• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. KESIAPSIAGAAN DAN RESPONS

4.1. DETEKSI

4.1.1. SURVEILANS EPIDEMIOLOGI

Surveilans merupakan salah satu yang sangat penting dalam upaya penanggulangan VIRUS HXNY karena perannya untuk memperlambat dan menghentikan laju transmisi/penularan dan menunda penyebaran penularan. Upaya tersebut dilakukan melalui upaya penemuan kasus, investigasi kasus, pelacakan kontak (contact tracing) termasuk analisis data surveilans serta upaya isolasi dan karantina. Upaya tersebut akan berbeda menurut kabupaten/kota sesuai dengan analisis situasi berkala sesuai dengan tingkat penularan di wilayah masing-masing.

Berikut adalah upaya yang dilakukan berdasarkan tingkat penularan di wilayah:

58 TINGKAT PENULARAN

TIDAK ADA KASUS KASUS SPORADIK KASUS KLASTER PENULARAN

KOMUNITAS 1. Penemuan kasus

secara aktif dan isolasi, karantina kontak

2. Penemuan kasus secara aktif.

3. Menyiapkan menghadapi lonjakan kebutuhan pelacakan kontak 4. Melaksanakan

surveilans VIRUS HXNYmelalui surveilans berbasis komunitas,

surveilans ILI, SARI, pneumoni, Event-based surveillance baik FKTP dan FKRTL 5. Melaksanakan

surveilans di fasilitas tertutup dan kelompok rentan

1. Penemuan kasus secara aktif dan isolasi, karantina kontak

2. Melaksanakan pelacakan kontak dan monitoring serta karantina kontak

3. Pelaksanaan surveilans VIRUS HXNYmelalui surveilans berbasis komunitas,

surveilans ILI, SARI, pneumoni, Event Base surveillance baik FKTP dan FKRTL 4. Melaksanakan

surveilans di fasilitas tertutup dan kelompok rentan

1. Mengintensifkan penemuan kasus dan isolasi 2. Mengintensifkan

pelacakan kontak dan monitoring serta karantina kontak 3. Memperluas

surveilans VIRUS HXNYmelalui surveilans berbasis komunitas,

surveilans ILI, SARI, ISPA dan

Pneumonia di FKTP dan FKRTL

4. Melaksanakan surveilans di fasilitas tertutup dan

kelompok rentan

1. Terus melanjutkan penemuan kasus dan isoasi jika memungkinkan khususnya pada daerah yang baru melaporkan kasus 2. Terus melanjutkan pelacakan kontak dan monitoring jika memungkinkan serta karantina kontak

3. Isolasi mandiri pada kasus yang

bergejala ringan 4. Memantau

perkembangan VIRUS

HXNYsurveilans sentinel yang ada 5. Melaksanakan

surveilans di fasilitas tertutup dan kelompok rentan

Indonesia memiliki 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota yang di setiap tingkatan administratif tersebut terdapat unit surveilans termasuk tim gerak cepat (TGC). Untuk membantu pelaksanaan kegiatan surveilans VIRUS HXNY petugas surveilans puskesmas juga memiliki peran yang sangat penting. Dengan tren peningkatan jumlah kasus konfirmasi yang tinggi, maka beban petugas surveilans menjadi sangat besar sehingga tidak sedikit kasus maupun kontak yang belum sempat diinvestigasi dan dilakukan pelacakan kontak. Begitu pula petugas untuk memasukkan data yang biasanya hanya 1 orang per provinsi yang dirasa kurang memadai.

Sedangkan kelengkapan laporan masih dibawah target pelaporan. Tugas TGC provinsi adalah untuk melakukan rapid health assessment, verifikasi rumor, melakukan penyelidikan epidemiologi, melakukan pendampingan dan asistensi teknis.

Tim TGC yang terdiri dari lintas sektor (tenaga medis, epidemiolog kesehatan, entomologi kesehatan, sanitarian dan laboratorium kesehatan) juga memiliki peran sentral. Saat ini, secara nasional sudah dibentuk TGC untuk membantu melakukan pelacakan kontak melalui kegiatan TLI (temukan, lacak dan isolasi) dengan tujuan untuk memutuskan mata rantai penularan. Unit teknis yang menjadi pimpinan TGC adalah unit teknis ditunjuk sesuai kasus yg terdapat dalam

59 tusinya. Unit teknis pimpinan TGC mendapatkan info dari Bidang Surveilans, kemudian unit tersebut yang akan menentukan komposisi/personil tim termasuk menyertakan Unit Utama lain (Yankes, Giskia, RS, Litbangkes) dan juga tim pakar. Pimpinan TGC membuat surat tugas untuk memenuhi aspek hukum ketika TGC turun ke daerah.

Sistem pelaporan melalui NAR (New All Record) merupakan sistem yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan untuk data hasil tes laboratorium kasus VIRUS HXNY. Kasus suspek yang terjaring di faskes akan diambil sampelnya dan dikirim ke laboratorium. Faskes ini harus melakukan pemasukkan data dasar kasus suspek. Setelah laboratorium menerima sampel dan melakukan tes, selanjutnya hasil tes baik positif maupun negatif akan direkam ke NAR oleh tenaga entri laboratorium sehingga secara online data suspek akan berubah menjadi data kasus negatif dan positif. Secara online, dinas kesehatan provinsi, kabupaten/kota maupun Kementerian Kesehatan dapat mengakses data tersebut untuk menentukan status akhir kasus maupun monitoring kasus. Bila ada data yang tidak lengkap dari kasus maka dinas kesehatan kabupaten/kota akan melakukan upaya untuk melengkapi data kasus dengan berkoordinasi puskesmas setempat atau petugas yang melakukan penyelidikan epidemiologi. Pelatihan NAR telah dilaksanakan di seluruh provinsi dan kabupaten serta faskes melalui webinar maupun Zoom.

Surveilans berbasis masyarakat (CBS- Community Based Surveillance) merupakan kegiatan surveilans yang melibatkan kader/tokoh masyarakat dalam mendeteksi adanya penyakit potensial KLB/wabah termasuk VIRUS HXNY. CBS ini dapat memperkuat surveilans dalam deteksi dini, karena kader/tokoh masyarakat merupakan kunci yang harus dibekali pengetahuan tanda dan gejala dari suspek VIRUS HXNY. Selain itu, kader/tokoh masyarakat tersebut juga dapat berperan membantu petugas kesehatan yang jumlahnya terbatas dalam hal monitoring

Strategi pengendalian diarahkan melalui 4 aktivitas utama yaitu:

1. Memperkuat sistem surveilans melalui kegiatan:

a. Penambahan jumlah petugas surveilans sesuai analisis kebutuhan → Membuat model sederhana analisis kebutuhan tenaga surveilans di pusat, provinsi dan kabupaten/kota b. Pembuatan buku pedoman Surveilans VIRUS HXNY

c. Membuat buku saku:

i. Pelacakan kontak ii. Isolasi dan Karantina

d. Peningkatan kapasitas petugas surveilans melalui:

i. Sosialisasi dan pelatihan pedoman pencegahan dan pengendalian VIRUS HXNYdan pedoman surveilans VIRUS HXNYsecara berkala

ii. On the Job Training

iii. Pelatihan analisis data surveilans

e. Melakukan upaya peningkatan kualitas data sistem surveilans → Memperkuat validitas data, memperkecil missing data

2. Implementasi sistem surveilans

a. Melakukan rapid risk assessment secara regular (per minggu dalam bentuk MMWR dan sitrep)

60 b. Melakukan deteksi dini kasus melalui:

i. Event-based surveillance ii. Community-based surveillance iii. Facility-based surveillance iv. Laboratory-based surveillance

c. Melakukan percepatan testing < 24 jam sejak swab dilakukan → Indikator min 90%

d. Melakukan penyelidikan epidemiologi pada setiap kasus Konfirmasi → Indikator min 80%

e. Melakukan isolasi kasus konfirmasi < 48 jam sejak hasil lab dikeluarkan → Indikator min 80%

f. Melakukan pemantauan harian seluruh kasus

g. Melakukan analisis data harian, mingguan dan bulanan h. Membuat situation report harian, mingguan dan bulanan i. Melakukan serosurvey melalui metode elisa

j. Melakukan penguatan pencatatan kematian probable 3. Monitoring dan Evaluasi pelaksanaan sistem surveilans

a. Mendukung dashboard sistem surveilans VIRUS HXNY di pusat, provinsi dan kabupaten/kota

b. Memantau pergerakan kasus dan dinamisasi penyakit c. Supervisi secara rutin

d. Melakukan evaluasi secara rutin (mingguan dan bulanan) 4. Pengembangan Sistem Surveilans

Grand design pengembangan teknologi telepon seluler untuk pelacakan kontak

1.1.1. Strategi dan Aktivitas Pengendalian Fase Kesiapsiagaan

Ada kasus potensi PHEIC / pandemi di negara lain, belum ada kasus di Indonesia

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

Peningkatan SKDR (puskesmas, RS dan KKP),

Surveilans sentinel ILI/SARI, Event base surveilans untuk deteksi kasus

Pelaksanaan SKDR, surveilans sentinel ILI/SARI, dan event base surveilans

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Peningkatan Sentinel Surveilans Syndrom di Rumah Sakit

Peningkatan Sentinel Surveilans Syndrom di Rumah Sakit

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

61

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

Peningkatan kapasitas petugas surveilans, tim TGC, dan infrastruktur pelaporan surveilans

Pelatihan petugas SKDR, petugas surveilans sentinel ILI/SARI dan area lain yang berpotensi, petugas PHEOC, petugas TGC, pelatihan surveilans untuk komunitas, pelatihan petugas surveilans RS, pelatihan event base surveilans untuk nakes di Dinas Kesehatan Prov/Kab/Kota, pelatihan analisis risiko, pelatihan petugas kesehatan hewan di bidang surveilans dan invenstigasa

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Kajian oleh tim ahli untuk menyusun strategi respon dan penyiapan pedoman surveilans

Penyusunan pedoman termasuk definisi operasional dan indikator monitoring, penyusunan modul pelatihan, penyusunan media KIE, review sistem dan kapasitas surveilans (TGC, sistem pelaporan dan

infrastrukturnya termasuk ketersediaan server dan sistem pelaporan berbasis web), simulasi tim gerak cepat dan penyelidikan epidemiologi serta pelaporan, penyediaan logistik APD, alat dan bahan pengambilan sampel, penyusunan pedoman surveilans dan pengambilan sampel pada hewan

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Pemetaan kelompok rentan

Review data PISPK, profil kesehatan dan data BPS untuk pemetaan kelompok rentan

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Pemetaan risiko dan analisis risiko

Pengumpulan data untuk melakukan analisis risiko dan melakukan analisis risiko serta diseminasi, formulasi rekomendasi kebijakan untuk respon

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Peningkatan deteksi dini pada hewan dan satwa liar

Peningkatan deteksi dini pada hewan dan satwa liar

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Peningkatan surveilans dan deteksi dini di pintu-pintu masuk negara

Peningkatan surveilans dan deteksi dini di pintu-pintu masuk negara

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

62

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

Kesehatan Lingkungan

Peningkatan kapasitas lab dan petugas lab dalam mendiagnosis penyakit

Peningkatan kapasitas petugas laboratorium kesehatan (Litbangkes, BBLK, B/BTKLPP) dan laboratorium kesehatan hewan (BVet dan BBVet)

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Surveilans faktor risiko lingkungan

Surveilans faktor risiko lingkungan Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Pengembangan sistem pencatatan dan pelaporan

Pengembangan sistem pencatatan dan pelaporan

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Fase Siaga Darurat

Deteksi kasus awal di Indonesia

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

Penemuan kasus secara aktif oleh TGC, pelacakan kontak, penyelidikan epidemiologi dan monitoring kontak

Pelaksanaan SKDR, ILI/SARI, Event base surveilans untuk deteksi kasus dengan lebih intens dan pelaporan

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Peningkatan kapasitas petugas surveilans dan surge capacity, termasuk menyiapkan community base surveilans

Penyusunan daftar petugas surveilans tambahan dan kontak tracer, pelatihan bagi petugas tambahan

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Review pemetaan kelompok rentan

Review pemetaan kelompok rentan Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

63

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

Kesehatan Lingkungan

Pemetaan risiko dan analisis risiko

Monitoring kelengkapan dan ketepatan laporan kasus yang dilaporkan melalui sistem pelaporan (SILAPHAR,

SILACAK, NAR)

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Pemetaan risiko dan analisis risiko berdasarkan data penyelidikan epidemiologi terbaru, membuat laporan analisis risiko, diseminasi analisis risiko untuk rencana operasi

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Early response (percepatan dalam melakukan respon)

Aktivasi TGC, verifikasi, penyelidikan epidemiologi, pelacakan dan

monitoring kontak

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Melakukan notifikasi kasus kepada WHO

Dirjen P2P(IHR focal point)

Peningkatan Sentinel Surveilans Syndrom di Rumah Sakit

Peningkatan Sentinel Surveilans Syndrom di Rumah Sakit

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Peningkatan kapasitas petugas surveilans, tim TGC, dan infrastruktur pelaporan surveilans

Pelatihan petugas SKDR, petugas surveilans sentinel ILI/SARI dan area lain yang berpotensi, petugas PHEOC, petugas TGC, pelatihan surveilans untuk komunitas, pelatihan petugas surveilans RS, pelatihan event base surveilans untuk nakes di Dinas Kesehatan Prov/Kab/Kota, pelatihan analisis risiko, pelatihan petugas kesehatan hewan di bidang surveilans dan invenstigasa

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

64

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

Kajian oleh tim ahli untuk menyusun strategi respon dan penyiapan pedoman surveilans

Penyusunan pedoman termasuk definisi operasional dan indikator monitoring, penyusunan modul pelatihan, penyusunan media KIE, review sistem dan kapasitas surveilans (TGC, sistem pelaporan dan

infrastrukturnya termasuk ketersediaan server dan sistem pelaporan berbasis web), simulasi tim gerak cepat dan penyelidikan epidemiologi serta pelaporan, penyediaan logistik APD, alat dan bahan pengambilan sampel, penyusunan pedoman surveilans dan pengambilan sampel pada hewan

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Peningkatan deteksi dini pada hewan dan satwa liar

Peningkatan deteksi dini pada hewan dan satwa liar

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Peningkatan surveilans dan deteksi dini di pintu-pintu masuk negara

Peningkatan surveilans dan deteksi dini di pintu-pintu masuk negara

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Peningkatan kapasitas lab dan petugas lab dalam mendiagnosis penyakit

Peningkatan kapasitas petugas laboratorium kesehatan (Litbangkes, BBLK, B/BTKLPP) dan laboratorium kesehatan hewan (BVet dan BBVet)

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Surveilans faktor risiko lingkungan

Surveilans faktor risiko lingkungan Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

65

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

Uji coba dan pengembangan lebih lanjut terhadap sistem pencatatan dan pelaporan

Uji coba dan pengembangan lebih lanjut terhadap sistem pencatatan dan pelaporan

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Fase Tanggap Darurat Kasus Sporadik

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

Intensifikasi penemuan kasus secara aktif, pelacakan kontak, penyelidikan epidemiologi, monitoring kontak dan pelaporan

Intensifikasi pelaksanaan SKDR, ILI/SARI, Event base surveilans untuk deteksi kasus dengan lebih intens dan pelaporan

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Mobilisasi petugas surveilans tambahan dan kontak tracer sesuai kebutuhan

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Pemetaan risiko dan analisis risiko

Intensifikasi monitoring kelengkapan dan ketepatan laporan kasus yang dilaporkan melalui sistem pelaporan (SILAPHAR, SILACAK, NAR)

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Pemetaan risiko dan analisis risiko berdasarkan data penyelidikan epidemiologi terbaru, membuat laporan analisis risiko, diseminasi analisis risiko untuk rencana operasi

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Melakukan notifikasi kasus kepada WHO

Dirjen P2P(IHR focal point)

66

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

Memperketat pintu masuk negara dan wilayah perbatasan

Memperketat pintu masuk negara dan wilayah perbatasan

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Meminimalisir penyebaran agen penyakit

Melakukan komunikasi risiko Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Perencanaan logistik APD Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Meningkatkan biosafety dan biosecurity

Penyusunan Sop surveilans di tempat tertutup dan pengiriman logistik dan penunjukan petugas yang melakukan surveilans ditempat tertutup

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Surveilans aktif berbasis komunitas

TGC melanjutkan verifikasi penyelidikan epidemiologi dan pelacakan kontak

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Kasus Klaster

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

Intensifikasi penemuan kasus secara aktif, pelacakan kontak, penyelidikan epidemiologi, monitoring kontak dan pelaporan

Melanjutkan intensifikasi pelaksanaan SKDR, ILI/SARI, Event base surveilans untuk deteksi kasus dengan lebih intens dan pelaporan

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

67

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

Intensifikasi untuk deteksi kasus dan karantina klaster

Melanjutkan intensifikasi monitoring kelengkapan dan ketepatan

laporan kasus yang dilaporkan melalui sistem pelaporan (SILAPHAR, SILACAK, NAR)

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Karantina wilayah dimana klaster terdeteksi

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Melaksanakan surveilans di fasilitas tertutup (penjara, asrama, pesantren, dll), dan kelompok rentan (komorbid dan lansia)

Intensifikasi surveilans ditempat tertutup berdasarkan SOP

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Mobilisasi surge capacity petugas surveilans dan tracer termasuk refresher training

Mobilisasi petugas surveilans tambahan dan kontak tracer sesuai kebutuhan

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Pemetaan risiko dan analisis risiko

Pemetaan risiko dan analisis risiko berdasarkan data penyelidikan epidemiologi terbaru, membuat laporan analisis risiko, diseminasi analisis risiko untuk rencana operasi

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Melakukan notifikasi kasus kepada WHO

Dirjen P2P(IHR focal point)

Pembatasan mobilisasi manusia dan karantina hewan

Pembatasan mobilisasi manusia dan karantina hewan

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

68

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

Surveilans aktif kepada hewan dan satwa liar

Surveilans aktif kepada hewan dan satwa liar

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Komunikasi risiko kepada

masyarakat

Melakukan komunikasi risiko Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Surveilans aktif berbasis komunitas

TGC melanjutkan verifikasi penyelidikan epidemiologi dan pelacakan kontak

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Kasus Transmisi di Komunitas

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

Intensifikasi penemuan kasus secara aktif, pelacakan kontak, penyelidikan epidemiologi, monitoring kontak dan pelaporan

Melanjutkan intensifikasi pelaksanaan SKDR, ILI/SARI, Event base surveilans untuk deteksi kasus dengan lebih intens dan pelaporan

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Melanjutkan intensifikasi monitoring kelengkapan dan ketepatan

laporan kasus yang dilaporkan melalui sistem pelaporan (SILAPHAR, SILACAK, NAR)

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Melanjutkan dan intensifikasi surveilans di fasilitas tertutup (penjara, asrama, pesantren, dll), dan kelompok

Intensifikasi surveilans ditempat tertutup berdasarkan SOP

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

69

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

rentan (komorbid dan lansia)

Mobilisasi surge capacity petugas surveilans dan tracer termasuk refresher training

Mobilisasi petugas surveilans tambahan dan kontak tracer sesuai kebutuhan

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Pemetaan risiko dan analisis risiko

Pemetaan risiko dan analisis risiko berdasarkan data penyelidikan epidemiologi terbaru, membuat laporan analisis risiko, diseminasi analisis risiko untuk rencana operasi

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Melakukan notifikasi kasus kepada WHO

Dirjen P2P(IHR focal point)

Pada kasus dengan gejala ringan dilakukan isolasi mandiri

Pada kasus dengan gejala ringan dilakukan isolasi mandiri

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Pemantauan melalui sentinel ILI/SARI

Pemantauan melalui sentinel ILI/SARI

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Surveilans PHSM / Public Health and Social Measures (termasuk didalamnya adalah 3M, PSBB, pembatasan mobilitas)

Pelaksanaan PPKM/PSBB Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Komunikasi risiko kepada

masyarakat

Komunikasi risiko kepada masyarakat

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit

70

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

dan Kesehatan Lingkungan

Surveilans aktif kepada hewan dan satwa liar

Surveilans aktif kepada hewan dan satwa liar

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Surveilans aktif berbasis komunitas

TGC melanjutkan verifikasi penyelidikan epidemiologi dan pelacakan kontak

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan

Lingkungan

Fase Transisi Darurat

Berdasarkan analisis risiko, ada penurunan kasus yang signifikan, secara konsisten sesuai pedoman indikator penyeuaian kesehatan masyarakat untu pandemi

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

Deeskalasi respon dan pengurangan petugas surveilans dan tracer

Pengurangan petugas kontak tracer dan surveilans

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Pemetaan risiko dan analisis risiko

Melakukan pemetaan risiko ulang berdasarkan data yang ada, untuk menilai penurunan kasus dan situasi yang terkontrol

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Terus melanjutkan SKDR, ILI/SARI, Event base surveilans

Monitoring dan evaluasi ketepatan laporan kasus yang dilaporkan melalui sistem pelaporan (SILAPHAR,

SILACAK, NAR)

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

71

Strategi Aktivitas Penanggungjawab

Monitoring terhadap hasil surveilans hewan dan satwa liar

Monitoring terhadap hasil surveilans hewan dan satwa liar

Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Komunikasi risiko kepada masyarakat

Komunikasi risiko kepada masyarakat Koordinator Sub Klaster Pengendalian Penyakit dan

Kesehatan Lingkungan

Pemangku kepentingan

• Pemangku kepentingan utama Direktorat Jenderal P2P:

- Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan: Subdirektorat Surveilans, Subdirektorat Infeksi Emerging

- Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular langsung

• Semua satuan kerja di lingkungan Kementerian Kesehatan, kementerian/ lembaga

pemerintah pusat dan daerah, lembaga non pemerintah, anggota parlemen, media massa (cetak, eletronik, online), blogger/influencer, organisasi profesi, organisasi masyarakat, Pramuja, dunia usaha dan masyarakat

• Dinas Kesehatan Provinsi

• Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

• Surveilans Rumah Sakit dan Puskesmas

• Mitra Pembangunan:

• Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia

• WHO, CDC, FAO, USAID, IDDS,LINKAGES, CISDI, INDOHUN, dll

Indikator Kegiatan Surveilans

Indikator Target Verifikasi

Pencapaian

Waktu Pengukuran

Penanggung jawab

Setiap kasus baru dapat diidentifikasi, dilaporkan dan dianalisis kurang dari 24 jam.

Penemuan kasus baru dilaporkan kepada Dinas

100% Data yang tercatata di NAR

Mingguan Surveilans

72

Indikator Target Verifikasi

Pencapaian

(notifikasi) sesuai dengan formulir notifikasi

penemuan kasus VIRUS HXNY di Fasyankes

Perkembangan situasi VIRUS HXNY di daerah dilaporkan oleh Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota secara berkala harian kepada Dinas Kesehatan Provinsi dan

Kementerian Kesehatan sesuai dengan formulir laporan harian agregat (formulir 4) melalui sistem pelaporan harian online sesuai

pembahasan pada bagian pencatatan pelaporan

100% Evaluasi data dari laporan harian

Mingguan Infem

Sistem surveilans

diterapkan dan diperkuat di fasilitas tertutup (seperti lapas, panti jompo, panti rehabilitasi, asrama, pondok

pesantren, dan lain-lain) dan pada kelompok-kelompok rentan

100% Survei pada lokasi-lokasi tersebut

Bulanan Surveilans, Infem

Surveilans kematian VIRUS HXNY dilakukan di Rumah Sakit dan masyarakat

100% Evaluasi data RS online

Bulanan Surveilans, Yankes

Tim Gerak Cepat VIRUS HXNY berfungsi dengan baik di berbagai tingkat administrasi

100% Kemampuan melakukan investigasi kasus dan klister

2 bulanan Surveilans

73

Indikator Target Verifikasi

Pencapaian diisolasi dan dilakukan pengambilan spesimen dalam waktu kurang dari 48 jam sejak munculnya gejala

100% Evaluasi data NAR 2 mingguan Surveilans

Lama hasil pemeriksaan Lab. keluar sejak

spesimen dikirimkan dan diterima hasilnya adalah 3x24 jam

100% Evaluasi data NAR Bulanan Surveilans, Litbangkes

>80% kasus baru dapat diidentifikasi kontak eratnya dan mulai

>80% kasus baru dapat diidentifikasi kontak eratnya dan mulai