• Tidak ada hasil yang ditemukan

III KERANGKA PEMIKIRAN

3.2. Studi Kelayakan Bisnis

Bisnis adalah seluruh kegiatan yang diorganisasikan oleh orang-orang yang berkecimpung di dalam bidang perniagaan (produsen, pedagang, konsumen, dan industri di mana perusahaan berada) dalam rangka memperbaiki standar serta kualitas hidup mereka (Umar 2007). Studi kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu kegiatan atau usaha atau bisnis yang akan dijalankan, dalam rangka menentukan layak atau tidak usaha tersebut dijalankan (Kasmir 2003). Sementara itu, menurut Umar (2007), studi kelayakan bisnis merupakan penelitian terhadap rencana bisnis yang tidak hanya menganalisis layak atau tidak layak bisnis dibangun, tetapi juga saat dioperasionalkan secara rutin dalam rangka pencapaian keuntungan yang maksimal untuk waktu yang tidak ditentukan. Sedangkan Subagyo (2007) menyebutkan studi kelayakan bila diletakkan pada objek pendirian sebuah usaha baru disebut studi kelayakan proyek. Jika objeknya adalah pengembangan usaha, berarti usaha sudah berjalan, namun direncanakan ada pengembangan studi kelayakannya disebut studi kelayakan bisnis.

Investasi adalah keputusan mengeluarkan dana pada saat sekarang ini untuk membeli aktiva riil (tanah, rumah, mobil dan sebagainya) atau aktiva keuangan (saham, obligasi, reksadana, wesel dan sebagainya) dengan tujuan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar dimasa yang akan datang (Haming & Basalamah 2010). Menurut Husnan dan Suwarsono (1994), tahap-tahap untuk melakukan investasi usaha adalah sebagai berikut :

1) Identifikasi

Pengamatan dilakukan terhadap lingkungan untuk memperkirakan kesempatan dan ancaman dari usaha tersebut.

2) Perumusan

Tahap perumusan merupakan tahap untuk menerjemahkan kesempatan investasi ke dalam suatu rencana proyek yang konkrit, dengan faktor-faktor yang penting dijelaskan secara garis besar.

3) Penilaian

Penilaian dilakukan dengan menganalisis dan menilai aspek pasar, teknik, manajemen, dan finansial.

4) Pemilihan

Pemilihan dilakukan dengan mengingat segala keterbatasan dan tujuan yang akan dicapai

5) Implementasi

Implementasi yaitu melaksanakan proyek tersebut dengan tetap berpegang pada anggaran.

3.3. Aspek-Aspek Studi Kelayakan Bisnis

Dalam menganalisis suatu proyek yang efektif harus mempertimbangkan aspek-aspek yang saling berkaitan secara bersama-sama menentukan bagaimana keuntungan yang diperoleh dari suatu penanaman investasi tertentu dan mempertimbangkan seluruh aspek tersebut pada setiap tahap dalam perencanaan proyek dan siklus pelaksanaannya (Gittinger 1986). Aspek-aspek tersebut antara lain :

1) Aspek pasar

Aspek pasar dan pemasaran merupakan aspek yang paling utama dan pertama dilakukan dalam pengkajian usulan proyek investasi, alasannya adalah tidak akan mungkin suatu proyek didirikan dan dioperasikan jika tidak ada pasar yang siap menerima produk perusahaan tersebut (Suratman 2002). Pemasaran meliputi keseluruhan sistem yang berhubungan dengan kegiatan usaha yang bertujuan merencanakan, menentukan harga hingga mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang akan memuaskan pembeli ( Umar 2007).

2) Aspek teknis

Kajian aspek teknis dan teknologi menitikberatkan pada penilaian atas kelayakan proyek dari sisi teknis dan teknologi. Penilaian meliputi penentuan lokasi proyek, penentuan model bangunan proyek, pemilihan mesin, peralatan lainnya, teknologi yang diterapkan, dan lay out serta penentuan skala operasi (Suratman 2002).

3) Aspek manajemen

Untuk menyusun studi kelayakan, menjalankan proyek, dan mengoperasikan bisnis diperlukan manajemen. Proses pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki organisasi atau perusahaan tidak akan optimal apabila prinsip- prinsip manajemen tidak diterapkan secara konsisten. Pada setiap kegiatan, perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian harus dijalankan secara berkesinambungan (Subagyo 2007). Aspek manajemen perlu dikaji agar proyek yang didirikan dan dioperasikan nantinya dapat berjalan dengan lancar (Suratman 2002).

4) Aspek sosial dan lingkungan

Aspek sosial, ekonomi dan lingkungan mengkaji tentang dampak proyek terhadap kehidupan masyarakat setempat baik dari sisi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dari sisi ekonomi apakah keberadaan proyek dapat merubah atau justru mengurangi income per capita penduduk setempat. Dari sisi sosial apakah dengan adanya proyek tersebut wilayah setempat menjadi semakin ramai, lalu lintas semakin lancar, adanya jalur komunikasi, penerangan listrik dan lain sebagainya (Suratman 2002). Sementara itu analisis mengenai dampak lingkungan harus dilakukan agar kualitas lingkungan tidak rusak dengan beroperasinya proyek-proyek industri (Umar 2007).

5) Aspek hukum

Usaha dapat dikatakan legal jika telah mendapatkan izin usaha dari pemerintah daerah setempat melalui instansi, lembaga, departemen atau dinas terkait. Analis dan investor perlu memerhatikan sumber legal dari kelompok masyarakat (Subagyo 2007).

6) Aspek finansial

Tujuan menganalisis aspek finansial dari suatu studi kelayakn proyek bisnis adalah untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan, dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan, seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan proyek untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah proyek akan dapat berkembang terus (Umar 2007).

Untuk dapat menentukan apakah suatu proyek investasi dapat dikatakan layak diperlukan teknik-teknik kriteria penilaian investasi yang didasarkan pada estimasi aliran kas proyek yang bersangkutan (Suratman 2002). Pada umumnya ada beberapa metode yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian aliran kas dari suatu investasi, yaitu metode Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit/Cost (Net B/C), Break Event Point (BEP),

Payback Period (PBP), analisis sensitivitas (Umar 2007). 3.4. Teori Biaya dan Manfaat

Dalam menganalisis suatu proyek tujuan analisis harus disertai dengan definisi biaya dan manfaat. Biaya diartikan sebagai salah satu yang mengurangi suatu tujuan, sedangkan manfaat adalah segala sesuatu yang membantu terlaksananya suatu tujuan (Gittinger 1986). Biaya dapat juga didefinisikan sebagai pengeluaran atau korbanan yang dapat menimbulkan pengurangan terhadap manfaat yang diterima. Biaya dapat dibedakan sebagai berikut :

1) Biaya modal merupakan dana untuk investasi yang penggunaannya bersifat jangka panjang, seperti tanah, bangunan, pabrik, dan mesin.

2) Biaya operasional atau modal kerja merupakan kebutuhan dana yang diperlukan pada saat proyek mulai dilaksanakan, seperti biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja.

3) Biaya lainnya, seperti pajak, bunga, dan pinjaman.

Manfaat dapat diartikan sebagai suatu yang dapat menimbulkan kontribusi terhadap suatu proyek. Manfaat proyek dapat dibedakan menjadi :

1) Manfaat langsung yaitu manfaat yang secara langsung dapat diukur dan dirasakan sebagai akibat dari investasi seperti peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja.

2) Manfaat tidak langsung yaitu manfaat yang secara nyata diperoleh dengan tidak langsung dari proyek dan bukan merupakan tujuan utama proyek, seperti rekreasi.

Kriteria yang biasa digunakan sebagai dasar persetujuan atau penolakan suatu proyek yang dilaksanakan adalah kriteria investasi. Dasar penilaian investasi adalah perbandingan antara jumlah nilai yang diterima sebagai manfaat dari investasi tersebut dengan manfaat dalam situasi tanpa proyek. Nilai perbedaannya adalah berupa tambahan manfaat bersih yang akan muncul dari investasi dengan adanya proyek (Gittinger 1986).

3.5. Analisis Kelayakan Investasi

Kriteria investasi digunakan untuk mengukur manfaat yang diperoleh dan biaya yang dikeluarkan dari suatu proyek. Dalam mengukur manfaat suatu proyek dapat digunakan dua cara. Yang pertama dengan menggunakan perhitungan berdiskonto, yaitu suatu teknik yang dapat menurunkan manfaat yang diperoleh pada masa yang akan datang dan arus biaya menjadi nilai biaya pada masa sekarang dan yang kedua menggunakan perhitungan tidak berdiskonto. Perbedaan dua cara ini terletak pada konsep Time Value of Money yang digunakan pada model perhitungan berdiskonto. Model perhitungan tidak berdiskonto memiliki kelemahan umum dibandingkan perhitungan berdiskonto yaitu ukuran tersebut belum mempertimbangkan secara lengkap mengenai lamanya arus manfaat yang diterima (Gittinger 1986).

Konsep Time Value of Money menyatakan bahwa nilai sekarang (present value) adalah lebih baik daripada nilai yang sama pada masa yang akan datang (future value) yang disebabkan dua hal, yaitu: 1) time preference (sejumlah sumber yang tersedia untuk dinikmati pada saat ini lebih disenangi dibandingkan jumlah yang sama yang tersedia di masa yang akan datang), 2) Produktifitas atau efisiensi modal (modal yang dimiliki saat ini memiliki peluang untuk mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang melalui kegiatan yang produktif) yang berlaku baik secara perorangan maupun bagi masyarakat secara keseluruhan (Kadariah 2001).

Kedua unsur tersebut berhubungan secara timbal balik di dalam pasar modal untuk menentukan tingkat harga modal yaitu tingkat suku bunga, sehingga

dengan tingkat suku bunga dapat dimungkinkan untuk membandingkan arus biaya dan manfaat yang penyebarannya dalam waktu yang tidak merata. Untuk tujuan itu, tingkat suku bunga ditentukan melalui proses discounting (Kadariah 2001). 3.6. Analisis Finansial

Analisis finansial adalah suatu analisis yang membandingkan antara biaya dan manfaat untuk menentukan apakah suatu proyek akan menguntungkan selama umur proyek (Husnan & Suwarno 1994). Analisis finansial terdiri dari :

1) Net Present Value (NPV) atau Nilai Bersih Sekarang.

Net Present Value merupakan selisih antara Present Value dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih dimasa yang akan datang (Umar 2007). Perhitungan NPV dilakukan untuk mengetahui keuntungan bersih yang diperoleh dari usaha Peternakan Domba Tawakkal dan usaha ini layak jika nilai NPV yang diperoleh lebih besar dari nol.

2) Internal Rate of Return (IRR) atau Tingkat Pengembalian Internal.

Metode ini digunakan untuk mencari tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan dimasa yang akan datang, atau penerimaan kas dengan mengeluarkan investasi awal. Nilai IRR dapat dicari secara trial and error (Umar 2007). Usaha dikatakan layak, jika nilai IRR yang diperoleh lebih besar atau sama dengan tingkat discount rate yang digunakan (IRR discount rate).

3) Net Benefit/Cost (Net B/C) atau Rasio Keuntungan/Biaya

Merupakan rasio antara manfaat bersih yang bernilai positif dengan manfaat bersih bernilai negatif. Dengan kata lain, manfaat bersih yang menguntungkan bisnis yang dihasilkan terhadap setiap satu satuan kerugian dari bisnis tersebut ( Nurmalina et al. 2009)

4) Payback Period atau pemulihan investasi

Metode ini mencoba mengukur seberapa cepat investasi bisa kembali. Bisnis yang payback periodnya singkat atau cepat pengembaliannya termasuk kemungkinan akan dipilih Nurmalina et al. 2009). Usaha ini dikatakan layak jika nilai PP kurang dari umur bisnis Peternakan Domba Tawakkal (PP < umur usaha).

3.7. Analisis Sensitivitas

Analisis senstivitas dilakukan untuk meneliti kembali analisis kelayakan proyek yang telah dilakukan, tujuannya yaitu untuk melihat pengaruh yang akan terjadi apabila keadaan berubah. Hal ini merupakan suatu cara untuk menarik perhatian pada masalah utama proyek yaitu proyek selalu menghadapi ketidakpastian yang dapat terjadi pada suatu keadaan yang telah diramalkan (Gittinger 1986).

Salah satu keuntungan analisis proyek secara finansial ataupun ekonomi yang dilakukan secara teliti adalah bahwa dari hasil analisis tersebut dapat diketahui atau diperkirakan kapasitas hasil proyek bila terjadi hal-hal di luar jangkauan asumsi yang telah dibuat pada waktu perencanaan. Analisis sensitivitas adalah meneliti kembali suatu analisis untuk dapat melihat pengaruh-penngaruh yang akan terjadi akibat keadaan yang berubah-ubah (Gittinger 1986). Sementara menurut Kadariah (2001), yang dimaksud dengan analisis kepekaan atau sensitivitas adalah suatu teknik analisis untuk menguji secara sistematis apa yang terjadi pada kapasitas penerimaan suatu proyek apabila terjadi kejadian-kejadian yang berbeda dengan perkiraan yang dibuat dalam perencanaan.

Gittinger (1986) menambahkan proyeksi selalu menghadapi ketidakpastian yang dapat saja terjadi pada keadaan yang telah diperkirakan. Pada bidang pertanian terdapat empat masalah utama yang sensitif yaitu: (1) harga, (2) keterlambatan pelaksanaan, (3) kenaikan biaya, dan (4) hasil analisis sensitivitas dapat dilakukan dengan pendekatan nilai pengganti (switching value) dan dilakukan secara coba-coba terhadap perubahan-perubahan yang terjadi sehingga dapat diketahui tingkat kenaikan ataupun penurunan maksimum yang boleh terjadi agar NPV sama dengan nol.

3.8. Arus Kas (Cash Flow)

Cash flow merupakan arus kas atau aliran kas yang ada di perusahaan dalam suatu periode tertentu. Dalam cash flow semua data pendapatan yang diterima (cash in) dan biaya yang dikeluarkan (cash out) baik jenis maupun jumlahnya diestimasi sedemikian rupa, sehingga menggambarkan kondisi pemasukan dan pengeluaran di masa yang akan datang (Kasmir 2003). Cash flow

dengan pengeluaran investasi, operasional cash flow berkaitan dengan operasional usaha dan Terminal cash flow berkaitan dengan nilai sisa aktiva yang dianggap tidak memiliki nilai ekonomis lagi (Umar 2007).

3.9. Kerangka Pemikiran Operasional

Kapasitas kandang domba yang dimiliki oleh Peternakan Domba Tawakkal saat ini adalah 1200 ekor domba ekor tipis dan domba lokal dengan jumlah kandang yaitu tiga kandang untuk breeding dan empat kandang untuk

fattening. Tingginya permintaan konsumen untuk domba baik domba hidup maupun dalam bentuk karkas memberikan peluang bisnis bagi Peternakan Domba Tawakkal. Permintaan domba untuk kawasan Bogor dan sekitarnya sekarang ini mencapai 110 ekor per hari dan hanya dapat penuhi sebanyak 15 ekor saja.

Dengan kondisi seperti ini, perusahaan ingin melakukan pengembangan investasi yaitu penambahan jumlah kandang sebanyak tiga unit dan pembelian tanah seluas 3000 m2

dengan kapasitas 900 ekor domba dengan harapan perusahaan mampu menambah supply atas permintaan domba.

Adanya pemikiran tersebut, maka perlu dilakukan kajian mengenai kelayakan pengembangan bisnis penggemukan domba baik dari segi non-finansial yang berkaitan dengan aspek pasar, aspek teknis, manajemen, sosial lingkungan dan juga dari aspek finansial. Kerangka pemikiran operasional dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional Kelayakan Pengembangan Bisnis Peternakan Domba Tawakkal Desa Cimande Hilir Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor

Tidak Layak Layak

Rekomendasi Peninjauan

Ulang Aspek Non- Finansial

Aspek Pasar Aspek Teknis Aspek Manajemen Aspek Hukum

Aspek Sosial dan Lingkungan

Aspek Finansial

NPV, IRR Net B/C, Payback Period

Adanya permintaan akan 110 ekor domba per hari dari daerah Bogor dan sekitarnya dan baru dapat dipenuhi sebanyak 15 ekor perhari

Akan dilakukan pengembangan bisnis yaitu berupa penambahan investasi tanah seluas 3000 m2 dan tiga unit kandang dengan kapasitas 900 ekor domba

Peternakan Domba Tawakkal

Analisis Sensitivitas (Switching Value)

Penurunan Harga Domba Jantan

Peningkatan Biaya Pakan Hijauan

IV METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Peternakan Domba Tawakkal, yang terletak di Jalan Raya Sukabumi, Desa Cimande Hilir No.32, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Perusahaan berjarak ± 300 meter dari pemukiman penduduk dengan lahan seluas 2 hektar yang berbatasan langsung dengan lembah Duhur di sebelah Barat, Desa Ciderum di sebelah Timur, serta Desa Caringin di sebelah Utara dan Selatan, Jawa Barat.

Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) karena perusahaan ini merupakan peternakan penggemukan domba dengan kapasitas terbesar di Kabupaten Bogor. Kegiatan pengumpulan data dilakukan selama bulan Januari sampai dengan Februari 2012.

4.2. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan pengelola yang sekaligus pemilik peternakan. Data primer yang didapat mencakup biaya- biaya yang dikeluarkan selama umur proyek, terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional serta penerimaan dari usaha peternakan domba.

Data sekunder merupakan data yang diperlukan dalam penelitian ini dan diperoleh dari studi literatur berbagai buku yang menjelaskan budidaya domba, penelitian terdahulu, bahan perkuliahan, akses internet, dokumen maupun catatan dari peternak serta berbagai informasi yang diperoleh dari instansi terkait seperti Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian RI, Badan Pusat Statistik, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, Direktorat Jenderal Peternakan, Food and Agriculture Organization dan Kementrian Pertanian,

4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif merupakan analisis yang dilakukan dengan cara deskriptif untuk menggambarkan sistem usaha dan aspek non finansial yang terdiri dari aspek pasar,aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum dan aspek sosial dan lingkungan dari Peternakan Domba Tawakkal.

Analisis secara kuantitatif digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan investasi. Metode kuantitatif yang akan digunakan adalah analisis kelayakan finansial berdasarkan kriteria Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return

(IRR), dan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Payback Period (PBP) dan analisis

Switching Value yang diolah dengan menggunakan program computer Microsoft Excel. Karena penggunaan sejumlah barang investasi yang memerlukan waktu pengembalian yang cukup panjang maka akan diperhitungkan konsep time value of money, dengan konsep ini penentuan nilai uang sekarang bila diketahui sejumlah nilai tertentu dimasa yang akan datang harus dilakukan dengan metode

discounting factor. Setelah kriteria kelayakan diperoleh melalui perhitungan cash flow, pengujian tingkat kepekaan akan dilihat dengan analisis sensitivitas.

4.4. Analisis Non Finansial

Analisis yang akan dilakukan terhadap aspek non finansial disesuaikan dengan skala usaha proyek, semakin besar skala usaha yang dilakukan maka analisis kelayakan non finansial juga akan semakin kompleks. Pada penelitian ini aspek yang akan dikaji adalah aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen dan aspek hukum.

a) Aspek Pasar

Suatu usaha dikategorikan layak untuk dijalankan dilihat dari aspek pasar dengan syarat jika tersedia pasar yang siap menerima produk perusahaan tersebut (Suratman 2002)

b) Aspek Teknis

Menurut Subagyo (2007) indikator suatu usaha dikatakan layak untuk dijalankan dari aspek teknis produksi adalah jika secara teknis usaha tersebut dapat dilakukan dan suistainable.

c) Aspek Manajemen

Suatu usaha dikatakan layak untuk dijalankan dari aspek manajemen jika perusahaan menerapkan prinsip-prinsip manajemen secara konsisten.

d) Aspek Hukum

Menurut Subagyo (2007) suatu usaha dikatakan layak secara aspek hukum jika usaha tersebut legal. Legal atau ilegalnya suatu perusahaan ditentukan oleh ada tidaknya surat izin untuk mendirikan usaha.

e) Aspek Sosial dan Lingkungan.

Menurut Gittinger (1988) suatu usaha dikatakan layak dari aspek sosial memberi dampak positif terhadap penghasilan negara, berpengaruh terhadap devisa negara, membuka peluang kerja, dan berdampak positif terhadap pengembangan wilayah dimana proyek dilaksanakan. Kelayakan dari aspek lingkungan dapat dilihat seberapa besar pengaruh bisnis tersebut terhadap sistem alami dan kualitas lingkungan. Dampak bisnis terhadap lingkungan akan menunjang kelangsungan suatu bisnis itu sendiri, apakah dengan adanya bisnis menciptakan lingkungan semakin baik atau rusk sebab tidak ada bisnis yang bertahan lama apabila tidak bersahabat dengan lingkungan (Nurmalina

et al. 2009).

4.5. Analisis Aspek Finansial

Untuk mengetahui kelayakan pengembangan usaha yang dilakukan Peternakan Domba Tawakkal, maka dilakukan perbandingan antara biaya dan manfaat kriteria kelayakan investasi yang digunakan antara lain Net Present Value

(NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C),

Payback Period (PP) dan analisis Switching Value. 4.5.1. Net Present Value (NPV)

Net Present Value (NPV) suatu proyek atau usaha adalah selisih antara nilai sekarang (present value) manfaat dengan arus biaya. NPV juga dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus kas yang ditimbulkan oleh investasi. Dalam menghitung NPV perlu ditentukan tingkat suku bunga yang relevan (Nurmalina et al. 2009). Secara matematis rumus menghitung NPV adalah sebagai berikut:

n t t t t i C B NPV 0 1 Keterangan :

Bt = manfaat yang diperoleh tiap tahun Ct = biaya yang dikeluarkan tiap tahun n = jumlah tahun

i = tingkat bunga (diskonto)

Kriteria investasi berdasarkan NPV yaitu:

NPV = 0, artinya proyek tersebut mampu mengembalikan persis sebesar modal. Dengan kata lain proyek tersebut tidak untung ataupun tidak rugi.

NPV > 0, artinya suatu proyek sudah dinyatakan menguntungkan dan dapat dilaksanakan.

NPV < 0, artinya proyek tersebut tidak menghasilkan nilai biaya yang dipergunakan. Dengan kata lain, proyek tersebut merugikan dan sebaiknya tidak dilaksanakan.

4.5.2. Net Benefit Cost Ratio (Net B-C Ratio)

Net Benefit and Cost Ratio (Net B/C) merupakan angka perbandingan antara jumlah nilai sekarang yang bernilai positif dengan jumlah nilai sekarang yang bernilai negatif. Dengan kata lain, manfaat bersih yang dihasilkan terhadap setiap satuan kerugian dari bisnis tersebut. Rumus untuk menghitung Net B/C adalah:

Net B/C

Keterangan :

Bt = manfaat pada tahun t Ct = biaya pada tahun t

n = umur bisnis ( sepuluh tahun ) i = discount rate (6,5 %)

Kriteria investasi berdasarkan Net B/C adalah:

Net B/C = 1, maka proyek tidak untung dan tidak rugi

Net B/C > 1, maka proyek menguntungkan

4.5.3. Internal Rate of Return (IRR)

IRR adalah tingkat rata-rata keuntungan intern tahunan bagi perusahaan yang melakukan investasi dan dinyatakan dalam satuan persen. Tingkat IRR mencerminkan tingkat suku bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan. Suatu investasi dianggap layak apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku dan sebaliknya jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku, maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan. Rumus untuk menghitung IRR adalah:

i i NPV NPV NPV i IRR ' ' Keterangan :

i = Discount rate yang menghasilkan NPV positif i = Discount rate yang menghasilkan NPV negatif NPV = NPV yang bernilai positif

NPV = NPV yang bernilai negatif

4.5.4. Tingkat Pengembalian Investasi (Payback Period)

Untuk melihat jangka waktu pengembalian suatu investasi dilakukan perhitungan dengan menggunakan metode Payback Period yang menunjukkan jangka waktu kembalinya investasi yang dikeluarkan melalui pendapatan bersih tambahan yang diperoleh dari usaha penggemukan domba. Rumus yang digunakan untuk menghitung jangka pengembalian investasi adalah:

Keterangan :

I = besarnya investasi yang dibutuhkan

Ab = benefit bersih yang dapat diperoleh pada setiap tahunnya

Pada dasarnya semakin cepat Payback Period menandakan semakin kecil risiko yang dihadapi oleh investor.

4.5.5. Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat dampak dari suatu keadaan yang berubah-ubah terhadap hasil suatu analisis. Tujuan analisis ini adalah untuk

melihat kembali hasil analisis suatu kegiatan investasi atau aktivitas ekonomi, apakah ada perubahan dan apabila terjadi kesalahan atau adanya perubahan di dalam perhitungan biaya atau manfaat. Analisis sensitivitas ini perlu dilakukan karena dalam kegiatan investasi, perhitungan didasarkan pada proyek-proyek yang mengandung ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang (Gittinger 1986).

Gittinger (1986) mengatakan bahwa suatu variasi pada analisis sensitivitas adalah nilai kepekaan (switching value). Pada analisis sensitivitas secara langsung memilih sejumlah nilai yang dengan nilai tersebut dapat dilakukan perubahan

Dokumen terkait