• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus Putusan Pengadilan No.08/Pdt.G/2016/PN.Spt

BAB III KEWAJIBAN NOTARIS YANG MENJAMIN HAK PARA

A. Studi Kasus Putusan Pengadilan No.08/Pdt.G/2016/PN.Spt

Kasus ini diawali dengan gugatan yang diajukan oleh BMM (Penggugat) terhadap MS (Tergugat I) dan Notaris Joni (Tergugat II).

Berdasarkan putusan Mahkamah Agung nomor 08/Pdt.G/2016/PN.Spt, dalam kasus perbuatan melawan hukum yang terjadi di Pengadilan Negeri Sampit. Pada mulanya telah didirikan CV. Putra Jaya tahun 1995 di bidang penjualan alat-alat berat dengan pesero pengurus adalah AM dan pesero komanditer adalah MS (Tergugat I) dan BMM (Penggugat).

Tahun 2008, MS (Tergugat I) datang sebagai penghadap kepada Notaris Joni, ia menyampaikan bahwa telah terjadi perubahan pesero pada CV. Putra Jaya dengan perubahan MS (Tergugat I) keluar sebagai pesero, dan sebagai gantinya masuklah MM (dalam kasus ini MM merupakan ayah kandung dari MS) sebagai pesero komanditer baru sehingga pesero komanditer menjadi BMM (Penggugat) dan MM (pada saat perkara berlangsung MM telah meninggal dunia terlebih dahulu tahun 2012).

Tergugat I MS datang sebagai penghadap seorang diri kepada Notaris Joni, menurut keterangan MS bahwa ia bertindak untuk dirinya

sendiri dan selaku kuasa yang disampaikan secara lisan saja oleh pesero lainnya, yaitu BMM (Penggugat), AM dan (alm) MM.

Perubahan pesero tersebut akhirnya dibuatkan dalam Akta Notaris Joni, Notaris di Kota Sampit, Kalimantan Tengah dengan akta Nomor 20 tanggal 28 Oktober 2008 tentang “masuk dan keluar sebagai pesero serta perubahan anggaran peseroan CV. Putra Jaya”. Bahwa menurut Notaris Joni, Tergugat I yang menyatakan telah mendapat kuasa lisan dari semua pesero juga membawa salinan akta pendirian CV. Putra Jaya yang sebelumnya, sehingga meyakinkan Notaris Joni atas kebenarannya.

Menurut keterangan Penggugat, bahwa ia telah tinggal di Jakarta dan ia memang masih sebagai pesero dalam CV. Putra Jaya, tetapi ia tidak mengetahui bahwa telah terjadi perubahan kepengurusan pesero yang perubahan tersebut ia dengar dari adiknya FEM, setelah diselidiki oleh FEM ternyata memang ada akta perubahan tersebut yang dibuat oleh Notaris Joni, dan disebutkan Penggugat ada memberikan kuasa secara lisan kepada Tergugat I, maka seharusnya Notaris menanyakan langsung kepada pemberi kuasa tentang kebenaran kuasa lisan tersebut. Penggugat juga tidak pernah sekalipun memberi kuasa baik secara tertulis apalagi secara lisan untuk melakukan perbuatan hukum sebagaimana dinyatakan dalam akta Tergugat II tersebut. Oleh karena ketiadaan kuasa, Penggugat menyatakan pernyataan dan/atau kesepakatan yang mengatasnamakan Penggugat adalah tidak benar dan cacat hukum.

Berdasarkan kesaksian lain yang diungkap oleh AM selaku pesero pengurus bahwa ternyata ia hanyalah sebagai karyawan biasa saja dan tidak mengetahui tujuan ia diangkat sebagai Direktur. Kemudian AM telah keluar dari pesero sejak tahun 1999, namun perubahan kepengurusan baru dibuat di tahun 2008, dan pengurusan itu di bawah Notaris Y dan ia hanya tanda tangan saja, tetapi bukan Notaris Joni. Terhadap akta Notaris Joni yang mencantumkan namanya, ia baru mengetahui setelah bermasalah dan tidak pernah hadir serta memberikan kuasa kepada siapapun seperti yang disebut dalam akta.

Adapun gugatan dari penggugat ialah sebagai berikut :

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

2. Menyatakan batal dan/atau batal demi hukum Akta Notaris Joni, SH.,MH., nomor 20 tanggal 28 Oktober 2008 tentang "masuk dan keluar sebagai persero serta perubahan anggaran perseroan CV.

Putra Jaya" karena cacat hukum dan/atau melanggar peraturan perundangan yang berlaku dan/atau melanggar peraturan hukum tentang syarat sahnya perikatan.

3. Menghukum Tergugat II untuk menarik/mencoret/menghapus Akta Notaris Joni, SH.,MH., nomor 20 tanggal 28 Oktober 2008 tentang

"masuk dan keluar sebagai persero serta perubahan anggaran perseroan CV. Putra Jaya" dari minuta/daftar buku/register yang dipergunakan untuk itu.melanggar peraturan perundangan yang

berlaku dan/atau melanggar peraturan hukum tentang syarat sahnya perikatan.

4. Menghukum Tergugat II untuk menarik/mencoret/menghapus Akta Notaris Joni, SH.,MH., nomor 20 tanggal 28 Oktober 2008 tentang

"masuk dan keluar sebagai persero serta perubahan anggaran perseroan CV. Putra Jaya" dari minuta/daftar buku/register yang dipergunakan untuk itu.

5. Menyatakan putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu (uitvoerbaar bij voorraad) meskipun ada upaya hukum verzet,

banding maupun kasasi;

6. Menghukum para tergugat untuk membayar biaya perkara.

Bahwa terhadap gugatan dari penggugat BMM tersebut, Pengadilan Negeri Sampit telah mengambil putusan nomor 08/Pdt.G/2016/PN.Spt pada hari Kamis, tanggal 9 Juni 2016, yang amarnya sebagai berikut :

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;

2. Menyatakan Batal dan/atau Batal Demi Hukum Akta Notaris Joni, SH.,MH., nomor 20 tanggal 28 Oktober 2008 tentang "masuk dan keluar sebagai persero serta perubahan anggaran perseroan CV. Putra Jaya" karena cacat hukum dan/atau melanggar peraturan perundangan yang berlaku dan/ atau melanggar peraturan hukum tentang syarat sahnya perikatan.

3. Menghukum Tergugat II untuk menarik/mencoret/ menghapus Akta Notaris Joni, SH.,MH., nomor 20 tanggal 28 Oktober 2008 tentang

"masuk dan keluar sebagai persero serta perubahan anggaran perseroan CV. Putra Jaya" dari minuta/daftar buku/register yang dipergunakan untuk itu.

4. Menghukum Para Tergugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 1.523.000,- (satu juta lima ratus dua puluh tiga ribu rupiah.

5. Menolak gugatan Penggugat untuk selebihnya.

Atas putusan Pengadilan Negeri Sampit putusan Nomor 08/Pdt.G/2016/PN.Spt pada hari Kamis, tanggal 13 Juni 2016 yang telah diberitahukan kepada para Tergugat, maka Tergugat II mengajukan banding ke Pengadilan Negeri Tinggi Palangkaraya, atas permohonan banding dari Tergugat II tersebut maka Pengadilan Tinggi Palangkaraya melalui Putusan Nomor 62/PDT/2016/PT PLK ,pada hari Kamis tanggal 10 November 2016 mengeluarkan amar putusan sebagai berikut :

1. Menerima permohonan banding dari Pembanding semula Tergugat II;

2. Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Sampit Nomor 08/Pdt.G/2016/PN.Spt, tanggal 13 Juni 2016 yang dimintakan banding tersebut;

3. Menghukum Pembanding semula Tergugat II dan turut Terbanding semula Tergugat I untuk membayar seluruh ongkos perkara yang timbul dalam kedua tingkat peradilan , yang dalam tingkat banding ditetapkan Rp 150.000, 00 (seratus lima puluh ribu rupiah);

Setelah putusan banding yang dikeluarkan oleh Pengadilan Tinggi Palangkaraya, maka Tergugat II mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung,

namun permohonan kasasi tersebut ditolak dengan Nomor 1117K/Pdt/2017/ pada hari Selasa, tanggal 1 September 2017, yaitu :

1. Menolak permohonan kasasi dari Pemohon kasasi Notaris Joni tersebut;

2. Menghukum pemohon kasasi/Tergugat II/Pembanding untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini sebesar Rp.

500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).

2. Dasar Pertimbangan Hukum Majelis Hakim Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam Perkara Sengketa Pembatalan Akta yang Dibuat Berdasarkan Kuasa Lisan oleh Notaris pada PutusanNo. 08/Pdt.G/2016/PN.Spt

Majelis hakim Mahkamah Agung dalam mengadili perkara sengketa antara Penggugat BMM dengan Tergugat I MS dan Tergugat II Notaris Joni dalam pertimbangan hukumnya menyatakan bahwa dari hasil jawab menjawab antara Penggugat dan Tergugat II, maka dapatlah majelis menyimpulkan hal-hal yang menjadi pokok perselisihan antara Penggugat dengan Para Tergugat yaitu tentang proses pelaksanaan terbitnya Akta Notaris Joni tanggal 28 Oktober 2008, yang dilakukan oleh Tergugat I dan Tergugat II telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Kemudian perbuatan Tergugat I dan Tergugat II dalam proses terbitnya Akta Notaris Joni No. 20 tanggal 28 Oktober 2008 a quo adalah penyebab perubahan kepengurusan di dalam CV. Putra Jaya, sehingga Tergugat I dan Tergugat II telah melakukan perbuatan melawan hukum terhadap diri Penggugat. Penggugat dalam gugatannya menyatakan mempunyai suatu hak dan Tergugat II juga telah mendalilkan adanya suatu peristiwa atau

perbuatan hukum, maka menurut Hakim berdasarkan asas proporsional dalam beban pembuktian yang mendasarkan pada Pasal 283 Rbg Jo Pasal 1865 KUH Perdata yang berbunyi “Setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai sesuatu hak, atau guna menegakkan haknya sendiri maupun membantah sesuatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau peristiwa tersebut”. Berdasarkan kewajiban pembuktian yang ditentukan dalam Pasal 1865 KUH Perdata dimana setiap orang yang mendalilkan adanya suatu perbuatan hukum maka terhadap dirinya diwajibkan membuktikannya.

Penggugat dalam posita gugatan telah diuraikan tentang dimana Penggugat adalah sebagai pesero komanditer dalam CV. Putra Jaya yang telah memberikan kuasa lisan kepada Tergugat I untuk keluar dari persero pengurus, dan Penggugat merasa pelaksanaan kuasa lisan tersebut dilaksanakan atau dilakukan tanpa diketahui oleh Penggugat, sehingga dalam adanya Akta No. 20 tanggal 28 Oktober 2008 mengenai masuk dan keluar sebagai persero serta perubahan anggaran perseroan CV. Putra Jaya penggugat merasa dirugikan, maka dengan berpedoman kepada gugatan penggugat a quo, hakim hanya akan membuktikan tentang dalil gugatan penggugat yaitu kebenaran tentang kuasa lisan tersebut dari Penggugat kepada Tergugat I, bahwa ternyata masing-masing pihak telah mengemukakan dalil mengenai keluarnya Tergugat I dari anggota Pesero CV. Putra Jaya tidak ada kuasa lisan dari Penggugat sedang Tergugat II menyatakan bahwa akta yang terbit telah sesuai dengan ketentuan pada saat

itu Tergugat I telah mendapat kuasa lisan dan juga telah membawa salinan Akta Notaris Y No. 13 tanggal 8 Februari 1995.

Hakim melihat atau menemukan adanya persangkaan bahwa adanya cacat formil maupun materiel dalam akta notariel a quo, sehingga dengan demikian, terhadap akta notariel a quo, Majelis menilai akta notariel a quo merupakan akta autentik yang tidak memenuhi syarat formil dan materiel sebagai akta autentik serta tidak mempunyai kekuatan pembuktian sempurna sebagaimana dimaksud dalam Pasal 285 Rbg dan Pasal 1870 Jo Pasal 1871 KUHPerdata serta Yurisprudensi MARI No. 3917 K/Pdt/1986 tanggal 20 Desember 1988. Selanjutnya majelis hakim akan mempertimbangkan dalil-dalil bantahan Tergugat II sebagaimana dalam jawabannya yang menyangkal gugatan Penggugat dan sebaliknya mendalilkan bahwa tergugat I pada saat datang menghadap tergugat II selain menyatakan bahwa ia (Tergugat I) telah mendapat kuasa lisan juga telah membawa salinan Akta Notaris Y Nomor : 13 tanggal 8 Feburari 1995. Maka tergugat II dapat meyakinkan akan kebenaran apa yang disampaikan oleh Tergugat I. Kemudian Tergugat II mendalilkan bahwa jika kuasa lisan tersebut tidak benar mengapa hanya Penggugat saja yang menggugat, sednagkan nama-nama yang tertulis di akta memberikan kuasa lisan tidak ikut menggugat.

Mencermati bukti surat dari Tergugat II, Hakim tidak melihat atau menemukan alat bukti lainnya dari Tergugat II yang dapat membuktikan bahwa Tergugat I telah mendapatkan kuasa lisan dari Penggugat maupun

saksi AM maupun MM karena setelah mencermati di dalam bukti T.II-1 maupun P-2 tidak dijelaskan waktu dan dimana Tergugat I menerima kuasa lisan yang dimaksud, sehingga dengan demikian Majelis Hakim tidak dapat menerima persangkaan telah benar Tergugat I menerima kuasa lisan karena secara nyata telah di bantah oleh Penggugat dan saksi AM sebagaimana telah diterangkan diatas. Oleh karena itu, Akta Notaris Joni No. 20 tanggal 28 Oktober 2008 menurut Majelis hakim tidak mempunyai kekuatan hukum adanya hubungan kausalitas antara kesalahan Tergugat I dan Tergugat II dengan akibat yang ditimbulkan dari kesalahan para Tergugat tersebut serta dengan kerugian yang dialami oleh adanya perubahan kepengurusan komanditer di CV. Putra Jaya tanpa diketahui oleh Penggugat dan pengurus lainnya dalam hal ini saksi AM, maka cukup beralasan bagi Majelis untuk menyatakan telah ada kerugian yang dialami oleh Penggugat akibat tindakan atau perbuatan yang telah dilakukan oleh Tergugat I dan tergugat II dengan adanya terbit Akta Notaris Joni, No. 20 tanggal 28 Oktober 2008, dimana seharusnya Tergugat I terlebih dahulu mendapat ijin dari kepengurusan CV. Putra Jaya serta Tergugat II sebelum menerbitkan akta tersebut harus meneliti kebenaran kuasa lisan kepada pihak pemberi kuasa bukan sepihak hanya mendengarkan dari tergugat I. Kemudian hakim menilai bahwa ada hubungan hukum antara Penggugat, Tergugat I dan Tergugat II, sehingga tidak ada kewajiban/keharusan semua pesero untuk menggugat. Secara umum gugatan ganti kerugian akibat perbuatan melawan hukum dapat berupa : penggantian uang, pemulihan pada keadaan

semula, larangan untuk mengulangi perbuatan itu lagi dan dapat minta putusan hakim bahwa perbuatannya adalah melawan hukum.

3. Analisis Dasar Pertimbangan Hukum dari Majelis Hakim dalam Memutuskan Perkara dalam Putusan Pengadilan No.

08/Pdt.G/2016/PN.Spt

Tanggung jawab yang dimiliki oleh notaris menganut prinsip tanggung jawab berdasarkan kesalahan (based on fault of liability), dalam pembuatan akta autentik, notaris harus bertanggung jawab apabila atas akta yang dibuatnya terdapat kesalahan atau pelanggaran yang disengaja oleh notaris.178 Apabila unsur kesalahan atau pelanggaran itu terjadi dari pihak penghadap, maka sepanjang notaris melaksanakan kewenangannya sesuai peraturan, notaris bersangkutan tidak dapat diminta pertanggungjawabannya, karena notaris hanya mencatat apa yang disampaikan oleh para pihak untuk dituangkan ke dalam akta. Keterangan palsu yang disampaikan oleh para pihak adalah menjadi tanggung jawab para pihak.179

Analisa dalam kasus ini, hakim mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian dan menghukum Notaris Joni untuk membatalkan aktanya serta menyatakan batal demi hukum akta Notaris Joni dengan beberapa pertimbangan hukum.

178 Kunni Afifah, Tanggung Jawab dan Perlindungan Hukum bagi Notaris secara Perdata Terhadap Akta yang Dibuatnya, Jurnal Lex Renaissance No. 1 Vol. 2, Januari 2017, h.

151,

179 Andi Mamminanga, Pelaksanaan Kewenangan Majelis Pengawas Notaris Daerah dalam Pelaksanaan Tugas Jabatan Notaris berdasarkan UUJN, Tesis, Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 2008, h. 32.

Pertama, Pasal 1793 KUHPerdata mengakui adanya kuasa dalam bentuk lisan, artinya secara yuridis sah saja penggunaan kuasa lisan ini.

Namun dalam kasus ini hakim memutuskan untuk membatalkan akta Notaris Joni karena para Tergugat tidak mampu membuktikan kebenaran kuasa lisan itu benar adanya berdasarkan keterangan dari penggugat bahwa Notaris Joni tidak pernah menanyakan kepada Penggugat tentang kebenaran kuasa yang disampaikan Tergugat I ketika menghadap.

Penggugat mengetahui telah ada perubahan pesero setelah beberapa tahun kemudian dan merasa dirugikan. Sehingga hakim memutuskan akta Notaris Joni batal demi hukum, yang artinya bahwa perbuatan hukum tersebut tidak pernah ada dan dalam hal ini akta Notaris Joni tidak memenuhi unsur akta dalam kekuatan pembuktian akta secara materiil. Kekuatan pembuktian secara materiil merupakan suatu kepastian bahwaa para pihak tidak hanya sekedar menghadap tetapi juga membuktikan bahwa mereka telah melakukan seperti apa yang tercantum dalam materi akta.180

Kedua, hakim tidak melihat atau menemukan alat bukti lainnya dari Tergugat II seperti saksi yang membuktikan kuasa lisan itu benar adanya serta tidak dijelaskan waktu dan dimana Tergugat I menerima kuasa lisan tersebut dan Tergugat II hanya membawa bukti berupa akta Notaris Joni yang dipermasalahkan saja, tanpa bukti lainnya, sehingga hakim tidak dapat menerima persangkaan dalam kasus ini. Persangkaan merupakan

180 Dedy Pramono, Kekuatan Pembuktian Akta yang Dibuat Oleh Notaris Selaku Pejabat Umum Menurut Hukum Acara Perdata di Indonesia, Jurnal Lex Jurnalica Vol 12 No. 3, Desember

kesimpulan yang ditarik dari suatu peristiwa yang telah dianggap terbukti ataupun peristiwa yang belum terbukti. Yang menarik kesimpulan ini adalah hakim atau undang-undang. Dalam hukum acara perdata, menarik persangkaan menurut undang-undang ini harus dianggap sebagai perbandingan saja, yang oleh hakim masih harus dipertimbangkan dalam suatu kasus tertentu berlaku ketentuan tersebut. Oleh karena persangkaan itu merupakan kesimpulan belaka, maka dalam hal ini yang dipakai sebagai alat bukti sebetulnya bukan persangkaan itu, melainkan alat-alat bukti lain misalnya surat-surat, kesaksian, atau pengakuan salah satu pihak yang membuktikan suatu peristiwa terang ternyata.181

Ketiga, hakim menilai adanya hubungan hukum antara Penggugat, Tergugat I dan Tergugat II, sehingga hakim memutuskan telah ada kerugian yang diderita Penggugat oleh karena terbitnya akta Notaris Joni tersebut.

Bahwa seharusnya Notaris sebelum menerbitkan akta harus meneliti kebenaran kuasa lisan kepada pihak pemberi kuasa. Menurut Rusiana Suryadi mengatakan bahwakecuali isi akta, setiap perbuatan yang dilakukan oleh notaris dapat dimintakan pertanggung jawabannya apabila ada suatu pelanggaran yang dilakukannya dan perbuatan tersebut menimbulkan kerugian bagi para pihak”.182 Notaris harus mempertanggung jawabkan atas kebenaran materiil suatu akta bila nasihat hukum yang diberikannya ternyata dikemudian hari merupakan suatu yang keliru.

Notaris sebagai pejabat pembuat akta autentik, jika terjadi kesalahan baik

181 M. Nur Rasaid, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, h. 42-43.

182

disengaja menjadi alasan bagi pihak yang menderita kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi dan bunga kepada notaris.183

Pertimbangan hakim untuk membatalkan akta autentik Notaris Joni sudah tepat. Adapun pertimbangan hukumnya karena Notaris Joni tidak dapat membuktikan bahwa kuasa lisan itu benar adanya. Secara hukum, penggunaan kuasa lisan dalam akta autentik memang sulit untuk dibuktikan di persidangan sebab kuasa ini hanya didasarkan pada kepercayaan semata.

Namun, seharusnya hakim juga mempertimbangkan dari segi prosedur pembuatan akta autentik itu sendiri, penggunaan kuasa lisan dalam akta autentik memang dikenal dalam KUHPerdata tetapi sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa penggunaan kuasa lisan ini boleh hanya untuk perbuatan hukum tertentu saja. Perbuatan hukum tersebut yaitu perbuatan hukum yang memberi keuntungan bagi si pemberi kuasa sehingga dapat meminimalisisr persengketaan. Untuk perbuatan hukum seperti perubahan anggaran dasar CV ini menimbulkan hak dan kewajiban terhadap pengurusan harta, sehingga penggunaannya dalam pembuatan akta autentik dapat menimbulkan akibat hukum yang bisa mengabaikan kepentingan salah satu pihak.

Pertimbangan hakim yang kedua ialah bahwa Notaris Joni tidak memiliki bukti lain, hanya akta Notaris Joni yang dibuat olehnya tanpa keterangan saksi dan lainnya. Berdasarkan Pasal 164 HIR menyebutkan bahwa alat bukti dalam perkara perdata terdiri atas bukti surat/tulisan, bukti

183

saksi, persangkaan, pengakuan, dan sumpah. Dalam praktek masih ada satu macam alat bukti lain yang dipergunakan, yaitu pengetahuan hakim, yaitu hal atau keadaan yang diketahuinya sendiri oleh hakim dalam sidang.184 Dalam hal ini keputusan hakim sudah tepat, sebab dalam hukum pembuktian kuasa lisan memang sangat lemah posisinya, tidak ada bukti tertulis, kemudian saksi juga sangat terbatas apabila kasus yang bersengketa jangka waktunya telah jauh setelah akta dibuat. Penggunaan kuasa lisan dalam akta autentik oleh Notaris Joni dapat dihubungkan dengan kewajiban notaris dalam Undang-Undang Jabatan Notaris Pasal 16 ayat (1) huruf a, notaris harus bertindak jujur, amanah dan seksama, maksudnya bahwa notaris harus memperhatikan prinsip kehati-hatian dalam pembuatan akta.

Adapun kelalaian yang dibuat oleh notaris dalam pembuatan akta, menjadikan akta tidak dapat menjadi alat bukti di persidangan sehingga mengakibatkan akta dapat dibatalkan oleh pengadilan. Batalnya akta tersebut dapat dimintai pertanggungjawaban oleh notaris karena merugikan salah satu pihak.

Pertimbangan hukum hakim yang ketiga sudah tepat bahwa notaris dapat diminta pertanggungjawaban atas dasar telah melakukan perbuatan melawan hukum yakni melakukan perbuatan yang memenuhi keseluruhan unsur Pasal 1365 KUHPerdata, seorang notaris digolongkan sudah melakukan tindakan melanggar hukum karena melakukan perbuatan bertentangan dengan kewajiban hukum dari si pembuat, yakni membuat

184 M. Nur Rasaid, Op.cit, h.37.

akta tidak sesuai dengan prosedur pembuatan akta bentuk maupun sifatnya.

Notaris bertanggung jawab bukan hanya menurut kehendak pihak pengguna jasa notaris, tetapi juga harus mengedepankan logika hukum (kewajaran).

Notaris berkapasitas dalam mengarahkan materi akta supaya sesuai dengan kondisi riil dan tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan serta ketertiban. Kemudian dilanjutkan dengan mengumpulkan data/dokumen yang harus divalidasi keabsahannya. Konsekuensi hukumnya pun harus dijabarkan secara jelas dan tegas untuk menghindari ketidakpastian dalam aktanya.185

Perihal kerugian dalam perbuatan melanggar hukum secara perdata Notaris dapat dituntut untuk menggati kerugian-kerugian para pihak yang berupa kerugian materiil dan dapat pula berupa kerugian immaterial.

Kerugian dalam bentuk materiil, yaitu kerugian yang jumlahnya dapat dihitung biasanya diberikan dalam bentuk uang dan barang, sedangkan kerugian immaterial, jumlahnya tidak dapat dihitung.186 Dengan adanya akta notaris yang batal demi hukum, mengakibatkan timbulnya suatu kerugian, sehingga unsur harus ada kerugian telah terpenuhi.

Putusan hakim dalam hal membatalkan akta Notaris Joni sudah tepat, sebab sesuai dengan asas ultra petita yaitu hakim tidak boleh memutus perkara melebihi gugatan. Dalam gugatan, si Penggugat tidak ada

185Emeralda Karissa Moyambo, loc.cit.

186 Hetty Hasanah, Analisis Hukum Tentang Perbuatan Melawan Hukum dalam Transaksi Bisnis Secara Online (E-Commerce) Berdasarkan Burgerlick Wetbook dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Jurnal Wawasan Hukum Vol.

meminta ganti kerugian secara materiil. Penggugat mempermasalahkan adanya perubahan pesero yang tidak diketahui olehnya, sehingga Penggugat menyangkal kuasa lisan atas namanya untuk merubah susunan pesero itu tidaklah benar dan Penggugat merasa itu merugikan dirinya. Penggantian kerugian tidaklah diatur secara tegas dalam undang-undang, sehingga menurut hemat Majelis aturan yang dapat diterapkan terhadap permasalahan tersebut secara analogis dapatlah dipergunakan ketetentuan ganti kerugian akibat wanprestasi. Secara umum gugatan ganti kerugian akibat perbuatan melawan hukum dapat berupa : penggantian uang, pemulihan pada keadaan semula, larangan untuk mengulangi perbuatan itu lagi dan dapat minta putusan hakim bahwa perbuatannya adalah melawan hukum.187 Ganti kerugian dalam kasus ini ialah pemulihan keadaan semula, yaitu akta perubahan batal demi hukum sehingga akta kembali kepada akta sebelumnya, hal ini berarti pesero kembali kepada pesero awal.

B. Tanggung Jawab Notaris Terhadap Akta Autentik yang Dibatalkan