NILAI HASIL EVALUASI AKIP KOTA BANDUNG
TARGET 2014 2015 2016 2017 2018 Target Capaian Target Target Target Target
BUMD Profitable atau 125% BUMD 50% yaitu 2 BUMD (PDAM dan PD BPR) sehingga capaian kinerja 200% 50% atau 2 BUMD (PDAM dan PD BPR) 50% atau 2 BUMD (PDAM dan PD BPR) 75% atau 3 BUMD (PDAM, PD BPR dan PD Pasar) 100% atau4 BUMD (PDAM, PD BPR, PD Pasar, Holding Company / PD Kebersihan)* BUMD Sehat atau 125% BUMD 25% atau 1 BUMD (PDAM) sehingga capaian kinerja 100% 25% atau 1 BUMD (PDAM) 50% atau 2 BUMD (PDAM dan PD BPR) 50% atau 2 BUMD (PDAM dan PD BPR) 50% atau2 BUMD (PDAM dan PD BPR)
Ket *: Target RPJMD untuk BUMD yang profitable adalah 4 BUMD sedangkan Target Renstra adalah 100% dari BUMD yang ada, sehingga dimungkinkan terjadi perbedaan capaian kinerja apabila pada tahun 2018 terdapat lebih dari 4 BUMD dimana pada tahun 2015 ini sedang dibentuk BUMD Holding. Target RPJMD memiliki bobot prioritas lebih tinggi, meskipun target Renstra dinilai lebih menekankan pada aspek kualitas.
Jumlah BUMD yang sehat pada tahun 2014 sesuai dengan target yang direncanakan yaitu 1 BUMD (PDAM) atau capaian kinerja sebesar 100%, dan jumlah BUMD yang profitable pada tahun 2014 adalah 2 BUMD yaitu PDAM, PD. Pasar Bermartabat dan PD. BPR atau capaian kinerja sebesar 200% dari 1 BUMD atau melebihi target yang direncanakan. Dengan
demikian rata-rata capaian kinerja sasaran Terwujudnya BUMD yang sehat dan profitable adalah sebesar150%. Bila dibandingkan dengan capaian padaTahun 2013, BUMD yang dinyatakan sehat tetap tidak berubah yaitu PDAM sedangkan BUMD profitable yaitu PDAM dan PD.BPR.
Capaian serta upaya pencapaian target tersebut diakses melalui Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah serta Program Koordinasi Perumusan dan Implementasi Kebijakan Ekonomi dimana bentuk kegiatan yang dilaksanakan seperti: evaluasi kinerja keuangan, manajerial maupun operasional, evaluasi kerjasama yang telah dilakukan, optimalisasi dan ekstensifikasi pendapatan, benchmarking, penyempurnaan SOTK dan aturan terkait, pelaksanaan berbagai kajian, serta penetapan KPI.
Adapun berbagai hambatan serta upaya penyelesaian dan antisipasi yang dilakukan, antara lain:
BUMD Hambatan / Persoalan Upaya Penyelesaian / Antisipasi PDAM
Tirtawening Pencapaian laba belumoptimal Kebocoran masih cukup tinggi
Durasi layanan tidak merata Rasio biaya operasi masih tinggi
Akumulasi kerugian tinggi, ROE negative
Periode collection piutang tinggi
Mengoptimalkan unit bisnis, menurunkan kebocoran sehingga penjualan meningkat Audit teknis, membuat District Meter Area Menurunkan kebocoran, mencari sumber air baku baru
Efisiensi biaya umum dan pegawai
Optimalisasi capaian profit, penghapusan utang jangka panjang, mencari berbagai sumber tambahan permodalan
Mengembangkan system prabayar, peningkatan system dan intensitas penagihan
PD BPR Biaya operasi tinggi Loan to Deposit rasio rendah NPL tinggi Analisisbebankerja, optimalisasiupayapeningkatanpendapatan Diversifikasidanpeningkatandayatarikproduk Peningkatankualitasanalisiskreditdan prudent banking PD Pasar Belum optimalnya
pendapatan dan laba Sertifikasi asset belum lengkap
Keterbatasan SDM dan kinerja belum optimal
Optimalisasi sumber-sumber pendapatan seperti dari parkir, WC, reklame, diversifikasi usaha, evaluasi kerjasama yang telah dilakukan
Penyediaan anggaransertifikasi asset, peningkatan koordinasi, kerjasama dengan lembaga professional / instansi terkait Penyempurnaan SOTK, recruitmen sesuai kebutuhan dan kompetensi yang memadai PD
Kebersihan Kinerja keuangan belumoptimal Subsidi masih cukup tinggi
Evaluasi kinerja, kajian risk assessment dan kelayakan usaha, efisiensi biaya pengangkutan dengan berbagai upaya 3 R dan pengelolaan sampah di TPS, diversifikasi usaha, optimalisasi penagihan
Pemisahan komponen subsidi, tipping fee dan Publik service obligation agar nilai subsidi jadi lebih akurat*
Pada tahun 2014 komponen subsidi terdiri dari tipping fee TPA Sarimukti 14 milyar dan publik service obligation (layanan fasos, fasum, dan penyapuan jalan) sebesar Rp. 19 milyar serta "subsidi murni" sebesar Rp. 37 milyar. "Subsidi murni" ini pun tidak sepenuhnya diperuntukkan bagi PD. Kebersihan, karena sebagian besar merupakan subsidi bagi masyarakat, yaitu selisih tarif yang seharusnya ditagihkan (±Rp.12.000/rumah/bulan) dengan actual penagihan saat ini (±Rp. 3.000 / rumah / bulan), selain itu subsidi ini juga digunakan untuk menutupi jumlah tagihan masyarakat yang tidak membayar (49% masyarakat tidak membayar retribusi kebersihan, sumber: Kajian Bappeda)
Tabel 3.27
Analisis Pencapaian Sasaran 12
Terwujudnya kehidupan harmoni intern dan antar umat beragama Dan Perbadingan dengan Target Akhir Renstra Tahun 2018
No Indikator
Kinerja Satuan Tahun 2014 % Tahun 2018 %
Target Realisasi Target 1 Jumlah Pendaftar Haji Per Tahun Orang 25.000 25.335 101.34 30.794 82.27 2 Peningkatan Penerimaan Zakat Rupiah 24.000.000.000 24.769.779.828 103.21 34.964.565.680 70.84 3 Penurunan Jumlah Konflik SARA bernuansa Agama Kejadian 0 0 100 0 100
Rata-Rata Capaian Kinerja 102.81 84.37
Sasaran Terwujudnya kehidupan harmoni intern dan antar umat beragama di kota Bandung, dimana mayoritas penduduknya/masyarakatnya adalah beragama islam, maka untuk menggambarkan kehidupan harmoni intern dan antar umat beragama ini digambarkan melalui 3 (tiga) indikator sasaran Jumlah Pendaftar Haji, Peningkatan Penerimaan Zakat Per Tahun merupakan indikator penunjang sedangkan indikator Penurunan Jumlah Konflik Bernuansa SARA merupakan indikator yang diperjanjikan. Pada Sasaran ini berdasarkan hasil pengukuran diperoleh rata-rata kinerja sasaran sebesar 102.81%.
Pada indikator pertama Jumlah Pendaftar Haji Tahun 2014 sebanyak 25.335 orang atau melebihi target 25.000 orang (101,34%). Apabila di
bandingkan dengan tahun 2013 jumlah pendaftar Haji sebanyak 24.075 orang atau mengalami kenaikan sebanyak 1.260 orang atau 5,23%. Bila dibandingkan dengan target Akhir Renstra Tahun 2018 capaian pendaftar Haji sebesar 82.27%. Kenaikan ini didukung kerjasama yang baik antara Pemerintah Kota Bandung dan Kementerian Agama RI mengenai pemberian data dan informasi yang diperlukan dan kegiatan yang dilakukan.
Pada indikator kedua Peningkatan Penerimaan Zakat Per Tahun adalah cerminan kesadaran masyarakat tentang kebersamaan saling tolong menolong sesama manusia melalui zakat fitrah dimana Hal ini orang yang mampu akan memberikan bantuan kepada orang yang kurang mampu. Sehingga diharapkan akan tidak ada jurang pembeda antara si kaya dan si miskin itu sendiri. Jumlah Penerimaan Zakat Fitrah pada Tahun 2014 sebesar Rp. 24.769.779.828,- melebihi target Rp. 24.000.000.000,- atau capaian kinerja indikator sebesar 103,21%. Bila dibandingkan dengan capaian tahun 2013 terdapat peningkatan dari capaian sebesar Rp. 22.580.295.165,-, maka penerimaan zakat tahun 2014 meningkat sebesar Rp. 2.189.484.663,- atau 9,69%. Bila dibandingkan dengan target akhir renstra tahun 2018 sebesar Rp. 33.877.958.000,- maka capaian kinerja tahun 2014 adalah sebesar 70.84%.
Pada indikator ketiga Penurunan Jumlah Konflik Bernuansa SARA bila dihubungkan dalam pandangan fungsional, agama sebagai sarana mempersatukan aspirasi yang paling luhur, memberikan pedoman moral, memberikan ketenangan individu dan membuat kedamaian masyarakat, menjadi sumber tatanan masyarakat dan membuat manusia menjadi beradab, dengan tidak adanya Konflik bernuansa SARA Agama berarti menggambarkan perwujudan dari kehidupan harmoni intern dan antar umat beragama. Pada tahun 2014 di Kota Bandung tidak ada konflik bernuansa SARA, hal tersebut sesuai dengan target yang direncanakan sehingga capaian kinerja sebesar 100%. Walaupun demikian bukan berarti pada tahun 2014 tidak ada potensi konflik yang bernuansa SARA,
diantaranya 15 aliran keagamaan yang dianggap menyimpang dari norma agama pada beberapa agama, sebagaimana tabel berikut :
Tabel 3.28
Data Potensi Konflik Tahun 2013 dan 2014
No Agama Potensi Konflik
Tahun 2013 Tahun 2014
1 Islam - 10
2 Non Islam 3 5
Jumlah 3 15
Sumber : Kemenag RI Kota Bandung Tahun 2014
Pada Tahun 2014 Potensi konflik bernuansa SARA meningkat 500%, hal tersebut memerlukan perhatian khusus untuk mengurangi dan mencegah bertambahnya potensi konflik bernuansa SARA di Kota Bandung. Upaya yang telah dilakukan pada tahun 2014 antara lain dengan dialog/musyawarah dengan dimediasi oleh aparat kewilayahan, Polisi dan Koramil. Ada pula yang dibina langsung oleh MUI seperti yang dilakukan terhadap Didin Saepudin yang mengaku sebagai Nabi kemudian dimasa yang akan datang perlu peningkatan koordinasi diatara stakeholder. Kondisi indikator sasaran Terwujudnya kehidupan harmoni intern dan antar umat beragamakota Bandung terhadap capaian pada tingkat Provinsi JawabBarat pada tahun 2014 adalah sebagai berikut :
Tabel 3.29
Capaian Indikator Terwujudnya kehidupan harmoni intern dan antar umat beragama
Dibandingkan dengan Capaian Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 Indikator
Sasaran Jawa BaratProvinsi BandungKota
(%)