• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENELITIAN, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Subjek 4

Iw bergabung dengan KiaiKanjeng pada awalnya karena KiaiKanjeng membutuhkan pemain flute bambu, kemudian merasa tertarik dengan persaudaraan yang kental di KiaiKanjeng. Tujuan Iw bergabung selain untuk bermusik, juga mencari ilmu untuk hidup, salah satunya ilmu tentang Islam, agar hidupnya tidak seperti dulu yang menurut Iw tidak jelas.

“Saya dulu belum ada mood di KiaiKanjeng saya dulu di orkes melayu, kebetulan KiaiKanjeng ingin bikin album yang melayu juga, terus KiaiKanjeng itu punya ide sepertinya kalo pakai flute bambu akan lebih baik, kemudian saya dimintai tolong untuk mengisi, dulu itu setelah Kado Muhamad, sempet break lalu ikut lagi, waktu itu kalo nggak salah Wirid Padhang Mbulan., sampai sekarang. Dari hati saya, saya tertarik bukan dari musik saja, bukan semata-mata karena profesional saja,...semata2 alasan saya itu satu, nyari ilmu, ilmu itu kan macem2, yang saya cari itu ilmu untuk hidup, orang hidup itu kan perlu ilmu, kalo tidak seperti saya dulu2 itu, tapi setelah saya ikut KiaiKanjeng itu cara berpikir saya sudah berbeda, banyak berubah, kalo dilihat dari awal saya tuh orang nggak jelas mas, kasarnya orang mbambung…” (W. S4. 31.08.08. 1).

Iw merasa bahwa tujuan pribadinya sama dengan tujuan kelompok. Iw juga merasa bahwa secara garis besar cara berpikir dan bertindak teman-teman lain di KiaiKanjeng sama dalam hal saling menghargai dan menjunjung tinggi kebersamaan.

“Saya rasa hampir sama ya mas….kalo manusia itu kan cara berpikirnya berbeda2 tapi saya merasa saya dengan teman2 itu secara garis besar itu sama…ya cara untuk melangkah, cara berpikir, saling menghargai, menjunjung tinggi kebersamaan…umpama saya gak suka sama orang saya diam saja….ada orang yang menghujat saya diam saya…kalau ada orang yang gak suka sama saya, ya kalau bisa saya menghindar…itu yang saya alami sekarang ini”. (W. S4. 31.08.08. 2).

2. Standar Perilaku

Iw menjelaskan bahwa yang diutamakan di KiaiKanjeng adalah persaudaraan dan bukan semata-mata kemampuan bermain musik. Iw menceritakan pengalamannya yang sempat mengalami ketergagapan dalam hal mengikuti musik KiaiKanjeng pada awal prosesnya bersama KiaiKanjeng dan meskipun begitu subyek tidak lantas dikeluarkan.

“Soal itu, teman2 di KiaiKanjeng itu toleransi-nya besar…tenggang rasanya besar…saya itu setelah masuk KiaiKanjeng saya cuma lihat dan dengarkan…nggak tahu mau ngapain…kesan saya waktu itu kan…baru ini ada gamelan yang digabung dengan alat2 musik diatonis seperti itu kan…kalo pada umumnya kan gamelan ya hanya itu saja…pelog atau slendro saja…nah waktu itu saya bingung padahal pegangan saya adalah alat musik diatonis tapi saya kan belum megang nyawanya…adaptasi 1 minggu itu pun saya masih tergagap-gagap…pernah waktu itu diajak tur kemana-mana ya saya itu cuma kayak patung…nah mungkin kalau saya bukan di KiaiKanjeng sama Emha mungkin saya sudah dilepas…jadi ini bener-bener yang dicari itu adalah persaudaraannya bukan skill

permainannya. Kalau soal komitmen saya…tidak pernah minggat dari KiaiKanjeng”. (W. S4. 31.08.08. 3).

Iw berusaha mengatasi ketergagapannya dalam mengikuti musik KiaiKanjeng dengan cara mendengarkan dan mempelajari lagu-lagu KiaiKanjeng yang sudah ada melalui kaset.

“Saya usahanya saya belajar dari kaset…kaset KiaiKanjeng…saya mendengar kaset…kalo untuk jiplak saja bisa ya, tapi yang dicari itu kan pembawaannya….soalnya kita kalo main itu dari hati, pake roso”. (W. S4. 31.08.08. 4).

3. Tantangan

Iw merasakan tantangan dalam hal kreativitas berhubungan dengan konsep bermusik KiaiKanjeng yang harus menyesuaikan dengan audience dan tema, sehingga kadang harus belajar lagi terutama jika temanya musik pengajian. Iw juga mengungkapkan bahwa kadang juga terjadi konflik internal seperti perang mulut atau perselisihan kecil.

“Kalo dari segi bermusik ada tantangan ada…selalu ada tantangan….tapi permasalahannya adalah konsep KiaiKanjeng itu bukan sekedar bermusik, seandainya kita ada yang mengundang…kita melihat audience dan tema…misalnya ada temanya pengajian atau apa…kalau musik pengajian itu kan seperti sholawat saya harus belajar lagi, kalau musik yang lain ya bisa segera main…ya paling itu, tantangannya lebih pada kreativitas…yang kedua kita harus menjaga hati satu sama lain yang ada di dalam lingkaran KiaiKanjeng…Cak Nun dan Mbak Via itu bukan seperti teman di panggung lagi…sudah bersaudara, melebihi saudara kalau bagi saya…..kalau konflik internal ya ada…perang mulut ya ada…satu sama lain crash kecil ada…tapi nggak pernah berkepanjangan sampai membuat perpecahan itu belum ada mas”. (W. S4. 31.08.08. 5).

Iw berusaha menyikapi tantangan yang dihadapi kelompok dengan pandai-pandai membaca situasi dan saling mengontrol satu sama lain.

“Untuk menyikapi hal itu ya kita harus pandai-pandai membaca situasi, misalnya Cak Nun kok sepertinya tidak berkenan untuk diajak ngobrol ya kita cukup nemenin dia saja, mendengar dia bicara, kalau kita ada unek-unek yang ingin kita bicarakan dengan Cak Nun ya kita melihat situasinya dulu tidak langsung mengeluarkan unek-unek kita itu, pinter baca situasi, semuanya gitu, jadi satu sama lain saling mengontrol, enaknya di KiaiKanjeng tuh itu”. (W. S4. 31.08.08. 6).

4. Kepuasan

Iw mendapatkan kepuasan dalam hal ekonomi dengan memberi contoh ketika rumahnya hancur karena gempa dan Cak Nun-KiaiKanjeng membantu membangun lagi rumahnya. Dalam hal bermusik Iw juga merasa puas tetap bisa bermain musik sesuai dengan karakter bermusiknya sendiri yang memiliki latar belakang musik melayu atau dangdut.

“Kalau tentang ekonomi jelas terjamin, terjamin semua, kalau ada musibah seperti ketika gempa dan rumah saya hancur semua, ya teman-teman ikut merasakan, jadi kalau misalnya ada group lain yang mengajak bergabung dengan diiming-imingi apa gitu, saya tidak mau meninggalkan KiaiKanjeng soalnya kita itu sudah terhubung satu sama lain, mungkin sampai ke akhirat sama-sama terus…kalau bermain dengan KiaiKanjeng saja teman-teman sudah tahu kalau nyawa saya itu di dangdut…sudah itu nggak bisa di tolak…mau dibuat jazz kayak apa, pop kayak apa...tetep cengkoknya dangdut ya…dan itu bukan masalah buat KiaiKanjeng, justru kita mencapai kekayaan mas….jadi pak Is tetap bisa main suling dangdut di KiaiKanjeng tanpa harus dirubah jadi jazz atau apa…iya…enggak harus kok itu, cak Nun itu kan tau kapasitas seorang…kalau orang yang biasa di pop disuruh nge-jazz...bisa memang tapi belum tau rohnya jazz kan sulit…tapi itu gak masalah”. (W. S4. 31.08.08. 7).

Iw bertahan dalam KiaiKanjeng karena merasa bahwa hubungan di antara teman-teman KiaiKanjeng sudah melebihi persaudaraan dan bukan hanya teman di atas panggung, sehingga ketika sedang tidak bertemu juga masih tetap saling menyapa, saling kontak, saling mengontrol dan menjaga hati satu sama lain.

“Karena kita bukan group seperti group yang lain…kita bukan cuma teman di atas panggung tapi kita sudah melebihi persaudaraan itu tadi…seandainya tidak ketemu tetap saling menyapa, mengontak, saling mengontrol satu sama lain, saling menjaga hati….itu yang buat saya makin betah…hati ke hatinya itu tadi…gak ada lagi itu yang paling utama”. (W. S4. 31.08.08. 8).

E. Subjek 5

Dokumen terkait