KINERJA KEUANGAN DAERAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH
2. TELAAH PUSTAKA 1 Kinerja dan Indikator Kinerja
antara penerimaan pendapatan asli daerah dengan target yang telah ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Rasio pertumbuhan yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan pencapaian dari periode ke periode berikutnya.
Penelitian terdahulu oleh Masita (2014), meneliti tentang kinerja keuangan daerah di Sulawesi Utara untuk mengetahui apakah Provinsi Sulawesi Utara berhasil mengelola keuangannya dengan baik dan dapat dianggap berhasil dalam menjalankan otonomi daerah melalui analisis rasio keuangan. Rasio yang digunakan adalah rasio kemandirian, rasio efektivitas, dan rasio pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dilihat dari rasio kemandirian Provinsi Sulawesi Utara berada pada kategori kurang mandiri, berdasar rasio efektivitas masih kurang efektif, dan masih mengalami fluktuasi tingkat pertumbuhan. Penelitian ini mengukur tingkat kemandirian kinerja keuangan daerah, tingkat efektivitas kinerja keuangan daerah dan tingkat pertumbuhan kinerja keuangan daerah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012-2016.
2. TELAAH PUSTAKA 2.1 Kinerja dan Indikator Kinerja
Berdasarkan pendapat Anwar Prabu M. (2006: 67), kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan. Mahsun, dkk. (2013: 141), mengemukakan bahwa kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian suatu kegiatan atau program atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi, dan misi organisasi yang tertuang dalam strategi planning organisasi.
Kinerja merupakan pencapaian atas apa yang direncanakan, baik oleh pribadi maupun oleh organisasi. Apabila pencapaian sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, maka kinerja yang dilakukan terlaksana dengan baik. Apabila pencapaian melebihi dengan apa yang sudah direncanakan, maka kinerja dapat dikatakan sangat baik. Begitu pula sebaliknya, apabila pencapaian tidak sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, maka kinerjanya kurang baik.
Menurut Mahsun (2009: 71), indikator kinerja mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung yaitu hal-hal yang sifatnya merupakan indikasi-indikasi kinerja. Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan dengan memperhatikan:
1. Indikator masukan (input), yaitu segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran (output).
2. Indikator keluaran (output), adalah segala sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari suatu hasil kegiatan yang berupa fisik atau nonfisik.
3. Indikator hasil (outcome), adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran (output) kegiatan jangka menengan (efek langsung).
4. Indikator manfaat (benefit), adalah sesuatu yang terkait dengan tujuan dari pelaksanaan kegiatan.
5. Indikator dampak (impacts), adalah pengaruh yang ditimbulkan, baik positif maupun negatif terhadap tingkatan indikator didasarkan asumsi yang telah ditetapkan.
Dengan begitu, indikator kinerja harus merupakan sesuatu yang dapat diukur dan digunakan sebagai dasar untuk menilai suatu kinerja. Kinerja yang akan dinilai pun diawali sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, dan sampai pada kegiatan dianggap selesai. Indikator kinerja dapat dijadikan sebagai acuan bagaimana kemajuan dan ketepatan kinerja terhadap tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan oleh organisasi atau instansi.
109 Sejumput Penggalan Keuangan Daerah
Departemen Akuntansi FEB Universitas Diponegoro
2.2 Pengertian Keuangan Daerah
Menurut PP 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan daerah, keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Sedang menurut UU Nomor 32 Tahun 2004, keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah yang dapat dinilai dengan uang dan segala sesuatu berupa uang dan barang yang dapat dijadikan milik daerah yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah sepanjang belum dimiliki atau dikuasai oleh negara atau daerah yang lebih tinggi serta pihak-pihak lain sesuai dengan ketentuan dan atau perundangan yang meliputi pendapatan dan belanja daerah.
2.3 Keuangan Daerah dan Kinerja Keuangan Daerah
Dari pengertian keuangan daerah di atas, terdapat dua unsur dalam keuangan daerah, yaitu hak dan kewajiban daerah. Dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Semua hak dimaksudkan sebagai hak untuk memungut pajak daerah, retribusi daerah dan/atau penerimaan dan sumber-sumber lain sesuai ketentuan yang berlaku merupakan penerimaan daerah sehingga menambah kekayaan daerah. 2. Semua kewajiban daerah dapat berupa kewajiban untuk membiayai rumah tangga
daerah termasuk pelaksanaan tugas umum dan tugas pembangunan oleh daerah yang bersangkutan.
Dalam melaksanakannya urusan rumah tangganya, pemerintah daerah memerlukan sumber dana/modal. Sumber dana tersebut sangat bergantung pada pendapatan daerah. Semakin optimal penyerapan hak tersebut, maka akan semakin optimal pula pendapatan daerah yang akan dicapai. Sehingga, suatu daerah dapat dinyatakan independen dalam perimbangan keuangannya karena dianggap mampu membiayai pelaksanaan tugas dan wewenang masing-masing.
Analisis kinerja keuangan daerah adalah usaha mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan yang tersedia. Analisis ini pada dasarnya dilakukan untuk menilai kinerja di masa lalu dengan melakukan berbagai perhitungan melalui rasio-rasio tertentu. Dalam organisasi pemerintahan, dilakukan beberapa perhitungan rasio sebagai ukuran kinerja dan akuntabilitas pemerintahan, yaitu: rasio kemandirian, rasio efektivitas, dan rasio pertumbuhan keuangan daerah.
Rasio kemandirian menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat. Rasio kemandirian dihitung dengan membagi total pendapatan asli daerah dengan total pendapatan daerah dalam satuan persen. Semakin tinggi rasio kemandirian maka tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak pemerintah pusat semakin rendah, begitu pula sebaliknya. Rasio kemandirian juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah. Semakin tinggi rasio ini maka semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah yang merupakan komponen dari PAD. Adapun rasio kemandirian pemerintah daerah dapat dissajikan dalam matriks menurut Mahsun (2006) sebagai berikut:
110 Sejumput Penggalan Keuangan Daerah Departemen Akuntansi FEB Universitas Diponegoro
Tabel 2.1
Pola Hubungan, Tingkat Kemandirian, dan Kemampuan Keuangan Daerah Kemampuan
Keuangan Rasio Kemandirian (%) Pola Hubungan
Rendah Sekali 0-25 Instruktif Rendah >25-50 Konstruktif Sedang >50-75 Partisipatif Tinggi >75-100 Delegatif
Sumber: Mahsun, 2006
Pengertian efektivitas berhubungan dengan derajat keberhasilan suatu operasi pada sektor publik sehingga suatu kegiatan dikatakan efektif jika kegiatan tersebut mempunyai pengaruh besar terhadap kemampuan menyediakan pelayanan masyarakat yang merupakan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Rasio efektivitas merupakan tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan atau prestasi yang dicapai oleh pemerintah daerah yang diukur dengan membandingkan realisasi pendapatan dengan anggaran pendapatan dalam satuan persen menurut Suyana Utama (2008). Semakin tinggi rasio efektivitas yang dicapai suatu daerah maka akan mencerminkan suatu kinerja keuangan daerah yang efektif. Berikut tabel efektivitas keuangan daerah menurut Mahsun (2006):
Tabel 2.2
Efektivitas Keuangan Daerah Efektivitas Keuangan Daerah Otonom dan
Kemampuan Keuangan Rasio Efektivitas (%)
Sangat Efektif >100 Efektif >90-100 Cukup Efektif >80-90 Kurang Efektif >60-80
Tidak Efektif ≤60
Rasio pertumbuhan mengukur seberapa besar kemampuan pemerintah daerah dalam meningkatkan keberhasilan yang telah dicapai dari satu periode ke periode berikutnya, (Halim, 2008:241). Rasio pertumbuhan yang cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun menandakan keberhasilan kinerja keuangan pemerintah daerah. Menurut Mahsun (2011: 81), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disebut APBD adalah daftar yang memuat rincian penerimaan daerah dan pengeluaran/ belanja daerah selama satu tahun. APBD ditetapkan dengan peraturan daerah untuk masa satu tahun, mulai dari 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember.
APBD adalah suatu rencana kerja pemerintah daerah yang mencakup seluruh pendapatan atau penerimaan dan belanja atau pengeluaran pemerintah daerah, baik provinsi, kabupaten, dan kota dalam rangka mencapai sasaran pembangunan dalam kurun waktu satu tahun yang dinyatakan dalam satuan uang dan disetujui oleh DPRD dalam peraturan perundang yang disebut Peraturan Daerah. (Badrudin, 2012: 97)
Menurut Halim (2012: 87), APBD yaitu rencana pekerjaan keuangan (financial
workplan) yang dibuat untuk suatu jangka waktu tertentu, ketika badan legislative
(DPRD) memberikan kredit kepala badan eksekutif (kepala daerah) untuk melakukan pembiayaan kebutuhan rumah tangga daerah sesuai dengan rancangan yang menjadi dasar penetapan anggaran, dan yang menunjukkan semua penghasilan untuk menutup pengeluaran tadi.
111 Sejumput Penggalan Keuangan Daerah
Departemen Akuntansi FEB Universitas Diponegoro
Penelitian Terdahulu
Di bawah ini terdapat beberapa ringkasan penelitian yang telah dilakukan terlebih dahulu yang terkait dengan penelitian yang dilakukan peneliti. Hal ini bertujuan untuk mendukung analisis dan landasan teori yang ada pada penelitian ini. Judul yang dilakukan peneliti adalah Analisis Kinerja Keuangan Daerah di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012-2016. Tinjauan penelitian terdahulu dijadikan sebagai acuan dan referensi serta menjadi bahan pertimbangan mengenai apa yang membedakan antara penelitian terdahulu yang dilakukan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis. Berikut ini adalah beberapa penelitian terdahulu yang dapat diketahui pada tabel berikut:
Tabel 2.3
Ringkasan Peneliti Terdahulu
No Peneliti dan Tahun Judul dan Variabel Penelitian Hasil Penelitian
1 Ahmad Fajri Afrendi (2013) Analisis Hubungan PAD, Transfer Pemerintah Pusat dengan Tingkat Kemandirian Daerah pada Pemerintah Daerah Provinsi Bengkulu.
Tingkat kemandirian daerah di Provinsi Bengkulu masih tergolong rendah.
2 Septi Ernelly