• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH DAN ASAL-USUL SI RAJA LONTUNG

8. Nan Tinjo

1.5 Metode Penelitian

1.5.1 Studi Kepustakaan

Studi pustaka diperlukan untuk melengkapi teori-teori yang berhubungan dengan topik penelitian penulis sehingga dapat menambah data yang kongkrit terhadap kebenaran penelitian. Adapun dalam proses kerjanya, langkah pertama yang penulis lakukan sebelum ke lapangan adalah melakukan studi pustaka dari berbagai buku terkait tentang judul penelitian. Diantara tulisan tersebut yang terkait dengan penelitian ini, khususnya tentang Ende Tarombo. Dalam hal ini, penulis mempelajari skripsi yang sudah pernah ditulis oleh sarjana Etnomusikologi, yaitu Tiolina Sinambela (1994) dengan judul Tarombo Dalam Gaya Nyanyian Pada Kebudayaan Etnis Batak Toba: Suatu kajian Musikologis dan Tekstual. Dalam skripsi ini dibahas tentang delapan Ende Tarombo pada masyarakat Batak Toba yang salah satunya adalah tentang Ende TaromboSi Raja Lontung. Untuk melakukan pendekatan etnomusikologis terhadap Ende TaromboSi Raja Lontung, penulis menggunakan Buku Alan P. Merriam dengan judul The Anthropology of Music. Evanston (1964), Buku William Malm Music Cultures of the pasific, The Near East, And Asia (1977). Dalam mempelajari garis keturunan Si Raja Lontung dan turunannya Buku W.M Hutagalung Pustaha Batak: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak (1991), dan beberapa buku terkait.

18 1.5.2 Kerja lapangan

Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain (Lonfland dalam Moleong, 1989). Selain kata-kata dan tindakan, perekaman audio ataupun materi musik juga menjadi sumber data yang utama dalam penelitian ini. Oleh karena itu penulis menggunakan dua teknik dalam pengumpulan data di lapangan yaitu:

1.5.2.1 Wawancara

Wawancara diperlukan untuk mendukung penelitian tentang analisis tekstual dan musikal Ende TaromboSi Raja Lontung oleh dua penyaji kemudian membandingkan garapan dari masing-masing penyaji. Dalam mengambil sumber data di lapangan penulis melakukan wawancara dengan budayawan, penyaji Ende Tarombo ini, seniman dan musisi tradisional Batak Toba maupun informan lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini. Adapun dalam penelitian lapangan disertai wawancara yang dilakukan penulis, wawancara yang dilakukan adalah wawancara berfokus (focus interview) yaitu membuatpertanyaan selalu berpusat pada pokok permasalahan. Selain itu wawancara bebas (freeinterview) yaitu pertanyaan tidak hanya berfokus pada pokok permasalahan tetapi pertanyaandapat berkembang ke pokok permasalahan lainnya yang bertujuan untuk memperolehberbagai ragam data, namun tidak menyimpang dari pokok permasalahan (Koentjaraningrat1985:139). Hal ini penulis lakukan untuk

mendukung data yang telah diperoleh dari kerja lapangan maupun dari studi kepustakaan.

1.5.2.2 Perekaman

Perekaman sangatlah penting dalam penelitian untuk mengumpulkan data. Perekaman musik yang akan dilakukan penulis adalah dalam bentuk rekonstruksi. Sebagai alat bantu merekam hasil wawancara dan penyajian Ende TaromboSi Raja Lontung penulis menggunakan Handphone Oppo Neo 3 (r831k). Penulis akan merekam hasil wawancara dengan narasumber yang dilakukan di lapangan. Selain merekam hasil wawancara, penelitian ini juga akan merekam materi musik yang akan dianalisis teks serta musiknya. Untuk materi Ende TaromboSi Raja Lontung penulis mengambil sampel dari Marsius Sitohang, Trio Lasidos. Penulis akan merekam penyajian Ende TaromboSi Raja Lontung dari kedua penyaji tersebut secara langsung ke lapangan. Khusus untuk Ende TaromboSi Raja Lontung oleh Trio Lasidos, penulis melakukan pengamatan melalui CD (Compact Disk) dari album lagu Trio Lasidos Bersatu Kembali tahun 2011 dalam salah satu track lagunya yang berjudul Raja Lottung.

1.5.2.3 Kerja laboratorium

Untuk membahas permasalahan dalam penelitian yaitu tentang bagaimana aspek tekstual dan musikal serta komparasi Ende TaromboSi Raja Lontung oleh dua penyaji, peneliti melakukan kerja laboratorium. Maka keseluruhan data yang telah terkumpul dari lapangan, selanjutnya diproses dalam kerja laboratorium.

20

Data-data berupa gambar dan rekaman diteliti kembali sesuai ukuran yang telah ditentukan kemudian dianalisis seperlunya. Semua hasil pengolahan data tersebut disusun dalam satu laporan hasil penelitian berbentuk skripsi. (Meriam 1995:85). Dalam mendeskripsikan materi musik pada kerja laboratorium, terdapat dua pendekatan yang diungkapkan oleh Bruno Nettl (1964:98) yaitu:

1) Kita dapat menganalisis dan mendeskripsikan apa yang didengar, dan 2) Kita dapat dengan cara menuliskannya apa yang kita dengar tersebut diatas

kertas lalu mendeskripsikan apa yang kita lihat.

Dari kedua pendekatan tersebut penulis akan menggunakan pendekatan yang kedua dalam menganalisis teks dan musik Ende TaromboSi Raja Lontung oleh dua penyaji. Pendekatan pertama tidak dilakukan karena peneliti tidak mungkin hanya mengandalkan pendengaran dan daya ingat yang terbatas tanpa menuliskannya. Untuk mendeskripsikan bunyi musikal dari Ende TaromboSi Raja Lontung oleh dua penyaji, harus dilengkapi dengan analisis yang didasarkan atas materi yang terlihat dalam bentuk notasi. Oleh karena itu dalam kerja laboratorium penulis akan melakukan transkripsi. Transkripsi adalah proses memindahkan bunyi (menotasikan), mengalihkan bunyi yang didengar menjadi simbol visual.

1.5.2.3.1 Metode transkripsi

Dalam hal ini, Ende TaromboSi Raja Lontung oleh dua penyaji yang telah direkam kemudian ditranskripsikan dengan menggunakan sistem penulisan notasi Barat menggunakan program software Sibelius. Dalam penggunaan notasi Barat,

penulis memperhatikan pendapat Seeger (1958:184-195) yang membedakan dua notasi menurut tujuannya yaitu:

1) Notasi Preskriptif (prescriptive) yaitu notasi yang hanya menuliskan garis besar dari bunyi. Notasi ini merupakan pedoman bagaimana musik itu dapat diwujudkan oleh pemain musik.

2) Notasi Deskriptif (descriptive) yaitu laporan yang disertai notasi secara lengkap tentang bagaimana sebenarnya suatu musikal dalam suatu pertunjukan diwujudkan.

Dalam hal ini penulis akan menggunakan notasi preskriptif dalam pentranskripsian Ende TaromboSi Raja Lontung. Jadi notasi yang akan dituliskan adalah garis besar dari bunyinya saja sehingga dapat diketahui bagaimana musik itu dapat diwujudkan oleh penyaji musik Ende TaromboSi Raja Lontung.