BAB II KAJIAN LITERATUR
2.2 Kerangka Teori
2.2.2 Teori Implementasi
Berkaitan dengan proses menghasilkan kebijakan seperti yang di atas maka penulis menggunakan teori implementasi dalam penelitian ini. Implementasi berasal dari bahasa Inggris yaitu to implement yang berarti mengimplementasikan. Implementasi merupakan penyediaan sarana untuk melaksanakan sesuatu yang menimbulkan dampak atau akibat terhadap sesuatu. Sesuatu tersebut dilakukan untuk menimbulkan dampak atau akibat itu dapat berupa undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan peradilan dan kebijakan yang dibuat oleh lembaga-lembaga pemerintah dalam kehidupan kenegaraan.
Implementasi juga merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan dalam suatu keputusan kebijakan. Akan tetapi pemerintah dalam membuat kebijakan juga harus mengkaji terlebih dahulu apakah kebijakan tersebut dapat memberikan dampak yang buruk atau tidak bagi masyarakat.Hal tersebut bertujuan agar suatu kebijakan tidak bertentangan dengan masyarakat apalagi sampai merugikan masyarakat.
Konsep implementasi kebijakan adalah bagaimana memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijakan, yaitu kejadian-kejadian atau kegiatan yang timbul setelah disahkannya pedoman-pedoman kebijakan negara. Kebijakan yang dimaksud mencakup baik
usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat/dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian.
Implementasi kebijakan tidak hanya terbatas pada tindakan atau perilaku badan alternatif atau unit birokrasi yang bertanggung jawab untuk melaksanakan program dan menimbulkan kepatuhan dari target group, namun lebih dari itu juga berlanjut dengan jaringan kekuatan politik sosial ekonomi yang berpengaruh pada perilaku semua pihak yang terlibat dan pada akhirnya terdapat dampak yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan, sehingga dapat dipahami bahwa keberhasilan impelementasi kebijakan sangat dipengaruhi oleh berbagai variabel atau faktor yang pada gilirannya akan mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan itu sendiri.
Penelitian ini menggunakan teori yang ditawarkan oleh George Edwards III. Ada empat variabel yang menentukan keefektifan suatu implementasi kebijakan, antara lain: komunikasi, sumber-sumber, kecenderungankecenderungan, dan struktur birokrasi.
Untuk mengefektifkan implementasi kebijakan yang ditetapkan, maka diperlukan adanya tahap-tahap implementasi kebijakan. membagi tahap implementasi dalam 2 bentuk, yaitu:
Bersifat self-executing, yang berarti bahwa dengan dirumuskannya dan disahkannya suatu kebijakan maka kebijakan tersebut akan terimplementasikan dengan sendirinya, misalnya pengakuan suatu negara terhadap kedaulatan negara lain.
Bersifat non self-executing yang berarti bahwa suatu kebijakan public perlu diwujudkan dan dilaksanakan oleh berbagai pihak supaya tujuan pembuatan kebijakan tercapai.
Menurut George C. Edward III ada empat faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan atau kegagalan implementasi suatu kebijakan, yaitu faktor sumber daya, birokrasi, komunikasi, dan disposisi, yaitu :
1. Faktor sumber daya (resources) yang merupakan faktor sumber daya mempunyai peranan penting dalam implementasi kebijakan, karena bagaimanapun jelas dan konsistennya ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan suatu kebijakan, jika para personil yang bertanggung jawab mengimplementasikan kebijakan kurang mempunyai sumber-sumber untuk melakukan pekerjaan secara efektif, maka implementasi kebijakan tersebut tidak akan bisa efektif. Sumber-sumber penting dalam implementasi kebijakan yang dimaksud antara lain mencakup; staf yang harus mempunyai keahlian dan kemampuan untuk bisa melaksanakan tugas, perintah, dan anjuran atasan atau pimpinan.
2. Struktur birokrasi yang meskipun sumber-sumber untuk mengimplementasikan suatu kebijakan sudah mencukupi dan para implementor mengetahui apa dan bagaimana cara melakukannya, serta mereka mempunyai keinginan untuk melakukannya, implementasi bisa jadi masih belum efektif, karena ketidakefisienan struktur birokrasi yang ada.
3. Faktor Komunikasi, adalah suatu kegiatan manusia untuk menyampaikan apa yang menjadi pemikiran dan perasaannya, harapan atau pengalamannya kepada orang lain Faktor komunikasi dianggap sebagai faktor yang amat penting, karena dalam setiap proses kegiatan yang melibatkan unsur manusia dan sumber daya akan selalu berurusan dengan permasalahan “bagaimana hubungan yang dilakukan”.
4. Faktor Disposisi (sikap), faktor ini diartikan sebagai sikap para pelaksana untuk mengimplementasikan kebijakan. Dalam implementasi kebijakan, jika ingin berhasil secara efektif dan efisien, para implementor tidak hanya harus
mengetahui apa yang harus mereka lakukan dan mempunyai kemampuan untuk implementasi kebijakan tersebut, tetapi mereka juga harus mempunyai kemauan untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut .
Gambar 2.2
Skema Implementasi Edward III
Sumber : Edward III 1980:148 dikutip dari skripsi Dwi Nurani
Penelitian ini akan melihat kebijakan implementasi transfer pricing documentation yang dibuat wajib pajak dalam negeri di Indonesia dari ke empat faktor menurut Edward III. Melihat dari bagaimana komunikasi yang terjalin antara Wajib Pajak dengan pihak Dirjen Pajak dalam pembuatan dokument tersebut sudah sesuai dengan kemauan pihak Dirjen Pajak yang berdasar dari peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia atau belum.
Faktor sumber daya juga merupakan faktor terpenting dalam kebijakan pembuatan transfer pricing documentation ini karena tidak semua sumber daya bisa membuat dokumen ini. Dibutuhkannya sumber daya yang benar-benar ahli agar tidak ada kesalahan atau dokumen yang hanya sebatas formalitas, tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Sumber daya ini masih berkaitan dengan sikap para pelaksana implementasi kebijakan ini. Perlunya kemampuan bersikap yang mengerti mengenai keadaan praktek transfer pricing ini agar tidak memberikan dampak yang negatif bagi pihak-pihak
KOMUNIKASI STRUKTUR BIROKRASI IMPLEMENTASI SIKAP SUMBER DAYA
yang berhubungan. Dalam penelitian implementasi kebijakan transfer pricing documentation ini sumber daya yang ahli sudah termasuk mempunyai sikap yang mengerti dan memahami keadaan yang tidak mungkin terjadi tapi dapat terjadi dan diatasi dengan sebaik mungkin.
Struktur birokrasi dalam penelitian ini lebih mengarah kepada pihak Dirjen Pajak, karena Wajib Pajak yang membuat transfer pricing documentation selalu berusaha membuat yang sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia. Pihak Dirjen Pajak sebagai sumber dari dasar dalam menjalankan kebijakan ini harus mempunyai pendirian yang teguh dan membuat suatu peraturan yang benar-benar dapat dijadikan pedoman bagi para Wajib Pajak yang melakukan kewajibannya supaya implementasi dari kebijakan ini dapat berjalan sebaik mungkin.
2.2.2.1 Kebijakan Fiskal
Menurut John F. Due (Keuangan Negara, 1985:48) “kebijaksanaan fiskal adalah penyesuaian dalam pendapatan dan pengeluaran pemerintah untuk mencapai kestabilan ekonomi yang lebih baik dan laku pembangunan ekonomi yang dikehendaki”. Ada dua pengertian kebijakan fiskal berdasarkan pengertian luas dan pengertian sempit. Kebijakan fiskal dalam arti luas definisinya adalah kebijakan untuk mempengaruhi produksi masyarakat, banyaknya kesempatan kerja dan pengangguran, tingkat harga umum dan inflasi. Untuk dapat mempengaruhi produksi masyarakat, kesempatan kerja dan inflasi, kebijakan fiskal ini harus disertai dengan kebiakan moneter yang menentukan besarnya jumlah uang beredar dan tingkat suku bunga.
Kebijakan fiskal dalam pengertian luas bertujuan untuk mempengaruhi jumlah total pengeluaran masyarakat, pertumbuhan ekonomi dan jumlah seluruh produksi masyarakat, banyaknya kesempatan kerja dan penganguran, tingakat harga umum dan inflasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, lazimnya kebijakan fiskal disertai kebijakan moneter.Bila kebijakan fiskal menggunakan
penmungutan pajak dan pengeluaran belanja negara sebagai instrument, berarti kebijakan moneter dilakukan melalui penentuan besarnya jumlah yang beredar dan penentuan tingkat bunga. Kebijakan moneter dapat dipakai untuk mempengaruhi investasi barang-barang modal dan pengeluaran-pengeluaran masyarakat yang peka atas tingkat bunga.
Kebijakan fiskal berdasarkan pengertian sempit biasa disebut sebagai kebijakan perpajakan. Kebijakan ini pertama ditentukan atas hasil kajian tentang apa saja yang perlu dipakai sebagai tujuan dari pemungutan pajak.
Sistem perpajakan yang berlaku di Indonesia sekarang berasal dari Sistem Perpajakan 1983, maka tujuan dari pembaruan sistem perpajakan 1983 juga merupakan tujuan dari pemungutan pajak yang sekarang dengan salah satunya adalah penerimaan negara dari pajak harus bisa diandalkan sebagai sumber belanja negara yang mandiri. Setiap pemungutan pajak itu adalah untuk mengumpulkan dana guna dipakai untuk membiayai kegiatan pemerintah dalam melaksanakan fungsinya. Sebagaimana diketahui pajak pada dasarnya mempunyai dua fungsi yang dijelaskan oleh Mansury, yaitu:
1. Fungsi budgetair
Fungsi ini untuk menghimpun dana yang berasal dari masyarakat sedangkan bagi kas negara untuk pembiayaan kegiatan pemerintah baik pembiayaan rutin maupun pembiayaan pembangunan. Fungsi ini pada hakikatnya merupakan fungsi utama pajak. Pengalaman Indonesia dan beberapa negara berkembang selama ini menunjukkan bahwa penggunaan penerimaan uang dari pajak tidak hanya digunakan untuk pembangunan nasional. Sasaran utama pungutan pajak sebaiknya tidak menghalangi tercapainya sasaran kebijakan di bidang lain.
Fungsi ini untuk mengatur dan mencapai tujuan tertentu di luar bidang keuangan, terutama biasanya ditujukan bagi sektor swasta. Fungsi regulerend ini menjadi tujuan pokok dari sistem pajak, paling tidak dalam sistem perpajakan yang benar atau tidak terjadi pertentangan dengan kebijakan negara dalam bidang ekonomi dan sosial. Ada pula fungsi ini sebagai pengatur sehingga pajak digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu di luar bidang keuangan, terutama banyak ditujukan terhadap sektor swasta.
2.2.2.2 Kebijakan Pajak
Kebijakan pajak adalah kebijakan fiskal dalam arti yang sempit, yaitu kebijakan yang berhubungan dengan penentuan siapa-siapa yang akan dikenakan pajak, bagaimana menghitung besarnya pajak yang harus dibayar dan bagaimana tata cara pembayaran pajak terutang (Mansury, 1999:1). Sebagaimana kebijakan publik yang memiliki tujuan tertentu untuk dicapai oleh negara, kebijakan perpajakan ini juga memiliki tujuan pokok, yaitu:
a. peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran, b. distribusi penghasilan yang lebih adil, dan c. stabilitas
Menurut Mansury, kepastian dalam kebijakan pajak dapat dihubungkan dengan empat pertanyaan sebagai berikut:
1. Harus pasti siapa-siapa yang harus dikenakan pajak.
2. Harus pasti apa yang menjadi dasar untuk mengenakan pajak kepada subjek pajak.
3. Harus pasti berapa jumlah yang harus dibayar berdasarkan ketentuan tentang tarif pajak.
4. Harus pasti bagaimana jumlah pajak yang terutang tersebut harus dibayar.