• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

A. Dasar Pertimbangan Hakim Mahkamah Agung Terhadap

1. Uraian Kejadian Dari Putusan Mahkamah Agung

Komisi Pemilihan Umum atau yang disingkat KPU adalah lembaga negara yang berkewenangan dalam penyelenggaraan Pemilu di Indonesia dan mempunyai kewenangan dalam membuat peraturan demi terlaksananya Pemilu yang lebih kondusif. Salah satu produk hukum yang telah dibuat oleh KPU yaitu Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pencalonan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota yang didalamnya terdapat pasal-pasal yang dapat merugikan beberapa pihak. Adapun salah satu pihak yang dirugikan ialah bernama Jumanto yaitu seorang mantan narapidana. Jumanto merupakan warga kebangsaan Indonesia dan pernah menjalani hukuman penjara karena melakukan tindak pidana korupsi yang sekarang dia bebas dari penjara dan dapat kembali beraktifitas seperti masyarakat umumnya serta berhak mendapatkan hak politiknya sebagai rakyat yang dapat dipilih dan memilih.

Namun di dalam PKPU No. 20 Tahun 2018 pasal 4 ayat (3), berbunyi, “Dalam seleksi bakal calon secara demokratis dan terbuka sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2), tidak menyertakan mantan

terpidana bandar narkoba, kejahatan seksual terhadap anak dan korupsi.”, pasal 11 ayat (1) huruf d, yang berbunyi, “Dokumen persyaratan pengajuan bakal calon sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 ayat (1) berupa…d. Pakta integritas yang ditandatangani oleh Pimpinan Partai Politik sesuai dengan tingkatannya dengan menggunakan formulir Model B.3” dan Lampiran Model B.3 Pakta Integritas Pengajuan Bakal Calon Anggota DPR/DPRD Provinsi/DPRD Kabupaten/Kota. Peraturan tersebut telah jelas dan nyata melanggar hak dasar sebagai manusia sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2017 Tentan Pemilihan Umum yang di dalamnya tidak ada larangan mantan narapidana korupsi tidak boleh mencalonkan lagi diajang pemilu.105

Jumadi merasa dirugikan oleh peraturan yang dibuat oleh PKPU karena menghalanginya untuk dapat mencalonkan diri di lembaga legislatif. Dengan alasan itulah Jumadi mengajukan uji materil kepada Mahkamah Agung dengan surat permohonannya tertanggal 9 Juli 2018 karena ia merasa haknya sebagai warga negara yang patuh hukum terhalang oleh PKPU No. 20 Tahun 2018. Padahal pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 1164 K/Pid.SUS/2010 tanggal 9 juni 2010 bahwa Jumadi hanya dijatuhi hukuman penjara dan tidak ada atau tidak terdapat hukuman tambahan yang untuk tidak boleh mencalonkan lagi.106

Sebenarnya KPU tidak boleh semerta-merta melarang mantan

105 Putusan Mahkamah Agung Nomor 46/P/HUM/2018, 6.

106 Putusan Mahkamah Agung Nomor 46/P/HUM/2018, 5.

narapidana korupsi untuk tidak dapat mencalonkan lagi sebagai anggota legislatif karena norma hukum tersebut hanya berlaku dan dijalankan melalui putusan pengadilan. Jika peraturan tersebut diberlakukan maka tidak memiliki kepastian hukum terhadap Jumadi. Jelas sekali PKPU No.

46 Tahun 2018 tidak sesuai dengan hierarki undang-undang yang berlaku di Indonesia seperti Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Permasyarakatan.107

Sesuai dengan uraian yang penulis jelaskan sebelumnya maka sudah jelas bahwa Jumadi mengalami kerugian atas berlakunya PKPU No.

46 Tahun 2018 karena bertentangan dengan hierarki undang-undang. Atas dasar itulah Jumadi memohon keadilan yang seadilnya kepada Mahkamah Agung untuk dapat memberikan keputusan yang tidak dapat merugikan pemohon. Adapun pasal-pasal pada PKPU No. 46 Tahun 2018 yang diuji, yaitu108:

a. Pasal 4 ayat (3) yang berbunyi, “Dalam seleksi bakal calon secara demokratis dan terbuka sebagaimana dimaksud pada ayat (2), tidak menyertakan mantan terpidana bandar narkoba, kejahatan seksual terhadap anak dan korupsi”.

b. Pasal 11 ayat (1) huruf d, yang berbunyi; “Dokumen persyaratan pengajuan bakal calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1)

107 Putusan Mahkamah Agung Nomor 46/P/HUM/2018, 7.

108 Putusan Mahkamah Agung Nomor 46/P/HUM/2018, 9-10.

berupa: d. Pakta integritas yang ditandatangani oleh Pimpinan Partai Politik sesuai dengan tingkatannya dengan menggunakan formulir Model B.3”

c. Lampiran Model B.3 Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 20 Tahun 2018.

Lalu PKPU No. 46 Tahun 2018 diuji terhadap:

a. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.

b. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

c. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.

Mahkamah Agung pada tanggal 13 September 2018 dengan kewenangannya mengabulkan permohonan keberatan hak uji materiil dari Jumanto dan menyatakan bahwa pasal 4 ayat (3), pasal 11 ayat (1) huruf d dan Lampiran Model B.3 PKPU No. 46 Tahun 2018 bertentangan dengan hierarki perundang-undangan di Indonesia yaitu dengan UU No. 7 Tahun 2017, UU No. 12 Tahun 2011 dan UU 12 Tahun 1995 dengan argument bahwa PKPU tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dan tidak berlaku untuk umum.109

2. Argumentasi Hakim Mahkamah Agung

Sebelum Mahkamah Agung melakukan pertimbangan pokok permohonan, Mahkamah Agung perlu melakukan penundaan pemeriksaan permohonan karena UU No. 17 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum

109 Putusan Mahkamah Agung Nomor 46/P/HUM/2018, 74.

sedang dipriksa oleh Mahkamah Konstitusi. Sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 55 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi Jo Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 93/PUU-XV/2017, tanggal 20 Maret 2018, yang dalam putusannya menyatakan “pengujian peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang yang sedang dilakukan di Mahkamah Agung wajib dihentikan apabila undang-undang yang menjadi dasar pengujian peraturan tersebut sedang dalam menjalani proses pengujian Mahkamah Konstitusi sampai ada putusan Mahkamah Konstitusi”.110

Namun setelah Mahkamah Agung mencermati dengan seksama mengenai Surat Pemberitahuan dari Mahkamah konstitusi Nomor 24/HK.06/9/2018, Perihal Permintaan Data, ternyata Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum yang diuji oleh Mahkamah Konstitusi tidak ada pasal atau norma yang berkaitan dengan dasar pengujian peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang oleh Mahkamah Agung, baik secara formil maupun materiil.111

Yang artinya sudah jelas bahwa objek yang dijadikan pemeriksaan oleh Mahkamah Agung mengenai norma pelarangan mantan narapidana korupsi menjadi bakal calon anggota legislatif yang tercantum dalam pasal 4 ayat (3), pasal 11 ayat (1) huruf d Peraturan Komisi Pemilihan Umum

110 Putusan Mahkamah Agung Nomor 46/P/HUM/2018, hal. 68

111 Putusan Mahkamah Agung Nomor 46/P/HUM/2018, hal. 69

Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pencalonan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota atau biasa yang disingkat PKPU No. 20 Tahun 2018.112

Bahwa pemohon mengakui jika dirinya adalah mantan narapidana korupsi dan telah dibebaskan yang artinya dapat kembali ke dalam kegiatan masyarakat. Mengingat bahwa hak pilih dan dipilih sebagai anggota legislatif merupakan hak dasar dibidang politik maka wajib dilindungi oleh negara sebagaimana yang ditegaskan dalam pasal 28 UUD NRI 1945 dan UU No. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Internasional Convenant on Civil and Political Rights.113

Lalu dalam UU No. 39 Tahun 1999 mengenai HAM pasal 43 ayat (1) yang berbunyi “Setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan” dan pasal 73 yang berbunyi

“hak dan kebebasan yang diatur dalam undang-undang, semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia serta kebebasan dasar orang lain, kesusilaan, ketertiban umum dan kepentingan bangsa”.

Sudah jelas bahwa negara telah menjamin hak politik setiap rakyatnya dalam ajang pemilihan umum dan jika ada pembatasan terhadap

112 Putusan Mahkamah Agung Nomor 46/P/HUM/2018, 69.

113 Putusan Mahkamah Agung Nomor 46/P/HUM/2018, 70.

hak tersebut maka yang berwenang menetapkan batasan itu adalah peradilan yang artinya keputusan hakimlah yang dapat mencabut hak politik seseorang tersebut dengan melakukan pidana tambahan yang sesuai dengan pasal 18 ayat (1) huruf d UU No. 31 Tahun 1999 dan pasal 35 ayat (1) KUHP, pada pokoknya dalam pasal-pasal tersebut mengenai pencabutan hak politik seseorang oleh hakim.

Bahwa KPU mengeluarkan PKPU No. 20 Tahun 2018 ada beberapa pasal yang tidak sesuai dengan penjelasan diatas, yaitu:

k. Pasal 4 ayat (3) yang berbunyi “Dalam seleksi bakal calon secara demokratis dan terbuka sebagaimana dimaksud pada ayat (2), tidak menyertakan mantan terpidana bandar narkoba, kejahatan seksual terhadap anak, dan korupsi”.

l. Pasal 11 ayat (1) huruf d, yang berbunyi “Dokumen persyaratan pengajuan bakal calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) berupa: d. Pakta integritas yang ditandatangani oleh Pimpinan Partai Politik sesuai dengan tingkatannya dengan menggunakan formulir Model B.3”.

m. Lampiran Model B.3 Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 20 Tahun 2018.

Mahkamah Agung berpendapat bahwa norma yang diatur dalam PKPU No. 20 Tahun 2018 di pasal 4 ayat (3) tidak sesuai dengan UU No.

7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum pada pasal 240 ayat (1) huruf g yang berbunyi:

Bakal calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota adalah Warga Negara Indonesia dan harus memenuhi persyaratan:

a. “tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih, kecuali. secara terbuka dan jujur mengemukakan kepada publik bahwa yang bersangkutan mantan terpidana.

Dalam pasal tersebut sudah jelas kalau PKPU No. 20 Tahun 2018 pasal 4 ayat (3) tidak sesuai denggan UU No. 17 Tahun 2017 bahwa dalam pasal tersebut tidak ada larangan bagi mantan narapidana korupsi untuk tidak dapat mencalonkan lagi sebagai anggota legislatif.

Mengingat bahwa pasal 4 ayat (3), pasal 11 ayat (1) huruf d dan Lampiran Model B.3 PKPU No. 20 Tahun 2017 tidak sesuai dengan UU 17 Tahun 2017 yang sudah jelas tertulis di dalam pasal 7 UU No. 12 Tahun 2011 yang menyatakan jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: 1) UUD NRI 1945, 2) TAP MPR, 3) UU/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang, 4) Peraturan Pemerintah, 5) Peraturan Presiden, 6) Peraturan Daerah Provinsi dan 7) Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Lalu juga dijelaskan dalam pasal 12 huruf d UU No. 12 Tahun 2011 yang berbunyi, “peraturan di bawah undang-undang berisi materi untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya”.

Bahwa KPU dalam menyelenggarakan pemilihan umum yang adil dan berintegritas sebagaimana yang dicantumkan dalam PKPU No. 20 Tahun 2018 merupakan suatu hal yang tidak berguna karena pencalonan anggota legislatif harus dari figur yang bersih atau terbebas dari catatan cacat moral. Padahal sudah jelas pembuatan peraturan pembatasan hak politik seseorang harus berasal dari undang-undang bukan diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berada di bawah undang-undang.

Bahwa norma atau pasal yang diuji materiil oleh Mahkamah Agung merupakan norma hukum yang tidak sesuai dalam hieraki

peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi yaitu UU No. 17 Tahun 2017. Maka dalam sepanjang frasa “mantan terpidana korupsi” di dalam PKPU No. 20 Tahun 2018 dinyatakan bertentangan dengan peraturan yang diatasnya.

3. Amar Putusan Hakim Mahkamah Agung

Amar Putusan Mahkamah Agung Nomor 46/P/Hum/2018 tentang Pencalonan Mantan Koruptor Sebagai Calon Legislatif mengadili dan menyatakan:

a. Mengabulkan permohonan keberatan hak uji materiil dari Pemohon JUMMANTO tersebut;

b. Menyatakan Pasal 4 ayat (3), Pasal 11 ayat (1) huruf d, dan Lampiran Model B.3 Peraturan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tanggal 2 Juli 2018 tentang Pencalonan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 834) sepanjang frasa

“mantan terpidana korupsi” bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, yaitu dengan UU No. 7 Tahun 2017 jo UU No. 12 Tahun 2011, karenanya tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dan tidak berlaku umum;

c. Memerintahkan kepada Panitera Mahkamah Agung untuk mengirimkan petikan putusan ini kepada Percetakan Negara untuk dicantumkan dalam Berita Negara;

d. Menghukum Termohon untuk membayar biaya perkara sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah)

Demikianlah putusan rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Kamis, tanggal 13 September 2018 oleh Dr. H. Supandi, S.H., M.Hum., Ketua Muda Mahkamah Agung Urusan Lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, Dr. Irfan Fachruddin, S.H., C.N., dan Dr. H. Yodi Martono Wahyunadi, S.H., M.H., Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota Majelis, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta Hakim-Hakim Anggota Majelis tersebut dan oleh Kusman, S.IP., S.H., M.Hum., Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh para pihak.

B. Analisis Hak Asasi Manusia Terhadap Putusan Mahkamah Agung

Dokumen terkait