• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Verba Turunan

4.6 Tabel Temuan Penelitian No Interferensi BAM

terhadap tuturan BI

Faktor Terjadinya Interferensi 1 Fonologi 1. Pengaruh intonasi BAM terhadap tuturan BI. 2. Asimilasi. 3. Perubahan fonem. 4. Penghilangan fonem Ekstralinguistik

1. Kebiasaan menggunakan bahasa ibu, hal ini menyebabkan tuturan yang di ucapkan mengalami interferensi intonasi dan cara pengucapan BAM, sehingga ketika bertutur dalam BI intonasi dan cara pengucapan BAM terbawa ke dalam bahasa BI.

2. Faktor sosial budaya. Di Indonesia bahasa daerah menjadi suatu kebudayaan yang masih dijaga oleh penuturnya. Sehingga ketika bertutur BI ciri khas dari bahasa daerah tersebut tidak hilang karena telah menjadi budaya dan digunakan dalam masyarakat sosial.

2 Morfologi

1. Prefiks par-

Intralinguistik

1. Untuk keefektifan kalimat. Penggunaan prefiks par- ini dinilai penutur lebih efektif dari pada menggunakan BI, karena jika disebutkan dalam BI akan sangat panjang penjelasannya.

2. Faktor kebiasaan, karena kebiasaan penutur menggunakan

prefiks par- untuk menyatakan makna „ bagian‟, „orang‟ (dari)

suatu pekerjaan, instansi, golongan, atau sesuatu hal yang berhubungan dengan yang dilakukannya, sehingga terbawa ke dalam tuturan BI dan dilekatkan pada leksikal BI.

3. Faktor tidak cukupnya kosa kata bahasa penerima. Dalam BI tidak memiliki prefiks yang secara detail menggambarkan makna „ bagian‟, „orang‟ (dari) suatu pekerjaan, instansi, golongan, sehingga penutur Kota Padangsidimpuan memindahkan prefiks ini ke dalam tuturan BI.

2. Prefiks mar- 1. Kedwibahasaan penutur yang tidak sejajar karena kebiasaan penutur yang cenderung lebih sering

menggunakan BAM, penutur ini lebih menguasai BAM dari pada bahasa BI sehingga menimbulkan kekeliruan penutur dalam menggunakan prefiks mar

2. Faktor tidak cukupnya kosa kata bahasa penerima. Interferensi prefiks mar- melekat pada kata sapaan menyatakan „tingkatan kekerabatan‟ atau „panggilan kekerabatan‟. Interferensi ini tidak memiliki padanan dalam bahasa Indonesia karena dalam BI tidak memiliki prefiks yang secara detail menggambarkan makna yang sama dengan mar- dalam BAM, sehingga penutur Kota Padangsidimpuan memindahkan prefiks ini ke dalam tuturan BI.

5. Sufiks -an 1. Faktor interferensi sufiks –an dalam BAM ke dalam tuturan BI merupakan suatu kebiasaan penutur dalam berbahasa.

2. Faktor tidak cukupnya kosa kata bahasa penerima. Hal ini dikarena dalam BI sufiks –an tidak menyatakan „lebih‟. 4. Konfiks

marsi-/-an

1. Untuk keefektifan kalimat. Penggunaan konfiks marsi-/- an ini dinilai penutur lebih efektif dari pada menggunakan

BI, karena konfiks marsi-/-an ini langsung menyatakan makna „saling‟.

2. Faktor kebiasaan, karena kebiasaan penutur menggunakan konfiks marsi-/-an untuk menyatakan makna „saling‟, sehingga terbawa ke dalam tuturan BI dan dilekatkan pada leksikal BI.

3. Faktor tidak cukupnya kosa kata bahasa penerima. Dalam BI tidak memiliki konfiks yang secara detail menggambarkan makna „saling‟, sehingga penutur Kota Padangsidimpuan memindahkan konfiks ini ke dalam tuturan BI.

5. Konfiks na+Ajd+-an 1. Untuk keefektifan kalimat. Penggunaan konfiks na+Ajd+-an

ini dinilai penutur lebih efektif dari pada menggunakan BI, karena

konfiks na+Ajd+-an ini langsung menyatakan makna „sangat‟,

sehingga dalam kalimat tidak perlu lagi menggunakan kata sangat, sekali atau kata yang menyatakan „sangat‟lainnya

2. Faktor kebiasaan, karena kebiasaan penutur menggunakan

konfiks na+Ajd+-an untuk menyatakan makna „sangat‟, sehingga

terbawa ke dalam tuturan BI dan dilekatkan pada leksikal BI. 3. Faktor tidak cukupnya kosa kata bahasa penerima. Dalam BI tidak memiliki konfiks yang secara detail menggambarkan makna „sangat‟, sehingga penutur Kota Padangsidimpuan memindahkan konfiks ini ke dalam tuturan BI.

6. Reduplikasi 1. Interferensi partikel ini terjadi karena kebiasaan penutur yang menggunakan BAM dalam keseharian sehingga terbawa dalam tuturan BI dan digunakan dalam bentuk tuturan reduplikasi.

2. Interferensi terjadi karena kemampuan personal penutur. Kemampuan berbahasa penutur dalam menguasai kedua bahasa kurang sehingga menggunakan bentuk reduplikasi

secara tidak tepat pada bahasanya. 2 Sintaksis 1. Partikel do 2. Partikel ma 3. Partikel na 4. Partikel na…do 5. Klitik ni Intralinguistik

1. Penggunaan partikel BAM dirasa penutur tidak memiliki fungsi yang sama dengan dalam BI sehingga penutur memasukkan dan menerjemahkan partikel BAM ke dalam tuturan BI dengan fungsi yang sama dengan BAM, diharapkan agar dapat menyampaikan sesuai dengan maksud dari penutur.

2. Interferensi partikel ini terjadi karena kebiasaan penutur yang menggunakan partikel-partikel BAM dalam keseharian sehingga terbawa dalam tuturan BI.

3. Eufenisme bahasa dan gaya bahasa. Penggunaan partikel BAM dirasa penutur lebih halus dan sopan sehingga tepat untuk mewakili maksud dari penutur agar tidak terjadi kesalahpahaman dari lawan bicara.

4. Penggunaan partikel ini berfungsi membentuk keakraban antara penutur dengan lawan bicara.

6. Partikel leh 7. Partikel bo 8. Partikel kele 9. Partikel dabo 10.Partikel tong 11.Partikel da 12. Partikel puang 13. Klitik ni

1. Tidak cukupnya kosa kata bahasa penerima. Penggunaan partikel BAM dirasa penutur tidak memiliki padanan dalam BI sehingga memasukkan partikel bahasa

2. Eufenisme bahasa sumber dan gaya bahasa. Penggunaan partikel BAM dirasa penutur lebih halus dan sopan sehingga tepat untuk mewakili maksud dari penutur.

3. Penggunaan partikel ini berfungsi membentuk keakraban antara penutur dengan lawan bicara.

4. Interferensi sintaksis terjadi karena kebiasaan penutur yang menggunakan partikel-partikel BAM dalam keseharian sehingga terbawa dalam tuturan BI.

4 Interferensi Leksikal

1. Verba 2. Nomina

Intralinguistik

1. Kemampuan berbahasa penutur. Interferensi yang terjadi dalam penggunaan leksikal BAM tergantung kepada kemampuan personal penutur. Sejauh ini kemampuan berbahasa penutur dalam menguasai kosa kata BI masih

3. Adjektiva 4. Interjeksi

kurang karena penutur lebih condong dan meguasai BAM. 2. Leksikal tidak terdapat padanannya dalam BI. Interferensi leksikal terjadi kerena penutur merasa tidak mendapatkan padanan kata yang sesuai dengan kata BAM yang dimaksud dalam BI.

3. Kebiasaan penutur. Interferensi leksikal terjadi karena kebiasaan penutur yang menggunakan BAM dalam keseharian sehingga terbawa dalam tuturan BI.

4. Menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan. Penggunaan kata-kata ini jarang dan digantikan oleh leksikal BAM sehingga kata ini tidak pernah digunakan oleh masyarakat di Kota Padangsidimpuan.

Ekstralinguistik

A. Faktor Individu

1. Faktor kebiasaan penutur dalam berbahasa menjadi faktor penyebab utama terjadinya interferensi terlihat dari banyak data yang dipengaruhi oleh kebiasaan penutur. Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu (BAM) pada bahasa penerima (BI) yang sedang dipergunakan.

2. Kedwibahasawan penutur tidak sejajar. Hal ini berkaitan dengan kemampuan berbahasa penutur yang berbeda pada setiap pemakai bahasa. Kesulitan yang dihadapi oleh penutur dalam menggunakan bahasa kedua terjadi karena perbedaan tingkat penguasaan bahasa itu, penutur lebih menguasai BAM dari pada BI. Hal itu mengakibatkan dwibahasawan menggunakan unsur- unsur BAM yang telah dikuasainya dalam tuturan BI.

3. Tipisnya kesetiaan penutur bahasa BI cenderung akan menimbulkan interferensi. Sikap penutur ini dapat terlihat dalam bentuk pengabaian kaidah BI yang digunakan dalam pengambilan unsur-unsur BAM yang dikuasainya secara tidak terkontrol. Akibatnya muncul berbagai bentuk interferensi dalam bahasa BI secara lisan.

4. Faktor pendidikan mempengaruhi terjadinya interferensi bahasa. Semakin tinggi tingkat pendidikannya maka semakin sedikit melakukan interferensi. Hal ini dikarenakan penutur memperoleh kemampuannya berbahasa BI di lingkungan pendidikan formal.

5. Faktor pemilihan kata. Faktor ini bersifat individu karena berkaitan dengan pilihan kata oleh penutur. Penutur akan memilih menggunakan bahasa yang dirasa sesuai untuk menwakili apa yang ingin diungkapkan atau menimbulkan efek seperti apa yang diinginkan penutur terhadap lawan biacaranya.

6. Faktor usia juga dapat menyebabkan terjadinya interferensi. Daya ingat seseorang sangat mempengaruhi frekuensi seseorang melakukan interferensi. Semakin tua usia seseorang, semakin besar juga melakukan interferensi karena penutur berusia tua biasanya lebih condong kepada BAM.

Dokumen terkait