HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian
B. Hasil Penelitian Pemberdayaan Masyarakat Desa Berbasis Program Padat Karta Tunai di Desa Tongkonan Basse Kecamatan Masalle
3. Tahap Pendayaan/Pemberian Daya itu sendiri
Tahap pendayaan diartikan sebagai peluang daya, kekuasaan yang diberikan pemerintah desa kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat melakukan
lvii
pekerjaan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing, masyarakat yang lebih peduli dan ikut berpartisipasi akan berpengaruh pada aspek ekonominya sendiri. Untuk lebih mengetahui secara dalam maka peneliti melakukan wawancara dengan informan selaku kepala Desa Tongkonan Basse yang mengatakan bahwa:
“Pada saat akan dilaksanakan pengerjaan kami sebagai pemerintah desa tetap mengumumkan di masjid bahwa akan di laksanakan lagi program padat karya tunai , jadi siapa yang mau kerja silahkan mendaftar dan sudah di tentukan masing-masing upahnya seperti upah buruh sekian upah tukang sekian, tapi kami tetap membatasi macam kalau ada program padat karya tunai dalam satu harinya bahwa sekian yang bisa dikerjakan jadi semua tergantung pak dusun bagaimana cara pengaturannya”
(Wawancara AR, Tanggal 5 juli 2019)
Dari tanggapan di atas dapat dilihat Mengenai proses pelaksanaan padat karya tunai ini pemerintah desa mengumumkan kepada masyarakat bahwa akan dilaksanakan pengerjaan padat karya tunai setelah itu masyarakat yang hendak berpartisipasi segera mendaftarkan diri ke pak dusun setempat, dan mengenai upah itu sudah ditetapkan dari pemerintah desa, selain itu pemerintah desa tetap membatasi pelaksanaan pekerjaan perharinya sesuai dengan yang sudah didiskusikan antara kepala desa dan pak dusun setempat setelah itu pak desa menyerahkan seutuhnya kepada pak dusun mengenai pembagian pekerjaan kepada masyarakat.
Seperti halnya yang dikatakan oleh informan lainnya sebagai berikut: “Pada saat akan di laksanakan pembangunan padat karya tunai di desa ini masyarakat datang mendaftarkan nama-namnya kemudian saya membagikan kelompok-kelompok sesuai hari dan apa yang akan di laksanakan kalau sudah itu saya langsung mengarahkan masyarakat untuk bekerja tapi sebelum bekerja kami adakan diskusi dulu bahwa hari ini apa-apa yang mau di selesaikan kemudian itu yang masalah upanya masyarakat sudah sepakat untuk di kasi masuk masjid itu gajinya jdi yang ikut itu langsung na tanyaka bilng tidak adaji mau di ambil ini gaji di sini
lviii
karena mau di kasi masuk di masjid untuk kepentingan atau kebutuhan yang mendadak kedepannya”(Wawancara SLH, Tanggal 22 juli 2019) Sama halnya dengan pendapat yang di sampaikan di atas muncul pertanyaan lain yang mengatakan bahwa:
“Pada saat akan dilaksanakan pengerjaan program ini kan pak desa menyampaikan ke pada kami secra langsung jadi kami langsung pergi mendaftarkan nam-nama kami agar bisa ikut bekerja jadi setelah mau bekerja pak ada itu nama-nama sudah memang na susun pak dusun berkelompok-kelompok jadi kami berja sesuai kelomokm dan hari yang di tentukan sama kerjakan yang sudah di tentukan pak dusun”
(Wawancara SPR, Tanggal 15 juli 2019)
Sesuai dengan yang dikatakan di atas bahwa proses pengerjaan padat karya tunai akan di kerjakan oleh masyarakat setempat yang sudah mendaftarkan mana-namanya kemudian pak dusun membentuk kelompok menentukan hari dan bentuk pembangunan yang akan dikerjakan.
Pendapat dari informan lain mengatakan bahwa:
“Kalau menurut saya itu proses pembangunan itu sendiri sudah di tentukan sma pak dusun jadi saya hanya menerima arahan dari pak dusun sementara pembangunannya itu hampir sama ji prosesnya sma pembangunan2 yang lainnya karena pak dusun sudah mengenal saya jadi kalau ada program begini langsung na kasi tau ka jadi langsung ikut maka pas dikerja itu pembangunan”(Wawancara KND, Tanggal 1 Agustus 2019)
Dari hasil wawancara di atas menyatakan bahwa Pada proses pembangunan itu sendiri masyarakat hanya menerima arahan dari pak dusun bahwa yang akan dikerjakan ini karena semuanya sudah di persiapkan ini itu tinggal masyarakat yang mengerjakannya tapi tetap di bawah arahan dan pengawasan pak dusun setempat.
Sama halnya dengan pendapat-pendapat di atas muncul pendapat lain yang mengatakan bahwa:
lix
“Menurut pandangan saya sendiri kalau dibilang masyarakat diberdayakan, menurut saya iya masyarakat sudah diberdayakan karena kalau dilihat sendiri banyak ji masyarakat yang ikut pas pelaksanaannya menurut saya itu sudah diberdayakan karena kami sebagai pemerintah desa menyiapkan dan membuka lapangan kerja seperti itumi yang pekerjaan padat karya tunai dan itu semua masyarakat dianjurkan ikut dalam pekerjaannya dan kalau upahnya itu sudah ditentukan sebesar Rp.110 perhari dan kalau dibilng meningkatkan pendapatan masyarakat saya kira itu tidak terlalu membantu karena hanya sekali-kali masyarakat ikut dalam pelaksanannya itu sja dia ikut kalau pertama skli pekerjaan tapi seterusnya tidak ikutmi kecuali yang berprofesi memng sebagai tukang itu tiap hari memng dia bekerja karena memang sudah pekerjaannya itu dan mendapatkan penghasilan dari itu,jadi dapat sya katakan kalau padat karya tuanai disini tidak terlalu di minati masyarakat, mereka lebih memilih untuk pergi kerja dikebun masing-masing dari pada kerja harian begitu mereka lebih merasa menguntungkan kalau kerja di kebunnya dan kalau dibilang program ini dapat mensejahterakan kehidupan masyarakat saya tidak bisa bilng iya sya jga tdk bisa bilng tdk kan kalau di lihat dri segi pembangunan sya rasa sudah cukup membuat sejahtera karena semuanya sdh dapat di nikmati seperi posyandu itu sdh bisami di gunakan dan jalan-jalan tani juga sudah sebagian ada yang selesai jadi memudahkan masyarakat untuk beraktifitas kekebunnya jadi menurut sya dlam hal itu sdh sejahtera tapi kalau dalam hal perekonomian kalau dri program ini tidak terlalu menunjang kesehteraan karena masyarakat disini tidak terlalu tinggi partisipasi masyarakat untuk ikut akan program ini mereka lebih memilih untuk pergi di kebunnya masing-masing”
(Wawancara AR, Tanggal 5 juli 2019)
Pendapat di atas mengayatakan bahwa dengan Melalui Program Padat Karya Tunai ini masyarakat sudah diberdayakan dengan menyediakan fasilitas dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat dan Pemerintah Desa juga sudah menentukan jumlah upah yang akan diberikan kepada masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam proses pembangunan, tetapi disini masyarakat hanya berpartisipasi dihari pertama berlangsungnya proses pekerjaan kecuali yang berprofesi sebagai buruh atau tukang itu bekerja setiap harinya sedangkan masyarakat biasa mereka lebih memilih untuk bekerja dikebun maisng-masing karena mereka merasa lebih menguntungkan mengurus kebun mereka dan lebih
lx
merasa puasa jika mendapatkan hasil dari kebun mereka, jadi di Desa Tongkonan Basse pelaksanaan padat karya tunai tidak terlalu diminati masyarat jadi pendapat yang dihasilkan dari padat karya tunai tidak terlalu seberapa dibandingkan pendapatan dari hasil panen kebun meraka. Kecuali masyarakat yang berprofesi sebagai tukang itu sangat membantu dan meningkatkan penghasilan sehari-harinya serta jika dilihat dari keesejahteraan masyarakat dengan adanya program ini kalau dari segi pembangunan masyarakat sudah sejahtera tapi kalau sejahtera dari segi pendapatan itu tidak terlalu membuat masyarakat sejahtera karena masyarakat tidak terlalu minat atau kurang berpartisipasi dalam dalam pelaksanaan program ini masyarakat lebih memilih terjun langsung kekebun mereka masing-masing.
Seperti halnya yang dikatan informan sebagai berikut:
“Kalau saya liat di sini soal di berdayakan itu masyarakat saya rasa iya sudah diberdayakan karena kitakan sudah menyiapkan semuanya jadi tinggal masyarakat mami apakah dia mau kerja atau tidak tapi kalau saya liat-liat di sini masyarakat kalau ada program seperti ini tidak terlalu ikut dalam pelaksanaannya karena na bilng di bayar harian jadi mereka lebih memilih bekerja dikebunnya masing-masing ikut iya kerja tapi hari pertama ji kecuali kalau yang tukang saya memang pergi langsung ke rumahnya tanya ii bilang ada lagi mau dikerja. Kalau di desa ini memang susah ki mau cari orang yang mau ikut kerja harian begitu karena rata-rata di sini kerja di kebun semua orng itupun yang tidak kerja pasti mahasiswa yang kuliah di makassar itupun kalau libur tidak ikut kerja bgtu kalau pas ada pengerjaan bagaimana juga mau ikut palingankalau libur kan sebentar ji, jadi di sini memng susah ki cari orang yang mau kerja harian begitu kecuali tukang kasian” (Wawancara SLH, Tanggal 22 juli 2019)
Hasil wawancara diatas dapat dilihat Jika melihat keadaan di Desa Tongkonan Basse dengan adanya program padat karya tunai masyarakat cukup diberdayakan karena terlihat dari fasilitas yang sudah dipersiapkan pemerintah desa tongkonan basse jadi tergantung dari masyarakat itu sendiri mau ikut atau
lxi
tidak dalam palaksanaan padat karya tunai tapi lagi dan lagi masyarakat di sini tidak teralalu memperhatikan akan adanya program ini apalagi cara kerja program ini secara harian sedangkan di Desa Tongkonan Basse ini sendiri belum banyak masyarakat yang mau kerja harian seperti program ini karena mereka menganggap dengan kerja harian begini tidak menguntungkan dan dapat menghambat pekerjaannya di kebun jadi mereka lebih memilih kerja di kebunnya masing-masing
Pendapat lain muncul yang mengatakan bahwa:
“Kalau menurut saya kalau di bilang program ini dapat memberdayakan masyarakat kalau itu saya tidak tau tapi kalau menurut saya sendiri itu tidak terlaluji karena apa masyarakat disini tidak terlalu tinggi minatnya ikut program ini karena bayarannya di gaji perhari dan memng masyarakat ikut ji tapi itu saja na ikut pada hari pertama pengerjaan bangunan karena kami menganggap lebih menguntungkan kalau kerja di kebun kalau di kebunkan bisa ki kerja ini itu bisa ki juga rawat palawijata dan kalau di rawat baik-baik ji insyaallah itu hasilnya banyak ji juga di bandingkan kalau ikut ki program itu Rp. 100 ji di dapat perhari bru itu satu kali dibelanjakanji na habismi lagi jadi lebih baik pergi ki dikebun urus kebunta kalau di kebun bisa ki panen 2 kali seminggu dan hasilnya lumayan ji” (Wawancara SPR,Tanggal 15 juli 2019)
Berdasarkan dari tanggapan diatas bahwa program padat karya tunai ini tidak terlalu memberdayakan masyarakat karena minat masyarakat untuk ikut dalam pengerjaan program padat karya tunai ini tidak terlalu tinggi mereka ikut berpartisipasi hanya saat dimulainya pengerjaan program padat karya tunai ini tidak seperti masyarakat yang memang berprofesi sebagai tukang kalau tukang itu sendiri hadir rutin sehari-hari dalam pelaksanaan program bahkan sampai pengerjaan bangunan program itu selesai, sedangkan masyarakat lainnya tidak terlalu peduli akan hal itu mereka lebih memilih dan merasa lebih menguntungkan
lxii
untuk kerja di kebun masing-masing dari pada ikut kerja bangunan yang di bayar secara harian.
Hal senada juga disampaikan bahwa:
“Menurut saya jika dibilang program ini dapat memberdayakan masyarakat kalau masyarakat yang seperti saya yang bekerja sebagai tukang saya merasa sudah diberdayakan karna asal ada pengerjaan program ini saya selalu ikut dan pak dusun itu pasti na panggilka teruska dan alhamdulillah bagi saya dengan adanya ini sangat membatu dari segi penghasilanku karena setiap harinya saya dapat gaji Rp.110 ribu perharinya dan kalau disejaterakan kalau dilihat dari bentuk pembangunan yang sudah jadi tentu masyarakat sejahterami bisa ji diliat apalagi yang jalan kekebun yang sudah dicor itu sangat mempermudah masyarakat pergi kekebunnya dan mempermudah kalau panen di bawa ke kampung jadi nda susah-susahmi itu kendaraan keluar masuk kebun apalagi itu pembangunan postu sangat membantu itu kasian jadi kalau ada morang yang sakit tidak jauh-jauh mi pergi ke puskesmas di kota untuk berobat karena adami postu dibangun juga di sini”
(Wawancara KDN, Tanggal 1 Agustus 2019)
Dengan adanya Program Padat Karya Tunai di Desa Tongkonan Basse sudah termasuk memberdayakan masyarakat apalagi masyarakat yang berprofesi sebagai kulibangunan/tukang serta dengan adanya program padat karya tunai ini dapat meningkatkan penghasilannya karena mereka yang sebagai tukang dapat uapah perharinya, dengan adanya program ini juga dapat mensejahterakan kehidupan masyarakat dari segi pembangunannya seperti yang sudah ada pengecoran jalan tani itu sangat membantu aktifitas masyarakat sehari-hari, tidak hanya sejahtera dalam hal beraktifitas kekebun masyarakat juga merasa sehajtera karena telah selasainya pembangunan pustu(puskesmas pembantu) jadi mereka tidak harus ke puskesmas yang ada di kota Kecamatan Masalle ketika akan berobat jadi dengan adanya pustu ini sangat membantu dan mensejahterakan masyarakat setempat.
lxiii
Berdasarkan hasil pengamatan penulis di Lapangan mengenai tahap pendayaan dalam proses pelaksanaan pemberdayaan masyarakat desa berbasis program padat karya tunai menunjukan bahwa pada saat pelaksanaan padat karya tunai masyarakat mendaftarkan namanya ke pak dusun kemudian pak dusun membuatkan jadwal, membentuk kelompok dan menentukan apa yang terlebih dahulu akan dikerjakan, serta jika dilihat program padat karya tunai di Desa Tongkonan Basse belum sepenuhnya memberdayakan masyarakat dikarenakan pada saat pelaksanaan padat karya tunai hanya sebagian masyarakat yang berpartisipasi dalam pelaksanaannya dikarenakan kebanyakan masyarakat lebih memilih untuk berkebun dan lebih merasa menguntungkan jika bekerja dikebun dari pada ikut kerja yang di bayar secara harian
lxiv BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh di lapangan mengenai proses pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Berbasis Program Padat Karya Tunai di Desa Tongkonan Basse Kecamatan Masalle Kabupaten Enrekang maka dapat ditarik kesimpulan:
1. Tahap Penyadaran dalam Proses Pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat Desa Berbasis Program Padat Karya Tunai menunjukkan bahwa Pemerintah Desa sudah melakukan sosialisasi secara optimal bahkan Pemerintah Desa juga menyampaikan langsung kepada Masyarakat cara/proses pengerjaan Program Padat Karya Tunai.
2. Tahap Pengkapasitasan dalam Proses Pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat Desa Berbasis Program Padat Karya Tunai menunjukan bahwa Pemerintah Desa sudah menetukan jenis kegiatan yang akan dikerjakan seperti pengecoran jalan tani, pembuatan rainase, pembuatan talud jalan, pembangunan pustu, dan pembuatan jamban. Adapun upah yang di berikan kepada masyarakat yaitu Rp. 100-110 perharinya.
3. Tahap Pendayaan dalam Proses Pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat Desa Berbasis Program Padat Karya Tunai menunjukan bahwa Masyarakat Desa belum sepenuhnya terberdayakan dikarenakan tingkat pertisipasi masyarakat yang kurang terhadap program padat karya tunai yang di adakan di Desa Tongkonan Basse
lxv B. Saran
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Desa Tongkonan Basse Kecamatan Masalle Kabupaten Enrekang maka dari itu penulis menyarankan :
Bagi Pemerintah Desa baik itu BPD, Pak Desa, atau bahkan Pak Dusun agar kiranya lebih meningkatkan cara untuk menyadarkan serta lebih giat menyampaikan atau bahkan membuat penyampaian yang lebih menarik mengenai Program Padat Karya Tunai sehingga masyarakat tertarik untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan pembangunan Padat Karya Tunai
Untuk Pemerintah Desa dan Masyarakat setempat agar kiranya lebih meningkatkan kerjasama satu sama lain sehingga dapat mencapai dan terwujudnya tujuan Dari Program Padat Karya Tunai
Bagi masyarakat agar kiranya lebih berpartisipasi dalam palaksanaan pembangunan padat karya tunai karena bagaimanapun pembangunan itu dilakukan untuk masyarakat sendiri dan demi kenyamanan serta kesejahteraan Masyarakat
lxvi