• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori dan Hipotesis

Dalam dokumen Metodologi Penelitian Hukum Islam Edisi Revisi (Halaman 113-118)

SAMPLEj. Diskusi-diskusi ilmiah

D. TUJUAN PENELITIAN

1. Teori dan Hipotesis

Dalam mempelajari dasar-dasar penelitian, orang harus

124 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 106.

SAMPLE

103

BAB 6  Penelitian Hukum Islam Empiris

terlebih dahulu memahami sebaik-baiknya apa yang dise-but teori dan hipotesis. Teori didise-butuhkan sebagai pegang-an-pegangan pokok secara umum, sedangkan hipotesis di-butuhkan sebagai penjelasan problematik yang dicarikan pemecahan.

Dalam hubungannya dengan data, teori dibangun de-ngan data yang tersusun dalam satu sistem pemikiran yang sistematik. Karena itu, maka pengumpulan data dilakukan harus sesudah segala sesuatu pun mengenai masalah pene-litian telah selesai direncanakan. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa teori tidak tepat disamakan dengan peng-ertian “semacam metafisik yang tidak praktis”, justru segala tindakan praktis di dalam kehidupan didasarkan atas satu sudut pandangan dari teori tertentu. Misalnya, tindakan pe-dagogik tertentu bagi seorang guru didasarkan atas dasar teori perubahan tingkah laku. Juga segala tindakan praktis pemerintah di bidang

Dalam hubungannya dengan hipotesis dalam suatu pe-nelitian, suatu teori perbedaan adalah perumusan; sementa-ra tentang suatu kemungkinan dalil, teori sebagai titik satu dengar permulaan di dalam arti bahwa dari situlah bersum-bernya hipotesis yang akan alternatif dibuktikan.

Hipotesis yang berasal dari kata “hipo” berarti kurang atau lemah dari “tesis” hipotesis, atau tesis yang berarti teo-ri yang disajikan sebagai bukti. Dalam pembicaraan ini hipo diartikan lemah dan tesis diartikan teori, proposisi, atau per-nyataan. Jadi, hubungan hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih perlu tersebut dapat dibuktikan kenyataannya. Jika suatu hipotesis telah terbukti kebenarannya, ia akan 1) Hipo berubah namanya disebut te-sis, jadi merupakan teori.

SAMPLE

apabila bahan-bahan “kota” penelitian membenarkan kenya-taan dan ditolak apabila menyangkal. Jumlah hipotesis sa-ngat banyak, dapat tidak terbatas. Sebab apa saja yang dise-lidiki dapat dinyatakan dalam bentuk hipotesis, kecuali jika kita belum mempunyai kebenaran pengetahuan apa-apa ten-tang gejala yang akan diselidiki. Hipotesis dapat bersumber pengalaman-pengalaman praktik; teori-teori; kesan-kesan hasil diskusi dan kajian pembahasan dalam kepustakaan dan sebagainya.

Kalau kita ingin menyatakan hipotesis kita dapat me-nyatakan “ada” dan “tidak ada”. Hipotesis nihil atau nol ada-lah hipotesis yang menyatakan “tidak ada” perbedaan atau tidak ada hubungan antara sampel yang satu dengan yang lain, atau prosedur satu dengan yang lain, atau ukuran satu de ngan yang lain. Adapun hipotesis yang lain adalah hipote-sis alternatif, yaitu hipotehipote-sis yang menyatakan adanya perbe-daan atau hubungan antara dua buah ukuran atau prosedur atau antara sampel satu dengan sampel yang lain. Hipotesis nihil biasa diberikan kode Ho, dan hipotesis alternatif biasa diberi kode Ha dalam statistik uji hipotesis.

Dalam hubungannya dengan sifat penelitian, maka ada dua macam hipotesis, yaitu hipotesis tentang perbedaan dan hipotesis tentang hubungan. Hipotesis perbedaan mendasari berbagai penelitian komparatif sedang hipotesis hubungan mendasari berbagai penelitian korelatif. Pernyataan kedua hipotesis tersebut dapat dirumuskan misalnya:

1) Hipotesis perbedaan “Tidak ada perbedaan prestasi be-lajar antara siswa yang berasal dari dalam kota dengan yang berasal dari luar kota di sebuah SMP di kota.” 2) Hipotesis hubungan ‘Ada hubungan positif antara

SAMPLE

105

BAB 6  Penelitian Hukum Islam Empiris

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap ma-salah penelitian, yang kebenarannya masih harus diuji secara empirik. Dalam langkah-langkah penelitian, hipotesis me-rupakan rangkuman dan kesimpulan-kesimpulan teoretik yang diperoleh dari kajian kepustakaan, supaya mudah diuji harus dirumuskan secara operasional. Walaupun tidak ada aturan umum untuk merumuskan hipotesis, tetapi dikemu-kakan saran-saran sebagai berikut:

1. Hipotesis hendaklah dinyatakan dalam kalimat dekla-ratif atau pernyataan.

2. Hipotesis hendaklah menyatakan peraturan antara dua variabel atau lebih.

3. Hipotesis hendaklah dirumuskan secara jelas dan padat. 4. Hipotesis hendaklah mungkin untuk diuji, artinya hen-daklah orang mungkin mengumpulkan data guna meng-uji hipotesis tersebut.

Dalam penelitian yang diarahkan pada pengembang-an pengetahupengembang-an ilmiah, ada ypengembang-ang lebih dititikberatkpengembang-an pada pembangunan atau pembentukan teori (theory building) dan ada yang dititikberatkan pada pengujian teori (theory

tes-ting). Namun demikian, titik berat kepada tujuan penelitian.

Hal itu memiliki konsekuensi terhadap fungsi teori, kerang-ka berpikir, hipotesis, dan tahapan penelitian.

Dalam penelitian grounded research, terutama yang menggunakan pendekatan antropologis, lebih dititikberat-kan pada pembentudititikberat-kan teori. Teori dibentuk berdasardititikberat-kan data yang dikumpulkan dari realitas sosial. Ia berfungsi seba-gai pengisi kekosongan teori. Adapun hipotesis diinduksi dari data yang diperoleh, dan berfungsi sebagai pedoman dalam pengumpulan data pada tahap selanjutnya. Tahapan

SAMPLE

penelitian diawali dengan pengetahuan terhadap lapangan, penyusunan rencana penelitian, pengumpulan data, peru-musan hipotesis, pengumpulan data tahap selanjutnya, ana-lisis data, dan akhirnya perumusan teori.

Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan nor-matif-moralistis, hipotesis biasanya tidak dirumuskan secara eksplisit walaupun secara implisit dirumuskan dalam perta-nyaan penelitian yang diajukan. Demikian halnya dalam pe-nelitian kualitatif dengan pendekatan antropologis, hipotesis biasanya bersifat implisit namun ia juga dapat dirumuskan secara eksplisit sebagaimana dalam penelitian ilmu-ilmu so-sial lainnya.

Dalam penelitian yang dititikberatkan pada penguji-an teori, rencpenguji-ana penelitipenguji-an disusun sebagaimpenguji-ana dapat di-lihat dalam pola umum penelitian. Teori berfungsi sebagai kerangka penelitian, kemudian disusun di dalam rumusan kerangka berpikir dan selanjutnya hipotesis.

Hipotesis merupakan jawaban sementara atas perta nyaan penelitian yang diajukan terhadap masalah yang telah diru-muskan. Dalam penelitian yang diarahkan pada pengujian hipotesis dituntut adanya kejelasan pengubah dari hubung an antar pengubah yang akan diuji. Kejelasan pengubah antara lain tentang dimensi-dimensi pengubah yang sangat spesifk. Adapun tentang kejelasan hubungan antar-pengubah, me-liputi tipe hubungan simetrik yang lebih sering digunakan dalan penelitian, hubungan simetrik, dan hubungan timbal balik (reciprocal). Kejelasan hubungan itu akan memudahkan untuk menentukan model uji statistik yang akan digunakan. Salah satu bentuk rumusan hipotesis adalah sebagaimana da-pat dilihat dalam ungkapan di bawah ini. Dalam contoh itu terdapat dua jenis hipotesi yaitu: hipotesis penelitian dan hi-potesis statistik.

SAMPLE

107

BAB 6  Penelitian Hukum Islam Empiris

Contoh:

Sesuai dengan kerangka berpikir tersebut, hipotesis yang diajukan dalam (James P. penelitian ini adalah: “Terdapat per-bedaan prestasi belajar antara siswa kelas yang mengguna kan pengajaran dan les dengan siswa kelas yang meng gunakan harus ada pengajaran tambahan dengan tugas dalam bidang studi matematika.”

Adapun hipotesis nol atau hipotesis statistik dari hipote-sis alternatif memang dirumuskan dengan lambang statistik sebagai berikut:

Ho: xI x2, Artinya, tidak terdapat perbedaan prestasi bel-ajar antara siswa yang mengikuti pengbel-ajaran tambahan dan les dengan siswa yang basil per konklusi mengikuti tambahan pengajaran tambahan tugas dalam bidang studi matematika.

Ha: xI + x2, Artinya, terdapat perbedaan prestasi bela-jar antara siswa yang harus mengikuti pengabela-jaran tambahan dan les dengan siswa yang tidak mengikut pengajaran tam-bahan dengan tugas dalam bidang studi matematika.125

Dalam dokumen Metodologi Penelitian Hukum Islam Edisi Revisi (Halaman 113-118)