• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

B. Pengelolaan Belanja Daerah

B. 2. Target dan Realisasi Belanja

Dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 ditegaskan bahwa Belanja daerah merupakan semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi equitas dana lancar yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah (Propinsi ataupun kabupaten/kota) yang meliputi urusan wajib dan urusan pilihan.

Belanja Daerah terdiri dari Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung. Belanja tidak langsung terdiri dari belanja pegawai, belanja hibah, bantuan sosial, dan belanja tidak terduga. Belanja langsung terdiri dari Belanja Pegawai, belanja barang dan jasa dan belanja modal. Dapat dilihat secara rinci pada tabel berikut ini :

LKPJ Akhir Tahun Anggaran 2013

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

III - 33

Tabel 3.2.

Target dan Realisasi Belanja Daerah T.A. 2013

NO BELANJA DAERAH TARGET REALISASI PENCAPAIAN TARGET (%)

B BELANJA 1.022.456.440.541 ,11 883.521.845.035,23 86,41

1. BELANJA TIDAK LANGSUNG 538.538.293.459,44 492.775.345.289,00 91,50 - Belanja Pegawai 484.028.071.029,44 448.797.464.283,00 92,72 - Belanja Hibah 25.573.197.430,00 24.566.079.150,00 96,06 - Belanja Bantuan Sosial 27.634.425.000,00 18.893.404.321,00 68,37 - Belanja Tidak Terduga 1.302.600.000,00 518.397.535,00 39,80 2. BELANJA LANGSUNG 483.918.147.081,67 390.746.499.746,23 80,75 - Belanja Pegawai 70.756.743.858,00 65.262.844.825,00 92,23 - Belanja Barang dan Jasa 159.159.416.419,77 145.133.140.522,23 91,19 - Belanja Modal 254.001.986.803,90 180.350.514.399,00 71,00

*) Angka Realisasi APBD 2013 sebelum diaudit Sumber : BPKAD Kota Mataram, 2013

Belanja Daerah Kota Mataram untuk Tahun Anggaran 2013 dianggarkan sebesar Rp.1.022.456.440.541 dan dapat direalisasikan sebesar Rp.883.521.845.035,23 atau 86,41%, terdiri dari realisasi belanja tidak langsung sebesar Rp.492.775.345.289,00 atau 91,50% dari target sebesar Rp. 538.538.293.459,44 dan realisasi belanja langsung sebesar Rp.390.746.499.746,23 atau 80.75% dari target sebesar Rp.483.918.147.081,67.

Dibanding dengan tahun 2012 realisasi tahun 2013 pada Belanja tidak langsung mengalami peningkatan dari Rp.436.784.132.350,00 menjadi Rp. 492.775.345.289,00 atau meningkat sebesar Rp.55.991.212.939,00 atau 12,82% dan Belanja langsung mengalami peningkatan realisasi dari Rp.303.489.874.626,29 menjadi Rp.390.746.499.746,23 atau meningkat sebesar Rp.87.256.625,119 atau 28,75% dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Tabel 3.3.

Target Belanja Daerah T.A. 2012 dan 2013

NO BELANJA DAERAH 2013 2012 PERUBAHAN (%)

B BELANJA 1.022.456.440.541 ,11 810.748.789.576,61 26,11

1. BELANJA TIDAK LANGSUNG 538.538.293.459,44 473.844.497.878,62 13,65 - Belanja Pegawai 484.028.071.029,44 426.835.076.202,62 13,40 - Belanja Hibah 25.573.197.430,00 24.582.707.601,00 4,03 - Belanja Bantuan Sosial 27.634.425.000,00 20.400.100.000,00 35,46 - Belanja Tidak Terduga 1.302.600.000,00 2.026.614.075,00 (35,73) 2. BELANJA LANGSUNG 483.918.147.081,67 336.904.291.697,99 43,64 - Belanja Pegawai 70.756.743.858,00 57.026.089.602,80 24,08 - Belanja Barang dan Jasa 159.159.416.419,77 121.161.855.634,66 31,36 - Belanja Modal 254.001.986.803,90 158.716.346.460,53 40,84

Bila dilihat komposisi belanja dari total belanja Daerah, dapat kita lihat bahwa dibanding tahun 2012 komposisi antara Belanja Tidak Langsung dan Belanja langsung pada tahun 2013 relatif lebih seimbang.

Gambar 3.3.

Komposisi Target Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung Tahun 2012 dan 2013 (%)

Sumber: BPKAD Kota Mataram, data diolah

Dari grafik di atas, terlihat Belanja Daerah masih didominasi oleh Belanja tidak langsung sebesar 58,45% pada tahun 2012 dan 52,67% pada tahun 2013 dari total Belanja Daerah, sementara Belanja Langsung sebesar 41,55% pada tahun 2012 dan 47,3% pada tahun 2013. Terlihat bahwa komposisi Belanja Langsung pada tahun 2013 relatif cukup besar dari total belanja, hal ini dapat menjadi indikasi kebijakan anggaran yang semakin mengarah pada belanja publik atau belanja yang langsung dipergunakan untuk pembangunan dan pelayanan publik.

B.2.1. Belanja Tidak Langsung

Belanja Tidak Langsung terealisasi sebesar Rp.492.775.345.289,00 atau 86,41% dari target yang ditetapkan terdiri dari Belanja Pegawai yang sebesar Rp.448.797.464.283,00 atau 92,72%, Belanja Hibah sebesar Rp.24.566.079.150,00 atau 96,06%, Belanja Bantuan Sosial sebesar Rp.18.893.404.321,00 atau 68,37%, dan Belanja Tidak terduga sebesar Rp.518.397.535,00 atau 39,80%.

LKPJ Akhir Tahun Anggaran 2013

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

III - 35

B.2.2. Belanja Langsung

Belanja Langsung terealisasi sebesar Rp.390.746.499.746,23 atau 80,75% dari target yang ditetapkan terdiri dari Belanja Pegawai yang sebesar Rp.65.262.844.825,00 atau 92,23%, Belanja Barang dan Jasa sebesar Rp.145.133.140.522,23 atau 91,19%, dan Belanja Modal sebesar Rp.180.350.514.399,00 atau 71,00%. Dari Total Belanja Langsung terdapat RSUD sebagai BLUD sebesar Rp.23.756.036.689,23 yang terdiri dari Belanja Pegawai sebesar Rp.1.000.720.000,00, Belanja Barang dan jasa sebesar Rp.21.918.714.189,23, Belanja Modal sebesar Rp.836.602.500,00. B. 3. Permasalahan dan Solusi

Adanya kesenjangan fiskal (fiscal gap) yang timbul karena tingkat kebutuhan daerah (fiscal need) tidak seimbang dengan kapasitas fiskal (fiscal capasity) daerah menjadi permasalahan utama terkait belanja daerah. Tingginya ketergantungan terhadap Pemerintah Pusat juga menyebabkan timbulnya kesulitan dalam perencanaan belanja daerah. Solusi dari masalah diatas adalah dengan terus berupaya meningkatkan pendapatan daerah, baik dari PAD maupun dana perimbangan untuk mengisi kesenjangan fiskal. Peningkatan PAD dilakukan dengan intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber penerimaan daerah. Sedangkan peningkatan Dana Perimbangan diupayakan melalui sistem koordinasi dan informasi dengan Pemerintah Pusat terkait pendapatan daerah dan sinkronisasi program kegiatan daerah yang bersinergi dengan program kegiatan nasional dengan memberikan dukungan data yang cepat, tepat dan akurat sehingga diperoleh dana perimbangan yang memadai.

Permasalahan lainnya yang dihadapi dalam pengelolaan belanja daerah adalah peraturan yang kerap kali berubah-ubah, sehingga menimbulkan sejumlah kendala dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah. Untuk hal ini solusi yang dilakukan adalah mengadakan sosialisasi ataupun bimbingan teknis terkait peraturan perundang-undangan bidang keuangan daerah. Permasalahan lainnya adalah terbatasnya sumber daya

manusia dari segi kuantitas maupun kualitas dalam penatausahaan keuangan daerah. Solusi yang dilakukan adalah pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas pejabat pengelola keuangan SKPD, guna mendukung kelancaran pengelolaan keuangan daerah ditinjau dari aspek tertib administrasi dan ketepatan waktu pelaporan keuangan daerah.

Permasalahan lain adalah besaran belanja tidak langsung yang selalu lebih besar daripada belanja langsung, walau secara normatif diharapkan besaran belanja langsung yang merupakan belanja yang langsung digunakan untuk melaksanakan program kegiatan pembangunan diharapkan lebih besar komposisinya dibanding belanja tidak langsung. Namun di sisi lain belanja tidak langsung sulit untuk dikurangi rasionya dari total belanja daerah karena BTL yang terdiri dari Belanja Pegawai, Belanja Hibah, Belanja Bantuan Sosial, dan Belanja Tidak Terduga peruntukannya rata-rata 90% untuk belanja pegawai yang digunakan untuk membayar Gaji PNSD, dan setiap tahunnya wajib dianggarkan perkiraan kenaikan gaji pegawai sekitar 10% beserta acress 2,5% setiap tahun. Belum lagi adanya penerimaan atau pengangkatan Tenaga honor Daerah menjadi PNS yang tentu menambah beban APBD pada Belanja Tidak Langsung. Hal ini menjadi permasalahan yang harus dipikirkan dalam rangka pencapaian komposisi belanja yang optimal dan peningkatan belanja langsung daerah yang berorientasi pada kepentingan publik.