KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka 1. Belajar
2. Teori Belajar
Teori belajar dapat menunjukkan hubungan antara sifat dan sikap dalam diri siswa saat proses pembelajaran. Tujuan dari teori belajar adalah menjelaskan proses belajar sehingga teori belajar dapat digunakan sebagai indikator keberhasilan siswa dalam belajar. Banyak teori belajar dari para ahli yang telah disusun, namun tidak dapat dikatakan bahwa hanya satu teori yang menjadi teori paling tepat. Setiap teori memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga dalam pelaksanaannya perlu melihat beberapa teori dan saling dihubungkan agar saling melengkapi. Beberapa teori belajar menurut beberapa ahli antara lain:
1) Teori Belajar Bruner
Bruner tidak mengembangkan teoriabelajar yang sistematis. Hal yang penting bagi Bruner ialah cara bagaimana seseorang memilih, mempertahankan, dan mentransformasikan sebuah informasi secara aktif dalam proses belajar. Bruner menganggap belajar penemuan sesuaiadengan pencarian pengetahuan secara aktifaoleh manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan dalam suatu masalah serta pengetahuan yang menyertainya akan menghasilkan pengetahuan yang bermakna (Dahar, 2011). Menurut Bruner, selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. siswa diberi kesempatan mencari dan menemukan sendiri pemecahanaamasalah yang sedang dihadapinya. Di dalam proses pembelajaran Bruner lebih mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa, dan mengenal dengan baik adanya perbedaa kemampuan (Slameto, 2010). Keterkaitan teori belajar Bruner dengan penelitian adalah siswa mencari sendiri pemecahan dari masalah yang diberikan, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan yang lebih bermakna
bagi siswa. Bahkan kemampuan memecahkan masalah dapat bermanfaat di kehidupan sehari-hari.
2) Teori Belajar Piaget
Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan salah satu proses genetik, yaitu proses yang didasarkan pada mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Semakinabertambah umur seseorang, maka kemampuannya akan semakin meningkat. Dalam teori Piaget tidak melihat perkembangan kognitif sebagai sesuatu yang dapat didefinisikanasecara kuantitatif karena kekuatan atau daya pikir seseorang berbeda menurut usianya. Piaget menyebutkan bahwa perkembangan mental pada setiap anak melalui tahap-tahap tertentu yang urut dan berlaku bagi semua anak (Slameto, 2010). Menurut Piaget dalam Dahar (2011), proses belajar harus disesuaikanidengan tahap perkembangan kognitif yangIdilalui siswa. Piaget membagi menjadi empat tahap yaitu:
a) Tahap sensorimotor (0-2 tahun)
Pada tahap ini anak mengatur alamnya dengan indra (sensori) dan tindakannya (motor).
b) Tahap praoperasional (2 sampai 7 tahun)
Tahap ini anak cenderung berpikir irreversible dan pemikirannnya masih bersifat egosentris. Selain itu anak cenderung lebih menfokuskan pada aspek statis tentang suatu peristiwa daripada transformasi dari satu keadaan ke keadaan lain.
c) Tahap operasional konkret (7 sampai 11 tahun)
Tahap ini merupakan permulaan dari berpikir rasional. Anak memiliki operasi-operasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah-masalah yang konkret.
d) Tahap operasional formal (lebih dari 11 tahun)
Tahap ini anak dapat menggunakanaoperasi-operasi konkretnya untuk membentuk operasiayang lebih kompleks. Tahap operasional formal, anak mempunyai kemampuan berpikir abstrak dan berpikir adolensensi.
Anak dapat merumuskan banyak alternatif hipotesis dalam menyelesaikan masalah.
3) Teori Belajar Ausubel
Teori belajar Ausubel mengungkapkan bahwa suatu bahan pelajaran harus bermakna. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses yang mengaitkan informasi-informasi baru dengan konsep-konsep relevan yang terdapat dalam strukturikognitif seseorang. Kekuatan dari proses pemecahan masalah dalam pembelajaran terletak pada kemampuan siswa untuk mengambil peran dalam kelompoknya. Agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik diperlukan bimbingan langsung dari guru, baik lisan maupun tindakan, sedangkan siswa diberiakebebasan untuk membangun pengetahuannya sendiri. Menurut Ausubel, problem solving adalah pembelajaran yang lebih bermanfaat bagi siswa dan merupakan strategi yang efisien. Teori ini mengacu pada kegiatan pembelajaran yang banyak melibatkan partisipasi dari peserta didik maka dalam pembelajaran yang berlangsung peserta didik haruslah bersikap aktif. Pengetahuan tidak hanya disalurkan secara verbal tetapi juga dikonstruksi dan direkonstruksi peserta didik (Budiningsih, 2005). Pada proses pembelajaran terdapat prinsip-prinsip yang perluadiperhatikan untuk menerapkan teori Ausubel.
Prinsip-prinsip tersebut antara lain:
1) Pengatur awal
Pengatur awal mengarahkan para peserta didik ke materi yang akan dipelajari dan menolong mereka untuk mengingat kembaliiinformasi yang berhubungan yang dapat membantu menanamkan pengetahuan baru.
2) Diferensiasi Progresif
Dalam berlangsungnya belajar bermakna, perlu terjadi pengembangan dan elaborasiakonsep. Pengembangan konsep dapat berlangsung dengan baik, jika unsur-unsur yang paling umum diperkenalkan terlebih dulu, setelah itu baru hal-hal yang lebih khusus dan detail dari suatu konsep.
3) Belajar Superordinat
Belajar superordinate terjadi jika konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya dikenal sebagaiaunsur-unsur dari suatu konsep yang lebih luas.
4) Penyesuaian Integratif
Penyesuaian integratif memperlihatkan bagaimana konsep konsep baru dihubungkan pada konsep-konsep superordinat (Dahar 2011).
3. Pembelajaraan
Satu tugas guru adalah melaksanakan pembelajaran yang baik.
Dalam suatu pembelajaran seorang guru harus memiliki berbagai pengetahuan baik pengetahuan secara umum maupun pengetahuan yang berhubungan dengan kelangsungan proses pembelajaran. Pengertian pembelajaran dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2016 adalah proses interaksi antar peserta didik, antara peserta didik dengan pendidik pada suatu lingkungan belajar. Howard dalam Slameto (2003) berpandangan bahwa pembelajaran adalah suatu aktivitas untuk mendapatkan, mengubah, atau mengembangkan skill (kemampuan), attitude (tingkah laku), appreciations (penghargaan), ideals (cita-cita), dan knowledge (pengetahuan). Dalam pengertian ini guru harus berusaha untuk menghasilkanaperubahan tingkah laku yang baik bagi peserta didik.
Sardiman (2010) menyatakan bahwa pembelajaran merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Menurut Rahyubi (2012) pembelajaran merupakanabantuan yang diberikan seorang pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap danakepercayaan pada siswa.
Istilah pembelajaran memilikiamakna sebagai kegiatan yang dimulai dari mendesain, mengembangkan, mengimplementasikan dan mengevaluasi kegiatan yang dapat menciptakan proses belajar bagi peserta didik. Menurut Weil (1980) dalam Sanjaya (2008) terdapat tiga prinsip
penting dalam proses pembelajaran yaitu (1) proses pembelajaran adalahamembentuk kreasi lingkungan yang dapat mengubah struktur kognitif siswa, (2) berhubungan dengan tipe-tipeapengetahuan yang harus dipelajari, dan (3) dalamapembelajaran perlu melibatkan peran lingkungan sosial. Dalam pembelajaran guru mempunyai tugas yaitu harus mampu dan ahli dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi dalam kegiatan pembelajaran agar dalam proses pembelajaran dapat tercapai tujuannya.
Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan model pembelajaran menurut Suradji (2008) antara lain:
a. Disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai.
b. Disesuaikan dengan kemampuan siswa serta kepribadian siswa.
c. Disesuaikan dengan bahan pelajaran yang akan dipelajari.
d. Disesuaikan dengan fasilitas yang ada di sekolah.
Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepasadari kemampuan guru mengembangkan metode-metodeapembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran. Dari pengertian di atas, pembelajaran dapat diartikan sebagai prosesakomunikasi dua arah antara guru dan siswa dalam rangka memberikan pengetahuan, pengarahan, bimbingan dan doronganakepada siswa agar terjadi proses belajar sehingga diperoleh suatu pemahaman dan mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.