• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENELITIAN, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Subjek 2

Bs bergabung dengan KiaiKanjeng dengan tujuan untuk meneruskan komunitas yang dicintainya dan berproses bersama dalam bermusik dan berkesenian, sedangkan penghasilan yang didapatnya menurutnya adalah efek dari kesenangannya bermusik.

“Saya di KiaiKanjeng itu kan cuma meneruskan suatu komunitas yang saya sangat cinta, jadi intinya saya senang musik, tujuan saya yang pribadi itu cuma sepele sekali, saya bisa berproses, bermusik, berkesenian, itu aja, bahwa di kemudian hari kok menghasilkan, apa ya, uang katakanlah, itu kan kompensasi...bentuk dari...efek saya senang bermusik”. (W. S2. 30.08.08. 1).

Bs merasa bahwa KiaiKanjeng mampu mewadahi tujuannya dan membuatnya menemukan partner untuk menuangkan dan mengembangkan jiwa keseniannya dalam bidang musik.

“Ya...match ya...jodoh...karena saya sebagai kelompok...karena saya ingin menuangkan jiwa kesenian saya, terutama dalam bidang musik, kreativitas...ya apa ya...ya yang namanya seneng musik, kalo ada wadahnya, ada temennya, ada partnernya, akhirnya kan nanti berkembang...” (W. S2. 30.08.08. 2).

2. Standar Perilaku

Bs menyatakan bahwa ada tuntutan untuk bisa bermain musik tetapi tidak mutlak karena yang lebih diutamakan di KiaiKanjeng adalah soal hati, keyakinan dan intensitas.

“Iya...itu tentu saja ada, tapi tidak mutlak, artinya...temen-temen kan skillnya ada yang...macem-macem...taruhlah kalo ada klasifikasinya...ada yang kelas 1,2,3...tapi itu bukan menjadi modal utama bagi KiaiKanjeng, yang menjadi modal utama adalah hati, keyakinan...dia intens...itu yang menjadi prioritas...tetap saja tetap...harus menjadi pertimbangan bahwa harus bisa main musik...cuma itu tidak...tidak harus jago main musik...Om Bobit nggak jago main musik, ya saya biasa aja gitu lho, tapi jangan lupa...sejago-jagonya player...dia kalo sendiri..nggak kuat, tapi kalo...pas2an... dengan komunitas...musik kan kerja kolektif...jadi semua bisa kita...ikut terlibat...dengan skillnya masing-masing, kalo dasarnya harus bisa main musik...tentu harus bisa, tapi tidak menjadi patokan. Kalo soal hati, ukurannya gini mas...ketika saya berada di suatu komunitas, saya ngeng, saya enak..itu udah...katakanlah...dapat bayar nggak dapat bayar nggak ada pengaruhnya...itu hati”. (W. S2. 30.08.08. 3).

Bs berusaha memenuhi tuntutan kelompok dengan mengikuti perkembangan musik, mempelajari semua jenis musik, saling belajar secara timbal balik dengan teman-teman yang lain serta mengerahkan tenaga dan waktu secara intens dalam berproses.

“Ya saya...kalo berkaitan dengan itu saya harus...paling tidak tahu bener perkembangan musik...terus...semua jenis musik, bahkan karawitan, Om Bobit tuh nggak ngerti karawitan...awalnya nggak ngerti...taunya cuma...wis bebas aja, tapi saya dituntut harus tahu, karena kan...di KiaiKanjeng kan tidak hanya musik diatonis, pentatonis juga, artinya timbal balik, temen-temen yang aslinya karawitan, dia nggak tahu notasi, dia lama-lama juga berlatih, saling ada usaha. Kalo soal hati...angel...itu sulit itu...munculnya ya...kalo untuk membuktikan itu...kita buktikan aja pada saat proses, dengan...apa ya...membuang tenaga, waktu, ketika orang itu intens disitu berarti hatinya itu juga iya...gampang itu, seleksi alam”. (W. S2. 30.08.08. 4).

3. Tantangan

Bs mengungkapkan bahwa tantangan-tantangan yang dihadapi KiaiKanjeng adalah tantangan kreativitas dengan

munculnya musik-musik jaman sekarang sehingga KiaiKanjeng mencoba untuk menciptakan aransemen-aransemen baru, dan tantangan sosial dari masyarakat yang bersikap masa bodoh dengan interaksi sosial yang berusaha dibangun oleh KiaiKanjeng, dan kecurigaan dari pemerintah terhadap tujuan KiaiKanjeng.

“Kalo tentang kreativitas itu ya jelas ada...banyak juga kan bermunculan musik-musik yang seperti sekarang...ya itu tantangan kreativitas...sehingga KiaiKanjeng tidak hanya berhenti sampai disitu...nah ini kita sikapi...seperti yang kemarin kamu dengerin itu kan...itu aransemen-aransemen baru...itu juga untuk meng-counter, untuk mengejar...bahwa ini harus kita siasati. Kalo tantangan sosial itu juga banyak mas...KiaiKanjeng itu boleh dikatakan intens untuk interaksi antar sosial...itu belum pada titik yang bisa dikatakan berhasil, itu faktornya banyak hal...mungkin masyarakatnya sendiri yang bebal, masa bodoh...tapi ya nggak apa-apa, itulah masyarakat, tapi yang jelas gerakan kita...untuk menjunjung tinggi kebersamaan, tidak membeda-bedakan agama atau suku...ya sedikit...gerakan KiaiKanjeng paling tidak membantulah. Untuk pemerintah saya pikir...ada kecurigaan...makanya Cak Nun kan sering bilang...saya itu ngapain sih...kita begini tuh nggak mau kejar apa2...kita cuma mempersatukan bangsa Indonesia, lewat kantung-kantung mesjid, lewat pedesaan...mereka nggak ngerti...bahkan bisa malah curiga bisa dikira Cak Nun mau bikin partai.”. (W. S2. 30.08.08. 5).

Bs banyak belajar tentang musik-musik jaman sekarang kepada anaknya, contohnya tentang karakter gitar dan sound effect sebagai cara untuk menyikapi tantangan kreativitas yang dihadapi.

“Ya itu...kita harus bener-bener tau...sekarang itu Om bobit banyak belajar sama anaknya Om Bobit...musik sekarang itu gimana sih...dari yang sepele lho...karakter gitar aja...saya belajar...karena era sekarang udah jauh banget...gitarnya gini tho sekarang, efeknya gini tho...se-sepele itu...Om Bobit belajar, itu untuk tantangan kreativitas, biar nggak dibilang jadul”. (W. S2. 30.08.08. 6).

4. Kepuasan

Bs mendapatkan kepuasan di KiaiKanjeng baik secara materi maupun non-materi. Kepuasan materi yaitu mendapatkan penghasilan, meskipun KiaiKanjeng sendiri tidak pernah menetapkan standar nilai nominal bayaran. Kepuasan non-materinya adalah karena subyek merasa memiliki komunitas yang bisa menampung ide-ide dan hobinya.

“Ada kepuasan...banyak banget, materi-non materi...yang materi ya...seperti ini...kalo kita misalnya diundang kemana...tanpa KiaiKanjeng itu punya standart job, nilai nominal itu...nggak punya...jadi yang ngundang punya dana berapa ya kami berangkat...KiaiKanjeng juga sering dan pasti mau melakukan lagi...pentas di suatu tempat yang kita sendiri yang membiayai, itu kalo dalam ilmu Islam itu namanya ilmu ekonomi barokah...itu kalo 4 diambil 2 itu belum tentu tinggal 2, malah bisa jadi tinggal sembilan...itu nggak ditemui di ilmu-ilmu ekonomi sekarang, ilmu sekarang kan dengan modal sedikit bisa dapat untung banyak...bukan itu. Kalo kepuasan non materinya...ya itu tadi...jadi apa yang Om Bobit cita-citakan, memiliki satu komunitas yang bisa menampung idenya Om Bobit, hobinya...terpuaskan...bahkan belum sampe puas, kita masih mencari terus”. (W. S2. 30.08.08. 7).

Bs bertahan dalam KiaiKanjeng dengan alasan karena di KiaiKanjeng subyek bisa berkesenian sambil beribadah dan juga mencari nafkah.

“Kalo untuk mencari...mengemukakan alasannya itu kayaknya...itu terlalu...apa ya...saya sendiri nggak bisa memastikan apakah bener alasan saya itu, tapi yang jelas adalah...saya menemukan sesuatu yang berbeda, Om Bobit di KiaiKanjeng tidak hanya berkesenian, tapi juga bisa ibadah, tapi juga bisa untuk mencari nafkah...lha ini...trio ini yang mungkin yang bikin Om Bobit seneng, kalo hanya berkesenian doang ngapain...alhamdullilah Om Bobit bisa sedikit-sedikit ibadah, yang ketiga itu...Om Bobit bisa sedikit-sedikit cari nafkah...” (W. S2. 30.08.08. 8).

C. Subjek 3

Dokumen terkait