus memiliki pola pandang, tindakan dan perilaku yang sama dalam menghadapi berbagai situasi sesuai yang diharapkan oleh Perusahaan. Dalam menjalankan dan menerapkan etika Perusahaan, perlu mengetahui makna -makna dari Budaya INTAN sebagai Budaya Perusahaan PT. Pegadaian (Persero), Menurut penjabaran dari Pegadaian, makna Budaya INTAN dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Makna Nilai Inovatif

Makna Nilai Inovatif adalah berupaya melakukan penyempurnaan yang mempunyai nilai tambah dan tanggap terhadap perubahan yang terjadi. Setiap Insan Pegadaian diharapkan mampu mencari solusi dan menghasilkan terobosan-terobosan baru, serta mudah beradaptasi dalam penyempurnaan proses kerja dan perubahan organisasi untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

2) Makna Nilai Moral Tinggi

Makna Nilai Moral Tinggi adalah memahami dan mematuhi ajaran agama masing-masing serta etika Perusahaan. Setiap Insan Pegadaian diharapkan

dapat terus menjaga konsistensi dalam berpikir, berkata dan bertindak. Selain itu, makna dari Nilai Moral Tinggi adalah setiap Insan Pegadaian diharapkan dapat dipercaya dan menjalankan tugasnya tanpa pamrih karena dilandasi keyakinan bahwa bekerja adalah ibadah yang senantiasa harus disyukuri.

3) Makna Nilai Terampil

Makna Nilai Terampil adalah mengetahui dan memahami tugas yang diemban serta selalu belajar dengan penuh tanggung jawab. Setian Insan Pegadaian dikenal karena perilakunya yang profesonal, mampu mengutamakan kepentingan Perusahaan serta senantiasa memperbaiki kemampuan diri dalam menghadapi tantangan organisasi dan persaingan di masa depan.

4) Makna Nilai Adi Layanan

Makna dari Adi Layanan adalah memberikan layanan yang dapat memuaskan orang lain, fokus dan menjaga kerahasiaan. Setiap Insan Pegadaian perlu

memiliki semangat untuk melayani sebaik mungkin, agar dapat

mengusahakan kepuasan orang lain yang dihadapinya serta memahami kebutuhan orang yang dilayaninya dan memahami apa yang yang dimiliki Pegadaian, akan membuat pelayanan Insan Pegadaian menjadi yang terbaik.

5) Makna Nuansa Citra

Makna dari Nuansa Citra adalah senantiasa dan menjaga nama baik serta reputasi Pegadaian. Setiap Insan Pegadaian diharapkan memiliki rasa

“memiliki” dan senantiasa menjaga nama baik dan reputasi Pegadaian dimanapun Insan Pegadaian berada.

Penetapan standar etika Perusahaan Pegadaian dituangkan dalam peraturan Direksi PT. Pegadaian (Persero) Nomor: 256/MR.2.00/2012 Tentang Standar Etika Perusahaan. Menurut penjelasan dari keterangan Warta Pegadaian Tahun 2013, dijelaskan panduan etika bisnis Perusahaan dan etika kerja Pegawai Perusahaan yang menjabarkan dasar perilaku seluruh Insan PT. Pegadaian (Persero) dalam mencapai Visi dan Misi Perusahaan. Hal-hal yang mencakup standar etika Perusahaan Pegadaian mencakup sebagai berikut :

1. Pengakuan persamaan Hak Azasi Manusia (HAM)

2. Keselamatan dan kesehatan lingkungan kerja

3. Kesempatan kerja yang adil

4. Benturan kepentingan (conflict of interest)

5. Memberi dan menerima hadiah

6. Aspirasi politik

7. Prinsip keterbukaan informasi dan menjaga kerahasiaan informasi

8. Pengelolaan aset Perusahaan

9. Hak atas kekayaan intelektual

Penyebarluasan dan sosialisasi etika Perusahaan secara merata kepada seluruh Insan Pegadaian dilakukan dengan beberapa langkah yang diantaranya adalah

sosialisasi dan seminar bagi Pegawai, sosialisasi pada saat perekrutan, melalui iklan dan pencitraan media cetak dan juga media elektronik. Menurut beberapa pengakuan dari Informan menjelaskan bahwa pada pelaksanaan penyebarluasan dan sosialisasi etika Perusahaan terhadap Pegawai masih kurang efektif dalam melaksanakannya, sehingga hasil yang diperoleh dari etika Perusahaan kurang tercapai.

3.2.1 Proses Pelaksanaan Etika Perusahaan

Maksud dari pelaksanaan Etika Perusahaan adalah bagaimana cara dan struktur Pegadaian dalam menerapkan etika Perusahaan dalam setiap Insan Pegadaian. Pelaksanaan dalam menerapkan etika Perusahaan dilakukan dengan cara sosialisasi dan penegakan etika Perusahaan. Sosialisasi dan penegakan etika Perusahaan dilaksanakan melalui komitmen dalam menjalankan aturan-aturan yang berlaku dalam Perusahaan kepada seluruh Insan Pegadaian.