BAB V HASIL PENELITIAN
5.3. Input Manajemen Persediaan
5.3.1. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia merupakan salah satu sumber utama dalam berlangsungnya suatu kegiatan. Kelancaran dalam proses kegiatan manajemen persediaan obat akan berjalan baik dan optimal apabila dilakukan oleh SDM yang berkualitas dan kuantitas yang memadai. Instalasi farmasi di RSUD Kota Bekasi dikepalai oleh Apoteker dan adapun penanggung jawab gudang farmasi dipegang oleh kepala gudang yang berpendidikan S1 Farmasi.
a. Kesesuaian Jumlah Petugas
Jumlah tenaga kefarmasian dan non farmasi di unit instalasi farmasi RSUD Kota Bekasi, diantaranya :
Tabel 5.1
Jumlah Ketenagaan Farmasi RSUD Kota Bekasi tahun 2015
Berdasarkan tabel 5.2 bahwa jumlah tenaga teknis kefarmasian di instalasi farmasi RSUD Kota Bekasi pada tahun 2015 berjumlah 35 orang dengan tenaga apoteker berjumlah 6 orang. Jumlah tenaga ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang berjumlah 41 orang.
No
Jenis Tenaga
menurut SK Menkes 2014 2015 Pendidikan
1 Apoteker 8 6 Apoteker, S2
2 Asisten Apoteker 25 21 S1, D3, SMF
3 Administrasi 5 5 SMA, D1, S1
4 Pembantu Pelaksana 3 3 SMP,SMA
TOTAL 41 35
Berdasarkan observasi dan telaah dokumen terhadap kualifikasi SDM rumah sakit sudah sesuai dengan ketentuan Permenkes no.58 tahun 2014 bahwa rumah sakit harus memiliki petugas kefarmasian yang terdiri dari apoteker dan tenaga teknis kefarmasian serta petugas penunjang kefarmasian yang terdiri dari operator komputer, tenaga admin dan pekarya/pembantu pelaksana.
Berdasarkan telaah dokumen pada bulan Agustus 2015 terdapat 27 orang jumlah tenaga kefarmasian di RSUD Kota Bekasi. Dimana tenaga apoteker di instalasi farmasi berjumlah 6 orang dan tenaga asisten apoteker berjumlah 21 orang. Menurut Permenkes no.58 th 2014 bahwa idealnya rasio apoteker di rawat jalan yaitu 1 : 50 pasien. Sedangkan rasio tenaga apoteker di RSUD Kota Bekasi yaitu 6 apoteker : 400 pasien setiap harinya dengan estimasi rasio kefarmasian menjadi 1 apoteker : 67 pasien. Hal ini menunjukkan bahwa rumah sakit belum memiliki tenaga apoteker yang cukup dalam melakukan pelayanan kefarmasiannya dirumah sakit. Berdasarkan perhitungan diatas diketahui bahwa tenaga apoteker di RSUD Kota Bekasi masih kurang dan belum mencukupi dengan standar ideal yang ditetapkan Kemenkes.
Sedangkan berdasarkan PMK no.56 tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan RS bahwa di RS tipe B harus memiliki tenaga kefarmasian berjumlah 13 apoteker. Hal ini belum sesuai dengan data telaah dokumen pada bulan Agustus 2015 bahwa jumlah apoteker di RSUD Kota Bekasi berjumlah 6 orang apoteker.
Hal ini juga didukung berdasarkan hasil observasi oleh peneliti yang menunjukkan bahwa jumlah SDM kefarmasian di Instalasi Farmasi RSUD Kota Bekasi yang ada saat ini belum mencukupi untuk kegiatan pelayanan kefarmasian. Ini terlihat dari waktu pulang petugas yang melebihi jam yang telah ditentukan dan adanya double job bagi petugas kefarmasian. Kurangnya tenaga SDM Kefarmasian dirumah sakit membuat waktu kerja overtime pada petugas dan terkadang petugas sekretariat dan wakil instalasi farmasi diminta membantu dalam pelayanan kefarmasian di depo Rawat Inap atau depo BPJS. Hal ini mengakibatkan tugas - tugas kesekretariatan dan wakil instalasi farmasi yang harusnya bisa diselesaikan dengan segera menjadi tertunda dan menumpuk dikemudian harinya.
b. Kesesuaian Antara Pengetahuan dan Keterampilan
Kesesuaian antara pengetahuan dan keterampilan petugas kefarmasian yang dimiliki sudah sesuai dengan kapasitas dalam melakukan tugasnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan berikut :
“sudah sesuai, sudah terampil dalam bekerjanya, sudah sesuai dengan kualifikasi dan skill yang dimiliki”(Inf-2)
“secara standar sudah cukup sesuai, yang backgroundnya S1 sudah sesuai dengan cara dia bekerja” (Inf-3)
Latar belakang dari petugas kefarmasian sudah sesuai dengan jabatan yang dipegang oleh masing-masing SDM kefarmasian. Menurut Permenkes no.58 th 2014 bahwa kualifikasi SDM pekerjaan kefarmasian dirumah sakit terdiri dari apoteker dan tenaga teknis kefarmasian (S1 Farmasi, D3
Farmasi, atau SMF). Berikut adalah latar belakang pendidikan dari informan dalam penelitian ini :
Tabel 5.2
Karakteristik Informan di RSUD Kota Bekasi
NO. Jabatan Umur Pendidikan
1. Kepala Instalasi Farmasi 48 th S1 Apoteker
2. Wakil Kepala Instalasi Farmasi
48 th S1 Farmasi
3. Kepala Gudang Farmasi 33 th S1 Farmasi
4. Ka.UPBJ 39 th S1 Farmasi
c. Kedisplinan petugas
Kedisplinan kerja pegawai juga sudah baik dan sesuai karena datang sudah tepat waktu. Berdasarkan jadwal kerja petugas gudang farmasi terdapat 1 shift yang bekerja pada hari Senin hingga Sabtu mulai pukul 07.30 hingga pukul 14.00. Namun jadwal kerja tersebut tidak sesuai berdasarkan wawancara dan observasi kepada petugas bahwa petugas gudang terkadang overtime atau melebihi jam kerja yang sudah ditetapkan. Hal ini dikarenakan banyaknya jumlah pasien di rawat jalan BPJS yang harus dilayani hingga pasien habis. Hal ini berdasarkan pernyataan oleh informan:
“kalau displin kerja SDM sudah bagus, datangnya sudah tepat waktu, walaupun pulangnya overtime karena pasien di pelayanan apotik bpjs pasiennya banyak, kita selesai kerjanya jam 14.00, sampai jam 14.00 pasiennya belum habis jadi overtime sampai 17.00, baru habis pasiennya”(Inf-3)
“kalau datang memang tidak tepat waktu tapi kalau pulang terkadang overtime karena faktor pekerjaannya, kalau pekerjaannya masih banyak harus diselesaikan dahulu tidak mungkin ditinggalkan, kalau yang dirawat jalan kalau pasien masih ada jadi diselesaikan dulu”(Inf-4)
Kendala dalam faktor SDM farmasi yang dapat menghambat kegiatan pengelolaan obat dirumah sakit yaitu kurangnya koordinasi, komunikasi, pengetahuan dan inisiatif pegawai. Hal ini sesuai dengan penyataan informan melalui kutipan wawancara berikut ini :
“kurangnya komunikasi, tapi yang pasti harus koordinasi misalkan ada pegawai yang ingin cuti berarti harus ada yang gantiin, supaya pelayanan juga tetap jalan ke pasien, kalau lagi kejadian tiba-tiba kosong orang jadi orang gudang kadang-kadang diambil, di bagian penagihan stafnya diambil, jadi proses penagihan diundur 1 hari, karena ada staf yang tidak masuk”(Inf-1)
“Pengetahuan dan inisiatif ,kalau orang yang tidak inisiatif,begitu tahu obat kosong pasti dia diam saja, kenapa pengetahuan karena kalau ada obat yang harus diganti dia harus tahu substitusinya apa, intinya inisiatif, kalau pengetahuan berhubungan, kalau inisiatif dia akan mencari kalau dia mencari pasti bertambah pengetahuannya , inisiatif intinya menurut saya” (Inf-2)
Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan data sekunder dan observasi maka dapat disimpulkan kuantitas SDM yang tersedia di gudang farmasi RSUD Kota Bekasi saat ini memang dirasa kurang, terlebih dengan adanya proses pengurangan jumlah SDM dari tahun sebelumnya. Hal ini menyebabkan beban kerja SDM yang ada saat ini menjadi bertambah karena penambahan tenaga SDM sampai saat ini belum dilakukan.
Faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya stock out pada SDM dapat terjadi karena kurangnya ketelitian petugas dalam pemesanan barang
yang sebelumnya tidak ada mutasi atau konsumsi di bulan sebelumnya. Barang perbekalan farmasi maupun obat yang sangat dibutuhkan tertinggal untuk direncanakan atau dipesan karena tidak ada pemasukan maupun penggunaannya dirumah sakit. Akibatnya, barang yang dibutuhkan tersebut kosong dan biasanya baru terdeteksi di 2 minggu setelah perencanaan. Untuk mengatasi hal tersebut, petugas gudang dengan perizinan kepala instalasi farmasi segera melakukan pemesanan secara cito untuk memenuhi kebutuhan obat tersebut saat itu dan segera membuat pemesanan terhadap obat tersebut untuk persediaan digudang farmasi. Sebagaimana pernyataan informan berikut :
“apabila petugas kurang teliti dalam memesannya, misalnya di DUPADA tidak ada tapi untungnya dengan orang gudang sering langsung ketahuan dan akhirnya langsung bilang ke rekanan dan bisa untuk langsung dipesan”(Inf-1)
“karena datanya banyak, jadi dianggap bulan ini tidak ada pemasukan jadi tidak ada penggunaan, berarti bulan depan saya tidak merencanakan karena sebelumnya obat tersebut kosong atau tidak ada pemakaian sebelumnya”(Inf-2)
“
karena dirumah sakit memakai sistem komputer, jadi kita lihat dahulu riwayat pengeluaran obat sebelumnya berapa, kalau obat itu bulan kemaren tidak datang, jadi nol mutasinya padahal kita membutuhkan, tapi karena bulan kemarin tidak datang jadinya tidak ada riwayat,jadi kelewat tidak dipesan,baru terlihatnya di 10 hari pertama, lalu langsung disusulin untuk dipesan, tidak begitu sering hanya untuk obat-obat yang kosong stok nasionalnya saja”(Inf-3)Kurangnya jumlah apoteker yang sesuai dengan ketetapan Kemenkes dapat menghambat kegiatan pengelolaan obat digudang farmasi. Hal ini mengakibatkan adanya double job pada petugas gudang dan petugas di
instalasi farmasi, adanya overtime, beban kerja bertambah hingga kurangnya ketelitian serta kordinasi petugas.
5.3.2. Dana
Dana merupakan salah satu input penunjang kegiatan persediaan obat di rumah sakit. Berdasarkan wawancara, dana yang disediakan untuk kegiatan kefarmasian di rumah sakit, sebagaimana pernyataan informan sebagai berikut :
“untuk anggaran obat kurang lebih sekitar ± 24 M untuk obat .Obat itu hampir 1/3 dari seluruh anggaran rumah sakit”(Inf-4)
Adapun sumber dana yang diperoleh rumah sakit untuk kegiatan persediaan obat berasal dari anggaran BLUD RS, APBD, dan donasi/hibah. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan :
“ada yang dari BLUD, APBD dan APBN, serta bantuan berasal dari program pemerintah..” (Inf-2)
“berasal dari dana BLUD, APBD dan donasi..“ (Inf-3)
“sumber dana dari BLUD, khusus obat PTRM, VCT itu dari APBN, ada juga yang hibah/bantuan seperti vaksin, obat HIV ..”(Inf-4)
Hal ini telah sesuai dengan pedoman pengelolaan perbekalan farmasi Depkes tahun 2008 bahwa sumber anggaran dapat berasal dari pemerintah dan swasta. Sumber anggaran dari pemerintah berupa APBN dan APBD serta sumber anggaran dari swasta berupa donasi/hibah.
Adapun faktor dana yang dapat menyebabkan stock out dan menghambat kegiatan pengelolaan obat yaitu adanya ketidaklancaran dalam pembayaran atau hutang. Namun ketidaklancaran ini menyebabkan
kekosongan pada obat yang memiliki distributor tunggal, karena obat tersebut tidak bisa di subtitusikan dengan obat lain. Diketahui bahwa pada bulan ini terdapat 2 distributor yang menolak untuk melakukan pengiriman obat karena ketidaklancaran pembayaran RSUD ke distributor. Hal ini sesuai dengan kutipan wawancara berikut :
“dari pembayaran, penyedia itu bisnis,kalau pembayarannya tidak lancar pasti menghambatlah..pembayaran dari rumah sakit tidak lancar, artinya kita punya hutang, distributornya tidak mau mengirim karena pembayarannya tidak terselesaikan” (Inf-2)
“Kalau anggaran habis, ada anggaran tambahan tapi belum di -acc oleh pemda, jadi tidak bisa dibayar.Distributor jadi tidak bisa mengirim apabila rumah sakit belum bayar karena batas hutang rsud ke distributor tsb sudah tercapai dari nominalnya atau waktunya. Kalau di faktur itu jatuh tempo misalnya 21 hari, selama 21 hari ini rsud tidak bisa bayar, langsung distributor tidak bisa mengirim. Kalau nominal misal apabila sudah mencapai 100jt hutangnya maka distributor ke lock untuk mengirim barang”(Inf-3)
“masalah pengadaan biasanya karena pembayaran, jadi jatuh tempo pembayarannya itu melebihi batas waktu tanggal jatuh temponya ,mereka otomatis me-lock, apalagi kalau diswasta mereka langsung melock, faktur tidak dikeluarkan akhirnya barang tidak bisa dikirim..itu faktor utamanya dari anggarannya dan dananya..hampir rata-rata semua distributor akan melock kalau tidak dibayar, karena itu cash flownya mereka, karena mereka juga harus membayar ke principle (perusahaan2 farmasi), kalau distributornya tidak dibayar mungkin 1 bulan masih bisa toleransi tapi kalau sudah terlalu lama mereka sudah tidak bisa toleransi” (Inf-4)
Adapun menurut salah satu distributor yang diwawancarai yaitu distributor APL bahwa seluruh rumah sakit yang menjadi pelanggan APL diberikan limit credit dan TOP (Time of Payment) dalam melakukan pembayaran. Distributor APL memberikan batas jumlah pembayaran dalam melakukan kredit yaitu mencapai ±650 jt, sedangkan batas TOP (Masa
Berlaku Pembayaran) sampai 60 hari. Apabila pembayaran rumah sakit melebihi batas jumlah dan waktu yang telah ditentukan maka distributor tidak akan menyuplai barang ke rumah sakit. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh informan sebagai berikut :
“yang pertama semua pelanggannya APL, kita berikan yang namanya limit credit dan ada TOP, kalau pelanggan sudah melampaui limit kredit itu sudah tidak bisa memberikan lagi kredit..apabila pelanggan sudah melebihi dari TOP (Time of Payment)/Masa Berlaku Pembayaran, kalau untuk RSUD ini kita memberikan waktu 60 hari, kalau diatas 60 hari RSUD belum melakukan pembayaran ke APL, otomatis kita tidak bisa suplai obat”(Inf-5)
Faktor dana yang menjadi salah satu penyebab kekosongan obat yaitu ketidaklancaran rumah sakit dalam melakukan pembayaran. Kendala ini menghambat pelayanan dan mempengaruhi kepuasan pasien apabila obat yang dibutuhkan tidak dikirim.
5.3.3. Prosedur
Prosedur merupakan dasar bagi petugas kefarmasian dalam melaksanakan seluruh kegiatan operasional di rumah sakit. Prosedur disebut juga Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku di Instalasi Farmasi RSUD Kota Bekasi terkait kegiatan pengelolaan obat, terdiri dari :
a. Instruksi kerja perencanaan perbekalan farmasi b. Instruksi kerja pengadaan perbekalan farmasi c. Instruksi kerja penerimaan perbekalan farmasi d. Instruksi kerja penyimpanan perbekalan farmasi e. Instruksi kerja distribusi perbekalan farmasi f. Instruksi kerja stock opname perbekalan farmasi
SOP kegiatan pengelolaan obat di instalasi farmasi yang digunakan dibuat oleh Kepala Instalasi Farmasi dan ditetapkan serta di tandatangani oleh Direktur RSUD Kota Bekasi. SOP yang berlaku pada tahun ini pada dasarnya masih menggunakan SOP pada tahun-tahun sebelumnya yang ditetapkan pada akreditasi ISO 9001:2008 yang diperoleh rumah sakit pada tahun 2014.
Setiap SOP yang ada terdiri dari beberapa konten seperti pengertian, tujuan, kebijakan, penanggung jawab, persiapan, pelaksanaan dan unit terkait. Jika dilihat pada masing-masing SOP, dapat dikatakan bahwa SOP yang ada cukup singkat dan jelas. Setiap konten hanya berisi uraian singkat saja dan hanya berjumlah 2-4 halaman. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah para SDM yang ada dalam mengaplikasikan setiap SOP yang ada.
SOP yang ada sudah lengkap, mudah dalam pelaksanaannya dan telah disesuaikan dengan kegiatan rutin kefarmasian dirumah sakit. Tidak ada kendala ataupun hambatan dalam implementasi SOP dirumah sakit karena prosedur telah dibuat lebih mudah dalam pengaplikasiannya. Hal ini seperti yang dikatakan oleh informan dalam kutipan di bawah ini :
“Tidak pernah menghambat prosedur disini, karena prosedur itu ada untuk melindungi kita dalam bekerja, itu makanya kita tidak pernah bikin sop yang muluk-muluk dan yang ribet. “ (Inf-2)
Berdasarkan hasil observasi dan telaah dokumen dirumah sakit bahwa proses pelaksanaan kegiatan yang meliputi kegiatan perencanaan, pengadaan, pengawasan dan pengendalian obat di gudang farmasi sudah
sesuai dengan SOP terkait pengelolaan obat di Instalasi Farmasi RSUD Kota Bekasi. SOP terkait proses perencanaan, pengadaan, pengawasan dan pengendalian yang dibuat oleh rumah sakit ini juga telah mengacu kepada kebijakan Kemenkes (2014) tentang standar pengelolaan sediaan farmasi dirumah sakit.
Standar prosedur operasional tersebut juga sudah disosialisasikan kepada seluruh SDM di instalasi farmasi. Sebagaimana pernyataan informan sebagai berikut :
“jadi, semua prosedur dicopy dan disebar kepada SDM farmasi untuk dipelajari dan diterapkan” (Inf-1)
“Disosialisasikan lewat rapat pasti, lalu dicopykan sesuai jumlah sdm, nanti dibagikan dan dipelajari masing-masing, nanti kalau ada tambahan dan dirasa perlu nanti ditambahin ke lampiran. Tapi kalau sudah disetujui direktur sudah tidak ada tambahan lagi”(Inf-3)
Berdasarkan wawancara dan telaah dokumen juga terdapat prosedur pemesanan cito untuk perbekalan farmasi yang mengalami kekosongan obat di gudang farmasi RSUD Kota Bekasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan berikut :
“Ada, pelaksanaannya ketika ada kebutuhan yang cito dibikin PO nya tapi terkadang PO itu nanti, cito itu by phone minta untuk kirim barang dulu PO nya nanti,pas barang datang baru kita kasih POnya atau terkadang saat mereka minta tagihan baru dia minta POnya. Hal yang penting kesepakatan dengan kitanya dan pertanggungjawabannya artinya ketika kita pesan sesuai dengan POnya” (Inf-2)
“Ada, di bagian farmasi..pemesanannya dari instalasi farmasi langsung ke apotik yang sudah kerjasama dengan RSUD, lalu barang nya dikirim, barangnya langsung dibayar,lalu dibuat tagihannya, dikerjakan oleh pelaksana administrasi di UPBJ untuk mengganti membayarkan penagihan yang cito..bisa dibayar langsung bisa juga lewat kredit” (Inf-4)
Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan wawancara dan observasi maka dapat disimpulkan bahwa SOP yang ada terkait dengan proses pengelolaan logistik perbekalan farmasi sudah lengkap dan baik. Setiap SOP sudah dibuat secara singkat dan jelas agar mudah dimengerti oleh para petugas. Selain itu pengaplikasian SOP juga sudah dapat dikatakan baik, karena semua proses yang ada sudah sesuai dengan SOP yang ada.
Namun masih terdapat kekurangan yang berkaitan dengan formularium rumah sakit, seperti belum optimalnya penerapan formularium RSUD Kota Bekasi oleh user. Formularium rumah sakit merupakan daftar kategori obat yang beredar dirumah sakit. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan berikut :
“
kalau dirumah sakit formularium rumah sakitnya tidak terlalu jalan jadi kalau ada obat baru, dokter akan memberikan memo kepada Ka. Instalasi untuk menyediakan obat-obatan tsb, karena obat-obat tsb ada pasiennya gitu“(Inf-3)“
Formularium RS belum pernah jalan, jadi kita mengacu di Fornas saja,obat-obat yang di luar Fornas yang beredar di RS dasarnya harus masuk Formulairum RS, tidak boleh perbekalan farmasi di RS itu kalau tidak ada dasar pengadaannya, semua perbekalan RS itu harus ada semua di formularium RS”(Inf-4)Berdasarkan wawancara dan observasi, prosedur telah disosialisasikan keseluruh tenaga kefarmasian dan non kefarmasian dirumah sakit serta kegiatan pengelolaan obat telah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan rumah sakit.
5.3.4. Kebijakan
Kebijakan pengelolaan obat di RSUD Kota Bekasi diatur dalam Peraturan Direktur RSUD Kota Bekasi no.74/RSUD/PDMN.12.2/I.2014 tentang Pedoman Pelayanan Farmasi di Lingkungan RSUD Kota Bekasi. Berdasarkan wawancara bahwa salah satu faktor dari kebijakan yang dapat menyebabkan kekosongan obat yaitu adanya peraturan BPOM yang membatasi jumlah obat keras tertentu yang apabila obatnya telah mengalami kekosongan, rumah sakit tidak bisa memesan kembali untuk memenuhi kebutuhan pasien di bulan yang sama. Sebagaimana pernyataan informan berikut :
“tidak ada kebijakan rs yang menghambat, kalau untuk kebijakan nasional, ada peraturan bpom yang membatasi pembelian obat-obat keras tertentu dari apotik walaupun untuk rs pemerintah seperti misalnya ada obat untuk poli jiwa yang narkotika itu dibatasi pengirimannya karena ada suatu kasus waktu itu obatnya tersebar luas, jadi kita belum terima lagi obatnya padahal udah kosong dan banyak dibutuhin sekarang”(Inf-3)
Kebijakan strategis terhadap pengelolaan obat dirumah sakit diatur dalam Peraturan Direktur no.74 tahun 2014 meskipun kebijakan dalam mengatasi kekosongan obat tidak secara langsung diatur dalam kebijakan strategis dirumah sakit.
5.3.5. Distributor
Distributor atau rekanan merupakan pihak luar rumah sakit yang berperan dalam pengadaan barang-barang logistik dirumah sakit. Distributor obat di RSUD Kota Bekasi dipilih melalui penunjukkan langsung.
Berdasarkan telaah dokumen terdapat 50 distributor obat yang masih bekerja sama untuk menyuplai kebutuhan obat di RSUD Kota Bekasi. Distributor yang terpilih harus memenuhi kriteria persyaratan dari rumah sakit diantaranya yaitu memiliki harga yang murah, kualitas barang yang baik dan service yang mudah serta cepat. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dalam kutipan wawancara dengan informan, sebagai berikut :
“pemilihannya yang pertama harga, yang kedua kualitas barang, yang ketiga service artinya barang cepat datang, pada saat komplain kita cepat penanganannya” (Inf-2)
“Setelah kita compare harga mana yang lebih murah kemudian yang kita lihat juga kemudahan pengiriman..lalu pelayanan purna jual, artinya misalkan ada barang yang expired, ada barang yang rusak bisa lakukan retu ke distributornya, mudah gitu
”(
Inf-3)
“harga, kualitas dalam speksifikasi, walau barangnya sama bisa saja spesifikasinya berbeda, kualitasnya berbeda nanti harganya juga berbeda dalam pengadaan” (Inf-4)
Selain itu, berdasarkan wawancara bahwa perizinan maupun persyaratan administrasi yang harus dimiliki oleh PBF dirumah sakit yaitu adanya NPWP (nomor pokok wajib pajak), SIUP (surat izin usaha perdagangan), SIPA (surat izin praktek apoteker), akta notaris dan perjanjian kerjasama. Sebagaimana pernyataan informan berikut :
“ada SIUP, ada surat izin RS, ada surat izin dari RS, trus ada NPWP..ada NPWP, surat izin operasional RS, SIPA(Surat Izin Praktek Apoteker), dan SIUP tapi kalau RSUD tidak ada SIUP nya”(Inf-5)
Hal ini sesuai dengan ketetapan Kemenkes dalam Permenkes no.34 tahun 2014 tentang perizinan bagi pedagang besar farmasi (PBF) bahwa harus memenuhi persyaratan administrasi dan kesesuaian dokumen berupa
adanya NPWP, TDP, SIUP, akta notaris dan SIPA (surat izin praktek apoteker).
Berdasarkan wawancara faktor dari distributor yang dapat menyebabkan kekosongan obat diantaranya kekosongan pada distributor, keterlambatan pengiriman dari distributor ke gudang farmasi, ketidaksesuaian barang dengan yang diminta dan adanya perubahan harga. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan sebagai berikut :