TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Temuan Umum
C. Tanda-tanda waqaf
ْشِجَطْصاَٚ
3) Semua ro‟ yang mati tidak asli (karena waqof) baik ro‟ berharokat fathah, dhommah atau kasroh dan selama ro‟ tidak jatuh setelah harokat fathah atau dhommah. Contoh : ُشِئ اشَّغٌَا- ُش ْحَّغٌَا
4) Ro‟ mati jatuh setelah harokat kasroh meski bertemu dengan huruf isti‟la tetapi tidak dalam satu kalimat. Contoh : َن َّذ َخ ُشِّؼَصُر َلَْٚ
5) Ro‟ mati sebab waqof dan didahului oleh ya mati. Contoh : ٌشْ١ِج َخ- ٌشْ١ َخ
C. Tanda-tanda waqaf
1. Tanda mim (
ـِ
) disebut juga dengan Waqaf Lazim. yaitu berhenti di akhir kalimat sempurna. Wakaf Lazim disebut juga Wakaf Taamm (sempurna) karena wakaf terjadi setelah kalimatsempurna dan tidak ada kaitan lagi dengan kalimat sesudahnya. Tanda mim (
َ
), memiliki kemiripan dengan tanda tajwid iqlab, namun sangat jauh berbeda dengan fungsi dan maksudnya; 2. Tanda tho (ط
) adalah tanda Waqaf Mutlaq dan haruslahberhenti
3. Tanda jim (
ج
) adalah Waqaf Jaiz. Lebih baik berhenti seketika di sini walaupun diperbolehkan juga untuk tidak berhenti.4. Tanda zha (
ﻇ
) bermaksud lebih baik tidak berhenti;5. Tanda sad (
ص
) disebut juga dengan Waqaf Murakhkhas, menunjukkan bahwa lebih baik untuk tidak berhenti namun diperbolehkan berhenti saat darurat tanpa mengubah makna. Perbedaan antara hukum tanda zha dan sad adalah pada fungsinya, dalam kata lain lebih diperbolehkan berhenti pada waqaf sad;6. Tanda sad-la-ya' (
ﮯٍص
) merupakan singkatan dari “Al-washlAwlaa” yang bermakna “wasal atau meneruskan bacaan adalah
lebih baik”, maka dari itu meneruskan bacaan tanpa mewaqafkannya adalah lebih baik;
7. Tanda qaf (
ق
) merupakan singkatan dari "Qiila alayhil waqf" yang bermakna "telah dinyatakan boleh berhenti pada wakaf sebelumnya", maka dari itu lebih baik meneruskan bacaan walaupun boleh diwaqafkan;8. Tanda sad-lam (
ًص
) merupakan singkatan dari "Qad yuushalu" yang bermakna "kadang kala boleh diwasalkan", maka dari itu lebih baik berhenti walau kadang kala boleh diwasalkan9. Tanda Qif (
ﻒ١ل
) bermaksud berhenti! yakni lebih diutamakan untuk berhenti. Tanda tersebut biasanya muncul pada kalimat yang biasanya pembaca akan meneruskannya tanpa berhenti; 10. Tanda Laa (لْ
) bermaksud "Jangan berhenti!". Tanda inimuncul kadang-kala pada penghujung mahupun pertengahan ayat. Jika ia muncul di pertengahan ayat, maka tidak dibenarkan untuk berhenti dan jika berada di penghujung ayat, pembaca tersebut boleh berhenti atau tidak;
11. Tanda kaf (
ن
) merupakan singkatan dari "Kadzaalik" yang bermakna "serupa". Dengan kata lain, makna dari waqaf ini serupa dengan waqaf yang sebelumnya muncul;12. Tanda bertitik tiga (
.
...
..
) yang disebut sebagai Waqaf Muraqabah atau Waqaf Ta'anuq (Terikat). Waqaf ini akan muncul sebanyak dua kali di mana-mana saja dan cara membacanya adalah harus berhenti di salah satu tanda tersebut. Jika sudah berhenti pada tanda pertama, tidak perlu berhenti pada tanda kedua dan sebaliknya.13. Tanda Waqfah (
ٗفلٚ
) bermaksud sama seperti waqaf saktah (ٗزﮑع
), namun harus berhenti lebih lama tanpa mengambil napas.c. Pengamatan Tindakan
Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan pada siklus II ini, melalui lembaran penilaian hafalan al-Qur'an terhadap 18 orang santri atau responden, maka dapat direkaputulasi data sebagai berikut:
Tabel. 10
Rekapitulasi Penilaian Hafalan Al-Qur'an Santri Siklus II
No Nama Santri Aspek Penilaian Total MH SH AK PP B WI 1 Alfia Rahmi 3 2 3 3 3 14 2 Alfin Syukri 4 2 3 3 3 15 3 Dona Novita 4 3 3 3 3 16
4 Feni Prima Fadhila 3 2 3 3 3 14 5 Halica Mayza Putri 4 3 3 3 3 16
6 Husnul Fadila 4 2 3 4 4 17
7 Nazila Hamdiatul Qari‟ah 4 3 3 3 3 16
8 M. Ikhwan Nulkarim 3 2 3 4 3 15 9 M. Rasyid Ridho 4 2 3 3 3 15 10 Mezi Zaskia 4 2 3 3 3 15 11 Muhammad Rizki 3 2 2 3 3 13 12 Mutiara Rennata 4 3 3 3 3 16 13 Robby Fernanida 3 2 3 3 3 14 14 Safina Febriyanti 4 3 3 3 3 16 15 Salsabila Zackyah 4 3 3 4 3 17 16 Tri Fajar Ariza 4 3 3 3 3 16 17 Zakiyah Fitri Erita 3 3 3 4 3 16
18 Zuhriyah Zalfa Zahira 4 2 3 3 3 15
Jumlah 66 44 53 58 55 276
Jumlah skor ideal (kriterium) apabila setiap item mendapatkan skor tertinggi, yaitu: skor tertinggi setiap item (4) × jumlah item (5) × jumlah responden (18) adalah 360.
P = = = 76,7%
90 180 270 360 276
Tidak Cukup Lancar Sangat
Lancar Lancar Lancar
Nilai 276 termasuk kedalam kategori interval antara lancar dengan sangat lancar, akan tetapi lebih tepatnya kategori interval lancar.
d. Refleksi
Pada siklus II ini, hafalan al-Qur'an santri sudah termasuk kategori interval lancar, hal ini sudah mengalami peningkatan dari siklus I dari 18 orang santri. Para santri telah mencapai skor lebih dari setengah yaitu 10 (skor maksimum 20). Pada umumnya santri sudah mendapatkan skor 13 keatas hal ini telah menunjukkan ada peningkatan dan sudah termasuk pada kategori interval lancar.
Berdasarkan anilisis per item pada siklus II ini, ternyata para santri rata-rata telah mendapatkan skor lancar dan sangat lancar (yaitu dengan point 3 sampai 4), walaupun ada beberapa santri pada item tertentu masih mendapat skor cukup lancar (yaitu dengan point 2) akan tetapi dibandingkan dengan dengan penilaian sebelumnya (siklus I) ini telah mengalami peningkatan. Untuk item yang lainnya dapat dikatakan telah mencapai target yang diharapkan.
Setelah adanya pembinaan hafalan al-Qur'an terhadap para santri di TPA Masjid Sabil Jororng Padang Panjang Pariangan, Nagari Pariangan, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, dapat dilihat perbandingan rekapitulasi dari hasil siklus I dan siklus II sebagai berikut:
Tabel. 11
Perbandingan Hasil Pengamatan Penilaian Hafalan Siklus I dan II
No Nama Siklus I Siklus II
1. Alfia Rahmi 12 14
2. Alfin Syukri 11 15
3. Dona Novita 13 16
4. Feni Prima Fadhila 9 14
5. Halica Mayza Putri 13 16
6. Husnul Fadila 15 17
7. Nazila Hamdiatul Qari‟ah 13 16
8. M. Ikhwan Nulkarim 12 15 9. M. Rasyid Ridho 12 15 10. Meiza Zaskia 10 15 11. Muhammad Rizki 9 13 12. Mutiara Rennata 12 16 13. Robby Fernanida 10 14 14. Safina Febriyanti 13 16 15. Salsabila Zackyah 12 17
16. Tri Fajar Ariza 13 16
17. Zakiyah Fitri Erita 11 16
18. Zuhriyah Zalfa Zahira 12 15
Jumlah 212 (59,2%) 276 (76,7)
Dengan melihat tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pada siklus I dan siklus II maka terlihatlah peningkatan di TPA Masjid Sabil Jorong Padang Panjang Pariangan Nagari Pariangan ini. Pembinaan hafalan al-Qur'an santri pada siklus II ini sudah naik dari 212 (59,2%) menjadi 276 (76,7%)
yang mana sudah dapat dikatakan lancar dengan terjadinya peningkatan yang lebih baik dari sebelumnya.
C. Pembahasan
1. Pembinaan hafalan al-Qur'an santri dengan menggunakan metode wahdah dan metode takrir
a. Siklus I
1) Metode wahdah
Metode wahdah adalah mengafal satu per satu terhadap ayat-ayat yang hendak dihafalnya. Untuk mencapai hafalan awal, setiap ayat bisa dibaca sebanyak sepuluh kali, atau dua puluh kali, atau lebih sehingga proses ini mampu membentuk pola dalam bayangan, sehingga nanti mampu mengkondisikan ayat-ayat yang dihafalkannya sehingga benar-benar membentuk gerakan refleks pada lisannya.Langkah-langkah metode wahdah ini yaitu:
a) Pilih atau tentukan ayat yang akan dihafal.
b) Untuk mencapai hafalan awal, maka setiap ayat dibaca sebanyak sepuluh kali, dua puluh kali atau lebih, sampai benar-benar membentuk gerakan refleks pada lisan.
c) Setelah benar-benar hafal satu ayat, baru dilanjutkan dengan ayat berikutnya dengan cara yang sama, demikian seterusnya.
d) Lakukan cara tersebut sampai benar-benar hafal dan mampu memproduksi ayat tersebut dalam kepala secara alami atau refleks.
e) Semakin banyak diulangi maka kualitas hafalan akan semakin kuat. (Ahsin W Al-Hafidz, 2000: 63)
Metode takrir adalah metode mengulang hafalan atau
men-sima‟-kan hafalan yang pernah dihafalkan/sudah pernah
di-sima‟-kan kepada guru tahfizh. Takrir dimaksuddi-sima‟-kan agar hafalan yang pernah dihafal tetap terjaga dengan baik. Selain dengan guru, takrir juga dilakukan sendiri-sendiri dengan maksud melancarkan hafalan yang telah dihafal, sehingga tidak mudah lupa.Langkah-langkah metode ini adalah:
a) Amati secara jeli dan teliti ayat-ayat yang akan dihafalkan sehingga ayat-ayat tersebut terekam dalam hati.
b) Mulai membaca secara binnazar (melihat) ayat-ayat yang akan dihafalkan dengan dengan cara tartil atau pelan. Bacaan ini diulang sebanyak lima sampai tujuh kali bahkan boleh lebih.
c) Pejamkan mata sambil melafalkan ayat yang sedang dihafalkan dengan diulangi beberapa kali sampai benar-benar yakin sudah menghafalnya.
d) Kemudian lansung disambung secara lansung ayat-ayat yang telah dihafal sambil memejamkan mata.
e) Setelah benar-benar hafal lalu hafalan disetorkan kepada guru pengampu (Mukhlisoh Zawawei, 2011: 107-108)
Sebelum peneliti melakukan tindakan, terlihat masih banyak santri yang belum hafal QS. Adh-Dhuha, saat penyetoran hafalan masih banyak santri yang belum lancar hafalannya, bahkan saat menyetor masih banyak santri yang diejakan oleh guru ngajinya serta kurangnya muraja‟ah dari guru ngajinya. Terlihat masih kurang motivasi santri dalam menghafal al-Qur'an.
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan pada siklus I dengan menggunakan metode wahdah dan metode takrir maka dapat dipaparkan bahwa jumlah skor ideal (kriterium) yang diperoleh santri adalah sebanyak 212 (59,2%) yang dimana sudah termasuk kedalam kategori interval cukup lancar. Dibandingkan sebelum adanya tindakan dilakukan, hafalan al-Qur'an santri sudah ada perubahan sehingga semua santri hafal QS Adh-Dhuha, namun masih ada beberapa kekurangan yang terdapat didalam hafalan al-Qur'an santri seperti ketidak tepatan dalam membaca huruf maupun panjang pendeknya.
b. Siklus II
1) Metode wahdah
Metode wahdah adalah mengafal satu per satu terhadap ayat-ayat yang hendak dihafalnya. Untuk mencapai hafalan awal, setiap ayat bisa dibaca sebanyak sepuluh kali, atau dua puluh kali, atau lebih sehingga proses ini mampu membentuk pola dalam bayangan, sehingga nanti mampu mengkondisikan ayat-ayat yang dihafalkannya sehingga benar-benar membentuk gerakan refleks pada lisannya. Langkah-langkah metode wahdah ini yaitu:
a) Pilih atau tentukan ayat yang akan dihafal.
b) Untuk mencapai hafalan awal, maka setiap ayat dibaca sebanyak sepuluh kali, dua puluh kali atau lebih, sampai benar-benar membentuk gerakan refleks pada lisan.
c) Setelah benar-benar hafal satu ayat, baru dilanjutkan dengan ayat berikutnya dengan cara yang sama, demikian seterusnya. d) Lakukan cara tersebut sampai benar-benar hafal dan mampu
memproduksi ayat tersebut dalam kepala secara alami atau refleks.
e) Semakin banyak diulangi maka kualitas hafalan akan semakin kuat. (Ahsin W Al-Hafidz, 2000: 63)
2) Metode takrir
Metode takrir adalah metode mengulang hafalan atau
men-sima‟-kan hafalan yang pernah dihafalkan/sudah pernah
di-sima‟-kan kepada guru tahfizh. Takrir dimaksuddi-sima‟-kan agar hafalan yang pernah dihafal tetap terjaga dengan baik. Selain dengan guru, takrir juga dilakukan sendiri-sendiri dengan maksud melancarkan hafalan yang telah dihafal, sehingga tidak mudah lupa. Langkah-langkah metode ini adalah:
a) Amati secara jeli dan teliti ayat-ayat yang akan dihafalkan sehingga ayat-ayat tersebut terekam dalam hati.
b) Mulai membaca secara binnazar (melihat) ayat-ayat yang akan dihafalkan dengan dengan cara tartil atau pelan. Bacaan ini diulang sebanyak lima sampai tujuh kali bahkan boleh lebih.
c) Pejamkan mata sambil melafalkan ayat yang sedang dihafalkan dengan diulangi beberapa kali sampai benar-benar yakin sudah menghafalnya.
d) Kemudian lansung disambung secara lansung ayat-ayat yang telah dihafal sambil memejamkan mata.
e) Setelah benar-benar hafal lalu hafalan disetorkan kepada guru pengampu (Mukhlisoh Zawawei, 2011: 107-108)
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan pada siklus II dengan menggunakan metode wahdah dan metode takrir maka dapat dipaparkan bahwa jumlah skor (kriterium) yang diperoleh santri adalah sebanyak 276 (76,7%) yang dimana para santri sudah termasuk pada kategori interval lancar. Pada siklus ke II ini sudah adanya
peningkatan dari siklus I, hal ini terlihat ketika saat santri menyetor hafalan bukan hanya sekedar menyetor, tetapi sudah menyetor dengan kaidah-kaidah yang terdapat didalam al-Qur'an, serta adanya keinganan dan kegigihan santri dalam menghafal ayat suci al-Qur'an
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Pembinaan hafalan al-Qur'an santri di TPA Masjid Sabil Jorong Padang Panjang Pariangan Nagari Pariangan, yang penulis lakukan sudah mengalami peningkatan kearah yang lebih baik. Dalam hal ini penulis melakukan pembinaan hafalan al-Qur'an ini terjadi selama II siklus. Sebelum dilaksanakan siklus I ini hanya beberapa orang santri yang hafal dengan QS. Adh-Dhuha. Siklus I dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 04 Desember 2018. Pada pelaksanaan siklus I ini, jumlah skor ideal (kriterium) yang diperoleh santri adalah sebanyak 212 (59,2%) yang dimana sudah termasuk kedalam kategori interval cukup lancar. Dibandingkan sebelum adanya tindakan dilakukan, hafalan al-Qur'an santri sudah ada perubahan sehingga semua santri hafal QS Adh-Dhuha, namun masih ada beberapa kekurangan yang terdapat didalam hafalan al-Qur'an santri seperti ketidak tepatan dalam membaca huruf maupun panjang pendeknya, untuk itu penulis melanjutkan penelitian pada siklus II. Siklus II dilaksanakan ini pada hari Senin 17 Desember 2018, jumlah skor (kriterium) yang diperoleh santri adalah sebanyak 276 (76,7%) yang dimana para santri sudah termasuk pada kategori interval lancar. Pada siklus ke II ini sudah adanya peningkatan dari siklus I, hal ini terlihat ketika saat santri menyetor hafalan bukan hanya sekedar menyetor, tetapi sudah menyetor dengan ketepatan bacaannya.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka diajukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Disaran kepada pengurus TPA Masjid Sabil Jorong Padang Panjang Pariangan Nagari Pariangan untuk dapat terus melaksanakan pembinaan terhadap hafalan Qur'an santri, serta diadakan pengontrolan terhadap hafalan al-Qur'an santri.
2. Diharapkan ada peneliti lanjutan yang lebih mendalam demi meningkatkan hafalan al-Qur'an santri Di TPA Masjid Sabil Jorong Padang Panjang Pariangan Nagari Pariangan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hafalan al-Qur'an santri.
C. Penutup
Dengan diselesaikankannya penulisan skripsi ini, peneliti tidak lupa mengucapkan puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah swt. atas Rahmad, Taufik dan Hidayah_Nya. Peneliti menyadari adanya kekurangan dan kelemahan yang ada dalam skripsi ini, oleh karena itu saran dan kritik dari berbagai pihak peneliti harapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya.
Akhirnya tak lupa peneliti sampaikan terima kasih kepada semua belah pihak yang telah membantu sepenuhnya dalam menyelesaikan skripsi ini, semoga Allah swt. melimpahkan pahala yang banyak untuknya. Aamiin.