• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber ajaran agama islam A Al-Qur’an

Dalam dokumen Makalah Pendidikan dan Agama Islam (Halaman 33-52)

Al-Qur’an adalah sumber ajaran Islam yang utama. Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an dijaga dan dipelihara oleh Allah SWT, sesuai dengan firmannya sebagai berikut:

”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al=Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS 15:9)

”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an. Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS 4:82)

Al-Qur’an menyajikan tingkat tertinggi dari segi kehidupan manusia. Sangat mengaggumkan bukan saja bagi orang mukmin, melainkan juga bagi orang-orang kafir. Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan (Nuzulul Qur’an). Wahyu yang perta kali turun tersebut adalah Surat Alaq, ayat 1-5. Al-Qur’an memiliki beberapa nama lain, antara lain adalah Al-Qur’an (QS. Al-Isra: 9), Al-Kitab (QS. Al-Baqoroh: 1-2), Al-Furqon (QS. Al- Furqon: 1), At-Tanzil (QS> As-Syu’ara: 192), Adz-Dzikir (Surat Al-Hijr: 1-9).

Pokok-pokok keimanan (tauhid) kepada Allah, keimanan kepada malaikat, rasul-rasul, kitab- kitab, hari akhir, qodli-qodor, dan sebagainya.

Prinsip-prinsip syari’ah sebagai dasar pijakan manusia dalam hidup agar tidak salah jalan dan tetap dalam koridor yang benar bagaiman amenjalin hubungan kepada Allah (hablun minallah, ibadah) dan (hablun minannas, mu’amalah).

Janji atau kabar gembira kepada yang berbuat baik (basyir) dan ancaman siksa bagi yang berbuat dosa (nadzir).

Kisah-kisa sejarah, seperti kisah para nabi, para kaum masyarakat terdahulu, baik yang berbuat benar maupun yang durhaka kepada Tuhan.

Dasar-dasar dan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan: astronomi, fisika, kimia, ilmu hukum, ilmu bumi, ekonomi, pertanian, kesehatan, teknologi, sastra, budaya, sosiologi, psikologi, dan sebagainya.

Keutamaan Al-Qur’an ditegaskan dalam Sabda Rasullullah, antara lain:

Sebaik-baik orang di antara kamu, ialah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya

Umatku yang paling mulia adalah Huffaz (penghafal) Al-Qur’an (HR. Turmuzi)

Orang-orang yang mahir dengan Al-Qur’an adalah beserta malaikat-malaikat yang suci dan mulia, sedangkan orang membaca Al-Qur’an dan kurang fasih lidahnya berat dan sulit membetulkannya maka baginya dapat dua pahala (HR. Muslim).

Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah hidangan Allah, maka pelajarilah hidangan Allah tersebut dengan kemampuanmu (HR. Bukhari-Muslim).

Bacalah Al-Qur’an sebab di hari Kiamat nanti akan datang Al-Qur’an sebagai penolong bagai pembacanya (HR. Turmuzi).

Al-Qur’an sebagai Kalamullah.

Al-Qur’an adalah wahyu harfiah dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan bahasa Arab dan membacanya adalah ibadah. Sebagai Kalamullah, Al-Qur’an dalam bentuk aslinya berada dalam indu Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) dalam lindungan Tuhan. Lalu diturunkan kepada Nabi dalam bahasa kaumnya (bahasa Arab).

Tuhan dalam menyampaikan firman-Nya kepada mansusia dialkukan dengan tiga cara, yaitu:

Dengan wahyu (langsung ke dalam hati Nabi)

Di belakang tabir (wahyu diserap oleh indera Nabi tanpa melihat pemberi wahyu) Dengan mengutus malaikat (Jibril) yang membacakan wahyu.

Fungsi Al-Qur’an antara lain adalah:

Menerangkan dan menjelaskan (QS. 16:89; 44:4-5) Al-Qur’an kebenaran mutlak (Al-Haq) (QS. 2: 91, 76)

Pembenar (membenarkan kitab-kitab sebelumnya) (QS. 2: 41, 91, 97; 3: 3; 5: 48; 6: 92; 10: 37; 35: 31; 46: 1; 12: 30)

Sebagai Furqon (pembeda antara haq dan yang bathil, baik dan buruk) Sebagai obat penyakit (jiwa) (QS. 10: 57; 17:82; 41: 44)

Sebagai pemberi kabar gembira

Sebagai hidayah atau petunjuk (QS. 2:1, 97, 185; 3: 138; 7: 52, 203, dll) Sebagai peringatan

Sebagai cahaya petunjuk (QS. 42: 52) Sebagai pedoman hidup (QS. 45: 20) Sebagai pelajaran

Al-Qur’an sebagai Mukjizat

Mukjizat memiliki arti melemahkan, mengalahkan, atau membuat tidak kuasa. Al-Qur’an sebagai mukjizat berarti ia dapat mengalahkan atai melemahkan sehingga tida ada seorangpun yang kuasa melawannya. Mukjizat tersebut dapat berupa keindahan susunan bahasanya dan dari kedalaman isinya.

Dari segi bahasa, Al-Qur’an, tidak ada seorang pun yang dapat menandinginya. Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur’an bukanlah buatan manusia, melainkan murni wahyu dari Allah SWT. Terhadap orang-orang yang tidak percaya kepada Al-Qur’an, Tuhan menantang mereka secara bertahap:

Menantang mereka untuk menyusun karangan semacam Al-Qur’an secara keseluruhan Kalau tak bisa, silakan menyusun sepuluh surat saja semacam Al-Qur’an

Kalau tak bisa, silakan menyusun satu surat saja

Jika tidak bisa juga, Tuhan menantang manusia untuk membuat sesuatu seperti atau lebih kurang sama dengan surat Al-Qur’an

Bagaimanapun usahanya, manusia tidak akan bisa dan pasti tidak akan mampu untuk menyaingi Al-Qur’an.

dari segi isi, susunan bahasa, sastra, dan keindahannya, apa yang ada dalam Al-Qur’an bukan sekadar tanpa makna. Makna-makna yang terkandung dalam Al-Qur’an begitu luas. Ayat- ayatnya selalu memberikan kemungkinan arti yang tak terbatas, dan selalu terbuka untuk menerima interpretasi baru. Al-Qur’an telah disesuaikan (sudah pasti disesuaikan) bagi

seluruh zaman. Al-Qur’an berisi petunjuk agama atau syari’at, dan mengandung mukjizat, tuntunan hidup di dunia dan hidup sesudah mati, serta berita-berita gaib, seperti berita tentang manusia akan dibangkitkan di hari akhirat. Al-Qur’an juga mengandung keterangan tentang isyarat-isyarat ilmiah. Seluruh ilmu pengetahuan dan teknologi pada dasarnya berasal dari Al-Qur’an.

Keutamaan membaca Al-Qur’an, yaitu membacanya adalah ibadah. Bagi orang yang membaca Al-Qur’an akan mendapat pahala yang telah dijanjika Allah SWT. Menurut Ali Bin Abi Thalib, membaca Al-Qur’an dalah 50 kebajikan untuk tiap-tiap hurufnya apabila dibaca waktu melaksanakan sholat, 25 kebajikan apabila di luar sholat (dalam keadaan berwudhu), dan 10 kebajikan apabila tidak berwudhu. Bukan hanya membaca, mendengarkan orang yang membaca Al-Qur’an pun akan mendapat kan pahala. Selain membaca dan mendengar, belajar dan mengajarkan membaca Al-Qur’an pun adalah suatu kebajikan.

B. As-Sunnah

Sunnah dalam bahasa berarti tradisi, kebiasaan adat-istiadat. Dalam terminologi Islam, sunnah berarti perbuatan, perkataan dan keizinan Nabi Muhammad SAW (af’al, aqwal, dan taqrir). Dalam mengukur keotentikan suatu hadits (As-Sunnah), para ahli telah menciptakan suatu ilmu yang dikenal dengan ”musthalah hadits”. Untuk menguji validitas dan kebenaran suatu hadits, para muhadditsin menyeleksinya dengan memperhatikan jumlah dan kualitas jaringan periwayat hadits tersebut yang dengan sanaad.

Macam-macam As-Sunnah: ditinjau dari bentuknya Fi’li (perbuatan Nabi) Qauli (perkataan Nabi)

Taqriri (persetujuan atau izin Nabi)

ditinjau dari segi jumlah orang-orang yang menyampaikannya Mutawir, yaitu yang diriwayatkan oleh orang banyak

Masyhur, diriwayatkan oleh banyak orang, tetapi tidak sampai (jumlahnya) kepada derajat mutawir

Ahad, yang diriwayatkan oleh satu orang. Ditinjau dari kualitasnya

Shahih, yaitu hadits yang sehat, benar, dan sah

Hasan, yaitu hadits yang baik, memenuhi syarat shahih, tetapi dari segi hafalan pembawaannya yang kurang baik.

Dhaif, yaitu hadits yang lemah Maudhu’, yaitu hadits yang palsu.

Ditinjau dari segi diterima atau tidaknya Maqbul, yang diterima.

Mardud, yang ditolak.

Kedudukan As-Sunnah:

Sunnah adalah sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an

Orang yang menyalahi Sunnah akan mendapat siksa (QS. Al-Mujadilah, 58: 5)

Menjadikan Sunnah sebagai sumber hukum adalah tanda orang yang beriman (QS. An-Nisa’, 4: 65)

Perbedaan Al-Qur’an dengan As-Sunnah:

Segala yang ditetapkan Al-Qur’an adalah absolut nilainya. Sedangkan yang ditetapkan As- Sunnah tidak semuanya bernilai absolut. Ada yang bersigat absolut, ada yang bersifat nisbi zhanni

Penerimaan seorang muslim terhadap Al-Qur’an adalah dengan keyakinan. Sedangakan terhadap As-Sunnah, sebagian besar hanyalah zhanny (dugaan-dugaan yang kuat).

Macam-macam sumber ajaran Islam

Sumber adalah tempat pengambilan, rujukan atau acuan dalam penyelenggaraan ajaran Islam, karena itulah sumber memiliki peranan yang sangat penting bagi pelaksanaan ajaran Islam. Dari sumber inilah umat Islam dapat memiliki pedoman-pedoman tertentu untuk melaksanakan proses ajaran Islam, tanpa adanya suatu sumber maka umat Islam akan terombang-ambing dalam menghadapi ideologi dan bisa jadi akan berahir pada kesesatan atau kenistaan.

Dalam pembahasan disini akan diuraikan macam-macam sumber ajaran Islam yang diantaranya meliputi:

Al-Quran Sunah Ijtihad

Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam Pengertian Al-Qur’an

Secara etimologi Al-Qur’an berasal dari kata “qara’a, yaqra’u, qira’atan, qur’anan” yang berarti mengumpulkan dan menghimpun huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian ke bagian lain secara teratur. Ada juga sumber lain mengatakan bahwa Al-Qur’an secara harfiah berarti “bacaan sempurna” merupakan suatu nama pilihan Allah yng sungguh tepat, karena tiada satu bacaanpun sejak anusia mengenl baca tulis yang dapat menandingi Al-Qur’an al- Karim, secara terminologi Al-Qur’an adalah kitab suci yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi

Muhammad SAW. Yang diampaikan lewat malaikat jibril, yang dikomunikasikan dengn bahasa arab, harus dipercayai tanpa syarat dan menjadi pedoman bagi para pengikutnya yaitu umat Islam diseluruh dunia.

Pengertian Al-Qur’an dari segi terminologinya dapat dipahami dari pandangan beberapa ulama, bahwa:

Muhammad Salim Muhsin dalam bukunya “Tarikh Al-Qur’an al-Karim” menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. Yang ditulis dalam mushaf-mushf dan dinukilkan/ diriwayatkan kepada kita dengan jalan mutawatir dan membacanya dipandang ibadah serta sebagai penentang (bagi yang tidak percaya) ataupun surat terpendek.

Abdul Wahab Khalaf mendefinisikan Al-Qur’an sebagai firman Allah SWT yang diturunkan melalui Roh al-Amin (Jibril) kepada nabi Muhammad SAW. Dengan bahasa arab, isinya dijamin kebenarannya, dan sebagai hujah kerasulannya, undang-undang bagi seluruh manusia dan petunjuk dalam beribadah serta dipandang ibadah dalam membacanya, yang terhimpun dalam mushaf yang dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri surat an-Nas, yang diriwayatkan kepada kita dengan jalan mutawatir.

Muhammad abduh mendefinisikan Al-Qur’an sbagai kalam mulia yang diturunkan oleh Allah SWT kepada nabi yang paling smpurna (Muhammad SAW) ajarannya mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan, ia merupakan sumber yang mulia yang esensinya tidak dimengerti kecuali bagi orang yang berjiwa suci daan berakal cerdas.

Asbabun nuzul Al-Qur’an Pengertian asbabun nuzul

Ungkapan asbabun nuzul merupakan bentuk idhafah dari kata asbab dan nuzul. Secara etimologi, asbabun nuzul adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Namun kata asbabun nuzul hanya dipergunakan khusus untuk Al-Qur’an. Para ulama berpendapat bahwa ketika memaknai kata nuzul, inzal, dan tanzil yang terdapat pada ayat Al- Qur’an, ada yang memaknai idhar yaitu melahirkan Al-Qur’an. Ada juga yang memanai bahwa Allah SWT mengajarkannya kepada malaikat jibril baik megenai bacaannya maupun pemahamannya lalu jibril menyampaikannya kepada nabi Muhammad SAW yang ada di bumi.

Menurut az-zarqani asbabun nuzul adalah khusus atau sesuatu yang terjadi serta ada hubungannya dengan turunnya Al-Qur’an sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi.

Urgensi Asbabun Nuzul

Mayoritas ulama sepakat bahwa konteks kesejarahan yang terakumulasi dalam riwayat- riwayat asbabun nuzul merupakan suatu hal yang signifikan untuk memahami pesan-pesan

Al-Qur’an. Bahkan al-wahidi menyatakan ketidakmungkinan untuk menginterpretasikan Al- Qur’an tanpa mempertimbangkan aspek kisah dan asbabun nuzul.

Dalam uraian yang lebih rinci, Az-Zarqani mengemukakan urgensi asbabun nuzul dalam memahami Al-Qur’an sebagai berikut:

Membantu dalam memahami sekaligus mengatasi ketidakpastian dalam menangkap pesan- pesan ayat Al-Qur’an.

Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum.

Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an, bagi ulama yang berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang bersifat khusus dan bukan lafazh yang bersifat umum.

Mengidentifikasikan pelaku yang menyebabkan ayat Al-Qur’an turun.

Memudahkan untuk menghafalkan dan memahami ayat serta untuk memantapkan wahyu ke dalam hati orang yang mendengarnya

Taufiq Adnan Amal dan Syamsul Rizal panggabean menyatakan bahwa pemahaman terhadap konteks kesejarahn pra-qur’an dan pada masa Al-Qur’an menjanjikan beberapa manfaat praktis, yaitu

Pemahaman itu memudahkan kita mengidentifikasi gejala-gejala moral dan sosial pada masyarakat Arab saat itu, sikap Al-Qur’an terhadapnya, dan cara Al-Qur’an memodifikasi atau mentransformasi gejala itu hingga sejalan dengan pandangan dunia Al-Qur’an.

Kesemuanya ini dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam dalam mengidentifikasi dan menangani problem-problem yang mereka hadapi.

Pemahaman tentang konteks kesejarahan pra-qur’an dan masa qur’an dapat menghindarkan kita dari praktik-praktik pemaksaan prakonsep dalam penafsiran.

Macam-macam asbabun nuzul

Dilihat dari segi sudut pandang redaksi-redaksi yang dipergunakan dalam riwayat asbabun nuzul. Ada dua jenis redaksi yang dipergunakan oleh perawi dalam mengungkapkan riwayat asbabun nuzul yaitu:

Sharih (visionable/jelas). Artinya riwayat yang sudah jelas menunjukkan asbabun nuzul dan tidak mungkin pula menunjukkan yang lainnya. Contoh riwayat asbabun nuzul yang menggunakan redaksi sharih adalah sebuah riwayat yang diawakan oleh Jabir bahwa orang- orang yahudi berkata, “apabila suami mendatangi “qubul” istrinya dari belakang, anaknya yang lahir akan juling”. Maka turunlah ayat

متئش ىانا مكث رح وت أف مكئ ثرح مكءاسن

Artinya: “istri-istrimu adalah seperti tanah tempat kamu bercocok tanam maka datangilah tanah bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu hendaki.” (Q.S Al-Baqarah : 223)

Muhtamilah (kemungkinan). Artinya riwayat yang belum jelas menunjukkan asbabun nuzul dan masih memungkinkan pula menunjukkan arti lain.

Dilihat dari sudut pandang berbilangnya asbabun nuzul untuk satu ayat atau berbilangnya ayat untuk asbabun nuzul.

Berbilangnya asbabun nuzul untuk satu ayat

Pada kenyataannya tidak setiap ayat memiliki riwayat asbabun nuzul dalam satu versi. Ada kalanya satu ayat memiliki beberapa versi riwayat asbabun nuzul. Bentuk variasi itu terkadang dalam redaksinya dan terkadang pula dalam kualitasnya. Untuk mengatasi variasi riwayat asbabu nuzul dalam satu ayat dari sisi redaksi, para ulama’ mengemukakan cara-cara berikut.

Tidak mempermasalahkannya

Mengambil versi riwayat asbabun nuzul yang menggunakan sharih Melakukan studi selektif (tarjih)

Variasi ayat untuk satu sebab

Terkadang suatu kejadian menjadi sebab bagi turunnya dua ayat atau lebih. Tahapan turunnya Al-Qur’an

Turunnya Al-Qur’an merupakan peristiwa besar yang sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni langit dan bumi. Turunnya Al-Qur’an yang pertama kali pada malam lailatul qadar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari malaikat- malaikat akan kemuliaan nabi Muhammad SAW dan umatnya dengan risalah baru agar menjadi umat paling baik yang dikeluarkan bagi manusia. Allah menurunkan kepada manusia melalui 3 tahap yaitu:

Al-Qur’an diturunkan Allah dari Lauhul Mahfudz

Al-arqani tidak menyinggung lebih jauh tentang kapan penurunan Al-Qur’an di Lauhul Mahfudz ini. Beliau hanya menyatakan tidak ada yang tahu persis kapan Al-Qur’an diturunkan di Lauhul Mahfudz kecuali Allah sendiri.

Dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izza

Yaitu langit yang pertama yang tampak ketika dilihat di dunia ini namun tidak diketahui letak persisnya. Adapun jumlahnya adalah semuanya pada waktu Lailatul Qadr. Namun tanggalnya tidak diketahui, dan pada bulan Ramadhan.

Al-Qurtubi telah menukil dari Muqtil bin Hayyan riwayat tentang kesepakatan bahwa turunnya Al-Qur’an sekaligus dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izza di langit di dunia. Sebetulnya tidak hanya Al-Qur’an saja yang diturunkan pada bulan Ramadhan, tetapi ada juga Taurat : 6 Ramadhan

Suhuf Ibrahim : 1 Ramadhan Injil : 13 Ramadhan Zabur : 12 Ramadhan Dari Baitul ‘Izza ke Rasulullah

Tahapan ketiga atau yang terakhir adalah Al-Qur’an diturunkan dari Baitul ‘Izza kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat jibril. Penurunannya tidak secara langsung sekaligus, namun diangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun berdasarkan kebutuhan, peristiwa atau bahkan melalui permintaan malaikat jibril. Adapun kitab-kitab lain seperti tauraut, zabur dan injil diturunkan oleh Allah SWT dengan cara sekaligus tidak secara berangsur-angsur.

Isi dan pesan-pesan Al-Qur’an

Alqur’an diturunkan kepada nabi Muhammad kurang lebih selama 23 tahun, dalam dua fase yaitu 13 tahun pada fase sebelum beliau hijrah ke Madinah (Makiyah) dan 10 tahun pada fase sesudah hijrah ke Madinah (Madaniyah). Isi Al-Qur’an terdiri dari 114 surat, 6236 ayat, 74437 kalimat, dan 325345 huruf. Proporsi masing-masing fase tersebuut adalah 86 surat untuk ayat-ayat Makiyah dan 28 surat untuk ayat-ayat Madaniyah.

Dari keseluruhan isi Al-Qur’an itu, pada dasarnya mengandung pesan-pesa sebagai berikut; masalah tauhid, termasuk didalamnya masalah kepercayaaan pada yang gaib; masalah ibadah, yaitu egiatan-kegiatan dan perbuatan-perbuatan yang mewujudkan dan menghidupkan didalam hati dan jiwa; masalah janji dan ancaman yaitu janji dengan balasan baik bagi mereka yang berbuat baik dan sebaliknya ancaman siksa bagi mereka yang berbuat jahat; jalan menuju kebahagiaan dunia akhirat, berupa ketentuan-ketentuan yang hendaknya dipenuhi untuk mencapai keridhaan Allah SWT; riwayat dan cerita, yaitu sejarah orang-orang terdahulu baik sejarah bangsa-bangsa, tokoh-tokoh maupun Nabi dan Rosul.

Selanjutnya Abdul Wahab Khalaf lebih memerinci pokok-pokok kandungan Al-Qur’an ke dalam 3 kategori, yaitu:

Masalah kepercayaan (I’tiqadiyah), yang berhubungan dengan rukun iman kepada Allah, malaikat, kitabullah, rasulullah, hari kebangkitan dan taqdir.

Masalah etika (khuluqiyah) berkaitan dengan hal-hal yang dijadikan perhisan bagi seseorang untuk berbuat keutamaan dan meninggalkan kehinaan.

Masalah perbuatan dan ucapan (‘amaliyah) yang terbagi dalam dua macam yaitu ibadah dan muamalah. Ibadah berkaitan dengan rukun Islam, nazar, sumpah dan ibadah-ibadah yang lain yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT. Mu’amalah berkaitan dengan akad, pembelanjaan, hukuman, jual-beli dan lainnnya yang mengtur hubungan manusia dengan sesama.

Ada dua segi pembahasan isi/kandungan Al-Qur’an, yaitu dimensi keagamaan dan dimensi keilmuan.

Dimensi keagamaan

Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam kaitannya dengan persoalan-persoalan. Pertama, akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia, yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan; kedua,

mengenai syariat dan hukum,dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya; ketiga, mengenai akhlak yang murni, dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya baik secara individual maupun kolektif

Menurut Prof. Dr. Mahmud Syaltut dalam “al-Islam wa al-syariah” bahwa Al-Qur’an mengandung berbagai persoalan-persoalan :

Akidah yang wajib dimani.

Budi pekerti yang dapat membersihkan jiwa, membentuk pribadi dan masyarakat yang baik Petunjuk dan bimbingan untuk menyelidiki dan mentadaburi tentang rahasia-rahasia langit dan bumi.

Peringatan dan ancaman

Hukum-hukum yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Sedangkan menurut Masyfuk Zuhdi bahwa isi atau kandungan ajaran Al-Qur’an pada hakekatnya mengandung lima prinsip, yaitu:

Tauhid

Sekalipun Nabi Adam AS sebagai manusia pertama dan Nabi pertama adalah seorang monotheisme/muwahhid dan mengajarkan tauhid kepada turunannya, namun kenyataannya tidak sedikit manusia keturunannya itu yang menyimpang dari ajaran tauhid. Untuk meluruskan kepercayaan mereka yang menyimpang dari Tuhan dan untuk membimbing mereka ke arah yang lurus dan diridlai Tuhan, maka diutuslah para Nabi/Rasul secara silih berganti mulai Nabi Adam sampai Nabi Muhammad sebagai nabi penutup.

Sebelum kelahiran Nabi Muhammad (pra Islam), keadaan manusia pada umumnya telah menyimpang dari ajaran tauhid dan ajaran-ajaranlainnya dari para nabi dan rasul sebelumnya, sekalipun sebagian mereka ada pula yang masih mengaku percaya pada ke esaan Tuhan, tetapi sebenarnya tauhidnya sudah tidak murni lagi. Sebab Tuhan dianggap tidak tunggal sepenuhnya, melainkan ia terdiri dari beberapa oknum, misalanya doktrin tri murti atau trinitas dari agama Hindu dan Kristen.

Janji dan ancaman tuhan

Tuhan menjanjikan kepada setiap orang yang beriman dan selalu mengikuti semua petunjuk- Nya akan mendapatkan kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat. Sebaliknya Tuhan akan mengancam kepada siapa saja yang ingkar kepada tuhan dan memusuhi nabi/rasul-Nya serta melanggar perintah-perintah dan larangan-laranga-Nya, akan mendapat kesengsaraan hidup di dunia maupun akhirat.

Ibadah

Tujuan hidup manusia didunia ini adalah untuk meribaddah kepada Tuhan.pengertian ibadah menurut Islam adalah cukup luas,sebab tidak hanya berbatas padaslat,puasa, haji dan

semacamnya. Tetapi semua aktifitas yang dilakukan manusia denga motivasi niat yang baik seprti untuk mencari ridlo Allah, semuanya dipandang ibadah.

Ibadah bagi manusia adalah berfungsi sebagai manifestasi manusia bersyukur kepada tuhan pencipta atas segala nikmat dan karunia. Dan juga berfungsi sebagai relisasi dan konsekwensi manusia atas kepercayaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Jalan dan cara mencapai kebahagiaan

Setiap orang yang breagama pasti bercita-cita ingin mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat. Untuk bisa mencapai cita-citanya, Tuhan dalam Al-Qur’an memberikan

Dalam dokumen Makalah Pendidikan dan Agama Islam (Halaman 33-52)