• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSTRUKSI REALITAS DALAM BERITA KASUS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KONSTRUKSI REALITAS DALAM BERITA KASUS"

Copied!
170
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

SKRIPSI

KONSTRUKSI REALITAS DALAM BERITA KASUS

KORUPSI DI MEDIA CETAK KOMPAS

(Study Analisis Wacana terhadap Teks Berita Kasus Korupsi Pembangunan Wisma Atlet di Headline Harian Umum Kompas Periode Juli-Agustus 2011)

Diajukan untuk Melengkapi Tugas

dan Memenuhi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program

Studi S-1 Ilmu Komunikasi

Oleh: Tika Dwi Ariyani

Nim : D0207103

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2012

(2)

commit to user

SKRIPSI

KONSTRUKSI REALITAS DALAM BERITA KASUS

KORUPSI DI MEDIA CETAK KOMPAS

(Study Analisis Wacana terhadap Teks Berita Kasus Korupsi Pembangunan Wisma Atlet di Headline Harian Umum Kompas Periode Juli-Agustus 2011)

Diajukan untuk Melengkapi Tugas

dan Memenuhi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program

Studi S-1 Ilmu Komunikasi

Oleh: Tika Dwi Ariyani

Nim : D0207103

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2012

(3)

commit to user

(4)

commit to user

(5)

commit to user

iv

MOTTO

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”

(QS. Al. Baqarah : 286) “BERDOA”

(Ibu)

“Jangan takut pada siapapun selama kamu benar” (Bapak)

“Keyakinan adalah kekuatan” (saya)

(6)

commit to user

v

PERSEMBAHAN

Ibu, yang selalu mengingatkan pentingnya doa; Bapak, yang selalu mengajari disiplin waktu;

mbak Ratna ‘n mas Denny, yang selalu memotivasiku dengan cara mereka; dede’ Zahiera, yang selalu membuat lengkung senyum dalam keluarga; dan

(7)

commit to user

vi

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin… Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi kelancaran dan kemampuan serta kemudahan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. Pemilihan topik korupsi menjadi tema skripsi, awalnya dipilih karena ketertarikan penulis terhadap pemberitaan di media yang semakin dipenuhi dengan berita kasus penyelewengan dana oleh pejabat pemerintah.

Kerugian yang ditimbulkan dari tindak pidana korupsi terhadap masa depan bangsa sangatlah besar. Perbaikan akhlak dan moral bangsa merupakan kunci pokok penyelesaian masalah ini.. Bukan hal yang mudah, tetapi bukan hal yang mustahil berjuang melakukannya. Dengan segala keterbatasan penulis, mustahil skripsi ini dapat terselesaikan tanpa bantuan, bimbingan, dan doa berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada:

1. ALLAH SWT dengan segala Asmaul Husna yang Kau miliki. Kehendak-Mu adalah takdirku. Syukur atas segala yang Kau beri.

2. Ibu Sutarwiyah, sosok sempurna seorang ibu di mataku, tauladanku, dan Bapak Kardjo, untuk didikan yang tegas dan disiplin yang kau tanamkan. 3. Mbak Ratna Ekawati. Betapa besar rasa syukurku memiliki kakak

(8)

commit to user

vii

dan malaikat cantik bernama Zahiera yang menyempurnakan kebahagiaan keluarga kita.

4. Prof. Drs. H. Pawito, Ph. D selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta.

5. Dra. Prahastiwi Utari, M.Si, Ph.D selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta.

6. Drs. Mursito BM, SU selaku dosen pembimbing. Terimakasih atas bimbingan dan diskusi selama mengerjakan skripsi.

7. Dra. Urip Sri Haryati, M.Si selaku Pembimbing Akademik yang telah membimbing saya selama menjadi mahasiswa S1 Reguler Ilmu Komunikasi FISIP UNS Surakarta.

8. Para dosen pengajar di Prodi Ilmu Komunikasi dan guru-guru lain yang telah banyak berbagi ilmu. Perangkat fakultas mulai dari Dekanat, Jurusan, Pengajaran dan Petugas Perpustakaan yang telah memberikan bantuannya. 9. Leila Rahma Safitri. Terimakasih selalu ada untukku, juga untuk

kepercayaan, pengertian, dan cerita-cerita yang pasti kurindukan.

10. Nositaria Devia Hariefka, Syamrotun Fuadiyah, Alina Dewi Hartanti, Maha, Vero, Khalista, Dini, Hafi, teman-teman Kompi, dan keluarga besar Komunikasi FISIP UNS, suatu kebanggaan menjadi bagian dari kalian. 11. Risa dan Eko, terimakasih untuk mau menjadi sahabatku. Mas Luhung,

(9)

commit to user

viii

12. Keluarga besar HIMAKOM FISIP UNS dan keluarga besar BEM FISIP UNS, atas kesempatan berada di tengah orang-orang hebat yang memberiku banyak pelajaran berharga.

13. Penghuni Windy Griya. Maria, terimakasih untuk mau berbagi. Mbak Cindy yang selalu menjadi diri sendiri. Aris, untuk novel-novelnya yang dikala penat, Galuh, Mira, dan Citra untuk menjadi keluarga satu atap. 14. Keluarga besar Soekarno dan keluarga besar Noto Dihardjo. Atas doa yang

tercurah, syukur dan bangga menjadi daun kecil dari pohon keluarga ini. 15. Orang-orang yang Allah kirimkan, yang datang silih berganti, dalam

waktu panjang maupun singkat, yang membantu proses pendewasaan dalam tiap fase hidupku. Membentuk Tika yang sekarang, dan semoga lebih baik lagi ke depan.

Saya menyadari dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan dan belum sempurna. Mohon maaf untuk keterbatasan dan kekurangan. Semoga penelitian ini bermanfaat.

Surakarta,

(10)

commit to user

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ---i

HALAMAN PERSETUJUAN --- ii

HALAMAN PENGESAHAN --- iii

HALAMAN MOTTO --- iv

HALAMAN PERSEMBAHAN --- v

KATA PENGANTAR --- vi

DAFTAR ISI --- ix

DAFTAR BAGAN DAN TABEL --- xii

ABSTRAK --- xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah --- 1

B. Rumusan Masalah --- 9

C. Tujuan Penelitian --- 9

D. Manfaat Penelitian --- 9

E. Kerangka Teori 1. Berita --- 10

2. Proses Produksi Berita --- 12

3. Pandangan Konstruksi atas Realitas Sosial --- 14

4. Konstruksi Realitas Sosial oleh Media --- 17

(11)

commit to user x 6. Analisis Wacana ---26 F. Kerangka Pemikiran ---32 G. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian ---33 2. Objek Penelitian --- 35 3. Jenis Data ---36

4. Teknik Pengumpulan Data --- 36

5. Teknik Analisis Data --- 37

BAB II GAMBARAN UMUM HARIAN KOMPAS A. Sejarah Singkat --- 42

B. Perkembangan Harian Kompas --- 44

C. Visi dan Misi Kompas 1. Visi --- 48

2. Misi --- 49

D. Sasaran Operasional --- 50

E. Motto Kompas --- 51

F. Nilai-nilai Dasar ---52

G. Kebijakan Redaksional Kompas --- 52

H. Struktur Organisasi Kompas --- 54

1. Bidang Redaksi --- 55

2. Direktorat SDM-Umum --- 56

3. Bidang Penelitian dan Pengembangan --- 56

(12)

commit to user

xi

5. Bidang Bisnis --- 58

I. Pola Liputan Harian Kompas --- 59

BAB III PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS TEKS BERITA A. PENAYJIAN DATA 1. Berita --- 62

2. Struktur Berita --- 65

3. Analisis wacana Teun A. Van Dijk --- 70

B. ANALISIS TEKS BERITA 1. Teks Berita “Singapura Diminta Pulangkan” --- 73

2. Teks Berita “Nazaruddin Tak Ingin Pulang” --- 87

3. Teks Berita “Uang Itu Mengalir ke Banyak Orang” --- 99

4. Teks Berita “Perbaiki Politik Anggaran” --- 111

5. Teks Berita “Nazaruddin Mempermalukan Pemerintah” --- 117

6. Teks Berita “Jaga Keselamatan Nazaruddin” --- 139

7. Teks Berita “Nazaruddin Coba Suap Polisi” ---149

8. Teks Berita “Tak Soal Nazaruddin Bungkam” --- 159

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ---170

B. Saran --- 173

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(13)

commit to user

xii

DAFTAR BAGAN DAN TABEL

Bagan 1.1 Piramida Terbalik --- 14

Bagan 1.2 Hubungan antara Bahasa dan Realitas ---24

Bagan 1.3 Kerangka Pemikiran Peneliti --- 32

Tabel 1.1 Dimensi Analisis Wacana Teun A. van Dijk ---41

Tabel 2.1 Rubrik dan Pembagian Halaman Harian Kompas --- 62

(14)

commit to user

xiii

ABSTRAK

TIKA DWI ARIYANI, D0207103, KONSTRUKSI REALITAS DALAM BERITA KASUS KORUPSI DI MEDIA CETAK KOMPAS (Study Analisis Wacana terhadap Teks Berita Kasus Korupsi Pembangunan Wisma Atlet di Headline Harian Umum Kompas Periode Juli-Agustus 2011), Skripsi, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2012.

Korupsi merupakan masalah penting yang harus segera dituntaskan. Melihat kerugian yang harus ditanggung rakyat dan anggaran Negara yang dirampas, kasus korupsi memerlukan perhatian khususdan juga ketegasan penegak hukum. Keterlibatan sejumlah pejabat Negara dan kader partai dalam praktik kotor ini menjadi salah satu wacana yang menarik perhatian media massa dan khalayak. Dengan masalah politik yang turut membumbuinya, tentu kasus suap pembangunan Wisma Atlet ini memiliki nilai berita (news value) yang lebih besar untuk diberitakan.

Pemberitaan di media massa pada dasarnya adalah cerminan realitas. Dalam hal pemberitaan realita di masyarakat, media massa tidak hanya memberitakan apa yang terjadi, tetapi juga mengkonstruksi realita dengan penyampaian pesan, baik secara tersirat maupun tersurat. Media terkadang menyembunyikan sebagian fakta dan menonjolkan fakta lain ke dalam wacana untuk menggiring opini khalayak sesuai arah yang mereka inginkan.

Studi komunikasi dalam penelitian ini adalah tentang studi pesan yaitu struktur kebahasaan dalam teks berita pada media massa. Dengan metode penelitian deskriptif kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana media mengkonstruksi pemberitaan mengenai kasus suap Pembangunan Wisma Atlet yang disajikan dalam headline Kompas selama periode Juli- Agustus 2011.

Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana Teun A. van Dijk dengan elemen-elemen yang dimiliki seperti tematik, skematik, semantik, sintaksis, stilistik, dan retoris untuk mengetahui bagaimana wacana kasus korupsi dikemas untuk disajikan pada khalayak,serta makna yang ada di dalamnya.

Hasil dari penelitian ini adalah bahwa delapan teks berita headline tentang kasus korupsi Wisma Atlet menunjukkan, sebagai salah satu surat kabar Indonesia, Kompas mengkonstruksi realitas menyajikan wacana secara positif. Secara keseluruhan Kompas menyajikan pemberitaan kasus ini ke dalam beberapa bagian, yaitu: proses penangkapan para tersangka, langkah-langkah yang diambil pemerintah dalam menangani kasus ini, dan penyelidikan tentang kasus suap itu sendiri.

(15)

commit to user

xiv

ABSTRACT

TIKA DWI ARIYANI, D0207103, CONSTRUCTION OF REALITY IN THE CASE OF CORRUPTION IN KOMPAS MEDIA (Discourse Analysis Study for Corruption Cases’s News Text of Wisma Atlet in Headline Kompas for the period July-August 2011), Thesis, Communication Department, Social and Political Science Faculty, Sebelas Maret University of Surakarta, 2012.

Corruption is an important issue that must be solved. Will be considered a loss of the people supported and deprived the state budget, corruption cases need special attention and the strength of the prosecution. The involvement of state officials and party cadres in this vile practice became one of the discourse that attracted the attention of the mass media and the public. With political issues as the spice, bribery Wisma Atlet Development has more news value to be announced.

Messages in the mass media is essentially a mirror image of reality. Regarding the reporting of the reality in society, the mass media not only reported what happened, but the reality constructed with the delivery of messages, either explicit or implicit. Media sometimes hide a few facts and other facts to show the public discourse opinion in the direction they want to lead.

Communication studies in this research is the study of linguistic structure in the news text messages of mass media. With descriptive qualitative research methods, this study aims to determine how the media construct the news about the corruption in Wisma Atlet development who served in the headlines Kompas in the period from July to August 2011.

This study uses discourse analysis Teun A. van Dijk with its elements such as tematic, schematic, semantic, syntactic, stylistic and rhetorical to find out how the discourse of corruption cases are presented at audiences, with the message which be delivered by mass media in it.

The results of this study is that the eight text headlines about Wisma Atlet corruption, Kompas as one of the Indonesian newspaper make construction of the present reality in a positive discourse. Compass presents all of the coverage of this case into several parts, namely: the process of catch the corruptor, held by the government in dealing with this case and the investigation of cases of bribery itself.

Keywords: corruption, wisma atlet, the media construction of reality, discourse analysis

(16)

commit to user

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kehadiran media massa memiliki peran signifikan terhadap perubahan gaya hidup yang terjadi di masyarakat. Selain sebagai sarana informasi, media massa juga berperan sebagai sarana pendidik, kontrol sosial, dan pemberi suguhan hiburan. Media massa juga memiliki kekuatan besar dalam mempengaruhi pikiran, perubahan sikap, dan perilaku para khalayak. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa media massa turut menyumbangkan perannya dalam menentukan kemajuan suatu bangsa.

Dalam menjalankan peran media tersebut, kebebasan pers merupakan faktor pendukung yang sangat dibutuhkan. Saat ini Indonesia berada pada era Reformasi dimana pers memiliki kebebasan dalam menyampaikan informasi. Namun kebebasan ini bukanlah kebebasan tanpa batas, karena media tetap memiliki kode etik dan tanggung jawab yang tetap harus dipatuhi. Dengan adanya kebebasan ini, masyarakat dapat berpartisipasi dalam menjalankan fungsi pers sebagai kontrol sosial termasuk mengontrol jalannya pemerintahan. Tidak hanya mempublikasi kesuksesan hasil kinerja pemerintah, media massa kini berani mengungkap sejumlah kekurangan yang ada di dalamnya. Contohnya saja pemberitaan mengenai kasus-kasus penyelewengan dana atau korupsi yang dilakukan sejumlah pejabat negara.

Kasus korupsi telah banyak mewarnai pemberitaan di berbagai media Indonesia baik cetak maupun elektronik. Hampir di setiap media terdapat

(17)

commit to user

pemberitaan kasus tindak pidana korupsi yang melibatkan sejumlah pihak baik dari lingkungan umum maupun pejabat pemerintah. Pemberitaan terkait penetapan tersangka, penyelidikan perkembangan kasus, serta penangkapan, seperti tidak memberi pelajaran dan efek jera bagi para pelakunya. Sampai saat ini korupsi belum juga dapat dihilangkan, bahkan pemberitaan dugaan kasus korupsi justru semakin gencar dengan jumlah kasus yang terus bertambah.

Setiap peristiwa dapat tampil di media selama peristiwa tersebut memiliki nilai berita yang menjadikannya patut untuk dipublikasi. Dan kasus korupsi adalah salah satu kasus yang menarik perhatian media, apalagi jika masalah penyelewengan dana tersebut sarat akan kepentingan politik. Jika kita lebih cermat mengamati bentuk pemberitaan kasus korupsi yang dipublikasi oleh berbagai media di Indonesia, tentu akan terlihat perbedaan yang signifikan antara berita korupsi yang memiliki keterikatan dengan dunia politik atau tidak. Konflik yang ditimbulkan oleh berita terkait masalah politik akan lebih kompleks karena menyangkut lebih banyak aspek dan kepentingan.

Cara media massa dalam menyajikan berita untuk kedua jenis kasus korupsi tersebut tentu akan berbeda. Dalam surat kabar misalnya, ketika masalah korupsi yang diterbitkan tidak memiliki kaitan dengan politik, maka bahasa dan pemilihan katanya akan lebih netral dan tidak mengarah pada wacana-wacana baru dan tidak bersifat profokatif. Contohnya berita tentang kasus korupsi yang menimpa keluarga Kadana beberapa waktu lalu.

(18)

commit to user

“Sembilan bulan terakhir, keluarga korban makelar kasus di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, tinggal di kandang kambing. Istri dan enam anak Kadana terpaksa menjual tanah dan rumah demi mengurus perkara pidana yang menimpa Kadana... Oknum-oknum penegak hukum itu pun telah berjanji akan membebaskan tersangka. Namun, mereka justru menghilang. Suaminya pun tak kunjung bebas.”1

Dalam surat kabar Suara Merdeka edisi April 2010 tersebut, berita terfokus pada kasus penegakan tindak pidana korupsi. Hal ini terlihat dari judul berita yang lugas yaitu “Ditipu Markus, Keluarga Kadana Tinggal di Kandang Kambing”. Isi berita menggambarkan kemiskinan yang harus ditanggung keluarga Kadana, korban penyelewengan dana oleh oknum polisi yang harus menerima kenyataan tinggal di kandang kambing untuk menuntut keadilan dan pembebasan Kadana. Semua subjek yang ada dalam berita memang terkait dalam kasus tersebut. Tidak ada pihak lain di luar berita yang disudutkan.

Berbeda dengan berita tanpa unsur politik yang cenderung minim pemberitaan, peristiwa yang sarat politik memang selalu menarik perhatian para pencari berita untuk menjadikannya sebagai bahan liputan. Contohnya adalah kasus Bibit-Chandra beberapa waktu lalu yang fenomenal dengan istilah Cicak vs Buaya. Untuk kasus ini, berbagai surat kabar yang ada di Indonesia berusaha mengemasnya menjadi berita yang lezat dikonsumsi khalayak sesuai dengan cara dan tujuan tiap media.

Media Indonesia merupakan satu dari sekian banyak surat kabar yang mengikuti perkembangan kasus tersebut. Dalam salah satu headline-nya yang

1Suara Merdeka edisi Kamis, 8 April 2010, “Ditipu Markus, Keluarga Kadana Tinggal di Kandang Kambing”. Hal 1

(19)

commit to user

berjudul “Kasus Bibit-Chandra Timbulkan Keraguan Penegakan Hukum” kita dapat melihat pesan yang ingin disampaikan oleh media tersebut.

“…penolakan PK Kejaksaan dalam perkara Bibit-Chandra mengonfirmasi kemenangan telak para koruptor dan mafia hukum dalam upaya melumpuhkan KPK, "…….Presiden tidak efektif mengontrol dan mengendalikan para pembantunya di bidang hukum, agenda penegakan hukum lebih banyak diisi sandiwara, rekayasa dan retorika, semata-mata demi citra.”2

Dalam artikel kasus Bibit-Chandra ini, selain memberi komentar mengenai kasus tersebut, surat kabar melalui narasumbernya secara tidak langsung telah membawa masyarakat untuk lebih kritis melihat kinerja Presiden. “Presiden tidak efektif mengontrol dan mengendalikan para pembantunya di bidang hukum…”, kata-kata yang dipilih Media Indonesia untuk menyampaikan berita tersebut seakan mengarahkan khalayak untuk ikut sependapat bahwa ada pihak lain yang harus ikut bertanggung jawab atas ketidakefektifan pemberantasan kasus korupsi, yaitu Presiden.

Pemilihan isu-isu yang akan diangkat merupakan kebijakan dari setiap surat kabar sesuai kriterianya masing-masing. Menurut McQuail, pemilihan isi berita dipengaruhi dua faktor, yaitu eksternal dan internal.3 Sumber berita

sebagai salah satu faktor eksternal dianggap sebagai pihak yang tidak netral karena ia juga mempunyai kepentingan untuk mempengaruhi media dengan berbagai alasan, seperti memenangkan opini publik, atau memberi citra tertentu kepada khalayak. Ini merupakan salah satu bentuk aplikasi Teori Agenda Setting, dimana media mempunyai kekuatan untuk menciptakan 2Media Indonesia edisi Senin, 11 Oktober 2010 dengan judul artikel “Kasus Bibit-Chandra Timbulkan Keraguan Penegakan Hukum”

(20)

commit to user

agenda publik. Apa yang dianggap penting oleh media akan menjadi hal yang dianggap penting juga oleh publik.

Pemilihan tema merupakan langkah media industri dalam menjalankan fungsi pelayanan publik. Pemilihan tema berdasarkan agenda setting ini menyajikan berita sesuai pendekatan atau kepentingan strategis media untuk meningkatkan kredibilitas media dan penciptaan tokoh. Dalam praktek sosial media inilah dapat terbentuk realitas kedua yang ditumpangkan pada peristiwa yang sedang dibahas.4

Pemberitaan di media massa pada dasarnya adalah cerminan realitas. Gambaran dari realitas suatu masyarakat dapat terlihat dari pemberitaan di media. Media melengkapi kesadaran kita dengan orang, tempat dan peristiwa yang kita sebut realitas. Sebagian besar dari kita bergantung pada media untuk membantu memahami banyaknya informasi yang ada. Kemampuan media dalam membentuk realitas kedua di dalam pemberitaannya adalah hal harus kita waspadai. Kita perlu kritis mempertanyakan apakah media telah menyajikan informasi secara objektif atau tidak.

Satu lagi pengangkatan isu korupsi yang turut meramaikan pemberitaan dan sarat kepentingan politik adalah kasus suap pembangunan Wisma Atlet di Jakabaring, Palembang. Wisma Atlet ini dibangun sebagai tempat peristirahatann para atlet yang berkompetisi di ajang SEA Games ke-26. Sebagai tuan rumah dalam acara olahraga bertaraf internasional,

4Piñuel, José Luis, PhD; Gaitán, Juan Antonio, PhD. Study of the hegemonic discourse about truth and communication in the media's self-referential information, based on the analysis of the Spanish Press, Journal Communications. Issue : 65. Numb of page 572-599. Tenerife, Spanish. 2010. Diakses dari http://search.proquest.com/docview/848263655?accountid=13771

(21)

commit to user

pemerintah telah menyiapkan anggaran yang sangat besar untuk memfasilitasi negara-negara yang turut berpartisipasi. Tetapi dalam pelaksanaannya, beberapa pihak diduga terkait dalam penyalahgunaan anggaran dalam pembangunan wisma atlet tersebut.

Banyak kejadian di masyarakat, tetapi tidak semuanya diliput oleh media. Hanya peristiwa yang memiliki nilai berita yang menjadikannya layak untuk dipublikasi sebagai sebuah berita. Kasus korupsi Wisma Atlet memiliki nilai berita yang tinggi untuk diberitakan karena merupakan peristiwa besar dan memiliki arti penting. Hal ini yang dapat dilihat dari banyaknya media massa yang terus menyoroti perkembangan kasus tersebut, keterlibatan orang-orang penting di dalamnya, nominal uang rakyat yang dirugikan, dan akibat yang ditimbulkan.

Dan dari unsur conflict kita juga dapat melihat bahwa kasus pembangunan Wisma Atlet memiliki konflik yang sangat pelik dengan keterlibatan anggota kader partai Demokrat, yaitu Nazarruddin. Selama masa penangkapan dan penyalidikan, Nazaruddin menyebutkan sejumlah nama pejabat di kementrian yang ikut terkait. Proses penyelidikan terasa makin jauh dari titik cerah dan justru memunculkan kasus-kasus baru. Kasus suap merupakan tindakan yang terencana dengan matang, terlebih dilakukan oleh kalangan pejabat, karenanya kasus Wisma Atlet mengandung konflik yang potensial untuk diberitakan.

Perkembangan terkait kasus ini diberitakan dengan cara berbeda oleh hampir semua surat kabar. Penyampaian pesan melalui pemilihan tema dan

(22)

commit to user

struktur bahasa memunculkan isu-isu baru yang membuat kasus ini makin menarik. Oleh karena itu peneliti tergerak untuk mengangkat masalah ini sebagai topik penelitian. Media yang akan digunakan sebagai bahan penelitian adalah headline harian Umum Kompas Periode Juli- Agustus 2011. Sebagai pilar keempat demokrasi, pers jelas mempunyai potensi untuk membentuk persepsi publik. Hal inilah yang membuat banyak politisi atau lebih tepatnya politikus, berusaha menguasai pers, bahkan menciptakan perusahaan persnya sendiri. Karenanya khalayak harus lebih peka dalam menerima terpaan media untuk memahami pemberitaan dari hasil konstruksi yang dilakukan media dengan segala ideologi dan kepentingan yang dimiliki.

Melalui pemberitaan kasus korupsi yang diterbitkan Harian Umum Kompas, peneliti akan melakukan analisis teks dengan menggunakan analisis wacana yang merupakan studi tentang struktur pesan pada dalam komunikasi. Yaitu telaah mengenai aneka fungsi (prakmatik) bahasa. Dalam teks berita, fungsi bahasa adalah sebagai penyampai peristiwa yang dirangkai secara tekstual.

Bahasa digunakan untuk membawa gambaran realitas yang ada di sekitar manusia. Kajian tentang pembahasaan realitas dalam sebuah pesan tidak hanya apa yang tampak dalam teks atau tulisan, situasi dan kondisi (konteks) tetapi juga pesan yang dapat membuat persepsi berbeda. Seperti yang dikatakan George Lazaroiu dalam jurnal internasional yang ditulisnya:

“The use of news language is more of a rhetorical achievement than simply the reproduction of dominance. Lexical analysis on its own is not sufficient to understand the ideological force of media language.

(23)

commit to user

Discourse analysis of media texts cannot offer firm conclusions about the implications for individual readers.”5

Penggunaan bahasa dalam berita lebih merupakan penghargaan terhadap subuah retoris daripada sekedar hasil laporan tentang suatu kejadian berdasar kekuasaan. Analisis leksikal saja tidak cukup untuk mempertahankan kekuatan ideologis dari media untuk memahami bahasa. Wacana analisis teks media tidak dapat menawarkan kesimpulan tentang dampak pada tiap individu. Analisis wacana dalam analisis media telah mendominasi representasi dari dunia sosial, dimana pesan dalam berita dapat berbeda jika disajikan oleh media yang berbeda. Ia menggambarkan kekuatan dari berita melalui bahasanya untuk meyakinkan dan memanipulasi isi berita.

Dengan analisis wacana kita bukan hanya mengetahui bagaimana isi teks berita, tetapi juga bagaimana pesan itu disampaikan. Selain itu, analisis wacana lebih bisa melihat makna yang tersembunyi dari sebuah teks melalui struktur kebahasaannya.6 Struktur kebahasaan yang dipilih untuk menyajikan

berita juga dapat menjadi penilaian bagaimana sebuah surat kabar menanggapi kasus tersebut.

Dengan analisis wacana, peneliti ingin mengetahui bagaimana koran nasional mengkonstruksi berita terkait Kasus Korupsi Pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Harian Umum Kompas edisi Juli – Agustus 2011.

5 George Lazaroiu. ETHICAL JOURNALISM AND TRUTH. Economics, Management and Financial Markets. Vol 6. Pages 886-889. Addleton Academic Publishers. Woodside. 2011 http://search.proquest.com/docview/884341110?accountid=13771

(24)

commit to user

B. Rumusan Masalah

Bagaimana Harian Umum Kompas mengkonstruksi realitas dalam pemberitaan Kasus Korupsi Pembangunan Wisma Atlet pada bagian headline periode Juli – Agustus 2011?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara Harian Umum Kompas mengkonstruksi realitas dalam pemberitaan Kasus Korupsi Pembangunan Wisma Atlet pada bagian headline periode Juli – Agustus 2011.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penelitian mengenai media secara lebih mendalam dan dapat digunakan sebagai bahan acuan teori-teori komunikasi dan menjadi referensi penelitian lain yang sejenis.

2. Manfaat Praktis

Memberikan data-data yang konkret pada penulis, khalayak dan juga pada institusi media yang membutuhkan untuk melakukan evaluasi dan pengambilan kebijakan atas materi yang disajikan.

(25)

commit to user

E. Kerangaka Teori 1. Berita

Sesungguhnya berita adalah hasil rekonstruksi tertulis dari realitas sosial yang terdapat dalam kehidupan. Itulah sebabnya ada orang yang beranggapan bahwa penulisan berita lebih merupakan pekerjaan merekonstruksikan realitas sosial ketimbang gambaran dari realitas itu sendiri.

Berikut ini terdapat sejumlah definisi berita menurut beberapa pakar komunikasi7, yaitu:

a) William S. Maulsby, berita adalah suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta-fakta yang mempunyai arti penting dan baru terjadi, yang dapat menarik perhatian para pembaca surat kabar yang memuat berita tersebut”.

b) Michael V. Charnley dalam bukunya Reporting, menegaskan berita adalah laporan tercepat mengenai fakta dan opini yang menarik atau penting, atau kedua-duanya bagi sejumlah besar penduduk

c) Sumandiria, merujuk pada beberapa definisi yang ada menyimpulkan bahwa berita adalah laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar, menarik, dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media berkala seperti surat kabar, radio, televisi, atau media online internet.

7Sumadiria.. Jurnalistik Indonesia Menulis Berita dan Feature. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. 2006. Hal. 65

(26)

commit to user

Berita adalah hasil akhir dari proses kompleks dengan memilah-milah dan menentukan peristiwa dan tema-tema tertentu dalam satu kategori tertentu.8 Dengan demikian maka berita yang dihasilkan oleh media merupakan berita yang menggambarkan sebuah peristiwa setelah mengalami proses pengemasan sesuai keinginan media.

Menurut Shoemaker dan Reese, nilai berita adalah elemen yang di tujukan kepada khalayak. Memproduksi berita tidak ada bedanya dengan memproduksi barang. Keduanya ditujukan kepada khalayak. Tetapi keduanya berbeda dalam hal apa yang mereka jual. Nilai berita adalah produk dari konstruksi wartawan. Secara umum, nilai berita tersebut dapat digambarkan sebagai berikut9:

1) Prominance : Nilai berita diukur dari kebesaran peristiwanya atau arti pentingnya. Peristiwa yang diberitakan adalah peristiwa yang di pandang penting.

2) Human Interest : Peristiwa lebih memungkinkan disebut berita kalau peristiwa itu banyak mengandung unsure haru, sedih, dan menguras emosi khalayak.

3) Conflict/Controversy : Peristiwa yang mengandung konflik lebih potensial disebut berita dibandingkan dengan peristiwa yang biasabiasa saja.

4) Unusual : Berita mengandung peristiwa yang tidak biasa, peristiwa yang jarang terjadi.

5) Proximity : Peristiwa yang dekat lebih layak diberitakan dibandingkan dengan peristiwa yang jauh, baik dari fisik maupun emosional khalayak

Nilai berita adalah prosedur standar peristiwa bagi wartawan maupun sebuah media tentang apa yang bisa diberitakan kepada khalayak. Selain memiliki ukuran standar dalam menentukan berita, nilai berita juga bisa dijadikan sebagai ideologi bagi kerja wartawan. Wartawan /pers menentukan bagaimana peristiwa 8Eriyanto. Analisis Framing: Kontruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta. LKIS. 2002. hal 102

(27)

commit to user

itu diklarifikasikan dan juga bagaimana peristiwa tersebut didefinisikan dan dikonstruksi, serta dengan cara apa dan bagaimana peristiwa seharusnya diinputkan.10

Artinya dengan nilai berita tersebut sebuah berita yang ada di Harian Kompas khususnya Headline terkait pemberitaan Kasus Suap Wisma Atlet harus memliki berita yang berkualitas dan baik supaya masyarakat bisa membaca perkembangan berita yang lebih aktual.

Dalam analisis teks berita kasus korupsi Wisma Atlet ini, penulis memilih headline pada harian umum Kompas dengan bentuk straight news atau berita langsung untuk menjadi objek penelitian.

Teori jurnalistik mengajarkan, karena fakta dalam bentuk berbagai peristiwa yang terjadi di dunia begitu banyak, sedangkan waktu yang dimiliki jurnalis sangat terbatas, maka cara melaporkan dan menulis fakta yang paling mudah adalah dengan pola piramida terbalik.11

Dengan piramida terbalik berarti pesan berita disusun secara deduktif. Kesimpulannya diletakkan terlebih dahulu pada paragraph pertama, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan yang lebih rinci pada paragraph berikutnya. Dengan demikian, paragraph pertama berisi informasi yang sangat penting, dan kemudian dilanjutkan dengan paragraph atau alinea selanjutnya yang masuk dalam kategori penting, cukup penting, dan kurang penting.

10Ibid. hal. 111 11 Ibid. hal. 117

(28)

commit to user

Berita ditulis dengan menggunakan rumus 5W+1H agar berita lengkap, akurat, dan sekaligus memenuhi standar teknis jurnalistik. Jika diperhatikan, berita melaporkan kejadian dimulai dengan ringkasan atau klimaks pada alinea pembuka, kemudian dikembangkan lebih lanjut pada alinea-alinea berikutnya dengan memberikan kronologis yang semakin menurun daya tariknya.12

Alasan penggunaan teknik penulisan piramida terbalik ini pertama dilatarbelakangi oleh keterbatasan waktu khalayak untuk membaca surat kabar. Mereka hanya melihat berita penting saja, yang biasanya hanya bagian atas berita yang dibaca sedangkan bagian bawahnya dilewatkan. Kedua,adanya keterbatasan ruang pada koran yang dibandingkan jumlah berita yang masuk ke redaksi surat kabar.13 Maka jika diskemakan bentuk struktur penulisan berita adalah sebagai

berikut:

Piramida Terbalik

Bagan 1.1

12 Hikmat Kusumaningrat, Purnama Kusumaningrat. 2009. Jurnalistik Teori dan Praktik. Bandung. Remaja Rosdakarya. Hal. 126

13 Mursito BM. 1999. Penulisan Jurnalistik. Konsep dan Teknik Penulisan Berita. Solo. Spikom. Hal. 62

Penutup

Headline / Judul Berita Lead / Teras Berita

(29)

commit to user a. Headline (Judul Berita)

Judul Berita atau headline adalah identitas berita. Tanpa judul, berita sehebat apapun tidak ada artinya. Judul berita sangat mendasar dilihat dari dua sisi kepentingan. Pertama, bagi berita itu sendiri. Tanpa judul, ia adalah sesuatu yang anonim, tidak dikenal, abstrak, sehingga tidak akan bicara apa-apa. Ia tidak mampu memberi pesan, padahal salah satu inti komunikasi adalah pesan. Kedua, bagi khalayak pembaca. Judul adalah pemicu daya tarik pertama bagi pembaca untuk membaca suatu berita, atau justru segera melewatinya dan melupakanya.14

Tidak semua surat kabar memperhatikan kaidah dalam menentukan judul berita, yang diutamakan hanyalah bagaimana judul tersebut dapat menarik perhatian pembaca. Judul atau headline yang baik seharusnya memenuhi delapan syarat yaitu: provokatif, singkat-padat, relevan, fungsional, formal, representatif, menggunakan bahasa baku, dan spesifik.15

Judul berita adalah nama dari suatu berita yang diharapkan bisa membantu pembaca yang terburu waktu. Variasi penyajian headline diusahakan agar khalayak tertarik untuk menikmati pemberitaannya, seperti pemakaian huruf capital dan cetak tebal. Dengan demikian headline pun berfungsi untuk memanggil khalayak agar mau membaca, mendengar, dan menontonnya.

14 Sumadiria. Op.Cit. Hal. 121-122 15 Ibid. hal. 122-125

(30)

commit to user b. Lead (Teras Berita)

Teras berita disebut juga lead, adalah bagian berita yang terletak di alinea atau paragraf pertama. Teras berita merupakan laporan singkat yang merupakan klimaks dari peritiwa yang dilaporkannya. Lead adalah kalimat pembuka yang berisi ringkasan berita, untuk memenuhi rasa ingin tahu pembacanya maka lead dibuat sedemikian rupa. Hal itu dimaksudkan agar dapat menjawab pertanyaan hakiki yang selalu muncul dari hati nurani para pembacanya.

Teras yang baik harus mencerminkan keseluruhan isi berita. Penulisannya cukup sulit karena harus menggambarkan factor terpenting dari data yang kita miliki. Dengan susunan teras berita yang menarik, akan memikat pembaca untuk mengikuti berita secara keseluruhan. Secara sederhana lead atau teras berita adalah paragraf pertama yang memuat fakta atau informasi terpenting dari keseluruhan uraian berita.16

Dalam sebuah straight news tugas pertama seorang wartawan dalam mengembangkan lead atau alinea pembuka adalah menyaring unsure-unsur penting dari catatan hasil liputannya. Unsur penting ini dapat dijumpai dengan menjawab enam pertanyaan pendek 5W+1H.17

16 Ibid. hal. 120

(31)

commit to user c. Body (Tubuh Berita)

Isi dari tubuh berita menceritakan peristiwa yang dilaporkan dengan bahasa yang singkat, padat, dan jelas. Dengan demikian body merupakan perkembangan berita.

Tubuh berita sebenarnya merupakan kelanjutan dari teras berita yang diuraikan lagi secara rinci. Yang harus diperhatikan adalah mempertahankan kesatuan gagasan dalam penulisan.

d. Penutup

Penutup merupakan akhir dari uraian, tetapi bukan merupakan kesimpulan. Dalam teknik piramida terbalik bagian penutup tidak terlalu penting, sebab bagian terpenting sudah disampaikan dalam lead.18

2. Proses Produksi Berita

Kita ketahui bahwa proses produksi berita bukan merupakan ruang netral yang hanya digunakan sebagai penyampai pesan atau informasi, tetapi proses pembentukan berita dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Proses produksi berita melalui berbagai tahap, setiap tahap memiliki aktivitas yang berbeda. Tahap paling awal dari produksi sebuah berita adalah begaimana wartawan mempersepsi peristiwa/fakta yang akan diliput.

Proses pembentukan berita merupakan proses yang rumit dan banyak faktor yang berpotensi mempengaruhi. Oleh sebab itu niscaya akan

(32)

commit to user

terjadi pertarungan dalam memaknai realitas dan presentasi media. Apa yang akan disajika media, pada dasarnya adalah akumulasi dari pengaruh yang beragam. Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Resse, meringkas berbagai faktor yang mempengaruhi pengambilan keputussan dalam ruang pemberitaan.19

Berita yang disajikan selain menggambarkan realitas dari media itu sendiri. Media memilih realitas mana yang diambil dan realitas mana yang tidak diambil. Selain itu secara sadar atau tidak sadar, media juga memilih aktor yang dijadikan sumber berita, sehingga hanya sebagian saja dari sumber berita yang tampil dalam pemberitaan. Media massa juga berperan dalam mendefinisikan aktor dan peristiwa lewat bahasa yang digunakan dalam pemberitaan. Media massa membingkai suatu peristiwa dengan bingkai tertentu yang pada akhinya menentukan bagaimana cara khalayak harus melihat dan memahami peristiwa dalam kaca mata tertentu.20

Dalam pembentukan dan penulisan berita, secara sadar atau tidak sadar akan melibatkan nilai nilai tertentu yang dimiliki oleh wartawan atau media sehingga mustahil berita merupakan pencerminan realitas. Realiatas yang sama bisa menghasilkan berita yang berbeda, karena adanya cara pandang yang berbeda. Oleh karenanya, berita bersifat subjektif karena saat melihat realitas wartawan atau media melihat dengan perpektif dan pertimbangan subjektif.

19 Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Resse, Mediating the Message; Theories of Influenceson

Mass Media Content, Second Edition, New York, Longman. 1996 dikutip oleh Agus Sudyibyo.

Politik Media dan Pertarungan Wacana. LkiS. Yogyakarta. 2001. hal. 7 20 Eriyanto. 2002. Op.Cit. hal 22-24

(33)

commit to user

3. Pandangan Konstruksionis Atas Realitas Sosial

Sebuah penelitian memerlukan acuan berupa paradigma dalam prosesnya agar jelas arahan mana yang akan dituju dan dengan cara atau alur bagaimanakah tujuan itu diperoleh. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan paradigma konstruktivis yang merupakan salah satu pandangan dalam analisis wacana.

Perspektif Konstruktivisme memberikan penjelasan bahwa individu mengintepretasikan dan mengaktualisasikan konsep dalam tindakan tidak begitu saja terjadi. Berangkat dari pemikiran ini kita bisa melihat bahwa tugas seorang konstruktivis tidaklah mudah. Mengingat dunia arti di balik sebuah peristiwa perlu dipahami dengan seksama, menyeluruh, diintrepretasikan sampai akhirnya lahir sebuah makna.21

Seperti semua gerakan, konstruksi sosial tidak sepenuhnya konsisten dan mempunyai beragam versi, Meskipun demikian, sebagaian besar mempunyaiserangkaian asumsi yang sama. Robyn Penman seperti yang ditulis oleh Littlejohn merangkum asumsi-asumsi Konstruksi Realitas Sosial sebagai berikut :22

1.Tindakan komunikatif bersifat sukarela. Seperti halnya perspektif interaksionisme simbolik, kebanyakan konstruksionis sosial memandang komunikator sebagai makhluk pembuat pilihan. Namun demikian, ini tidak berarti bahwa setiap orang memiliki pilihan bebas. Lingkungan sosial memang membatasi apa yang dapat dan sudah dilakukan, tetapi dalam kebanyakan situasi, ada elemen pilihan tertentu.

21Littlejohn. Stephen W. Theories of Human Communication 8th edition. Belmont :Thompson Wadsworth, 2005. Hal 112-113

(34)

commit to user

2.Pengetahuan adalah sebuah produk sosial. Pengetahuan bukan sesuatuyang ditemukan secara objektif, melainkan diturunkan dari interaksi didalam kelompok-kelompok sosial. Selanjutnya, bahasa membentuk realitas dan makna menentukan mengenai apa yang kita ketahui.

3.Pengetahuan bersifat kontekstual. Pengertian kita terhadap peristiwa selalumerupakan produk interaksi di tempat dan waktu tertentu serta padalingkungan sosial tertentu. Oleh karena itu, pemahaman kita atas suatu halakan terus berubah sesuai dengan berjalannya waktu.

4.Teori-teori menciptakan dunia-dunia. Teori-teori dan aktivitas ilmiah serta penelitian pada umumnya bukanlah alat-alat yang objektif untuk suatu penemuan, melainkan ia lebih berperan dalam menciptakan pengetahuan.Dengan demikian, pengetahuan sosial selalu menyela dalam proses-prosesyang tengah dikaji. Pengetahuan itu sendiri membawa pengaruh pada apayang sedang diamati dan diteliti.

5.Pengetahuan sarat dengan nilai. Apa yang kita amati dalam suatu penelitian atau apa yang kita jelaskan dalam suatu teori senantiasadipengaruhi oleh nilai-niai yang tertanam di dalam pendekatan yangdipakai.Berangkat dari apa yang dikemukakan pemikir komunikasi di atas, dapatdianalisis lebih dalam bahwa pemikiran konstruksionis bahwa dalam konteksmedia massa sebagai sumber informasi juga tidak bebas nilai. Artinya, menurut paradigma konstruksionis, berita – berita yang disajikan kepada khalayak adalah berita yang sarat dengan muatan nilai – nilai dari pengelola medianya

Realitas sosial dimaknai dan dikonstruksi dengan makna tertentu. Hasil pemberitaan media pada satu sisi tertentu atau wawancara dengan orang-orang yg berkaitan dengan realitas (peristiwa, aktor, kelompok, atau apa saja). Semua elemen tersebut tidak hanya bagian dari teknik jurnalistik, tetapi menandakan bagaimana peristiwa dimaknai dan ditampilkan.23 Dengan pemahaman ini realitas berwajah ganda/ prural.

Setiap orang mempunyai kontruksi yang berbeda-beda atas sesuatu realitas.

Pendekatan konstruktivisme diperkenalkan oleh sosiolog interpretative Peter L.Berger bersama Thomas Luckman. Bagi Berger,

(35)

commit to user

realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, tetapi ia dibentuk dan dan dikonstruksi secara berbeda-beda oleh semua orang, artinya setiap orang boleh mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu realitas.24

Setiap orang mempunyai pengalaman, preferensi, pendidikan yang berbeda sehingga membentuk kerangka berpikir yang berbeda pula. Masing-masing akan menafsirkan realitas berdasarkan pengalaman, preferensi, pendidikan, lingkungan atau pergaulan sosialnya.

Menurut Berger dalam Eriyanto, realitas merupakan realitas subjektif sekaligus realiatas objektif. Dalam realitas subjektif, realitas tersebut menyangkut makna, interpretasi, dan hasil relasi antara individu dengan objek. Setiap individu mempunyai latar belakang sejarah, pengetahuan dan lingkungan yang berbeda-beda, yang bisa menghasilkan penafsiran yang berbeda ketika melihat dan berhadapan langsung dengan objek. Sebaliknya realitas itu juga mempunyai dimensi objektif sesuatu yang dialami, bersifat eksternal, berada diluar. Dalam perpektif kontruksi sosial, kedua realitas tersebut saling berdialektika, membentuk dan dibentuk masyarakat begitu untuk seterusnya.25

Penerapan gagasan Berger dalam ranah konteks berita adalah bahwa sebuah teks dalam berita tidak dapat kita samakan sebagai gambaran dari relitas, ia harus dipandang sebagai hasil konsruksi atas ralitas. Realitas lapangan sebenarnya berbeda dengan realitas media. Karenanya sangat potensial terjadi peristiwa yang sama dikonstruksi

24Ibid. hal.15 25Ibid. hal. 17

(36)

commit to user

secara berbeda. Berita dalam pandangan konstruksi social , bukan merupakan peristiwa atau fakta dalam arti yang rill.

4. Konstruksi Realitas Sosial oleh Media

Membahas teori konstruksi sosial (social construction), tentu tidak bisa terlepaskan dari bangunan teoritik yang telah dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Berawal dari istilah konstruktivisme, konstruksi realitas sosial terkenal sejak diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman melalui bukunya yang berjudul The Social Construction of Reality: A Treatise in The Sociological of Knowledge tahun 1966. Menurut mereka, realitas sosial dikonstruksi melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Konstruksi sosial tidak berlangsung dalam ruang hampa, namun sarat denga kepentingan-kepentingan.26 Bagi kaum konstruktivisme, realitas (berita) itu hadir

dalam keadaan subjektif. Realitas tercipta lewat konstruksi, sudut pandang dan ideologi wartawan. Secara singkat, manusialah yang membentuk imaji dunia. Sebuah teks dalam sebuah berita tidak dapat disamakan sebagai cerminan dari realitas, tetapi ia harus dipandang sebagai konstruksi atas realitas.

Teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas Peter L Berger dan Luckmann telah direvisi dengan melihat fenomena media massa sangat substantif dalam proses eksternalisasi, subyektivasi dan

26Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi : Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat . Jakarta. Kencana. 2007. hal. 192

(37)

commit to user

internalisasi inilah yang kemudian dikenal sebagai “konstruksi sosial media massa”. Menurut perspektif ini tahapan-tahapan dalam proses konstruksi sosial media massa itu terjadi melalui: tahap menyiapkan materi konstruksi; tahap sebaran kostruksi; tahap pembentukan kosntruksi; tahap konfirmasi.27Penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Tahap menyiapkan materi konstruksi

Ada tiga hal penting dalam tahapan ini yakni: keberpihakan media massa kepada kapitalisme, keberpihakan semu kepada masyarakat, keberpihakan kepada kepentingan umum.

2. Tahap sebaran konstruksi

Prinsip dasar dari sebaran konstruksi sosial media massa adalah semua informasi harus sampai pada khalayak secara tepat berdasarkan agenda media. Apa yang dipandang penting oleh media, menjadi penting pula bagi pemirsa atau pembaca.

3. Tahap pembentukan konstruksi realitas.

Pembentukan konstruksi berlangsung melalui: (1) konstruksi realitas pembenaran; (2) kedua kesediaan dikonstruksi oleh media massa ; (3) sebagai pilihan konsumtif.

4. Tahap Konfirmasi.

Adalah tahapan ketika media massa maupun penonton memberi argumentasi dan akuntabilitas terhadap pilihannya untuk terlibat dalam pembetukan konstruksi.

Pada kenyataanya, realitas sosial itu berdiri sendiri tanpa kehadiran individu baik di dalam maupun di luar realitas tersebut. Realitas sosial memiliki makna, manakala realitas sosial dikonstruksi dan dimaknai secara subyektif oleh individu lain sehingga memantapkan realitas itu secara obyektif. Individu mengkostruksi realitas sosial dan merekonstruksinya dalam dunia realitas, memantapkan realitas itu berdasarkan subjektivitas individu lain dalam institusi sosialnya. Melalui

(38)

commit to user

konstruksi sosial media, dapat dijelaskan bagaimana media massa membuat gambaran tentang realitas.

Asumsi bahwa konstruksi sosial tidak dapat dilepaskan dari fungsi simbol, terutama penggunaan bahasa, tidak jauh berbeda dengan asumsi para penganut pascastrukturalis yang mengatakan bahwa bahasa diakui sebagai model umum penjelasan sosial, atau pendirian bahwa masyarakat dan budaya tersusun dalam suatu discourse (wacana). Dengan perkataan lain, bahasa sangat dominan dan menjadi media utama dalam meng-encode realitas sosial, dan bisa dimengerti bila mereka lebih menyukai diterminisme linguistik ketimbang, misalnya, determinsime psikologi atau determinisme teknologi.28 Di sini fungsi bahasa tidak hanya sebagai

ekspresi diri, tetapi juga sebagai media perantara fakta. Fakta-fakta di semesta sosial hanya dapat diketahui oleh khalayak bila dikomunikasikan dengan bahasa melalui media massa.

Konstruksi realitas pada dasarnya adalah usaha menceritakan (konseptualisasi) sebuah peristiwa, keadaan atau benda. Karena sifat dan faktanya bahwa pekerjaan media massa adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka kesibukan utama media massa adalah mengkonstruksi berbagai realitas yang akan disiarkan dalam bentuk wacana yang bermakna.29

28 Mursito BM., Konstruksi Realitas dalam (Bahasa) Media, Jurnal Komunikasi Massa, Vol. 1, No. 1, Juli 2008, hal.29

29Ibnu Hammad. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia. 2004. hal.11

(39)

commit to user

Dalam proses konstruksi realitas bahasa adalah unsur utama menciptakan realitas yang berfungsi sebagai alat konseptualisasi dan alat narasi. Dan jika decermati secara teliti, seluruh isi media menggunakan bahasa baik verbal maupun non-verbal. Pilihan kata dan cara penyajian suatu realitas ikut menentukan srtuktur konstruksi realitas dan makna yang muncul darinya. Dari perspektif ini, bahasa tidak hanya mencerminkan realitas tetapi juga menciptakan realitas, seperti yang dalam bagan.30

Hubungan antara bahasa dan Realitas Bagan 1.2

Proses penulisan berita merupakan tindakan mengkonstruksi realitas, dimana berita merupakan konstruksi sosial terhadap realitas. Hasil dari konstruksi ini secara tidak langsung akan mempengaruhi cara pandang khalayak terhadap suatu berita. Idealisme wartawan menjadi salah satu penyebab suatu berita dapat dikonstruksi dan dimaknai secara berbeda oleh media lain. Maka wartawan sebagai pembentuk konstruksi

30Ibid., hal.12-13

Language

Reality creates creates creates reality

(40)

commit to user

dari suatu realitas harus dapat menempatkan diri sebagai individu yang independen, dengan pemikiran objektif dan menyampaikan kebenaran dalam setiap berita yang ditulisnya. Dengan kata lain wartawan harus menanamkan elemen jurnalistik dan melaksanakan kode etik jurnalistik dalam menjalankan fungsinya sebagai agen pembentuk konstruksi realitas media.

Berita dalam media cetak dituang dalam bentuk wacana berupa bahasa yang tertulis. Bahasa yang digunakan dalam teks berita inilah yang akan diteliti dengan menggunakan analisis wacana. Bahasa mempunyai kesanggupan untuk menyajikan berbagai bentuk model bagi kajian penelitian sosial-budaya.31 Semua tulisan adalah wacana meskipun apa

yang disebut wacana tidak hanya selalu dalam bentuk tulisan karena kita juga mengenal wacana tertulis dan wacana lisan.

Konstruksi realitas atau konstruksi sosial tidak akan dapat dilepaskan dengan penggunaan simbol. Sistem simbol bunyi bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap), yang bersifat arbiter (berubah-ubah) dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran disebut dengan kata atau bahasa.32

Dalam konteks berbagai teori tentang tanda dan makna ini bahasa tidak hanya sebagai wahana ekspresi diri saja namun juga sebagai media perantara fakta. Fakta-fakta dalam konstruksi sosial hanya dapat diketahui

31Alex Sobur. Op.Cit. hal.9 32Ibid.,hal.42

(41)

commit to user

oleh khalayak bila dikomunikasikan dengan bahasa melalui media massa.33

Secara teknis Fiske membagi tahapan-tahapan proses bekerja produksi dan reproduksi realitas dalam media34:

1. reality, yang berwujud penampilan, pakaian, make-up, lingkungan, perilaku, berbicara gesture, ekspresi, suara, dsb. 2. representation, media audio visual menggunakan kamera,

penyiaran, editing, musik, suara, untuk membuat cerita yang berbentuk narasi, konflik, aksen, dialog, setting, casting, dsb. 3. ideology, yang merupakan organisasi dari kode-kode ideologi

secara koheren dan dapat diterima, meliputi ideologi individualisme, patriarkhi, ras, materialisme, kapitalisme, dsb. Tahapan-tahapan ini menggambarkan bagaimana suatu realitas fisik/empirik diolah, diubah, dan ditransformasikan menjadi realitas simbolik.

Namun sebenarnya realitas yang dibangun media berbeda dengan realitas empirik. Fakta sosial hanya dapat dilihat melalui simbol, karena bahasa menjadi media utama komunikasi, maka fakta hanya dapat di-decode melalui bahasa. Saat ini dimana media membuat manusia makin bergantung pada informasi yang dihadirkan olehnya, jarak antara realitas media dan realitas empirik makin jauh. Hal ini makin membuka peluang bagi media untuk mengeksplorasi fakta-fakta empirik.35

Berger dan Luckman mengatakan institusi masyarakat tercipta dan dipertahankan atau diubah melalui tindakan dan interaksi manusia. Meskipun masyarakat dan institusi sosial terlihat nyata secara obyektif, 33Mursito BM, Memahami Institusi Media Suatu Pengantar. Surakarta Lindu Pusat. 2006. hal. 117

34Ibid., hal. 95

(42)

commit to user

namun pada kenyataan semuanya dibangun dalam definisi subjektif melalui proses interaksi. Objektivitas baru bisa terjadi melalui penegasan berulang-ulang yang diberikan oleh orang lain yang memiliki definisi subyektif yang sama. Pada tingkat generalitas yang paling tinggi, manusia menciptakan dunia dalam makna simbolis yang universal, yaitu pandangan hidupnya yang menyeluruh, yang memberi legitimasi dan mengatur bentuk-bentuk sosial serta memberi makna pada berbagai bidang kehidupannya.

5. Konsep Wacana

Istilah wacana sekarang ini dipakai sebagai terjemahan dari perkataan bahasa Inggris discourse, yang kemudian didefinisikan oleh Webster dalam Alex Sobur berikut36:

a. Komunikasi pikiran dengan kata-kata; ekspresi ide-ide atau gagasan-gagasan; konversasi atau percakapan.

b. Komunikasi secara umum, terutama sebagai suatu subjek studi atau pokok telaah.

c. Risalat tulis; disertasi formal; kuliah; ceramah; khotbah.

Dalam pengertian yang lebih sederhana, definisi wacana menurut Lull berarti cara objek atau ide diperbincangkan secara terbuka kepada publik sehingga menimbulkan pemahaman tertentu yang tersebar luas. Kleden menyebut wacana sebagai ucapan dalam mana seorang pembicara 36Alex Sobur, Analisis Teks Media Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik,

(43)

commit to user

menyampaikan sesuatu tentang sesuatu kepada pendengar. Wacana selalu mengandaikan pembicara/penulis, apa yang dibicarakan, dan pendengar/pembaca. Bahasa merupakan mediasi dalam proses ini. Wacana itu sendiri, seperti dikatakan Tarigan, mencakup keempat tujuan penggunaan bahasa, yaitu ekspresi diri sendiri, eksposisi, sastra, dan persuasi.37

Berdasarkan berbagai pendapat di atas, Alex Sobur merangkum pengertian wacana sebagai rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan statu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk oleh unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.38

Artinya wacana adalah susunan yang sistematis dari bahasa dalam bentuk bahasa tulis maupun bahasa lisan. Selain itu dalam wacana juga ada hal yang penting yang memiliki arti yang ingin disampaikan dan tersaji dalam bentuk yang rapi sehingga dapat melahirkan pemahaman akan subjek yang ingin dijelaskan di dalamnya.

Pemakaian istilah wacana seringkali diikuti oleh beragam istilah, difinisi, bukan hanya tiap disiplin ilmu mempunyai istilah sendiri, banyak ahli memberikan definisi dan batasan yang berbeda mengenai wacana. Menurut Roger Fowler (1977) dalam Eriyanto, ia mendefinisikan wacana sebagai komunikasi lisan atau tulisan yang terlihat dari tititk pandang kepercayaan, nilai, dan kategori yang masuk di dalamnya; kepercayaan

37Ibid. hal.10 38Ibid. hal.11

(44)

commit to user

disini mewakili pandangan dunia, sebuah organisasi atau representasi dari pengalaman.”39

Dari definisi tersebut, kita dapat melihat bahwa apa yang disampaikan dalam sebuah wacana merupakan gambaran dari hasil pemikiran atau representasi dari mana sumber wacana itu disampaikan. Tiap orang dengan kepentingan berbeda memiliki kecenderungan untuk menyampaikan isi pesan baik secara lisan maupun tulisan sesuai dengan apa yang menjadi pemahamannya untuk disampaikan pada orang lain.

Sedangkan Crystal (1987) mengatakan analisis wacana memfokuskan pada struktur yang secara alamiah terdapat pada bahasa lisan, sebagaimana banyak terdapat dalam wacana seperti percakapan, wawancara, komentar, dan ucapan-ucapan.40 Ia cenderung menilai wacana dari segi lisan. Karena dalam sebuah komunikasi yang berlangsung secara lisan terkandung pola struktur komunikasi yang dapat membentuk wacana yang lebih natural.

6. Analisis Wacana

Analisis wacana adalah salah satu altenatif dari analisis isi selain analisis isi kuantitatif yang dominan dan banyak dipakai. Kalau analisis isi kuantitatif lebih menekankan pada pertanyaan ‘apa’ (what), analisis wacana lebih melihat pada ‘bagaimana’ (how) dari pesan atau teks komunikasi. Lewat analisis wacana kita bukan hanya mengetahui isi teks

39Eriyanto. 2001. Op.Cit. hal2 40Ibid

(45)

commit to user

berita, tetapi juga bagaimana pesan itu disampaikan. Lewat kata, frasa, kalimat, metafora seperti apa suatu berita disampaikan. Dengan melihat bagaimana bangunan struktur kebahasaan tersebut, analisis wacana lebih bisa melihat makna yang tersembunyi dari suatu teks.41

Analisis wacana berhubungan dengan studi mengenai bahasa atau pemakaian bahasa. Ada tiga pandangan mengenai bahasa dalam analisis wacana. Pandangan pertama diwakili oleh kaum positivme-empiris. Oleh kaum ini , bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek diluar dirinya. Pandangan kedua, disebut sebagai konstruktivisme. Pandangan ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran fenomenologi. Aliran ini menolak pandangan empirisme/positivisme yang memisahkan subjek dan objek bahasa. Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Pandangan ini ingin mengoreksi pandangan konstruktivisme yang kurang sensitive pada proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis maupun institusional.

Analisis wacana melihat pada ‘bagaimana’dari suatu pesan atau teks komunikasi. Melalui analisis wacana kita bukan hanya mengetahui bagaimana isi teks berita, tetapi juga bagaimana pesan itu disampaikan. Selain itu, analisis wacana lebih bisa melihat makna yang tersembunyi dari sebuah teks melalui struktur kebahasaannya42. Dengan menggunakan metode analisis wacana, peneliti menganalisis bagaimana media khususnya media cetak Kompas dalam mengkonstruksi sebuah berita.

41Ibid. hal xv 42Ibid. hal.5

(46)

commit to user

Wacana merupakan unsur kebahasaan yang relatif kompleks lengkap. Satuan pendukung kebahasaannya meliputi fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, hingga karangan utuh. Analisis wacana merupakan jenis analisis teks yang memfokuskan pada pesan tersembunyi. Analisis wacana digunakan untuk menyingkap makna tersembunyi yang disampaikan secara implisit dalam suatu teks.

Wacana adalah terjemahan dari bahasa Inggris “discourse”. Mengacu pada artian harfiah di beberapa kamus, Webster dalam Alex Sobur berpendapat wacana atau discourse mempunyai beberapa artian, yaitu:43

1. komunikasi pikiran dengan kata-kata, ekspresi ide-ide atau gagasan-gagasan, konversasi atau percakapan

2. komunikasi secara umum terutama sebagai suatu subjek studi atau pokok telaah

3. risalat tulis, disertasi formal, kuliah, ceramah, khotbah.

Menurut Alex Sobur, pengertian wacana sebagai rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang koheran, dibentuk oleh unsur segmental maupun non segmental bahasa.

Dari penjelasan diatas, wacana tidak hanya mencakup sesuatu yang tertulis, tetapi juga bahasa lisan. Namun yang menjadi faktor penting adalah bentuk komunikasi tersebut harus berupa sistem representasi yang dibangun secara sosial untuk mengedarkan suatu makna koheren tentang

(47)

commit to user

suatu topik. Karena itu, sebuah wacana harus punya dua unsur penting, yakni kesatuan (unity) dan kepaduan (coherence)44.

Sedangkan analisis wacana dirumuskan sebagai studi tentang sturktur pesan dalam komunikasi45. Pendekatan terhadap analisis wacana

hampir serupa dengan pendekatan dalam analisis isi. Sebelum muncul metode analisis wacana (discourse analysis), penelitian mengenai isi media banyak dilakukan dengan metode analisis isi (content analysis).

Analisis wacana masuk ke dalam kelompok riset point media content and structure, karena pada dasarnya pusat perhatian analisis wacana adalah mengenai isi media. Jika analisis kuantitatif lebih menekankan pada pertanyaan “apa” (what), analisis wacana lebih menekankan pada “bagaimana” (how) dari pesan atau teks komunikasi. Lebih jelasnya perbedaan analisis wacana dengan analisis isi, sebagai berikut46:

a. Analisis wacana bersifat kualitatif dibandingkan dengan analisis isi yang umumnya kuantitatif. Analisis wacana lebih menekankan pada pemaknaan teks daripada penjumlahan unit kategori dalam analisis isi.

b. Analisis isi kuantitatif pada umumnya hanya dapat digunakan untuk membedah muatan teks komunikasi yang bersifat manifest (nyata) sedangkan analisis wacana justru berpretensi memfokuskan pada pesan laten (tersembunyi).

c. Analisis isi kuantitatif hanya dapat mempertimbangkan “apa yang dikatakan” (what), tetapi tidak dapat menyelidiki “bagaimana ia dikatakan” (how). Hal ini disebabkan analisis wacana bukan sekedar bergerak pada level makro, isi dari suatu teks, tetapi juga pada level mikro, yang menyusun suatu teks, seperti kata, kalimat, ekspresi dan retoris.

44Ibid., hal. 10 45Ibid, hal.15 46Ibid., hal..68

(48)

commit to user

d. Analisis wacana tidak berpretensi melakukan generalisasi. Hal ini berbeda dengan tradisi analisis isi yang memang bertujuan melakukan generalisasi bahan melakukan prediksi.

Dari segi analisisnya, ciri dan sifat wacana itu dapat dikemukakan sebagai berikut Syamsudin dalam Alex Sobur47:

1. Analisis wacana membahasa kaidah memakai bahasa di dalam masyarakat.

2. Analisis wacana merupakan usaha memahami makna tuturan dalam konteks, teks dan situasi.

3. Analisis wacana merupakan pemahaman rangkaian tuturan melalui interpretasi semantik.

4. Analisis wacana berkaitan dengan pemahaman bahasa dalam tindak berbahasa.

5. Analisis wacana diarahkan kepada mas memakai bahasa secara fungsional.

Beberapa tokoh mengemukakan pendapatnya tentang definsi wacana. Fiske mendefinisikan “discourse” atau wacana sebagai bahasa atau sistem representasi yang dibangun secara sosial dalam suatu tertib untuk membuat dan mengedarkan seperangkat makna yang koheren tentang suatu topik penting. Sedangkan Roger Fowler mendefinisikan wacana sebagai komunikasi lisan atau tulisan yang dilihat dari titik pandang kepercayaan, nilai, dan kategori yang masuk di dalamnya, kepercayaan di sini mewakili pandangan dunia, sebuah organisasi atau representasi dari pengalaman..48

Pendapat Ibnu Hamad di atas memperlihatkan bahwa keberadaan wacana dapat ditemukan selain pada media cetak (seperti novel). Sebuah teks pada dasarnya tidak dapat dilepaskan sama sekali dari teks lain.

47Ibid. hal. 49

(49)

commit to user

Sebuah karya sastra, misalnya, baru mendapatkan maknanya yang hakiki dalam kontrasnya dengan karya sebelumnya. Teks dalam pengertian umum adalah dunia semesta ini, bukan hanya teks tertulis atau teks lisan. Adat istiadat, kebudayaan, film, drama secara pengertian umum adalah teks.49

Guy Cook mengartikan teks sebagai semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, tetapi juga semua bentuk ekspresi komunikasi, ucapan, musik, gambar, efek suara, citra dan sebagainya50. Penjelasan Guy Cook tersebut dapat penulis simpulkan

bahwa keberadaan wacana juga termasuk didalamnya media komunikasi film, karena terdapat unsur ekspresi komunikasi berupa ucapan, musik, gambar, efek suara, dan citra.

49Ibid., hal 53-54 50Ibid., hal 56

(50)

commit to user

F. Kerangka Pemikiran

Bagan 1.3

Realitas Sosial: Kasus Korupsi Wisma Atlet

TEKS BERITA Konstruksi Realitas Sosial

oleh Media Cetak Harian Umum KOMPAS Juli – Agustus 2011

Wacana yang muncul dari pemberitaan kasus tersebut di media

Analisis Wacana: Van Dijk Realitas Baru/Realitas Media: disimbolkan dengan bahasa dan

penulisan

Media Cetak KOMPAS Juli-Agustus 2011

(51)

commit to user

G. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif. Peneliti kualitatif menekankan sifat realita yang dibangun secara sosial, hubungan yang intim antara peneliti dengan yang dipelajari dan kendala situasional yang membentuk penyelidikan. Peneliti kualitatif menekankan bahwa sifat penelitian itu penuh dengan nilai (value laden). Mereka mencoba menjawab pertanyaan yang menekankan bagaimana pengalaman sosial diciptakan dan diberi arti.51

Dalam penelitian ini peneliti berusaha memahami situasi realitas yang ada untuk kemudian dibandingkan dengan pemberitaan kasus korupsi Wisma atlet pada KOMPAS. Hasil produksi pemberitaan melalui kata dan gaya bahasa seperti apa yang dipilih untuk menyampaikan berita inilah yang berusaha dinilai peneliti untuk mengungkap makna dibalik pemberitaan yang dilakukan oleh KOMPAS.

Penelitian kualitatif didasarkan pada upaya membangun pandangan mereka yang diteliti secara rinci, dibentuk dengan kata-kata, gambaran holistik dan rumit. Menurut Moleong, penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam

51Agus Salim, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogyakarta, PT. Tiara Wacana, 2001, hal 11.

(52)

commit to user

bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.52

Penelitian pemberitaan kasus korupsi wisma Atlet ini juga dilakukan dengan mendeskripsikan kata-kata dan bahasa yang digunakan KOMPAS untuk membangun persepsi khalayak. Melalui hasil deskripsi itu peneliti akhirnya mendapat mengambil kesimpulan tentang arahan apa yang ingin ditunjukkan KOMPAS pada pembacanya dalam upaya membangun pandangannya terhadap wacana korupsi Wisma Atlet.

Hal senada juga diungkapkan oleh Pawito yakni penelitian komunikasi kualitatif biasanya tidak dimaksudkan untuk memberikan penjelasan-penjelasan (explanations), mengontrol gejala-gejala komunikasi atau mengemukakan prediksi-prediksi tetapi lebih dimaksudkan untuk mengemukakan gambaran dan/atau pemahaman (understanding) mengenai bagaimana dan mengapa suatu gejala atau realitas komunikasi terjadi.53

Penelitian mengenai pemberitaan kasus suap Wisma Atlet dalam Kompas dilakukan untuk mengambil makna tersembunyi di balik teks berita. Penelitian ini tidak menjelaskan arti berita tetapi berusaha memahami makna di balik teks berita dan alasan mengapa Kompas melakukan pemberitaan dengan cara demikian untuk menggambarkan realitas yang dikonstruksinya.

52 Moleong, J Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung, Rosdakarya, 2007, hal 9 53Pawito, Penelitian Komunikasi Kualitatif, Yogyakarta, Lkis, 2007, hal. 35

Referensi

Dokumen terkait

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Microsoft access 2000 merupakan pengembangan dari microsoft access versi sebelumnya, dengan harapan program aplikasi database ini lebih mudah dipakai, mudah diintegrasikan

Ber dasar kan Ber ita Acar a Pene Kendar aan Ber motor Nomor : 60 Penetapan Pemenang Penyedia B Dinas Per hubungan Kota Bandar ini dinyatakan sebagai Pemenan Ber motor ,

Mungkin di4erlukan un#uk mem0erikan <airan 4enggan#i dan  uga makanan ika klien #idak mam4u un#uk memasukkan... Aarkan

Pengamatan bentuk dan panjang partikel virus serta ukurannya, umumnya dilakukan terhadap siapan virus murni yang didapat dari hasil pemurnian virus tersebut.. Berbagai

Besides that, Widianto (2011) also conducted a study of the effect of profitability, liquidity, leverage, activity, size of the company and corporate governance towards the

[r]

8 Alfur Istilah yang disematkan bagi penduduk yang beragama pribumi. Sebagai Alifur-u dan Harifuru berasal dari bahasa Portugis, dimana makna yang dikenakan