SYARAT DAN KOMPETENSI GURU PROFESIONAL PENDAHULUAN
Pada BAB sebelumnya telah dibahas makna dari profesi keguruan. Profesi keguruan yaitu bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian tentang pengajaran, pendidikan dan metode pengajaran. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang yang telah melakukan pendidikan tentang keahlian maka ia telah menjadi seorang guru yang professional. Namun pada kenyataannya di lapangan khususnya di negara Indonesia di tahun 2019, seseorang yang sudah menempuh pendidikan di perkuliahan dan mengambil jurusan keguruan tidak serta merta dikatakan telah menjadi guru professional. Setelah lulus kuliah mereka harus menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) setelah itu mereka akan diikutsertakan pada Pendidikan Profesi Guru (PPG). Lalu bagaimanakan sebenarnya makna professional itu? Apakah selama ini yang terjadi di Indonesia sudah tepat dan sesuai dengan keilmuan?
Bab ini akan membahas tentang: Syarat-syarat guru professional dan kompetensi yang harus dimiliki oleh guru professional. Setelah mempelajari BAB ini diharapkan mahasiswa mampu:
1. Menganalisis syarat-syarat guru professional
2. Menganalisis jenis-jenis kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru profesional
A. Pengertian Profesional
Profesional merupakan kata yang akhir-akhir ini sering didengungkan di kalangan para guru dan kalangan pendidik pada umumnya. Namun, meski telah sering didengar, sering terbaca, serta telah dinyatakan professional, masih banyak kalangan pendidik dan calon pendidik yang belum yakin dengan pengetahuannya mengenai apa itu professional. Terkadang orang lebih banyak mengaitkan professional dengan sejumlah uang yang bisa didapatkan. Tapi benarkah itu? Maka, anda sebagai calon guru sebelum benar-benar menjadi guru professional sangat dianjurkan untuk memahami apa itu professional.
Dalam KBBI (cetakan V) kata professional memiliki 3 makna, yaitu 1. Bersangkutan dengan profesi
2. Memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya 3. Mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya
Jika dilihat dari pengertian dalam KBBI maka pandangan masyarakat bahwa seorang guru yang profesional ditandai dengan sejumlah uang yang diperolehnya, bukan anggapan yang terlalu salah. Hal ini sesuai dengan salah satu
ciri profesi pendidik menurut NEA. NEA menyebutkan bahwa profesi kependidikan adalah Jabatan yang menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen.
Kata profesional berasal dari profesi yang artinya menurut Syafruddin Nurdin (225), diartikan sebagai suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut di dalam science dan teknologi yang digunakan sebagai prangkat dasar untuk diimplementasikan dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat.
Istilah "Profesional" diadaptasikan dari istilah bahasa Inggris yaitu Profession yang berarti pekerjaan atau karir. Menurut Kamus Dewan Bahasa dan Pustaka (Edisi Empat), yaitu kamus yang berasal dari Malaysia, menafsirkan profesional sebagai:
1. Terkait dengan (bergiat dalam) bidang profesi (seperti hukum, medis, dan sebagainya.
2. Berbasis (membutuhkan, dll) kemampuan atau keterampilan yang khusus untuk melaksanakannya, efisien (teratur) dan memperlihatkan keterampilan tertentu. Contoh : setiap manajer atau eksekutif dalam suatu perusahaan harus tahu mengurus secara profesional.
3. Melibatkan pembayaran dilakukan sebagai mata pencarian, mendapatkan pembayaran . Contoh : mereka harus mendapatkan bimbingan seorang pelatih teknis yang profesional di bidangnya.
4. Orang yg mengamalkan (karena pengetahuan , keahlian , dan keterampilan ) sesuatu bidang profesi ; memprofesionalkan menjadikan bersifat atau kelas profesional .
Dari berbagai definisi yang ada dan beredar di kalangan masyarakat maka yang harus menjadi acuan seorang guru di Indonesia tetaplah definisi menurut perundang-undangan. Dalam UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pada BAB I ketentuan umum disebutkan bahwa profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Selanjutnya dalam BAB III, Pasal 7 (1) disebutkan bahwa Profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut:
a. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;
b. memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia;
c. memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas;
e. memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;
f. memperoleh memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja;
g. memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat;
h. memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan
i. memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.
Apabila dibandingkan dengan definisi sebelumnya dari para ahli, perundang-undangan kuhususnya yang mengatur tentang prinsip professional memiliki kemiripan. Maka, sebagai calon guru anda harus memegang prinsip-prinsip ini dengan kuat serta menjadikannya kesatuan dalam diri.
Di Indonesia seorang guru dikatakan professional ketika ia telah melaksanakan pendidikan profesi. Mengenai pendidikan profesi akan dibahas secara lengkap pada BAB VI.
B. Syarat-syarat Guru Profesional
Berbicara tentang syarat-syarat guru profesional maka kita harus lebih banyak membaca peraturan perundang-undangan yang berlaku di negara kita, Indonesia. UU Guru dan Dosen BAB IV tentang guru, Bagian Kesatu, Kualifikasi, Kompetensi, dan Sertifikasi Pasal 8 mengatakan bahwa “Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya pada pasal 9 disebutkan bahwa kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat. Khusus untuk guru SD, kualifikasi akademik Guru SD/MI Guru pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) dalam bidang pendidikan SD/MI (D-IV/S1 PGSD/PGMI) atau psikologi yang diperoleh dari program studi yang terakreditasi. (Permen RI No 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru)
Seperti telah disebutkan pada bahasan sebelumnya bahwa di Indonesia seorang guru dikatakan profesional jika Anda telah dinyatakan lulus dalam sebuah pendidikan profesi kemudian memperoleh sertifikat pendidik. Hal ini menunjukkan bahwa meski Anda telah menempuh pendidikan di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan dan mengambil fakultas keguruan serta telah mengajar di SD, anda belum bisa dikatakan profesional. Hal ini mungkin terlihat merepotkan bagi para calon guru. Namun seperti yang telah diamanatkan dalam UU No. 14 tentang guru dan dosen, BAB II pasal 4 bahwa tujuan dari
aturan-aturan yang telah dibuat itu adalah untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran yang berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Semakin berkembangnya tekhnologi di dunia saat ini memungkinkan semakin mudahnya setiap masyarakat untuk mengakses informasi apapun di dunia. Hal ini menyebabkan perkembangan di segala bidang semakin pesat. Perkembangan tersebut tidak hanya yang bersifat positif akan tetapi meliputi yang negative pula. Seorang guru di zaman ini memiliki tantangan yang sangat besar dalam menjalankan perannya. Maka guru masa kini harus memiliki kompetensi yang mumpuni untuk menghadapi tantangan tersebut. Mengingat guru adalah ujung tombak dari tujuan pendidikan. Jika tombaknya tumpul maka ia tidak akan mampu menembus sasaran. Indonesia tidak akan mampu mewujudkan tujuan pendidikannya jika gurunya tidak disiapkan dengan optimal.
Selain itu, peraturan perundang-undangan yang ada merupakan bentuk tanggung jawab dari pemerintah terhadap kualitas guru di Indonesia. Ke depan guru harus memiliki kehidupan yang layak sehingga mampu mengembangkan keterampilan secara berkesinambungan. Guru memang pahlawan tanpa tanda jasa karena para guru tidak memiliki bintang di pundaknya atau tanda jasa lainnya. Namun guru tetap harus diperhatikan kesejahteraannya. Dalam sebuah artikel yang dimuat dalam https://www.liputan6.com/bisnis/read/2139613/daftar-gaji-guru-di-30-negara-ri-peringkat-berapa, Apinio (2014) menyatakan:
“Seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (27/11/2014), dari 30 negara yang menjadi anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation and
Development), Swiss adalah negara yang memberikan upah guru terbesar,
yaitu US$ 68.820 pertahun atau sekitar Rp 837 juta (kurs: Rp 12.176/US$). Menariknya, gaji guru di Swiss bahkan lebih tinggi dari rata-rata gaji pekerja di negara tersebut, yaitu sekitar US$ 50.000 pertahun. Posisi Swiss diikuti oleh Belanda, Jerman dan Belgia. Indonesia sendiri menempati posisi paling buncit dengan gaji guru rata-rata hanya US$ 2.830 atau sekitar Rp 34,4 juta per tahun”
Dengan adanya keharusan untuk memiliki sertifikat pendidik maka guru berhak mendapatkan tunjangan sertifikasi. Sertifikasi besarannya satu kali gaji pokok. Dalam PP RI No 15 tahun 2019 tentang perubahan kedelapan belas peraturan pemerintah nomor 7 tahun 1977 tentang peraturan gaji pegawai negeri sipil, disebutkan bahwa gaji pokok PNS golongan paling bawah, yaitu Gol 1a dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp. 1.560.800 atau 18.729.600/ tahun dan paling besar yaitu Gol 4e dengan masa kerja 32 tahun sebesar Rp. 5.901.200. atau 70.814.400/ tahun.
Di luar dari diperolehnya kesejahteraan, menurut Bank Dunia (2011: 1), manajemen tenaga kependidikan yang efektif adalah suatu hal yang sangat krusial
dalam pembangunan sistem pendidikan di Indonesia. Khususnya dalam menciptakan jasa pendidik yang kompeten, termotivasi, dan berkualitas tinggi. Semangat dan komitmen guru Indonesia sangat dipengaruhi oleh bagaimana rekruitmen, pelatihan awal, penempatan, pelatihan selama kerja, transfer, promosi, penilaian, serta sistem pengawasan profesi dan administratifnya dikelola.
Selain memiliki kualifikasi akademik yang telah ditetapkan seorang guru juga harus memiliki kompetensi. Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. (UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan Dosen, BAB I ketentuan umum). Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yang professional adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional (UU No 14 tentang guru dan dosen BAB IV pasal 10). Selanjutnya tentang penjelasan setiap kompetensi diatur oleh peraturan menteri N0. 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Sebagai calon guru SD Anda harus paham betul kompetensi-kompetensi tersebut. Di bawah ini adalah empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru kelas di SD:
1. Kompetensi pedagogik
Kompetensi pedagogik terdiri atas 10 kompetensi inti. Masing-masing kompetensi inti diturunkan kembali menjadi beberapa kompetensi yang lebih teknis. Kecuali kompetensi inti nomor lima. Kompetensi itu sudah teknis sehingga tidak diuraikan kembali. 10 kompetensi inti pedagogik secara lengkapnya adalah sebagai berikut.
Tabel 2.1 Kompetensi Pedagogik No. KOMPETENSI
INTI KOMPETENSI GURU SD/ MI
1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual.
Memahami karakteristik peserta didik usia sekolah dasar yang berkaitan dengan aspek fisik, intelektual, sosial-emosional, moral, spiritual, dan latar belakang sosial-budaya.
Mengidentifikasi potensi peserta didik usia sekolah dasar dalam lima mata pelajaran SD/MI. Mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik usia sekolah dasar dalam lima mata pelajaran SD/MI.
Mengidentifikasi kesulitan peserta belajar usia sekolah dasar dalam lima mata pelajaran SD/MI.
2 Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip
pembelajaran yang mendidik.
Memahami berbagai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik terkait dengan lima mata pelajaran SD/MI.
Menerapkan berbagai pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang mendidik secara kreatif dalam lima mata pelajaran SD/MI. Menerapkan pendekatan pembelajaran tematis, khususnya di kelas-kelas awal SD/MI.
3 Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.
Memahami prinsip-prinsip pengembangan kurikulum.
Menentukan tujuan lima mata pelajaran SD/MI. Menentukan pengalaman belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan lima mata pelajaran SD/MI Memilih materi lima mata pelajaran SD/MI yang terkait dengan pengalaman belajar dan tujuan pembelajaran.
Menata materi pembelajaran secara benar sesuai dengan pendekatan yang dipilih dan karakteristik peserta didik usia SD/MI.
Mengembangkan indikator dan instrumen penilaian.
4 Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.
Memahami prinsip-prinsip perancangan pembelajaran yang mendidik.
Mengembangkan komponen-komponen rancangan pembelajaran.
Menyusun rancangan pembelajaran yang lengkap, baik untuk kegiatan di dalam kelas, laboratorium, maupun lapangan.
Melaksanakan pembelajaran yang mendidik di kelas, di laboratorium, dan di lapangan
Menggunakan media pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik dan lima mata pelajaran SD/MI untuk mencapai tujuan pembelajaran secara utuh
Mengambil keputusan transaksional dalam lima mata pelajaran SD/MI sesuai dengan situasi yang berkembang.
5 Memanfaatkan
dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. 6 Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
Menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran untuk mendorong peserta didik mencapai prestasi belajar secara optimal.
Menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran untuk mengaktualisasikan potensi peserta didik, termasuk kreativitasnya
7 Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.
Memahami berbagai strategi berkomunikasi yang efektif, empatik dan santun, baik secara lisan maupun tulisan
Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik dengan bahasa yang khas dalam interaksi pembelajaran yang terbangun secara siklikal dari (a) penyiapan kondisi psikologis peserta didik, (b) memberikan pertanyaan atau tugas sebagai undangan kepada peserta didik untuk merespons, (c) respons peserta didik, (d) reaksi guru terhadap respons peserta didik, dan seterusnya.
8 Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
Memahami prinsip-prinsip penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar sesuai dengan karakteristik lima mata pelajaran SD/MI.
Menentukan aspek-aspek proses dan hasil belajar yang penting untuk dinilai dan dievaluasi sesuai dengan karakteristik lima mata pelajaran SD/MI. Menentukan prosedur penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
Mengembangkan instrumen penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
Mengadministrasikan penilaian proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan mengunakan berbagai instrumen.
Menganalisis hasil penilaian proses dan hasil belajar untuk berbagai tujuan
9 Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
Menggunakan informasi hasil penilaian dan evaluasi untuk menentukan ketuntasan belajar. Menggunakan informasi hasil penilaian dan evaluasi untuk merancang program remedial dan pengayaan.
Mengkomunikasikan hasil penilaian dan evaluasi kepada pemangku kepentingan.
Memanfaatkan informasi hasil penilaian dan evaluasi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 10 Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.
Melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Memanfaatkan hasil refleksi untuk perbaikan dan pengembangan lima mata pelajaran SD/MI. Melakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran lima mata pelajaran SD/MI
2. Kompetensi kepribadian
Sebelumnya telah disebutkan bahwa menurut peraturan menteri NO. 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Lalu apa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian. Beberapa definisi kepribadian menurut beberapa ahli yaitu: a. Menurut Syah (2000:225-226) kepribadian akan menentukan apakah
seseorang menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan anak didiknya terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah). b. Raimond Bernad Cattel (dalam Purwanti, 2013) mengemukakan,
”kepribadian adalah sesuatu yang memungkinkan untuk memprediksi tentang apa yang dikerjakan seseorang dalam saat tertentu, mencakup semua tingkah laku individu baik yang terbuka (lahiriyah) maupun yang tersembunyi.”
c. Kepribadian pada prinsipnya adalah kesatuan atau susunan antara aspek mental seperti, pikiran, perasaan, dengan aspek perilaku yang merupakan perbuatan nyata, aspek-aspek ini berhubungan antara satu dengan lainnya secara fungsional dalam individu sehingga bertingkah laku secara tetap dan
d. Schermerhon, dkk mengemukakan dalam Simbolon (2008:62), “Personality represent the overall profile, or combination of
characteristics, the captures the uniquenature of the person as the reats and interacts withother.” Kepribadian merepresentasikan keseluruhan
profil atau kombinasi karakteristik dan memiliki keunikan secara alami dari diri seseorang sebagai reaksi dari interaksinya dengan orang lain.
Dari beberapa definisi tentang kepribadian, maka dapat dibuat sebuah kesimpulan bahwa kompetensi kepribadian adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan berupa kesatuan atau susunan antara aspek mental seperti, pikiran, perasaan, dengan aspek perilaku yang merupakan perbuatan nyata, yang berhubungan antara satu dengan lainnya secara fungsional dalam individu sehingga bertingkah laku secara tetap dan khas. Berikut adalah kompetensi inti untuk kompetensi kepribadian menurut peraturan menteri NO. 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru.
Tabel 2.2 Kompetensi kepribadian guru kelas SD/MI
No. KOMPETENSI INTI KOMPETENSI GURU SD/ MI 1 Bertindak sesuai dengan
norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.
Berperilaku jujur, tegas, dan manusiawi.
Berperilaku yang mencerminkan ketakwaan dan akhlak mulia.
Berperilaku yang dapat diteladani oleh peserta didik dan anggota masyarakat di sekitarnya.
2 Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat
Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap dan stabil.
Menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, arif, dan berwibawa. 3 Menampilkan diri sebagai
pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
Menunjukkan etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi.
Bangga menjadi guru dan percaya pada diri sendiri.
Bekerja mandiri secara profesional. 4 Menunjukkan etos kerja,
tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.
Menunjukkan etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi.
Bangga menjadi guru dan percaya pada diri sendiri.
Bekerja mandiri secara profesional. 5 Menjunjung tinggi kode etik
profesi guru. Memahami kode etik profesi guru. Menerapkan kode etik profesi guru. Berperilaku sesuai dengan kode etik guru.
3. Kompetensi sosial
Selain kompetensi pedagogik dan kompetensi kepribadian, guru juga harus memiliki kompetensi social. Kompetensi ini berkaitan dengan kemampuan seorang guru dalam bersosialisasi di sekolah dan di masyarakat. Kompetensi social yang harus dimiliki guru yaitu:
Tabel 2.3 Kompetensi social guru kelas SD/MI
No. KOMPETENSI INTI KOMPETENSI GURU SD/ MI 1 Bersikap inklusif, bertindak
objektif, serta tidak diskriminatif karena
pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
Bersikap inklusif dan objektif terhadap peserta didik, teman sejawat dan lingkungan sekitar dalam melaksanakan pembelajaran.
Tidak bersikap diskriminatif terhadap peserta didik, teman sejawat, orang tua peserta didik dan lingkungan sekolah karena perbedaan agama, suku, jenis kelamin, latar belakang keluarga, dan status sosial-ekonomi. 2 Berkomunikasi secara
efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
Berkomunikasi dengan teman sejawat dan komunitas ilmiah lainnya secara santun, empatik dan efektif. Berkomunikasi dengan orang tua peserta didik dan masyarakat secara santun, empatik, dan efektif tentang program pembelajaran dan kemajuan peserta didik.
Mengikutsertakan orang tua peserta didik dan masyarakat dalam program pembelajaran dan dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik. 3 Beradaptasi di tempat
bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang
Beradaptasi dengan lingkungan tempat bekerja dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai
memiliki keragaman sosial
budaya. pendidik, termasuk memahami bahasa daerah setempat. Melaksanakan berbagai program dalam lingkungan kerja untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah yang bersangkutan.
4 Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.
Berkomunikasi dengan teman sejawat, profesi ilmiah, dan komunitas ilmiah lainnya melalui berbagai media dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Mengkomunikasikan hasil-hasil inovasi pembelajaran kepada komunitas profesi sendiri secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.
4. Kompetensi profesional
Dari empat kompetensi yamg harus dimiliki oleh guru SD, kompetensi professional merupakan kompetensi yang dianggap paling sulit. Hal ini dikarenakan pada kompetensi ini guru SD diharapkan menguasai konsep-konsep lima bidang studi yaitu bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, dan PKn. Berikut secara lengkapnya:
Tabel 2.4 Kompetensi professional guru kelas SD/MI
No. KOMPETENSI INTI KOMPETENSI GURU SD/ MI 1 Menguasai materi, struktur,
konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.
Bahasa Indonesia
Memahami hakikat bahasa dan pemerolehan bahasa. Memahami kedudukan, fungsi, dan ragam bahasa Indonesia. 20.3 Menguasai dasar-dasar dan kaidah bahasa Indonesia sebagai rujukan
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 20.4 Memiliki keterampilan berbahasa Indonesia (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) 20.5 Memahami teori dan genre sastra Indonesia. 20.6 Mampu mengapresiasi karya sastra
Indonesia, secara reseptif dan produktif.
Matematika
Menguasai pengetahuan konseptual dan prosedural serta keterkaitan keduanya dalam konteks materi aritmatika, aljabar, geometri, trigonometri, pengukuran, statistika, dan logika matematika. 20.8 Mampu menggunakan matematisasi
horizontal dan vertikal untuk menyelesaikan masalah matematika dan masalah dalam dunia nyata. Mampu menggunakan pengetahuan konseptual, prosedural, dan
keterkaitan keduanya dalam pemecahan masalah matematika, serta. penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari. 20.10 Mampu menggunakan alat peraga, alat ukur, alat hitung, dan piranti lunak komputer.
IPA
Mampu melakukan observasi gejala alam baik secara langsung maupun tidak langsung. 20.12 Memanfaatkan konsep-konsep dan hukumhukum ilmu pengetahuan alam dalam berbagai situasi kehidupan