BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3.7 Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Data yang telah diperoleh, dianalisis melalui proses pengolahan data yang mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut (Notoatmodjo, 2012) :
1. Editing, penyuntingan data dilakukan secara langsung oleh peneliti terhadap kuesioner untuk menghindari kesalahan serta memastikan bahwa data yang diperoleh telah diisi semua dengan relevan dan dibaca dengan baik.
2. Coding, mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi kata data angka atau bilangan. Koding atau pemberian kode sangat berguna dalam memasukkan data (data entry).
3. Processing, yaitu memproses data yang telah diisi dengan benar agar dapat dianalisa. Proses data dilakukan dengan cara mengentry data hasil kuesioner ke dalam program komputer.
4. Cleaning, yaitu kegiatan pengecekan kembali data-data yang sudah dientry apakah ada kesalahan atau tidak.
3.7.2 Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini digunakan beberapa analisa data, yaitu :
1. Analisis univariat, bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel yang diteliti dan pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase.
2. Analisis bivariat, yaitu analisis lanjutan untuk melihat hubungan variabel independen dan variabel dependen. Pada analisis bivariat ini, peneliti menggunakan uji statistik chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Uji statistik chi-square digunakan dengan alasan variabel independen dan variabel dependen dalam penelitian ini menggunakan data kategori dan termasuk kedalam uji non parametrik sehingga tepat digunakan untuk penelitian ini yang memiliki sampel sebanyak 20 responden. Syarat uji statistik chi-square adalah jika pada tabel 2x2 dijumpai nilai expected kurang dari 5 maka digunakan uji fisher’s exact dan jika pada tabel lebih dari 2x2 maka digunakan uji pearson chi square (Santoso, 2013). Hasil uji statistik dengan p value < 0,05 artinya ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Jika p value > 0,05 artinya tidak ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
BAB IV
HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.1 Sejarah Ringkas RSUD Dr Pingadi Medan
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Medan beralamat di Jl. Prof. HM Yamin SH No. 47 Medan dengan luas bangunan 73.12,90 m2 merupakan salah satu unit pelayanan kesehatan di kota Medan yang berstatus milik pemerintah Kota Medan. RSUD Dr. Pirngadi Medan merupakan unit organisasi di lingkungan Departemen Kesehatan dengan salah satu rumah sakit tipe B yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan nama Gemente Zieken Huis pada tanggal 11 Agustus 1928. Peletakan batu pertamanya dilakukan seorang bocah berumur 10 tahun bernama Maria Constantia Macky, dimana sebagai pimpinan yang pertama dipegang oleh Dr. W. BAYS.
Setelah masuknya Jepang ke Indonesia pada tahun 1942, rumah sakit ini diambil alih oleh Bangsa Jepang dan berganti nama menjadi Syuritsu Byusono Ince dan pimpinannya dipercayakan kepada seorang putra Indonesia yaitu Dr.
Raden Pirngadi Gonggo Putro. Setelah bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 menyatakan kemerdekaannya, pada tahun 1947 rumah sakit ini diambil alih oleh pemerintah Negara bagian Sumatera Timur Republik Indonesia Sementara (RIS) dengan nama “Rumah Sakit Kota Medan”. Dengan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tanggal 17 Agustus 1950 maka Negara bagian (RIS) dihapuskan, rumah sakit kota Medan diambil alih oleh pemerintah pusat/kementerian kesehatan di Jakarta dengan nama “Rumah Sakit Umum
Pusat”. Kemudian pada tahun 1971, rumah sakit ini diserahkan dari pusat ke Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan berganti nama menjadi Rumah Sakit Umum Pusat Provinsi Medan. Pada tahun 1979, Rumah Sakit Umum Pusat Provinsi Medan ditabalkan menjadi “Rumah Sakit Dr. Pirngadi Medan”.
Sejalan pelaksanaan otonomi daerah, Rumah Sakit Umum Dr Pirngadi pada tanggal 27 Desember 2001 diserahkan kepemilikannya dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kepada Pemerintah Kota Medan dan berganti nama menjadi “Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi Medan”. Pada tanggal 6 September 2002, status kelembagaan Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi ditetapkan menjadi Badan dan berganti nama menjadi “Badan Pelayanan Kesehatan RSUD Dr Pirngadi Kota Medan”. Sebagai direktur, pada saat itu dipercayakan kepada Dr. H. Sjahrial R. Anas, MHA.
Pada tahun 2004, Wali Kota Medan yang menjabat pada saat itu Drs. H.
Abdillah, Ak., MBA mencanangkan pengembangan Rumah Sakit Dr Pirngadi menjadi delapan tingkat yang peletakan batu pertamanya tepatnya dilaksanakan pada tanggal 4 Maret 2004. Kemudian pada tahun 2005, pemakaian gedung Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi dengan delapan tingkat diresmikan oleh beliau. Dengan adanya peresmian tersebut, maka gedung baru dengan delapan tingkat siap untuk digunakan. Masa jabatan direktur yang dipegang oleh Dr. H.
Sjahrial R. Anas, MHA telah berakhir. Beliau telah menjabat sebagai direktur selama tujuh tahun. Tepat pada tanggal 24 November 2017, pimpinan Badan Pelayanan Kesehatan RSUD Dr Pirngadi Kota Medan secara resmi dipindahtangankan kepada Dr. Suryadi Panjaitan, M.Kes, Sp.PDFINASIM.
45
4.1.2 Struktur Organisasi RSUD Dr Pirngadi Medan
Struktur organisasi RSUD Dr Pirngadi Medan adalah struktur organisasi matriks (matrix of authority flows), dimana terdapat dua jenis wewenang, yaitu wewenang yang mengalir secara horizontal pada unit fungsional dan wewenang yang mengalir secara vertikal pada pimpinan struktural atau manajerial. Struktur organisasi matriks ini menyadari adanya ketergantungan antara berbagai fungsi.
Bentuk susunan organisasi Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi Kota Medan sebagaimana ditunjukkan dalam lampiran 3.
RSUD Dr Pirngadi Medan memiliki 26 Instalasi salah satunya adalah Instalasi Laundry dan sandang. Penelitian ini dilakukan di Instalasi laundry merupakan penunjang pelayanan kesehatan di Rumah sakit. Adapun struktur organisasi Instalasi laundry dan sandang sebagai berikut :
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Instalasi laundry dan Sandang
4.2 Proses Pengelolaan Linen di Instalasi Laundry RSUD Dr Pirngadi Medan Adapun proses pengelolaan linen di Instalasi laundry RSUD Dr Pirngadi Medan, yaitu :
1. Penerimaan
a) Penerimaan linen dimulai dari pukul 08.00 WIB - 10.00 WIB.
b) Pemilahan antara linen infeksius dan noninfeksius dimulai dari sumber linen (ruangan) dan setelah itu, linen dimasukkan ke dalam kantong plastik sesuai jenisnya, serta diberi label.
c) Menghitung dan mencatat linen kotor yang masuk kedalam form dan log book.
d) Setelah terpilah antara linen infeksius dan nonifeksius maka linen dipilih berdasarkan warna dan tingkat kekotorannya, yaitu noda berat, sedang dan ringan selanjutnya linen dimasukkan ke dalam tong yang berbeda-beda.
2. Pencucian
a) Menimbang berat linen untuk menyesuaikan dengan kapasitas mesin cuci dan kebutuhan deterjen dan desinfektan.
b) Membersihkan linen kotor menggunakan detergen dari noda berat seperti darah, noda sedang seperti feses, urin dan muntahan serta noda ringan seperti keringat dan lainnya kemudian merendamnya dengan menggunakan kadar desinfektan yang berbeda sesuai tingkat kekotoran.
c) Mencuci dikelompokkan berdasarkan tingkat kekotorannya, biasanya pencucian dimulai dari noda ringan, sedang dan diakhiri noda berat.
47
d) Proses pencucian dilakukan dengan mesin cuci yang memiliki temperatur inlet 60-70oC dan membutuhkan waktu yang berbeda dalam proses pencucian sesuai tingkat kekotoran. Noda berat butuh waktu selama 1 jam, noda sedang selama 30 menit dan noda ringan selama 20 menit.
3. Pengeringan, dilakukan dengan mesin pengering/dryng yang mempunyai suhu 60-70oC dan butuh waktu selama 20 menit. Pada proses ini jika mikroorganisme belum mati atau terjadi kontaminasi ulang diharapkan dapat mati dalam proses ini.
4. Penyetrikaan
a) Proses penyetrikaan untuk linen lembaran digunakan mesin setrika rol (flat work ironer) yang diatur dengan suhu 80-100oC.
b) Linen yang beraksesoris/berkancing dan berplaket seperti gorden/vitrace digunakan setrika uap manual.
5. Pelipatan, linen yang telah selesai disetrika langsung dilipat sesuai dengan cara pelipatan yang sudah distandarkan dengan tujuan agar linen rapi dan mudah digunakan saat penggantian linen.
6. Penyimpanan, menempatkan linen bersih pada tempat yang sudah disediakan dalam rak linen bersih dengan tujuan melindungi linen dari kontaminasi dan mengontrol posisi linen agar tersusun menurut masing-masing sumber (ruangan).
7. Distribusi
a) Membungkus linen bersih ke dalam kantong plastik dan linen diberi tanda dengan menuliskan pemilik linen tersebut.
b) Menggunakan troli yang berbeda antara linen bersih dan linen kotor, troli harus dicuci dengan desinfektan setelah digunakan mengangkut linen kotor.
c) Petugas menyerahkan linen bersih kepada petugas ruangan dan meminta tanda tangan form dan log book linen bersih sebagai serah terima linen.
4.3 Gambaran Lingkungan Kerja di Instalasi Laundry RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018
Instalasi laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan terdiri dari dua area, yaitu area linen kotor dan area linen bersih. Pengelolaan linen dimulai dari linen kotor sampai menghasilkan linen bersih dilakukan dengan beberapa proses, yaitu dimulai dari proses penerimaan, pencucian, pengeringan, penyetrikaan, pelipatan, penyimpanan sampai pendistribusian. Tidak ada petugas khusus yang menangani linen pada setiap tahapan proses, tetapi setiap pekerja menangani pekerjaan sejak dari penerimaan sampai pencucian terdiri dari 7 orang di area linen kotor dan proses pengeringan sampai pendistribusian terdiri dari 13 orang di area linen bersih namun pekerja laki-laki memiliki tanggung jawab langsung dalam mengoperasikan mesin.
Kondisi lingkungan kerja instalasi laundry dengan bangunan tertutup dengan atap terbuat dari asbes dan lantai terbuat dari keramik. Instalasi laundry telah tersedia fasilitas pendingin temperatur ruangan, yaitu 12 ventilasi yang dilapisi kain kasa dan 5 kipas angin, tetapi yang berfungsi hanya 3 dan tersedia fasilitas penyediaan air minum berupa air kemasan galon. Hal ini dilakukan Rumah Sakit untuk mengatasi lingkungan kerja yang panas walaupun hal tersebut
49
sudah dilakukan tetapi dapat dirasakan bahwa kondisi di Instalasi laundry tersebut masih terasa panas. Instalasi laundry terdapat 2 pintu masuk yaitu pintu masuk untuk area linen kotor dan area linen bersih. Awal masuk kedalam area linen kotor di depan pintu masuk terdapat meja proses penerimaan, sebelah kanan pintu masuk terdapat 2 mesin cuci selimut dan di sudut dinding sebelah kanan terdapat 4 mesin cuci dengan temperatur inlet 60-70oC dan yang digunakan hanya 2 mesin cuci sesuai banyaknya linen kotor yang masuk. Area linen kotor terdapat 4 ventilasi di sebelah kanan pintu masuk dan 2 ventilasi di sebelah kiri, memiliki 1 kipas angin yang berfungsi dan pintu masuk yang selalu terbuka lebar sehingga udara dari luar turut masuk mengurangi tekanan panas dari mesin. Pekerja pada area linen kotor banyak yang menggunakan pakaian seragam dan alat pelindung diri seperti sepatu boot, masker dan sarung tangan. Masuk kedalam area linen bersih langsung ditemukan meja untuk pelipatan dan di sebelah kiri meja terdapat 2 mesin setrika rol dan di sudut dinding sebelah kanan terdapat 2 mesin pengering dengan temperatur inlet 60-70oC. Diketahui bahwa mesin setrika merupakan sumber panas yang paling berkontribusi meningkatkan suhu lingkungan di Instalasi laundry RSUD Dr Pirngadi Medan. Ketika beroperasi mesin setrika rol membutuhkan suhu yang tinggi sebesar 80-100oC, bentuk mesin yang terbuka dan memiliki silinder yang panas dengan cepat menaikkan suhu lingkungan kerja sehingga paparan panas paling besar diterima oleh pekerja yang berada di area linen bersih. Area linen bersih terdapat 6 ventilasi di belakang mesin pengering, memiliki 4 kipas angin, tetapi yang berfungsi hanya 2, tersedia 1 fasilitas air minum yaitu air kemasan galon dan pintu masuk yang selalu tertutup. Pekerja di
area linen bersih banyak yang tidak menggunakan pakaian seragam dan APD dengan alasan pekerja mengaku merasa panas.
Setelah dilakukan observasi di Instalasi laundry bahwa tekanan panas terjadi saat proses pencucian, pengeringan dan penyetrikaan yang dihasilkan dari mesin dan iklim kerja paling panas adalah proses penyetrikaan. Pekerja yang paling besar terkena paparan panas adalah di area linen bersih karena terdapat proses pengeringan dan penyetrikaan. Kondisi lingkungan kerja yang mendukung area linen bersih memiliki iklim kerja paling panas, yaitu letak ventilasi yang tidak efektif, beberapa kipas angin yang rusak, pintu masuk yang tertutup dan mesin yang digunakan membutuhkan suhu yang paling tinggi. Maka dari itu pekerja di area linen bersih kebanyakan tidak menggunakan pakaian seragam melainkan kaos karena lebih mudah menyerap keringat. Akibat terpapar langsung oleh tekanan panas di lingkungan kerja, beberapa pekerja mengaku banyak mengeluarkan keringat, merasa haus dan merasa lemas sebagai bentuk keluhan subjektif akibat tekanan panas.
4.4 Deskripsi Hasil Penelitian
4.4.1 Gambaran Tekanan Panas di Instalasi Laundry RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018
Menurut analisa peneliti, pekerja laundry termasuk kedalam kategori waktu kerja 75% - 100% dan dalam beban kerja sedang seperti berdiri, kerja sedang pada mesin, mengangkat dan mendorong beban yang beratnya sedang.
Adapun hasil pengukuran tekanan panas dapat dilihat pada tabel 4.1.
51
Tabel 4.1 Hasil Pengukuran Tekanan Panas di Instalasi Laundry RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018
Sumber : Data Primer (2018)
Dari hasil pengukuran diketahui bahwa rata-rata ISBB di instalasi laundry RSUD Dr Pirngadi Medan pada area linen kotor sebesar 27,8°C dan area linen bersih sebesar 29,9°C. Berdasarkan hasil pengukuran tekanan panas tersebut kemudian dikategorikan menjadi dua kategori yaitu tempat kerja memenuhi syarat yaitu tempat kerja dengan suhu yang tidak melebihi 28°C dan tempat kerja tidak memenuhi syarat yaitu tempat kerja dengan suhu yang melebihi 28°C.
Pada titik pengukuran area linen kotor terdapat 7 orang pekerja laundry dan titik pengukuran area linen bersih terdapat 13 orang pekerja laundry.
Distribusi responden berdasarkan kelompok tekanan panas pada pekerja laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan dapat dilihat pada tabel 4.2.
4.4.2 Variabel Independen dan Keluhan Subjektif Pada Pekerja Laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018
Untuk mengetahui gambaran distribusi jumlah dan persentase dari tiap variabel independen (tekanan panas, umur, masa kerja, jenis kelamin, status gizi
dan konsumsi air minum) dan keluhan subjektif yang telah diperoleh dari hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Independen dan Keluhan Subjektif Pada Pekerja Laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018 bahwa mayoritas pekerja laundry yang mengalami tekanan panas dengan tempat memenuhi syarat sebanyak 13 orang (65,0%), berumur < 40 tahun sebanyak 13 orang (65,0%), masa kerja > 1 tahun sebanyak 17 orang (85,0%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 14 orang (70,0%), status gizi normal sebanyak 14 orang
53
(70,0%) mengonsumsi air minum ≤ 7 gelas sebanyak 15 orang (75,0%) dan ada keluhan subjektif sebanyak 16 orang (80,0%).
4.4.3 Hubungan Variabel Independen dengan Keluhan Subjektif Pada Pekerja laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018
Untuk mengetahui hubungan variabel independen (tekanan panas, umur, masa kerja, jenis kelamin, status gizi dan konsumsi air minum) dengan keluhan subjektif yang telah diperoleh dari hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3 Hubungan Variabel Independen dengan Keluhan Subjektif pada pekerja laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018
Variabel
Berdasarkan tabel 4.3 diatas, pada variabel tekanan panas diperoleh nilai p
= 0,007 hal ini menunjukkan ada hubungan antara tekanan panas dengan keluhan
subjektif pada pekerja laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018, yang berarti nilai p value < titik kritis (0,05).
Pada variabel umur diperoleh nilai p = 1,000 hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara umur dengan keluhan subjektif pada pekerja laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018, yang berarti nilai p value > titik kritis (0,05).
Pada variabel masa kerja diperoleh nilai p = 1,000 hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara masa kerja dengan keluhan subjektif pada pekerja laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018, yang berarti nilai p value >
titik kritis (0,05).
Pada variabel jenis kelamin diperoleh nilai p = 0,267 hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan keluhan subjektif pada pekerja laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018, yang berarti nilai p value >
titik kritis (0,05).
Pada variabel status gizi diperoleh nilai p = 1,000 hal ini menunjukkan tidak ada hubungan antara status gizi dengan keluhan subjektif pada pekerja laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018, yang berarti nilai p value >
titik kritis (0,05).
Pada variabel konsumsi air minum diperoleh nilai p = 0,001 hal ini menunjukkan ada hubungan antara konsumsi air minum dengan keluhan subjektif pada pekerja laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018, yang berarti nilai p value < titik kritis (0,05).
BAB V PEMBAHASAN
5.1 Hubungan Tekanan Panas dengan Keluhan Subjektif pada Pekerja Laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018
Berdasarkan analisis bivariat dapat diketahui bahwa dari 20 pekerja, pekerja di tempat kerja memenuhi syarat yang mengalami keluhan subjektif sebanyak 3 orang (42,9%) dan yang tidak mengalami keluhan subjektif sebanyak 4 orang (57,1%) dan pekerja di tempat kerja tidak memenuhi syarat yang mengalami keluhan subjektif sebanyak 13 orang (100,0%). Berdasarkan uji chi square diperoleh nilai p = 0,007 (p
< 0,05) hal ini menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tekanan panas dengan keluhan subjektif pada pekerja laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fajrin (2014) terhadap pekerja instalasi Laundry Rumah Sakit di Kota Makassar yang mengatakan bahwa suhu ruangan memiliki hubungan yang signifikan terhadap keluhan kesehatan akibat tekanan panas. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value <
0,05, yaitu sebesar 0,000.
Tenaga kerja yang bekerja dengan beban kerja tertentu di lingkungan kerja dengan panas yang tinggi dapat menderita gangguan dan penyakit yang berhubungan dengan suhu udara panas. Perubahan fisiologis dalam tubuh manusia merupakan hasil dari tekanan panas (heat stress) yang didedikasikan atau ditujukan untuk menghilangkan panas dari tubuh (ACGIH, 2005). Apabila perubahan fisiologis
tersebut tidak ditangani dengan baik, maka dapat berujung kepada terjadinya heat-related disorder yang lebih serius dan membahayakan tubuh. Menurut Harrianto (2010), kebanyakan individu akan merasa nyaman bekerja pada suhu udara 20-27oC dan kelembaban 35-60%, bila lebih tinggi dari nilai ini tidak terasa nyaman, penampilan kerja akan menurun, bahkan dapat menimbulkan gangguan kesehatan.
Berdasarkan teori yang yang ada, dapat disimpulkan bahwa pemaparan tekanan panas yang berlebihan dapat meningkatkan risiko terjadinya keluhan subjektif. Teori yang ada mendukung hasil penelitian ini yang menunjukkan responden yang mengalami keluhan subjektif lebih banyak berada di tempat kerja tidak memenuhi syarat (> 28 oC) sebanyak 13 orang dari tempat kerja memenuhi syarat (≤ 28 oC) sebanyak 3 orang.
Hasil pengukuran tekanan panas di Instalasi laundry RSUD Dr Pirngadi Medan menunjukkan rata-rata ISBB lingkungan kerja berkisar antara 27,6-30,1oC.
Paparan panas di Instalasi laundry bersumber dari mesin yang digunakan untuk menunjang proses pengelolaan linen. Berdasarkan hasil pengukuran tekanan panas di area penelitian bahwa ISBB area linen bersih melebihi NAB artinya tempat kerja tidak memenuhi syarat dan area linen kotor tidak melebihi NAB artinya tempat kerja memenuhi syarat. Menurut observasi yang dilakukan peneliti bahwa hal ini terjadi karena area linen kotor berada di dekat pintu masuk yang selalu terbuka lebar sehingga udara dari luar turut masuk mengurangi tekanan panas dari mesin, sedangkan area linen bersih berada di ruangan tertutup dan terdapat mesin setrika rol
57
paling berkontribusi meningkatkan suhu lingkungan di Instalasi laundry RSUD Dr Pirngadi Medan. Ketika beroperasi, mesin setrika rol membutuhkan suhu yang tinggi, bentuk mesin yang terbuka dan memiliki silinder yang panas dengan cepat menaikkan suhu lingkungan kerja sehingga paparan panas paling besar diterima oleh pekerja yang berada di area linen bersih. Meningkatnya tekanan panas di area linen bersih juga disebabkan oleh beberapa unit fasilitas pendingin temperatur ruangan seperti kipas angin yang tidak dapat berfungsi atau mengalami kerusakan. Kerusakan tersebut juga akan mempengaruhi tekanan panas meningkat. Hal ini dikarenakan bahwa kipas angin berfungsi untuk mengurangi penyebaran panas di lingkungan kerja. Keadaan lingkungan yang ada di Instalasi laundry RSUD Dr Pirngadi Medan ini mendukung hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa ada hubungan tekanan panas dengan keluhan subjektif pada pekerja laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018.
5.2 Hubungan Umur dengan Keluhan Subjektif pada Pekerja Laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018
Umur pekerja laundry dalam penelitian ini dikategorikan berdasarkan teori Worksafe BC (2007) menjadi < 40 tahun dan ≥ 40 tahun. Berdasarkan analisis bivariat dapat diketahui bahwa dari 20 pekerja, pekerja dengan umur < 40 tahun yang mengalami keluhan subjektif sebanyak 10 orang (76,9%) dan yang tidak mengalami keluhan subjektif sebanyak 3 orang (23,1%) dan pekerja dengan umur ≥ 40 tahun yang mengalami keluhan subjektif sebanyak 6 orang (85,7%) dan yang tidak mengalami keluhan subjektif sebanyak 1 orang (14,3%). Berdasarkan uji chi square
diperoleh nilai p = 1,000 (p > 0,05) hal ini menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara umur dengan keluhan subjektif pada pekerja laundry di RSUD Dr Pirngadi Medan Tahun 2018.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Istiqomah (2013) terhadap tenaga kerja di PT. Iglas (Persero) yang mengatakan bahwa umur tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap keluhan subjektif dengan nilai p value 0,684. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Indra (2014) terhadap pekerja bagian dapur rumah sakit di Kota Makassar menunjukkan bahwa tidak ada hubungan umur dengan keluhan akibat tekanan panas. Hasil uji statistik diperoleh nilai p value > 0,05, yaitu sebesar 0,447.
Semakin bertambahnya umur seseorang akan menyebabkan respon kelenjar keringat terhadap perubahan temperatur menjadi lebih lambat, sehingga proses pengeluaran keringat menjadi kurang efektif dalam mengendalikan suhu tubuh (NIOSH, 2016). Daya tahan seseorang terhadap panas akan menurun pada umur yang lebih tua. Pekerja dengan umur lebih tua (40 sampai 65 tahun) umumnya kurang
Semakin bertambahnya umur seseorang akan menyebabkan respon kelenjar keringat terhadap perubahan temperatur menjadi lebih lambat, sehingga proses pengeluaran keringat menjadi kurang efektif dalam mengendalikan suhu tubuh (NIOSH, 2016). Daya tahan seseorang terhadap panas akan menurun pada umur yang lebih tua. Pekerja dengan umur lebih tua (40 sampai 65 tahun) umumnya kurang