BAB III METODE PENELITIAN
3.5 Teknik Analisis Bahan Hukum
3.5 Teknik Analisis Bahan Hukum
Berdasarkan bahan hukum yang telah diperoleh melalui studi kepustakaan, maka bahan-bahan hukum tersebut diolah secara kualitatif. Terhadap bahan hukum yang diperoleh ini dilakukan pengklasifikasian untuk mempermudah di dalam mendukung penulisan secara menyeluruh.
29 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Jaminan Fidusia dan Pengikatannya Sebagai Perjanjian Accesoir Dalam Pasal; 8 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998
"Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, bank umum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan".
Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967, secara tersurat jelas-jelas ditekankan keharusan adanya jaminan atas setiap pemberian kredit kepada siapapun. Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 keharusan adanya jaminan terkandung secara tersirat dalam kalimat "keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur..." dan sekaligus mencerminkan apa yang disebut dengan "the five C's of credit" yang salah satunya adalah collateral (jaminan/agunan) yang harus disediakan oleh debitur. Lebih lanjut, jaminan atau agunan ini dapat dilihat pada Penjelasan Pasal 8 Undang-undang tersebut yang menyebutkan bahwa kredit yang diberikan oleh bank mengandung resiko sehingga dalam pelaksanaannya bank harus memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat.
30 Untuk memperoleh keyakinan tersebut, sebelum memberikan kredit bank harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari debitur. Mengingat bahwa agunan menjadi salah satu unsur jaminan pemberian kredit, maka apabila berdasarkan unsur-unsur lain telah dapat diperoleh keyakinan atas kemampuan debitur mengembalikan utangnya, jaminan/agunan hanya dapat berupa barang, proyek, atau hak tagih yang dibiayai dengan kredit bersangkutan. (Wawancara tanggal 7 Juni 2011)
Pada pokoknya terdapat 2 (dua) asas pemberian jaminan jika ditinjau dari sifatnya, yaitu:22
1. Jaminan yang bersifat umum
Yaitu jaminan yang diberikan oleh debitur kepada setiap kreditur, hak-hak tagihan mana tidak mempunyai hak-hak saling mendahului (konkuren) antara kreditur yang satu dengan kreditur lainnya.
2. Jaminan yang bersifat khusus
Yaitu jaminan yang diberikan oleh debitur kepada setiap kreditur, hak-hak tagihan mana tidak mempunyai hak-hak mendahului sehingga ia berkedudukan sebagai kreditur privilege (hak preverent).
Yang dimaksud dengan jaminan itu sendiri adalah tanggungan yang diberikan oleh debitur atau pihak ketiga kepada kreditur karena pihak kreditur mempunyai suatu kepentingan bahwa debitur harus memenuhi kewajibannya
22H.R. Daeng Naja. Hukum Kredit dan Bank Garansi The Bankers Hand Book. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005. h. 207-208.
31 dalam suatu perikatan. Dari pengertian tersebut, maka lebih lanjut dapat dijabarkan sebagai berikut :23
a. Jaminan yang diberikan kepada kreditur tersebut, baik berupa hak kebendaan maupun hak perorangan.24
b. Jaminan yang diberikan kepada kreditur tersebut dapat diberikan oleh debitur sendiri maupun pihak ketiga yang disebut juga penjaminan atau penanggung. Jaminan perorangan ataupun penanggungan utang selalu diberikan pihak ketiga kepada kreditur penanggungan mana diberikan, baik dengan sepengetahuan ataupun tanpa sepengetahuan debitur yang bersangkutan.
c. Jaminan yang diberikan kepada kreditur tersebut untuk keamanan dan kepentingan kreditur haruslah diadakan dengan suatu perikatan khusus, perikatan mana bersifat accessoir dari perjanjian kredit atau pengakuan utang yang diadakan antara debitur dan kreditur.
Pada prinsipnya tidak selalu suatu penyaluran kredit harus dengan jaminan kredit sebab jenis usaha dan peluang bisnis yang dimiliki pada dasarnya sudah merupakan jaminan terhadap prospek usaha itu sendiru. Namun, suatu kredit dilepas tanpa agunan maka memiliki resiko yang sangat besar, jika investasi yang dibiayai mengalami kegagalan atau tidak sesuai dengan perhitungan semula. Jika
23Ibid.
24Hak kebendaan adalah berupa benda berwujud dan benda tidak berwujud, benda bergerak maupun benda tidak bergerak. Sedangkan hak perorangan tidak lain adalah penanggungan utang, yang diatur dalam Pasal 1820-PasaI 1850 KUH Perdata.
32 hal ini terjadi, pihak bank tentu akan sangat dirugikan sebab dana yang disalurkan memiliki peluang tidak dikembalikan debitur.
Apa yang dikemukakan di atas berarti bahwa kredit tersebut macet tanpa ada asset dari nasabah yang dapat menutupi kredit yang tidak terbayarkan.
Sementara itu jika ada agunan pihak bank dapat menarik kembali dananya dengan memanfaatkan jaminan tersebut.
Pada dasarnya, jaminan kredit oleh calon debitur/debitur diharapkan dapat membantu memperlancar proses analisis pemberian kredit dari bank, yang dengan demikian jaminan kredit atau collateral tersebut haruslah:25
a. Secured, artinya jaminan kredit tersebut dapat diadakan pengikatannya secara yuridis formal, sesuai dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian apabila di kemudian hari terjadi wanprestasi dari debitur, bank telah mempunyai alat bukti yang sempurna dan lengkap untuk menjalankan suatu tindakan hukum.
b. Marketable, artinya apabila jaminan tersebut harus, perlu, dan dapat dieksekusi, jaminan kredit tersebut dapat dengan mudah dijual atau diuangkan untuk melunasi utang debitur.
Jaminan yang dimaksud dalam skripsi ini adalah jaminan benda bergerak yaitu kendaraan bermotor. Telah dibawa sebelumnya bahwa jaminan yang diberikan kepada kreditur tersebut untuk keamanan dan kepentingan kreditur haruslah diadakan dengan suatu perikatan khusus, perikatan mana bersifat
25H.R. Daeng Naja. op.cit. h. 209.
33 accessoir dari perjanjian kredit atau pengakuan utang yang diadakan antara debitur dan kreditur.
Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia bahwa pembebanan benda dengan jaminan fidusia dibuat dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia dan merupakan Akta Jaminan Fidusia. Kemudian lebih lanjut Pasal 9 Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 menyebutkan bahwa:
(1) Jaminan Fidusia dapat diberikan terhadap satu atau lebih satuan atau jenis benda, termasuk piutang, baik yang telah ada pada saat jaminan diberikan maupun yang diperoleh kemudian;
(2) Pembebanan jaminan atas benda atau piutang yang diperoleh kemudian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak perlu dilakukan dengan perjanjian jaminan tersendiri.
Dengan adanya ketentuan Pasal 9 ini, maka piutang yang dulunya diikat dengan akta "cessie jaminan atas piutang" (fiduciary assignment of receivables), sekarang menjadi objek jaminan fidusia sehingga pengikatannya adalah dengan Perjanjian kredit dan perjanjian pengakuan utang dijadikan dalam satu akta yaitu Perjanjian Pengakuan Utang. Jadi setelah Perjanjian Pengakuan Utang ditandatangani para pihak, barulah akta perjanjian fidusia dibuat untuk selanjutnya didaftarkan, sehingga perjanjian jaminan fidusia adalah perjanjian ikutan sama seperti hak tanggungan, hipotik, dan gadai.
Pasal 4 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia menyebutkan bahwa jaminan fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi
34 suatu prestasi. Dengan demikian untuk membuat suatu perjanjian jaminan fidusia terlebih dahulu haruslah ada perjanjian pokok, yang pada Bank Prima Master disebut Perjanjian Pengakuan Utang.
Menurut H.R. Daeng Naja hal-hal yang perlu diketahui dan diperhatikan oleh aparat perkreditan bank dalam hal pembebanan fidusia terhadap suatu jaminan, antara lain sebagai berikut:
a) Keharusan adanya perjanjian kredit sebagai perjanjian pokok yang mendahului perjanjian jaminan fidusia;
b) Akta perjanjian jaminan fidusia harus dibuat dalam bentuk akta notaris, sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Fidusia;
c) Benda yang dibebani dengan jaminan fidusia wajib didaftarkan, sebagaimana ditentukan oleh Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Fidusia karena terjadi atau lahirnya jaminan fidusia pada tanggal tercatatnya jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia, sebagaimana diatur dalam Pasal 14 ayat (3) Undang-Undang Fidusia.
Menurut Ibu Made Dwi Marini Putri, SH, Staff Sub Bidang Pelayanan Jasa Hukum pada Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Kantor Wilayah Denpasar bahwa permohonan pendaftaran jaminan fidusia dilakukan oleh penerima fidusia, kuasa, atau wakilnya dengan melampirkan pernyataan pendaftaran jaminan fidusia, yang memuat:
a) Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia;
35 b) Tanggal, nomor akta jaminan fidusia, serta nama dan tempat
kedudukan notaris yang membuat akta jaminan fidusia;
c) Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia;
d) Uraian mengenai benda yang menjadi objek jaminan fidusia;
e) Nilai penjaminan; dan
f) Nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
Dari permohoaan pendaftaran tersebut, Kantor Pendaftaran Fidusia mencatat jaminan fidusia dalam Buku Daftar Fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan tersebut. Kemudian, Kantor Pendaftaran Fidusia menerbitkan dan menyerahkan kepada penerima fidusia sertifikat jaminan fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan saat itulah lahir atau terjadinya fidusia.
Jadi, apabila benda jaminan fidusia tidak didaftarkan pada Kantor Pendaftaran Fidusia, walaupun telah dibuatkan akta jaminan fidusia secara notariil, belum terjadi fidusia atau belumlah ada jaminan bagi bank sebagai pemegang fidusia. Yang dimaksud para pihak dalam perjanjian fidusia di sini adalah antara pemberi fidusia atau debitur dan penerima fidusia atau kreditur/bank. Adapun hak dan kewajiban para pihak tersebut, antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Hak dan kewajiban pemberi fidusia a. Hak pemberi fidusia
36 1) Ia berhak menguasai benda yang menjadi objek jaminan fidusia, untuk menunjang kelangsungan usahanya, bahkan memperjualbelikannya jika itu adalah stok barang dagangan;
2) Ia berhak meminta atau menerima sisa hasil penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia, setelah dikurangi dengan pembayaran pelunasan utang-utangnya.
b. Kewajiban pemberi fidusia
1) Ia berkewajiban memelihara dan menjaga keselamatan benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
2) Ia berkewajiban melaporkan keadaan benda yang menjadi objek jaminan fidusia, utamanya untuk barang yang diperdagangkan atau stok barang dagangan.
3) Ia berkewajiban menyerahkan benda yang menjadi objek jaminan fidusia dalam rangka pelaksanaan eksekusi jaminan fidusia.
4) Ia berkewajiban membayar seluruh utang sampai lunas, terutama dari hasil penjualan barang jaminan yang difidusiakan, apabila ia wanprestasi.
2. Hak dan kewajiban penerima fidusia a. Hak penerima fidusia
1) Ia berhak mengawasi benda yang menjadi objek jaminan fidusia, sebagaimana hak yang telah diberikan kepadanya sebagai pemilik atas barang jaminan tersebut.
37 2) Ia berhak menjual benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaannya sendiri melalui pelelangan umum jika debitur/pemberi fidusia wanprestasi.
3) Ia berhak mengambil pelunasan dari hasil penjualan atas benda yang menjadi objek jaminan fidusia, jika debitur/pemberi fidusia wanprestasi.
b. Kewajiban penerima fidusia
1) Ia berkewajiban memberikan kekuasaan kepada pemberi fidusia/debitur atas benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
2) Ia berkewajiban menyerahkan kelebihan dari harga hasil penjualan atas benda yang menjadi objek jaminan fidusia setelah dikurangi utang debitur/pemberi fidusia.
4.2 Hubungan Hukum Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Sebagai Perjanjian Standar dengan Jaminan Fidusia
Pemberian kredit merupakan kegiatan yang sangat pokok dari suatu bank.
Beberapa pakar mengatakan bahwa fungsi tradisional bank adalah menghimpun dana-dana dari masyarakat dan menyalurkan dana kepada masyarakat26. Penyaluran dana kepada masyarakat yang dimaksudkan di atas pada umumnya dilakukan dalam bentuk pemberian kredit, baik itu berupa kredit modal kerja maupun kredit investasi.
26Neni Sri Iraaniyati, op.cit. h. 139.
38 Menurut Noan Webster 1972 yang dikutip Munir Fuady mengatakan bahwa kredit berasal dari kata "creditus" yang berarti kepercayaan, merupakan bentuk past principle dari kata credere yang berarti "to trust" (kepercayaan)27. Dalam bahasa latin kredit disebut "credere" yang artinya percaya. Maksudnya si pemberi kredit percaya kepada si penerima kredit, bahwa kredit yang akan disalurkanya pasti akan dikembalikan sesuai dengan perjanjian. Sedangkan bagi si penerima kredit berarti menerima kepercayaan, sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar kembali pinjaman tersebut sesuai dengan jangka waktu28. Jadi dapat disimpulkan bahwa unsur utama dari kredit adalah kepercayaan.
Kepercayaan mengandung arti bahwa pihak yang memberikan kredit (kreditur) percaya bahwa penerima kredit (debitur) akan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah diperjanjikan29.
Pengertian kredit menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Pasal 1 angka (11):
Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang menjanjikan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
27 Munir Fuady. op. cit. h. 5.
28Kasmir. op.cit . h. 2.
29Muhamad Djumhana. op.cit. h. 217.
39 Secara sederhana dapat pula dikemukakan, bahwa kredit adalah kepercayaan dari atau saling percaya antara kreditur dan debitur. Jadi apa yang telah disepakati wajib ditaati30.
Perjanjian kredit pada perbankan merupakan salah satu contoh bentuk perjanjian standard. Dalam pelaksanaan pemberian kredit, perjanjian kredit pada dasarnya melibatkan 2 pihak, yaitu pihak kreditur (bank), dan pihak peminjam dana (debitur). Mengenai para pihak, hubungan maupun kedudukan para pihak dapat dilihat melalui Gambar di bawah ini:
Penyaluran Kredit
30Sentosa Sembiring. Hukum Perbankan. CV. Mandala Maju, Bandung. 2008. h. 51.
Perbankan
(Kreditur) Debitur
Perjanjian Pengakuan Utang dan Akta Jaminan Fidusia
40 Adanya kesepakatan
Dari diagram di atas dapat dijelaskan mengenai hubungan para pihak dalam perjanjian kredit dengan jaminan fidusia adalah sebagai berikut:
Hubungan pihak kreditur dengan debitur dalam perjanjian kredit
Hubungan antara pihak kreditur dengan debitur adalah hubungan kontraktual dalam hal ini kontrak pembiayaan dalam bentuk kredit. Di mana pihak pemberi biaya sebagai kreditur dan pihak penerima biaya sebagai pihak debitur.
Pihak kreditur berkewajiban utama dalam memberi sejumlah uang untuk modal kerja dan/atau modal investasi (hal ini tergantung dari kesepakatan para pihak), sementara pihak debitur berkewajiban utama untuk membayar kembali uang tersebut secara cicilan atau angsuran kepada pihak kreditur. Jadi hubungan kontraktual antara pihak penyedia dana dengan pihak konsumen adalah perjanjian kredit. Sehingga ketentuan-ketentuan tentang perjanjian kredit (dalam KUHPerdata) dan ketentuan perkreditan yang diatur dalam peraturan perbankan secara yuridis formal berlaku karena pihak pemberi biaya adalah pihak bank sehingga selain tunduk pada ketentuan KUHPerdata juga tunduk pada peraturan perbankan yang berlaku.
Dengan demikian, sebagai konsekuensi yuridis dari perjanjian kredit tersebut, maka setelah seluruh perjanjian kredit ditandatangani dan dana sudah
Pengikatan Secara Notariil
Perjanjian Kredit di Bawah Tangan
41 dicairkan, maka dana tersebut dapat langsung digunakan oleh debitur sesuai dengan kebutuhanya, dan pihak kreditur berhak dan berkewajiban mendaftarkan jaminan benda bergerak debitur dalam perjanjian fidusia. Namun setelah perjanjian kredit tersebut diselesaikan oleh pihak debitur kepada kreditur maka hubungan kontraktual dalam hal ini perjanjian kredit antara kreditur dan debitur akan berakhir.
4.3 Kedudukan Hukum Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Sebagai Perjanjian Standar dengan Jaminan Fidusia
Perjanjian kredit dengan jaminan fidusia disusun atau dibuat oleh pihak kreditur pada umumnya berbentuk perjanjian standar yang dilengkapi dengan klausula eksonerasi yang memberatkan pihak debitur. Isi dari perjanjian standar kredit dengan jaminan fidusia umumnya tidak seimbang.
Dalam prakteknya baik format maupun isi perjanjian kredit dengan jaminan fidusia telah ditentukan oleh bank selaku kreditur dan kurang adanya gentlemen agrrement dari pihak kreditur. Hal ini juga berlaku bagi perjanjian kredit dengan jaminan fidusia milik Bank Prima Master. Sebagai contoh isi perjanjian kredit dengan jaminan fidusia milik Bank Prima Master yang memberatkan debitur dan sebaliknya menguntungkan pihak bank (kreditur). Hal tersebut tentunya menunjukkan ketidakseimbangan yang berarti kedudukan hukum masing-masing para pihak tidaklah sama, di mana kedudukan hukum
42 pihak debitur yang tidak lain adalah peminjam dana lebih lemah dibanding pihak kreditur yaitu pihak bank selaku penyedia dana.
Ketidakseimbangan ini dapat dilihat dari banyaknya kewajiban pihak debitur dan sedikitnya hak yang diperoleh oleh pihak debitur dan sebaliknya.
Namun bisnis pembiayaan ini tetap tumbuh pesat, walaupun terjadi ketidakseimbangan kedudukan debitur tetap menggunakan jasa lembaga ini untuk memenuhi kebutuhannya.
Walaupun tidak adanya gentlemen agrrement dari pihak pengembang dan lemahnya posisi debitur dalam perjanjian standard kredit dengan jaminan fidusia namun hal ini tentunya tidak bisa hanya disalahkan hanya pada pihak bank (kreditur) saja karena pihak debitur kerap kali mengabaikan isi perjanjian kredit tersebut, tanpa harus memahami secara rinci biasanya pihak debitur langsung menandatangani perjanjian standard yang disodorkan pihak kreditur tanpa membacanya dengan seksama karena faktor kebutuhan dan keinginan pihak debitur akan kredit yang diajukanya cepat cair.
Dengan demikian pihak kreditur lebih tinggi karena sebagai pihak yang membuat perjanjian standard kredit tersebut dan sekaligus sebagai pemilik modal.
Kemudian kedudukan pihak debitur yang lebih lemah karena sebagai pihak yang membutuhkan kredit hanya memiliki dua pilihan menerima atau menolak perjanjian tersebut dan sebagai konsekuensi apabila pihak debitur menerimanya maka pihak debitur harus mematuhi seluruh ketentuan yang pertuang dalam isi
43 perjanjian. Dalam hal ini memang seolah-olah hanya pihak debitur selaku yang meminjam dana terlihat dirugikan, namun sebenarnya tidaklah begitu.
44 BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
5.1.1 Hubungan hukum para pihak dalam perjanjian kredit sebagai perjanjian standar dengan perjanjian fidusia adalah adanya hak dan kewajiban yang satu pihak sebagai kreditur yang berhak atas pretasi dan adanya pihak debitur sebagai pihak yang harus memenuhi prestasi dalam perjanjian tersebut.
5.1.2 Kedudukan para pihak dalam perjanjian kredit sebagai perjanjian standar dengan jaminan fidusia adalah dimana pihak kreditur mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dan kuat dalam pemenuhan prestasi, sedangkan pihak kreditur lebih lemah kedudukannya, jadi terjadi kedudukan yang tidak seimbang, tetapi dikarenakan debitur telah menandatangani perjanjian standar, sehingga dianggap menyetujui isi perjanjian tersebut.
5.2 Saran-Saran
5.2.1 hendaknya debitur benar-benar mengetahui akibat dari hubungan hukum yang telah dilakukannya. Dan mematuhi akibat yang ditimbulkan dari pengikaran tersebut.
5.2.2 Hendaknya kreditur dalam membuat isi dari perjanjian baru atau standar juga memperhatikan azas keadilan dan keseimbangan bagi pihak debitur.
45 DAFTAR BACAAN
BUKU
Bambang Sunggono. Metode Penelitian Hukum. Rajawali Pers PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2010.
Burhan Ashsofa. Metode Penelitian Hukum. Rineka Cipta, Jakarta. 2001.
E. H. Hondius. Syarat-Syarat Baku dalam Hukum Kontrak. Compedium Hukum Belanda. 1978.
Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani. Jaminan Fidusia. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2000.
Henry P. Penggabean. Penyalahgunaan Keadaan Sebagai Alasan (Baru) untuk Pembatalan Perjanjian. Liberty, Yogyakarta. 1992.
H.R. Daeng Naja. Hukum Kredit dan Bank Garansi The Bankers Hand Book.
Citra Aditya Bakti, Bandung. 2005.
H.R, Otje Salman S. dan Anthon F. Susanto. Teori Hukum: Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka Kembali. Refika Aditama, Bandung. 2008.
Johanes Gunawan. Kapita Selekta Hukum Perikatan. Universitas Parahyangan, Bandung. 1992.
J. Satrio. Janji-Janji (Bedingeng) dalam Akta Hipotek dan Hak Tanggungan.
Media Notarial Edisi Januari-Maret. Jakarta: Ikatan Notaris Indonesia.
2002.
Kasmir. Dasar-Dasar Perbankan. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2002.
Kartini Mulyadi, Gunawan Widjaya. Beri Hukum Perikatan-perikatan yang Lahir dari Perjanjian. PT. Raja Grafindo. 2003.
46 Mariam Darus Badrulzaman. Aspek-Aspek Hukum Perlindungan Konsumen.
Makalah yang Disampaikan pada Simposium Perlindungan Konsumen.
BPHN Departemen Kehakiman RI, Jakarta. 1980.
________________________. Perjanjian Baku (Standard) dan Perkembangannya di Indonesia. USU. 1980.
Muhamad Djumhana. Hukum Perbankan di Indonesia. Citra Aditya Bhakti, Bandung. 2000.
Munir Fuady. Hukum Perkreditan Kontemporer. Citra Aditya Bhakti, Bandung.
1996.
Nasution Bahder Johan. Metode Penelitian Ilmu Hukum. Mandar Maju, Bandung.
2008.
Neni Sri Imaniyati. Pengantar Hukum Perbankan Indonesia. Refika Aditama, Bandung. 2010.
Oey Hoey Tiong. Fidusia Sebagai Jaminan Unsur-Unsur Perikatan. Ghalia Indonesia, Jakarta. 1984.
Rachmadi Usman. Hukum Jaminan Keperdataan. Sinar Grafika. 2008.
R. Subekti. Aneka Perjanjian. Aditya Baku, Bandung. 1995.
________. Hukum Perjanjian. Intermasa, Jakarta. 1991.
________. Pokok-Pokok Hukum Perdata. PT. Internusa, Jakarta. 1994.
Salim H.S. Perkembangan Hukum Kontrak di Luar KUHPerdata. Buku Kesatu.
PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2006.
Sentosa Sembiring. Hukum Perbankan. CV. Mandala Maju, Bandung. 2008.
Soetandyo Wignjosoebroto. Hukum: Paradigma, Metode dan Dinamika Masalahnya. ELSAM-HUMA, Jakarta. 2002.
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif. Rajawali Press, Jakarta. 1990.
47 Soerjono Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum. Penerbit Universitas Indonesia
(UI-Press), Jakarta. 2007.
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan. Beberapa Masalah Pelaksanaan Lembaga Jaminan Khususnya Fiducia di dalam Praktik dan Pelaksanaan di Indonesia. Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sudaryatmo. Hukum dan Advokasi Konsumen. PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
1999.
Sudikno Mertokusumo. Mengenal Hukum. Liberty, Yogyakarta. 1998.
Sutan Remy Sjahdeini. Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia. IBI, Jakarta.
1993.
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Terjemahan Subekti, R dan Tjitrosudibyo, Pradnya Paramita, Jakarta. 2000.
Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan, Lembar Negara Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembar Negara Nomor 3472, sebagaimana diubah menjadi Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perbankan, Lembar Negara Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembar Negara Nomor 3790.
Undang-Undang Nomor 42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, Lembar Negara Tahun 1999 Nomor 168.
48