BAB III PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS TEKS BERITA
B. ANALISIS TEKS BERITA
5. Teks Berita “Nazaruddin Mempermalukan Pemerintah”
” Nazaruddin Mempermalukan Pemerintah”
“Keberadaan Muhammad Nazaruddin, tersangka kasus korupsi proyek wisma atlet SEA Games 2011 di Palembang, semestinya bisa dilacak dengan memanfaatkan teknologi informasi. Namun, kemunculan Nazaruddin, lewat Blackberry Messenger dan wawancara melalui telepon, seperti ingin mempermalukan pemerintah, terutama aparat penegak hukum yang belum bisa menangkapnya.”(lead)
Berita berjudul “Nazaruddin Mempermalukan Pemerintah” tampil di headline Kompas pada tanggal 22 Juli 2011. Teks ini secara umum menguraikan tentang pelacakan Nazaruddin yang seharusnya dapat diselesaikan dengan cepat. Para ahli teknologi dan informasi berpendapat bahwa keberadaan Nazaruddin bisa dilacak jika pemerintah memiliki kesungguhan untuk menangkapnya.
commit to user
Elemen tematik menunjuka pada gambaran umum suatu teks. Tema atau topik menunjukan konsep dominan, sentral, dan penting dari isi suatu berita. Pada umumnya, wacana yang dikembangkan dalam suatu teks berita didukung oleh beberapa subtopik yang kemudian membentuk tema umum.
Tema utama yang dikembangkan melalui teks ini adalah tentang pemerintah beserta perangkat hukumnya yang dinilai oleh beberapa pihak kurang bersungguh-sungguh dalam proses pelacakan Nazaruddin. Selama masa pencariannya, Nazaruddin beberapa kali muncul dengan menggunakan perangkat teknologi dan media komunikasi. Kemunculan Nazaruddin ini seharusnya menjadi jalan bagi pemerintah dan penegak hukum untuk dapat segera menangkapnya, tetapi beberapa kali Nazaruddin masih bebas dan muncul di media massa dan wawancara melalui telepon, serta berkicau melalui Blackberry Mesenger.
Nazaruddin seakan sengaja mempermalukan pemerintah yang tidak dapat menemukan lokasinya berada dengan cepat. Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa pemerintah dan penegak hukum kurang berkomitmen dalam proses penangkapan Nazaruddin dan penyelesaian kasus Wisma Atlet dan sejumlah kasus lain yang melibatkan dirinya.
Subtopik yang mendukung topik utama dalam teks berita ini adalah tentang kemungkinan langkah-langkah sederhana yang ditempuh Nazaruddin untuk mengecoh pemerintah dan memberi informasi melalui media selama proses pencariannya. Menurut ahli informasi dan komunikasi, terdapat
commit to user
beberapa cara yang dapat ditempuh seorang Nazaruddin. Tetapi sekali lagi mereka meyakinkan bahwa hal tersebut dapat menjadi alat untuk melacak buronan itu asal ada kemauan dari pemerintah.
Subtopik yang kedua yang turut mendukung topik utama datang dari pemerintah dan pihak kepolisian yang meyakinkan masyarakat bahwa mereka akan terus berusaha mendapatkan Nazaruddin. Meski mengaku mendapatkan kesulitan karena dibutuhkan kerjasama antarnegara jika Nazaruddin bemar-benar di luar negeri, tetapi penegak hukum dan pemerintah akan bekerja keras menyelesaikan masalah Wisma Atlet ini sampai tuntas.
b. Skematik
Dengan judul “Nazaruddin Mempermalukan Pemerintah”, wartawan mengarahkan pembaca untuk mengetahui isi dari keseluruhan teks berita bahwa ada tindakan yang dilakukan seorang Muhammad Nazaruddin yang saat itu menjadi tersangka kasus suap Wisma Atlet yang membuat pemerintah menanggung malu.
Pada teks, secara berurutan tema dibentuk melalui paragraf-paragraf mengenai pelacakan Nazaruddin (paragraf 1, 2, dan 5) yang seharusnya dapat berjalan dengan lebih cepat melalui penelusuran komunikasi yang dilakukannya dengan media massa. Hal ini didukung oleh pendapat ahli teknologi dan informasi bahwa keberadaan Nazaruddin sangat mungkin untuk dilacak.
commit to user
Rangkaian teks selanjutnya membahas tentang kemungkinan langkah-langkah sederhana yang ditempuh Nazaruddin untuk mengecoh pemerintah dan memberi informasi melalui media selama proses pencariannya. Menurut ahli informasi dan komunikasi, terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh Nazaruddin seperti pada paragraf-paragraf berikut:
“Secara terpisah, ahli digital forensik Ruby Alamsyah mengatakan pula, posisi Nazaruddin bisa dilacak dari perangkat Blackberry atau alat komunikasi lain yang dipakainya. Meski demikian, penegak hukum tak bisa memakai teknik standar karena politikus Partai Demokrat itu dipastikan mengetahui tengah dicari. ”Jika orang yang berniat kabur dan memiliki sumber daya yang cukup, pasti sudah mempersiapkan semua, termasuk agar tak mudah terlacak,” katanya.” (par. 10)
“Menurut Ruby, ada beberapa cara sederhana yang mungkin dipakai Nazaruddin saat berkomunikasi agar tak mudah dilacak, antara lain menyerahkan perangkat Blackberry yang sebelumnya diketahui miliknya kepada orang lain. Ia bisa saja memerintahkan orang lain mengirimkan pesan melalui Blackberry-nya.” (par. 11)
“Anggota Fraksi Partai Demokrat (F-PD) DPR, yang menekuni teknologi komunikasi, Roy Suryo, juga meyakini, keberadaan Nazaruddin dapat dilacak melalui percakapan atau pesan yang sering dia kirimkan. Setidaknya ada dua cara yang dipakai Nazaruddin untuk berkomunikasi” (par. 13)
Informasi kemudian dilanjutkan dengan memaparkan masalah pelacakan Nazaruddin yang disampaikan pemerintah melalui bagian-bagian yang menangani kasus ini dan pihak kepolisian. Penegak hukum yang bertugas melacak Nazaruddin yang diwakili oleh meyakinkan masyarakat bahwa mereka akan terus berusaha mendapatkan Nazaruddin. Meski mengaku mendapatkan kesulitan karena dibutuhkan kerjasama antarnegara jika Nazaruddin bemar-benar di luar negeri, tetapi penegak hukum dan pemerintah
commit to user
akan bekerja keras menyelesaikan masalah Wisma Atlet ini sampai tuntas. Seperti disampaikan pada paragraf 16, 19 dan 21.
Kerjasama berbagai pihak mulai dari Badan Intelejen Negara (BIN), Kepolisian, dan Kementrian dikerahkan untuk menyelesaikan kasus ini. Dari kutipan yang ditulis oleh wartawan, kita dapat melihat bahwa wartawan ingin mengajak pembaca untuk melihat bahwa pemerintah dan aparat Negara telah melakukan sejumlah usaha, meskipun wartawan dua kali menegaskan melalui kutipan pada paragraph 20 dan juga narasi pada paragraph 17 bahwa pelacakan dapat dilakukan tetapi tidak mudah. Hal ini mendukung topic utama dimana wartawan seperti ingin memperlihatkan bahwa Nazaruddin berhasil membuat malu pemerintah melalui usaha pemerintah yang kurang optimal.
c. Semantik
Semantik dalam skema van Dijk dikategorikan sebagai makna lokal, yaitu makna yang muncul dari hubungan antar kalimat, hubungan antar proposisi yang membangun makna tertentu dalam suatu bangunan teks. Makna yang ingin ditekankan dalam sebuah teks dapat dilihat dari elemen latar, detail, maksud, pengandaian, dan nominalisasi.
Latar umumnya ditampilkan di awal, sebelum pendapat penulis muncul. Latar yang dipilih dapat menjadi alasan pembenar gagasan yang diajukan dalam suatu teks. Pada teks ini, latar muncul di awal tulisan, yaitu
commit to user
tentang situasi yang tidak menguntungkan pemerintah jika Nazaruddin tidak segera dapat diamankan. Seperti tertulis pada paragraf berikut:
“Secara terpisah, hakim konstitusi Akil Mochtar mengingatkan pula, keberanian Nazaruddin terus ”berkicau” di media massa tak boleh berlangsung terus-menerus. Kondisi ini berpotensi memperlemah posisi negara. Negara seakan dipermainkan oleh seseorang yang diduga melakukan perbuatan tercela. (par. 2)
Latar berita ini terletak pada keberadaan Nazaruddin yang bebas berkomentar di media massa di massa pencariannya. Tentu hal memalukan ini harus segera dihentikan. Karena jika tidak baik masyarakat maupun negara luar akan menganggap pemerintah Indonesia mudah dipermainkan dengan mudah.
Elemen detail berhubungan dengan kontrol informasi oleh seorang komunikator. Detail umumnya dimaksudkan sebagai strategi bagaimana wartawan mengekspresikan sikapnya dengan cara yang implisit terhadap keseluruhan dimensi peristiwa. Detail tulisan banyak menyampaikan tentang tindakan-tindakan yang dilakukan Nazaruddin dalam masa pencariannya yang membuat negara terlihat lemah dengan ketidakmampuan pemerintah untuk segera menangkapnya. Hal ini terdapat dalam beberapa paragraf berikut:
Berdasar kalimat-kalimat pada paragraf 7, 11, dan 19 nampak dijelaskan lebih rinci mengenai keberanian Nazaruddin tampil di depan publik melalui media massa untuk memberikan penjelasan tentang sangkutpaut dirinya dalam kasus Wisma Atlet yang berhasil menjadikan statusnya sebagai tersangka. Pencarian Nazaruddin oleh pemerintah yang dirasa memeakan
commit to user
waktu lebih lama dari seharusnya justru semakin dipertegas dengan keberanian Nazar muncul dalam wawancara dengan sebuah televisi, pembelaan dirinya melalui BBM, dan bahkan mengirim e-mail kepada Kompas. Ia terlihat tidak takut pemerintah akan berhasil menangkap dirinya.
Kemudian elemen maksud, yang dalam analisis wacana memiliki tujuan akhir untuk menyajikan informasi secara eksplisit, serta menyembunyikan informasi atau fakta secara implisit, maka elemen maksud yang ada dalam teks adalah kekhawatiran akan semakin berkurangnya kepercayaan masyarakat dengan banyaknya keberanian yang dilakukan Nazaruddin yang seakan memperlihatkan ketidakberdayaan menghadapi penjahat seperti Nazaruddin, seperti dalam paragraf berikut:
“Apabila kondisi itu terus dibiarkan, publik akan semakin tidak percaya kepada aparat pemerintah dan penegak hukum.” (par. 4) Adapula elemen pranggapan merupakan pertanyaan yang digunakan untuk mendukung makna suatu teks. Praanggapan adalah upaya mendukung pendapat dengan memberikan premis yang dipercaya kebenarannya.
“Dalam beberapa kesempatan, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif mengkhawatirkan perintah Presiden tak dipedulikan lagi oleh pembantunya. Presiden juga pernah mengeluhkan, instruksinya lebih dari separuh yang tak dijalankan oleh para menteri. (par. 9)
Pada teks tersebut muncul pernyataan yang mendukung mengapa penangkapan Nazaruddin berjalan lambat dan pemerintah seakan tidak berusaha optimal dalam proses pemulangannya. Hal ini disebabkan oleh
commit to user
instruksi Presiden yang sudah tidak dipedulikan stafnya sehingga banyak hal yang terlewat dan tidak sesuai target.
d. Sintaksis
Sintaksis merupakan elemen analisis yang umumnya digunakan untuk menampilkan diri secara positif dengan menggunakan kalimat. Terdapat tiga strategi pada level sintaksis, yaitu dengan koherensi, bentuk kalimat dan kata ganti.
Adapun penggunaan koherensi kondisional, yaitu menjadikan dua peristiwa menjadi saling berhubungan dengan menggunakan kata penghubung tertentu seperti “yang” atau “dimana”. Koherensi Kondisianal diantaranya ditandai dengan pemakian anak kalimat sebagai penjelas, seperti yang ada dalam kalimat berikut:
“Namun, kemunculan Nazaruddin, lewat Blackberry Messenger dan wawancara melalui telepon, seperti ingin mempermalukan pemerintah, terutama aparat penegak hukum yang belum bisa menangkapnya.”(lead)
“Logikanya, ia pasti menyadari, lewat perangkat komunikasi yang dipakai, keberadaannya bisa dilacak,” katanya.” (par. 12)
“Anggota Fraksi Partai Demokrat (F-PD) DPR, yang menekuni teknologi komunikasi, Roy Suryo, juga meyakini, keberadaan Nazaruddin dapat dilacak melalui percakapan atau pesan yang sering dia kirimkan.” (par. 13)
Kalimat kedua fungsinya hanya sebagai penjelas (anak kalimat), sehingga ada atau tidak anak kalimat itu,tidak akan mengurangi arti kalimat.
commit to user
Anak kalimat itu menjadi cermin kepentingam komunikator karena ia dapat memberi keterangan yang baik/buruk terhadap suatu pertanyaan.
Banyak terdapat elemen pengingkaran yang digunakan Kompas dalam teks berita ini, yaitu penyangkalan dengan menggunakan kata penghubung, di sini penulis menyembunyikan apa yang ingin disampaikan secara implisit.
Pada paragraph 1 dan 3 terbentuk sintaksis pengingkaran dengan menggunakan konjungsi “tetapi”. Dengan penggunaan konjungsi tersebut ada pengingkaran anak kalimat terhadap apa yang telah disampaikan pada induk kalimat sebelumnya. Kata “namun” memiliki fungsi yang hampir sama dengan kata “tetapi” yaitu membentuk pengingkaran.. Kata “tetapi” digunakan untuk memberi pengingkaran masih dalam satu kalimat yang sama. Sedangkan, “namun” adalah konjungsi antarkalimat yang digunakan untuk menghubungkan dua kalimat yang berbeda, dimana kalimat kedua mengingkari apa yang telah disampaikan pada kalimat sebelumnya. (lihat lead, paragraf 16, 19, 20, dan 21)
Seperti pada paragraph 3, induk kalimatnya menyatakan Nazaruddin harus segera ditangkap, kemudian anak kalimatnya mengingkari dengan mengatakan bahwa Nazaruddin yang seharusnya segera diamankan itu beberapa kali justru terlihat bebas di media. Inti penggunaan elemen pengingkaran dalam teks ini adalah Kompas ingin menunjukkan ketidakberdayaan pemerintah menghadapi Nazaruddin yang justru dapat bergerak bebas padahal seharusnya ia berada dalam penyelidikan.
commit to user
Sedangkan kata ganti dalam teks ini terdapat pada kalimat “Anggota Fraksi Partai Demokrat (F-PD) DPR, yang menekuni teknologi komunikasi,
Roy Suryo, juga meyakini, keberadaan Nazaruddin dapat dilacak melalui percakapan atau pesan yang sering dia kirimkan.” (par. 13) . Pada awal kalimat subjek ditempati oleh “Anggota Fraksi Partai Demokrat (F-PD) DPR” dan kemudian selanjutnya dijelaskan bahwa yang dimaksud disitu adalah Roy Suryo.
Koherensi pembeda, yaitu penggunaan koherensi untuk membuat dua peristiwa seolah-olah saling bertentangan dan berseberangan. Seperti pada paragraf berikut:
”Sebaliknya, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam di Jakarta, Kamis, memastikan, Polri sudah mengetahui keberadaan Nazaruddin. Namun, Polri tidak dapat memberitahukan kepada publik dan langsung menangkap Nazaruddin karena Polri memerlukan koordinasi dengan otoritas di negara bersangkutan.” (par. 22).
Kata “sebaliknya” menjadi tanda pembeda bagi pendapat Kepala Divisi Humas Polri dengan pendapat Kapolri yang sebelumnya disampaikan melalui kutipan pada paragraph 20 dan 21. Perbedaan ini ditunjukkan dari statement keduanya yang bertentangan. Jika Kapolri mengatakan pencarian Nazaruddin masih dalam proses dan masih memerlukan waktu, Kadiv Humas Polri justru mengatakan sudah mengetahui dimana Nazaruddin berada.
commit to user
Elemen stilistik berkaitan dengan cara untuk menyatakan maksud, menggunakan leksikon atau pemilihan kata maupun frase. Pilihan kata yang dipakai tidak semata hanya karena kebetulan, tetapi juga secara ideologis menunjukan bagaiaman pemaknaan seseorang terhadap fakta/realitas. Leksikon dapat ditelusuri mulai dari judul hingga isi teks. Seperti penggunaan kata ”berkicau” dalam paragraf berikut:
“Secara terpisah, hakim konstitusi Akil Mochtar mengingatkan pula, keberanian Nazaruddin terus ”berkicau” di media massa tak boleh berlangsung terus-menerus. Kondisi ini berpotensi memperlemah posisi negara. Negara seakan dipermainkan oleh seseorang yang diduga melakukan perbuatan tercela.” (par. 2)
Kata ”berkicau” biasanya digunakan untuk burung yang terus mengeluarkan bunyi yang gaduh dan ocehan tidak jelas. Sedangkan dalam paragraf ini kata ”berkicau” dipilih untuk menegaskan bagaimana Nazaruddin membuat suatu keributan dengan berbicara mengenai kasus Wisma Atlet dan pelaku-pelaku yang turut terlibat melalui wawancara dengan media dan mengirim Blackberry Mesenger secara rutin.
f. Retoris
Elemen retoris terkait fungsi persuasif dengan menggunakan gaya bahasa, interaksi, ekspresi, metafora, dan grafis. Penggunaan retoris dapat diamati dari judul hingga isi dalam teks. Pada teks ini hanya terdapat elemen grafis berupa kesimpulan rangkaian kejadian yang berjudul “Sulitnya Mengangkap Nazaruddin”.
commit to user
Terdapat dua kesimpulan Terdapat 2 kesimpulan dimana kesimpulan pertama berisi pernyataan pemerintah terkait proses penangkapan Nazaruddin yang diberi tamabahan keterangan waktu. Pada kesimpulan yang pertama ini terdapat lima poin pernyataan yang dikeluarkan pemerintah dalam upaya menangkap Nazaruddin dari dari bulan Mei sampai bulan Juli 2011. Kesimpulan yang kedua adalah Jejak Nazaruddin selama masa pelariannya, yang terdiri dari delapan poin dengan kurun waktu yang sama yaitu antara Mei sampai bulan Juli 2011.