HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5) Maksud Ketidaksantunan
4.2.3.3 Subkategori Mengejek
Cuplikan Tuturan 22
MT: “Pak, eneng krupuk ra?”
P : “Opo, kowe ki arep ngopo?” (C7)
MT: (langsung pergi).
(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur berada di tokonya sedang menyusun barang dagangannya. MT datang hendak membeli kerupuk. MT bertanya tentang harga kerupuk yang ia inginkan. Bukannya menjawab pertanyaan MT, penutur justru menanyakan hal yang lain. Penutur mengganggap MT tidak terlalu penting untuk dilayani.)
Cuplikan Tuturan 34
P : “Nomer HP-mu piro?”
MT: “Kowe ki ngece tenan. Wong tuwo dijaluki nomer HP.”
P : “Zaman koyo ngene kok ra nduwe HP.” (C19)
(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur baru datang ke rumah MT. MT sedang duduk di kursi di teras rumahnya. Penutur meminta nomor HP MT agar mudah untuk dihubungi. Karena MT tidak terlalu bisa menggunakan HP dan merasa tidak terlalu membutuhkannya, MT tidak memiliki HP. Penutur yang usianya jauh lebih muda dari mengejek MT yang tidak memiliki HP di zaman serba teknologi.)
1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik
Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak
santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di
atas.
Tuturan C7 : “Opo, kowe ki arep ngopo?” (Apa, kamu itu mau apa?)
Tuturan C19 : “Zaman koyo ngene kok ra nduwe HP.” (Zaman seperti ini kok tidak punya HP.)
2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik
Tuturan C7 : Penutur berbicara dengan santai.Penutur berbicara dengan sinis. Penutur menyinggung MT.Penutur tidak menghargai MT sebagai pembeli.
Tuturan C19 : Penutur berbicara dengan santai. Penutur memberi ejekan kepada MT. Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Penutur
menyinggung MT.
3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik
Tuturan C7 : tuturan dikatakan dengan intonasi tanya, nada tutur sedang, tekanan lunak pada kata opo, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.
Tuturan C19 : tuturan dikatakan dengan intonasi berita, partikel kok, nada tutur sedang, tekanan lunak pada frasa ra nduwe, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.
4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik
Tuturan C7 : Tuturan terjadi ketika penutur berada di tokonya sedang menyusun barang dagangannya. MT datang hendak membeli kerupuk. MT
pertanyaan MT, penutur justru menanyakan hal yang lain. Penutur
mengganggap MT tidak terlalu penting untuk dilayani. Suasana ketika tuturan
terjadi santai.Tuturan terjadi di toko pukul 09.00 WIB, tanggal 25 April 2013.
Penutur laki-laki berusia 48 tahun. MT perempuan berusia 28 tahun. MT
adalah tetangga penutur. Tujuan dari penutur adalah menanggapi MT yang
datang hendak membeli kerupuk. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak
verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT yang hendak
membeli kerupuk langsung pergi tidak jadi membeli.
Tuturan C19 : Tuturan terjadi ketika penutur baru datang ke rumah MT.MT sedang duduk di kursi di teras rumahnya.Penutur meminta nomor HP MT agar
mudah untuk dihubungi. Karena MT tidak terlalu bisa menggunakan HP dan
merasa tidak terlalu membutuhkannya, MT tidak memiliki HP. Penutur yang
usianya jauh lebih muda dari mengejek MT yang tidak memiliki HP di zaman
serba teknologi. Suasana ketika tuturan terjadi santa. Tuturan terjadi di depan
rumah pukul 16.00 WIB, tanggal 21 Mei 2013. Penutur laki-laki berusia 20
tahun. MT perempuan bersuai 55 tahun. MT adalah bibi penutur. Tujuan dari
penutur adalah menanggapi MT yang mengaku tidak memiliki HP. Tindak
verbal yang terjadi adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang
terjadi adalah MT tidak menanggapi lagi tuturan penutur.
5) Maksud Ketidaksantunan
Tuturan C7 : penutur hanya bermaksud basa-basi dengan mitra tutur.
Tuturan C19 : penutur bermaksud mengejek mitra tutur yang tidak memiliki HP.
4.2.3.4Subkategori Menentang
Cuplikan Tuturan 23
MT: “Itu lho bukain pintunya!”
P : “Yo, kono kowe wae, wong aku rung adus kok!” (C8)
(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika MT sedang berada di dapur. Penutur berada di ruang tamu sedang bermain HP ketika terdapat suara pintu yang diketuk. MT yang sedang sibuk menyuruh penutur untuk membukakan pintu untuk tamunya. Penutur tidak mau membukakan pintu karena penutur belum mandi. Penutur menyuruh MT yang sedang sibuk untuk membukakan pintu karena MT yang sudah tampak rapi.)
1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik
Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak
santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di
atas.
Tuturan C8 : “Yo, kono kowe wae, wong aku rung adus kok!” (Ya, sana kamu saja, aku belum mandi kok!)
2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik
Tuturan C8 : Penutur berbicara dengan keras.Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Penutur menyinggung MT. Penutur menyuruh balik ke MT
yang tengah sibuk.Penutur berbicara dengan ketus.
3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik
Tuturan C8 : tuturan dikatakan dengan intonasi perintah, partikel yo, wong, kok, nada tutur sedang, tekanan keras pada frasa kowe wae, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.
4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik
Tuturan C8 : Tuturan terjadi ketika MT sedang berada di dapur. Penutur berada di ruang tamu sedang bermain HP ketika terdapat suara pintu yang
diketuk. MT yang sedang sibuk menyuruh penutur untuk membukakan pintu
untuk tamunya. Penutur tidak mau membukakan pintu karena penutur belum
mandi. Penutur menyuruh MT yang sedang sibuk untuk membukakan pintu
karena MT yang sudah tampak rapi. Suasana ketika tuturan terjadi santai.
Tuturan terjadi di rumah pukul 18.00 WIB, tanggal 22 April 2013. Penutur
anak laki-laki berusia 14 tahun. MT perempuan berusia 19 tahun. Tujuan dari
penutur adalah menanggapi dengan kesal tuturan MT yang menyuruhnya
membukakan pintu untuk tamu. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak
verbal direktif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT yang akhirnya
membuka pintu untuk tamu mereka yang baru datang.
5) Maksud Ketidaksantunan
Tuturan C8 : penutur bermaksud mengelak dari perintah mitra tutur yang menyuruhnya membuka pintu untuk tamu.
4.2.3.5Subkategori Menolak
Cuplikan Tuturan 26
MT: “Mas, aku melu yo?”
P : “Halah, ojo ojo, nang omah wae, jeh cilik!!!” (C11)
(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur berada di kamarnya dan bersiap-siap hendak pergi. MT datang ke kamar penutur meminta izin untuk ikut bersama penutur karena jika penutur pergi, MT hanya tinggal sendirian di rumah. Penutur tidak memperbolehkan MT ikut karena penutur menganggap MT masih kecil dan belum pantas ikut dengannya. MT meinggalkan penutur dengan kesal karena tidak dizinkan ikut.)
1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik
Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak
santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di
atas.
Tuturan C11 : “Halah, ojo ojo, nang omah wae, jeh cilik!!!” (Halah, jangan jangan, di rumah saja, masih kecil!!!)
2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik
Tuturan C11 : Penutur berbicara dengan keras. Penutur berbicara dengan sinis.Penutur menyinggung MT yang ingin ikut dengannya.
3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik
Tuturan C11 : tuturan dikatakan dengan intonasi perintah, partikel halah,
nada tutur tinggi, tekanan keras pada frasa ojo-ojo, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.
4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik
Tuturan C14 : Tuturan terjadi ketika penutur dan MT berada di toko penutur. MT membantu penutur menyusun barang dagangan penutur. Sebelumnya, MT
sudah menumpahkan barang yang tidak sengaja disenggolnya. MT salah
meletakkan barang yang hendak ia susun. Penutur mengingatkan MT untuk
tidak meletakkan barang di tempat yang salah karena nanti bisa tumpah lagi.
Suasana ketika tuturan terjadi serius. Tuturan terjadi di toko pada siang hari
pukul 12.30 WIB, tanggal 6 Mei 2013. Penutur perempuan berusia 46 tahun.
MT laki-laki berusia 18 tahun. MT adalah anak penutur. Tujuan dari penutur
verbal yang terjadi adalah direktif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT
meletakkan barang pada tempatnya dengan berhati-hati.
Tuturan C21 : Tuturan terjadi ketika MT1 sedang berada di ruang keluarga bersama ibunya (MT2). MT1 meminta HP model terbaru kepada ibunya.
Penutur yang berada di dalam kamar mendengar perbincangan MT1 dengan
ibu. Penutur langsung keluar kamar dan menanggapi permintaan MT1 dengan
sinis. Suasana ketika tuturan terjadi serius. Tuturan terjadi di rumah pada
malam hari. Penutur perempuan berusia 20 tahun. MT1 laki-laki berusia 15
tahun. MT2 perempuan berusia 47 tahun. MT1 adalah adik dari penutur. MT2
adalah ibu dari MT1 dan penutur. Tujuan dari penutur menanggapi permintaan
MT1 kepada ibunya. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal direktif.
Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT1 langsung diam dan pergi ke
kamarnya.
5) Maksud Ketidaksantunan
Tuturan C11 : penutur bermaksud melarang mitra tutur yang ingin ikut bersamanya.
4.2.3.6Subkategori Memperingatkan
Cuplikan Tuturan 29
P : “Kuwi yo ra neng kono, opo-opo kok mung utah!!!” (C14)
MT: (memindahkan barang ke tempat lain).
(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur dan MT berada di toko penutur. MT membantu penutur menyusun barang dagangan penutur. Sebelumnya, MT sudah menumpahkan barang yang tidak sengaja disenggolnya. MT salah meletakkan barang yang hendak ia susun.
Penutur mengingatkan MT untuk tidak meletakkan barang di tempat yang salah karena nanti bisa tumpah lagi.)
Cuplikan Tuturan 36
MT1: “Bu, aku boleh minta ganti HP baru?” MT2: (belum sempat menjawab).
P : “Pokoknya jangan dikasih, nanti buat macem-macem, wong masih SMP gitu udah minta yang macem-macem!” (C21)
(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika MT1 sedang berada di ruang keluarga bersama ibunya (MT2). MT1 meminta HP model terbaru kepada ibunya. Penutur yang berada di dalam kamar mendengar perbincangan MT1 dengan ibu. Penutur langsung keluar kamar dan menanggapi permintaan MT1 dengan sinis.)
1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik
Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak
santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di
atas.
Tuturan C14 : “Kuwi yo ra neng kono, opo-opo kok mung utah!!!” (Itu ya tidak di situ, apa-apa kok hanya tumpah!!!)
Tuturan C21 : “Pokoknya jangan dikasih, nanti buat macem-macem, wong masih SMP gitu udah minta yang macem-macem!”
2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik
Tuturan C14 : Penutur berbicara dengan ketus.Penutur mengingatkan dengan sinis. Penutur membuat MT tersinggung dengan tuturannya.
Tuturan C21 : Penutur berbicara dengan keras. Penutur berbicara dengan ketus.Penutur berbicara dengan sinis.Penutur menyinggung MT1.
3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik
Tuturan C14 : tuturan dikatakan dengan intonasi perintah, partikel yo, kok, nada tutur sedang, tekanan keras pada frasa neng kono, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.
Tuturan C21 : tuturan dikatakan dengan intonasi perintah, partikel wong, nada tutur tinggi, tekanan keras pada kata jangan, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu pokoknya, dikasih, buat, macem-macem, masih, gitu, dan udah; penggunaan istilah bahasa Jawa wong.
4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik
Tuturan C14 : Tuturan terjadi ketika penutur dan MT berada di toko penutur. MT membantu penutur menyusun barang dagangan penutur. Sebelumnya, MT
sudah menumpahkan barang yang tidak sengaja disenggolnya. MT salah
meletakkan barang yang hendak ia susun. Penutur mengingatkan MT untuk
tidak meletakkan barang di tempat yang salah karena nanti bisa tumpah lagi.
Suasana ketika tuturan terjadi serius. Tuturan terjadi di toko pada siang hari
pukul 12.30 WIB, tanggal 6 Mei 2013. Penutur perempuan berusia 46 tahun.
MT laki-laki berusia 18 tahun. MT adalah anak penutur. Tujuan dari penutur
adalah mengingatkan MT agar meletakkan barang pada tempatnya. Tindak
verbal yang terjadi adalah direktif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT
meletakkan barang pada tempatnya dengan berhati-hati.
Tuturan C21 : Tuturan terjadi ketika MT1 sedang berada di ruang keluarga bersama ibunya (MT2). MT1 meminta HP model terbaru kepada ibunya.
ibu. Penutur langsung keluar kamar dan menanggapi permintaan MT1 dengan
sinis. Suasana ketika tuturan terjadi serius. Tuturan terjadi di rumah pada
malam hari. Penutur perempuan berusia 20 tahun. MT1 laki-laki berusia 15
tahun. MT2 perempuan berusia 47 tahun. MT1 adalah adik dari penutur. MT2
adalah ibu dari MT1 dan penutur. Tujuan dari penutur menanggapi permintaan
MT1 kepada ibunya. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal direktif.
Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT1 langsung diam dan pergi ke
kamarnya.
5) Maksud Ketidaksantunan
Tuturan C14 : penutur hanya bermaksud mengomentari pekerjaan mitra tutur.
Tuturan C21 : penutur bermaksud melarang mitra tutur yang meminta HP baru.
4.2.4 Menghilangkan Muka
Kategori ketidaksantunan yang menghilangkan muka memiliki lima
subkategori, yaitu mengejek, memperingatkan, menyindir, kesal, dan
meremehkan. Kelima subkategori tersebut dianalisis berdasarkan wujud
ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan
pragmatik, serta maksud ketidaksantunan. Wujud ketidaksantunan linguistik
berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan pragmatik
berupa cara penyampaian penutur yang mengikuti setiap tuturan lisan tidak
santun. Penanda ketidaksantunan linguistik dianalisis berdasarkan intonasi,
ketidaksantunan pragmatik berupa konteks yang melingkupi setiap tuturan.
Maksud ketidaksantunan berkenaan dengan tujuan dari penutur ketika
mengutarakan tuturan tidak santunnya kepada mitra tutur. Berikut adalah analisis
tuturan tidak santun dari kelima subkategori tersebut.
4.2.4.1Subkategori Mengejek
Cuplikan Tuturan 39
MT : “Umurku 35 tahun kan yo, Bu?”
P : “La yo mboh, mbok umurmu dewe kok tekok.” (D1)
MT : “Yo kan aku lali bu.”
(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur dan MT sedang menerima tamu di teras rumah. Penutur duduk tidak jauh dari MT. MT bertanya tentang usianya. Penutur menjawab pertanyaan MT dengan seenaknya.)
Cuplikan Tuturan 50
P : “Mangane kok gembus meneh? neng omah gembus, neng kene yo gembus.”
MT: “Iyo mbak, wong senenge gembus.”
P : “Wo lah yo kuwi, suwi-suwi raine dadi rai gembus.” (D12)
(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur berada di warung makan miliknya. Di warung makan tersebut, MT datang hendak membeli makanan. Selain penutur dan MT, terdapat pula pembeli yang lain. MT lalu bercerita bahwa tadi pagi memasak tempe gembus, lalu sekarang hendak membeli lauk tempe gembus juga. Penutur bukannya menanggapi cerita dengan baik, tetapi justru mengejeknya.)
1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik
Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak
santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di
Tuturan D1 : “La yo mboh, mbok umurmu dewe kok tekok.” (Ya tidak tahu, umurmu sendiri kok tanya.)
Tuturan D12 : “Wo la yo kuwi, suwi-suwi raine dadi rai gembus.” (Wah, la ya itu, lama-lama mukanya jadi muka gembus.)
2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik
Tuturan D1 : Penutur berbicara di depan orang lain.Penutur berbicara tanpa melihat ke MT. Penutur berbicara dengan sinis. Penutur tidak merasa telah
mempermalukan MT di depan tamunya.
Tuturan D12 : Penutur berbicara dengan ketus. Penutur memberi ejekan kepada MT. Penutur berbicara di depan orang lain. Penutur mempermalukan
MT di depan umum tanpa merasa bersalah.
3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik
Tuturan D1 : tuturan dikatakan dengan intonasi berita, partikel la, yo, mbok, kok, nada tutur sedang, tekanan keras pada kata mboh, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.
Tuturan D12 : tuturan dikatakan dengan intonasi berita, partikel lah, yo, nada tutur sedang, tekanan keras pada kata gembus, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.
4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik
Tuturan D1 : Tuturan terjadi ketika penutur dan MT sedang menerima tamu di teras rumah. Penutur duduk tidak jauh dari MT.MT bertanya tentang usianya.
Penutur menjawab pertanyaan MT dengan seenaknya. Suasana ketika tuturan
terjadi santai.Tuturan terjadi di teras rumah pukul 17.00 WIB, tanggal 10 April
2013. Penutur perempuan berusia 55 tahun. MT perempuan berusia 35 tahun.
yang menanyakan berapa usianya. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak
verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT langsung
menghitung sendiri usianya.
Tuturan D12 : Tuturan terjadi ketika penutur berada di warung makan miliknya. Di warung makan tersebut, MT datang hendak membeli makanan.
Selain penutur dan MT, terdapat pula pembeli yang lain. MT lalu bercerita
bahwa tadi pagi memasak tempe gembus, lalu sekarang hendak membeli lauk
tempe gembus juga. Penutur bukannya menanggapi cerita dengan baik, tetapi
justru mengejeknya. Suasana ketika tuturan terjadi santai. Tuturan terjadi di
warung makan pada siang hari pukul 14.30 WIB, tanggal 13 Mei 2013. Penutur
perempuan berusia 48 tahun. MT perempuan berusia 45 tahun. MT adalah
tetangga penutur. Tujuan dari penutur adalah menanggapi ceritaMT tentang
makanan yang ia masak tadi pagi. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak
verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah dikarenakan malu, MT
tidak jadi memilih lauk tempe gembus, ia lalu memilih lauk lain.
5) Maksud Ketidaksantunan
Tuturan D1 : penutur hanya bermaksud menanggapi pertanyaan mitra tutur.
Tuturan D12 : penutur hanya bermaksud bercanda dengan mitra tutur.
4.2.4.2Subkategori Memperingatkan
Cuplikan Tuturan41
P : “Kamu tu harusnya lebih rajin, nilaimu tu malu-maluin!” (D3)
(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur dan MT berada di ruang keluarga bersama anggota lainnya. Penutur duduk di sebelah MT. Penutur dan anggota keluarga sedang membicarakan tentang prestasi keluarga.)
Cuplikan Tuturan44
P : “Wes, ojo kakean leh ngomong, ndak kewengen!” (D6)
MT: (langsung pergi).
(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur sedang menerima tamu di ruang tamu. MT datang untuk ikut berbincang-bincang dengan tamu penutur. Penutur menegur MT yang terlalu banyak bertanya kepada tamu penutur padahal malam semakin larut. Penutur menegur MT di depan tamu penutur.)
1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik
Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak
santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di
atas.
Tuturan D3 : “Kamu tu harusnya lebih rajin, nilaimu tu malu-maluin!”
Tuturan D6 : “Wes, ojo kakean leh ngomong, ndak kewengen!” (Sudah, jangan banyak bicara, nanti kemalaman.)
2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik
Tuturan D3 : Penutur berbicara di depan anggota keluarga yang lain.Penutur mengakibatkan MT merasa malu. Penutur berbicara dengan ketus. Penutur
berbicara tanpa melihat ke MT.
Tuturan D6 : Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Penutur berbicara di depan tamu. Penutur mengakibatkan MT merasa malu. Penutur
3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik
Tuturan D3 : tuturan dikatakan dengan intonasi seru, nada tutur sedang, tekanan keras pada kata malu-maluin, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu tu, harusnya, dan malu-maluin.
Tuturan D6 : tuturan dikatakan dengan intonasi perintah, nada tutur sedang, tekanan keras pada frasa ndak kewengen, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.
4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik
Tuturan D3 : Tuturan terjadi ketika penutur dan MT berada di ruang keluarga bersama anggota lainnya. Penutur duduk di sebelah MT. Penutur dan anggota
keluarga sedang membicarakan tentang prestasi keluarga. Suasana ketika
tuturan terjadi santai. Tuturan terjadi di rumah pada malam hari. Penutur
perempuan berusia 22 tahun. MT laki-laki berusia 15 tahun. MT adalah adik
dari penutur. Tujuan dari penutur adalah menyindir MT yang nilainya tidak
sebaik nilai kakak-kakaknya. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal
direktif. Tindak perlokusi yang terjadi MT langsung masuk ke kamar dengan
raut muka malu.
Tuturan D6 : Tuturan terjadi ketika penutur sedang menerima tamu di ruang tamu. MT datang untuk ikut berbincang-bincang dengan tamu penutur.Penutur
menegur MT yang terlalu banyak bertanya kepada tamu penutur padahal
malam semakin larut. Penutur menegur MT di depan tamu penutur. Suasana
ketika tuturan terjadi santai.Tuturan terjadi di rumah pukul 19.00 WIB, tanggal
tahun. MT adalah ibu dari penutur. Tujuan dari penutur menegur MT yang
banyak bertanya kepada tamu penutur. Tindak verbal yang terjadi adalah
tindak verbal direktif.Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT langsung pergi
meninggalkan penutur dan tamunya.
5) Maksud Ketidaksantunan
Tuturan D3 : penutur bermaksud memperingatkan mitra tutur untuk lebih rajin belajar.
Tuturan D6 : penutur bermaksud mengusir mitra tutur yang banyak bertanya kepada tamu penutur.
4.2.4.3Subkategori Menyindir
Cuplikan Tuturan 53
MT : “Mbak, nek aku nganggo iki pas ra yo?”
P : “Kowe ki saiki lemu, kok pede tenan ngengge klambi ukuran S koyo ngono.” (D15)
(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur dan MT berada di kamar. Selain penutur dan MT, kakak MT juga berada di kamar tersebut. MT sedang mencoba baju yang baru dibelinya. MT bertanya kepada penutur apakah baju itu cocok dengannya. Penutur menjawab dengan sindirran karena penutur merasa baju itu tidak sesuai dengan badan MT yang sedikit lebih gemuk dari sebelumnya.)
Cuplikan Tuturan54
P : “Heh, udah nambah belum itu tinggimu?” (D16)
MT: “Ya segini aja kok.”
(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur sedang duduk di teras rumah. MT baru saja datang bersama adiknya, lalu menyapa penutur. Selain penutur, terdapat 2 anggota keluarga lain yang duduk di teras itu. Penutur tidak membalas sapaan MT, tetapi malah menyindir MT yang