BAB IV PENELITIAN, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
E. Subjek 5
Jk tidak mementingkan bermusik sebagai tujuan karena merasa tidak memiliki latar belakang musik, Jk bergabung dengan KiaiKanjeng untuk silaturahmi melalui pergaulan yang positif dan kreatif.
“Nggak...ya...lebih ini ya...orang hidup itu harus silaturahmi...bersilaturahmi...dulu nggak ada...wong saya juga...saya nggak punya background musik...nggak punya...ayah saya...kalo ayah saya itu di AURI bagian korps musik, bagian terompet...saya nggak punya background musik, menguasai gamelan itu nggak, jadi sebenarnya secara musik itu saya nol sekali, kemudian juga...nggak ada tujuan kepingin apa gitu...nggak ada, jadi lebih kepada pergaulan yang positif, kreatif...ya terus...terus berproses gitu...jadi kayak gitu”. (W. S4. 31.08.08. 1).
Jk menjelaskan bahwa KiaiKanjeng lebih mementingkan silaturahmi, komunikasi dan untuk berusaha mencari
pemecahan-pemecahan permasalahan yang ada di masyarakat sehingga tidak menjadikan musik sebagai tujuan, melainkan hanya sebagai media.
“Sebenarnya KiaiKanjeng itu kan bukan kelompok musik...lebih kepada orang ketemu orang, bersilaturahmi terus...saling menyapa...ya biasa, kalo udah ketemu gini kemudian muncul gagasan...oh bikin teater...musik...puisi terus...apa gitu kan, persentuhannya dari situ, kemudian muncul beberapa gagasan2, kalo dilihat dari persentuhannya kan setelah Dinasti vakum itu...kan pak Nevi ketemu sama saya...ingat masa lalu...jadi ingat kita pernah bersatu, berproses bersama, kreatif, kemudian muncul lagi...selalu begitu, nah itu dipertajam dengan yang sekarang ini...KiaiKanjeng yang sekarang ini, jadi lebih mementingkan suatu silaturahmi, komunikasi, kemudian wadah...syukur sampai ke problem solving ya, pemecahan2 permasalahan yang ada di masyarakat, bukan...KiaiKanjeng bermusik itu sebagai tujuan bukan, sebagai media saja, jadi tidak terpengaruh pada aliran itu nggak karena jatuh pada media saja...” (W. S4. 31.08.08. 2).
2. Standar Perilaku
Jk menjelaskan bahwa di KiaiKanjeng dia hanya dituntut untuk memahami pengetahuan sederhana tentang musik dan berpendapat bahwa yang lebih diutamakan adalah komitmen yang berhubungan dengan nilai-nilai kemanusian dan kepekaan sosial. Jk juga menjelaskan bahwa komitmen itu muncul dengan sendirinya sejalan dengan proses.
“Kalo pengetahuan sederhana sih iya lah, ini gamelan, ini ada rumusnya, iya itu pahamlah, artinya tidak dari nol puthul nggak punya ilmu apa2 nggak...kalo tentang komitmen, yang saya lihat adalah ikatan itu nilainya, nilai kemanusiaannya yang jalan, itu rambu2nya, itu polisi lalu lintas pergaulannya...soal kepekaan sosial, itu tidak ada disuruh nggak, karena memang kita menciptakan sebuah masyarakat kecil yang mencoba untuk menerjemahkan nilai itu dalam pergaulan sosial, komitmen itu muncul dengan sendirinya karena proses belajar tadi itu”. (W. S4. 31.08.08. 3).
Jk berusaha memenuhi tuntutan kelompok dengan metode saling mengisi, saling menyumbang dan saling memperkaya dalam proses bersama, mengikuti gagasan dari teman-teman yang memiliki kemampuan lebih dan memberi masukan-masukan kecil dalam proses penciptaan.
“Lebih ini...proses di KiaiKanjeng ini kan proses bersama...satu proses bersama, dengan metode itu, jadi saling mengisi, kemudian juga yang punya kemampuan karawitan itu...dia menyumbangkan gagasannya...saya yang tidak punya kemampuan itu...ngikut...apa yang diciptakan oleh teman2, kemudian yang punya kemampuan yang lain saling sumbang, itu ada metode seperti itu, ada proses kreatif seperti itu, jadi masing2 saling memperkaya dari sebuah penciptaan, jadi kayak workshop itu, kemudian juga bisa ditempuh dengan metode yang lain, misalnya yang punya kemampuan kayak siapa...mas Bobit, mas Joko, mas Jijid dia bikin satu struktur lagu gitu ya dari intro, interlude sampai coda, kemudian diperkaya, di-share-kan di proses workshop-nya itu...ini ada lagu kayak begini terus mau diberi intro gamelan kayak apa... saya kebanyakan...jujur lebih banyak mengikut sih...bukan di proses menyumbang di penciptaan nggak, ya kadang2 berperan nggak seberapa...kok secara roso nggak enak ya, mungkin dikurangi beberapa nada jadi begini...ya kadang cuma begitu saja, paling pol saya gitu, sampai sekarang ya gitu2 saja”. (W. S4. 31.08.08. 4).
3. Tantangan
Jk melihat bahwa tantangan yang dihadapi KiaiKanjeng adalah bagaimana caranya untuk mempertahankan dan menjaga silaturahmi yang telah dibangun bersama agar KiaiKanjeng terus hidup sampai tua.
“Tantangannya kalau sekarang ini…bukan di bermusiknya…kalau dibilang musik ya wis jadul banget orang-orangnya…mainnya ya kayak gitu…dengan meletakkan...apa namanya...berproses bersama dalam hidup ini…itulah tantangannya, bagaimana silahturahmi yang kita bangun bersama ini…bisa sampai tua-tua…”(W. S4. 31.08.08. 5).
“Kita ini...kalau saya bilang seperti…Cak Nun juga sering bilang…banyak peran Allah yang membikin sampai saat ini masih berjalan…sebab banyak hal yang nggak masuk akal, KiaiKanjeng itu musiknya apa, gedumbrang-gedumbrong, sementara sekarang justru band2 yang meledak…itu kan sekarang yang laku keras di pasar…KiaiKanjeng hampir tidak menyentuh kesana dan kita sadari itu…makanya kalau...kita sendiri sering bertanya-tanya…kok masih ada orang-orang yang mau mengundang….kalau tanpa melihat dengan dinamika musik sekarang, siapa yang berperan ini, kesadarannya kesana, nah itulah sebenarnya...tantangan memelihara kehidupan sosial KiaiKanjeng kecil ini…saya kira itu lah”. (W. S4. 31.08.08. 6).
4. Kepuasan
Jk merasa bahwa di KiaiKanjeng subyek mendapat banyak ilmu tentang kehidupan dan masih terus belajar sampai sekarang. Jk juga mendapatkan kepuasan dalam hal materi tetapi menurutnya itu bukan hal yang utama.
“Kalau saya ya…ya sudah...ya menjalani hidup aja disitu…mau apa lagi, kalau kepuasan…ya ada…banyak ilmu tentang kehidupan…materi ya jelas…tapi bukan yang nomer satu…ya itu saja…ilmu…terus..terus..ilmu kan terus gak berhenti-berhenti dan masih belajar sampai sekarang…ya seputar itu, nggak ada lagi”. (W. S4. 31.08.08. 7).
Jk bertahan di KiaiKanjeng karena menurutnya KiaiKanjeng bisa menampung seluruh aspek hidup yang membuatnya menemukan keluasan pergaulan dan tafsir tentang kehidupan yang tidak ditemukan di kelompok lain. Jk mempelajari banyak hal seperti politik, sosiologi, musik, teater, hukum dan lain-lain karena menurutnya KiaiKanjeng memang mewadahi itu semua.
“Karena di KiaiKanjeng inilah saya temukan keluasan pergaulan, bukan hanya bermusik saja, bermusik itu bukan utama, salah satu kata kuncinya itu pengabdian, KiaiKanjeng bisa menampung seluruh aspek hidup, bisa menemukan tafsir tentang kehidupan yang tidak ditemukan di kelompok lain, dari seluruh pengalaman saya bergabung dengan kelompok2 lain...ajaib di KiaiKanjeng ini...dari beberapa sisi, dari sisi belajar politik ada, vertikal ada, sosiologi ada, musikal ada, teater ada, hukum ada, jadi disini semua ada...karena mewadahi keseluruhan itu...mewadahi keseluruhan pengalaman saya, dan yang menarik itu...nggak berhenti...memang proses belajar itu nggak berhenti”. (W. S4. 31.08.08. 8).
Tabel IV
Ringkasan Hasil Penelitian
No Tema Subyek 1 Subyek 2
1. Tujuan pribadi
anggota kelompok
• Beribadah dengan melakukan
kebaikan untuk masyarakat lewat jalan bermusik dan berkesenian.
• Meneruskan komunitas yang
dicintainya.
• Berproses bersama dalam
bermusik dan berkesenian.
2. Kesesuaian
antara tujuan pribadi dan tujuan kelompok
• Subyek berpendapat bahwa
tujuan KiaiKanjeng merupakan perpaduan dari tujuan masing2 anggota.
• Subyek berpendapat bahwa
tujuan pribadi dan tujuan kelompok saling menguatkan dan melengkapi.
• Subyek berpendapat bahwa
tujuan KiaiKanjeng sejalan dengan tujuan pribadinya.
• Subyek berpendapat bahwa
tujuan KiaiKanjeng mampu mewadahi tujuan pribadinya untuk menuangkan jiwa kesenian dalam bidang musik.
3. Standar perilaku
yang ditetapkan kelompok
• Memiliki komitmen untuk
melakukan kegiatan kesenian yang bermanfaat untuk kebaikan masyarakat.
• Kemampuan bermusik.
•Bisa bermain musik.
•Memiliki keyakinan hati dan
intensitas.
4. Usaha anggota
untuk memenuhi tuntutan
kelompok
• Belajar tentang apa yang baik
untuk masyarakat.
• Merambah berbagai macam
jenis musik.
• Menciptakan instrumen
gamelan baru.
• Mengikuti perkembangan
musik.
• Mempelajari semua jenis
musik.
• Belajar secara timbal balik
dengan teman-temannya.
• Mengerahkan tenaga juga
waktu secara intens dalam berproses.
5. Tantangan yang
dihadapi kelompok
• TV, iklan, dan produk-produk
industri yang selalu
dikonsumsi dan secara tidak sadar telah mendikte masyarakat.
• Tantangan kreativitas berupa
munculnya musik2 jaman sekarang.
• Masyarakat yang bersikap
masa bodoh dengan interaksi sosial yang berusaha dibangun oleh KiaiKanjeng.
• Kecurigaan pemerintah
terhadap tujuan KiaiKanjeng.
6. Cara anggota
menyikapi tantangan yang dihadapi kelompok
• Bersikap tidak terlalu
konservatif agar tidak kalah, tetapi juga tidak begitu saja mengikuti arus agar tidak kehilangan martabat.
• Mencoba mengikuti arus tetapi
tetap berpegang pada nilai2 yang diyakini.
• Menciptakan aransemen2 baru.
• Belajar tentang musik2 jaman
sekarang kepada anaknya.
7. Kepuasan yang
didapatkan anggota
• Kepuasan batin karena
melakukan kebaikan yang mendatangkan kebahagiaan.
• Kepuasan materi berupa
penghasilan.
• Kepuasan non-materi karena
merasa memiliki komunitas yang bisa menampung ide2 dan hobinya.
8. Alasan anggota
bertahan dalam kelompok
• Subyek memiliki ikatan
sejarah, yang meskipun kurang menyenangkan, tetapi justru sejarah itu yang melahirkan KiaiKanjeng.
• Subyek merasa bahwa
KiaiKanjeng sudah seperti keluarga dan ikatan yang terjalin di dalamnya bukan ikatan kelompok/lembaga, tetapi ikatan kekeluargaan dan persaudaraan.
• Subyek bisa berkesenian
sambil beribadah juga mencari nafkah.
Subyek 3 Subyek 4 Subyek 5
• Mengungkapkan rasa kreativitas
seninya.
•Bermusik.
•Mencari ilmu untuk hidup,
salah satunya ilmu tentang Islam agar hidupnya tidak seperti dulu, yang menurutnya
tidak jelas (mbambung).
•Menjalin silaturahmi melalui
pergaulan yang positif dan kreatif.
• Subyek berpendapat bahwa
tujuan pribadinya dan tujuan KiaiKanjeng sudah sangat menyatu.
• Subyek mengidentifikasikan
dirinya sebagai KiaiKanjeng dan merasa dirinya adalah bagian dari KiaiKanjeng.
•Subyek merasa bahwa tujuan
pribadinya sama dengan tujuan kelompok.
•Menurut subyek, tujuan
pribadinya sama dengan tujuan kelompok yaitu mementingkan silaturahmi, komunikasi dan berusaha mencari pemecahan2 permasalahan yang ada di masyarakat.
• Komitmen yang berhubungan
dengan etika, moral dan keberadaban.
•Memiliki rasa persaudaraan.
•Kemampuan bermusik.
•Memiliki pengetahuan dan
pemahaman sederhana tentang musik.
•Memiliki komitmen yang
berhubungan dengan nilai2 kemanusiaan dan kepekaan sosial.
• Banyak anggota KiaiKanjeng
yang sebelum bergabung memiliki latar belakang yang tidak sesuai etika moral dan keberadaban, sehingga setelah bergabung latar belakang tersebut harus ditinggalkan dan yang bersangkutan secara sukarela merubah diri.
•Mendengarkan dan
mempelajari lagu-lagu KiaiKanjeng yang sudah ada melalui kaset.
•Menggunakan metode saling
mengisi, saling menyumbang dan saling memperkaya dalam proses bersama.
•Mengikuti gagasan dari
teman2 yang memiliki kemampuan lebih dan memberi masukan dalam proses penciptaan.
• Tekanan dari pemerintah,
tentara, dan benturan dengan partai politik.
• Tantangan dalam hal berkarya,
yaitu trend ikut-ikutan supaya laku yang terjadi di dunia industri.
•Tantangan kreativitas
berhubungan dengan konsep pertunjukkan KiaiKanjeng yang harus menyesuaikan
dengan audience dan tema.
•Kadang terjadi konflik internal
seperti perang mulut atau perselisihan kecil.
•Untuk mempertahankan dan
menjaga silaturahmi yang telah dibangun bersama agar
KiaiKanjeng terus hidup sampai tua.
• Bersikap frontal tetapi tidak
melalui konfrontasi langsung, melainkan menganggap tantangan2 yang dihadapi sebagai semangat untuk berkarya dengan membuat karya yang bermartabat.
•Belajar lebih banyak lagi
terutama jika konsep/tema pertunjukkannya adalah musik pengajian.
•Pandai-pandai membaca
situasi dan saling mengontrol satu sama lain.
•Percaya pada peran serta dan
karya Allah.
• Kepuasan batin karena
mendapatkan banyak ilmu.
• Memiliki tafsir2 baru tentang
berbagai hal.
• Bisa menyerap kemampuan dari
teman2 yang lain.
• Mendapat penghidupan dan
rejeki yang lancar.
• Mempunyai banyak jaringan dan
membuka peluang2 akses yang lebih cepat untuk berkomunikasi dan berbagi ilmu.
•Kepuasan dalam hal materi,
contohnya adalah KiaiKanjeng membantu subyek untuk membangun kembali
rumahnya yang roboh karena gempa.
•Kepuasan dalam hal bermusik
karena subyek tetap bisa bermain musik sesuai dengan karakter musik yang dikuasai dan disukainya.
•Mendapat banyak ilmu tentang
kehidupan dan masih terus belajar sampai sekarang.
•Kepuasan materi.
• KiaiKanjeng memberi
kesempatan bagi subyek untuk menyampaikan hal2 yang baik kepada masyarakat dengan cara yang kreatif.
• KiaiKanjeng memungkinkan
subyek bisa memberi sumbangan untuk agama.
• Proses di KiaiKanjeng membuat
subyek lebih bisa menaklukan diri ketika menjalani
pekerjaannya sebagai pegawai negeri.
•Hubungan di antara teman2
KiaiKanjeng sudah melebihi persaudaraan, sehingga ketika tidak tidak bertemu juga masih tetap saling menyapa, saling kontak, saling mengontrol dan menjaga hati satu sama lain.
•KiaiKanjeng menampung
seluruh aspek hidup yang membuat subyek menemukan keluasan pergaulan dan tafsir yang tidak ditemukan di kelompok lain.
•KiaiKanjeng memungkinkan
subyek mempelajari banyak hal seperti politik, sosiologi, musik, teater, hukum dan lain2, karena menurut subyek KiaiKanjeng memang mewadahi itu semua.