daPat diJelaskan tUgas ditJen bina UPaya keseHatan ?
Jadi kalau bicara tugas Bina Upaya Kesehatan (BUK) merupakan penjabaran dari Bina Upaya Kesehatan Medik. Melihat luasnya pelayanan BUK sedikit berbeda dengan Bina pelayanan Medik. Bina pelayanan Medik bertanggung jawab terhadap prasarana dan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. pada BUK tanggung jawab sampai pada layanan kesehatan dasar yaitu puskesmas.
Dengan tugas dan tanggung jawab itu, maka BUK harus mampu mengiventarisasi masalah, yakni belum terjangkaunya pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia khususnya Daerah Teringgal Perbatasan dan Kepulauan dalam akses maupun keterjangkauan.
bagaiMana keterJangkaUan Pelayanan keseHatan selaMa ini?
Bicara keterjangkauan, yakni akses pelayanan dan kemampuan pembiayaan. harus diakui masih idak seimbangnya antara produksi
SDM kesehatan terutama dokter dan spesialis, terhadap percepatan pertumbuhan pelayanan kesehatan. Untuk itu harus mencari solusi menghadapi tantangan disparitas, terutama mutu pelayanan.
Pertumbuhan insitusi kesehatan seperi rumah sakit sangat pesat, akhir September 2011 berjumlah 1703 rumah sakit. Berari membutuhkan tenaga sumber daya dan tenaga kesehatannya. Sehingga beberapa daerah masih kurang, baik puskesmas maupun rumah sakit.
bagaiMana Pelayanan keseHatan Masyarakat Miskin ?
Pemerintah sangat memperhaikan pelayanan kesehatan masyarakat miskin dan hampir miskin yang di tuangkan dalam program Jamkesmas dan Jampersal. Dari waktu ke waktu semakin meningkat pengguna program Jamkesmas. Untuk itu harus diimbangi dengan peningkatan fasilitas pelayanan terutama kelas iga. Hanya saja anggaran idak mampu ehat menjadi
dambaan semua orang. Apakah mereka kaya, miskin, tua atau muda. Sebab sehat menjadi modal hidup yang tak ternilai harganya. Kementerian Kesehatan, melalui Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan sangat berkepeningan dengan pembinaan kesehatan masyarakat Indonesia. Sudah banyak upaya pelayanan kesehatan yang dilakukan, mulai dari peningkatan mutu SDM, melengkapi sarana dan prasarana, serta mendekatkan akses pelayanan. Sekalipun demikian, karena berbagai keterbatasan, masih banyak tantangan kedepan yang harus dilalui, termasuk mewujudkan pelayanan kesehatan “Rumah Sakit peduli pasien”. Bagaimanakah kiat-kiat mencapainya ? Berikut wawancara Mediakom dengan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kemenkes dr. Supriyantoro, Sp.p, MARS
s
Dr. supriyantoro, sp.P, maRs
mengembangkan
Rumah sakit
Peduli Pasien
mengimbangi.
Tetapi apapun alasannya, idak boleh pasien di tolak, idak terlayani. Untuk itu tahun 2012 BUK memprioritaskan penambahan tempat idur RS untuk pasien kelas iga dan di Daerah Teringgal Perbatasan dan Kepulauan (DTpK). Disamping itu juga membuat program prioritas seperi Flying Health Care , menggunakan penerbangan udara (helikopter), yang dilengkapi SDM kuraif, prevenif dan promoif.
aPa yang sUdaH dilakUkan UntUk Meningkatkan Pelayanan keseHatan ?
Melakukan intervensi dengan melakukan peningkatan sistem rujukan rumah sakit. Dengan mengopimalkan jejaring dengan rumah sakit di bawahnya yang sudah dilakukan selama ini. Disamping itu juga meningkatkan mutu pelayanan dengan melakukan akreditasi rumah sakit secara internasional. Sehingga stratanya menjadi meningkat dari
pratama, madya dan paripurna. Keuntungan dari akreditasi rumah sakit secara internasional pada outcome yaitu: pertama; standar customer care (kepedulian terhadap pelanggan). Karena standar ini kurang sehingga banyak pasien yang berobat ke luar negeri. Kedua; standar manajemen RS seperi akuntabilitas dan mencegah pelayanan yang idak eisien. Keiga; sasaran menuju pasien yang safety yaitu pasien dapat tertangani dengan baik. Keempat; sesuai degan sasaran nasional yaitu program MDGs. Dengan upaya ini diharapkan ada pelayanan yang merata di rumah sakit.
bagaiMana MekanisMe PeMbinaannya ?
Khusus pembinaan rumah sakit, Kementerian Kesehatan bertangung jawab secara nasional, tapi pembinaan di daerah secara berjenjang yaitu Dinas Kesehatan wajib membina. Berdasarkan Surat Edaran Tiga Menteri yaitu
Bappenas, Kemendagri dan Kemenkeu, November 2010. propinsi/Gubernur merupakan perpanjangan tangan di daerah. Sebelumnya, RS mengajukan anggarannya langsung pusat, sekarang idak boleh. Tapi harus melalui provinsi terlebih dahulu. Sebab mereka yang tahu tentang prioritas pembangunan kesehatan di daerahnya. Dengan upaya itu di harapkan pengalokasian anggaran dari pusat sesuai dengan anggaran di daerah.
Saat ini, anggaran dari pusat, 85% dialokasikan untuk pembangunan fasilitas kesehatan di daerah khususnya rumah sakit dan
puskesmas. Sedangkan pembangunan fasilitas kesehatan verikal, unit pelayanan teknis hanya 15%.
Sudah merupakan perinsip untuk senaniasa mengawal problem yang kian komplek di ingkat pelayanan dasar, puskesmas. Bila hal ini dapat diingkatkan, maka akan meningkatkan akses pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya upaya prevenif dan promoif. Dampak posiif berikutnya jumlah rujukan dari puskesmas ke rumah sakit akan menurun. Secara otomais juga akan menekan biaya kesehatan.
PeMerintaH sangat
MeMPerHatikan
Pelayanan keseHatan
Masyarakat Miskin dan
HaMPir Miskin. yang
di tUangkan dalaM
PrOgraM JaMkesMas
dan JaMPersal.
MengaPa banyak wni yang berObat ke lUar negeri?
pelayanan kesehatan masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas yang lebih suka berobat keluar negeri, harus mendapat pelayanan kesehatan yang lebih baik di dalam negeri. Sehingga devisa idak ikut keluar negeri. Salah satunya adalah meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sampai pada ingkat customer care.
Untuk mengatasi hal tersebut sesuai Rencana pembangunan Jangka panjang Menengah (RpJpM) yakni membentuk rumah sakit dengan pelayanan berstandar internasional. Saya tekankan disini mutu pelayanan internasional idak harus membuat gedung baru dan penambahan alat canggih. Tapi rumah sakit itu dari yang palingh atas sampai yang paling bawah harus meningkatkan mutu pelayanan sehingga sikap, standar dan mutu pelayanannya bertaraf rumah sakit internasional.
Terutama sikap mutu dari SDM kesehatannya. hasil survey ICW (Indonesia Corupion Watch) menunjukan bahwa alasan mereka berobat keluar negeri akibat kekecewaan pada komunikasi, pelayanan dan empai kepada pasien. Sangat sedikit sekali mereka berobat keluar negeri karena salah diagnosis, gedung kurang bagus atau dokter yang kurang pintar.
Berdasarkan hasil survey dan hasil pengamatan, harus diakui bahwa pelayanan belum menerapkan sikap yang berorientasi pada customer. Pengalaman lain yang diamai banyak pasien yang memilih berobat bukan ke rumah sakit modern, tapi rumah sakit bernuansa asri dengan pelayanan kekeluargaan yang memberikan kenyamanan daripada dengan pelayanan formal, kaku tanpa ada keramahtamahan.
bagaiMana cara MeMiniMalkan wni tidak berObat ke lUar negeri?
Apabila menginginkan masyarakat sama sekali idak berobat keluar negeri besar sekali usaha yang harus dilakukan dan idak mudah. Dulu Malaysia, idak ada arinya apa-
masyakarat banyak berobat kesana. Sekarang bagaimana caranya
masyarakat tetap berobat di Indonesia dan warga Malaysia berobat ke Indonesia.
Salah satu yang dilakukan yakni membuat rumah sakit Internasional di iik-iik yang masyarakatnya lebih banyak ke luar negeri seperi Jakarta, Medan dan Bali. Sebab Medan dekat Malaysia, masyarakatnya lebih memilih berobat ke Malaysia. Bali juga mendapat prioritas guna menarik turis, bukan hanya wisata, tapi juga medisnya, seperi medical tourism. walau, mungkin idak dapat menghenikan seratus persen masyarakat berobat keluar negeri, tetapi paling idak mengurangi.
aPa yang akan dilakUkan UntUk Meningkatkan sdM keseHatan ?
Atas dasar semangat untuk memperbaiki, dengan anggaran yang sangat terbatas berusaha merubah SDM menjadi lebih baik. Mengalokasikan anggaran untuk pelaihan. Melakukan monitoring dan evaluasi bekerjasama degan Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Menyusun konsep membentuk customer service di semua rumah sakit dan pelayanan publik yang memadai. Membentuk unit informasi publik untuk melaksanakan UU Keterbukaan Informasi publik. hal ini diharapkan menjadi masukan untuk memperbaiki pelayanan kesehatan.
daPat diJelaskan PengeMbangan
medical tourism ?
Medical Tourism pada dasarnya memberikan pelayanan kesehatan dengan kombinasi paket wisata. di daearahnya. Contohnya Medical check- up yang ada di rumah sakit Denpasar, ruangannya didesain bernuasa Jepang. Jadi pasien yang berasal dari Jepang merasa seperi di daerahnya sendiri. Disisi lain, pasien juga dapat menikmai objek wisata di Bali.
Selain itu, ada pengembangan obat tradisional. Saya pernah di tawari spa di Kuwait ternyata yang melayani orang dari Bali. Sebenarnya banyak kemampuan orang Indonesia, tapi
Jadi diharapkan rumah sakit dapat mengembangkan ciri khas tersendiri dari Indonesia sebagai daya tarik. yang sudah berhasil mengembangkan medical tourism adalah Korsel, Thailand, Malaysia dan India.
bagaiMana Pelayanan keseHatan UntUk Masyarakat Miskin dan MenJelang Miskin ?
Untuk masyarakat miskin disediakan program Jamkesmas, Jampersal dan Jamkesda oleh daerah. Saat ini pembiayaan Jamkesmas dan Jampersal terus meningkat. program Jampersal menjamin seiap orang yang bersalin sebelum partus/melahirkan ditangani oleh bidan/tenaga kesehatan di puskesmas atau di RS kelas iga.
Anggaran untuk masyarakat miskin melalui Jamkesmas terus meningkat. Walau demikian harus diakui, masih banyak keluhan dari masyarakat berkenaan dengan kepesertaan. Sebab kepersertaan Jamkesmas berdasarkan data hasil Susenas. Masyarakat yang di luar itu menjadi tangung jawab kepala daerah seperi Jaminan Kesehatan Daerah. Tapi karena belum semua daerah mampu, tentu masih menjadi tantangan. Saat ini daerah yang sudah menjamin biaya kesehatan seluruh penduduknya baru empat provinsi yaitu Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan dan Bali.
Umumnya sebagian besar sudah tercover, tetapi idak dapat dihindari “tanpa komplain” di dunia manapun. Tapi karena sering dipoliisasi, dimobilisir oleh media sehingga terkesan selalu idak baik. Tapi idak mengapa, karena itu sebagian respon masyarakat yang harus dicari solusinya.
pada dasarnya pembangunan SDM idak bisa sepotong-sepotong, harus menjadi komitmen top leader sampai bawah. Komitmen-komitmen di BUK sampai rumah sakit yang melakukannya. Tanpa komitmen idak akan jalan atau hanya musiman. Kita harus membentuk budaya pelayanan yang peduli pasien. Oleh karena itu harus membentuk im customer servicenya yang
berkesinambungan. Monitor terus, agar tetap berjalan. Targetnya tahun 2014, 92,3% menuju rumah sakit berstandar
Fo To-F o To: www .KAP ANLA GI. CoM
kebiasaan mencuci tangan ternyata sudah dilakoni Dik Doank sejak usia dini. Namun, pria yang biasa disapa om Ganteng ini baru menyadari peningnya cuci tangan setelah melakukan akivitas bermain gitar.
Menurut Dik Doank kebiasaan menjaga kesehatan dengan mencuci tangan sebenarnya telah diajari oleh ayahnya, salah satunya jika selesai memainkan senar gitar.
“Kalau kebiasan itu sih baru saya sadari sejak duduk di bangku SMP. Kan, senar gitar ada karatnya dan
oleh bapak almarhum saya selalu diingatkan,” katanya.
Kebiasaan tersebut kini ternyata sudah ditularkan pada anak-anaknya di kediamannya, termasuk dengan anak- anak Kandang Jurank Doank, lokasi sekolah alam miliknya.
“Alhamdulillah di rumah nggak kesulitan air sehingga di mana pun ada kran air. Apalagi kalau sholat juga kan cuci tangan. Jadi sebetulnya sudah mengakar,” ucap lulusan Insitut Kesenian Jakarta ini.§
(kapanlagi.com)