BAB III METODELOGI PENELITIAN
3.2 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Bursa Efek Indonesia melalui situs www.idx.co.id. Sumber data dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh secara historis dari laporan keuangan yang telah dipublikasikan
telah diaudit oleh auditor independen dan data- data lain yang terkait dalam kurun waktu 2016- 2018 tahun.
3.3. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah penjelasan mengenai setiap objek yang diteliti. Berdasarkan judul penelitian yang diajukan, berikut adalah defenisi dari tiap- tiap variabel :
3.3.1. Variabel Dependen
Variabel dependen atau variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel independen atau variabel bebas (Sugiyono, 2010:4). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Integritas Laporan Keuangan. Hardiningsih (2010: 65) mendefinisikan Integritas Laporan Keuangan sebagai ukuran sejauh mana laporan keuangan disajikan dengan jujur tanpa ada yang ditutupi maupun disembunyikan. Integritas Laporan Keuangan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan indeks konservatisme. Indeks konservatisme digunakan dengan alasan keidentikan konservatisme yang menyajikan laporan keuangan yang understate yang memiliki risiko lebih kecil dibanding laporan keuangan yang overstate. Indeks konservatisme sebagai proksi integritas laporan keuangan dihitung dengan Model Beaver dan Ryan menggunakan market to book ratio (2000), yaitu:
ILKIt = Harga Pasar Saham Nilai Buku Saham
3.3.2. Variabel Independen
Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2012:
4). Penelitian ini menggunakan tujuh variabel independen yang meliputi:
3.3.2.1. Mekanisme Corporate Governance
Pengertian corporate governance adalah sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan. Menurut Griffin dalam Susiana dan Herawaty, (2007:7). Variabel ini merupakan variabel yang tidak diukur secara mandiri tetapi diukur dengan menggunakan sub variabel. Sub variabel adalah bagian penjelas dari variabel penelitian yang sudah ditentukan. Adapun sub variabel tersebut dalam penelitian ini yaitu :
1. Komisaris Independen
Anggota dewan komisaris yang diangkat berdasarkan keputusan RUPS dari pihak yang tidak terafiliasi dengan pemegang saham utama, anggota direksi dan/ atau anggota dewan komisaris lainnya.
Komisaris independen bertujuan untuk menyeimbangkan dalam pengambilan keputusan khususnya dalam rangka perlindungan terhadap pemegang saham minoritas dan pihak-pihak lain yang terkait. (Susiana & Herawaty, 2007). Komisaris independen diukur dengan jumlah komisaris independen dari seluruh total anggota dewan komisaris perusahaan.
KI = Jumlah Komisaris Independen
Jumlah Dewan Komisaris × 100%
2. Kepemilikan Manajemen
Kepemilikan manajerial merupakan pemegang saham dari pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan (Direktur dan Komisaris). Kepemilikan manajerial diukur dari jumlah prosentase saham yang dimiliki manajer. (Wahidahwati, 2002:5 dalam Rustendi dan Jimmi, 2008). Adanya kepemilikan manajerial dalam perusahaan dapat menjadi salah satu upaya dalam mengurangi masalalah keagenan dengan manajer dan menyelaraskan kepentingan antara manajer dengan pemegang saham. Selain itu, kepemilikan Manajerial merupakan posisi terbaik untuk melaksanakan fungsi monitoring agar tercipta perusahaan yang memenuhi good corporate governance, semakin tinggi persentase kepemilikan manajerial akan meningkatkan keintegritasan laporan keuangan.
KMNJMN = Jumlah saham yang dimiliki manajemen
Jumlah saham yang beredar × 100%
3. Kepemilikan Institusional
Kepemilikan institusional adalah tingkat kepemilikan saham oleh institusi dalam perusahaan, diukur oleh proposi saham yang dimiliki oleh institusional pada akhir tahun yang dinyatakan dalam persentase (Mei Yuniati, Kharis, Abrar Oemar,2016). Kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk mengurangi insentif para manajer yang mementingkan diri sendiri melalui tingkat pengawasan yang intensif.
Kepemilikan institusional dapat menekan cenderungan manajemen
untuk melakukan kecurangan (fraud) dalam laporan keuangan.
Persentase institusi dapat diperoleh dengan :
INST = Jumlah saham yang dimiliki institusi
Jumlah saham yang beredar × 100%
4. Komite Audit
Haryani (2014) mengatakan defenisi komite audit :
T
Tugas komite audit yaitu membantu dewan komisaris dalam memonitor proses pelaporan keuangan oleh manajemen dan memastikan pelaporan sudah sesuai dengan standar yang berlaku umum. Biasanya pengukuran terhadap komite audit berdasarkan keberadaan komite audit dalam perusahaan. Namun pengukuran tersebut tidak dapat digunakan lagi karena berdasarkan keputusan BAPEPAM Nomor SE-03/PM/2000 dan SE-07/PM/2004 menyatakan bahwa suatu perusahaan yang telah go public wajib memiliki komite audit. Karena alasan tersebut pada penelitian ini komite audit diukur dengan menghitung berapa jumlah komite audit dalam sebuah perusahaan setiap tahunnya
“Komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris dengan tujuan membantu komisaris independen dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab pengawasan. Komite audit bertanggung jawab untuk mengawasi laporan keuangn, mengawasi audit eksternal, dan mengamati sistem pengendalian internal (termasuk audit internal), hal tersebut dapat mengurangi kesempatan manajemen untuk melakukan kecurangan.”.
3.3.2.2. Manajemen Laba
Manajemen laba merupakan setiap tindakan yang dilakukan manajemen yang dapat mempegaruhi laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan.
Manajemen laba dapat diukur melalui discretionary accruals yang dihitung dengan cara menselisihkan total accruals (TACC) dan nondiscretionary accruals (NDACC). Discretionary accruals (DACC)merupakan tingkat akrual
yang tidak normal yang berasal dari kebijakan manajemen untuk melakukan rekayasa terhadap laba sesuai dengan yang mereka inginkan. Dalam menghitung DACC, peneliti menggunakan Modified Jones berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dechow et al. dalam Julia dkk. (2005).
TAC it = Niit – CFOit ...(1) Dimana :
TAC it = Total akrual Niit = Laba Bersih
CFOit = Arus kas Operasi
Nilai total accrual (TAC) diestimasi dengan persaman regresi OLS sebagai berikut:
TACit/Ait-1=β1(1/Ait-1)+β2(ΔRevt/Ait-1)+β3(PPEt/Ait-1)+e ...(2) Dengan menggunakan koefisien regresi diatas, nilai non discretionary accrual (NDA) dapat dihitung dengan rumus :
NDAit=β1(1/Ait-1)+β2(ΔRevt/Ait-1-ΔRect/Ait-1)+β3(PPEt/Ait-1)...(3)
Selanjutnya discretionary accrual (DA) dapat dihitung sebagai berikut:
DAit = TACit/Ait-NDAit ...(4) Dimana,
DAit = Discretionary Accruals perusahaan i pada periode ke t NDAit = Non Discretionary Accruals perusahaan i pada periode ke t TACit = Total akrual perusahaan i pada periode ke t
Niit = Laba bersih perusahaan i pada periode ke t
CFOit = Aliran kas dari aktivitas operasi perusahaan i pada periode ke- t
Ait-1 = Total aktiva perusahaan i pada periode ke t-1
ΔRevt = Perubahan pendapatan perusahaan i pada periode ke t
PPEt = Aktiva tetap perusahaan pada periode ke t
ΔRect = Perubahan piutang perusahaan i pada periode ke t
e = error
3.3.2.3.Independensi
Independensi auditor merupakan sikap mental seorang auditor yang independen dan tidak dikendalikan oleh pihak lain. Independensi auditor juga bisa berarti bahwa auditor tersebut tidak memiliki hubungan khusus dengan kliennya sehingga tidak terjadi kecurangan dalam pemeriksaan laporan
keuangannya. Pada lampiran Keputusan Ketua Bapepam Nomor Kep-20/PM/2002 terdapat Peraturan nomor VIII.A.2 yang berisikan tentang independensi akuntan yang memberikan jasa audit di pasar modal. Peraturan tersebut diantaranya membatasi hubungan auditee dan auditor dalam jangka waktu tertentu, yaitu emiten harus mengganti kantor akuntan setiap lima tahun dan setiap tiga tahun untuk auditor. Selain itu, pemberian jasa non audit tertentu, seperti menjadi konsultan pajak, konsultan manajemen, disamping pemberian jasa audit pada seorang klien tidak diperkenankan karena dapat mengganggu independensi auditor. Independensi diukur dengan memberi angka 1 untuk perusahaan dengan kantor akuntan publik yang sama selama kurang atau sama dengan 5 tahun dan angka 0 untuk perusahaan dengan KAP yang sama selama lebih dari 5 tahun.
3.3.2.4. Ukuran KAP
Ukuran KAP adalah cerminan besar kecilnya KAP, semakin besar KAP maka semakin tinggi kualitas audit yang dihasilkan, jadi perusahaan akan mengganti auditor dari KAP kecil ke auditor dari KAP besar untuk meningkatkan reputasi dan kualitas laporan keuangannya (Arsih ,2015).
Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP) itu sendiri dibedakan menjadi dua 2 kelompok, yaitu KAP yang berafiliasi dengan Big 4 dan KAP yang tidak berafiliasi dengan Big 4. Pada penelitian ini, ukuran KAP diukur menggunakan variabel dummy, KAP Big Four diberi kode 1 dan KAP non big four diberi kode 0.
3.4. Skala Pengukuran Variabel
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Skala pengukuran terbagi menjadi empat, yaitu skala nominal, skala ordinal, skala interval dan skala rasio. Skala pengukuran yang dipakai pada penelitian ini adalah skala nominal dan skala rasio.
Skala nominal adalah skala paling sederhana disusun menurut jenis (kategorinya) atau fungsi bilangan sebagai simbol untuk membedakan sebuah karakteristik dengan karakteristik lainnya. Pada skala nominal ini, peneliti akan mengelompokkan objek, baik individu atau pun kelompok kedalam kategori tertentu dan disimbolkan dengan label atau kode tertentu. Skala rasio adalah skala pengukuran yang mempunyai nilai nol mutlak dan mempunyai jarak yang sama.
Skala rasio adalah skala pengukuran yang ditujukan pada hasil pengukuran yang bisa dibedakan, diurutkan, memiliki jarak tertentu, dan bisa dibandingkan. Skala rasio merupakan tingkatan skala paling tinggi dan paling lengkap dibanding skala-skala lainnya. Defenisi operasional dan skala-skala pengukuran setiap variabel secara ringkas dapat dilihat melalui tabel berikut :
Tabel 3.1
Defenisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel Penelitian
Variabel Penelitian
Defenisi Operasional Indikator Skala
Dependen : yang ditutupi maupun
ILKit ∶ Harga Pasar Saham Nilai Buku Saham
Rasio
Variabel Penelitian
Defenisi Opresional Indikator Skala
Independen : untuk menilai kinerja perusahaan secara luas dan keseluruhan.
KI: Jumlah Komisaris Independen
Jumlah Dewan Komisaris × 100% Rasio
Kepemilikan Manajemen
Persentase saham yang dimiliki oleh manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan yang meliputi komisaris dan direksi.
KMNJMN: Jumlah saham manajemen
Jumlah saham yang beredar× 100% Rasio
Kepemilikan Institusional
Tingkat kepemilikan saham oleh institusi dalam perusahaan, diukur oleh proposi saham yang dimiliki oleh institusional pada akhir tahun yang dinyatakan dalam persentase
KINST: Jumlah saham institusi
Jumlah saham yang beredar× 100% Rasio
Komite Audit Komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris dengan tujuan membantu komisaris independen dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab pengawasan.
KA : jumlah komite audit setiap tahunnya Rasio
Manajemen Laba
Tindakan yang dilakukan oleh manajemen untuk memengaruhi laba
DAit = TACit/Ait-NDAit Rasio
Independensi Sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain.
Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri
auditor dalam
mempertimbangka n fakta dan adanya pertimbangan yang objekif tidak memihak dalam diri auditor dalam memuaskan dan menyatakan pendapatnya.
Memberi angka 1 untuk perusahaan dengan kantor akuntan publik yang sama selama kurang atau
sama dengan 5 tahun dan angka 0 untuk perusahaan dengan KAP yang sama selama lebih
dari 5 tahun
Nominal
Ukuran KAP Merupakan besar kecilnya KAP yang dibedakan menjadi dua 2 kelompok, yaitu KAP yang berafiliasi dengan Big 4 dan KAP yang tidak berafiliasi dengan Big 4
Memberi angka 1 untuk KAP big 4 dan angka 0 untuk KAP non big 4
Nominal
Sumber : Olahan peneliti (2020)
3.5. Populasi dan Sampel Penelitian 3.5.1. Populasi Penelitian
Populasi atau universe adalah jumlah keseluruhan dari satuan-satuan atau individu-individu yang karakteristiknya hendak diteliti. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono. 2005 : 90). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016- 2018.
Alasan peneliti memilih perusahaan manufaktur karena perusahaan manufaktur merupakan perusahaan bersekala besar yang selalu menunjukkan perkembangan yang pesat dengan jumlah perusahaan paling banyak terdaftar di Bursa Efek Indonesia karena terdiri dari berbagai subsektor industri, sehingga hal ini dianggap dapat mewakili keseluruhan emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jumlah anggota populasi seluruh perusahaan penelitian ini terdiri dari 167 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016- 2018.
3.5.2. Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dengan metode purposive sampling, yaitu metode pemilihan anggota sampel dengan berdasarkan kriteria- kriteria tertentu. Adapun kriteria yang dipilih sebagai berikut :
1. Perusahaan manufaktur yang go public atau terdaftar Bursa Efek Indonesia dan tidak delisting selama periodde 2016- 2018
2. Perusahaan manufaktur yang mempublikasikan yang mempublikasikan annual report dan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit oleh auditor
independen dalam website perusahaan dan website Bursa Efek Indonesia selama periode 2016- 2018
3. Perusahaan manufaktur yang memiliki data yang berkaitan dengan variabel penelitian selama periode 2016- 2018.
Tabel 3.2
Proses Seleksi Sampel Berdasarkan Kriteria
No. Kriteria Jumlah
1. Perusahaan manufaktur yang go public atau terdaftar Bursa Efek Indonesia dan tidak delisting selama periode 2016- 2018
(15) 152
2. Perusahaan manufaktur yang mempublikasikan laporan keuangan tahunan dalam website perusahaan dan website Bursa Efek Indonesia selama periode 2016- 2018
(70) 82
3. Perusahaan manufaktur yang memiliki data yang berkaitan dengan variabel penelitian selama periode 2016- 2018
(28) 54
Maka sampel yang dipakai pada penelitian ini sebanyak 54 perusahan selama 3 tahun sehingga total sampel adalah 162 data observasi.
3.6. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan oleh pihak pengumpul data primer maupun oleh pihak lain (Umar, 2001 : 69). Data
Sumber : Hasil dokumentasi peneliti (2020)
penelitian ini meliputi laporan keuangan yang telah dipublikasikasikan yang diambil dari Bursa Efek Indonesia selama tahun 2016 sampai dengan 2018.
3.7. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara melakukan dokumentasi yaitu dengan cara mencari data langsung dari catatan-catatan atau laporan keuangan perusahaan manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data peneltian ini meliputi laporan keuangan yang telah dipublikasikasikan, selama tahun 2016 sampai dengan 2018.
3.8. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data adalah teknik yang digunakan untuk mendapatkan keyakinan dalam menggali data sehingga data tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Adapun metode analisis data yang digunakan adalah metode regresi linear berganda yang akan dijelaskan sebagai berikut :
3.8.1. Analisis Statistik Deskriptif
Erlina (2011 : 92) mengemukakan bahwa analisis deskriptif adalah statistik yang menggambarkan fenomena atau karakteristik data. Dalam suatu penelitian, analisis deskriptif perlu dilakukan karena karakteristik dari suatu data akan menggambarkan fenomena dari data. Statistik deskriptif dapat dilakukan guna mencari kuatnya hubungan antara variabel melalui analisis korelasi, regresi, atau membandingkan dua rata-rata data sampel atau populasi (Sugiyono, 2011:
200). Dalam penelitian ini, analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui tingkat Integritas Laporan Keuangan, Komisaris Independen, Kepemilikan Manajerial,
Kepemilikan Institusional, Komite Audit, Manajemen Laba, Independensi dan Ukuran KAP.
3.8.2. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik perlu dilakukan untuk membuktikan apakah hipotesis yang menggunakan model regresi linier telah memenuhi beberapa asumsi klasik yang disyaratkan agar hasil regresi yang diperoleh merupakan estimasi yang tepat.
3.8.2.1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel penganggu atau residual memiliki distribusi normal. Ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak, yaitu dengan melihat analisis grafik normal probability plot dan uji statistik. Model regresi dengan distribusi data yang normal atau mendekati normal dikatakan model regresi yang baik. Dalam penelitian ini, uji normalitas akan dilakukan dengan uji statistik nonparametrik Kolmogorov Smirnov (K-S). Data berdistribusi normal apabila signifikansi lebih dari 0,05. (Ghozali, 2011).
3.8.2.2. Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi linear terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu antara periode t dengan kesalahan pegganggu pada periode t-1. Autokorelasi dapat terjadi karena adanya observasi yang berurutan sepanjang waktu yang berkaitan satu sama lain. Problem autokorelasi sering terjadi pada data yang bersifat time series. Uji yang dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya autokorelasi menggunakan uji Durbin-Watson (DW test). Berikut ini
kriteria yang digunakan dalam penentuan autokorelasi :
1. Bila nilai DW terletak antara batas atas atau upper bound (du) dan (4du), maka koefisien aoutokorelasi = 0, sehingga tidak ada autokorelasi.
2. Bila nilai DW lebih rendah daripada batas bawah atau lower bound (dl), maka koefisien autokorelasi > 0, sehingga ada autokorelasi positif.
3. Bila nilai DW lebih besar daripada (4-dl), maka koefisien autokorelasi < 0, sehingga ada autokorelasi negatif.
4. Bila nilai DW terletak diantara batas atas (du) dan batas bawah (dl) atau DW terletak antara (4-du) dan (4-dl), maka hasilnya tidak dapat disimpulkan
3.8.2.3. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji ada atau tidaknya korelasi antarvariabel independen dalam model regresi. Cara untuk mengetahui ada atau tidaknya multikolinieritas dengan melihat nilai tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Dalam pengertian sederhana setiap variabel independen menjadi variabel dependen (terikat) dan diregresi variabel independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi karena VIF = 1/tolerance. Nilai cutoff yang umum digunakan untuk menunjukkan adanya multikolinieritas adalah nilai Tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF
≥10.
3.8.2.4. Uji Heteroskedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidak samaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Heteroskedastisitas dari suatu model regresi dapat diketahui dengan melihat plot antara nilai taksiran dengan residual pada grafik scatter plot. Model regresi tidak terdapat hetroskedastisitas jika :
1. Titik-titik data menyebar disekitas angka nol, baik diatas maupun dibawah
2. Penyebaran titik-titik data tidak berpola (bergelombang, melebar, kemudian menyempit)
3. Titik-titik data tidak hanya mengumpul diatas atau dibawah saja.
Model regresi yang baik jika variance dari residual satu ke pengamatan lain tetap, sehingga diidentifikasi tidak terdapat heteroskedastisitas (Ghozali, 2007 :105).
3.8.3. Regresi Linear Berganda
Dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda yang digunakan untuk mengetahui keakuratan hubungan antara integritas laporan keuangan (variable dependen) dengan independensi, mekanisme corporate governance, manajemen laba, independensi dan ukuran KAP sebagai variebel yang mempengaruhi (variabel independen) melalui persamaan:
Y= b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + b5x5 + b6x6 + b7x7
Dimana :
Y = Integritas laporan keuangan a = konstanta
x1 = Komisaris Independensi x2 = Kepemilikan Manajerial x3 = Kepemilikan Institusional x4 = Komite audit
x5 = Manajemen laba x6 = Indepedensi x7 = Ukuran KAP
b1-b7 = koefisien regresi masing-masing variabel 3.8.4. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini unutuk melihat pengaruh komisarin independen, kepemilikan manjerial, kepemilikan institusional, komite audit, manajemen laba, independensi dan ukudan KAP terhadap Integritas Laporan Keuangan.
3.8.4.1. Uji Koefisien Determinasi (𝑹2)
Koefisien Determinasi (𝑅2) berguna untuk mengukur seberapa besar peranan variabel independen secara simultan mempengaruhi perubahan yang terjadi pada variabel dependen (Ghozali, 2011). Koefisien determinasi memiliki nilai antara nolsampai satu.Semakin kecil nilai 𝑅2 (mendekati 0) berarti bahwa kemampuan variabel-variabel independen
nilai 𝑅2 (mendekati 1) berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variable dependen mendekati sempurna.
3.8.4.2. Uji Simultan (Uji F)
Uji statistik f menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Ghozali, 2011). Untuk mengetahui signifikansi dapat dilakukan dengan cara membandingkan nilai Fhitung
dengan Ftabel. Tingkat signifikansi yang digunakan adalah alpha 5% atau 0,05. Kriteria penerimaan atau penolakan H0 yang akan digunakan adalah sebagai berikut:
a) Apabila nilai Fhitung > Ftabel, maka H0 ditolak dan hipotesis alternatif yang menyatakan semua variabel independen secara simultan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen diterima.
b) Apabila nilai Fhitung < Ftabel ,maka H0 diterima dan hipotesis alternatif yang menyatakan semua variabel independen secara simultan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen ditolak. Selain itu, kriteria penerimaan atau penolakan H0 dapat juga dilihat dari nilai probabilitas sebagai berikut:
a) Apabila nilai probabilitas ≤ 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima.
b) Apabila nilai probabilitas > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak.
3.8.4.3. Uji Parsial (Uji t )
Pada dasarnya, uji statistik t menunjukkan seberapa jauh
pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2011). Kriteria penerimaan atau penolakan H0 yang akan digunakan adalah sebagai berikut:
a) Apabila nilai thitung > nilai ttabel, maka H0 ditolak dan hipotesis alternatif yang menyatakan variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen diterima.
b) Apabila nilai thitung < nilai ttabel, maka H0 diterima dan hipotesis alternatif yang menyatakan variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen ditolak.
Selain itu, kriteria penerimaan atau penolakan H0 dapat juga dilihat dari nilai probabilitas sebagai berikut:
a) Apabila nilai probabilitas ≤ 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima.
b) Apabila nilai probabilitas > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Data Penelitian
Objek penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dimana jumlah seluruh perusahaan manufaktur tersebut adalah 167 perusahaan. Setelah data terkumpul, seluruh perusahaan yang termasuk dalam populasi diseleksi berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Dari penyeleksian tersebut diperoleh 54 perusahaan yang menjadi sampel atau 162 data observasi yang memenuhi kriteria. Setelah dilakukan uji normalitas dengan melakukan outlier data observasi berubah menjadi 105 data.
4.2. Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan penjelasan mengenai nilai minimum, nilaimaksimum, nilai rata-rata (mean), dan nilai standar deviasi dari variabel-variabel independen dan variabel-variabel dependen. Dalam penelitian ini, analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui tingkat Integritas Laporan Keuangan, Komisaris Independen, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Komite Audit, Manajemen Laba, Independensi dan Ukuran KAP.
Tabel 4.1
Hasil Uji Analisis Statistik Deskriptif
Sumber : Data olahan SPSS, 2020
Dari tabel 4.1 dapat dijelaskan beberapa hal seperti yang dijelaskan di bawah ini :
a. Variabel komisaris independen, memiliki nilai minimum 0,1; nilai maksimum 0,47; rata-rata sebesar 0,2065; dan standar deviasi 0,07824 dengan jumlah observasi sebanyak 105.
b. Variabel kepemilikan manajemen , memiliki nilai minimum -0,33; nilai maksimum 0,89; rata-rata sebesar 0,0473; dan standar deviasi 0,18114 dengan jumlah observasi sebanyak 105.
c. Variabel kepemilikan institusional , memiliki nilai minimum -0,45; nilai maksimum 0,76; rata-rata sebesar 0,3456; dan standar deviasi 0,21290 dengan jumlah observasi sebanyak 105.
d. Variabel komite audit , memiliki nilai minimum 1,06; nilai maksimum
2,55; rata-rata sebesar 1,5597; dan standar deviasi 0,17496 dengan jumlah
2,55; rata-rata sebesar 1,5597; dan standar deviasi 0,17496 dengan jumlah