BAB II LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
4. Subversi
Subversi berasal dari bahasa latin yaitu subversus, yang berarti menggulingkan. Dalam bahasa Inggris, subversi (subversion) berarti gerakan bawah tanah untuk menggulingkan pemerintahan yang sah (Djoko Prakoso, Bambang Riyadi Lany dan Amir Muhsin, 1987: 280). Subversi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 1096) ialah penggulingan kekuasaan atau pemerintahan dengan jalan melemahkan kepercayaan (kesetiaan) rakyat kepada pemerintah.
Menurut Penjelasan Umum Undang-Undang Pnps No 11 Tahun 1963 mengenai pemberantasan kegiatan subversi, subversi merupakan manifestasi pertentangan-pertentangan kepentingan yang tidak dapat dipertemukan (bijgleged), suatu lanjutan perjuangan politik dengan merusak kekuatan lawan dengan cara-cara tertutup (covert), sering pula dibarengi atau disusul tindakan kekerasan yang terbuka (Niniek Suparni, 1990: 95). Departemen Pertahanan dan Keamanan Indonesia menyatakan subversi yaitu kegiatan yang dilancarkan pihak secara terselubung dan secara tidak sah terhadap kepentingan negara sasaran (Djoko Prakoso et al, 1987: 280).
Kesimpulannya subversi merupakan usaha untuk menjatuhkan pemerintahan yang ada dengan cara yang tidak sah yang terjadi karena perbedaan kepentingan yang sulit dipertemukan.
b. Penyebab Subversi
Setiap bangsa dan negara menginginkan agar kehidupan bernegaranya terwujud dalam keselarasan yang dinamis antara kepentingan yang terdapat pada rakyat dan pemerintahan yang mengelola sumber daya dalam wilayah negara. Kenyataannya tidak demikian karena pada suatu masa akan terjadi pertentangan kepentingan yang sulit dipertemukan penyelesaiannya. Akibatnya kemungkinan terjadi ketegangan politik sebelum berlangsungnya suatu peperangan (Bambang Poernomo, 1984: 117). Pertentangan politik dalam negara kerap terjadi karena ketidakselarasan antara kehendak negara yang akan dilaksanakan pemerintah dengan keinginan sekelompok orang yang memiliki kekuatan sosial-politik dalam suatu negara (Bambang Poernomo, 1984: 118).
Penjelasan umum UU Pnps No 11 Tahun 1963 menyatakan bahwa subversi merupakan manifestasi pertentangan kepentingan yang tidak dapat dipertemukan, lanjutan perjuangan politik dengan merusak kekuatan lawan dengan cara tertutup, sering pula disusul tindakan kekerasan yang terbuka (Niniek Suparni, 1990: 95).
xli
Menurut Djoko Prakoso et al (1987: 289) subversi memiliki beberapa sumber yaitu dari luar negeri atau dalam negeri dari orang-orang negara yang bersangkutan, simpatisan atau orang yang diperalat atau memiliki persamaan kepentingan. Biasanya subversi berlandaskan kepentingan nasional dengan motivasi politik terselubung yang dalam prakek sering tercampur. Djoko Prakoso et al melanjutkan bahwa meski sumber subversi berlainan namun keduanya dapat bekerja sama, sehingga tercipta pola yaitu pola subversi asing dengan bantuan unsur dalam negeri, subversi dalam negeri yang dibantu pihak asing dan subversi dalam negeri yang berdiri sendiri.
c. Ruang Lingkup Subversi
Menurut penjelasan UU No.11 Pnps Tahun 1963 tentang pemberantasan kegiatan subversi, subversi selalu terkait dengan politik dan merupakan alat untuk mencapai tujuan-tujuan politik yang dikehendaki golongan yang berkepentingan. Namun bidang non politik bisa dihubungkan dengan tindakan subversi (Niniek Suparni, 1990: 95).
Keputusan Mahkamah Agung (MA) tanggal 22 Februari 1969 No. 89/Kr/1968 antara lain menetapkan unsur penting dalam tindak pidana subversi adalah latar belakang politik, yang harus selalu dibuktikan di muka sidang setiap unsur delik yang dituduhkan. Menurut putusan lain MA tanggal 17 Juli 1971 No. 28K/Kr/1969 memberikan pertimbangan lain dimana latar belakang tindak pidana subversi dalam kaitanya dengan kekuatan politik dan asing dan lainnya tidak memerlukan karena yang perlu disimpulkan yaitu unsur delik-delik subversi yang dari perbuatan nyata terdakwa (Bambang Poernomo, 1984: 122).
Sementara dalam putusan MA No. 364 K/Kr/1980 tanggal 26 Januari 1984 menyatakan istilah politik harus dipandang luas dan bukan semata sebagai practical politics atau partai politik melainkan sebagai kebijakan negara dalam ekonomi, sosial dan budaya (Djoko Prakoso et al, 1987: 287)
Oemar Seno Adji (1984: 159) menyatakan pengertian luas dalam UU No.11 Pnps Tahun 1963 bisa memancing hakim untuk memasukkan delik-delik yang semula tidak dimaksudkan untuk tindak pidana subversi ke dalam tindak pidana subversi. Oemar Seno Adji melanjutkan bahwa perumusan yang luas dalam tindak pidana subversi dan delik politik, yang memiliki fungsi perlindungan keamanan atau keselamatan negara, membuka hakim untuk mengadakan interpretasi extensif.
Ruang lingkup subversi (Djoko Prakoso et al, 1987: 289) yaitu:
1). Bidang Ideologi: sasaran ditujukan pada kelemahan-kelemahan dalam bidang ideologi;
2). Bidang Politik: mempertentangkan perbedaan antar kekuatan sosial guna memudahkan subversi infiltrasi terhadap kekuatan sosial yang ada, ditujukan untuk bisa mendukung tujuan politik dari pihak yang melakukan subversi;
xlii
3). Bidang Ekonomi: mengacau pelbagai macam ekonomi khususnya bidang-bidang vital yang jika berhasil akan memberikan dampak psikologis dan ekonomi kegoncangan masyarakat sasaran subversi, secara sistematis mengenai bidang-bidang tertentu dalam bidang ekonomi dengan maksud untuk dapat dimanipulasi guna kepentingan masyarakat dan menghambat atau menghancurkan usaha-usaha pembangunan ekonomi yang telah dicapai;
4). Bidang Sosial-Budaya: mempertentangkan perbedaan-perbedaan di bidang sosial-budaya secara eksplosif dalam masyarakat, memasukkan nilai-nilai baru di bidang sosial budaya untuk menimbulkan frustasi atau keragu-raguan dan melemahkan integritas persatuan dan kepribadian bangsa;
5). Bidang Pertahanan-Keamanan: melemahkan potensi militer yang ada, memisahkan hubungan rakyat, pertahanan dan keamanan daerah, dan menimbulkan kekacauan serta ketidakpastian dalam masyarakat. Djoko Prakoso et al (1987: 296) menambahkan bahwa subversi memiliki sifat yang spontan dan spektakuler, pragmatis dalam menghadapi masalah dan memakai isu dari masalah-masalah yang timbul pada suatu waktu.
d. Kegiatan Subversi
Kegiatan subversi adalah menguasai keadaan, menciptakan keadaan yang menguntungkan bagi yang melakukan dengan tujuan intermedier antara lain meruntuhkan negara dari dalam, menjatuhkan pemerintahan yang sah, menarik negara sasaran kedalam pengaruh atau blok negara penggerak/pengendali/pelaku subversi dan menimbulkan kerugian baik materi atau imateri kepada negara/pemerintahan yang sah.
Subversi dilakukan dengan menimbulkan perpecahan dan pengrusakan diberbagai bidang, penyelewengan usaha yang mencapai dan memelihara tujuan dan kepentingan nasional, gangguan keamanan negara, berbagai ancaman dibanyak bidang dari negara sasaran subversi, dengan sasaran pemerintahannya agar melemah dengan menggunakan berbagai saluran di negara tersebut (Niniek Suparni, 1991: 15).
Djoko Prakoso et al (1987: 290) mengungkapkan bahwa kegiatan subversi dalam negeri ada yang bersifat konsepsional dimana mereka yang melakukan subversi telah memiliki tujuan, rencana dan program tertentu untuk mengubah atau mengganti sistem sosial atau pemerintah yang ada. Ada pula kegiatan subversi yang tidak bersifat konsepsional karena memaksakan perubahan namun tanpa memiliki rencana tertentu sebagaimana perubahan yang dimiliki.
xlii i
Menurut Pasal 1 UU No.11 Pnps Tahun 1963, yang temasuk kegiatan subversi yaitu:
1). Kegiatan yang bermaksud atau diketahui memiliki potensi negatif atau destruktif terhadap ideologi negara Pancasila atau GBHN, kekuasaan negara atau kewibawaan pemerintah yang sah atau aparatur negara dan perekonomian yang diselenggarakan atau berdasar keputusan Pemerintah atau berpengaruh luas terhadap hajat hidup rakyat banyak;
2). Bersimpati terhadap musuh negara atau negara yang tidak bersahabat dengan Indonesia;
3). Merusak bangunan umum atau perseorangan atau badan yang dilakukan secara luas;
4). Melakukan kegiatan mata-mata; 5). Melakukan kegiatan sabotase;
6). Memikat tindak-tindak pidana tersebut di atas.
Djoko Prakoso et al (1987: 296) menyatakan pola-pola yang digunakan dalam subversi yaitu:
1). Mengadakan gerakan yang mudah ditiru di tempat-tempat lain; 2). Kampanye diawali dalam surat kabar atau selebaran untuk memicu
demostrasi atau gerakan;
3). Umumnya gerakan dimulai dari golongan kecil yang diharapkan akan mendapat dukungan luas dalam masyarakat;
4). Sasaran utama biasanya pemerintah dan tiap gerakan didukung pers; 5). Kerap bertujuan untuk menggiring opini umum yang sesuai pendapat
kelompok.
Djoko Prakoso et al (1987: 296) menyatakan pula bahwa beberapa pola sumber yang digunakan dalam subversi yaitu:
1). Pola luar negeri, yaitu pola merah (komunis), pola putih (anti komunis) dan pola New Left;
2). Pola dalam negeri, yaitu:
a). Pola subvesi dalam bidang seperti pertentangan ideologi, konsepsi politik, kepercayaan/agama dan sosial (sosial-ekonomi, kedaerahan, kesukuan);
xli v
b). Pola subversi ekstrim, yaitu golongan ekstrim kiri dan golongan ekstrim kanan serta golongan ekstrim lain (intelektualisme, separatisme, anarkisme).
e. Metode Subversi
Bentuk subversi yaitu intimidasi, insinuasi, provokasi, intervensi, penetrasi, sabotase, spionase, penghasutan, adu domba dan lain-lain. Strategi subversi yang dilakukan bisa jangka pendek, menengah, panjang dan dalam lingkup lokal, regional, global (Niniek Suparni, 1991: 15).
Djoko Prakoso et al (1987: 313) menyatakan subversi dijalankan lewat: 1). Spionase: usaha memperoleh secara tidak sah keterangan-keterangan
untuk tujuan yang merugikan atau membahayakan negara;
2). Sabotase: usaha kejahatan dan tindakan yang sengaja dilakukan dengan ilegal untuk merusak, membuat agar tidak dapat dipakai, menghilangkan sesuatu benda atau tanaman, membinasakan binatang, menggagalkan atau menghambat program pemerintah sehingga menimbulkan akibat yang luas yang membahayakan negara dalam ekonomi, psikologis, politik atau pertahanan-keamanan;
3). Penggalangan: usaha membuat atau menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi subversi;
4). Infiltrasi: usaha ilegal memasuki wilayah negara tempat-tempat yang tertentu yang sembunyi atau menyembunyikan identitas atau melalui jalan lain daripada yang telah ditentukan dengan maksud spionase, pengalangan, gangguan keamanan, pembentukan kekuatan bersenjata dan atau mengambil bagian memimpin pemberontakan bersenjata; 5). Gangguan keamanan dalam upaya subversi: usaha sengaja dan
melawan hukum bersifat menyeluruh dan berdampak nasional dengan tujuan subversi, seperti demonstrasi liar, kriminalitas, propaganda liar, teror dan tindak pidana terhadap keamanan negara; 6). Pembentukan kekuatan bersenjata: usaha mempersiapkan kekuatan
fisik bersenjata secara melawan hukum untuk mencapai subversi. f. Gangguan Keamanan
Tindak pidana yang termasuk gangguan keamanan keamanan negara dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang dikutip Wiryono
xlv
Prodjodikoro (1986: 193) yaitu: pasal 104 tentang makar terhadap kepala negara seperti membunuh, menghilangkan kemerdekaan atau membuat kepala negara tidak bisa menjalankan pemerintahan, pasal 106 tentang makar memasukkan Indonesia dibawah penguasaan asing dan pasal 107 tentang makar menggulingkan pemerintahan.
Gangguan keamanan lain dalam KUHP (pasal 108-129) yaitu pemberontakan, permufakatan untuk melakukan kejahatan, penyertaan istimewa, berhubungan dengan negara asing yang mungkin akan bermusuhan dengan negara, berhubungan dengan negara asing dengan tujuan agar asing membantu penggulingan pemerintahan, menyiarkan surat-surat rahasia, kejahatan mengenai bangunan-bangunan pertahanan negara, merugikan negara dalam perundingan diplomatik, kejahatan spionase, menyembunyikan mata-mata musuh, menipu dalam hal menjual barang keperluan negara (Wiryono Prodjodikoro, 1986: 199).
Tindakan subversi terjadi karena ada upaya menjatuhkan pemerintahan dengan cara tidak sah. Biasanya subversi terjadi karena adanya pertentangan-pertentangan politik dalam suatu negara. Cara menjatuhkan pemerintahan bisa dengan dari demonstrasi atau aksi fisik seperti penganiayaan, penculikan dan pembunuhan terhadap diri kepala negara atau kepala pemerintahan.
5. Penculikan