BAB V ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN TRANSFER
5.2 Hambatan dalam Pengimplementasian Transfer Pricing
5.3.2 Upaya Pembaharuan Sumber Daya yang Berkaitan dengan
Bentuk upaya untuk memaksimalkan kebijakan ini juga salah satunya berasal dari minimnya sumber daya dari pihak otoritas pajak yang benar-benar mengerti apa itu transfer pricing dan bagaimana cara menarik kesimpulan dari sebuah transfer pricing documentation. Hal yang paling terpenting adalah pertama harus mengetahui dasarnya apa lalu kemudian baru bisa mengatur hal tersebut dengan peraturan yang dikeluarkan untuk mengatur sebuah kebijakan. Dengan kurangnya sumber daya yang juga tidak tersebar secara merata di Indonesia membuat kebijakan ini masih dapat dikatakan jauh dari kata efektif untuk saat ini.
Isi dari transfer pricing documentation itu sangat jelas menggambarkan apa yang terjadi dalam suatu perusahaan mulai dari jenis bisnis sampai ke kesimpulan yang menyatakan bahwa transaksi yang dilakukan dengan pihak yang memiliki hubungan istimewa sudah wajar
harganya. Hal yang paling gampang diambil contoh adalah mengenai metode transfer pricing. Ketika Wajib Pajak sudah menentukan metode yang digunakan dan dilampirkan dalam transfer pricing documentation sehingga dalam kesimpulan sudah ada hasil yang ditunjukkan namun, pihak otoritas pajak masih merasa belum puas sehingga menghitung kembali kewajaran transaksi itu dengan metode yang berbeda maka hasil dari itu akan berbeda. Wajib Pajak mempunyai argument sendiri mengapa metode itu yang dipakai untuk menentukan kewajara, pihak otoritas pajak juga bersikeras dengan alasan yang dipakai, sehingga sampai pada akhirnya tidak ada titik temu dan dalam hal ini sering kali Wajib Pajak yang merasa dirugikan.
Mengerti transfer pricing saja belum cukup untuk memaksimalkan kebijakan ini, melainkan perlunya pengalaman yang cukup sampai benar-benar menjadi ahli. Bukan hanya ilmu accounting atau sekedar ilmu pajak saja yang berpengaruh dalam praktek ini tapi juga dibutuhkan pengamatan dari beberapa sumber pengetahuan. Keadaan ekonomi ataupun bisnins suatu negara juga bisa menjadi faktor penting ketika bertransaksi dengan pihak yang memiliki hubungan istimewa. Dalam pembuatan transfer pricing documentation hal-hal di luar ilmu itu juga bisa disertakan untuk membuktikan bahwa adanya perbedaan harga bisa dikarenakan faktor-faktor di luar dari yang Wajib Pajak lakukan. Pentingnya pengetahuan mengenal praktek ini agar para otoritas pajak dapat membedakan dan mengerti apa yang sebenarnya digambarkan dalam sebuat transfer pricing documentation. Alasan-alasan yang dicantumkan oleh Wajib Pajak harus benar-benar dimengerti agar tidak terjadi kesalah pahaman pendapat yang bisa menimbulkan bedanya asumsi dari masing-masing pihak.
Pihak Direktorat Jendral Pajak dalam mengupayakan kebijakan ini dengan semaksimal mungkin harus melihat secara langsung aplikasi di lapangan ketika kebijakan ini sudah mulai dijalankan. Kebijakan yang dibuat ke depannya nanti untuk mengatur tentang praktek transfer pricing ini lebih baik harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan yang selama ini terjadi. Wajib Pajak maupun pihak konsultan pajak masih merasa bahwa
kebijakan yang dibuat belum dapat dipraktekan semudah itu. Hal yang paling dikhawatirkan oleh para Wajib Pajak maupun konsultan pajak adalah ketika mereka harus masih harus bermasalah ketika mencari data pembanding. Dalam transfer pricing documentation pihak otoritas pajak pasti akan langsung tertuju dengan data apa yang Wajib Pajak gunakan dalam membandingkan kewajaran harga transaksinya. Dari beberapa data yang digunakan Wajib Pajak yang di lampirkan dalam transfer pricing documentation bisa saja ada beberapa data perusahaan yang tidak diperbolehkan oleh pihak pemeriksa.
Diutamakannya data pembanding yang internal dalam membandingkan kewajaran harga bertransaksi dengan pihak yang memiliki hubungan istimewa sampai dengan saat ini masih menjadi favorite pihak pemeriksa pajak. Wajib Pajak yang dapat menjelaskan kewajaran bertransaksinya dengan data internal perusahaannya juga memudahkan pihak otoritas pajak ketika memeriksa dan membaca transfer pricing documentationnya. Data pembanding internal ini juga sebenarnya dapat menguntungkan Wajib Pajak karena tidak perlu susah-susah mencara data pembanding dari perusahaan lain dengan persyaratan dari berbagai faktor yang harus disesuaikan. Para pemeriksa pajak juga tidak merasa keberatan bila Wajib Pajak menggunakan data internal comparable dibandingkan dengan eksternal comparable. Sekali lagi yang perlu ditekankan dalam hal ini adalah, kesulitan terbesar dalam membuat transfer pricing documentation ini adalah dalam hal mencari pembanding, pihak Direktorat Jendral Pajak maupun Wajib Pajak mengakui bahwa masalah ini adalah masalah terpenting. Maka dari itu, tidak ada kewajiban dari para pembuat kebijakan yang mengatur bahwa data pembanding yang digunakan seperti apa.
Sumber daya yang ahli dalam praktek transfer pricing juga berkaitan dengan beban pembuktian yang harus dijalankan oleh pihak otoritas pajak untuk membuktikan kesimpulan dari sebuat transfer pricing documentation. Ketika dokumen ini sudah diserahkan kepada pihak otoritas pajak maka beban pembuktian atas transaksi yang dilakukan oleh perusahaan yang
memiliki hubungan istimewa sudah berada di tangan pihak otoritas pajak. Tugas Wajib Pajak sudah dengan menjelaskan tentang transaksinya dengan membuktikan kewajaran bertransaksi dengan pihak afiliasinya. Faktor sumber daya sangat kuat dalam hal ini karena dibutuhkan sumber daya yang benar-benar bisa menghitung dan membuktikan terkait transaksi antar perusahaan yang memilikii hubungan istimewa.
Membuktikan kewajaran bertransaksi juga dibutuhkan data pembanding yang relevan digunakan untuk membandingan transaksi yang dilakukan oleh Wajib Pajak. Pihak otoritas pajak yang memiliki kekuasaan dan peranan penting harus benar-benar paham, karena hal ini bukanlah hal yang mudah melainkan hal yang luas. Untuk mengerti isi dari transfer pricing documentation yang berisi tentang kejelasan dan pembuktian dari Wajib Pajak yang ditujukan kepada pihak otoritas pajak, maka dibutuhkan sumber daya yang benar-benar paham akan masalah-masalah seperti ini.
Hal lain yang perlu diketahui bahwa pihak Direktorat Jendral Pajak mempunyai database sendiri yang mereka terkait mencari data pembanding. Ketika dalam kesimpulan transfer pricing documentation ternyata ditemukan tidak adanya kewajaran bertransaksi dengan yang memiliki hubungan istimewa maka pihak Direktorat Jendral Pajak maupun pihak Wajib Pajak berhak menghitung kembali dengan data pembanding dan metode yang mereka pakai. Tidak sering pendapat pihak otoritas pajak dengan pihak Wajib Pajak mengalami perbedaan sehingga dapat menimbulkan kesimpulan yang berbeda. Wajib Pajak yang tidak membuat transfer pricing documentation atau tidak dapat membuktikan kewajaran harga transaksi yang dilakukan dengan pihak yang memiliki hubungan istimewa maka pihak Direktorat Jendral Pajak berhak untuk menentukan nilai wajar dari transaksi tersebut.