HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Penelitian
IV.1.4 Tabel Komunikasi Antarpribadi dan Perubahan Sikap
Berdasarkan data yang di peroleh diatas, untuk mempermudah menganalisi data yang telah didapat, maka peneliti mengaklasifikasikan seluruh data para informan berdasarkan tujuan penelitian yang diberikan ketika proses penelitian berlangsung, berikut uraiannya :
No INFORMAN TUJUAN PENELITIAN SIKAP LAMA SIKAP BARU 1. Bapak Darwis a. Proses komunikasi antarpribadi dalam perubahan sikap Terbuka terhadap orang lain Terbuka,dalam arti tidak ada hambatan dalam berinteraksi dengan orang lain serta sikapnya lebih hati-hati terhadap arahan orang lain. b. Peranan komunikasi antarpribadi dalam merubah sikap para narapidana Terbuka terhadap orang lain. Lebih berhati-hati terhadap orang didekatnya. c. Perkembang sikap para narapidana dengan cara komunikasiantarpriba disesama petugas dalam merubah sikap para narapidana Terbuka terhadap orang lain. Terbuka dan lebih berhati-hati sikapnya terhadap orang lain. 2. Bapak Manurung a. Proses komunikasi antarpribadi dalam perubahan sikap Tertutup terhadap orang lain. Sangat susah melakukan komunikasi
dengan orang lain.
b. Peranan komunikasi antarpribadi dalam merubah sikap para narapidana Tertutup terhadap orang lain. Bapak Manurung mulai perlahan-lahan membuka diri terhadap orang lain. c. Perkembang sikap para narapidana dengan cara komunikasiantarpriba disesama petugas dalam merubah sikap para narapidana tertutup terhadap orang lain. Membuka diri terhadap orang lain. IV.2.1 Pembahasan
Interaksi yang dilakukan informan, terlihat pada saat informan berinteraksi dengan petugas melalui komunikasi. Komunikasi itu sendiri terlihat dari komunikasi antarpribadi, ini terlihat dari pesan yang bersifat persuasif dan disampaikan oleh petugas harus tepat dan saling memahami antar pelaku komunikan sesuai dengan ciri-ciri komunikasi antarpribadi seperti hubungan timbal balik, hubungan interaksi dan terlibat dua orang atau lebih.
Namun seiring berjalannya waktu, para informan tentu sudah dapat menyesuaikan diri dengan komunikasi antarpribadi, dan bertambah baik lagi sikap mereka. Dapat dilihat bahwa proses tersebut membawa mereka pada individu yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Memang seorang narapidana perlu bimbingan dan motivasi dalam merubah sesuatu dalam dirinya, karena memang
pada akhirnya mau tidak mau, suka atau tidak suka, seorang narapidana harus menjalani bimbingan yang di berikan terhadap dirinya. Dan yang terpenting lagi adalah ketika seseorang narapidana sudah memutuskan untuk berubah setelah keluar, dia juga harus berani mempertanggungjawabkan apa yang diperbuat di dalam masyarakat.
Para informan telah merasakan berkomunikasi dan berinteraksi terhadap petugas sangat dibutuhkan untuk perubahan dalam dirinya, dan itu berujung pada perubahan sikap para narapidana itu sendiri. Ada beberapa hal yang didapatkan,dan didukung dalam merubah sikap diri informan, diantaranya mereka menyadari bahwa orang-orang yang didekat mereka sangat berpengaruh dalam perkembangan sikap mereka. Karena ketika informan yang sudah berada didaerah terbuka diri mereka dan mau tidak mau mereka harus bersosialisasi, inilah yang disebut hubungan sosial dalam berinteraksi dengan orang lain dan petugas. Dimana ada sekumpulan orang dan berkerumun bersama serta saing berinteraksi satu sama lainnya untuk menjalin hubungan sosial bersama.
Para informan menyadari pentingnya komunikasi antarpribadi dalam merubah sikap diri mereka selama berada di dalam, membuat mereka memahami cara bersosialisasi dengan baik, tidak minder, menjaga kepercayaan serta saling membantu baik sesama narapidana maupun sesama petugas. Karena pada dasarnya sifat manusia tidak mudah dapat di tebak dan diprediksikan serta tidak dapat hidup sendiri (sosial), agar komunikasi antarpibadi dan interaksi mereka tetap berjalan dengan baik, makamereka harus saling memberikan kepercayaan satu dengan lainya, dan tanpa disadari mereka telah belajar bagaimana merubah
Selain sikap yang berubah dirasakan informan, mereka tetap menemukan faktor penghambat dalam berkomunikasi,khusus komunikasi antarpribadi. Meskipun mereka telah berusia tua dan telah sering berkomunikasi, faktor penghambat tetaplah ada karena latar belakang seseorang didalam kehidupannya berbeda-beda, sehingga hal ini ditangani langsung oleh petugas dengan melakukan interaksi dan pendekatan-pendekatan kepada informan tersebut, dan seseorang narapidana haruslah mampu membuka diri dengan lingkungannya yang baru, agar saat interaksi dan berkomunikasi antarpribadi dengan orang lain terjadi kecanggungan berinteraksi dapat dihilangkan. Komunikasi antarpribadi memiliki peranan penting dalam merubah sikap seseorang. Disaat komunikasi antarpribadi terciptamaka narapidana dapat mengetahui hak-haknya, dan petugas pun dengan mudah melakukan pembinaan.
Dari wawancara mendalam peneliti dengan dua informan yang berinteraksi mengenai proses komunikasi antarpribadi dalam merubah sikap para narapidana, maka teori yang sesuai dengan hasil jawaban masing-masing informan hampir sama. Komunikasi yang dirasakan informan pertama sangat mudah karena informan telah melakukan pendekatan-pendekatan terlebih dahulu dengan pihak petugas sebelum informan masuk kedalam RUTAN, dan dengan mudah informan berkomunikasi dan berinteraksi dengan pihak petugas, informan pun tidak mendapatkan kesulitan saat melakukan interaksi berkomunikasi dengan sesama narapidana, karena informan termasuk orang yang suka bersosialisasi dan berbaur dengan lingkungan barunya, informan hanya tinggal menyesuaikan diri saja. Sehingga sangat mudah timbul hubungan timbal balik dari komunikasi antarpribadi, dapat dilakukan dengan mudah oleh informan di dalam RUTAN, dan
petugas pun dengan mudah mengajak (persuasif) informan untuk berinteraksi saat melakukan pembinaan baik seecara kelompok maupun sendiri.
Informan kedua sangat kesulitan dalam hal berinteraksi komunikasi terhadap orang lain, karena pengaruhi oleh lingkungan asalnya, yang ditandai dengan jarangnya melakukan interaksi dengan orang lain, karena informan adalah seorang nelayan yang jarang berbaur dan bersosialisasi terhadap orang lain. Sehingga sangat susah melakukan hubungan timbal balik, informan membutuhkan waktu sedikit lama untuk melakukan komunikasi terhadap orang lain dengan lingkungan barunya, petugas harus melakukan pendekatan-pendekatan terlebih dahulu pada informan kedua agar dapat mengajak (persuasif) untuk berinteraksi saat melakukan pembinaan, hal ini dilakukan untuk memudahkan petugas dalam melakukan bimbingan terhadap informan kedua. Bimbingan dengan cara komunikasi antarpribadi, yang melibatkan hanya dua orang informan dengan petugas, dengan tujuan untuk mengenal daerah tertutup informan, dimana seseorang menyembunyikan banyak hal tentang dirinya dan tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Sedangkan dalam self disclousure yang dirasakan informan pertama bersifat resiprokal (timbal balik) dimana dia dapat membuka diri pada sesama petugas dan narapidana sehingga informan dapat mencurahkan isi hatinya.
Sedangkan informan pertama, keterbukaan diri merupakan alat komunikasi yang tidak dipakai oleh informan kedua. Terkadang rekan sesama narapidana punya pengaruh besar pada perkembangan sikap diri informan kedua, terjadi saat berada di RUTAN yaitu mendapatkan semangat dan motivasi untuk bangkit dari rekan narapidana yang menyemangatinya untuk mengembangkan
informan kedua ini merupakan seorang yang menutup diri, jadi proses pengukapan dirinya masuk pada kuadran ketiga, yaitu blind area bahwa orang lain mengetahui ada motivasi yang besar untuk berubah yang dimiliki informan kedua, tapi informan sendiri tidak menyadarinya karena sifatnya tersebut tertutup terhadap orang lain.
Keterbukaan terhadap orang lain tentu merupakan alat untuk merubah sikap mereka yakni para narapidana, sesuai dengan prinsip penetrasi sosial yang dirasakan terlihat pada saat pemberian penghargaan, aksesbilitas dan kejujuran. Dimana informan pertama merasa adanya hubungan timbal balik saat melakukan bimbingan, penghargaan/reward yang dia rasakan saat dia mampu membantu rekan sesama narapidana dan dapat menyelesaikan pekerjaan yang di berikan dari petugas, serta juga mendapatkan pujian dari petugas dan rekan sesama narapidana, lalu aksesbilitas pun sangat mudah dirasakan oleh informan pertama misalnya dapat berbagi cerita, pengalaman dan curahan hati dengan petugas serta sering mendapatkan penjelasan mengenai hukum dalam kasus informan pertama. Serta kejujuran atau pesan yang diberikan informan pertama dan keluarga informan kepada petugas, untuk memperoleh kepercayaan dari petugas, seperti diberikan kewenangan dan tanggung jawab sebagai ketua pengajian warga binaan. Sama halnya yang dirasakan oleh informan kedua, yakni mendapatkan penghargaan, aksesbilitas dan kejujuran juga, memperoleh kepercayaan dari petugas seperti dipercaya dapat mengembankan tanggung jawab menjaga kebersihan blok RUTAN yang diberikan oleh informan kedua.
Pada akhirnya para informan mendapat merasakan perubahan sikap, yang terlihat dari kesediaan (menerima), identifikasi (meniru) dan internalisasi
(mengikuti). Dimana informan pertama dan kedua telah terlihat dari kesediaan (menerima) menerima semua arahan petugas yang dilakukan melalui pendekatan secara komunikasi antarpribadi dalam melakukan pembinaan untuk merubah sikap, lalu dalam identifikasi (meniru) perilaku atau sikap seseorang lain dikarenakan sikap tersebut sesuai dengan apa yang dianggapnya sebagai bentuk hubungan yang menyenangkan antara informan dengan petugas, yang terlihat dalam saat petugas memberikan contoh pembinaan yang telah dilakukan dan sudah berdampak kepada narapidana yang hampir selesai masa hukumannya. Serta internalisasinya (mengikuti) terihat dari pengaruh petugas dikarenakan sikap yang diarahkan oleh petugas tersebut sesuai dengan apa yang ia percayai dan sesuai dengan sistem nilai yang di anut. Seperti yang terlihat dalam kedua informan, informan pertama terlihat mengikuti bimbingan kerohanian di malam jumat seperti pengajian melalui komunikasi kelompok bersama petugas dan narapidana, dan informan kedua terlihat mengikuti arahan dari petugas seperti membersihkan blok A dan mengumpulkan barang bekas seperti aqua plastik agar dapat dijual kembali.
Jadi berkomunikasi menjadi suatu kebutuhan yang diperlukan oleh para narapidana dalam menjalani masa hukuman, dan dimana sangat penting dalam bentuk komunikasi itu sendiri, baik komunikasi antarpribadi maupun kelompok, orang-orang terdekatnya punya peranan dalam perkembangan sikap dan perubahan sikap para narapidana, yakni pembinaan kearah positif di tiap harinya yaitu petugas dan keluarga, sebelum mereka memasuki kembali kedalam lingkungan sosial dan menunjukkan pada masyarakat bahwa diri mereka telah berubah kearah yang positif.Seharusnya setelah kembali kedalam masyarakat
dengan perubahan sikap yang lebih positif, masyarakat pun harus mengakui perubahan yang telah di buat selama ini, sebab sebuah nilai penghargaan untuk merubah sikapnya kearah positif haruslah didapatnya dari lingkungan sosial disekitarnya.
BAB V