BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Temuan Khusus Penelitian
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di sekolah Autiscare Snec Balai Labuah Bawah Lima Kaum Batusangkar tentang peranan guru anak usia dini dalam menangani anak autis. Terlebih dahulu peneliti menyajikan subjek penelitian yang didapatkan. Berikut dipaparkan data subjek penelitian sebagai berikut:
Tabel 4. 3
Profil Guru Sekolah Autiscare Snec No Responden Latar Belakang Responden
1. R2 Tempat/tanggal lahir Jenis kelamin 2. R3 Tempat/tanggal lahir
Jenis kelamin
Di sekolah Autiscare Snec peneliti menemukan seorang anak laki-laki yang mengalami gangguan autis yang berinisial JDA berumur 8 tahun. JDA jarang sekali berbicara, bahkan kontak mata sangat pendek bisa dihitung hanya beberapa detik, 2-5 detik saja. JDA sangat sulit dalam berkomunikasi dengan dua arah. Saat berbicara apa yang dikatakan terkadang tidak jelas, sehingga tidak dimengerti oleh orang di sekitarnya. Dalam berbicara cenderung menggunakan kalimat pendek yang tidak jelas. JDA hanya bisa berbicara perkata atau satu kata, jika ia sudah berbicara dengan satu kalimat, ucapan tersebut menjadi tidak jelas.
Dalam belajar JDA sangat sulit sekali dalam berkonsentrasi, sehingga membuat guru harus berjuang keras untuk menarik perhatiannya dalam
belajar. Pada usianya saat sekarang ini, seharusnya ia sudah bisa mengucapkan satu kalimat dengan jelas, akan tetapi saat ini ia hanya bisa berbicara perkata atau satu kata. Ketika bermain dengan teman-temannya, JDA jarang sekali berbicara. Berdasarkan gangguan autis yang sedang dialami oleh JDA, maka peran yang diberikan guru di Sekolah Autiscare Snec yaitu guru berperan sebagai pembimbing atau konselor, guru berperan sebagai fasilitator, dan guru berperan sebagai motivator.
Di Sekolah Autiscare Snec sistem pembelajarannya yaitu pembelajaran individual, maksudnya yaitu satu orang guru untuk satu orang anak.
Tabel 4.4 Profil Anak
Nama Julian Dofa Anwar
Umur 8 tahun
Alamat Lintau Buo
Gambar 4.2 Foto JDA
(Sumber: Dokumen peneliti, 2020)
Peranan guru anak usia dini dalam menangani anak autis. Guru anak usia dini berperan juga dalam mengangani anak autis tidak kalah hebatnya juga seperti guru yang profesional yang berlatarbelakang dengan pendidikan Sekolah Luar Biasa (SLB). Guru anak usia dini juga mampu dan memahami tentang anak autis. Beberapa peran yang disandang oleh guru anak usia dini dalam menangani anak autis adalah guru sebagai pembimbing. Sebagai pembimbing guru tentunya mampu membimbing anak ke arah perubahan yang lebih baik dari pada keadaan sebelumnya. Guru Sebagai fasilitator guru mampu menfasilitasi semua kebutuhan anak supaya anak merasa dicukupi saat berada di sekolah.
Guru sebagai motivator. Sebagai pemberi motivasi guru mampu memotivasi anak dengan cara menanyakan apa keinginan atau cita-citanya. Dengan begitu tentu guru tahu bagaimana cara supaya anak termotivasi atas cita-citanya tersebut. Disitulah peran guru yang sangat dibutuhkan. Dari beberapa narasumber yang peneliti wawancarai tentang peranan guru anak usia dini yaitu, guru sebagai pembimbing atau konselor, guru sebagai fasilitator dan guru sebagai motivator. Untuk jelasnya peneliti memperoleh informasi tentang peranan guru anak usia dini dalam menangani anak autis sebagai berikut:
1. Peranan sebagai pembimbing bagi anak autis meliputi:
a. Pendekatan yang dilakukan guru dalam mengajar anak autis
Anak autis butuh pelayanan yang khusus. Guru harus memilih pendekatan yang cocok digunakan untuk anak tersebut. Dari wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada guru anak usia dini dan wakil kurikulum mendapatkan informasi.
Pendekatan yang digunakan saat menghadapi anak autis dijelaskan oleh wakil kurikulum.
Ibu Arise menyatakan “Di dalam kurikulum pembelajaran. Dalam dunia pendidikan harus menggunakan metode (PAKEM) yaitu pendidikan aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Guru menerapkan (PAKEM) tersebut, jika guru sudah menerapkan itu maka anak akan mudah tertarik untuk mau dididik oleh guru tersebut. Jadi, di dalam (PAKEM) juga termasuk pendekatan dengan kasih sayang”. (Ibu Arise, S.Pd 3 Januari 2020).
Ibu Fadila juga menyatakan selaku guru anak usia dini “Kepada anak autis guru menggunakan pendekatan dengan kasih sayang, berbicara kepada anak dengan lemah lembut, beri anak perhatian, mengerti kondisi dan situasi anak karena setiap anak pasti berbeda-beda karakternya.
Guru mampu memahami keadaan anak”. Dengan begitu anak akan merasa nyaman dan senang saat bersama guru tersebut”. (Fadila Mauliani, S.Pd 23 Desember 2019).
Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan pendekatan yang guru lakukan kepada anak autis adalah pendekatan yang sesuai dengan kurikulum, yaitu pendidikan menggunakan metode (PAKEM) pendidikan dengan guru yang aktif, kreatif, inovatif, efektif dan menyenangkan. Guru menggunakan pendekatan dengan kasih sayang, dengan begitu anak akan merasa senang dengan guru tersebut.
Jadi dapat disimpulkan bahwa guru menerapkan pendekatan kepada anak autis dengan cara pemberian kasih sayang, berbicara dengan anak lemah lembut dengan nada yang rendah. Memberikan anak reward atau pujian ketika anak berhasil melakuan apa yang diperintahkan oleh guru dan tidak marah ketika anak tidak melakukan apa yang diperintahkan guru. Dengan kasih sayang yang diberikan anak merasa aman dan nyaman saat bersama guru, dengan begitu anak akan lebih bersemangat mengikuti pembelajaran.
b. Tindakan guru sebagai pembimbing ketika memanggil anak autis, tetapi tidak ada respon dari anak tersebut
Upaya yang dapat dilakukan oleh guru yang ada di Sekolah Autiscare Snec ketika guru tersebut memanggil anak tetapi tidak ada respon dari anak tersebut. Peneliti melakukan wawancara dengan guru anak usia dini dan wakil kurikulum.
Seperti yang dijelaskan oleh guru anak usia dini ketika guru memanggil anak tetapi tidak ada respon dari anak tersebut.
“Menghadapi anak autis harus penuh dengan kesabaran. Kesabaran guru diuji saat, misalnya guru memanggil anak tetapi tidak ada respon dari anak tersebut maka guru akan mengulang kembali untuk memanggil anak tersebut. Jika masih tidak ada respon baru guru bertindak untuk mendekatinya, didekati anak dulu baru ulang kembali memanggilnya”. (Fadila Mauliani, S.Pd 23 Desember 2019).
Informan selanjutnya wakil kurikulum di Sekolah Autiscarae Snec menyatakan upaya guru ketika memanggil anak tetapi tidak ada respon dari anak tersebut.
“Ketika guru memanggil anak dengan jarak dekat, biasanya guru memanggil langsung dengan memberi sentuhan, misal memegang tangan atau pundak anak tersebut. Dengan jarak dekat ini anak langsung merespon.
Tetapi jika guru memanggil dengan jarak jauh anak kurang merespon butuh beberapa kali panggilan baru ada respon bahkan, sudah berulangkali guru memanggil tetapi masih tidak ada respon maka guru langsung mendekati dan mengunjungi anak tersebut” (Ibu Arise, S.Pd 3 Januari 2020).
Berdasarkan wawancara di atas dapat peneliti simpulkan bahwa ketika guru memanggil anak tetapi tidak ada respon dari anak tersebut. Guru akan berupaya untuk memanggil dengan berulang-ulang kali sampai ada respon dari anak tersebut. Jika masih tidak ada respon dari anak
tersebut guru akan mendekatinya. Jadi, jika tidak ada respon dengan suara maka guru akan bergerak mendekati anak tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa anak autis itu senang dengan dirinya sendiri, bahkan ketika guru memanggil dia tidak tahu. Strategi guru ketika memanggil anak, yaitu memanggil dengan pengulangan jika anak tidak dengar dengan satu kali panggilan, maka guru akan mengulang kembali. Jika masih tidak didengar guru akan mendekati anak tesebut. Dengan begitu anak akan langsung tahu kalau guru tersebut sedang memanggilnya. Menghadapi anak autis harus begitu caranya, jika dia tidak ada respon dengan jarak jauh langkah berikutnya dekati anak tersebut baru berbicara.
c. Kesulitan-kesulitan yang sering dialami guru saat membimbing anak autis
Menghadapi anak autis tentunya tidak sama saat menghadapi anak normal pada umumnya, anak autis butuh pelayanan yang khusus tentu guru juga mengalami kesulitan-kesulitan tertentu. Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan guru dan wakil kurikulum.
Guru anak usia dini menyatakan bahwa guru mengalami kesulitan-kesulitan saat menghadapi anak auits.
“Anak autis memang tidak sama dengan anak normal biasanya. Tentu cara menghadapinya juga berbeda, hambatan yang sering dialami saat menghadapi anak yaitu ketika mood anak tidak baik, mood anak autis sering naik turun ketika moodnya tidak baik anak akan sering mengamuk, anak sering menolak apa yang diperintahkan oleh guru bahkan anak sering menangis secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas dan mondar-mandir tanpa arah.
Dalam hal komunikasi anak tidak mampu berkomunikasi dua arah. Maka itulah yang harus dikembangkan oleh guru agar anak mampu merubah keadaan sebelumnya menjadi lebih baik”. (Fadila Mauliani, S.Pd 23 Desember 2019).
Wakil kurikulum juga menyatakan bahwa terdapat kesulitan-kesulitan saat menghadapi anak autis.
“Kesulitan yang sering guru alami saat menghadapi anak autis adalah moodnya. Mood anak autis tidak tentu arah kadang naik kadang turun. Saat moodnya tidak baik anak sering mengamuk, menangis tiba-tiba.
Usaha guru untuk mengembalikan suasana yang normal kembali guru membujuk anak, dengan cara merangkul atau memeluk anak tersebut perlahan akan kembali seperti semula” (Ibu Arise, S.Pd 3 Januari 2020).
Berdasarkan hasil wawancara, dapat peneliti simpulkan bahwa hambatan atau kesulitan yang sering dialami guru saat menghadapi anak autis di sekolah Autiscare Snec ini mut anak tidak baik mutnya naik turun. Jika mood anak sedang tidak bagus anak sering mengamuk, anak selalu tidak mau atau menolak apa yang diperintahkan guru dan anak kesulitan dalam berkomunikasi dua arah.
Berdasarkan hasil observasi, dapat peneliti simpulkan bahwa guru di Sekolah Autiscare Snec menemukan atau mengalami kesulitan dalam menghadapi anak autis, yaitu dalam hal kondisi, suasana dan mood anak tersebut. Anak autis moodnya tidak jelas naik turun jika begitu anak sering mengamuk, anak sering menolak apa yang diperintahkan oleh guru dan anak sulit untuk berkomunikasi dua arah tetapi, guru sudah berusaha supaya anak mampu untuk berkomunikasi dua arah.
Jadi dapat disimpulkan bahwa guru sering mengalami kesulitan-kesulitan dalam menghadapi anak autis. meskipun guru sudah melakukan pendidikan sesuai dengan kurikulum (PAKEM) yaitu, pendidikan aktif, kreatif, inovatif, efektif dan menyenangkan. Tetapi guru masih menghadapi kesulitan dalam mengajar anak autis. Yang menjadi kendala bagi guru menghadapi anak autis tersebut adalah ketika mut anak tidak
baik. Jika mut anak tidak baik, anak sering mengamuk, berlari-lari tanpa arah, menangis tanpa sebab, sering menolak apa yang diperintahkan oleh guru. Walaupun begitu guru sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan tindakan supaya anak bisa patuh dan mau mengkuti apa yang diperintahkan guru.
d. Upaya guru ketika anak autis menyampaikan atau berbicara sesuatu tetapi dengan ucapan yang kurang jelas
Peneliti melakukan wawancara dengan guru di Sekolah Autiscare Snec dengan guru anak usia dini dan wakil kurikulum, dari wawancara tersebut diperolah informasi.
Dijelaskan oleh wakil kurikulum upaya guru ketika anak menyampaikan sesuatu kepada guru tetapi dengan ucapan yang kurang jelas.
Ibu Arise menyatakan “Ketika anak mengucapkan atau menyampaikan sesuatu kepada guru tetapi ucapannya tidak jelas. Salah satu keterbatasan oleh anak autis adalah keterbatasan dalam berkomunikasi dalam berbicara anak kurang jelas atau kurang tepat. Guru akan menanyakan kembali apa yang diucapakan oleh anak tersebut. Dengan menngulang kembali guru bertanya dengan beberapa pengulangan guru akan tahu atau mengerti apa yang dikatakan oleh anak tersebut”. (Ibu Arise, S.Pd 3 Januari 2020).
Guru anak usia dini juga menyatakan “Anak autis keterbatasan dalam berkomunikasi guru berusaha untuk mengembangkan melatih anak untuk berkomunikasi dengan dua arah. Melatih dengan cara mengulang-ngulang dan mengucapkan dengan pelan-pelan dalam menyampaikan sesuatu misal melatih anak untuk menyebutkan “buah” sebutkan dengan perlahan-lahan biarkan anak mengikuti sampai dia mampu untuk mengucapkan yang jelas dan benar” (Fadila Mauliani, S.Pd 23 Desember 2019).
Dapat peneliti simpulkan dari hasil wawancara bahwa upaya guru ketika anak menanyakan sesuatu kepada guru tetapi dengan ucapan yang kurang jelas sehingga guru tidak mengerti apa yang dikatakan oleh anak. Guru akan menanyakan kembali kepada anak tersebut sampai guru paham apa maksud dari perkataan anak tersebut. Karena anak autis berketerbatasan dalam berkomunikasi, dengan cara itu guru harus mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan dua arah.
Dapat disimpulkan bahwa ketika perkembangan berbicara anak autis itu lambat atau sama sekali tidak berkembang ada usaha guru untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain, jika anak bisa berbicara, bicarnya bukan untuk berkomunikasi sering menggunakan kata yang aneh dan berulang, pola bermain anak yang kurang variatif, kurang bisa meniru. Untuk menguatkan karakteristik komunikasi anak autis perilaku, komunikasi dan bahasa yang mungkin ada pada anak autis. diantaranya adalah ekspresi wajah, menggunakan bahsa atau isyarat tubuh, meniru aksi atau suara, berbicara sedikit, dan menggunakan kata dengan terbatas. Guru berusaha untuk mengulangi kembali apa yang dikatakan anak tersebut, guru menanyakan kembali apa yang akan disampaikan anak, sehingga guru paham apa yang disampaikan oleh anak tersebut.
2. Peranan sebagai fasilitator bagi anak autis meliputi:
a. Jenis media yang digunakan guru saat mengajar anak autis
Peneliti telah melakukan wawancara dengan guru anak usia dini dan wakil kurikulum di sekolah Autiscare Snec dan peneliti mendeskripsikan hasil wawancara sebagai berikut:
Ibu Fadila Menyatakan “Media yang digunakan yaitu, yang pastinya yang menarik untuk anak apalagi Dofa termasuk anak autis, dia sukanya sesuatu yang baru, yang menarik. Seperti karakteristik media pembelajaran yang menarik, yang terbaru. Media yang digunakan, misalnya ketika materi tentang mengenal benda – benda disekitarnya. Guru membawa anak keluar dari kelas.
Kemudian untuk mengembangkan fisik motorik, anak menyusun balok, Dofa memiliki kemampuan menyusun balok yang bagus dan indah, misalnya pesawat terbang.
Jadi, media yang digunakan berupa gambar yang disesuaikan dengan materi hari itu. (Fadila Mauliani, S.Pd 23 Desember 2019).
Selanjutnya, media yang digunakan saat proses pembelajaran untuk anak autis adalah semua jenis media pembelajaran yang dijelaskan oleh wakil kurikulum di Sekolah Autiscare Snec.
“Di sekolah guru menggunakan seluruh media pembelajaran. Visual dan audio visual. Visual atau gambar guru membuat media tersebut sekreatif mungkin supaya anak tertarik saat mengikuti pembelajaran, sedangkan medianya yang berupa video guru memutarkan video-video yang bersifat edukasi atau mendidik sesuai dengan materi yang diajarkan”. (Wakakur sekolah Autiscare Snec, Arise, S.Pd 3 Januari 2020).
Dari pernyataan di atas dapat peneliti simpulkan bahwa di sekolah Autiscare Snec guru menggunakan berbagai macam jenis media pembelajaran untuk anak autis. Medianya sesuai dengan karakteristik pembelajaran untuk anak usia dini yaitu medianya yang menarik, aman atau tidak membahayakan bagi anak, guru dituntut untuk kreatif dalam media tersebut. Menggunakan media secara nyata atau kongrit, seperti benda-benda yang ada di sekitar anak, visual atau gambar dan audio visual atau berupa video.
Menggunakan gambar adalah langkah yang paling mudah untuk mengajarkan sesuatu kepada anak autis.
menggunakan gambar, misalnya ketika melatih anak untuk
membaca atau berhitung guru menyiapkan propeti berupa gambar yang bisa membantu anak supaya mengerti angka atau huruf. Dengan begitu anak akan lebih mudah mengingat huruf-huruf atau angka-angka yang sudah diajarkan.
Anak akan mudah bosan ketika guru banyak memberikan penjelasan apalagi dengan anak autis yang sesuai dengan karakteristiknya anak akan berperilaku, seperti berlari-lari, jalan-jalan tanpa arah. Dengan menggunakan video akan dapat membantu mengatasi masalah tersebut. Tentunya memutarkan video yang bersifat edukasi atau mendidik sesuai dengan materi pembelajaran yang akan diajarkan ini salah satu trik untuk mengajar anak autis yang cenderung dia suka.
Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan terlihat bahwa guru sudah melaksanakan atau menggunakan media untuk anak autis sesuai dengan karakteristik media pembelajaran, yaitu media yang menarik, guru kreatif dalam membuat media, medianya tidak berbahaya untuk anak.
Media yang dipakai berupa gambar dan video.
Dari hasil wawancara dan observasi, dapat disimpulkan bahwa di Sekolah Autiscare Snec sudah menerapkan atau sudah menggunakan beragai jenis media pembelajaran untuk anak autis tersebut. Media yang digunakan adalah berupa gambar dan video. Dengan begitu anak akan mudah untuk mengikuti pembelajaran dengan melihat langsung apa yang dijelaskan oleh guru.
b. Cara guru menggunakan media saat mengajar anak autis
Langkah-langkah atau cara guru saat menggunakan media pembelajaran di Sekolah Autiscare Snec, sesuai dengan pernyataan guru di sekolah Autiscare Snec.
Wakil Kurikulum Menyatakan “Cara guru menggunakan media pembelajaran kepada anak, kalau medianya berupa gambar guru memperlihatkan gambar tersebut. Jika guru menggunakan media pembelajaran yang berupa video guru memutarkan video tersebut dengan cara diputarkan sedikit demi sedikit diberi jeda, alasan memberi jeda guru akan melakukan tanya jawab kepada anak. Anak tahu tidak isi dari video yang ditontonnya tersebut” (Wakakur sekolah Autiscare Snec, Arise, S.Pd 3 Januari 2020).
Dijelaskan juga oleh guru anak usia dini cara saat menggunakan media belajar untuk anak autis.
“Strategi guru saat menampilkan media pembelajaran adalah salah satu yang akan membuat daya tarik bagi anak. Strategi guru saat menampilkan media yang membuat anak penasaran dan akan bertanya-tanya.
Jika medianya berupa gambar dan puzzle diperlihatkan tetapi sebelum dilihatkan guru bercerita dulu tentang media tesebut tidak langsung dilihatkan. Disitu guru main tebak-tebakan kira-kira anak mampu tidak untuk menebaknya. Terkadang anak mampu, terkadang juga tidak mampu. Jika guru menggunakan media berupa video diputarkan video tersebut”. (Fadila Mauliani, S.Pd 23 Desember 2019).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa di sekolah Autiscare Snec dalam menggunakan media pembelajaran dengan cara, misalnya jika gambar dilihatkan kepada anak tersebut dan jika video ditontonkan atau diputarkan langsung menggunakan infokus.
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di sekolah, dalam kegiatan belajar oleh guru pelaksanaan stimulasi menggunakan media dengan cara yang benar, misalnya guru menggunakan media dalam bentuk gambar, guru melihatkan gambar tersebut, jika guru menggunakan media berupa video guru menampilkan atau memutarkan video tersebut dengan gambar yang jelas dan suara yang jelas menggunakan infokus.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dapat disimpulkan bahwa saat guru melakukan proses pembelajaran guru menampilkan media kepada anak dengan cara atau trik yang sudah bagus dan menarik, kejelian dan kreatifitas guru dengan cara mendisain model pembelajaran dengan menggunakan berbagai media pembelajaran sehingga anak senang dalam mengikuti pembelajaran. Media dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran baik secara klasikal maupun individual.
c. Upaya guru ketika anak autis menginginkan sesuatu atau benda yang menarik perhatiannya
Upaya atau tindakan yang dapat dilakukan oleh guru di Sekolah Autiscare Snec , berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan guru anak usia dini dan wakil kurikulum.
Ibu Fadila Menyatakan selaku guru anak usia dini
“Ketika anak sedang belajar ada suatu benda yang menarik perhatiannya dan anak menginginkan benda tersebut. Guru akan berusaha untuk mengosongkan ruangan kelas tersebut dari benda-benda yang mengganggu anak saat belajar. Meskipun ada guru berusaha untuk membujuk anak supaya anak mau belajar dulu dan setelah belajar baru nantik bermain lagi. (Fadila Mauliani, S.Pd 23 Desember 2019).
Informan selanjutnya adalah wakil kurikulum menjelaskan bahwa upaya guru ketika anak menginginkan sesuatu atau benda yang menarik perhatiannya.
“Saat proses pembelajaran berlangsung tiba-tiba anak menginginkan suatu benda yang menarik perhatiannya maka fokus anak akan terganggu, guru berusaha untuk mengembalikan konsetrasi anak itu kembali kepada guru dengan cara mengalihkan benda tersebut dari pandangannya. Biasanya anak autis harus dilatih dulu kontak matanya kalau anak sudah fokus lagi kepada guru baru dilanjutkan belajar”. (Ibu Arise, S.Pd 3 Januari 2020).
Dari wawancara di atas dapat peneliti simpulkan bahwa suatu ketika anak menginginkan benda yang menarik perhatiannya ketika anak sedang belajar guru akan mengalihkan benda tersebut dari pandangan anak supaya tidak mengganggu konsentrasi anak saat belajar. Meskipun anak terganggu guru berupaya untuk membujuk anak supaya mau belajar dulu, jika anak mau dan konsentrasi kembali ingin belajar guru melanjutkan pembelajaran.
Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan terlihat bahwa guru sudah melaksanakan tugasnya sebaik mungkin. Saat anak menginginkan benda yang dia inginkan, guru berusaha untuk menghindari benda tersebut supaya tidak mengganggu konsentrasi anak saat belajar.
Dari hasil wawancara dan observasi, dapat disimpulkan bahwa saat guru melaksanan proses pembelajaran ada sesuatu yang mengganggu konsentrasi anak yang membuat anak tidak mau lagi belajar, yaitu anak menginginkan suatu benda yang menarik perhatinnya, dia ingin benda tersebut, guru berusaha mengalihkan benda itu, jika anak masih melotot ingin bendanya, maka guru akan membujuk anak supaya belajar dulu. Bahkan sebelum
Dari hasil wawancara dan observasi, dapat disimpulkan bahwa saat guru melaksanan proses pembelajaran ada sesuatu yang mengganggu konsentrasi anak yang membuat anak tidak mau lagi belajar, yaitu anak menginginkan suatu benda yang menarik perhatinnya, dia ingin benda tersebut, guru berusaha mengalihkan benda itu, jika anak masih melotot ingin bendanya, maka guru akan membujuk anak supaya belajar dulu. Bahkan sebelum