• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................. 50-58

G. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Metode analisis dalam penelitian ini adalah analisis Structural Equation Modeling (SEM) dengan menggunakan software Partial Least Square (PLS).

Analisis SEM adalah gabungan antara regresi ganda dan variabel laten yang dibangun dengan analisis faktor dari indikator atas variabel laten tersebut (Noor, 2011:226).

Menurut Hox & Bechger (2002), analisis SEM mengombinasikan analisis faktor dan analisis jalur. SEM dapat melakukan pengujian secara bersama-sama, yaitu model struktural yang mengukur hubungan antara variabel dependen dan independen konstruk, serta model measurement yang mengukur hubungan (nilai loading) antara variabel indikator dengan konstruk (variabel laten). Dengan menggabungkan pengujian model struktural dan pengukuran tersebut memungkinkan peneliti untuk menguji kesalahan pengukuran (measurement error) sebagai bagian yang yang tak terpisahkan dari SEM dan melakukan analisis faktor bersamaan dengan pengujian hipotesis.

Penggunaan Partial Least Square bertujuan untuk melakukan prediksi hubungan antarkonstruk. Selain itu PLS juga membantu bagi peneliti untuk mendapatkan nilai variabel laten yang bertujuan untuk melakukan prediksi.

Adapun analisis data dalam penelitian ini terdiri dari:

1. Analisa Model Pengukuran (Outer Model)

Husein (2015) mengatakan bahwa analisa outer model dilakukan untuk memastikan measurement yang digunakan layak untuk dijadikan pengukuran (valid dan reliabel). Analisa model ini memiliki spesifikasi hubungan antar variabel laten dengan indikator-indikatornya. Analisa outer model dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain:

a. Convergent validity

Indikator yang dinilai berdasarkan korelasi antara item score/component score dengan construct score, yang dapat dilihat dari standardized loading factor yang mana menggambarkan besarnya korelasi antar setiap item pengukuran (indikator) dengan konstraknya. Ukuran refleksif individual dikatakan tinggi jika berkorelasi > 0.7 dengan konstruk yang ingin diukur, sedangkan menurut Chin yang dikutip oleh Imam Ghozali, nilai outer loading antara 0,5 – 0,6 sudah dianggap cukup.

b. Discriminant validity

Model pengukuran dengan refleksif indikator dinilai berdasarkan cross loading pengukuran dengan konstruk. Jika korelasi konstruk dengan item pengukuran lebih besar daripada ukuran konstruk lainnya, maka menunjukan ukuran blok mereka lebih baik dibandingkan dengan blok lainnya. Sedangkan menurut metode lain untuk menilai discriminant validity yaitu dengan membandingkan nilai squareroot of average variance extracted (AVE).

57

c. Composite reliability

Indikator untuk mengukur suatu konstruk yang dapat dilihat pada view latent variable coefficients. Untuk mengevaluasi composite reliability terdapat dua alat ukur yaitu internal consistency dan cronbach’s alpha. Dalam pengukuran tersebut apabila nilai yang dicapai adalah > 0,70 maka dapat dikatakan bahwa konstruk tersebut memiliki reliabilitas yang tinggi.

d. Cronbach’s Alpha

Uji reliabilitas yang dilakukan memperkuat hasil dari composite reliability.

Suatu variabel dapat dinyatakan reliabel apabila memiliki nilai cronbach’s alpha

> 0,7.

Uji yang dilakukan diatas merupakan uji pada outer model untuk indikator reflektif. Untuk indikator formatif dilakukan pengujian yang berbeda. Uji untuk indikator formatif menurut Husein (2015) antara lain:

a) Significance of weights. Nilai weight indikator formatif dengan konstruknya harus signifikan.

b) Multicollinearity. Uji multicollinearity dilakukan untuk mengetahui hubungan antar indikator. Untuk mengetahui apakah indikator formatif mengalami multicollinearity dengan mengetahui nilai VIF. Nilai VIF antara 5-10 dapat dikatakan bahwa indikator tersebut terjadi multicollinearity.

2. Analisa Model Struktural (Inner Model)

Analisa Inner model menggambarkan hubungan antara variabel laten berdasarkan. Analisa inner model dapat dievaluasi dengan menggunakan R-square untuk konstruk dependen, Stone-Geisser Q-square test untuk predictive relevance dan uji t serta signifikansi dari koefisien parameter jalur struktural. Dalam mengevaluasi inner model dengan PLS dimulai dengan cara melihat R-square untuk setiap variabel laten dependen. Perubahan nilai pada R-square digunakan untuk menilai pengaruh variabel laten independen terhadap variabel laten dependen. Selain melihat nilai R-square, juga dapat dievaluasi dengan melihat nilai Q-square prediktif relevansi untuk model konstruktif. Q-square mengukur seberapa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan estimasi parameternya. Nilai Q-square lebih besar dari 0 (nol) menunjukkan bahwa model mempunyai nilai predictive relevance, sedangkan apabila nilai Q-square kurang dari 0 (nol), maka menunjukkan bahwa model kurang memiliki predictive relevance.

3. Pengujian Hipotesis

Hipotesis dapat diuji menggunakan nilai t-statistik dan nilai probabilitas.

Maka untuk alpha 5% nilai t-statistik yang digunakan adalah 1,96. Sehingga kriteria penerimaan/penolakan hipotesa adalah Ha diterima dan H0 di tolak ketika t-statistik >

1,96. Untuk menolak/menerima hipotesis menggunakan probabilitas maka Ha di terima jika nilai p < 0,05 (Husein, 2015).

59 BAB IV

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Objek Penelitian

1. Gambaran Umum Pengadilan Agama Sungguminasa

Pada mulanya Kabupaten Gowa adalah sebuah Kerajaan di Sulawesi Selatan yang turun temurun diperintah oleh seorang Kepala pemerintah disebut “Somba” atau

“Raja”. Daerah TK.II Gowa pada hakikatnya mulai terbentuk sejak beralihnya pemerintah Kabupaten Gowa menjadi Daerah TK.II yang didasari oleh terbitnya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1959 Tentang Pembentukan Daerah TK.II, Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, yang diperkuat Undang–Undang Nomor 2 Tahun 1959 Tentang Pembentukan Daerah TK.II di Sulawesi (Tambahan Lembaran Negara RI No. 1822). Kepala Daerah TK.II Gowa yang pertama “Andi Ijo Dg Mattawang Karaeng Lalowang “ yang juga disebut nama Sultan Muhammad Abdul Kadir Aididdin Tumenanga Rijongaya, dan merupakan Raja Gowa yang terakhir (Raja Gowa ke XXXVI).

Somba sebagai Kepala pemerintah Kabupaten Gowa didampingi oleh seorang pejabat di bidang agama Islam yang disebut “kadi” (Qadli). Meskipun demikian tidak semua Somba yang pernah menjadi Raja Gowa didampingi oleh seorang Qadli, hanya ketika agama Islam mulai menyebar secara merata dianut oleh seluruh rakyat kerajaan Gowa sampai ke pelosok-pelosok desa, yaitu sekitar tahun 1857 M. Qadli pertama yang diangkat oleh Raja Gowa bernama Qadli Muhammad Iskin. Qadli pada

waktu itu berfungsi sebagai penasehat Kerajaan atau Hakim Agama yang bertugas memeriksa dan memutus perkara-perkara di bidang agama, demikian secara turun-temurun mulai diperkirakan tahun 1857 sampai dengan Qadli yang keempat tahun 1956.

Berdasarkan SK Menteri Agama Nomor 87 Tahun 1966 tanggal 3 Desember 1966, maka Pengadilan Agama / Mahkamah Syariah Sungguminasa secara resmi dibentuk dan menjalankan tugas-tugas peradilan sebagaimana yang ditentukan didalam Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1957. Peresmian Pengadilan Agama / Mahkamah Syariah Sungguminasa ialah pada tanggal 29 Mei 1967. Sejak tanggal 29 Mei 1967 tersebut dapat dipimpin oleh Ketua Pengadilan Agama/ Mahkamah Syariah K.H. Muh. Saleh Thaha (1967 s/d 1976) Pengadilan Agama / Mahkamah Syariah Sungguminasa menjalankan kekuasaan kehakiman di bidang Agama membawahi 18 Kecamatan yang terdiri dari 46 Kelurahan dan 123 Desa.

2. Visi dan Misi Instansi a. Visi

Terwujudnya Lembaga Pengadilan Agama Sungguminasa SA kelas 1B yang agung.

b. Misi

 Menjaga kemandirian Pengadilan Agama Sungguminasa

 Memberikan pelayanan hukum bagi pencari keadilan

61

 Meningkatkan kredibilitas dan transparansi Pengadilan Agama Sungguminasa

 Meningkatkan kinerja Pengadilan Agama Sungguminasa yang berbasis teknologi informasi

3. Strukur Organisasi Gambar 2:

Tugas Pokok dan Fungsi Ketua:

Merencanakan dan melaksanakan tugas pokok dan fungsi Peradilan Agama serta mengawasi, mengevaluasi dan melaporkan pelaksanaan tugas sesuai dengan

KETUA

kebijaksanaan teknis Dirjen Pembinaan Pengadilan Agama Islam serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tugas Pokok dan Fungsi Ketua antara lain:

1. Memimpin pelaksanaan tugas Pengadilan Agama Sungguminasa

2. Membuat perencanaan/program kerja menetapkan sasaran dan menjadwalkan rencana kegiatan setiap tahun kegiatan dan melakukan pengawasan atas pelaksanaannya dengan baik serasi dan selaras

3. Membagi tugas dan menentukan penanggungjawab secara jelas dalam rangka mewujudkan keserasian dan kerja sama antar sesama pejabat, menggerakan dan mengarahkan pelaksanaannya dilingkungan Pengadilan Agama Sungguminasa

4. Menyelenggarakan administrasi peradilan baik administrasi perkara maupun umum dan mengawasi keuangan perkara maupun rutin/pembangunan

5. Melaksanakan pertemuan berkala setidak-tidaknya sekali dalam sebulan dengan para hakim serta dengan para pejabat lainnya baik struktural maupun fungsional dan sekurang-kurangnya 3 bulan sekali dengan seluruh karyawan 6. Memberi petunjuk dan bimbingan yang diperlakukan baik bagi para hakim,

pejabat lainnya maupun seluruh karyawan

7. Mempersiapkan kader dalam rangka menghadapi alih generasi

63

Tugas Pokok dan Fungsi Wakil Ketua:

Mencatat dan meneliti berkas perkara yang diterima, menentukan hari sidang, menyidangkan perkara, membuat keputusan/penetapan, mengevalusi dan menyelesaikan perkara yang ditangani serta melaksanakan tugas khusus dan melaporkan pelaksanaan tugas kepada Ketua Pengadilan Agama Sungguminasa.

Tugas Pokok dan Fungsi Wakil Ketua Antara lain:

1. Melaksanakan tugas-tugas ketua apabila ketua berhalangan

2. Membantu ketua dalam menyusun program kerja jangka pendek dan jangka panjang, pelaksanaan dan pengorganisasian

3. Mengkoordinir pelaksanaan pengawasan peningkatan disiplin kerja

4. Memeriksa, mengadili dan memutus perkara yang diberikan ketua untuk diselesaikan secara sederhana, cepat dengan biaya ringan

5. Memimpin sidang-sidang, dan meneliti perkara yang ditanganinya sebelum perkara di sidangkan serta memasukkannya dalam buku kalender persidangan

6. Menetapkan hari sidang, menetapkan sita jaminan dan memerintahkan juru sita pengganti untuk melakukan pemanggilan dan peletakan sisa

7. Meningkatkan kemampuan dibidang penanganan perkara untuk meningkatkan mutu penetapan atau putusan

Tugas Pokok dan Fungsi Hakim:

Mencatat dan meneliti berkas perkara yang diterima, menentukan hari sidang, menyidangkan perkara, membuat keputusan/penetapan, mengevalusi dan menyelesaikan perkara yang ditangani serta melaksanakan tugas khusus dan melaporkan pelaksanaan tugas kepada Ketua Pengadilan Agama Sungguminasa.

Tugas Pokok dan Fungsi Hakim antara lain:

1. Memimpin/mengikuti sidang-sidang sebagai ketua majelis/anggota.

2. Selaku Ketua Majelis menetapkan Hari Sidang.

3. Menetapkan Sita Jaminan atas perkara yang ditangani.

4. Mengonsep Putusan/Penetapan dan memarafnya.

5. Memonitoring perkara-perkara tundaan yang menjadi wewenangnya untuk diproses lebih lanjut dengan dibantu oleh Panitera Pengganti.

6. Meneliti ketikan Putusan/Penetapan dan memarafnya.

Tugas Pokok dan Fungsi Panitera:

Merencanakan dan melaksanakan pemberian pelayanan teknis dibidang administrasi perkara, di lingkungan Pengadilan Agama Sungguminasa serta mengawasi, mengevaluasi dan melaporkan pelaksanaan tugas sesuai dengan kebijaksanaan teknis Ketua Pengadilan Agama Sungguminasa berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

65

Tugas Pokok dan Fungsi Sekertaris:

1. Membantu pimpinan dalam penyelenggarakan administrasi umum.

2. Memimpin pelaksanaan tugas kesekretariatan.

3. Menetapkan sasaran kegiatan kesekretariatan setiap tahun kegiatan.

4. Menyusun dan menjadwalkan rencana kegiatan.

5. Membagi tugas pada kasubag.

6. Menyusun proyeksi penerimaan biaya kepaniteraan dan rencana penggunaannya, dan menyampaikannya kepada Tim Pengelola setingkat lebih tinggi sebagai bahan penyusunan RKK AKL.

Tugas Pokok dan Fungsi Panitera Muda Gugatan:

Merencanakan dan melaksanakan urusan kepaniteraan gugatan, melakukan administrasi perkara, mempersiapkan persidangan perkara, menyimpan berkas perkara yang masih berjalan dan urusan lain yang berhubungan dengan gugatan di lingkungan Pengadilan Agama serta mengawasi, mengevaluasi dan melaporkan pelaksanaan tugas sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Agama Sungguminasa berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tugas Pokok dan Fungsi Panitera Muda Gugatan antara lain:

1. Membantu tugas-tugas wakil panitera dalam penyelenggarakan administrasi kepaniteraan gugatan

2. Membantu hakim dengan mengikuti dan mencatat jalannya persidangan pengadilan agama

3. Memberi nomor register pada setiap perkara gugatan yang diterima di Kepaniteraan

4. Mencatat setiap perkara gugatan yang diterima kedalam buku daftar disertai catatan singkat tentang isinya

5. Memimpin satuan kerja bagian kepaniteraan gugatan Tugas Pokok dan Fungsi Panitera Muda Permohonan:

Merencanakan dan melaksanakan urusan kepaniteraan permohonan, melakukan administrasi perkara, mempersiapkan persidangan perkara, menyimpan berkas perkara yang masih berjalan dan urusan lain yang ada hubungannya dengan perkara perdata di lingkungan Pengadilan Agama serta mengawasi, mengevaluasi dan melaporkan pelaksanaan tugas sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Agama Sungguminasa berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tugas Pokok dan Fungsi Panitera Muda Permohonan antara lain:

1. Membantu wakil panitera dalam penyelenggaran administrasi kepaniteraan permohonan

2. Melaksanakan administrasi perkara permohonan, mempersiapkan persidangan perkara, menyimpan berkas perkara yang masih berjalan dan urusan lain yang berhubungan dengan masalah perkara permohonan

67

3. Memberi nomor register pada setiap perkara permohonan yang diterima di kepaniteraan

Tugas Pokok dan Fungsi Panitera Muda Hukum:

Merencanakan dan melaksanakan urusan kepaniteraan hukum, mengumpulkan, mengolah dan mengkaji data, menyajikan statistik perkara, menyimpan arsip berkas perkara yang masih berlaku, melakukan administrasi pembinaan hukum agama, melaksanakan hisab rukyat dan tugas lain di lingkungan Pengadilan Agama serta mengawasi, mengevaluasi dan melaporkan pelaksanaan tugas sesuai dengan kebijaksanaan teknis Ketua Pengadilan Agama Sungguminasa. berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Tugas Pokok dan Fungsi Kasubag Kepegawaian, Organisasi dan Tata Laksana:

Merencanakan dan melaksanakan pengurusan kepegawaian di lingkungan Pengadilan Agama serta mengawasi, mengevaluasi dan melaporkan pelaksanaan tugas kepada atasan sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Agama Sungguminasa. berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tugas Pokok dan Fungsi Kasubag Kepegawaian, Organisasi dan Tata Laksana antara lain:

1. Membantu wakil sekretaris dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan Sub Bag. Kepegawaian

2. Menetapkan sasaran kegiatan setiap tahun

3. Menyusun dan menjadwalkan rencana kegiatan

4. Menyiapkan bahan konsep rumusan kebijaksanaan pimpinan disidang Sub bagian kepegawain

5. Mengurus hak-hak pegawai dibidang kepegawaian Tugas Pokok dan Fungsi Kasubag Umum dan Keuangan:

Merencanakan dan melaksanakan pengurusan keuangan di lingkungan Pengadilan Agama kecuali mengenai pengelolaan biaya perkara serta mengawasi, mengevaluasi dan melaporkan pelaksanaan tugas kepada atasan sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Agama Sungguminasa berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tugas Pokok dan Fungsi Kasubag Umum dan Keuangan antara lain:

1. Membantu wakil sekertaris yang memimpin pelaksanaan tugas Sub bagian keuangan.

2. Menetapkan sasaran kegiatan setiap tahun.

3. Menyusun dan menjadwalkan rencana kegiatan bersama-sama Sub. Bagian Umum.

4. Menyiapkan bahan konsep rumusan kebijaksanaan pimpinan di bidang Sub Bagian Keuangan.

5. Mengadakan koordinasi dengan satuan kerja lain yang terkait.

69

Kasubag Perencanaan, TI dan Pelaporan:

1. Menyusun RKA-KL dan membahas usulan revisi kegiatan dan anggaran (DIPA) serta penyiapan bahan usulan APBNP bersama dengan KPA (Kuasa Pengguna Anggaran) dan PPK (Pejabat Pembuat Komitmen;

2. Operator Aplikasi RKA-KL;

3. Mengkoordinir, Menginventarisir segala kebutuhan masing-masing bidang dalam hal penganggaran:

4. Mengkoordinir Penyusunan Laporan Tahunan, IKU (Indikator Kinerja Utama), Reviu IKU, Renstra (Rencana Strategis), Reviu Renstra, RKT Rencana Kinerja Tahunan), PKT (Perjanjian Kinerja Tahunan), dan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP)

5. Mengkoordinir Penyusunan Laporan Keuangan;

Tugas Pokok dan Fungsi Panitera Pengganti:

Membantu Hakim dalam hal: mengikuti dan mencatat jalannya persidangan perkara, membuat PHS, membuat Berita Acara Persidangan, mengetik Putusan/Penetapan, membuat laporan tentang penundaan hari sidang dan perkara yang sudah diputus berikut amar putusannya, meminutasi perkara yang sudah selesai, mengevaluasi dan melaksanakan tugas khusus serta melaporkan pelaksanaan tugas kepada atasan.

Tugas Pokok dan Fungsi Jurusita:

Sebagai Koordinator para Juru Sita Pengganti, membantu Majelis Hakim dalam pemanggilan para pihak atau saksi-saksi untuk menghadiri persidangan, pengucapan ikrar talak, melaksanakan penyitaan, menjalankan putusan Hakim (eksekusi), menyampaikan pemberitahuan isi putusan, membuat berita iklan/pengumuman dan melaksanakan tugas khusus serta melaporkan pelaksanaan tugas kepada atasan.

B. Karakteristik Responden

Dalam penelitian ini dilakukan penyebaran kepada 90 pegawai Pengadilan Agama Sungguminasa. Karakteristik responden berguna untuk menguraikan deskripsi identitas responden yang diperoleh dari data diri yang terdapat pada bagian data yang meliputi jenis kelamin, usia dan tingkat pendidikan. Untuk memperjelas karakteristik responden yang dimaksud, maka akan disajikan dalam bentuk tabel mengenai data responden antara lain:

1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Dari 90 lembar kuesioner yang terisi, terdapat 56 laki-laki dan 34 perempuan yang menjadi responden dalam penelitian ini. Data ini dapat dilihat pada table berikut:

71

Tabel 4

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)

1. Laki-laki 56 62

2. Perempuan 34 38

Jumlah 90 100

2. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Berdasarkan interval usia yang telah ditentukan, dari 90 responden terdapat 33 orang responden yang berada pada interval usia 30-40 tahun, 30 orang responden berada pada interval usia 41-50 tahun, dan 27 orang responden yang berada pada interval 51-60 tahun. Data ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5

Karateristik Responden Berdasarkan Umur No Umur Jumlah Persentase (%)

1. 30-40 33 37

2. 41-50 30 33

3. 51-60 27 30

Jumlah 90 100

Sumber: Data primer yang diolah, (2021)

3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Berdasarkan data 90 responden, terdapat pegawai dengan tingkat pendidikan SMA/Sederajat, pegawai dengan tingkat pendidikan DIII, pegawai dengan tingkat pendidikan S1, pegawai dengan tingkat pendidikan S2, dan pegawai dengan tingkat pendidikan S3. Data ini dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:

Tabel 6

Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir No. Pendidikan Jumlah Persentase (%)

1. SMA 2 2,222

2. DIII 1 1,111

3. S1 76 84,444

4. S2 10 11,111

5. S3 1 1,111

Jumlah 90 100

Sumber: Data diolah dengan Smart PLS 2021 C. Hasil Analisis Data

1. Pengujian Kualitas Data melalui Outer Model (Measurement Model) a) Convergent Validity

Menurut Chin yang dikutip oleh Imam Ghozali, nilai outer loading antara 0,5 – 0,6 sudah dianggap cukup. Sehingga batas loading factor yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 0,60. Di proses awal analisis data dalam penelitian ini akan dieliminasi indikator yang memiliki nilai loading factor di bawah 0,5 kemudian peneliti memodifikasi dengan mengeksekusi kembali model tersebut.

73

Tabel 7

Awal Outer Loading (Measurement Model) Indikator Reward Kinerja Pegawai Tingkat

Pendidikan

Ket.

X1 -0,329 Tidak Valid

X2 -0,152 Tidak Valid

X3 0,711 Valid

X4 0,772 Valid

X5 -0,460 Tidak Valid

Y1 -0,041 Tidak Valid

Y2 0,739 Valid

Y3 0,682 Valid

Y4 0,281 Tidak Valid

Y5 0,513 Valid

Z1 1,000 Valid

Sumber: Data diolah dengan Smart PLS 2021

Berdasakan tabel di atas, diketahui bahwa ada beberapa hasil kuesioner yang tidak memenuhi syarat signifikansi 5% dengan nilai indikator dibawah 0,5 atau tidak valid. Pada modifikasi yang dilakukan terdapat beberapa indikator yang tidak memenuhi syarat signifikansi yang sudah ditentukan, yaitu X1 (-0,329), X2 (-0,152), X5 (-0,460), Y1 (-0,041), dan Y4 (0,281). Hal ini dapat dilihat dari hasil olah data menggunakan SmartPLS pada nilai loading factor dibawah 0,5 sehingga indikator tersebut tidak memenuhi convergent validity. Adapun tabel modifikasi outer loading (measurement model) dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 8

Modifikasi Outer Model (Measurement Model)

Indikator Reward Kinerja Pegawai Tingkat Pendidikan Ket.

X3 0,763 Valid

X4 0,804 Valid

Y2 0,651 Valid

Y3 0,809 Valid

Y5 0,452 Tidak Valid

Z1 1,000 Valid

Sumber: Data diolah dengan Smart PLS 2021

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa masih terdapat 1 indikator yang tidak valid setelah dikeluarkannya beberapa indikator pada perhitungan sebelumnya sehingga indikator tersebut dieliminasi lagi dari model. Adapun hasil kuesioner yang valid yaitu sebagai berikut:

Tabel 9

Modifikasi Outer Model (Measurement Model)

Indikator Reward Kinerja Pegawai Tingkat Pendidikan Ket.

X3 0,753 Valid

X4 0,813 Valid

Y2 0,593 Valid

Y3 0,907 Valid

Z1 1,000 Valid

Sumber: Data diolah dengan Smart PLS 2021

Dari tabel modifikasi diatas dilihat bahwa semua loading factor memiliki nilai di atas 0,50 sehinga konstruk untuk semua variabel sudah tidak ada yang dieliminasi

75

dari model dan sudah dikatakan valid serta memenuhi validitas dengan loading factornya memiliki nilai di atas 0,50.

Berikutnya, validitas konvergen (Convergent Validity) juga dinilai melalui AVE (Average variance extracted). Suatu model yang mempunyai nilai AVE diatas 0,5 dikategorikan mempunyai validitas konvergen (Convergent Validity) yang tinggi.

Setelah eliminasi dari loading factor yang dibawah 0,5 maka model tersebut mempunyai nilai AVE sebagai berikut:

Tabel 10

AVE (Average Variance Extraced)

Variabel AVE

Reward 0,614

Kinerja Pegawai 0,587

Tingkat Pendidikan 1,000 Sumber: Data diolah dengan Smart PLS 2021

Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa data dalam penelitian ini telah memenuhi syarat kedua validitas konvergen (Convergent Validity). Gabungan dari penilaian dari outer loading dan uji AVE (Average variance extracted) menjelaskan penelitian ini valid konvergen dan memenuhi syarat untuk dilanjutkan ke tahap uji validitas diskriman (Discriminant Validity).

b) Discriminant Validity

Ada 2 (dua) tahap untuk melihat apakah penelitian ini memiliki validitas diskriminan yang baik, yaitu hasil cross loading dan hasil fornell larcker criterian.

Mengukur nilai cross loading, yang mana hasil cross loading harus bisa

memperlihatkan bahwa indikator dari setiap konstruk harus memiliki nilai lebih tinggi dibanding indikator pada konstruk lainnya. Berikut adalah hasil uji cross loading:

Tabel 11 Cross Loadings

Indikator Reward Kinerja Pegawai Tingkat Pendidikan

X3 0,753 0,359 0,039

X4 0,813 0,400 0,079

Y2 0,301 0,593 0,001

Y3 0,433 0,907 0,307

Z1 0,077 0,253 1,000

Sumber: Data dolah dengan Smart PLS 2021

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai cross loading dari masing-masing item terhadap konstruknya lebih besar daripada nilai cross loading dengan konstruk lainnya. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada masalah pada validitas diskriminan. Seluruh indikator memiliki koefisien korelasi yang lebih besar dengan masing-masing konstruknya dibandingkan dengan nilai koefisien korelasi indikator pada blok konstruk di kolom lainnya.

Metode berikutnya yaitu fornell larcker criterion, untuk mendapatkan diskrimanant validity yang baik dari suatu penelitian maka akar dari AVE pada konstruk harus lebih tinggi dibanding korelasi kontruk dengan variabel laten lainnya.

Berikut ini hasil uji fornell larcker criterion yang diperoleh dalam hasil penelitian ini:

77

Tabel 12

Fornell Larcker Criterion

Variabel Reward Kinerja Pegawai Tingkat Pendidikan

Reward 0,784 0,485

Kinerja Pegawai 0,766

Tingkat Pendidikan 0,077 0,253 1,000

Sumber: Data diolah dengan Smart PLS 2021

Berdasarkan table di atas dapat diketahui bahwa seluruh variabel memiliki nilai yang lebih tinggi ketika menjelaskan variabelnya sendiri dibandingkan dengan variabel lain pada kolom yang sama. Ketika diamati, reward memiliki nilai 0,784 yang lebih tinggi dibandingkan kinerja pegawai dan tingkat pendidikan yang berada pada kolom yang sama. Sama halnya dengan tingkat pendidikan yang memiliki nilai sebesar 1,000 yang nilainya lebih tinggi dibandingkan reward dan kinerja pegawai yang terdapat pada kolom yang sama.

Maka dari itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa model data yang diuji dalam penelitian ini telah memenuhi syarat yang menunjukkan bukti bahwa konstruk pada model tersebut mempunyai discriminant validity serta sebagai tahapan awal sebelum melakukan pengujian hipotesis setelah melewati berbagai rangkaian pengujian.

c) Composite reliability

Nilai Composite Realibilty secara spesifik yang dapat diiterima pada penelitian eksploratori adalah berkisar antara 0,60 hingga 0,70 (Hair, 2014). Konstruk

Nilai Composite Realibilty secara spesifik yang dapat diiterima pada penelitian eksploratori adalah berkisar antara 0,60 hingga 0,70 (Hair, 2014). Konstruk

Dokumen terkait