• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untuk lebih memperdalam suara hati ini, maka akan diuraikan beberapa pokok yaitu: arti suara hati, kemutlakan suara hati, fungsi suara hati, suara hati yang keliru dan pembinaan suara hati.

1. Arti Suara Hati

Dalam Katekismus Gereja Katolik halaman 472 artikel 6, suara hati di namakan "hati nurani" dan lebih tepat lagi keputusan hati nurani. Buku Iman Katolik halaman 13, menyebut suara hati; keputusan suara hati, yang kiranya sama dengan kata hati. Yang lain lagi berbicara tentang angan-angan hati atau hati sanubari. Dalam tulisan ini penulis membatasi pada nama: keputusan suara hati sebagai terjemahan Indonesia dari istilah Latin "Judicium Conscientiae" atau istilah Inggris "(Judgment of) Conscience".

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hati diartikan sebagai sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian-pengertian; apa yang terasa dalam batin (KBBI, 1991:344). Para teolog moral sering melontarkan suara hati (conscientia)

ialah “Sebuah pertimbangan praktis dari akal budi untuk bertindak secara moral” (Mali, 2009:194). St. Agustinus berkata mengenai pengertian-pengertian spiritual

yang berkaitan dengan hati: mendengarkan, melihat, merasakan, membau, dan menyentuh dengan hati. Bagi Agustinus, Tuhan adalah hati, mata, suara, bau, dan makanan kita. Hati merupakan “gurun batin” di mana kita sendirian, dalam ketenangan, dengan Allah (Van Bavel, 2011:77-79).

Magnis Suseno merumuskan suara hati adalah:

Kesadaran dalam batin saya bahwa saya berkewajiban mutlak untuk selalu menghendaki apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab saya, bahwa dari kehendak itulah tergantung kebaikan saya sebagai manusia, dan bahwa hanya saya sendirilah dapat-dan berhak untuk-mengetahui apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab saya itu (Magnis-Suseno, 1985:54).

Suara hati adalah suatu keinsyafan batin yang mempengaruhi hati kita masing-masing serta menyatakan kepada kita entah suatu keinginan yang telah muncul itu baik atau tidak baik bagi manusia sebagai manusia (Van Paasen, 2002:1). Dalam buku Iman Katolik (KWI, 1996:13-14) dikatakan “Suara hati ialah kemampuan manusia untuk menyadari tugas moral dan untuk mengambil keputusan moral”. Suara hati bukanlah perintah langsung dari Tuhan, yang memberitahukan seseorang untuk melakukan apa yang harus dibuat sekarang ini.

Sehubungan dengan rumusan dalam buku Iman Katolik tersebut, Van Paasen (2002:3) menjelaskan pengertian tersebut menekankan bahwa “Suara hati adalah hasil otak dan hati manusia yang menilai baik buruknya keinginan kita dan menggerakkan kita agar melaksanakan keinginan yang dinilai baik serta tidak mengindahkan keinginan yang dinilai buruk”. Suara hati adalah kesadaran moral dalam situasi konkret sehingga kita bisa memilih antara melakukan yang benar dan melakukan yang tidak benar dan bahwa kita tidak boleh melakukan yang

tidak benar (Magnis-Suseno, 2006:177). Manusia sendiri harus membuat pertimbangan sebelum mengambil keputusan dalam hidupnya. Suara hati mengingatkan manusia serta menilai sarana dan tujuan manusia sesuai arah hidupnya. Suara hati menjadi pedoman dan penggerak bagi tindakan manusia.

Kita hidup tidak terlepas dari tuntutan-tuntutan lembaga-lembaga normatif, aturan-aturan, perintah, larangan dan kebiasaan dari berbagai pihak yang memang harus kita perhatikan, tetapi pada akhirnya kita sendirilah yang harus memutuskan apa yang menjadi kewajiban kita sesuai dengan suara hati kita.

Suara hati adalah pangkal otonomi manusia, pusat kemandiriannya, unsur yang tidak mengizinkan manusia menjadi pembeo atau kerbau yang mudah digiring menurut pendapat orang lain. Suara hati adalah piece de

resistence, unsur perlawanan yang akan mengganggu kerukunan dengan

fihak yang tidak benar. Suara hati membuat kita sadar bahwa kita selalu berhak untuk mengambil sikap sendiri, dan bahwa kewajiban untuk taat terhadap pelbagai otoritas dalam masyarakat selalu terbatas: suatu perintah melawan suara hati, dari mana pun datangnya, wajib kita tolak (Magnis-Suseno 1985:55).

Berhard Häring berpendapat “Suara hati adalah kekuatan yang dinamis yang hadir pada kehendak dan sekaligus pada akal budi dan bahkan berakar pada seluruh keberadaan manusia. Dinamika suara hati adalah reaksi dari seluruh personalitas manusia untuk menentukan suatu keputusan: baik atau jahat” (Mali, 2009:196).

2. Suara Hati Ragu-ragu

Sering kali kita ragu-ragu untuk mengambil keputusan, padahal sudah sampai saatnya keputusan harus diambil. Kita takut mengambil keputusan dan terus ragu-ragu. Menurut Franz Magnis–Suseno keragu-raguan dan tidak berbuat

apa-apa adalah pemecahan masalah paling buruk. Tipe orang seperti itu adalah tipe orang yang akan terus ragu-ragu dan tidak akan pernah memutuskan sesuatu. Dalam situasi tersebut dibutuhkan keberanian dan kepribadian yang kuat. Kalau memang tidak dapat ditunda lagi kita hendaknya berani mengambil keputusan.

Kalau tetap tidak jelas mana yang lebih baik dan mana yang lebih merugikan, maka kita bebas memilih salah satu. Daripada mengelak dari tanggung jawab dan menyembunyikan diri di belakang keragu-raguan itu, kita, kalau sudah tiba waktu keputusan harus diambil, memutuskan salah satu. Sekaligus kita sepenuhnya menyadari kemungkinan bahwa keputusan kita kurang baik. (Magnis-Suseno, 1985:73).

Kesadaran bahwa ada kemungkinan keputusan kita kurang baik atau mungkin berakibat negatif. Maka kita juga harus siap menanggung risiko. Kita harus bertanggung jawab dan dengan terbuka menerima teguran dan siap sedia mengambil tidankan selanjutnya untuk memperbaiki keadaan yang negatif tersebut.

3. Kemutlakan Suara Hati

Ada kalanya orang mengambil keputusan bukan menurut suara hatinya, melainkan menurut keinginan dan kesenangan orang lain. Sekali pun dia tahu keputusannya bertentangan dengan suara hatinya. Tetapi karena banyak orang mendukungnya, maka dia memilih untuk menyenangkan orang yang mendukungnya daripada menuruti suara hatinya.

Setiap orang wajib menaati suara hatinya, oleh sebab itu suara hati tidak dapat ditawar-tawar oleh segala pertimbangan untung-rugi, kepentingan maupun kesenangan seseorang. “Suara hati memuat tuntutan mutlak untuk selalu bertindak

dengan baik, jujur, wajar dan adil, apa pun biayanya dan apa pun pendapat lembaga-lembaga normatif” (Magnis-Suseno, 1985:57).

Kenyataan bahwa suara hati tidak dapat ditawar-tawar inilah yang menjadi ciri khas suara hati.

Maka dalam suara hati manusia sadar bahwa ia berada dibawah kewajiban mutlak untuk selalu memilih yang baik, benar, jujur, adil sesuai dengan janji, dsb., dan menolak yang kebalikannnya. Ia sadar bahwa ia mutlak wajib memilih nilai moral. Ia juga sadar bahwa ia tidak dapat melemparkan tanggungjawabnya atas pihak lain. Ia sendiri, secara individual, dituntut untuk menolak segala perbuatan yang tidak baik, tidak benar, tidak adil, dst (Magnis-Suseno, 2006:178).

Dalam setiap situasi, orang harus tetap melakukan apa yang disuarakan hatinya. Meskipun suara hati dapat keliru tetapi harus tetap ditaati karena: “Suara hati adalah kesadaran kita yang langsung tentang apa yang menjadi kewajiban kita” (Magnis-Suseno, 1985:54). Santo Agustinus menegaskan perbuatan melawan suara hati adalah dosa (Kiesser, 1987:112).

Suara hati bersifat mutlak, tidak dapat ditawar-tawar. Apakah ini berarti suara hati sama dengan suara Allah? Menjawab pertanyaan ini Franz Magnis-Suseno (1985:78) menjelaskan demikian: Suara hati dapat keliru, sedangkan Allah tidak dapat keliru, maka suara hati tidak begitu saja boleh disamakan dengan suara Allah. Suara hati kita tidak mutlak benar. Hanya Allah yang mutlak, maka kemutlakan suara hati menunjuk pada Allah. Kita mutlak terikat oleh suara hati karena:

“Penilaiannya-jadi penilaian kita sendiri-seakan-akan diadakan dihadapan tahta Allah. Seakan-akan dengan Allah sebagai saksi. Sehingga meskipun penilaiaan kita barangkali keliru, namun jelas jujur dan sungguh-sungguh. Karena kita melakukannya dalam kesadaran bahwa Allah menyaksikannya” (Magnis-Suseno, 1985:78).

Sehubungan dengan kemutlakan suara hati ini Franz Magnis-Suseno mengutip pandangan Kardinal John Henry Newman (1801-1890):

Suara hati sebagai jalan yang paling tepat untuk memahami bahwa Allah ada. Bahwa suara hati bicara dengan begitu tak tergoyahkan, tanpa menghiraukan segala macam pertimbangan dan kepentingan kita sendiri, jadi kemutlakan tuntutannya untuk melakukan apa yang disadari sebagai kewajiban kita, hanya dapat difahami kalau kita menerima adanya Yang Mutlak yang menyaksikan usaha kita. Kelihatan bahwa manusia pada dasar otonominya terbuka bagi yang mutlak (Magnis-Suseno, 1985:78).

4. Mempertanggungjawabkan Suara Hati

Di atas telah dijelaskan setiap orang wajib menaati suara hatinya. Apakah ini berarti suara hati selalu benar dan tidak pernah salah atau keliru? Franz Magnis-Suseno (1985:63) mengatakan: “Suara hati tidak mempunyai jaminan bahwa ia tidak pernah keliru”. Mengenai hal ini dalam Kompendium Katekismus

Gereja Katolik no 376, dijelaskan kemungkinan penyebab penilaian suara hati

yang salah tersebut:

Seseorang harus selalu menaati penilaian yang keluar dari suara hatinya, tetapi ada kemungkinan dia membuat penilaian yang salah karena alasan-alasan yang mungkin berasal dari orangnya. Tetapi kesalahan dari suatu tindakan buruk yang dilakukan karena ketidaktahuan yang tak sengaja tidak dapat ditimpakan kepadanya. Namun demikian, tindakan tersebut tetaplah buruk secara objektif. Karena itu, seseorang harus harus berusaha untuk memperbaiki kesalahan suara hati moralnya.

“Suara hati mengklaim rasionalitas dan objektivitas, maka ia harus dipertanggungjawabkan” (Magnis-Suseno, 1985:67). Kita harus terbuka bagi setiap argumen, sangkalan, pertanyaan dan keragu-raguan dari orang lain atau dari dalam hati kita sendiri. Apabila ternyata suatu pendapat moral kelihatan

sungguh-sungguh tidak dapat kita pertanggungjawabkan, kita harus bersedia untuk mencari orientasi baru (Magnis-Suseno, 1985:67).

Franz Magnis-Suseno (1985:71-72) menjelaskan manusia bisa saja keliru atau salah mengambil keputusan. Tetapi bukan berarti keputusan yang salah itu, secara moral salah juga. Kesalahan moral mungkin terletak dalam persiapan keputusan yang kurang dapat dipertanggungjawabkan.

Tetapi apabila keputusan itu betul-betul diambil diambil sesuai dengan apa yang pada saat itu disadari sebagai kewajiban, keputusan itu sendiri secara moral tidak bercacat. Akan tetapi, kalau keputusan yang secara objektif salah itu ternyata mempunyai akibat-buruk bagi orang lain, kita memang wajib berusaha untuk sedapat-dapatnya mengurangi akibat buruk itu. Jadi kita bertanggung jawab terhadap akibat keputusan kita. Kita tidak boleh cuci tangan dengan alasan bahwa kita sudah berusaha dengan sebaik-baiknya….. Meskipun keputusan sendiri secara moral tidak bercacat, tetapi kita tetap memikul tanggung jawab agar akibat-akibatnya sedapat-dapatnya tidak merugikan orang lain, atau kalau perlu untuk memulihkan keadaan semula (Magnis-Suseno, 1985:72).

5. Pembinaan Suara Hati

Keputusan suara hati kadang dapat keliru sehingga keputusan tersebut juga dapat berakibat negatif bagi orang lain. Agar suara hati dapat benar-benar memutuskan tindakan yang baik, suara hati harus dibina secara terus menerus. Sehubungan dengan pembinaan suara hati, Konsili Vatikan II mengingatkan kita melalui Dignitatis Humanae (Pernyataan tentang Kebebasan Beragama) yang berbunyi “Tetapi kaum beriman Kristiani dalam membentuk suara hati mereka wajib mengindahkan dengan seksama ajaran Gereja yang suci dan pasti. Sebab atas kehendak Kristus Gereja Katolik adalah guru kebenaran” (DH 14).

Dalam Kompendium Katekismus Gereja Katolik no. 374, dijelaskan: “Suara hati yang lurus dan benar dibentuk melalui pendidikan, penghayatan Sabda

Allah dan pengajaan Gereja, didukung oleh anugerah Roh Kudus dan dibantu oleh orang-orang bijak. Doa dan penelitian batin juga dapat sangat membantu pembentukan suara hati moral”. Sementara itu Mateus Mali (2009:197) berpendapat bahwa:

Suara hati menyadarkan manusia akan adanya keterbukaan si subjek itu sendiri untuk menerima orang lain di dalam dirinya. Kesadaran ini dalam iman lalu diterima sebagai kesatuan dengan Kristus yang memperdengarkan suara-Nya dan kita menanggapi suara-Nya itu dengan membiarkan diri dibuka oleh-Nya agar suara hati semakin hari semakin dibimbing kepada kepenuhan kebenaran.

Van Paasen, (2002:87) menegaskan suara hati bisa diperhalus lewat proses pembinaan:

Kehalusan suara hati berarti bahwa sebanyak mungkin segi dari suatu keinginan tertentu disadari sebelum perbuatan itu dilaskanakan. atau jika sudah terlaksana, maka dalam evaluasinya segi-segi lain itu ikut diinsafi pula. hal ini akan mendorong untuk menyesali perbuatan itu bukan semata-mata oleh karena telah membaawa kerugian bagi pelaku sendiri, melainkan pula karena merupakan suatu perbuatan anti sesama dan anti Tuhan, bahkan merugikan lingkungan hidup dan masa depan orang lain.

Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan untuk memperhalus suara hati adalah dengan pemeriksaan batin dalam ibadat tobat. Dalam pemeriksaaan batin serius terjadi suatu rethinking, suatu evaluasi atas perbuatannya. Segi atau akibat-akibat dari keputusan yang sebelumnya kurang jelas atau masih kabur dan kurang disadari sekarang menjadi jelas (Van Paasen, 2002:88).

Bernhard Kieser (1987:148-150) memaparkan beberapa gagasan teologi moral mengenai proses perkembangan suara hati dikaitkan dengan tahap-tahap perkembangan kepribadian:

a. Suara hati berkembang bila orang sanggup untuk mengakui dan membiarkan diri dibimbing oleh keputusannya:

Suara hati mulai berkembang bila orang bertekad untuk mempertimbangkan kelakuan dengan wajar dan untuk mengarahkan kelakuan dengan setia sesuai dengan keputusan suara hati. Kesetiaan terhadap suara hati tidak mengurung orang dalam egoisme. Tanggung jawab dalam suara hati menghadapkan orang kepada Allah, untuk menyerahkan diri kepada kehendak-Nya. Sikap moral sebagai ketaatan karena diancam hukum harus diatasi sebelumnya; begitu juga egoisme moral yang mencari pemenuhan kebutuhan sendiri. Kesetiaan akan suara hati menuntut lebih daripada hanya kerelaan untuk menolong, pengakuan terhadap tata keadilan sosial dan dan sikap solider. Kesetiaan akan suara hati mengandaikan kesanggupan untuk bertindak atas dasar keyakinan sendiri, atas dasar pengertian, didukung oleh alasan yang masuk akal, demi kepentingan semua dan secara konsisten (Kieser, 1987:148)

b. Suara hati dapat berkembang, jika ketergantungannya diakui dan diolah

Suara hati dipengaruhi oleh pandangan-pandangan moral, kebiasaan-kebiasaan dan sikap moral di lingkungan kita yang kita batinkan dan kita anggap “biasa”. Agar suara hati berkembang, kita berusaha bersikap terbuka, mau belajar serta membuat penilaian kritis terhadap segala sesuatu yang kita anggap “biasa” tersebut.

c. Mengembangkan kemahiran untuk menangkap nilai-nilai

Suara hati terbentuk dan semakin berkembang apabila kita mengembangkan kepekaan merasakan nilai dan makna dari tiap-tiap perbuatan yang kita lakukan. Oleh sebab itu dibutuhkan keterbukaan hati, keheningan dan membiarkan dunia dan lingkungan berbicara kepada kita sehingga kita mampu memaknai dan menilai setiap tindakan kita.

d. Membentuk suara hati selalu dihubungkan dengan kesadaran norma

Suara hati dibina dengan informasi luas yang menyangkut persoalan-persoalan hidup dan pendapat-pendapat moral. Kita perlu terbuka mendengarkan nasehat-nasehat, membaca dan menambah pengetahuan. Tetapi bukan berarti apa yang kita terima dan kita ketahui langsung diterapkan, melainkan untuk dipertimbangan dan pertimbangan kita semakain luas.

e. Suara hati dibina dengan latihan untuk mempertimbangkan nilai dalam kasus-kasus kompleks

Agar suara hati semakin terbina kita perlu mempertimbangkan nilai setiap tindakan yang akan kita lakukan. Nilai ini menjadi kerangka acuan setiap pemikiran dan keputusan yang akan kita ambil. Nilai ini membantu mengarahkan pikiran kita dalam melakukan pemilihan, dan hati yang melihat keputusan tidak sesuai dengan nilai akan merasa gelisah (Suparno, 2009:35-36).

f. Suara hati dibina berhadapan dengan Allah

Hati merupakan inti jiwa, kebahagiaan terdalam, kebenaran terdalam dan kesadaran batin kita. Dalam hati ini tidak ada keraguan lagi. Inilah sentuhan dari Tuhan sendiri pada jiwa kita. Oleh sebab itu suara hati harus didengarkan dalam keheningan doa, diam dan refleksi (Suparno, 2009:31).

Pembinaan suara hati orang beriman ditekankan dalam keterbukaan dan harapan hati manusia kepada Allah, sehingga keputusan suara hati semakin dialami sebagai hasil sentuhan Allah pada hati manusia (Kieser, 1987:148).

6. Keterkaitan Keputusan dan Suara Hati

Manusia mempunyai kemampuan untuk memutuskan, dia dapat melakukan sesuatu hal dengan kemampuan fisik yang dia miliki. Tetapi tidak semua hal yang mampu dilakukan boleh dilakukan. Yan van Paasen (2002:96-97) melihat perbedaan antara ‘dapat/mampu’ dengan ‘boleh’. Kata “dapat” berarti ada kemampuan dan keleluasaan fisik untuk melakukan sesuatu, sedangkan kata “boleh” berarti bahwa ada izin moral untuk melakukan sesuatu. Setiap orang memiliki kebebasan fisik yang tidak bisa dihancurkan. Jadi, setiap orang tetap mampu melawan suara hatinya.

Setiap orang yang dihadapkan pada tawaran dituntut keberaniannya untuk membuat keputusan menerima atau menolak. Tawaran itu bisa jadi baik atau buruk. Demikian juga keputusan yang diambil bisa berguna atau merugikan diri sendiri mau pun orang lain. Pengambilan keputusan dipengaruhi oleh faktor dari diri sendiri dan dari luar diri. Suara hati berperan untuk memurnikan keputusan dan mengarahkan orang untuk mengambil keputusan secara benar dan senantiasa terarah kepada Allah. Maka suara hati harus senantiasa dibina agar dari hari ke hari suara hati semakin memberi pengarahan dan penilaian yang semakin baik dalam pengambilan keputusan.  

BAB III

GAMBARAN TENTANG MEMANFAATKAN KISAH MISS PRYM

PADA BUKU PAULO COELHO THE DEVIL AND MISS PRYM

BAGI PEMBINAAN NOVIS KONGREGASI FRANSISKANES SANTA ELISABETH (FSE) MEDAN

Kongregasi FSE memberi perhatian kepada pembinaan para anggotanya oleh sebab itu pembinaan telah dimulai sejak calon diterima menjadi postulant. Setelah menjalani masa postulan, para postulan akan melanjutkan ke masa novisiat yang merupakan tahap permulaan menjalani hidup religius (Konst. no. 47). Sebagai calon religius mereka dibekali dengan pengetahuan mengenai pengambilan keputusan dan mendengarkan suara hati dalam kursus moral, latihan rohani dan retret, tetapi dalam kegiatan tersebut tidak dibahas secara mendalam pengetahuan mengenai pengambilan keputusan berdasarkan suara hati.

Dewasa ini berbagai tawaran menggiurkan dan menggoda juga masuk ke dalam biara. Tawaran yang sedemikian banyak menuntut para religius berani dan mampu mengambil keputusan yang benar sesuai dengan suara hatinya, sehingga keputusan tersebut mendukung kehidupannya sebagai religius. Oleh sebab itu perlulah para novis sebagai calon religius mengetahui dan memahami tentang pengambilan keputusan berdasarkan suara hati.

Kisah Miss Prym pada buku Paulo Coelho The Devil and Miss Prym adalah salah satu kisah pergulatan seorang perempuan muda dalam mengambil keputusan ketika menghadapi tawaran dan pilihan yang menggiurkan. Pada bab

tiga ini penulis ingin mengetahui kemungkinan memanfaatkan kisah Miss Prym bagi pembinaan novis FSE dalam pengambilan keputusan. Bab ini akan diawali dengan gambaran umum para novis Fransiskanes Santa Elisabeth (FSE), yang meliputi selayang pandang kongregasi FSE dan gambaran novis kongregasi FSE dan pada bagian kedua memuat penelitian tentang manfaat kisah Miss Prym bagi pembinaan novis Kongregasi FSE yang meliputi metodologi penelitian, hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian.

A. Gambaran Umum Novis Fransiskanes Santa Elisabeth

1. Selayang Pandang Kongregasi Fransiskan Santa Elisabeth (FSE)

Kongregasi FSE lahir berawal dari keberanian Sr. Mathilda Leenders mengambil keputusan untuk menerima tawaran dari uskup Breda Mgr. Henrikus van Beek. Pada tahun 1878-1879 di kota Breda negeri Belanda banyak orang sakit yang terlantar di rumah masing-masing tanpa mendapat perawatan. Mgr Henricus van Beek uskup Breda menangkap situasi itu. Maka beliau tergerak untuk mencari jalan keluar dengan mengetuk pintu biara-biara yang kiranya bersedia membantu beliau memulai karya merawat orang-orang sakit tersebut.

Mgr. Henricus menemui kesulitan dengan aturan biara-biara saat itu yang dikenal dengan clausura ketat sehingga tidak memungkinkan anggota biara melayani dari rumah ke rumah. Mgr Henricus akhirnya mengetuk biara

Fransiskan Alles Voor Allen/ Mater Dei yang juga bercirikan clausura dan

menawarkan karya pelayanan melayani orang sakit dari rumah ke rumah.

Sr. Alfonse, pemimpin biara Alles Voor Allen keberatan dan menolak tawaran tersebut dengan alasan tidak sesuai dengan Anggaran Dasar dan cara

hidup para suster Alles voor Allen. Tetapi Mgr. Henricus menjelaskan bahwa melayani orang sakit dari rumah ke rumah tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar.

Akhirnya pemimpin biara menyampaikan tawaran Mgr. Henricus kepada para susternya. Sr. Alfonse menegaskan tidak ada seorang suster pun yang diwajibkan menerima tawaran tersebut. Para suster yang mau menerima karya tersebut haruslah atas keputusan bebas mereka sendiri. Bagi para suster yang menerima tawaran tersebut harus melepaskan keanggotaannya dari biara Alles voor Allen/ Mater Dei.

Suster Mathilda dan Sr. Anna, anggota biara Alles voor Allen menanggapi tawaran Mgr. Henricus. Akan tetapi keputusan untuk memulai karya baru tersebut bukanlah hal yang mudah bagi Sr. Mathilda karena dia telah menjadi anggota tarekat Alles voor Allen selama 33 tahun. Dia dihadapkan pada dua pilihan: menerima tawaran tetapi juga meninggalkan biaranya, atau menolak tawaran dan tetap tinggal di biaranya (Simbolon, 2009: 186). Dalam situasi itu Sr. Mathilda mendengarkan bisikan Tuhan dalam hatinya bahwa dia harus memulai karya baru itu.

Maka pada tanggal 25 Juli 1880 Sr. M. Mathilda Leenders dan Sr. M. Anna van Dun, menandatangani surat yang menyatakan kerelaan melepaskan keanggotaanya dari Biara Alles voor Allen/ Mater Dei. Empat hari kemudian tepatnya pada tanggal 29 Juli 1880, mereka meninggalkan Biara Alles voor Allen dan tinggal di sebuah rumah sederhana di Janstraat, belakang Gereja St. Antonius, Breda. Tiga hari kemudian yakni pada tanggal 1 Agustus 1880, kongregasi ini berdiri dengan nama Kongregasi