• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Tehnik Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah:

1. Wawancara, berupa wawancara dengan guru kimia dan siswa untuk mengetahui penyebab kesulitan siswa dalam memahami konsep kelarutan dan hasilkali kelarutan.

2. Tes hasil belajar yang berupa assessment yang berkaitan dengan materi kelarutan dan hasilkali kelarutan untuk mengatahui kesulitan siswa dalam memahami konsep kelarutan dan hasilkali kelarutan. Selain itu juga digunakan assessment kinerja untuk mengukur kemampuan siswa dalam percobaan yang berkaitan dengan kelarutan dan hasilkali kelarutan.

Penilaian hasil belajar pada soal essay ditekankan pada penguasaan materi. Untuk menilai aspek penguasaan materi (kognitif) ini digunakan bentuk tes yang dapat mengukur keenam tingkatan tersebut. Kemampuan-kemampuan yang termasuk domain kognitif oleh Bloom dkk. dikategorikan lebih terinci secara hierarkis ke dalam enam jenjang kemampuan, yakni hafalan (ingatan) (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6).48

Assessement kinerja menggunakan hasil belajar psikomotor. Simpson (dalam Ahmad Sofyan, 2006: 23) menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan dan kemampuan bertindak individu. Aspek-aspek yang dapat dinilai dalam mata pelajaran sains (kimia) dengan merujuk pada klasifikasi domain psikimotor menurut Trowbridge et. al yang mencakup bertindak (moving), memanipulasi

48

Ahmad Sofyan, dkk, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006) h. 15

(manipulating), berkomunikasi (communicating), dan menciptakan (creating).49

Pemberian nilai pada soal essay umumnya didasarkan pada bobot (weight) yang diberikan untuk setiap butir soal. Misalnya untuk setiap butir diberi skor dari 0 sampai dengan 10 tergantung dari tingkat kebenaran jawabannya, yaitu diberi skor 10 jika jawabannya tepat sama dengan pendapat pemberi skor, diberi skor 5 jika jawabannya setengah benar menurut pendapat pemberi skor, diberi skor 0 jika jawabannya salah sama sekali, dan seterusnya.50 Berikut deskripsi pemberian skor (rubrik) assessement yang berbentuk essay pada Tabel 2. Sedangkan untuk assessement kinerja, skor diberikan berdasarkan rating scala dengan 3 rentangan 6-9, yang ditafsirkan dalam bentuk huruf sebagai berikut: A=6, B=7, C=8, D=9.

Tabel 2. Rubrik untuk assessment essay Kriteria Skor Menampilkan jawaban secara sistematis dari data yang ada sampai data yang dicari Keakuratan penjabaran rumus Ksp sesuai jumlah ion dalam senyawa Kesesuain dalam memasukkan data

pada rumus yang didapat

Keakuratan perhitungan

Keakuratan satuan

10 tepat tepat tepat tepat tepat

9 tepat tepat tepat tepat Kurang tepat

8 tepat tepat tepat Kurang tepat Kurang tepat

7 tepat tepat tepat Kurang tepat Tidak tepat

6 Kurang tepat Kurang tepat Kurang tepat Kurang tepat Tidak tepat

5 Kurang tepat Kurang tepat Kurang tepat Tidak tepat Tidak tepat

4 Kurang tepat Tidak tepat Tidak tepat Tidak tepat Tidak tepat

3 Tidak tepat Tidak tepat Tidak tepat Tidak tepat Tidak tepat

2 Tidak tepat Tidak tepat Tidak tepat - -

1 Tidak tepat Tidak tepat - - -

Keterangan:

Tepat = Jawaban yang benar > 50%

49

Ahmad Sofyan, dkk, Evaluasi Pembelajaran IPA…, h. 23-24

50

Kurang tepat = Jawaban yang benar ± 50% Belum tepat = Jawaban yang benar < 50%51

Di dalam rubrik assessment ini yang diperhatikan yaitu:(1) kespesifikan jawaban yaitu menampilkan jawaban secara utuh dan terstruktur dari data yang sudah ada sampai mencari data yang diperlukan, (2) keakuratan informasi yang diberikan yaitu ketepatan penjabaran rumus yang diperlukan, (3) memperlihatkan pemahaman yang utuh yaitu kesingkronan antara memasukkan data pada rumus yang telah didapat, (4) keakuratan jawaban untuk soal perhitungan, (5) pemberian satuan yang tepat.

Dalam menyusun alat penilaian yang berupa soal tes ada beberapa hal yang harus ditempuh, diantaranya:

a. Menelaah kurikulum dan buku pelajaran agar dapat ditentukan lingkup pertanyaan, terutama materi pelajaran, baik luasnya maupun kedalamanya.

b. Menyusun silabus.

c. Membuat kisi-kisi atau alat penilaian.

d. Menyusun soal-soal berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat. e. Membuat kunci jawaban.

Keberhasilan mengungkapkan hasil dan proses belajar siswa sebagaimana adanya (objektivitas hasil penelitian) sangat bergantung pada kualitas alat penelitian yang digunakan, di samping cara pelaksanaannya. Suatu alat penilaian dikatakan berkualitas baik apabila alat penilaian tersebut memenuhi hal berikut ini, yaitu:

a. Validitas

Validitas berkenaan dengan ketepatan mengukur terhadap konsep yang diukur, sehingga betul-betul mengukur apa yang

51

Ana Ratna Wulan, Panduan Asesmen Praktikum di SMU (Panduan untuk Guru Biologi), (Bandung: UPI, 2003), h. 14

seharusnya diukur.52 Validitas yang digunakan adalah validitas internal yaitu validitas yang dicapai apabila terdapat kesesuaian antara bagian-bagian instrumen dengan instrumen secara keseluruhan.53 Adapun yang dimaksud bagian instrumen dapat berupa butir-butir pertanyaan dari angket atau butir-butir soal tes. Sehubungan dengan ini maka dikenal dengan adanya validasi butir dan validasi faktor. Sebuah instrumen memiliki validitas yang tinggi apabila butir-butir yang membentuk instrumen tersebut tidak menyimpang dari fungsi instrumen. Dan sebuah instrumen dikatakan memiliki validitas yang tinggi apabila faktor-faktor yang merupakan bagian dari instrumen tersebut tidak menyimpang dari fungsi instrumen.

Validitas isi pada umumnya ditentukan melalui pertimbangan para ahli. Tidak ada formula matematis untuk menghitung dan tidak ada cara untuk menunjukkan secara pasti. Tetapi untuk memberikan gambaran bagaimana suatu tes divalidasi dengan menggunakan validasi isi, pertimbangan para ahli tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut. Para ahli, pertama diminta untuk mengamati secara cermat semua item dalam tes yang hendak divalidasi. Kemudian mereka diminta untuk mengoreksi semua item-item yang telah dibuat. Dan pada akhir perbaikan, mereka juga diminta untuk memberikan pertimbangan tentang bagaimana tes tersebut menggambarkan cakupan isi yang hendak diukur. Pertimbangan ahli tersebut biasanya juga menyangkut, apakah semua aspek yang hendak diukur telah dicakup melalui item pertanyaan dalam tes.54

Soal instrumen yang telah divalidasi isi, kemudian dilakukan pengujian validitas butir soal atau butir instrumen dilakukan dengan

52

Anas Sudijono, Pengantar EvaluasiPendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

2007),h. 163

53

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian…, h. 147

54

Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Praktiknya, (Yogyakarta: PT. Bumi Aksara, 2003), Cetakan Pertamah. 123

menghitung koefisien korelasi antara skor butir soal dengan skor total tes. Soal dianggap valid bila skor soal tersebut mempunyai koefisien korelasi signifikan dengan skor total tes.

Jika skor butir soal adalah kontinum (skor butir 0-10) diberi simbol Xi dan skor total tes diberi simbol Xt maka rumus yang digunakan untuk menghitung koefisien korelasi antara skor butir soal dengan skot total tes adalah sebagai berikut:

= 2 t 2 i t i it X X X X r

rit = koefisien korelasi antara skor butir dengan skor total

2 i

X

Σ = jumlah kuadrat deviasi skor dari Xi2

2

t

X = jumlah kuadrat deviasi skor dari Xt2

Xi Xt = jumlah deviasi skor dari XiXt

55

b. Reliabilitas

Reliabilitas menunjuk pada pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik.56 Untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya merupakan rentangan antara beberapa nilai (misalnya 0-10 atau 0-100) atau yang berbentuk skala 1-3, 1-5 atau 1-7 dan seterusnya, yaitu dengan menggunakan rumus Alpha, misalnya angket atau soal bentuk uraian.

Rumus Alpha:

( )

⎥ ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎢ ⎣ ⎡ ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ =

2 1 2 b 11 1 -1 -k k r σ σ Dengan keterangan: 11 r = reliabilitas instrumen

k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

55

Ahmad Sofyan, dkk, Evaluasi Pembelajaran IPA…, h.106

56

2 b

σ = jumlah varians butir

2 1

σ = varians total57 c. Pengujian Taraf Kesukaran

Untuk meghitung taraf kesukaran soal dari suatu tes dipergunakan rumus sebagai berikut:58

N B P=

Keterangan:

P = Proposi (indeks kesukaran)

B = jumlah siswa yang menjawab benar N = Jumlah peserta tes

Kriteria indeks kesukaran: 0,0 – 0,25 = Sukar

0,26 – 0,75 = Sedang 0,76 – 1,0 = Mudah

3. Kuisioner, berupa lembar kisioner yang diisi oleh siswa pada saat awal siklus, akhir assessment, dan akhir siklus.

4. Observer, berupa lembar observasi yang diisi oleh observer pada saat pembelajaran berlangsung.

Dokumen terkait