Peningkatan kapasitas kelembagaan dan kinerja dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian untuk mengembangkan dan menyebarkan teknologi inovatif yang relevan dan berbasis kebutuhan, untuk memenuhi kebutuhan dari produsen dan sistem pangan pertanian
Lender Kode Loan Masa Laku Mata Uang Pinjaman Nilai (Juta)
Penarikan
Kumulatif Pinjaman Belum Ditarik (Juta)
PV
TA 2015 (Juta)
(Juta) % Target Realisasi %
Bank Dunia 8188-ID 25/10/2012 s/d 30/09/2017 USD 80,0 16,9 21,1 63,1 -43,4 11,4 1) 10,9 95,7
1)LPKPHLN tidak mencantumkan target tahunan dan triwulanan. Nilai yang dicantumkan merupakan nilai DIPA proyek TA 2015 dengan asumsi nilai tukar USD 1 = Rp 12.500,-
Gedung BPTP Jambi
Sumber: Website proyek SMART-D
Instansi Pelaksana
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian Lokasi Proyek
a. Provinsi DKI Jakarta b. Provinsi Jawa Barat
c. Provinsi Jawa Tengah d. Provinsi Jawa Timur
e. Provinsi Jambi f. Provinsi Sumatera Barat g. Provinsi Kalimantan Selatan h. Provinsi Sulawesi Selatan i. Provinsi Sulawesi Utara j. Provinsi Papua Barat
Ruang Lingkup (Pekerjaan dan Sasaran) a. Pengembangan dan Manajemen SDM b. Pengembangan Infrastruktur dan Fasilitas c. Manajemen Penelitian dan Dukungan Kebijakan d. Manajemen Kegiatan, Monitoring dan Evaluasi
KEMENTERIAN PERTANIAN
162
Kemajuan Pelaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Indikator Kinerja
Anggaran. Pada TA 2015, sebagian besar realisasi keuangan proyek berasal dari kegiatan fisik di Komponen Pengembangan Infrastruktur dan Fasilitas, melalui pembangunan gedung, renovasi laboratorium, dan pengadaan peralatan laboratorium. Sementara realisasi keuangan untuk komponen kegiatan proyek lainnya, terutama untuk Pengembangan dan Manajemen SDM, masih berjalan lambat (Komponen A proyek).
Sejumlah permasalahan yang dihadapi penanggungjawab proyek terkait Komponen A proyek telah terjadi secara berulang sejak awal tahun anggaran. Beberapa penyebab utama antara lain:
Rendahnya jumlah calon petugas belajar yang memenuhi persyaratan serta komitmen untuk melakukan tugas belajar. Hingga akhir TA 2015, masih banyak calon petugas belajar yang menemui kesulitan untuk memenuhi persyaratan TOEFL. Sejumlah calon petugas belajar yang telah memenuhi persyaratan memutuskan untuk mundur atau merubah rencana studi disebabkan berbagai alasan pribadi dan administrasi.
Berbagai permasalahan pengelolaan administrasi yang menyebabkan gagalnya peserta untuk mengikuti pelatihan jangka pendek, seperti pengurusan surat undangan pelatihan, berkas usulan, izin atasan, hingga izin keberangkatan ke luar negeri.
Kemajuan Pencapaian Indikator Kinerja. Hingga akhir TA 2015, ISR Bank Dunia mencatat 2 target indikator keluaran/ISR yang dapat dicapai sesuai dengan target tahunannya, yakni 565 kolaborasi penelitian nasional dan internasional (dari target 339) dan 100 penemuan yang telah dipatenkan atau dilisensikan ke industri (dari target 33).
Amandemen Perjanjian Pinjaman. Menjawab surat usulan amandemen yang telah dikirimkan Kementerian Keuangan pada tanggal 18 November, Bank Dunia menyampaikan melalui surat per tanggal 15 Desember 2015 bahwa proses amandemen baru dapat dilakukan setelah penanggungjawab proyek dapat memenuhi 3 target pada bulan Maret/April 2016. Target dimaksud diantaranya:
Mencapai target pengadaan senilai hingga USD 19,5 juta, dengan sekurangnya senilai USD 8 juta untuk kontrak fisik dan senilai USD 2 juta untuk selesainya kontrak laboratorium dan pusat penelitian.
Konsultan M&E internasional telah dikontrak dan aktif bekerja, dan sistem proyek telah diharmonisasi dengan sistem Balitbang Pertanian Kementan.
Sejumlah indikator proyek telah dicapai, yakni: penambahan 5 laboratorium yang siap untuk diakreditasi/disertifikasi; sekurangnya 100 kolaborasi diseminasi riset dan teknologi dibentuk, dan terdapat 60 publikasi ilmiah untuk peer review di dalam pipeline.
KEMENTERIAN PERTANIAN
163
Permasalahan/Kendala Yang Dihadapi Tindak Lanjut
Lain-Lain Komponen A :
Pelatihan Jangka Panjang
- Beberapa calon petugas belajar mundur karena permasalahan keluarga dan kesehatan.
- Beberapa calon petugas belajar kesulitan memenuhi persyaratan TOEFL/IBT.
- Beberapa calon petugas belajar telah memenuhi persyaratan TOEFL/IBT akan tetapi tidak segera mendaftar sehingga TOEFL/IBT kadaluwarsa.
- Beberapa calon petugas belajar mengajukan perubahan rencana sekolah sehingga mengakibatkan proses pengiriman petugas belajar menjadi terhambat.
Pelatihan Jangka Pendek
- Keterlambatan pengumpulan kelengkapan berkas usulan oleh calon petugas pelatihan yang menyebabkan proses pengajuan menjadi terlambat. - Prosedur pengurusan yang rumit dan
memerlukan waktu lama yang mengakibatkan beberapa pelatihan batal diikuti.
- Proses persetujuan melibatkan Eselon 1 yang jadwalnya terlalu padat.
- Pembatasan ijin ke luar negeri yang menyebabkan beberapa petugas pelatihan tidak mendapatkan persetujuan.
- Keterlambatan penerimaan surat undangan yang menyebabkan proses pengajuan terlambat.
Komponen A :
Pelatihan Bahasa Inggris.
Menginfokan lebih awal kepada calon peserta pelatihan (jangka pendek) dan berkoordinasi dengan penyedia pelatihan untuk mendapatkan surat undangan secara tepat waktu.
Meningkatkan koordinasi dengan Unit Eselon I mengenai rencana program pelatihan jangka panjang dan pendek.
Komponen B :
Spesifikasi alat dan bangunan membutuhkan waktu lama sehingga untuk bangunan hanya bisa melaksanakan perencanaan dan desain bangunan.
Terjadi gagal lelang terutama di daerah karena tidak banyak perusahaan/kontraktor yang memenuhi syarat kualifikasi.
Komponen B :
Pelaksanaan bangunan dan
peralatan/perlengkapan kantor akan dilaksanakan tahun anggaran 2016.
KEMENTERIAN PERTANIAN
164
Permasalahan/Kendala Yang Dihadapi Tindak Lanjut
Komponen C :
Usulan kegiatan kerjasama kemitraan terutama dengan Lembaga Penelitian Internasional masih relatif terbatas, sehingga kegiatan yang dilaksanakan belum dapat mencapai target. Hal ini disebabkan karena sebagian kerjasama internasional yang berpotensi dilaksanakan masih memerlukan waktu untuk koordinasi dalam rangka menentukan prioritas penelitian yang akan dikerjasamakan.
Implementasi dari sebagian kecil kegiatan penelitian di lapangan mengalami kendala teknis, antara lain berupa kemarau, serangan hama dan penyakit, keterlambatan pengadaan bahan sehingga menyebabkan keterlambatan dari jadwal yang direncanakan.
Komponen C :
Mendorong koordinasi yang lebih intensif sehingga implementasi kerjasama dengan lembaga penelitian internasional dapat lebih cepat dilaksanakan.
Monitoring dan evaluasi lebih intensif untuk mendorong penanggung jawab dapat mengambil langkah-langkah dan tindakan terkait masalah teknis yang dihadapi sehingga dapat mencapai tujuan yang dapat direncanakan.
Komponen D :
Konsultan Internasional: Dari tiga paket konsultan yang dilelang hanya satu konsultan firma yang sudah berhasil diadakan. Hal ini dimungkinkan karena bidang keahlian yang spesifik, masa kerja yang pendek dan intermitten, sedangkan pengurusan ijin bekerja di Indonesia memerlukan waktu.
Komponen D :
Melakukan konsultasi dengan pihak Bank Dunia untuk menaikkan unit cost/bulan sampai batas yang layak dengan mengacu pada standar biaya konsultan yang berlaku di Indonesia.
KEMENTERIAN PERTANIAN
165