• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENELITIAN, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Subjek 3

Yp bergabung dengan KiaiKanjeng karena tertarik dengan keunikan yang dimiliki KiaiKanjeng, adanya hubungan berkesenian dan merasa bisa mengungkapkan rasa kreativitas seninya di dalam KiaiKanjeng.

“Kalo dulu saya karena...background saya...spesialisasi saya...dulu waktu sebelum KiaiKanjeng saya dulu KSR...ya...kesenian...sehingga ketika ada kelompok musik yang...modern dicampur etnik...ini unik ini...sebelum KiaiKanjeng saya dilibatkan sebagai additional player di tempat mas Djaduk...Kua Etnika...disitu juga ada sebagian yang ikut KiaiKanjeng seperti mas Bobit, mas Bayu...karena hubungan berkesenian, terus suatu saat KiaiKanjeng pemain bas akhirnya saya bergabung, saya bisa mengungkapkan rasa kreativitas seni saya”. (W. S3. 30.08.08. 1).

Yp meyakinkan bahwa antara tujuan pribadi dan tujuan KiaiKanjeng sudah sangat menyatu sehingga dirinya berani menyatakan bahwa ”saya adalah KiaiKanjeng”, dan merasa dirinya bagian dari KiaiKanjeng.

“Kalo tanya saya...ya jelas klop, artinya sudah sangat menyatu bahwa saya berani menyatakan diri...ya saya KiaiKanjeng...tapi bukan KiaiKanjeng itu saya...nggak..saya KiaiKanjeng, saya bagian dari KiaiKanjeng, kalo ibarat saya sih...KiaiKanjeng itu dianggap orang perahu kecil tapi ternyata bisa memuat banyak”. (W. S3. 30.08.08. 2).

2. Standar Perilaku

Yp mengungkapkan bahwa tidak ada tuntutan tentang kemampuan bermusik, sebab musik KiaiKanjeng menjadi sedemikian rupa justru karena terbentuk dari unsur-unsur yang

ada di dalamnya, tetapi ada tuntutan moral, etika dan keberadaban berdasarkan komitmen umum Islam.

“Nggak, kriteria harus...dituntut itu nggak, karena kita mengalir, ketemu njuk mengalir, tidak kelompok ini ada terus butuh pemain gitu ndak, jadi mengalir gitu aja, ini dibentuk oleh kondisi...jadi KiaiKanjeng koyo ngono karena unsur-unsur yang ada di dalamnya, orang-orang yang ada di dalamnya, mungkin kalo KiaiKanjeng itu penuh dengan pemain musik seperti anak-anak ISI ora koyo KiaiKanjeng mas, wis orkestra nek koyo kuwi, jadi dengan keterbatasan tertentu...jadi seperti itu. Kalo soal komitmen itu jelas...karena kita basic dasarnya tetap Islam kan ya...komitmen umum Islam aja, artinya ya moral, etika moral, etika keberadaban...ya tetap ada”. (W. S3. 30.08.08. 3).

Yp memberikan contoh tentang bagaimana usaha yang dilakukan untuk memenuhi tuntutan kelompok dengan menjelaskan bahwa banyak anggota KiaiKanjeng yang sebelum bergabung dengan KiaiKanjeng memiliki latar belakang yang tidak sesuai dengan etika moral, sehingga ketika bergabung dengan KiaiKanjeng latar belakang tersebut harus ditinggalkan dan yang bersangkutan harus secara sukarela merubah diri.

“Ya...kalo saya secara pribadi...bicara latar belakang dulu ya...terus terang basic kita semua banyak orang-orang jalanan mas...misalnya dulunya latar belakangnya “hitam”, terus terang banyak, begitu masuk KiaiKanjeng ya harus nglungsungi, mau nggak mau nglungsungi mas...kalo mau bertahan seperti itu ya...seleksi alam...mosok wis ngerti tentang hal-hal yang sering kita ngajikan kok masih melakukan itu kan otomatis...dan itu banyak temen-temen yang akhirnya minggir, jadi secara partisipatoris dia harus merubah itu, kalo ternyata dia nggak bisa...ya ndak...sudah”. (W. S3. 30.08.08. 4).

3. Tantangan

Yp menceritakan bahwa KiaiKanjeng pernah mengalami tekanan dari tentara pada era Soeharto, berbenturan dengan parpol PKB pada era Gus Dur dan massa Megawati pada era Megawati. Subyek juga menyebutkan bahwa trend ikut-ikutan supaya laku yang terjadi di dunia industri merupakan tantangan dalam hal berkarya.

“Banyak mas, kita era Soeharto itu ngalami, artinya ngalami main...mburine sepatu tentara yo wis tau, terus jaman Gus Dur yo ngalami mas, pada saat orang menganggap Gus Dur itu nabi, ya kita mengingatkan no...ora nabi...ra ono nabi meneh, Gus Dur itu cuma manusia yang suatu saat bisa salah...corone salah yo dielingke...benturannya banyak dari PKB, bahkan secara...akhirnya banyaklah benturan yang lebih ngeri daripada menghadapi tentara mas, terus era Mega ya sama aja, tapi kita menghadapi massa-nya Mega nggak se-ngeri jaman PKB itu, itu dari sisi politis.Dari sisi karya juga jelas banyak tantangannya, kalo industri kan gini...trendnya apa, terus kita ngikuti trend...kalo kita (KK) ndak, kita niatnya membuat trend wae, kalo kita ngikuti era yang sekarang, semua orang pokoknya angger mambu merek jenenge...angger sithik Illahi, nek saiki...Cinta...opo kae...Ayat2 Cinta...opo Cinta...Tasbih Cinta...sampe ono sing...ooo...nggawe wae Sholat Jenazah Cinta...nggawe sinetron ngono piye...kabeh kan payune ngono mas...nah kita nggak ikut itu, ndak ikuti era...yang trend-trend seperti itu”. (W. S3. 30.08.08. 5).

Yp menyatakan bersikap frontal terhadap fenomena yang terjadi di dunia industri tetapi tidak melalui “perang berhadapan”, melainkan dengan menganggap hal itu sebagai semangat untuk berkarya dan membuat karya yang bermartabat.

“Ya frontal, tapi kita frontalnya nggak perang berhadapan...karena segmennya kita lain...kita bukan industri kok, tapi bahwa kita melawan itu iya, tetap benturan, kita menganggap itu

sebagai semangat untuk berkarya...karya yang bermartabat maksudnya”. (W. S3. 30.08.08. 6).

4. Kepuasan

Yp merasakan kepuasan batin karena dengan bergabung di KiaiKanjeng subyek mendapatkan banyak ilmu, memiliki tafsir-tafsir baru tentang berbagai hal, bisa menyerap kemampuan dari teman-teman yang lain, mendapat penghidupan dan rejeki yang lancar meskipun tidak diniati serta mempunyai banyak jaringan dan membuka peluang-peluang akses yang lebih cepat untuk berkomunikasi dan berbagi ilmu.

“Paling banyak itu kepuasan batin, saya dapat banyak ilmu bahkan sampai kepala itu nggak muat lagi untuk menampung begitu banyaknya ilmu, terus juga jadi punya tafsir-tafsir baru tentang banyak hal, secara kreativitas...saya menyerap kemampuan dari teman-teman yang lain, dalam hal penghidupan juga rejeki lancar terus walaupun tidak diniati, maksudnya yang utama itu niat untuk berkarya bukan cari duit, secara sosial kemasyarakatan jadi punya banyak jaringan dan membuka peluang-peluang akses yang lebih cepat untuk berkomunikasi dan berbagi ilmu, misalnya dengan teman yang dari pondok (pesantren), kalo memang kita butuh ilmu dari sana aksesnya jadi lebih gampang”. (W. S3. 30.08.08. 7).

Yp bertahan di KiaiKanjeng karena memandang bahwa KiaiKanjeng memberikan kesempatan bagi subyek untuk menyampaikan hal-hal baik kepada masyarakat dengan cara yang kreatif, memungkinkan subyek bisa memberi sumbangan untuk agamanya dan membuat subyek lebih bisa menaklukkan diri sendiri ketika menjalani pekerjaannya di luar KiaiKanjeng.

“Ya batin itu tadi mas, saya lebih memilih KiaiKanjeng daripada karir pegawai negeri saya (penyuluh gizi di Puskesmas), karena saya memandang ikut KiaiKanjeng itu bukan hanya berbuat baik untuk diri sendiri atau keluarga tapi untuk banyak hal, mencari cara yang kreatif untuk menyampaikan hal-hal baik kepada masyarakat...memberikan sumbangan untuk Islam...karena saya pribadi Islam...saya tetap bisa beribadah...saya punya sumbangan untuk agama saya adalah dengan ikut KiaiKanjeng...KiaiKanjeng itu sesuai dengan ideologi saya...ya...hidup saya, saya sudah merasakan manis, asam, pahit bersama KiaiKanjeng dan proses kreatif selama 12 tahun bersama KiaiKanjeng itu membuat saya bisa menaklukkan diri sendiri...saya jadi bisa lebih betah menghadapi ibu-ibu yang angel di-suluh ketika menjalani pekerjaan saya di Puskesmas”. (W. S3. 30.08.08. 8).

D. Subjek 4

Dokumen terkait